Penjelasan itu datang di sore hari. Tidak tuntas, tapi butuh tindak lanjut yang justru kian mendegupkan pompaan jantung. “hasil medical dapat dilihat di web”, demikian bunyi SMS itu. Singkat, tapi cukup untuk menggerakkan kaki untuk bergegas. Menjangkau komputer untuk mengakses internet.
Dan entah mengapa semuanya mesti perlu dramatisasi. Saat itu saya memang sedang di kampus, dan tentu saja, akses internet terdekat –dan memungkinkan- adalah laboratorium tempat saya dulu setahun berjuang menyelesaikan tugas akhir. Apa yang terjadi kemudian adalah apa yang sudah saya perrkirakan sebelumnya. Koneksi internet teramat lambat , sedangkan pengumuman itu berformat pdf 600an kb. Tahukan anda, berapa kecepatan donlot waktu itu?? Maksimal hanya 1,3 kbps. Jadilah saya tegang sendiri mencermati tiap huruf bermunculan lambat di depan komputer. Menahan napas yang mengalir hangat.
Pengumuman ini mungkin sudah banyak ditunggu banyak orang. Sudah menjadi bahan obrolan di sms dengan kalimat pembuka yang itu-itu saja : ‘Pkt sudah pengumuman belum?’, atau, ‘gimana bal, udah ada kabar blm?”. Jadi ketika pada akhirnya kepastian itu muncul, perasaan lega lah yang muncul. Meski lega tidak selalu berasosiasi dengan sesuatu yang ‘positif’. Senang dan lega pasti sering kita dengar, tapi kecewa disertai perasaan lega juga banyak kita lihat.
Jadi legakah kala itu? Semoga. Ketika saya menyaksikan sendiri nama saya tercantum dalam daftar yang diterima itu, saya terdiam sendiri di depan komputer. Saya senang, tentu saja, tapi kemudian saya sadar ternyata tak semuanya lolos medical test. Dan salah satunya adalah teman saya. Teman yang baru saja SMS : “bal tolong liatin pengumuman yah, aku lagi test pertamina...ntar kabarin!”. Sulitlah posisi saya. Serba salah.Tak sampai hati untuk mengabarkan sebuah kenyataan.
Dan jam berlalu dengan perasaan yang tak terjelaskan. Mengabari orang-orang terdekat. Sibuk mengetik SMS. Terbata menyampaikan kabar ke Bu Oci. Ya ampun, kenapa juga bu oci datang persis di saat pengumuman itu sempurna terbuka! Menyaksikan ekspresi buruk saya di depan komputer. Entahlah, wajah apa yang tertangkap kala itu.
Bergerak cepat!!! Pengumuman itu kamis sore, tapi dalam waktu lima hari ke depan, kedua kaki ini sudah harus menapak bumi borneo. Demikianlah ketentuan dalam pengumuman itu. Tak ditepati berarti mengundurkan diri. Teramat cepat dan mendadak. Apalagi disertai embel-embel persyaratan dokumen yang harus dibawa. Legalisir, kartu kuning, SKCK, dll. Sedangkan hari efektif cuma hari jumat, senin depannya tanggal merah yang tentunya kantor pemerintahan tutup. Wuahhhh....jadilah kemudian sibuk menelpon contact person dalam pengumuman. Menyatakan ketidakmungkinan-ketidakmungkinan pemenuhan seluruh dokumen. Meyakinkan, menjelaskan alasan-alasan. Argumen sebentar. Berhasil!
Lima hari. Ya, hanya waktu itulah yang tersisa untuk menikmati akhir-akhir keberadaan. Menatap lamat-lamat kamar kost yang sebentar lagi tinggal kenangan. Merasai tawa teman sekontrakan yang sebentar lagi tak terdengar. Dan tentu saja, sesegera mungkin pulang. Menikmati hangat kebersamaan keluarga yang sebentar lagi tertinggal. Gamang, tapi harus dilakukan. Mengabaikan sisi melankolis sejenak. Lima hari atau sebulan, pastinya sama saja. Tetap saja pergi. Pergi yang bakalan lama datang kembali.
Pada akhirnya termenung sejenak. Memikirkan bagaimana mengangkut barang-barang yang ada di kos untuk dibawa pulang. Tak banyak. Tak ada kipas angin, PC, atau alat berat lain. Hanya buku-buku yang terbeli sepanjang empat tahun menjadi mahasiswa. Berat sebenarnya untuk tak lagi melihatnya menumpuk di pandangan. Tapi bagaimana lagi. Ah, andai bisa membawanya ikut serta.
Friday, April 3, 2009
Monday, March 9, 2009
Pergi.....
I
cemas...!
malu-malu menjalani hari pertama taman kanak-kanak
18 tahun yang lalu
II
cemas...!!
maju-mundur..maju-mundur.. kali pertama memasuki halaman SMP
10 tahun yang lalu
III
cemas...!!!
ragu-ragu menatap gedung SMA
7 tahun yang lalu
IV
cemas...!!!!
bagaimanakah kuliah itu??
54 bulan yang lalu
V
cemas...!!!!!
............
17 jam menjelang
Ya Allah, pergi ini untuk hal baik, dan jika akan banyak hal-hal baik yang tertinggal untuk itu di sini, maka hamba yakin, sangat yakin, KAU sesungguhnya telah menyiapkan hal-hal baik lain yang akan segera tertemui. Di sana.
Monday, March 2, 2009
Negeri yang mencintai HUJAN
Apakah kau mencintai hujan? “TIDAK!”, kata itulah kira-kira yang bakal keluar dengan tegas dari mulutmu. Aku menduganya. Teramat yakin. Sebab seperti itulah yang kau ceritakan padaku. Kau bercerita bahwa hujan adalah malapetaka. Bagi negerimu, tentu saja. Hujanlah yang mengirim air untuk membanjiri pemukiman-pemukiman. Hujan pula yang merendam persawahan, lapangan tempat anak-anak bermain, atau juga jalan-jalan tempat segala aktivitas bermula. Atau bahkan, yang dengan mata berapi kau menceritakan, hujan pula yang melongsorkan perbukitan-perbukitam, menimbuni rumah-rumah di bawahnya.
Aku tak menyalahkanmu kalau kau selanjutnya tak mecintai hujan. Itu hak pribadimu, meski aku bisa saja menyakinkanmu tentang banyak hal bahwa anggapan-anggapan yang kau utarakan padaku selama ini keliru. Tapi sudahlah. Tak ada gunanya mungkin. Aku rasa kau tak akan pernah mau mendengarnya. Hanya saja, aku tak suka kala kau mulai mengumpat saat hujan bermula. Karena tak begitulah memang seharusnya. Kau boleh tak suka, tapi tidak dengan cara mengumpatnya.
Baiklah, meski aku tak terlalu suka untuk melakukannya, aku akan menceritakannya. Aku akan menceritakan hujan di negeriku. Selama ini kau mungkin tidak begitu tahu bahwa hujan amat dicintai di negeriku. Orang boleh tak percaya, tapi memang begitulah kenyataannya. Kalau kau ikut-ikutan tak percaya, maka sekali-kali, berkunjunglah ke negeriku. Saat hujan mulai turun tentu saja. Maka akan kau temui anak-anak kecil riang bermain air yang mengucur dari talang-talang rumah. Bergembira menyambut hujan. Seolah mendapat berkah. Kau akan mendengar anak-anak kecil itu berteriak, “Udano seng deres, dandano seng pantes, nyambelo seng pedes”. Teramat bergembira. Sedang dibalik jendela-jendela kaca yang berembun, akan kau dapati orang-orang menatap hujan dengan syahdu. Berdiam diri laksana seorang kekasih yang merindu. Lalu bila kau terus berjalan, di rumah yang lain, tak jarang kau jumpai sejoli menatap hujan bersama, lewat jendela terbuka. Saling menempelkan pipi, teramat mesra, dan membiarkan rintik air menyapu kedua wajah.
Apakah tak ada hal-hal mengerikan seperti yang kau ceritakan itu? Dengan amat menyesal aku katakan tidak. Mungkin pernah tapi dalam siklus yang teramat lama. Hujan identik dengan hal-hal baik. Amat baik bahkan untuk semua indera. Ketika hujan turun perdana, maka orang bersuka cita. Berebut membaui aroma tanah yang basah. Sedang tak tik tuk suara hujan menerpa genting di malam hari, adalah lagu nina bobok yang memanjakan telinga. Teramat romantis. Beberapa kali mungkin terdengar guruh, ataupun gelegar guntur. Tapi itu tbukan lagi hal yang menakutkan. Hanyalah sebuah pertanda. Sebagai pengingat. Dan seterusnya. Akan amat panjang jika aku ceritakan semuanya. Tapi satu hal, berjanjilah! Jika kau memang benar-benar datang, berjanjilah bergabung dengan orang-orang itu. Bergabunglah berdiri berjajar di emperan teras rumah, dan julurkan kedua tanganmu ke depan sejajar dada. Biarkan curahan hujan dari atap menerpa. Pejamkan mata, dan rasakan sensasinya.
Jadi pergilah ke negeriku. Kau tak akan kesulitan mencarinya. Sebuah negeri yang indah penuh pohon-pohon tinggi menjulang. Dikelilingi belantara lebat nan menghijau. Serta sungai-sungai jernih yang mengalir, yang kan membuatmu teringat akan kualitas surga. Sedang orang-orangnya, kau akan menemui orang-orang yang penuh senyum, ramah, dan amat santun bicaranya. Semuanya hidup dalam kemakmuran. Tentu saja makmur bukan berarti kaya, jika kaya yang kau maksud adalah capain-capain materi , luas tanah, atau nominal rupiah. Tapi, jika yang kau maksud dengan kaya adalah sikap hati untuk merasa cukup, pandai bersyukur, maka iya, mereka semua kaya. Bahkan teramat kaya.
Pada akhirnya aku tak berharap ketika kau telah berkunjung ke negeriku kau akan mencintai hujan. Aku hanya berharap kau mulai tak memaki hujan. Aku berharap kau mulai menanami tanahmu dengan pepohonan, membersihkan sampah-sampah, dan tak lagi serakah. Dan dengan itu, semoga hujan dengan sendirinya membuatmu jatuh cinta.
Aku tak menyalahkanmu kalau kau selanjutnya tak mecintai hujan. Itu hak pribadimu, meski aku bisa saja menyakinkanmu tentang banyak hal bahwa anggapan-anggapan yang kau utarakan padaku selama ini keliru. Tapi sudahlah. Tak ada gunanya mungkin. Aku rasa kau tak akan pernah mau mendengarnya. Hanya saja, aku tak suka kala kau mulai mengumpat saat hujan bermula. Karena tak begitulah memang seharusnya. Kau boleh tak suka, tapi tidak dengan cara mengumpatnya.
Baiklah, meski aku tak terlalu suka untuk melakukannya, aku akan menceritakannya. Aku akan menceritakan hujan di negeriku. Selama ini kau mungkin tidak begitu tahu bahwa hujan amat dicintai di negeriku. Orang boleh tak percaya, tapi memang begitulah kenyataannya. Kalau kau ikut-ikutan tak percaya, maka sekali-kali, berkunjunglah ke negeriku. Saat hujan mulai turun tentu saja. Maka akan kau temui anak-anak kecil riang bermain air yang mengucur dari talang-talang rumah. Bergembira menyambut hujan. Seolah mendapat berkah. Kau akan mendengar anak-anak kecil itu berteriak, “Udano seng deres, dandano seng pantes, nyambelo seng pedes”. Teramat bergembira. Sedang dibalik jendela-jendela kaca yang berembun, akan kau dapati orang-orang menatap hujan dengan syahdu. Berdiam diri laksana seorang kekasih yang merindu. Lalu bila kau terus berjalan, di rumah yang lain, tak jarang kau jumpai sejoli menatap hujan bersama, lewat jendela terbuka. Saling menempelkan pipi, teramat mesra, dan membiarkan rintik air menyapu kedua wajah.
Apakah tak ada hal-hal mengerikan seperti yang kau ceritakan itu? Dengan amat menyesal aku katakan tidak. Mungkin pernah tapi dalam siklus yang teramat lama. Hujan identik dengan hal-hal baik. Amat baik bahkan untuk semua indera. Ketika hujan turun perdana, maka orang bersuka cita. Berebut membaui aroma tanah yang basah. Sedang tak tik tuk suara hujan menerpa genting di malam hari, adalah lagu nina bobok yang memanjakan telinga. Teramat romantis. Beberapa kali mungkin terdengar guruh, ataupun gelegar guntur. Tapi itu tbukan lagi hal yang menakutkan. Hanyalah sebuah pertanda. Sebagai pengingat. Dan seterusnya. Akan amat panjang jika aku ceritakan semuanya. Tapi satu hal, berjanjilah! Jika kau memang benar-benar datang, berjanjilah bergabung dengan orang-orang itu. Bergabunglah berdiri berjajar di emperan teras rumah, dan julurkan kedua tanganmu ke depan sejajar dada. Biarkan curahan hujan dari atap menerpa. Pejamkan mata, dan rasakan sensasinya.
Jadi pergilah ke negeriku. Kau tak akan kesulitan mencarinya. Sebuah negeri yang indah penuh pohon-pohon tinggi menjulang. Dikelilingi belantara lebat nan menghijau. Serta sungai-sungai jernih yang mengalir, yang kan membuatmu teringat akan kualitas surga. Sedang orang-orangnya, kau akan menemui orang-orang yang penuh senyum, ramah, dan amat santun bicaranya. Semuanya hidup dalam kemakmuran. Tentu saja makmur bukan berarti kaya, jika kaya yang kau maksud adalah capain-capain materi , luas tanah, atau nominal rupiah. Tapi, jika yang kau maksud dengan kaya adalah sikap hati untuk merasa cukup, pandai bersyukur, maka iya, mereka semua kaya. Bahkan teramat kaya.
Pada akhirnya aku tak berharap ketika kau telah berkunjung ke negeriku kau akan mencintai hujan. Aku hanya berharap kau mulai tak memaki hujan. Aku berharap kau mulai menanami tanahmu dengan pepohonan, membersihkan sampah-sampah, dan tak lagi serakah. Dan dengan itu, semoga hujan dengan sendirinya membuatmu jatuh cinta.
Wednesday, February 25, 2009
MENUNGGU
Kata siapa menunggu itu selalu membosankan?
Mmmhh..SALAH!
Ternyata... kadang menyenangkan juga
Deg-degan campur cemas...
Astaga! Belum muncul juga...
Sekali...melirik...mendesah ; belum ada juga
Dua kali...melirik...mendesah lebih lama ; masih belum ada juga
Tiga kali...melirik...menahan napas....( beberapa detik hening...suara-suara merdu mengalun..semerbak bunga....dalam gerakan lambat nan mengagumkan macam di film-film hebat hollywood..pertemuan-peretemuan); ah, ternyata bukan!
Tak perlu lah mondar-mandir menatap lantai..
Apalagi memasang wajah panik
Hanya duduk takjim...
Terdiam..menghitung kemungkinan-kemungkinan
Menggurat angka-angka..susunan huruf
Ya Allah, jangan-jangan memang benar!!
: buah-buah manis akan bersembulan muncul di ujung kesabaran
Sunday, February 22, 2009
Seorang spesial di masjid deket kos
Dalam beberapa hal, saya adalah seorang pengamat yang baik. Benar-benar pengamat. Mengamati dalam artian sebenarnya. Melihat, memperhatikan, merasakan, atau membandingkan. Karena bagi saya itu menarik. Seorang teman bisa heran atas sebuah kesimpulan yang saya hasilkan atas sebuah tempat atau peristiwa yang sebenarnya kita tempati atau jalani bersama-sama. Teman ini memang tipe orang yang tak terlalu pusing dengan keadaan. Tak terlalu suka mengindahkan. Cuek.
Maka kegemaran ini, tak ayal menjangkiti saya dimanapun saya berada. Di mall (‘sebenarnya orang-orang yang kesini itu benar-benar mau beli sesuatu atau nggak ya?’, atau, ‘maghrib-maghrib begini mushola mall-nya kok sepi banget, padahal yg sedang belanja ramai’), di jalan (‘mengapa orang jadi berebutan membunyikan klakson keras-keras di detik pertama lampu hijau menyala, seolah mereka adalah seorang yg begitu menghargai waktu’, atau, ‘pernahkah anak-anak penjual koran itu membayangkan bahwa dialah yang sedang duduk nyaman di jok mobil itu dan sedang ditawari koran oleh orang lain’), di kampus (‘mengapa banyak sampah bekas makanan dan minuman bergeletakan di areal hot spot itu padahal pemakainya adalah orang-orang berkelas yg kesehariannya berbicara hal-hal ilmiah’, atau, ‘mengapa pihak kampus suka sekali menebangi pohon padahal di kelas-kelasnya mungkin saja sedang terjadi diskusi hangat tentang pemanasan global’). Serta tempat-tempat lain. Serta pengamatan-pengamatan lain.
Dan parahnya, kegemaran ini, masalah amat-mengamati ini, juga berlaku saat saya ada di masjid. Maka tak heran jika saya akan selalu mengedarkan pandangan tiap kali sampai di masjid atau tiap kali selesai mengucapkan salam penghujung sholat. Menatapi orang-orang. Mengamati tingkah polanya, kebiasaan-kebiasaan uniknya, atau pakain favoritnya. Dan kebiasaan itu, tak jarang menghasilkan kesimpulan-kesimpulan unik. Yang mungkin luput dari pengamatan orang.
Majid yang paling sering saya kunjungi namanya Baitul Muttaqin. Letaknya dekat dengan kos. Amat baik manajemennya. Tak perlu bingung lagi siapa yang bakal jadi imam (stoknya banyak). Tepat waktu mengumandangkan azan, tepat waktu pula mengumandangkan iqomah. Berjarak 10 menit. Selalu tepat. Sebab ada timer yang menghitung mundur waktu 10 menit itu. Terpampang jelas di depan. Dan kesimpulan unik itu, awalnya saya ragu. Pas awal-awal menjadi jamaah di masjid itu, sebenarnya kesimpulan itu sudah saya dapati. Tapi masih ragu. Mencoba mengamati terus. Hingga hari-hari berlalu, hingga berbilang tahun, dan kesimpulan itu tak berubah. Malah menguat.
Kesimpulan itu tentang seseorang. Seseorang yang bahkan namanya pun tak saya tahu. Hanya saya tahu dia saja. Tahu karena sesama jamaah masjid. Tahu karena sering bertemu. Tapi tak juga pernah bertegur sapa. Ada banyak hal yang memisahkan saya untuk melakukan itu. Seseorang itu seperti punya kehidupan sendiri.
Kesimpulan ini rentang kebiasan unik orang itu. Bermula dari kebiasaan saya mengedarkan pandangan seusai salam. Menoleh ke belakang mengamati siapa sajakah hari ini yang sholat di masjid, mencari tahu siapakah yang masbukh, mencari-cari anak kecil imut yang selalu diajak abinya sholat di masjid. Sekali, dua kali, hingga berpuluh kali mungkin tak ada kesimpulan yang saya dapat. Tak ada hal yang aneh. Tapi suatu saat, yang saya sudah lupa kapan, saya baru sadar kalau ada hal sama yang kerap saya temukan saat menoleh ke belaknag tiap kali usai salam : sesorang pria muda yang selalu bangkit lagi untuk menambah satu atau beberapa rokaat yang tertinggal. Ia masbukh. Dan sesorang itu adalah seseorang yang saya singgung di awal tadi.
Aneh, begitulah yang terbersit pertama kali mendapati kenyataan itu. Maka setelah itu, saya selalu mencari-cari seseorang itu tiap kali usai salam. Sayangnya, yang saya dapatkan hanyalah penegasan atas kesimpulan saya yang pertama. Ia selalu tertinggal. Tak pernah saya jumpai ia datang sebelum iqomah dan berada di shof terdepan. Tak pernah pula saya jumpai ia tak menambah rokaat lagi. Bahkan untuk sholat yang paling ringan orang melaksanakannya di masjid, sholat maghrib, ia tertinggal juga. Ok, bagi siapa saja yang mengira ia adalah seorang yang ogah-ogahan datang ke masjid, maka itu adalah kesalahan besar. Karena tiap sholat subuh, saat terberat untuk orang menjangkau masjid, ia juga datang. Ia hadir dengan muka tak berekspresinya itu, muka dinginnya itu. Meski itu tadi, ia tetap saja tertinggal.
Iseng-iseng saya ceritakan kesimpulan saya ini pada seorang teman yang kebetulan jamaah masjid itu juga. Awal mulanya ia tak percaya. Hingga setelah beberapa kali pembuktian, kesimpulan yang sama ia utarakan; “iya yah..aneh orang itu”. Tapi sama seperti saya, ia tak berdaya menghadapi itu. Meski kita sama-sama berstatus sebagai jamaah masjid itu, kita seperti berjarak dengan orang itu. Sampai saya tulis ini, saya bahkan belum mendengar suaranya, tak tahu juga dimana ia tinggal, apa kesehariannya (sebenarnya ini misteri terbesar yg ingin saya tahu hingga kenapa ia selalu telat). Untuk menegurnya langsung? Mmmhhh....
“cari tahu nomornya saja, kita nasehati lewar SMS”, teman saya memberi usul
“caranya?”
“mmmmhhh”
Ada yang punya saran??
(*sebenarnya sih masalahnya ada pada keseriusan saya)
Maka kegemaran ini, tak ayal menjangkiti saya dimanapun saya berada. Di mall (‘sebenarnya orang-orang yang kesini itu benar-benar mau beli sesuatu atau nggak ya?’, atau, ‘maghrib-maghrib begini mushola mall-nya kok sepi banget, padahal yg sedang belanja ramai’), di jalan (‘mengapa orang jadi berebutan membunyikan klakson keras-keras di detik pertama lampu hijau menyala, seolah mereka adalah seorang yg begitu menghargai waktu’, atau, ‘pernahkah anak-anak penjual koran itu membayangkan bahwa dialah yang sedang duduk nyaman di jok mobil itu dan sedang ditawari koran oleh orang lain’), di kampus (‘mengapa banyak sampah bekas makanan dan minuman bergeletakan di areal hot spot itu padahal pemakainya adalah orang-orang berkelas yg kesehariannya berbicara hal-hal ilmiah’, atau, ‘mengapa pihak kampus suka sekali menebangi pohon padahal di kelas-kelasnya mungkin saja sedang terjadi diskusi hangat tentang pemanasan global’). Serta tempat-tempat lain. Serta pengamatan-pengamatan lain.
Dan parahnya, kegemaran ini, masalah amat-mengamati ini, juga berlaku saat saya ada di masjid. Maka tak heran jika saya akan selalu mengedarkan pandangan tiap kali sampai di masjid atau tiap kali selesai mengucapkan salam penghujung sholat. Menatapi orang-orang. Mengamati tingkah polanya, kebiasaan-kebiasaan uniknya, atau pakain favoritnya. Dan kebiasaan itu, tak jarang menghasilkan kesimpulan-kesimpulan unik. Yang mungkin luput dari pengamatan orang.
Majid yang paling sering saya kunjungi namanya Baitul Muttaqin. Letaknya dekat dengan kos. Amat baik manajemennya. Tak perlu bingung lagi siapa yang bakal jadi imam (stoknya banyak). Tepat waktu mengumandangkan azan, tepat waktu pula mengumandangkan iqomah. Berjarak 10 menit. Selalu tepat. Sebab ada timer yang menghitung mundur waktu 10 menit itu. Terpampang jelas di depan. Dan kesimpulan unik itu, awalnya saya ragu. Pas awal-awal menjadi jamaah di masjid itu, sebenarnya kesimpulan itu sudah saya dapati. Tapi masih ragu. Mencoba mengamati terus. Hingga hari-hari berlalu, hingga berbilang tahun, dan kesimpulan itu tak berubah. Malah menguat.
Kesimpulan itu tentang seseorang. Seseorang yang bahkan namanya pun tak saya tahu. Hanya saya tahu dia saja. Tahu karena sesama jamaah masjid. Tahu karena sering bertemu. Tapi tak juga pernah bertegur sapa. Ada banyak hal yang memisahkan saya untuk melakukan itu. Seseorang itu seperti punya kehidupan sendiri.
Kesimpulan ini rentang kebiasan unik orang itu. Bermula dari kebiasaan saya mengedarkan pandangan seusai salam. Menoleh ke belakang mengamati siapa sajakah hari ini yang sholat di masjid, mencari tahu siapakah yang masbukh, mencari-cari anak kecil imut yang selalu diajak abinya sholat di masjid. Sekali, dua kali, hingga berpuluh kali mungkin tak ada kesimpulan yang saya dapat. Tak ada hal yang aneh. Tapi suatu saat, yang saya sudah lupa kapan, saya baru sadar kalau ada hal sama yang kerap saya temukan saat menoleh ke belaknag tiap kali usai salam : sesorang pria muda yang selalu bangkit lagi untuk menambah satu atau beberapa rokaat yang tertinggal. Ia masbukh. Dan sesorang itu adalah seseorang yang saya singgung di awal tadi.
Aneh, begitulah yang terbersit pertama kali mendapati kenyataan itu. Maka setelah itu, saya selalu mencari-cari seseorang itu tiap kali usai salam. Sayangnya, yang saya dapatkan hanyalah penegasan atas kesimpulan saya yang pertama. Ia selalu tertinggal. Tak pernah saya jumpai ia datang sebelum iqomah dan berada di shof terdepan. Tak pernah pula saya jumpai ia tak menambah rokaat lagi. Bahkan untuk sholat yang paling ringan orang melaksanakannya di masjid, sholat maghrib, ia tertinggal juga. Ok, bagi siapa saja yang mengira ia adalah seorang yang ogah-ogahan datang ke masjid, maka itu adalah kesalahan besar. Karena tiap sholat subuh, saat terberat untuk orang menjangkau masjid, ia juga datang. Ia hadir dengan muka tak berekspresinya itu, muka dinginnya itu. Meski itu tadi, ia tetap saja tertinggal.
Iseng-iseng saya ceritakan kesimpulan saya ini pada seorang teman yang kebetulan jamaah masjid itu juga. Awal mulanya ia tak percaya. Hingga setelah beberapa kali pembuktian, kesimpulan yang sama ia utarakan; “iya yah..aneh orang itu”. Tapi sama seperti saya, ia tak berdaya menghadapi itu. Meski kita sama-sama berstatus sebagai jamaah masjid itu, kita seperti berjarak dengan orang itu. Sampai saya tulis ini, saya bahkan belum mendengar suaranya, tak tahu juga dimana ia tinggal, apa kesehariannya (sebenarnya ini misteri terbesar yg ingin saya tahu hingga kenapa ia selalu telat). Untuk menegurnya langsung? Mmmhhh....
“cari tahu nomornya saja, kita nasehati lewar SMS”, teman saya memberi usul
“caranya?”
“mmmmhhh”
Ada yang punya saran??
(*sebenarnya sih masalahnya ada pada keseriusan saya)
Sunday, February 8, 2009
PR : lima kegokilan diri
Dapat PR dari mbak anis. Hmmm... sebenarnya sih saya paling malas kalau dapet PR dari blog seperti ini, tapi berhubung pas jaman sekolah saya tergolong rajin mengerjakan PR (*he he) maka mau tak mau saya kerjakanlah PR itu. PR-nya tentang lima kegokilan saya. Sekali lagi : lima kegokilan. Sempat mikir juga sih apa yang mesti ditulis. Bayangkan, kegokilan! Perasaan saya belum pernah deh memakai kosakata itu dalam perbincangan apalagi tulis menulis. Jadi kurang mengerti benar artinya. Nggak gaul banget deh saya. Apalagi kosakata itu kayake nggak tercantum dalam KBBI, dicek di kamus untuk mencari padanan katanya dalam bahasa inggrisnya pun nggak ketemu.
Baik..baik... sebisa dan sesuka saya saja kalau begitu. Berikut lima kegokilan yang pernah saya lakukan. Tentunya ini sudah melalui sensor manakah yang layak untuk ditampilkan ke khalayak. Nomor tidak menunjukkan tingkat kegokilan.
1. Pas jaman SMA dulu, kalau nggak salah pas kelas satu SMA, dan lebih pasnya lagi pas pelajaran PPKN, saya pernah disuruh maju ke depan untuk menjelaskan sebuah materi oleh guru saya. (sebenarnya ini giliran, dan waktu itu jatah saya ditunjuk). Jatah saya waktu itu menjelaskan sebuah pasal di UUD, entah pasal apa tepatnya, lupa. Pokoknya isinya tuh menyatakan “yang menguasai hidup orang banyak dikuasai oleh negara”. Singkat cerita maka majulah saya ke depan. Tanpa membawa buku. Mencoba mengingat apa-apa yang sudah saya pelajari sebelumnya. (note:sebelumnya memang diberi kesempatan untuk mempelajari...siapa saja berpeluang untuk kena tunjuk. Kebetulan saja waktu itu nama saya yang keluar). Dan apa yang terjadi saudara-saudara? Saya bisa menyelesaikan misi menjelaskan itu dengan sedikit memuaskan. He he. Tak terlalu banyak yang bertentangan dengan yang ada di buku (*dasar emang nggak kreatuf...disuruh menerangkan malah menyalin ulang di buku). Tapi itu belum selesai. Tibalah saat diskusi. Temen-teman sekelas dipersilahkan bertanya sepuas hati mereka. Dan saya dengan penuh keiklasan harus tetap setia menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Sesulit apapun pertanyaan itu. Satu orang kemudian angkat tangan; pertanyaan standar. Mudah diatasi. Orang kedua angkat tangan; rada sedikit mikir (padahal tuh pertanyaan sudah diprediksi sebelumnya. Di atas kertas mudah diatasi)
“Tadi katanya yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Bisa diterangkan lebih jelas maksud yang menguasai hajat hidup orang banyak itu”
(*tenang..tenang, pertanyaan standar)..”Hmmh jadi yang menguasai hajat hidup orang banyak itu dikuasai dan dikelola oleh negara. Biar tidak terjadi monopoli. Artinya sektor-sektor yang penting. Yang berhubungan langsung dengan kebutuhan takyat. Mendesak dan yang rawan monopoli”
“Contohnya yang penting?”
“semacam listrik, bahan bakar”
“berati yang nggak dukuasai negara nggak penting ya? Bisa disebutkan!”
(hmmm..mikir. Nggak juga ya sebenarnya.. makanan penting tapi nggak dikuasai negara. Jadi.....sudahlah..dijawab yang pertanyaan kedua saja), “seperti makanan, kosmetik—“.
Uppps...Gawat! Kok bisa-bisanya kata kosmetik itu keluar dari mulut saya. Mana mungkin negara mengusai remeh temeh macam kosmetik tadi. Jadi menyesal mengutarakannya. Andai saja bisa berbalik ke belakang , ingin rasanya mencabut kata-kata itu. Tapi apa daya, seisi kelas sudah riuh rendah oleh tawa. Mentertawai kekonyolah saya. Dan saya hanya bisa bengong di depan kelas. Tetep cool kayak nggak terjadi apa-apa. Padahal sebenarnya saya sedang grogi habis-habisan di depan kelas. Untunglah guru saya bertindak cepat. Mengendalikan situasi kelas yang mulai riuh. Beliau pun angkat bicara.
“jadi kalau kosmetik nggak penting berati kecantikan nggak penting ya?”
(aduh..duh..kirain mau membantu..eh malah memperparah. Gimana ini? ), “ya bukan begitu. Kalau dasarnya cantik, walau nggak dimake up ya tetep cantik”.
Wkwkwkw..makin meledaklah tawa seisi kelas. Dan saya hanya membisu menatap teman-teman yang tergelak. Sepintas saya lirik bu guru berjilbab itu; beliau pun ternyata tak kuasa menahan senyumnya.
Tapi kelak, ketika saya lebih mengerti ini dan itu, pernyataan saya itu banyak benarnya juga. Percayalah, hai para wanita, kalian tetep cantik kok meski tanpa make up itu. Tanpa bedak dan gincu tebal itu. Karena sebenarnya, kecantikan itu ada dalam hati. Itulah yang mungkin lebih hakiki. (ha ha..kok saya jadi ngomongin gini)
2. Saya ini seorang penggigit. Artinya suka menggigit. Terutama barang-barang kecil memanjang. Korban keberingasan saya tentu saja pulpen dan pensil. Pas jaman SD dulu, tutup pulpen pilot saya pasti sudah nggak berbentuk. Malah bisa-bisa sudah nggak berfungsi lagi. Menyedihkan sekali melihatnya tak lagi bulat. Sudah pipih akibat gigitan kuat gigi seri saya. Maka jangan heran kalau kemudian saya diblacklist oleh teman sekelas untuk meminjam sesuatu. Semacam tipe ex atau penghapus sekalipun. Tentunya karena mereka trauma karena barang-barangnya yang saya pinjam saya gigit-gigit nggak karuan. (* tapi sekarang kebiasan ini sudah jauh berkurang kok.... jorok dan tak higienis)
3. Suka teriak kenceng-kenceng kalau pas mandi. Saat guyuran air pertama membasuh tubuh. Apalagi kalau pas inget hal-hal bodoh yang dilakukan.. Dulu, sempat ada tetangga yang sampai nyamperin ke rumah karena dengar orang teriak-teriak. Dikirain ada apa-apa. Eh ternyata cuma saya yang lagi mandi.
4. Nggak atahu apakah ini masuk kegokilan atau kebodohan. Atau kecerobohan? Ceritanya pas skripsi kemarin, nama dosen pembimbing saya pada lembar persetujuan skripsi ternyata nggak saya beri gelar. Parah banget. Padahal semingguan lebih saya berjuang mendapatkan tanda tangan persetujuan dari tiga dosen penguji. Tinggal dosen pembimbing saja, dan itu pastinya langsung disetujui, karena memang yang pertama meriksa dosen penguji. (note: pada lembar persetujuan itu ada tanda tangan persetujuan dosen penguji sama pembimbing). Maka bingunglah saya, terbayang sudah kalau harus mengulang mencari tanda tangan lagi. Padahal satu orang dosen penguji sudah terbang ke jakarta dan bakal balik minggu depan. Satu dosen penguji lain sudah ambil liburan dan sudah menyatakan nggak bisa diganggu untuk hal-hal akdemis. Itu beliau tegaskan sewaktu saya minta tanda tangan di hari terakhirnya di kampus. Sedangkan satu penguji lagi; ah membayangkannya saja saya sudah lemas duluan. Perlu empat kali bolak-balik kemarin pas minta tanda tangan persetujuan. Revisi sana sini. Kebanyakan nggak jelas.
Hingga...... akhirnya kesadaran itu muncul...untunglah dosen pembimbing saya orangnya masih muda. Artinya baru-baru saja lulusnya. Dan juga belum S3. Jadi gelarnya ada di belakang namanya: ST dan MT. Masih ada space utuk menyisipkan gelar tersebut ,hal yang nggak mungkin seandainya gelar tersebut di depan macam Ir atau Doktor. Terima kasih Ya Allah! Maka kemudian saya buka file word lembar persetujuan itu, dengan hati-hati saya print ulang lembar persetujuan yang sudah bertanda tangan tadi. Tentu saja terlebih dahulu saya tambahkan ST dan MT pada belakang nama pembimbing saya. Sedangkan yang lain diblock putih. Percobaan ngeprint; berhasil. Yang sebenarnya; berhasil, meski nggak terlalu pas benar. Tapi itu sudah cukup. Kalau nggak dilihat seksama atau memakai kaca pembesar nggak akan kelihatan. Duh alangkah gembiranya waktu itu!
5. Kegokilan kelima: mau-maunya disuruh nulis kegokilan diri sendiri. Apalagi sampai panjang begini.
Selesai! Sebenarnya ada aturan kalau saya harus ngasih tugas ini ke lima blogger yang lain. Tapi karena saya orangnya nggak suka maksa, serta PR itu kadang nggak bagus juga karena bisa membuat anak kecil kehilangan waktu bermainnya (*lho?), maka saya tawarkan saja. Jadi PR ini berlaku buiat lima pengunjung pertama halaman ini. Jika anda tak bersedia untuk mengerjakannya, silahkan tinggalkan komentar . (Dan itu artinya yang nggak meninggalkan komentar keberatan bakal kena timpuk PR ini).
Ok..segitu saja.
Baik..baik... sebisa dan sesuka saya saja kalau begitu. Berikut lima kegokilan yang pernah saya lakukan. Tentunya ini sudah melalui sensor manakah yang layak untuk ditampilkan ke khalayak. Nomor tidak menunjukkan tingkat kegokilan.
1. Pas jaman SMA dulu, kalau nggak salah pas kelas satu SMA, dan lebih pasnya lagi pas pelajaran PPKN, saya pernah disuruh maju ke depan untuk menjelaskan sebuah materi oleh guru saya. (sebenarnya ini giliran, dan waktu itu jatah saya ditunjuk). Jatah saya waktu itu menjelaskan sebuah pasal di UUD, entah pasal apa tepatnya, lupa. Pokoknya isinya tuh menyatakan “yang menguasai hidup orang banyak dikuasai oleh negara”. Singkat cerita maka majulah saya ke depan. Tanpa membawa buku. Mencoba mengingat apa-apa yang sudah saya pelajari sebelumnya. (note:sebelumnya memang diberi kesempatan untuk mempelajari...siapa saja berpeluang untuk kena tunjuk. Kebetulan saja waktu itu nama saya yang keluar). Dan apa yang terjadi saudara-saudara? Saya bisa menyelesaikan misi menjelaskan itu dengan sedikit memuaskan. He he. Tak terlalu banyak yang bertentangan dengan yang ada di buku (*dasar emang nggak kreatuf...disuruh menerangkan malah menyalin ulang di buku). Tapi itu belum selesai. Tibalah saat diskusi. Temen-teman sekelas dipersilahkan bertanya sepuas hati mereka. Dan saya dengan penuh keiklasan harus tetap setia menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Sesulit apapun pertanyaan itu. Satu orang kemudian angkat tangan; pertanyaan standar. Mudah diatasi. Orang kedua angkat tangan; rada sedikit mikir (padahal tuh pertanyaan sudah diprediksi sebelumnya. Di atas kertas mudah diatasi)
“Tadi katanya yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Bisa diterangkan lebih jelas maksud yang menguasai hajat hidup orang banyak itu”
(*tenang..tenang, pertanyaan standar)..”Hmmh jadi yang menguasai hajat hidup orang banyak itu dikuasai dan dikelola oleh negara. Biar tidak terjadi monopoli. Artinya sektor-sektor yang penting. Yang berhubungan langsung dengan kebutuhan takyat. Mendesak dan yang rawan monopoli”
“Contohnya yang penting?”
“semacam listrik, bahan bakar”
“berati yang nggak dukuasai negara nggak penting ya? Bisa disebutkan!”
(hmmm..mikir. Nggak juga ya sebenarnya.. makanan penting tapi nggak dikuasai negara. Jadi.....sudahlah..dijawab yang pertanyaan kedua saja), “seperti makanan, kosmetik—“.
Uppps...Gawat! Kok bisa-bisanya kata kosmetik itu keluar dari mulut saya. Mana mungkin negara mengusai remeh temeh macam kosmetik tadi. Jadi menyesal mengutarakannya. Andai saja bisa berbalik ke belakang , ingin rasanya mencabut kata-kata itu. Tapi apa daya, seisi kelas sudah riuh rendah oleh tawa. Mentertawai kekonyolah saya. Dan saya hanya bisa bengong di depan kelas. Tetep cool kayak nggak terjadi apa-apa. Padahal sebenarnya saya sedang grogi habis-habisan di depan kelas. Untunglah guru saya bertindak cepat. Mengendalikan situasi kelas yang mulai riuh. Beliau pun angkat bicara.
“jadi kalau kosmetik nggak penting berati kecantikan nggak penting ya?”
(aduh..duh..kirain mau membantu..eh malah memperparah. Gimana ini? ), “ya bukan begitu. Kalau dasarnya cantik, walau nggak dimake up ya tetep cantik”.
Wkwkwkw..makin meledaklah tawa seisi kelas. Dan saya hanya membisu menatap teman-teman yang tergelak. Sepintas saya lirik bu guru berjilbab itu; beliau pun ternyata tak kuasa menahan senyumnya.
Tapi kelak, ketika saya lebih mengerti ini dan itu, pernyataan saya itu banyak benarnya juga. Percayalah, hai para wanita, kalian tetep cantik kok meski tanpa make up itu. Tanpa bedak dan gincu tebal itu. Karena sebenarnya, kecantikan itu ada dalam hati. Itulah yang mungkin lebih hakiki. (ha ha..kok saya jadi ngomongin gini)
2. Saya ini seorang penggigit. Artinya suka menggigit. Terutama barang-barang kecil memanjang. Korban keberingasan saya tentu saja pulpen dan pensil. Pas jaman SD dulu, tutup pulpen pilot saya pasti sudah nggak berbentuk. Malah bisa-bisa sudah nggak berfungsi lagi. Menyedihkan sekali melihatnya tak lagi bulat. Sudah pipih akibat gigitan kuat gigi seri saya. Maka jangan heran kalau kemudian saya diblacklist oleh teman sekelas untuk meminjam sesuatu. Semacam tipe ex atau penghapus sekalipun. Tentunya karena mereka trauma karena barang-barangnya yang saya pinjam saya gigit-gigit nggak karuan. (* tapi sekarang kebiasan ini sudah jauh berkurang kok.... jorok dan tak higienis)
3. Suka teriak kenceng-kenceng kalau pas mandi. Saat guyuran air pertama membasuh tubuh. Apalagi kalau pas inget hal-hal bodoh yang dilakukan.. Dulu, sempat ada tetangga yang sampai nyamperin ke rumah karena dengar orang teriak-teriak. Dikirain ada apa-apa. Eh ternyata cuma saya yang lagi mandi.
4. Nggak atahu apakah ini masuk kegokilan atau kebodohan. Atau kecerobohan? Ceritanya pas skripsi kemarin, nama dosen pembimbing saya pada lembar persetujuan skripsi ternyata nggak saya beri gelar. Parah banget. Padahal semingguan lebih saya berjuang mendapatkan tanda tangan persetujuan dari tiga dosen penguji. Tinggal dosen pembimbing saja, dan itu pastinya langsung disetujui, karena memang yang pertama meriksa dosen penguji. (note: pada lembar persetujuan itu ada tanda tangan persetujuan dosen penguji sama pembimbing). Maka bingunglah saya, terbayang sudah kalau harus mengulang mencari tanda tangan lagi. Padahal satu orang dosen penguji sudah terbang ke jakarta dan bakal balik minggu depan. Satu dosen penguji lain sudah ambil liburan dan sudah menyatakan nggak bisa diganggu untuk hal-hal akdemis. Itu beliau tegaskan sewaktu saya minta tanda tangan di hari terakhirnya di kampus. Sedangkan satu penguji lagi; ah membayangkannya saja saya sudah lemas duluan. Perlu empat kali bolak-balik kemarin pas minta tanda tangan persetujuan. Revisi sana sini. Kebanyakan nggak jelas.
Hingga...... akhirnya kesadaran itu muncul...untunglah dosen pembimbing saya orangnya masih muda. Artinya baru-baru saja lulusnya. Dan juga belum S3. Jadi gelarnya ada di belakang namanya: ST dan MT. Masih ada space utuk menyisipkan gelar tersebut ,hal yang nggak mungkin seandainya gelar tersebut di depan macam Ir atau Doktor. Terima kasih Ya Allah! Maka kemudian saya buka file word lembar persetujuan itu, dengan hati-hati saya print ulang lembar persetujuan yang sudah bertanda tangan tadi. Tentu saja terlebih dahulu saya tambahkan ST dan MT pada belakang nama pembimbing saya. Sedangkan yang lain diblock putih. Percobaan ngeprint; berhasil. Yang sebenarnya; berhasil, meski nggak terlalu pas benar. Tapi itu sudah cukup. Kalau nggak dilihat seksama atau memakai kaca pembesar nggak akan kelihatan. Duh alangkah gembiranya waktu itu!
5. Kegokilan kelima: mau-maunya disuruh nulis kegokilan diri sendiri. Apalagi sampai panjang begini.
Selesai! Sebenarnya ada aturan kalau saya harus ngasih tugas ini ke lima blogger yang lain. Tapi karena saya orangnya nggak suka maksa, serta PR itu kadang nggak bagus juga karena bisa membuat anak kecil kehilangan waktu bermainnya (*lho?), maka saya tawarkan saja. Jadi PR ini berlaku buiat lima pengunjung pertama halaman ini. Jika anda tak bersedia untuk mengerjakannya, silahkan tinggalkan komentar . (Dan itu artinya yang nggak meninggalkan komentar keberatan bakal kena timpuk PR ini).
Ok..segitu saja.
Saturday, February 7, 2009
Gini ini Politik....
Suatu ketika, saat pulang kampong, yang entah sudah berapa bulan lewat, saya lumayan terkejut mendapati sebuah baliho caleg berdiri anggun di perempatan kampung saya. Ukurannya sih memang nggak terlalu besar, tapi cukup mengagetkan saja mengingat kampung saya adalah kampung kecil dengan penduduk jarang yang bahkan untuk pemilihan kepala desa saja tidak terlalu banyak di perhitungkan oleh para calon yang ada. Jalannya pun nggak terlalu ramai, paling-paling motor yang lewat, dan itupun seringnya dari penduduk sekitaran saja. Sebagai gambaran , kampung saya lokasinya berada di pinggiran Pasuruan, berada di kecamatan yang tak terlalu terdengar. Kalah jauh dengan kecamatan-kecamatan yang sudah cukup terkenal macam Bangil dan Pandaan. Untuk menjangkau kampong saya pun, itu harus masuk sebuah jalan kampung sejauh sekitar 800 meter. Nggak ada ojek, apalagi angdes, maka jalan kaki lah alternatif satu-satunya. Dulu sih sempat diaspal dengan kualitas ala kadarnya, jadi sempat juga menikmati kenyamanan saat transportasi menjadi lancar. Tapi sekarang, di beberapa titik sudah penuh lubang menganga, dan yang tersisa hanyalah tatanan batu lumayan runcing yang mencuat di sana sini. Perlu ekstra berhati-hati saat melintasinya. Bila musim hujan seperti sekarang ini, maka akan sukses membentuk kubangan kecil penuh air keruh. Yang pasti, kalo masih memungkinkan ada jalan alternatif, maka dihindarilah jalan menuju kampung saya ini.
Calegnya sih, memang dari putera daerah. Atau puteri daerah tepatnya. Bahkan dari kampung sebelah. Masih muda, karena pas SD dulu persis satu tingkat di atas saya. Si caleg ini, anak seorang yang boleh dibilang –maksudnya orang-orang kampong bilang-- ustad. Bapaknya sering menjadi khotib sholat jum’at di kampung saya. Dengar-dengar sih, dulu bapak si caleg ini, pernah menang lomba qiroah di TVRI surabaya. Sedangkan pengusung caleg ini, memang dari partai yang lumayan besar di daerah saya. Di DPRD II saja mayoritas, bahkan untuk dapil di wilayah saya yang meliputi 4 kecamatan, pada tahun 2004 kemarin, sukses menyapu bersih empat kursi yang diperebutkan. Bagi pengamat politik, pasti sudah tahu partai yang saya maksud, partai yang menguasai daerah tapal kuda.
Dengar-dengar juga, bapak si caleg ini sudah menyiapkan berkian-kian juta. Entahlah untuk apa. Kalau sekedar pasang baliho begitu sih nggak sampai berkian-kian juta. Apalagi hanya meliputi empat kecamatan. Tapi marilah kita berbaik sangka.
Tapi kemudian, di kepulangan selanjutnya, saya kaget ketika tak lagi saya jumpai baliho caleg tadi. Mungkin terdera hujan deras yang memang beberapa waktu melanda desa. Roboh dan tak ada yang mau memasangnya lagi. Tapi bukan itu inti kekagetan saya. Ternyata, di tempat yang sama dimana baliho caleg tadi terpasang, kini sudah berdiri dua baliho caleg lain yang berukuran lebih besar. Tapi dari partai yang sama. Yang satunya caleg DPR pusat, yang satunya DPRD II. Wah..wah..saya geleng kepala saja. Niat amat yang DPR pusat itu. Bayangkan, ada berapa kampung yang meliputi dapil ini, Pasuruan dan Probolinggo. Jika tiap kampung dikasih baliho sebesar itu, berapa yang ia keluarkan untuk biaya membuat baliho saja. Belum yang memasangnya.
Dua orang caleg itu sih, saya sama-sama nggak kenal. Dan entah dari daerah mana asalnya saya juga tak terlalu peduli. Tapi partai pengusungnya, saya pasti kenal. La wong yang paling gencar beriklan di televise. Durasinya lama lagi. Bahkan di baliho yang caleg DPR pusat, si caleg terlihat bersalaman dengan capres dari partai tersebut. Inilah mungkin senjata andalan si caleg untuk merayu orang-orang kampong yang melihat balihonya.
Kemudian, selidik and selidik, ternyata yang memasang kedua baliho tersebut adalah tetangga saya. Bahkan hanya berjarak satu rumah. Orangnya sih memang terkenal pandai menangkap peluang. Gaya berbicaranya pun amat mempesona untuk bisa meyakinkan orang yang diajak bicara. Tentunya dia sudah mendapat uang saku yang cukup layak untuk memasang baliho tersebut. Maka saat itu, bisa dikatakan kalau tetangga saya itu menjadi tim sukses caleg tersebut.
Tapi cerita kakak sayalah yang membuat saya kemudian tersenyum. Ternyata, baliho caleg pertama itu, yang sudah nggak terpasang lagi, juga dipasang oleh tetangga saya ini. Tentunya ia juga mendapatkan uang saku untuk kerjanya itu. Bahkan tak hanya sebagai tukang pasang, ia juga sebagai tim sukses caleg tersebut. He he, ini baru hebat, tim sukses dua calon yang berbeda.
Dan cerita kakak saya berlanjut. Ternyata, kabar menduanya si tetangga saya ini, sampai juga di telinga bapak si caleg pertama. Maka didatangilah tetangga saya itu. Bermaksud meminta klarifikasi. Beginilah mungkin dialognya:
(tetangga saya biasa dipanggil mbah ri, sedangkan bapak si caleg biasa dipanggil abah)
“Mbah, ente ini gimana seh? la wong sudah jadi tim sukses anakku kok masih jadi tim sukses yang lain?”
“Ente ini gimana seh bah. Gini ini politik. Politik!”
Wkwkwkw.....ingin tertawa saja mendengar cerita itu. Memang masalah mbulet-mbuletan, berkelit, serta akal-akalan, tetangga saya ini memang jagonya. Sudah teramat panjang riwayatnya. Sudah menjadi rahasia umum. Riwayatnya sudah membentang sejak saya masih SD hingga sekarang lulus TK (lho?....he he..maksude teknik kimia). Jadi kalau masalah mbulet-mbuletan tentang tim sukses ini, sepertinya bukanlah perkara sulit baginya.
Ah, politik. Bahkan tetangga saya itu menganggapnya sebagai kegiatan mbulet membulet, tipu menipu, serta hal sejenisnya. Butuh banyak penjelasan memang. Semoga masyarakat segera tercerahkan.
Calegnya sih, memang dari putera daerah. Atau puteri daerah tepatnya. Bahkan dari kampung sebelah. Masih muda, karena pas SD dulu persis satu tingkat di atas saya. Si caleg ini, anak seorang yang boleh dibilang –maksudnya orang-orang kampong bilang-- ustad. Bapaknya sering menjadi khotib sholat jum’at di kampung saya. Dengar-dengar sih, dulu bapak si caleg ini, pernah menang lomba qiroah di TVRI surabaya. Sedangkan pengusung caleg ini, memang dari partai yang lumayan besar di daerah saya. Di DPRD II saja mayoritas, bahkan untuk dapil di wilayah saya yang meliputi 4 kecamatan, pada tahun 2004 kemarin, sukses menyapu bersih empat kursi yang diperebutkan. Bagi pengamat politik, pasti sudah tahu partai yang saya maksud, partai yang menguasai daerah tapal kuda.
Dengar-dengar juga, bapak si caleg ini sudah menyiapkan berkian-kian juta. Entahlah untuk apa. Kalau sekedar pasang baliho begitu sih nggak sampai berkian-kian juta. Apalagi hanya meliputi empat kecamatan. Tapi marilah kita berbaik sangka.
Tapi kemudian, di kepulangan selanjutnya, saya kaget ketika tak lagi saya jumpai baliho caleg tadi. Mungkin terdera hujan deras yang memang beberapa waktu melanda desa. Roboh dan tak ada yang mau memasangnya lagi. Tapi bukan itu inti kekagetan saya. Ternyata, di tempat yang sama dimana baliho caleg tadi terpasang, kini sudah berdiri dua baliho caleg lain yang berukuran lebih besar. Tapi dari partai yang sama. Yang satunya caleg DPR pusat, yang satunya DPRD II. Wah..wah..saya geleng kepala saja. Niat amat yang DPR pusat itu. Bayangkan, ada berapa kampung yang meliputi dapil ini, Pasuruan dan Probolinggo. Jika tiap kampung dikasih baliho sebesar itu, berapa yang ia keluarkan untuk biaya membuat baliho saja. Belum yang memasangnya.
Dua orang caleg itu sih, saya sama-sama nggak kenal. Dan entah dari daerah mana asalnya saya juga tak terlalu peduli. Tapi partai pengusungnya, saya pasti kenal. La wong yang paling gencar beriklan di televise. Durasinya lama lagi. Bahkan di baliho yang caleg DPR pusat, si caleg terlihat bersalaman dengan capres dari partai tersebut. Inilah mungkin senjata andalan si caleg untuk merayu orang-orang kampong yang melihat balihonya.
Kemudian, selidik and selidik, ternyata yang memasang kedua baliho tersebut adalah tetangga saya. Bahkan hanya berjarak satu rumah. Orangnya sih memang terkenal pandai menangkap peluang. Gaya berbicaranya pun amat mempesona untuk bisa meyakinkan orang yang diajak bicara. Tentunya dia sudah mendapat uang saku yang cukup layak untuk memasang baliho tersebut. Maka saat itu, bisa dikatakan kalau tetangga saya itu menjadi tim sukses caleg tersebut.
Tapi cerita kakak sayalah yang membuat saya kemudian tersenyum. Ternyata, baliho caleg pertama itu, yang sudah nggak terpasang lagi, juga dipasang oleh tetangga saya ini. Tentunya ia juga mendapatkan uang saku untuk kerjanya itu. Bahkan tak hanya sebagai tukang pasang, ia juga sebagai tim sukses caleg tersebut. He he, ini baru hebat, tim sukses dua calon yang berbeda.
Dan cerita kakak saya berlanjut. Ternyata, kabar menduanya si tetangga saya ini, sampai juga di telinga bapak si caleg pertama. Maka didatangilah tetangga saya itu. Bermaksud meminta klarifikasi. Beginilah mungkin dialognya:
(tetangga saya biasa dipanggil mbah ri, sedangkan bapak si caleg biasa dipanggil abah)
“Mbah, ente ini gimana seh? la wong sudah jadi tim sukses anakku kok masih jadi tim sukses yang lain?”
“Ente ini gimana seh bah. Gini ini politik. Politik!”
Wkwkwkw.....ingin tertawa saja mendengar cerita itu. Memang masalah mbulet-mbuletan, berkelit, serta akal-akalan, tetangga saya ini memang jagonya. Sudah teramat panjang riwayatnya. Sudah menjadi rahasia umum. Riwayatnya sudah membentang sejak saya masih SD hingga sekarang lulus TK (lho?....he he..maksude teknik kimia). Jadi kalau masalah mbulet-mbuletan tentang tim sukses ini, sepertinya bukanlah perkara sulit baginya.
Ah, politik. Bahkan tetangga saya itu menganggapnya sebagai kegiatan mbulet membulet, tipu menipu, serta hal sejenisnya. Butuh banyak penjelasan memang. Semoga masyarakat segera tercerahkan.
Subscribe to:
Posts (Atom)