Tak ada yang spesial. Ya, mungkin itulah yang bisa saya ungkapkan. Sebagai sesorang yang tak terlalu suka menjelajahi rumah-rumah makan untuk wisata kuliner, menurut saya, tak ada yang spesial dari makanan itu. Enak sih enak, tapi tak ada yang spesial. Hingga saya tak perlu mengorbankan satu dua hal untuk mendapatkannya. Ini lah yang kemudian berlaku umum, tiap harinya saya lebih suka mencari makan di tempat-tempat terdekat dari rumah. Lebih praktis, lebih cepat. Tak ada rutinitas berburu makanan-makanan aneh di tempat-tempat jauh.
Tapi pagi itu, menjadi agak sedikit beda lah kesimpulan itu. Sudah ribuan kali sepertinya jalan itu saya lewati. Namun baru kali itu, ada sebuah warung kecil terbuat dari tripleks yang membuat saya berjanji untuk menghampirinya sepulang kerja sorenya nanti. Dilihat dari bangunannya, agaknya warung itu baru saja berdiri. Mungkin baru satu dua hari ini. Apa yang tertulis di spanduk depannya itu lah yang menggerakkan saya: “sedia lontong balap.”
Sudah sering saya bilang, bukan tentang kapan, bukan tentang dimana, atau juga bukan tentang apa, tapi tentang siapa itu lah yang penting. Membaca spanduk itu, saya tak teringat lentonya yang boleh jadi enak, atau teringat surabaya sebagai asal makanan ini, tapi saya teringat sebuah nama. Awalnya saya tak terlalu menyadari hal ini, tapi saya juga tak bisa berbohong, bahwa kenangan bersama itu lah yang menggerakkan ini. Apa yang membuat saya tiba-tiba menginginkan lontong balap itu kala melihatnya adalah memori tentang peristiwa tiga tahunan yang lalu. Di sebuah warung tenda kecil pinggir jalan, berbatasan dengan kawat berduri dimana di seberangnya ada hamparan sawi, di sebuah kota dimana sekitar empat tahun hidup ini merunuti jalannya, saya pernah makan lontong balap ini berdua dengan seorang kawan. Mungkin begitu menikmati saat-saat itu, hingga mudah saja terbangkitkan. Bahkan ketika hitungan tahun telah begitu cepat menjalar.
Maka, seperti yang sudah disebutkan, berjanjilah saya untuk mampir di sore harinya. Bukan untuk dibungkus, sebab itu akan mengurangi memorabilianya. Tapi dimakan di situ, meski harus sendiri menghabiskannya. Sayang sekali, saya tak kepikiran untuk meng-SMS-nya kala mulai menikmati tiap sendok kenikmatannya.
Begitulah! Kenangan, akan senantiasa untuk mencoba kembali bangkit di kekinian. Mungkin itulah kenapa, jika tak ditujukan untuk mengambil pelajaran, kita dilarang untuk mengingat-ingat kebiasaan buruk kita di masa lalu.
“akh, jika sedang menurun, setidaknya cobalah mengingat-ingat romantisme ketika pertama kali halaqoh. Semoga itu bisa menjadi pemicu semangat”
Menjadi benarlah nasehat pendek itu empat hari lalu. Dalam sebuah lingkaran kecil. Di malam yang menjelang larut.
#buat bai: kapan kita kembali menikmati lontong balap depan Perumahan Galaksi? Kali ini berempat. Bersama istri dan juniormu. Ataukah berlima?