Tuesday, March 18, 2008
perjalanan menuju masjid
saya menuju ke masjid. pertama yang saya lewati adalah plasa jurusan. saya menggeleng pelan karena disana masih banyak mahasiswa-mahasiswi adik angkatan saya masih asik dengan laptopnya masing-masing (kebanyakan satu laptop berdua). tertawa-tawa kecil, asik bercanda, asik menggerakkan kursor. uigh wabah hotspot begitu merasuk hingga tak ada lagi batas waktu.
melangkah lebih jauh sampai akhirnya sampai juga di depan BAAK. tak beda dengan yang ada di jurusan, ditempat-tempat duduk juga masih dipenuhi muda-mudi. terlihat mendiskusikan sesuatu. tak jelas apa. padahal hari sudah remang-remang(*jadi ingat masehat ibu untuk melarang saya dulu keluar maghrib2 nanti ada wewe*). dan puncaknya ketika saya sampai masjid. sholat sudah dimulai, sudah masuk rokaat kedua, tapi yang saya lihat, di salah satu serambi, ada dua orang mahasiswa sibuk bermain dengan laptopnya. sama sekali tak terusik dengan lantunan al-fatihah imam. sekali lagi saya hanya bisa menggeleng, menolaknya dalam hati.
Sunday, March 16, 2008
Catatan Seorang Pengader (Episode menjadi maba)
Awal mulanya, postingan saya sebelumya sebenarnya saya gunakan sebagai intro tulisan saya yang ini, tapi entah mengapa saya kok berpanjang-panjangan. Itu malah jadi cerita sendiri. Jadinya saya sendiri yang kebingungan melanjutkannya. Saat itu entah mengapa saya begitu emosi menuliskannya. Marah, kecewa, tertawa, sedih, dan entah apalagi semuanya teraduk sempurna menyertai ingatan menyusuri potongan-potongan kejadian tahunan yang lalu itu. Saya berkeinginan menuliskan itu semuanya sudah sejak dulu, sejak saya menjadi instruktur. Tahun 2006 yang lalu tepatnya. Tapi entah mengapa itu tidak terlaksana juga, tak ada energy untuk memulai, dan tak cukup bekal untuk melanjutkan. Sampai pada akhirnya saya (secara tak terduga) menjadi SC.
Saya pernah menjadi keempat komponen dalam pengaderan (di jurusan saya disebut Chemical Student Day). Di tahun pertama tentu saja saya seorang maba yang menjadi objek dari pengaderan ini. Berangkat pagi-pagi dengan tas kresek merah di tangan (dalam kresek merah ini berjejal barang penugasan, mulai dari peralatan sholat sampai botol air mineral berlogo HIMATEKK) serta berjalan berduyun-duyun karena memang tak boleh membawa kendaraan. Seragam saya kala itu adalah blue jeans dan kaos dominan putih dengan pita oranye selebar 3 cm diikat di lengan sebelah kanan. Satu lagi : kami juga harus memakai topi berlogi HIMATEKK hand made. Yang saya rasakan kala itu hanyalah betapa susahnya untuk hanya menjadi seorang mahasiswa. Setelah melewati perjuangan menghadapi soal-soal SPMB, terus harus daftar ulang dengan nominal rupiah yang cukup mencekik kala itu, ternyata saya masih harus menghadapi seringai mengejek senior-senior. Bentakan, hardikan, cemoohan serta hal lain yang pastinya bukanlah sebuah penghargaan buat kami adalah makanan sehari-hari saya (dan tentu saja maba lain) kala itu. Sang tokoh yang memerankan ini disebut instruktur comitee. Kami para maba menyebutnya dengan sebutan instruktur saja.
Masa paling dag dig dug dari kegiatan pengaderan adalah saat jam enam pagi. Jam enam pagi adalah waktu ketika portal masuk menuju kampusku dibuka oleh pasukan jaket oranye, seragamnya para instruktur. Jalan kami pelan, baris sesuai kelompok. Sementara celotehan instruktur sudah mulai meningkahi pagi. Kami dag dig dug demi membayangkan sarapan apakah gerangan yang bakal kami dapatkan hari ini. Tentu saja kami sudah menggambarkan bahwa kami akan dijemur hidup-hidup karena kami belum berhasil menyelesaikan tugas yang sudah diberikan kemarin sore. Dan kemudian instruktur maju ke depan, mengabsens kami. Pemimpinnya adalah seorang dengan perawakan kecil tapi kekar. Rambutnya gondrong tapi rapi. Dan apabila berteriak akan menyiutkan nyali siapapun yang mendengarkan. Berat dan dalam. Dialah yang di kemudian hari akan menjadi orang pertama yang mengajariku sebuah arti kata profesionalisme.
Sedangkan masa yang paling melegakan dari rangkaian pengaderan itu adalah ketika para SC turun. SC adalah kependekan kata dari Steering Comitee. Seragamnya adalah jas biru, almamater kami. Nampak berwibawa dengan senyum manis yang mengembang. Sesekali mereka juga mengungkapkan kekecewaan tatkala kami tak juga berhasil menyelesaikan penugasan, mirip sekali dengan kekecewaan seorang ibu mendapati anaknya pulang kesorean. Tiap kelompok dipegang oleh satu SC. Kami biasanya duduk melingkar. Dan saat seperti inilah kami baru bisa tertawa-tawa, mengadu, mengeluh, mengutarakan segala kendala yang menghambat kami. Kami curhat sepuasnya, tanpa sadar itulah yang justru menjadi titik lemah kami.
Dan begitulah rangkaian dari pengaderan ini. Instruktur, sc, instruktu, sc. Bergantian. Setelah dimarahi maka kami akan bisa tertawa-tawa. Terus dimarahi lagi. Ketika sesi SC kami berat untuk mengakhiri karena tahu setelah ini pasti giliran para jaket oranye yang beraksi. SC tak ubahnya adalah malaikat pelindung kami dari kejaran setan oranye.
Sore hari, jam
Semuanya kemudian berulang-ulang.
Demikianlah garis besar hari-hari kami menjalani pengaderan hampir empat tahun yang lalu itu. Mengingatnya kembali sungguh membuat saya menyunggingkan senyum.
Apakah saya mahasiswa yang buruk?
Entahlah.
NB: untuk temen2 satu kelompokku dulu (Diniyah, gape, fajar, panca, diah KR, ical, kardut), katanya SC kita mau menikah ya?
Wednesday, March 5, 2008
catatan seorang pengader
sudah lama sebenarnya saya pingin nulis tentang ini, namun entah mengapa baru terealisasi sekarang. insyaAllah ini akan berlanjut.
Agustus 2004.
Aku berjalan dalam tergesa. Mataku berat, semalaman penuh aku tak tidur. Tapi aku tak mengantuk, mana mungkin dalam suasana seperti ini aku bisa mengantuk. Ini hari kedua, hari yang selalu dituntut harus lebih baik dengan hari pertama. Aha, aku tak bisa membayangkan apa yang bakal terjadi beberapa saat lagi, kata-kata apa lagi yang bakal terucap, hukuman apalagi yang bakal tercipta,dan teriakan-teriakan itu. Beberapa saat lagi aku sampai, dan beberapa saat lagi aku tahu jawaban dari semua itu. Ya, saat portal pembatas antara kekuasaan dan ketidakberdayaan itu dibuka. Saat aku (dan juga teman-teman) berjalan dag dig dug menuju ladang pembantaian bernama lapangan parkir.
Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hanya ada teriakan. Apa sebenarnya yang salah. Mengapa tak ada satupun dalam diri kami yang benar. Mengapa semua kerja keras itu hanya berbuah cacian, tanpa penghargaan. Mengapa, mengapa dan mengapa waktu yang sudah kualokasikan semalaman (tanpa tidur) untuk menyelesaikan itu semua (yang pada akhirnya mentok tak bisa kami selesaikan)hanya menghasilkan sebuah ketidakberdayaan dari kami untuk mempertahankan apa yang sudah kami buat. Dimanakah letak semboyan bahwa semuanya itu tergantung pada proses, bukan hasil. Omong kosong itu semua. Aku ingin ngomong, berbicara apa yang kuyakini, tapi mana mungkin bisa, karena sebelum aku selesai menyelesaikan kalimatku, tiga mulut lain akan sempurna mencecarku dengan kalimat sarkasme. Menusuk. Membungkamku, menyisakan kalimat pembelaan yang menggantung dalam bibirku. Tak akan ada yang benar dalam diriku (juga teman-temanku).
Monster itu bernama instruktur, berjaket oranye menyala. Sedang aku hanyalah maba, berkaos putih polos.
Sedang nanti akan ada orang bijak dengan senyum selalu mengembang.
Agustus 2005.
Episode setahun yang lalu seolah diputar kembali. Di depanku. Aku seolah melihat kembali diriku yang setahun lalu berjalan takut-takut. Merasa bersalah apakah bergerak atau stagnan, tak tahu apakah harus bicara atau diam. Ya, itu aku yang dulu.
Ini masih pagi, baru jam enam lewat. Tapi tadi aku tak tergesa. Iya, mungkin saja aku tadi tergesa, tapi ketergesaan tanpa ketakutan, tanpa kekhawatiran. Justru sebaliknya, ada antusiasme. (Apakah ini balas dendam?). Karena sesaat lagi aku akan bisa menyaksikan pembantaian itu.
Benar saja, teriakan-teriakan itu masih sama. Kosakata-kosakata sarkasme itupun tetap saja. Aku masih hafal, masih hangat dalam telingaku. Tapi aku menikmatinya kali ini, ada sensasi . Karena aku hanyalah penonton saja, tinggal asyik menyaksikan pembantaian itu, pembelaan-pembelaan tak berarti itu. Ah sekarang aku bisa berkomentar mengapa maba-maba itu banyak sekali salahnya, mengapa banyak pula yang pingsan (*badan aja yang gede*) atau bahkan mengapa para instruktur itu kok begitu, harusnya begini, alurnya kan bisa lebih terjaga, lebih cerdas, lebih natural, dan tidak sekedar mengada-ada.
Aku kini menjadi OC. Kata orang ini kepanjangan dari orang curuhan, karena pekerjaannya memang hanya disuruh-suruh. Setahun kuliah di sini sedikit banyak aku telah tahu apa di balik layar pengaderan ini.
Orang-orang bijak berjas biru juga masih tetap ada. Kini aku jadi tahu, ternyata mereka sering sekali ngobrol intens dengan orang-ortang berjaket oranye. Ada apa ini. Apakah ternyata... ah kukira aku mendapatkan sedikit kesimpulan.
Agustus 2006.
Aku harus datang pagi sekali, bahkan lebih pagi dari orang-orang berbaju putih polos itu. Sekarang tak ada rasa takut, tak ada kekhawatiran, tak ada dendam, tak ada rasa hanya untuk sekedar main-main. Yang ada hanya tanggung jawab. Titik. Dedikasi. Dan jaket oranyeku tak begitu menyala. Hanya warna oranye lembut.
Tapi mengapa harus ada gentar. Mengapa jantung ini berpacu. Dag dig dug. Padahal semuanya sederhana saja : tinggal teriak (*bukankah itu yang dulu aku pikir*). Atau cuma tinggal pasang tampang serem, atau berlagak marah. Aku tinggal memencet salah satu tombol dalam megaphone ini, mengitung hingga sepuluh, lalu pasukan biru putih itu akan tunggang langgang menghampiriku. Tapi aha, itu tak sesederhana kelihatannya, itu tak segampang kedengarannya, dan itupun tak seindah cerita-cerita dulu. Saat kau berdiri di depan, saat kau harus bisa menjadi apa yang kau cekokkan pada mereka, saat kaulah penentu alur dari episode marah-marah ini, maka saat itu kau barulah tahu bahwa ini bukanlah main-main kawan! Ada tanggung jawab abstrak yang menekan pundakmu. Bertarung melawan rasa dendam. Dan mengapa dalam posisi ini aku berpikir lebih enak jadi pasukan biru putih saja (*padahal... padahal dulu aku berpikir betapa enaknya menjadi mas-mas berjaket oranye itu, diriku saat ini*).
****
Aku sudah teriak, aku sudah marah, aku sudah mengeluarkan semua kata-kata provokatif yang aku punya. Tapi mengapa semuanya hanya diam, mengapa semuanya mematung seolah menunggu apa yang ingin kami lakukan selanjutnya. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Dan semua teman-temanku sepertinya juga sudah kelelahan, tak tahu ingin berbuat apa lagi untuk mengatasi ini semua. Satu lagi: mereka juga sudah panas, emosi sudah sampai ubun-ubun (*padahal itu tak boleh*). Maka, maka beberapa saat kemudian ketakutan itupun terjadi, tiba-tiba saja semauanya tak terkontrol, tiba-tiba saja buku-buku berhamburan, tiba-tiba semua buku terinjak-injak. Oh tidak, ini tidak ada dalam rencana, ini tak ada dalam pembahasan kita semalam dan pagi tadi. Dimana penghargaan itu, dimana tanda tanya yang dulu menggantung dalam kepalaku itu. Bagaimankah aku harus mempertanggungjawabkan ini semua. Tuhan, aku ingin menangis. Aku gagal.
Saat ini aku jadi pemimpin orang-orang berjaket oranye itu, kini aku tahu semua yang ada di balik pengkaderan ini. Orang-orang berjas biru itu (*yang teman-temanku juga*) tetaplah jadi orang yang penuh senyum di depan pasukan putih itu. Mengeluarkan kata-kata bijak yang memotivasi. Menginspirasi. Ah berkebalikan sekali dengan kami, bertampang galak, tanpa senyum, yang bahkan dalam pikiran maba-maba itu pasti kami tak ubahnya monster yang tak punya sisi kebaikan dalam diri (*minimal itu yang tergambar dalam aku dulu*). Padahal merekalah di balik ini semua, merekalah yang selalu cerewet menguliahi kami tentang ini itu, tentang ketidakbisaan kami membawakan alur, tentang ketidaknaturalan marah-marah kami, tentang semua. Bahkan mereka jugalah yang sebenarnya mengajari kami cara untuk menjadi diri kami saat itu. Saat siang hanya dipenuhi teriakan-teriakan memekakkan. Itu tak ubahnya SC berwujud kami.
Dan di sore hari, kamilah yang paling banyak dievaluasi. Kadang sedikit menusuk. Kami kurang ini kurang itu. Harusnya begini harusnya begitu. Seolah kami tak pernah benar. Aku muak, mereka yang bicara itu belum pernah berada di posisi kami. Mudah sekali kalau sekedar bicara. Coba turun langsung. Hadapi langsung. Ciumi aromanya. Setelah itu bicara.
Bahkan untuk marahpun tidak gampang kawan! Lebih mudah untuk mengulum senyum.
Agustus 2007.
Dan entah takdir apa yang masih membawaku tetap di sini. Aku sudah terlalu tua untuk masih berada di sini sebenarnya.
Aku datang begitu pagi. Berpakaian anggun. Berjas biru. Sang orang baik. Si tukang senyum.Orang yang tiga tahun lalu kuanggap sebagai malaikat penolongku, dua tahun lalu kuanggap (*masih meraba-raba*)perencana ini semua, serta setahun lalu kucap sebagai actor intelektual dibalik pembantaian ini. Tapi kini, aku mencap diriku sendiri sebagai sekumpulan orang-orang yang mempunyai idealisme, yang menginginkan adik-adiknya berkembang, yang berjuang mencetak kader-kader tangguh pewaris peradaban. Penerus generasi oranye.
Maka kemudian entahlah. Anehnya, semuanya tidak lagi punya greget. Tak ada dendam, sumpah tak ada. Aku mengikuti alur ini semua dengan kedewasaan, tak ada lagi gerutuan tentang maba yang begitu banyak salahnya (*aku juga begitukan dulu*), tak begitu ada cemoohan bagi instruktur yang kurang sempurna menjalankan instruksi (*aku juga tahu betapa sulitnya menjadi instruktur*), dan OC, ah mereka hanyalah sekumpulan orang yang baru saja merayakan euphoria terbebas dari julukan maba.
Aku hanya perlu senyum. Duduk manis dikitari wajah-wajah polos yang mengharapkan naungan. Seperti itukah wajahku dulu. Oh betapa mereka sebenarnya putih bersih. Aku, atau kamilah yang kemungkinan menjadi goresan pertama dalam lembar itu. Bagaimanakah kalau goresan itu kemudian adalah goresan buruk. Bagaimanakah kalau seandainya mereka mempersepsikan ini semua dengan sebuah kesia-siaan, hanya main-main para senior. Bagaimanakah aku selanjutnya harus mempertanggungjawabkan setiap tinta yang kugoreskan itu. Bukan pada manuasia.
Mereka tulus berbagi. Mereka tulus tersenyum. Mereka percaya padaku. Mereka tak punya pikiran buruk padaku. Mereka putih ya ALLah.
Tapi aku (atau kami), menyuruh kumpulan jaket oranye memarahi mereka. Aku membocorkan segala keluh kesah mereka. Aku musuh dalam selimut. Aku pagar makan tanaman. Benarkah begitu?
Teriakan-teriakan menguar dalam panas yang membakar. Aku hanya memandang nanar dari kejauhan. Seperti itukah aku setahun yang lalu?
Maret 2008.
Banyak sudah yang telah kupelajari. Kadang, untuk menjadi arif kita memang harus mampu memposisikan diri dalam berbagai posisi. Dan aku baru menyadarinya saat aku telah menjadi keempat macam dalam komponen pengaderan. Aku pernah berseragam kaos putih, seragam bebas, berjaket oranye, serta terakhir berjas biru.
Terima kasih kepada semuanya yang telah memberiku kesempatan menjadi itu semua.
Sunday, February 17, 2008
ESOK
Baru saja aku sadar
Baru saja
Oleh sebuah kebetulan
Bahwa menahan juga merupakan hal indah yang diberikan tuhan
Dan bosan tiba-tiba jadi kosakata asing
Yang terlalu naif untuk mencampuri urusan
Terima kasih tuhan
Untuk satu lagi pelajaran
Esokmu memang lebih indah dari yang sudah dibicarakan.
*pas siang-siang lagi ngenet di lab kampus*
Saturday, February 16, 2008
Tentang Andrea Hirata
Baru saja saya membaca blognya Andrea Hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi yang super best seller itu. Wuih saya terkaget, guest booknya banyak banget, hampir 2000. Dan saya tambah tercengang ketika tahu isi guestbooknya itu hampir semuanya pujian untuk laskar pelangi yang begitu memotivasi itu. Saya sudah membaca tiga dari tetralogi Laskar Pelangi tersebut, memang benar begitu memotivasi, tapi saya tidak menyangka kalau ternyata novel itu juga mengispirasi ribuan orang lain.
Uigh, saya jadi berpikir, betapa bahagianya mungkin menjadi seorang Andrea Hirata, menjadi seorang yang mampu menginspirasi banyak orang, bahkan orang-orang yang tidak ia kenal. Menjadi pembangkit manusia-manusia yang mungkin sudah dirundung putus asa. Menjadi lebih dari sekedar super trainer. Menjadi perantara datangnya hidayah.
Setelah membaca blognya bang Andrea itu saya jadi malu sendiri, pas kemarin ada seorang teman yang mengembalikan buku Laskar Pelangi saya yang lecek, saya sempat menggerutu dalam hati. Padahal, jika seandainya saya sadar, bukankah walau sekedar meminjamkan, mungkin saja saya turut andil sebagai kepanjangan tangan dari inspirasi yang diberikan oleh Bang Andrea itu.
Friday, February 15, 2008
Lari Pagi, Futsall Sabtu, dan Kenangan Empat Tahun Bersama BNI
Tadi pagi, sekitar
Saya memutuskan lari-lari karena memang sudah sangat lama sekali saya tidak olahraga. Dulu (apalagi pas maba), saya tidak perlu lagi memasukkan menu lari pagi dalam kegiatan olahraga saya karena sudah hampir tiap minggu (terutama hari sabtu) kita sekontrakan mengagendakan futsal bareng di lapangan jurusan. Seru banget pokoknya dulu. Kita tidak perlu lagi mencari-cari orang untuk menggenapkan pemain. Dari 18 orang penghuni kontrakan saya dulu (nama kontrakannya adalah BNI 45), sebagian besar memang adalah gila bola yang suka main bola. Nama-nam teman sekontrakan yang dulu suka main futsall bareng itu adalah Ery, khaerudin, Ian, Zainudin, Mas Zaki, serta Pak Laifa. Itu adalah pemain tetap kita, yang lainnya terkadang saja ikut kalau lagi enak hatinya. Hanya sekali-kali saja kita mengajak teman-teman lain yang tidak sekontrakan semisal Baydawi dan Winarto. Pokoknya waktu itu kita bisa dikatakan tidak pernah kekurangan pemain untuk main futsall hari sabtu. Jadilah kemudian futsall sabtu jadi agenda rutin kita. Olahraganya dapet, refreshingnya juga dapet, karena saat main futsall akan banyak sekali humor-humor segar yang terlontar.
Memasuki tahun kedua di kontrakan, agenda rutin futsall sabtu masih jalan, hanya saja sekarang masih sering tersendat-sendat. Itu karena komposisi penghuni kontrakan yang berubah. Saya dan Ery masih tetap tinggal (bahkan kami masih tetap sekamar), sedangkan teman-teman yang menjadi pemain tetap kami yang saya sebutkan di ats sudah tidak tinggal lagi. Ian akhirnya diterima di teknik pertambangan ITB, Khaerudin pindah kos ke kosannya Baydawi, Zainudin ikutan tinggal sama bapaknya yang ngontrak di daerah ketintang (bapaknya kerjanya memang di Surabaya, asalnya tuban), Mas Zaki sudah sejak dulu pindah karena mendapatkan amanah jadi ketum JMMI dan tinggal di sekretariatnya JMMI, sedang Pak Laifa juga ikut-ikutan pindah ke kosan sekitar masjid BM. Memang, orang-orang yang pergi itu ada penggantinya yang bisa dikatakan suka main bola juga, tapi entah mengapa acara futsall sabtu sedikit terhambat. Mungkin karena semangat berfutsall kami yang mulai pudar. Saat itu mulai banyak yang mementingkan diri untuk tidur lagi habis subuh daripada main futsall bersama. Beberapa kali memang kami masih sering main futsall sabtu, tapi harus berburu pemain lain ke kosan teman. Salah satunya dengan (lagi-lagi) mengajak Pak Lai dan Khaerudin atau Baydawi.
Dan di tahun ketiga, agenda futsall hari sabtu semakin nyata tersendat. Di tahun ketiga ini BNI terpecah. Bukan dalam artian buruk lo ya. Di tahun ketiga ini, saya dan beberapa teman BNI lama mengontrak lagi sebuah rumah di sekitaran pasar keputih. Yang ikut berpindah ke kontrakan baru ini adalah Bos Thon, mas Arif, Shofiyudin, Djenk Sri(ono), dan tentunya saya. Yang lain masih tetap mengontrak di BNI lama. BNI yang baru ini diberi nama BNI 23 dengan kapasitas maksimal yang hanya 16 orang. Akhirnya orang-orang barupun masuk, kebanyakan adalah maba angkatan 2006 kala itu. Sempat harapan untuk main futsall dengan lancer kala itu melambung. Secara kasaran, dengan menggabungkan jumlah kedua BNI itu saja sudah tercapai 40-an lebih orang. Artinya dengan efisiensi 30 % saja sudah tercapai syarat untuk terselenggaranya futsall di lapangan basket Tekkim. Tapi ternyata jumlah bukanlah menjadi jaminan, sulit sekali untuk kembali melaksanakan rutinitas sabtu pagi itu. Selain karena memang penghuni baru yang masuk BNI memang sebagian besar bukanlah pecinta futsall, mengordinasikan dua kontrakan yang lumayan berjauhan juga bisa dibilang sulit. Jadilah saya jarang olahraga. Tapi beruntung kemudian teman-teman seangkatan mulai latihan rutin futsall, jadi saya bisa olahraga.
Sekarang, di tahun ke empat saya menjadi BNI-er, masih di BNI 23 , acara futsall pagi hari sabtu sudah menjadi barang langka. Di tahun keempat ini akhirnya BNI 45 bubar, kontraknya tidak diperpanjang lagi. Teman-teman di BNI 45 yang dulu kemudian bergabung dengan anak jurusan lain mendirikan kontrakan rumah muslim. Untuk diketahui saja, gagasan awal didirikannya BNI adalah sebagai wadah teman-teman mahasiswa untuk mendapatkan hunian yang kondusif dan islami. Sedang saya dan shofiyudin, serta Djenk srie tetap bertahan. Bos Thon dan mas Arif karena memang sudah lulus akhirnya milih kos seperti biasa saja.
Uigh, menulis ini saya jadi rindu momen-momen awal ketika saya kuliah di ITS ini. Anak desa, berbekal minim, hanya punya semangat, dan idealisme, menjejak tanah keputih. Memandang seliweran mahasiswa. Lugu sekali kala itu. Tak tahu apa-apa, gaptek, tak mengerti computer, hanya mengenal samar-samar internet. Tapi luar biasa sekali saya bisa punya keluarga bernama Baitun Nurul Ilmi. Tempat yang kemudian mengajarkan serta mengenalkan saya banyak hal. Rizka, Ian, Ery, dan Khae masih ingatkah kalian saat kita kerja sama mengerjakan soal ATK sehabis acara taujih subuh hari. Seru sekali diskusinya kala itu.Ataukah ingatkah kalian saat setelah sholat isya, kita jalan ramai-ramai mencari makan malam di warung KITA (warkit). Atau khusus untuk Ery, masih ingatkah kau saat kita kumpul angkatan membahas CSD di parkiran BAAK lama (malam hari kala itu), kita kepikiran esok harinya karena jadwal taujih esok paginya adalah kamar kita, tapi kita belum punya bahan untuk ditaujihkan. Dan esok subuhnya kita gelagapan ke kamar mas Zaki mencari buku kultum. Saya menemukan bukunya Aa Gym kala itu.
(wah kok jadi melebar gini)
Kembali ke lari pagi tadi. Ternyata ITS di pagi hari cukup indah.. Suasana memang belum terang. Pencahayaannya romantis. Tak kalah lah ITS dengan kampus-kampus Eropa yang saya lihat di internet . pagi tadi saya mengambil rute mengeliling : blok T-Tekkim-poltek-graha-bundaran-masjid-biologi-Sakinah-kosan lagi. Ajaibnya ternyata itu hanya saya tempuh dalam waktu 35 menitan. Hanya sebentar kok malasnya minta ampun.
MAAF SEKALI KALAU TULISAN INI MELEBAR KEMANA-MANA (awalnya saya sebenarnya ingin menuliskan pengalaman jogging, tapi…). Sebagai bahan panduan agar lebih memahami isi tulisan saya di atas berikut mungkin info yang bisa saya berikan.
Penghuni BNI 45 angkatan Satu
- saya (Tekkim 04)
- Khaerudin (Tekkim 04)
- Ery (Tekkim 04)
- Zainudin (Tekkim 04)
- Rizka (Tekkim 04)
- Mardiansyah atau Ian (Tekkim 04)
- Zaky (Tekkim 02), kemudian harus pindah setelah menjabat ketum JMMI
- Andik sujatmiko (Tekkim 02)
- A. Fatih (Tekkim 02)
- Fambudi (Tekkim 02)
- Arif Setiawan (Tekkim 02)
- Abdul Rohim (Tekkim 03)
- Hafidz (Tekkim 03)
- Andi Hidayat (Tekkim 03), kemudian harus pindah karena diterima di PPSDMS. Sisa kontrakannya akhirnya digantikan ke Arif (Tekkim 04)
- Yudho (Tekkim 01)
- Ahim (Tekkim 01)
- Laifa (S3 Tekkim )
- Andi Aladin (S3 Tekkim )
Monday, February 11, 2008
Keajaiban Memberi
Saya terdiam. Berpikir sejenak. Memang benar sih, apa enaknya donor darah, apa untungnya. Malah kita mungkin yang berkurang darahnya. Dan setelah beberapa jenak lalu saya cuma bisa menjawab singkat : keajaiban memberi.
Siapapun boleh saja tidak sepakat dengan jawaban saya itu, tapi itulah yang ada di pikiran saya saat itu. Saya tak tahu bagaimana lagi menjelaskannya. Pikir saya saat itu, teman saya itu akan bisa menjawab sendiri pertanyaannya saat ia merasakan sendiri keajaiban memberi tadi. Saat kedamain itu melingkupi. Senang yang gagal terbahasakan. Kebahagian tak terungkapkan. Sesuatu yang tak bisa diganti dengan hal lain. Maka memberi kadang tak perlu alasan yang rasional.
Sekedar menambahkan : kata seorang teman sih, kedamaian itu tak perlu dicari, kedamaian itu ada pada diri kita sendiri, saat kita mencoba untuk berhenti berlari, menarik nafas, mulai menoleh sekeliling, memperhatikan sekitar, dan saat anda mulai memberi. itulah kebahagiaan sejati.
*sebagian terinspirasi setelah nonton oprah show dengan bintang tamu Bill Clinton