Wednesday, September 5, 2012

Friday, August 24, 2012

Saturday, August 18, 2012

Quiz Lebaran kecil-kecilan

Ceritanya, setelah saya bagi ke beberapa teman yang tak hadir di pernikahan saya, buku souvenir pernikahan saya yang berjudul 'Dear Allah' ternyata masih banyak juga. Sudah sejak lama ingin mengadakan quiz kecil-kecilan berhadiah buku ini, tapi tak kunjung jua terrealisasi. Sampai kemudian siang tadi, ide itu muncul sehari menjelang hari yang fitri...i..i..i..i..i..

Jadi, karena namanya juga kecil-kecilan, maka caranya sangat mudah sekali. Anda tak perlu menulis panjang lebar, atau menyalakan laptop maupun komputer untuk mengerjakannya.Cukup dengan ponsel anda. Yang perlu anda lakukan pun sudah menjadi kegiatan reguler anda di tiap tahunnya. Anda, cukup menulis ucapan selamat idul fitri sekreatif yang anda bisa, lalu kirimkan ke nomor hp saya yang ini: 081250895636. Jangan lupa, di setiap ucapan itu, sertakan id mp anda. tak ada nama tak apa. (sekaligus sebagai pemberitahuan, bagi anda yang punya nomor hp telkomselaya sebelumnya, ketahuilah bahwa hp saya itu sudah hilang dengan saya tak dapat membuktikan bahwa nomor yang itu adalah benar-benar nomor saya).

lalu, yang menang yang bagaimana? nah, bila anda bertanya seperti itu, maka jawabannya adalah ini: yang menang adalah yang ucapan selamat idul fitri-nya saya sukai. He he. Maka karena sesimpel itu penilaiannya, pemenang untuk quiz ini boleh jadi bakalan banyak, mengingat buku yang tersedia juga cukup banyak. Anda boleh mengirim ucapan sebanyak-banyaknya tapi sekali saja saya menemukan yang sejenis dengan ucapan itu, dengan berat hati anda saya diskualifikasi. Orisinilatas begitu dihargai di quiz kecil-kecilan ini.

Quiz ini, berlaku hingga kamis depan tanggal 23 agustus pukul 24.00. alasannya, agar saya punya waktu sehari untuk menentukan pemenang-pemenangnya, untuk rencanya hari sabtu saya bawa buku-buku itu ke Jawa. Anda pasti sudah maklum kalau kebanyakan Mp-ers ada di Jawa dan itu artinya ongkos kirim untuk pengiriman hadiah juga lebih murah. Quiz ini juga berlaku bagi kontak di luar negeri, dengan catatan, apabila menang, pengiriman hadiah ke dalam negeri saja.

Baik. Itu saja. Selamat idul fitri!

AyuIqbal


Saturday, July 14, 2012

detik-detik menjelang akad

Sabtu, 25 Februari 2012. Hari masih pagi, tapi saya telah berganti pakaian. Celana putih, baju putih, serta peci putih –yang meski kekecilan untuk kepala besar saya- , telah sempurna saya pakai. Saya tak cemberut, tak juga terlalu sumringah, begitu yang masih saya ingat. Semuanya sudah siap, mahar pun juga telah selesai dihias meski dengan tingkat kemendadakan yang lumayan berat. Saya tak perlu memikir banyak hal. Saya mesti memfokuskan diri pada sebuah waktu beberapa jam lagi, saat saya duduk, lalu mengucapkan sebuah kalimat yang akan menjadi pembeda banyak hal.

Mungkin ini yang disebut dengan keadaan ketika kita dalam keadaan berbaik sangka pada Allah dalam kadar yang begitu tinggi.

Rumah tentu saja masih sepi. Hanya ada keluarga yang memang menginap sejak kemarin-kemarin. Beberapa makanan seadanya juga telah siap. Ada yang beli jadi, ada yang memang sengaja dimasak—hal yang membuat dapur kembali berfungsi setalah mengalami masa vakumnya. Tapi tamu-tamu yang sedianya mengiringi rombongan tentu saja belum datang.

Seorang lelaki kemudian masuk. Teman saya. Teman yang jauh-jauh hari telah saya mintai tolong untuk mendapatkan tugas mulia ini: tukang memutar nasyid di laptop pas acara. Sebelumnya ia memang janji akan datang pagi-pagi sekali ke rumah.  Saya kemudian mengeluarkan laptop kecil saya. Disanalah nasyid-nasyid yang telah saya pilih sudah saya kumpulkan. Memang, sampai sejauh ini, kami bahkan belum bertemu langsung untuk membicarakan ini. Entahlah, mungkin kami yang sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing, hingga permasalahan ini hanya terdiskusikan via sms. Tapi tak perlu ada yang dicemaskan, semuanya akan baik-baik saja. Saya telah mimilih nasyid-nasyidnya, ia tinggal menyesuaiakn nasyid apa yang cocok diputar untuk momen-momen tertentu. Dan itu butuh kepiawaian tersendiri.

Ini cocok pas momen ini, ini cocok pas salaman. Ini enaknya pas makan. Begitulah! Pada akhirnya diskusi tentang nasyid tertap saja tak terhindarkan, hingga tercetuslah sebuah ide, yang kemudian disepakati, bahwa nasyid ‘Robithoh’nya Izzis akan sangat pas saat diputar ketika calon pengantin pria datang dan berjalan menuju tempat akad.

Selesai. Kemudian si teman bergegas menuju rumah mempelai perempuan untuk mulai bersiap-siap dan mengepaskan koneksi laptop dan audio yang ada di sana.

Demikianlah! Ringkas cerita, tibalah saya pada saat itu: ketika saya bersama rombongan, sejarak seratus meter dari tempat berlangsungnya akad, berjalan dalam langkah pelan. Di depan, yang tentu saja cukup jelas dalam pandangan, nampak orang-orang berdiri menyambut. Dan senandung itu!

Sesungguhnya Engkau tahu
bahwa hati ini telah berpadu
berhimpun dalam naungan cintaMu
bertemu dalam ketaatan
bersatu dalam perjuangan
menegakkan syariat dalam kehidupan

(Duh, Gusti, inikah memang saat yang paling menghunjam untuk menikmati nasyid ini? Dulu-dulu memang selalu menghunjam kala disenandungkan, tapi mendengarkannya dalam keadaan harap untuk hati yang saling bertaut dalam bingkai iman dan perjuangan, jelas menimbulkan efek menghunjam dengan dosis yang lebih berat)


Kuatkanlah ikatannya
kekalkanlah cintanya
tunjukilah jalan-jalannya
terangilah dengan cahayamu
yang tiada pernah padam
Ya Rabbi bimbinglah kami

(maka inilah doa indah itu. Hati siapa yang tak lumer, hati siapa yang tak meleleh)

Lapangkanlah dada kami
dengan karunia iman
dan indahnya tawakal padaMu
hidupkan dengan ma'rifatMu
matikan dalam syahid di jalan Mu
Engkaulah pelindung dan pembela

(Amin, ya Allah! Kabulkanlah!)

Saya terus melangkah, sampai kemudian nasyid itu dihentikan.  Saya berhenti, rombongan berhenti. Masing-masing perwakilan keluarga maju untuk melakukan prosesi serah terima. Saya tak tahu akan ada sesi ini, tapi saya ikut saja. Tak ada ruginya.

Saya kemudian maju selangkah. Calon mertua juga.  Kemudian, dalam waktu yang cepat, kalung bunga melati diulurkan. Saya merundukkan kepala sedikit, memberikan keluasaan kalungan bunga itu mendarat di leher. Lalu, kami saling menjabat tangan.

Tapi tidak selesai sampai di situ. Biarlah! Biarlah saya teruskan ini dengan cara saya. Toh, tak ada pembicaraan apapun sebelumnya bakal ada prosesi ini. Maka, belum juga usai jabat tangan itu, saya dekap bapak berumur 50an tahun itu.  Untuk yang pertama kalinya. Tak ada kata, tak ada kalimat apapun. Hanya merasai degup jantung itu, hanya merasakan persentuhan kami. Meski ingin sekali saya bisikkan kalimat ini : “terimakasih, Pak! Terimakasih telah mendidik calon pengantinku sampai sejauh ini. Maafkanlah lelaki ini yang lancang mengetuk pintu rumahmu, untuk meminta salah satu sumber kebahagianmu. Bahkan tanpa sebuah janji. Hanya keinginan hati, untuk memberi kebahagian lain setelah ini”

Beberapa saat kemudian, Robithohnya Izzis kembali mengalun.


(mungkin akan ada sambungannya)
 
 

Tuesday, June 26, 2012

cerita dari kubangan lumpur

Ini cerita pada sebuah pagi ba’da mabit anak rohis SMA… Cerita tentang penanaman kepedulian pada lingkungan sekitaran.

: menanam bakau!

Pernahkah kau melihat anak-anak remaja bergumul lumpur di sebuah padang lumpur yang ingin diimpikan menjadi hutan bakau yang rimbun? Pernahkah kau melihat antusiame muda-mudi yang bersimbah peluh tetap mencoba mengarifi buminya?

Jika tak pernah, ijinkan aku bercerita pada kalian. Mereka masih usia belasan, masih mencoba menatap tajam masa depan. Amat menyenangkan sekali memandang mereka. Sungguh, menyenangkan sekali. Jika yang sering kalian saksikan adalah muda-mudi alay yang jingkrak-jingkrak nonton konser musik di lapangan, maka saat di kemudian hari yang kau tatap adalah sekelompok anak muda yang bersusah-susah menjaga lingkungannya, menyingsingkan lengan, serta membiarkan kaki telanjangnya terperosok dalam kubangan, kau akan merasakan keteduhan yang terlalu hebat untuk diceritakan.

Ada tawa. Ada celoteh khas remaja. Ada cinta.

Tapi kemudian menjadi beda. Bukan gerimis, bukan hujan lebat, atau bahkan bukan bibit yang kurang yang membuat beda. Adalah seorang gadis yang tiba-tiba terdiam, tertunduk, terisak dalam kesendiriannya lah yang kemudian mengundang perhatian. Lihatlah, kakinya benar-benar terperosok dalam, dan butuh waktu lama untuk membantunya lepas dari cengkraman lumpur nan berat itu. Tapi, orang-orang yang sempat mengira kalau sesenggukan kecil itu bermula dari keterjebakan si gadis dalam lumpur, menjadi heranlah setelahnya. Sebab bahkan ketika kakinya telah terbebas, ketika ia sudah bisa kembali berjalan dengan lebih leluasa, tangis itu ternyata tak kunjung reda. ‘Ada apa’, begitu tanya orang-orang lewat tatapan matanya.

Kau mungkin seperti aku mulanya, yang menganggap si gadis terbiasa dalam keberadaan, terlimpahi kemudahan, hingga mudahlah baginya untuk mengeluarkan air mata kala kesulitan yang tak biasa ia hadapi itu kemudian menderanya. Tapi kemudian, seperti halnya aku, harusnya kalian akan tertohok setelah mendengar penjelasan ini. Ya, lewat kalimat yang patah-patah, si gadis akhirnya mau bercerita pada pembimbingnya, beberapa saat ketika kegiatan berakhir.

Ia ingat ibunya. Hanya itu. ia ingat ibunya yang tiap hari mesti mencari kerang di hutan bakau. Bertahun-tahun ia mengira, bahwa itu adalah pekerjaan biasa yang tak membutuhkan banyak perhatiannya. Bahwa itu mudah saja dilakukan oleh ibunya. Tapi baru hari itu ia mengerti dengan sepenuh hati. Kala kakinya terperosok cukup dalam, kala ia merasakan berat yang sangat bahkan untuk melangkah, ia sadar, pekerjaan yang dilakoni ibunya itu adalah pekerjan luar biasa yang tak akan mungkin dapat dilakukan dengan begitu istiqomah. Kecuali karena cinta, karena tanggung jawab, karena rasa ingin yang besar untuk melihat keluarganya memperoleh penghidupan yang layak.

Menjadi pecahlah tangisnya.


#berdasarkanceritaistri,dengandramatisasiseperlunya:)