Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

Friday, October 15, 2010

Dongeng negeri Kami



Jika kau datang ke kota kami, dan mempunyai cukup waktu untuk mendengarkan sebuah kisah, maka duduklah sejenak bersama kami. Dengarkanlah cerita yang disampaikan turun temurun oleh ibu-ibu kami setelah lelah bekerja seharian. Tidak panjang. Dan semoga kau tak bosan mendengarnya. Cerita inilah yang diceritakan dengan suara lembut menjelang tidur kami. Tentu saja bukan agar kami lekas tertidur. Mana mungkin kami tertidur oleh cerita semacam ini. Cerita itu diceritakan karena memang kami butuh cerita. Sama halnya anak-anak yang lain juga membutuhkan cerita. Juga, sama seperti halnya ibu-ibu membutuhkan cerita untuk diceritakan pada anak-anak mereka.

Marilah, mari dengarkan cerita yang turun temurun diceritakan di kota kami. Cerita yang diciptakan oleh tetua kota kami. Dulu, dulu sekali. Saat orang-orang tua tak lagi punya cerita untuk diceritakan. Semoga saja cerita ini berguna. Tentu kau sudah tak mempunyai cerita untuk kau ceritakan pada anak-anakmu menjelang tidur mereka. Tentu, karena ceritamu telah dirampas cerita-cerita di sinetron itu. Tentu, karena ceritamu telah diburamkan oleh cerita-cerita lain. Tentang cerita pembantaian itu, penganiayaan itu, serta hal-hal sejenis yang sayangnya berhulu pada satu bentuk : kebiadaban .

Mari, mari dengarkan.....




Dahulu kala, berpuluh tahun yang lalu, ketika tahun baru saja memasuki millenium ketiga, tersebutlah seorang lelaki muda duduk kedinginan di kursi halte bus kota. Meski ia sedang duduk di sana, tentu saja ia tidak sedang menunggu bus kota, apalagi memanggil taksi. Tidak. Sama sekali tidak. Kau bisa melihatnya dari sepeda kayuh yang tersandar tak jauh dari duduknya. Tentu, seperti hari-hari biasanya, lelaki muda itu membawa sepeda.

Hari itu hujan deras. Entah ini pertanda apa, tapi seketika saja langit menjadi gelap. Awan pekat mengungkung kota. Dan tiba-tiba saja, tak lama setelah itu, air seolah begitu saja tumpah dari langit. Amat lebat. Sungguh menggetarkan melihat hujan selebat itu. Dan seperti biasanya, bila hujan datang, maka pemandangan di jalan-jalan yang terlihat adalah kendaraan yang saling berpacu. Beradu cepat sampai tujuan. Tak lagi peduli tentang keselamatan. Semuanya tiba-tiba menjadi pembalap kelas nasional.

Tapi tidak dengan lelaki muda itu. Ia memilih menepi. Menyandarkan begitu saja sepeda kayuhnya di pagar besi pembatas jalan. Memilih berteduh di halte bus yang sepi. Entah kenapa gerangan kali ini ia memilih menepi. Dulu-dulu, ketika hujan datang tatkala ia sedang dalam perjalanan seperti ini, maka ia tak pernah menghiraukan itu. Tetap saja ia kayuh sepeda bututnya melawan terpaan hujan. Tak peduli. Toh memang tak ada yang perlu ia takutkan bakal lecek terkena hujan. Tak perlu ada yang ia lindungi. Tidak juga tubuhnya. Sejak kecil ia sudah terbiasa terguyur hujan seperti ini. Jadi tak perlu terlalu mengkhawatirkan tentang datangnya pilek-pilek, demam-demam, atau yang lain. Apalagi jauh-jauh memikirkan hujan asam.

Tak ada lagi selain lelaki muda itu yang duduk di halte tersebut. Tak ada, karena memang untuk apa? Tak mungkin memang orang mau duduk di halte itu dalam keadaan seperti ini. Untuk berteduh pun percuma. Ya, percuma. Karena dengan leluasa air akan menerobos mengingat angin yang berhembus kencang. Menerpa semuanya. Lalu apa yang sebenarnya dilakukan lelaki muda itu? Tak jelas. Tak ada gunanya memang ia berteduh di halte ini karena tetap saja dia basah kuyup terdera hujan. Ia hanya duduk terdiam. Mengangkat kaki menaiki bangku, melipat lutut, membenamkan wajah di sela kedua lutut yang tertekuk, lalu terakhir melingkarkan kedua tangan mendekap kedua kaki itu. Dan lagi-lagi membisu. Orang-orang yang melihatnya akan segera menyimpulkan kalau dia sedang menggigil kedinginan. Padahal sebenarnya tidak. 

Tak lagi ia hiraukan mobil-mobil yang melaju kencang. Tak ia pedulikan hujan yang kian menderas. Tak juga ia ambil pusing halilintar yang begitu keras menggelegar. Sama sekali tak ada yang ia pedulikan. Ia sempurna mematung. Amat memedihkan melihatnya.

“Apa yang kau pikirkan, anak muda?”

Sebuah suara. Sontak pemuda itu mengangkat wajah. Terkejut. Sejak kapan ada orang yang membersamainya.

“Apa yang kau pikirkan, Dani”.

Seorang tua. Memakai kain putih tipis yang dengan ajaibnya tak merasa kedinginan sedikitpun. Dan, hei...!

“Dari mana kau tahu namaku?”

“Tentu saja aku tahu, Dani. Untuk apa aku datang ke sini kalau aku tak tahu namamu”

“Apa….apa yang Engkau inginkan?”

“Menemuimu. Ya, hanya menemuimu. Berbicara sebentar denganmu. Tak akan lama. Apakah kau keberatan?”

Menggeleng. Lelaki muda itu hanya bisa menggeleng. Keterkejutan pada akhirnya membuat ia mengikuti saja ‘permainan’ ini.

“Ah, kenapa kau masih memikirkan hal itu, Dani? Kenapa kau tetap saja memikirkan tentang mengapa kau tetap saja begini? Mengapa kau tetap memikirkan mengapa-mengapa itu. Tentang mengapa kau tetap saja harus bekerja keras seperti ini bahkan ketika usiamu sudah menapak 20 tahun. Tentang mengapa kau mesti berhujan-hujan begini sementara yang lain mungkin sedang hangat bergelung guling di ranjang. Juga , tentang mengapa hidup seolah tak adil bahkan setelah semua penderitaan dan kerja keras itu. Mengapa kau tetap harus berdarah-darah memperjuangkan hidup sementara yang lain tertawa-tawa menikmatinya.”

“Mengapa kau tahu?”

“Kau bertanya lagi. Tentu saja aku tahu, Dani”

“Siapa kau-?”

“Tak penting siapa aku, Dani. Jauh lebih penting menanyakan siapa Kau?”

“Siapa aku? Permainan macam apa ini. Tentu saja aku tahu siapa aku. Tolong, tolong katakan apa sebenarnya maumu?”

“Untuk mengajakmu kembali, Dani”

“Kembali--?”

“Ya, kembali. Kembali yang akan menjawab semua pertanyaan itu. Kembali yang semoga membuatmu menjadi lega.” Lelaki tua itu mengalihkan pandangannya. Ke depan. Ke jalanan yang perlahan mulai sepi dari deru kendaraan. “Lihatlah ke depan, Dani. Lihat! Apa yang sekarang kau lihat?”

Ajaib. Tiba-tiba saja diantara hujan yang masih lebat itu, tergelar begitu saja sebuah pertunjukan. Tidak! Bukan satu, tapi dua pertunjukan. Tiba-tiba saja tergelar dua buah layar yang menampilkan dua potong kejadian. Begitu nyata.

“Apa yang kau lihat di layar sebelah kanan, Dani?”

“Bagaimana...Bagaimana bisa terjadi?”, anak muda bernama Dani itu tergeragap. Tak siap untuk melihat keajaiban ini.

“Jawab pertanyaanku, Dani. Apa yang kau lihat?”

“Ibu! Itu ibu”

“Benar sekali, Dani. Itu ibumu. Ibu yang kau cintai yang mungkin sekarang sedang merindukanmu, mendoakanmu di rumah. Dan anak kecil itu, Dani, yang menangis karena baru saja terjatuh itu, tentu saja itu kau. Itu kau, Dani. Kau pasti tak tahu, karena tak ada selembar foto pun yang bisa memberi tahumu tentang wajah kecilmu. Ibumu tak mungkin sempat untuk hal itu.

“Saat itu usiamu empat tahun, Dani. Lucu-lucunya. Ah bahkan kau lihat itu, kau tetap lucu meski sedang menangis. Tahukah kau mengapa kau menangis di areal persawahan itu? Saat itu kau berlarian, Dani. Kau berlarian di pematang sawah itu. Tentu saja ibumu membiarkanmu berlarian karena ia juga sibuk menyiangi rumput yang mengganggu tanaman sayurnya itu. Tak terlalu memperhatikanmu. Dan bisa ditebak, kau terjatuh dipematang sawah itu. Lalu menangis . Menangis keras.”

“Menangis--?”

“Ya, Dani. Menangis!” Lelaki tua itu menghela napas. Seolah menikmati betul raut keterkejutan yang tergambar jelas di wajah dani. “Lalu coba lihat di layar satunya. Seorang ibu dan anak kecil juga. Empat tahun juga sepertimu pada kala itu. Ini waktu yang sama saat kau menangis di sawah itu, Dani. Tapi tentu saja itu di kota yang jauh denganmu berada . Dengan latar tempat yang juga jauh berbeda. Itu mall, Dani. Mall! Pusat perbelanjaan yang saat kecil begitu ingin kau kunjungi.

“Lihatlah! Anak kecil itu menangis juga, Dani. Sama seperti kau, ia juga menangis. Menangis karena terjatuh. Dan tahukah kau kenapa ia terjatuh? Sama seperti kasusmu, Dani, karena ibunya mengabaikannya. Anak itu tiba-tiba memisahkan diri dari ibunya. Anak itu kebosanan, Dani. Anak itu kebosanan mengikuti ibunya yang sejak sejam lalu sibuk memilih pakaian mana yang harus ia beli”

“Lalu apa bedanya?”

“Tentu saja banyak bedanya, Dani. Bukankah ini yang beberapa kali kau sebut dengan ketidakberuntungan itu. Tentang nasib yang memaksamu sekecil itu harus bergulingan di pematang sawah yang mungkin saja penuh ular. Marilah kita lihat, Dani, marilah kita lihat apakah kau memang tak seberuntung itu.

“Tahukah kau, Dani, sebenarnya bapakmu telah melarang ibumu untuk membantunya di sawah. Bapakmu menginginkan ibumu biar mengasuhmu saja di runah. Menemanimu bermain. Tapi ibumi bersikeras ingin membantu, Dani. Ia bersikeras mengajakmu untuk ikut serta ke sawah. Meyakinkan bapakmu bahwa itu tak apa-apa, bahwa itu bagus untuk perkembangan psikologismu. Meyakinkan bapakmu bahwa mereka berdua harus lebih bekerja keras menjelang pendaftaran sekolah untukmu. Hingga terjadilah apa yang kau lihat itu, Dani. Kau lihat ibumu yang begitu sibuk mengurusi tamanam itu hingga terlupa olehnya dirimu. Ia sibuk, ia sibuk memikirkan baju seragam sekolah buatmu yang harus segera ia beli.

“Lalu coba lihat kembali layar satunya yang kau sebut dengan keberuntungan itu, Dani. Perempuan itu juga lalai, lalai menjaga anaknya. Tapi penyebabnya lah yang membedakannya, Dani. Perempuan itu lalai karena ia sibuk memilih baju yang bakal ia beli. Ia sibuk memilih baju manakah yang paling cocok digunakan menghadiri pernikahan puteri pejabat itu. Ia ingin terlihat wah, Dani. Ia dilanda euforia membayangkan begitu anggunya ia memakai stelan baju pesta yang dilihatnya. Dan ia melupakan anaknya. Lupa, Dani. Anaknya menjadi sama sekali tak penting. Ia baru sadar tatkala mendengar tangis anaknya itu. Berlagak tergopoh-gopoh mencari, menghampiri anaknya. Mendekapnya. Tapi kepalsuan tak mempunyai arti apa-apa di mata anak-anak, Dani. Itu sama sekali tak mampu meredakan tangisnya. Anak itu semakin menangis kencang. Membuat ibu muda itu salah tingkah dilihati orang-orang. Tentu saja ia tak terbiasa menangani anaknya yang rewel seperti itu, Dani. Tentu saja, sebab biasanya bukan dia yang mendiamkan anaknya yang rewel. Baby sitter, Dani. Baby sitter yang biasa melakukannya.

“Tapi lihat ibumu, Dani. Ibumu tak panik. Ibumu hanya tersenyum kecil melihat kau menangis. Ia menghampirimu, mendekapmu. Bercup-cup ria sambil bergumam pelan: ‘anak ibu nggak boleh nangisan. Harus kuat. Ayo, mana yang sakit biar ibu lihat. Sudah..sudah nggak papa gitu’. Dan berbeda dengan anak kecil tadi, Dani, kau seketika terdiam. Rapat memeluk ibumu. Merajuk sebentar. Bermanja-manjaan sekejap. Dan sepuluh menit berselang, kau sudah sibuk bermain kembali di pematang sawah itu. Sendiri. Ibumu bisa kembali melakukan pekerjaannya”

“Hentikan!”

“Kenapa, Dani? Oh ya, maaf kalau itu mengingatkanmu pada alamarhum bapakmu. Maaf. Itulah mengapa bapakmu tak ditampilkan dalam tayangan itu, Dani. Bapakmu sebenarnya ada juga di sawah itu. Tapi jauh dari kalian berdua. Dia sedang mengecek aliran air yang mengairi sawah.

“Tapi maaf, Dani, meski kau tak bersedia, aku mesti melanjutkannya. Meski kau masih mengingat almarhum bapakmu, aku mesti meneruskan cerita ini. Kau sudah melihatnya, Dani, dan kau berkesempatan menerima penjelasannya. Sekarang mari kita jawab pertanyaan itu, Dani, pertanyaan yang sering kali begitu mengusikmu. Inikah yang kerap kau sebut dengan ketidakberuntungan itu, Dani? Inikah? Benarkah kau lebih tidak beruntung dibandingkan anak itu? Aku tahu kau sudah memiliki jawaban, Dani, tapi tak perlu kau jawab sekarang. Simpan saja. Karena masih banyak yang ingin aku tunjukkan padamu. Masih banyak penjelasan yang harus aku sampaikan padamu.”

“Masih banyak--?”

“ya, masih banyak. Tapi kita harus berhenti sejenak. Kita perlu menikmati hujan ini bukan?. Hujan ini rahmat. Meski orang-orang mengatakannya sebagai penyebab banjir, biang longsor, atau hal-hal jelek yang lain. Tapi tetap saja hujan ini adalah anugerah, Dani. Ada janji kehidupan dari titik-titiknya. Hanya manusia saja yang serakah, Dani. Memenuhi sungai-sungai itu dengan sampah-sampah, menggunduli hutan-hutan itu dari pepohonan. Mengacaukan segalanya”

Anak muda itu hanya mematung.

“Dan aku ke sini juga karena hujan, Dani. Tadi, ketika hujan pertama kali menetes dengan derasnya, orang-orang pada mengutuknya, sumpah serapah menguar dimana-mana. Mereka tak siap mendapati hujan setiba-tiba itu. Lupa kalau dulu mereka mengharapkan hujan cepet turun kala kekeringan melanda. Tapi kau tidak, Dani. Saat hujan tiba-tiba saja turun, kau justru tersenyum. Menggumam syukur karena itu memberimu waktu mendinginkan diri. Sejenak bermain-main. Lepas dari problematika hidup. Itulah jawaban mengapa kau mendapatkan kesempatan ini, Dani.

“Kau selalu mencintai hujan. Sejak dulu. Kau teramat bandel untuk masalah ini. Kau gemar sekali hujan-hujanan. Meski ibumu sudah teriak keras-keras. Meski halilintar menggelegar keras mencekam bumi. Kau tetap saja asyik bermain di pancuran air yang mengucur dari talang tetangga itu. Saling berebut dengan teman-teman kecilmu, yang sama seperti kau, juga bandel untuk masalah hujan ini”.

Anak muda itu menelam ludah. Tersenyum kecut mendengarnya. Kata-kata pak tua itu cukup mengingatkannya akan kesenangan-kesenangan kecil itu. Hal yang teramat langka baginya.

Beberapa menit berlalu dengan hening. Meski tentu saja itu bukan berarti tak ada suara. Rinai hujan masih keras menerpa apa saja. Gaduh. Benar-benar gaduh. Tapi bukankah hening, tak selalu keadaan hampa suara?

“Kita harus memulainya lagi, Dani. Mari, lihatlah kembali kedua layar itu! Apa yang kau lihat? Apa yang kau lihat sekarang, Dani?”

(Bersambung. Insyaallah)


Thursday, May 20, 2010

Pak Tua Yang Berdiri Tegak

Jika anda mulai merasakan kehidupan yang membosankan, itu-itu saja, dan sudah jauh dari menarik, marilah sejenak kita berkenalan dengan bapak satu ini. Kali-kali saja, seperti saya, anda akan mendapat pompaan semangat yang tiba-tiba.

Usianya tak lagi muda. Atau bahkan boleh dikatakan tua. Tua untuk jenis pekerjaannya. Tua bila dibandingkan rekan-rekan kerjanya.

Penampilan fisiknya pun biasa-biasa saja. Badannya kecil dengan tinggi badan yang biasa saja. Lebih mudah untuk mengatakannya pendek daripada tinggi. Ia kurus, yang saya yakin kalau ia sesekali menyingsingkan lengan bajunya akan nampaklah tonjolan-tonjolan urat di sepanjang tangannya. Gelagatnya pun biasa saja, tidak mencitrakan diri sebagai seorang pendekar  yang ‘kecil-kecil cabe rawit’. Dengan tampilan fisiknya itu, tak adalah tanda-tanda ia seorang yang menjadi seperti pekerjaannya sekarang.

Ia seorang security. Atau satpam. Atau penjaga. Atau apalah namanya. Yang pasti, tugasnya adalah menjaga pos-pos tertentu dengan tugas memastikan keadaan terkendali sambil mengatur kelancaran lalu lintas. Ada beberapa pos yang dijaga dengan sistem shift dan rotasi. Maka, saya pun kerap kali bertemu bapak ini dalam waktu dan tempat yang berbeda. Suatu siang saya bisa bertemu dengannya sedang menjaga pos kantor pusat, suatu sore melihatnya menjaga pos perumahan sisi Sintuk, dan suatu subuh sedang menjaga pos dekat perempatan Mulawarman.

Dan, inilah letak istimewanya.

Dalam terik yang membakar khas khatulistiwa, gambaran umum security yang sedang bertugas adalah mencari-cari tempat yang sekiranya bisa digunakan berteduh sambil sedikit ‘asal-asalan’ menjalankan tugasnya. Kalaupun tidak, cukuplah dengan masuk pos-nya yang terlindung, sambil mengamati kondisi dari dalam, toh lalu lintas lancar-lancar, maka sudahlah, sekujur badan lepas dari sengatan sang surya. Tapi subhanallah, bapak yang satu ini, yang saya bilang lebih tua dari rekan-rekannya yang lain tadi, malah dengan gagahnya mendobrak keumuman tadi dengan berdiri gagah menantang matahari sambil tangannya melambai-lambai mengatur mobil-motor yang lalu lalang. Tak ada kesan menderita, kepanasan, atau wajah bosan darinya meski saya tahu itu pekerjaan harian yang saya tahu bakal membosankan bagi orang kebanyakan. Senyumnyapun selalu tetap terpelihara, menawarkan keramahan pada tiap pengendara.

Suatu kali, pas waktu ashar dalam keadaan hujan rintik-rintik, saya sempat tertegun sejenak melihat bapak ini mengenakan jas hujan kuningnya berdiri tegar menyapa tiap pengendara dengan wajah tuanya. Tidak! Ia tidak memilih duduk-duduk di bangku kayu  yang jelas-jelas beratap. Ia lebih memilih berdiri seperti biasanya untuk menjalankan aktivitasnya seperti yang sudah-sudah. Sama sekali abai dengan rintik hujan yang perlahan membasahi jas hujannya. Sama sekali tak terlihat iri, meski rekan kerjanya yang relatif berusia lebih muda, lebih memilih duduk-duduk meneduhkan diri dan menjaga keamanan hanya dengan pandangan matanya.

Dan, puncaknya, kekaguman itu justru datang di waktu subuh. Bagi saya yang sudah merasakan beratnya shift malam, apa yang saya lihat adalah ketakbiasaan yang luar biasa. Profil security di waktu subuh itu, yang saya lihat tiap harinya pas melintas di depan mereka, kalau tidak duduk sambil terkantuk-kantuk menahan beban kepalanya, ya sedang menyandarkan badan di tiang penyangga atap dengan tatapan mata layu karena ngantuk. Sesekali, saat saya mencoba menyapa mereka dengan sebuah senyuman atau anggukan kepala, balasan yang saya terima adalah senyum kecut khas seorang yang sedang tak berselera. Saya maklum, sebab sudah sunatullah seseorang bekerja di siang hari dan beristirahat di malam hari. Bukan sebaliknya. Tapi sekali lagi, subhanallah, bapak kita yang satu ini mengacak-acak keumuman tadi. Tak hanya melek waspada, ia justru tetap seperti hari-hari biasa tatkala di siang hari saya menemukannya. Ia masih berdiri, tegak, serta melambai-lambaikan tangan untuk mengatur kendaraan --yang walaupun sesubuh itu cuma satu dua—dengan antusias.  Sekali-kali saja saya lihat ia terduduk, mungkin sudah terlalu payah. Tapi tetap saja, matanya jeli menatap pengendara yang berlalu, dan tangannya tetap melambai mengiringi tiap kendaraan yang menderu.

Sekali-kali, mungkin saya perlu berhenti sebentar. Sekedar menyapa bapak kita ini, bertanya kabar, bertukar senyum, sambil mencuri-curi melontarkan pertanyaan sederhana: kekuatan macam apakah kiranya yang menggerakkan hari-harinya.  

Sunday, March 14, 2010

Dialog Dua Lelaki

Langit belum memerah benar kala dua lelaki itu berdiam diri tanpa kata. Angin rebah dan keduanya duduk bersama meski bersela. Di pelabuhan kota yang tak banyak aktivitas, dan suara ombak yang menenangkan, keduanya belum juga memulai pembicaraan. Sepuluh menit belalu sejak mereka memarkir mobil, melangkah 10 meter ke timur, lalu tanpa pikir panjang begitu saja duduk di bibir jalan beton yang menjorok ke laut. Mata-mata masih saja menerawang ke depan, tidak untuk menujui sebuah objek, hanya ingin memandang lepas tanpa perlu mata berakomodasi. Mencoba mencari ketenangan.

Mudah sekali mengenali mereka. Siapapun itu, siapapun yang tanpa sengaja memandang dua lelaki itu, akan langsung dapat menyimpulkan kalau mereka adalah dua generasi yang berurutan. Bahkan, bagi yang mau repot-repot menatap dengan lebih menyelidik, tentunya akan mampu menyimpulkan dengan pasti kalau keduanya adalah bapak dan anak. Terlalu tegas persamaan wajah keduanya. Hidung itu, dagu itu, bentuk rambut itu, dan…..tatapan itu, begitu kuat menggariskan kalau keduanya punya pertalian darah yang begitu rapat. Tak terbantahkan.

Dan, memang benar. Dua lelaki itu bernama Sam dan Bram. Sam, lelaki yang lebih tua, memang bapak dari lelaki yang lebih muda itu; Bram. Hanya, pemandangan yang tergambar itu sama sekali tak memperlihatkan kehangatan hubungan bapak anak.

“Kau ingat, kapan terakhir kali kita ke sini berdua?”, si bapak membuka percakapan. Pelan, tanpa perlu menolehkan wajah ke lawan bicaranya.

Hening. Hanya suara muda-mudi yang duduk beberapa meter disamping yang terdengar meningkahi sore. Enam puluh detik berlalu.

“Hampir sepuluh tahun yang lalu. Kau masih lima tahun kala itu”. Pada akhirnya, pertanyaan itu harus ia jawab sendiri.

Hening lagi. Menghembuskan nafas kuat-kuat, si Bapak masih saja asyik menerawang ke depan. Wajahnya masih tenang, meski itu sama sekali tak menunjukkan apa-apa yang sedang bergejolak dalam dada. Momen ini penting, kekeliruan sedikit saja akan merusak apa-apa yang bakal terbentang di depan. Cukuplah kiranya, cukuplah kemarahan istrinya beberapa jam yang lalu sebagai sebuah bentuk pernyataan ketidaksetujuan atas sikap anaknya. Tapi cukup! Cukup samapai di situ saja. Tak perlu berlarut-larut. Kemarahan tak pernah menghasilkan penyelesaian apa-apa selain bibit kemarahan yang lain. Ia sadar betul akan hal itu.

Sesungguhnya, sakit yang sama juga menghentak dadanya. Ingin juga rasanya melontarkan kata-kata keras itu, memuntahkan semuanya ke lelangit rumah, menghujani sulungnya itu dengan kata-kata sarkas yang mampu ia buat, tapi…..ah, ia bersyukur kesadaran itu lebih cepat menyusup. Seketika melumerkan batu karang yang membekap dadanya. Kemarahan itu memang sebenarnya wajar saja. Bagaimanalah, bagaimana seorang bapak tak akan marah jika mendapati laporan bahwa anaknya seminggu terakhir tak muncul di SMA-nya, padahal tiap paginya si anak rajin mencium tangannya berpamitan ke sekolah. Bagaimanalah, bagaimana seorang bapak tak akan marah, ketika sulungnya itu, anak yang benar-benar ia harapkan, ketika dikonfirmasi akan hal itu malah dengan enteng menjawab, ‘males, Pa! Ribet sekolah. Ngerjain PR, ndengerin guru-guru yang membosankan, nggak boleh ini, nggak boleh itu. Lebih enak nongkrong-nongkrong saja sama temen-temen. Hepi-hepi’.

Kemudian, ia hanya bisa menyeret anak sulungnya itu, persis setelah istrinya tak punya lagi kosakata untuk melukiskan kekecewaan atas perilaku anaknya. Mendudukkanya dalam mobil, dan ia mulai menjalankan mobil itu membelah jalanan. Sudah tak ada lagi seringaii marah dalam wajahnya, tak juga ada sorot kecewa dalam tatapan matanya. Ia sadar, inilah saat dimana kebapakannya tengah diuji.

Pelabuhan inilah tempat kemudian mereka menuju.

“Kau paling suka bila kuajak ke pelabuhan ini. Berlari-larian sepanjang jalan beton ini. Cuek meski mama papa berseru khawatir. Kau sering jahil mengerjai papa dengan berpura-pura akan terjun ke laut itu”

“Sudahlah, Pa!”

“Maafkan papa kalau kemudian papa tak punya lagi waktu untuk mengajakmu ke sini. Maafkan papa jika tak punya waktu lagi main-main bersamamu sejak saat itu. Meski kau seringkali merengek minta ditemani ke pelabuhan ini. Ah, waktupun  berjalan. Enam tahun, delapan tahun, dua belas tahun, dan kini…… kau telah lima belas tahun. Papa tahu kau sudah mulai bisa bermain ke sini sendiri dengan teman-temanmu. Tanpa papa”

“Sudahlah, Pa! Itu sudah lama berlalu”

“Tidak, anakku! Ini penting. Berjanjilah! Berjanjilah kau mau memaafkan papa!”

Bram, si anak muda itu, hanya bisa menerawang. Menikmati cericit camar. Ia sama sekali tak punya persediaan kalimat untuk momen seperti ini. Sungguh, ia jauh lebih siap untuk sebuah caci maki, untuk sebuah kata-kata kasar sekalipun, untuk sebuah panggilan ‘anak kurang ajar’, tapi…untuk sebuah ucapan permintaan maaf, untuk sebuah panggilan ‘anakku’, ia tak punya antisipasi apapun untuk itu.

“Bram yang harusnya minta maaf”, hanya kalimat itulah yang pada akhirnya keluar,”Bram sudah keterlaluan mengucapkan kalimat itu di depan mama, di depan papa”

Sam menarik napas panjang. Ada bongkah-bongkah yang mulai mencair.

Beberapa jenak kembali berlalu. Seorang bapak tua nampak berhasil mengail seekor kerapu.

“Kau lihat bangunan pabrik di kejauhan itu?”

Bram menoleh. Iya?

“Di situ, terdapat alat yang bernama Steam Turbine Generator. Bisa menghasilkan listrik bermega-mega watt. Untuk kemudian disalurkan buat menggerakkan listrik, menyalakan lampu. Sebentar lagi, saat gelap mulai menyelimuti kota, kerlap-kerlpi indah yang terlihat dari sini, itu salah satunya karena listrik yang dihasilkan generator itu. Seperti namanya, generator itu digerakkan oleh steam, oleh uap air. Dan tahukan kau, darimanakah steam ini bermula?? Dari laut ini, Anakku”

“,,,”

“Kau pasti bertanya-tanya, bagaimanakah caranya. Bukankah pelajaran di sekolah menjelaskan kalau kesadahan air laut itu tinggi, bahwa ia begitu korosif, bahwa ia akan menimbulkan kerak di tiap perlatan yang ia singgungi. Ya, fakta-fakta itu semuanya benar. Untuk itulah, sangat panjang perjalanan yang dilalui oleh air laut ini hingga ia bisa menjadi steam yang lebih bernilai itu, yang bisa menggerakkan generator itu. Air laut ini begitu berlimpah, begitu banyak. Ia menjadi sesuatu yang ‘kebanyakan’. Tapi, ketika ia telah bermetamorfosi menjadi steam, ia menjadi lebih bernilai. Ia menjadi mahal. Mahal dalam dua pengertian, denotatif maupun konotatif.

“Mula-mula air laut ini melewati fase desalinasi. Air lau ini ditawarkan. Dengan apa? Dengan banyak cara. Tapi yang lebih umum adalah dengan diuapkan, dengan dipanaskan. Uap yang diperoleh itu kemudian dikondensasikan lagi. Diembunkan. Untuk kemudian melewati tahapan selanjutnya. Tentu saja, tak semua air laut itu teruapkan. Tak semua air laut mampu melewati tahapan ini. Hanya 10 % saja yang berhasil teruapkan, yang berhasil menjadi tawar”

Langit mulai memerah. Pasangan muda-mudi semakin banyak memenuhi bibir jalan.

“Tahap selanjutnya adalah demineralisasi. Uap air yang telah terkondensasi itu memang telah tawar, tapi ia sama sekali belum memenuhi syarat untuk bisa menjadi steam bertekanan tinggi. Maka ia perlu dimurnikan lagi, didemineralisasi, dihilangkan mineralnya, hingga ia memang benar-benar air murni, benar-benar H2O. Di sana, di pabrik itu, alat yang dipakai adalah Mix Bed exchanger. Air tawar tadi melewati semacam zat yang disebut resin. Semacam disaring. Mineral-mineral akan terikat dalam resin itu, hingga air yang keluar menjadi air yang bebas mineral, meski tak sepenuhnya ‘bebas’. Setidaknya, ia telah memenuhi baku mutu yang ditentukan.

“Cukup? Tentu saja belum. Air bebas mineral tadi masih perlu dibersihkan dari polutan-polutan lain. Ia perlu dibersihkan dari oksigen terlarut dalam air tersebut. Oksigen tersebut akan sangat berbahaya untuk proses lanjutannya. Untuk itulah ia perlu ditangkap dari air. Maka ditambahkanlah zat kimia untuk menangkap oksigen itu”

“Apakah papa sedang berbicara tentang perjuangan hidup, tentang tahapan-tahapan ‘menyakitkan’ yang mesti kita lalui untuk menjadi seorang pemenang?”

“Papa berbicara tentang air laut. Terserah bila kau menafsirkan seperti itu. Kau tahu, disanalah papa mengahbiskan hari-hari, disanalah Papa bergelut dengan pekerjaan’

Hening…. Enam puluh detik kembali berlalu lambat.

“Baiklah, ijinkan papa melanjutkannya… “, menarik napas panjang, “Tahap terkahir adalah penguapan. Air itu diubah menjadi steam. Inilah saat yang paling menyakitkan itu, inilah saat yang paling kritis itu. Sebab ini adalah fase perubahan, fase cair menjadi fase gas. Di sebuah sistem perlatan yang disebut boiler, air ini dipanaskan dengan suhu tinggi, dengan tekanan yang tinggi pula. Keteledoran sedikit, kesalahan sedikit, bisa menyebabkan boiler ini meledak. Dan itu artinya bencana.

“Tapi, anakku, dengan prosedur yang benar, dengan langkah-langkah yang tepat, air tadi akan keluar dari boiler ini dalam bentuk steam yang berenergi tinggi, yang akan mampu menggerakkan steam turbine generator tadi. Sekarang, coba kau lihat karyanya. Bukankah kerlip lampu itu begitu indah dipandang. Bukankah kerlip lampu itu begitu semarak mencahyai.”

Suara adzan Maghrib terdengar dari masjid. Satu dua muda-mudi mulai meninggalkan pelabuhan. Melangkah gontai menelusuri jalan beton.

Si Bapak, sudah akan bangkit dari duduknya, kala tangannya terhalangi oleh sebuah pegangan. Ia menoleh.

“Besok bram akan masuk sekolah. Tapi bukan untuk Papa.”

Si Bapak meneruskan bangkit.

Friday, February 6, 2009

Reuni Delapan Negeri

Tulisan lama. Dibuat beberapa bulan yang lalu. Di sekitaran maghrib, saat berita tentang kelulusan diterima. Saat ancaman ketidaklulusan itu sirna jua. Tapi di lain pihak, juga saat ancaman ketidaklulusan buat dua orang teman akhirnya benar menjadi nyata.
*********************

Malam temaram. Angin punah.Masih!!  Ia  masih saja berjalan. Pelan, teramat berat menyeret langkah. Melewati jalan setapak. Sepi, hanya bunyi jangkrik meningkahi kelam..

Menuju sebuah pertemuan.

Empat tahun yang telah tergelar. Pengajaran-pengajaran. Konsep. Tindakan. Kerja keras. Hasil.

Tak ada hujan, tapi ada yang memercik runtuh. Bukan embun, bukan pula air mata. Karena itu, telah kering dalam malam panjang penghambaan.

Ada yang merembes. Lambat mengalir.....mengurai cita. Deras menerjang.....memburai barisan jiwa. (ah haruskah pertahanan itu goyah?)

Aha, tidak! Ia masih melangkah. Teguh. Berniat menghadapi ini semua. Pertemuan ini harus terlaksana. Harus.  Ia harus hadir. Dengan wajahnya sendiri. Dengan senyum teduh yang dulu. Masih sama. Ini tak akan mengubah apapun. Janji empat tahun lalu itu harus terlaksana.

Tanah lapang itu semakin jelas terlihat. Di depan. Sepelemparan batu. Sementara malam beranjak menua.

Maka ia pun tiba. Beberapa orang sudah datang. Mengambil posisinya masing-masing. Beberapa tertunduk, beberapa tegap menantang malam. Beraneka rupa. Tapi kesemuanya tak berani saling menatap. Tak ada bayangan yang tertangkap oleh retina mata . Menerawang. Hmmm.... inilah aturannya.

Malam ini malam besar. Malam inilah yang digagas empat tahun lalu. Dalam sebuah seremonial kecil. Di tempat ini juga. Dalam malam seperti ini juga. Sebelum pada akhirnya semuanya melangkah. Ke delapan penjuru mata angin. Dengan dada membusung, kedelapan pemuda itu siap menjalankan misi masing-masing. Mengukir sejarah. Berharap empat tahun kemudian ada berita besar yang akan diceritakan.

Suara beduk menggema. Delapan kali. Inilah tanda mula semuanya. (tadi ia begitu tegar, sepanjang perjalanan tadi ia sudah membulatkan tekat. Tapi lihatlah, demi mendengar beduk tadi, demi mengetahui bahwa itu akan segera dimulai, ia tertunduk dalam. Gentar. Menyeka keringat dingin yang tiba-tiba menderas. Ah, apakah yang harus ia katakan nanti).

Seseorang maju. Bertubuh gemuk. Berat menyeret langkah. Tapi pandangannya pasti. Tajam. Memulai berkata, ”empat tahun yang meyenangkan. Penuh perjuangan. Teman-teman yang hebat”. Tersenyum. Menghela nafas, ”Ah berat sebenarnya mengakhirinya. Aku cinta dunia ini. Tapi.....siapakah gerangan yang tak ingin menyelesaikan sebuah tahap dan melanjutkan tahap baru. Maka begitu pula aku kawan! Empat tahun itu telah terselesaikan, tapi bukan akhir dari perjalanan. Aku akan meneruskannya. Bukan di sini, atau di negeri tetangga. Tapi di negeri jauh. Jauh”.
Semua (atau mungkin kebanyakan) menarik napas lega. Tapi tak ada reaksi. Tak ada yang menimpali. Tanpa ucapan-ucapan. Karena begitu jugalah aturannya. Sebelum semuanya tersampaikan.

(sementara yang tidak diketahui, seraut wajah tetunduk menatap bumi)

Orang kedua maju. Bertubuh kerempeng. Kontras dengan orang pertama. Ringan melangkah. Mantap. Mengedarkan senyum. Ini sudah menjadi ciri khasnya. “Alhamdulillah semuanya baik-baik saja. Empat tahun yang sangat luar biasa. Ah, mungkin ada sedikit ganjalan di akhir empat tahun itu. Sedikit. Tapi...pada akhirnya toh semuanya baik-baik saja. Teramat baik. Bukankah kita harus menapaki tanjakan, sebelum merasakan indahnya turunan. Tanpa ayunan”. Berhenti. Kembali mengedarkan senyum kocaknya, “Sebentar lagi aku akan pergi kawan. Memainkan peran baru. Tapi jangan khawatir! Aku akan datang ke sini empat tahun lagi. Menceritakan karya besarku. Tawaran ini mungkin tak terlalu memikat bagi sebagian orang. Remeh-temeh. Tapi tidak bagiku, separuh mimpiku sudah tertancap di sana. Aku melihat masa depan di sana”.

Kedelapan wajah menahan senyum. Geli.Mungkin pikiran semuanya sama-sama bersenandung: sejak kapan ia bisa merangkai kata seperti itu?.
Orang ketiga maju. Orang keempat. Disusul orang kelima. Lalu orang keenam. Ragu-ragu maju. Selalu begini. Memandang lurus. Mengitari lingkaran itu dengan matanya. Menatap satu persatu wajah. Mengambil napas. Dalam. ”entah dengan apa harus merangkum empat tahun ini. Terlalu beraneka. Betapa saya bersyukur dipertemukan dengan semua itu. Keadaan empat tahun ini. Memainkan berbagai peran. Mencerna makna. Memetik hikmah. Uigh, hebat sekali. Di setiap jengkal perjalanannya selalu memberikan pelajaran. Bahkan hingga di ujung itu....cobaan datang. Teramat berat mulanya, entah bagaimana harus menahannya. Sakit. Berbagai bayangan sudah muncul. Bayangan buruk. Tapi, pada akhirnya hal ngeri itupun tak terjadi. Sayapun bisa menyelesaikannya.”.

Kembali hening. Giliran orang ketujuh. Tapi belum ada tanda-tanda bakal ada yang maju. Lima menit berlalu. Semuanya berharap cemas. Sibuk bertanya dalam hatinya masing-masing : ada apakah gerangan?

Lalu kaki itupun pada akhirnya melangkah. Pelan. Persis di tengah lingkaran berhenti. Masih menunduk. Beberapa jenak. Lalu menatap bintang. Mendongak. Hingga kembali menatap lurus. Memulai menyampaikan berita berat ini, ”Maaf kawan.”. kembali menunduk,”maaf, aku gagal. Aku nggak berhasil menyelesaikannya. Sekarang. Aku gagal. Aku tak berhasil memungkasi kepercayaan yang kalian berikan”.

”TIDAK!!”. Seseorang memotong. Melanggar aturan itu. Sesorang mesti terselamatkan.”Tak boleh dari kita yang merasa gagal. Begitupun tak boleh ada yang merasa lebih berhasil dari yang lain. Bagaimanapun juga empat tahun ini adalah karya kita, perjuangan kita, tetes keringat kita. Biarlah yang paling berhak menilai yang bakal menilainya. Biarlah!! Kita sudah memberi apa yang terbaik yang kita punya”.

”Tapi......”. Masih saja dengan menunduk. ”Ah, teramat mudah memang sekedar mengatakannya. Amat mudah. Bagaimanakah jika kalian di posisiku. Merasakan apa yang aku rasakan”.

”Saya pernah merasakannya!”. Seorang lagi menyahut. Pemuda yang maju urutan keenam tadi. Memandang tajam.”Saya pernah berada di posisi antum. Sempat pernah merasakan bagaimana menyakitkannya itu. Betapa ngilunya kenyataan itu. Tapi, bukankah antum sendiri yang dulu pernah berucap ’ Allah tahu yang terbaik bagi kita. Pasti ada rahasia dibalik skenarionya. Kadang kita harus mengalah dengan kondisi yang memberatkan kita karena Allah hendak memberikan sesuatu yang lebih’. Masih ingatkah antum?”.

Masih menunduk. Hening. Dua menit berlalu tanpa kata-kata. Hingga, ”Ternyata aku tak sekuat itu akh...”

”Tidak. Antum kuat. Saya tahu benar kapasitas jiwa antum. Jiwa antum seluas telaga, bukan segelas air. Lalu apalah artinya sejumput garam itu. Itu tak memberi arti apa-apa.”

Sejumput garam? Segelas air? Telaga? . Ah, perumpamaan itu, betapa sudah teramat sering ia dengar, ia baca. Dan bahkan —ironisnya-- , ia sampaikan.
tiga puluh detik berlalu dengan hening. Hingga pada akhirnya lelaki di tengah lingkaran itu mendongak. Menatap lekat wajah temannya itu.

“Tetaplah hidup akh! Bukankah tak bisa menyelesaikan sekarang bukan berarti antum tak akan bisa menyelesaikannya. Masih ada waktu. Bukankah itu artinya antum diberi kesempatan untuk memperdalam segalanya. Bukankah itu juga bisa berarti antum memang belum siap, atau belum tepat untuk beralih ke tahap selanjutnya. Bukankah itupun juga bisa berarti antum masih teramat dibutuhkan dalam tahapan yang antum jalani sekarang ini. Dan, bukankah antum juga yang dulu bilang: ’jika kau diberi waktu tujuh jam untuk menebang pohon, gunakanlah enam jam untuk mengasah kapak!’. Mungkin kapak antum belum begitu tajam, dan mungkin kapak antum masih terlalu mudah berkarat terdera hujan”.

Kali ini wajah itu mengeras. Menatap tajam ketujuh wajah. Ah, jika kau bisa melihat wajah itu, kau akan menangkap sebuah tekat. Optimisme. Wajah yang kini bahkan lebih bersinar. Semuanyapun tersenyum.

Tapi hei! Tidak. Tidak semuanya tersenyum. Ada satu orang yang sejak tadi terdiam. Tapi tak menunduk. Orang kedelapan. Ia melangkah tegap. Bergerak ke tengah. ”Maaf kawan, ane juga belum bisa menyelesaikannya. Tapi itu bukanlah masalah besar kan? Beberapa bulan lagi, ya beberapa bulan lagi...semuanya kan tak tertahankan. Ledakannya kan maha dasyat. Tak ada besaran yang akan sanggup mencatat daya ledaknya. InsyaAllah. InsyaAllah, dengan do’a antum semua.”

”ALLAHUAKBAR!!!”. Entahlah, siapa yang memekik lebih dulu. Tapi yang pasti, seketika lengkingan takbirpun bergema bersahutan. Membentur pepohonan. Tertabrak ngarai. Memecah sepi. Seluruh alam semesta pun bertasbih.

(Kedelapan oraang itupun berpelukan. Melepaskan rindu. Saling mentransfer energi jiwa. Esok, di tempat ini juga, seperti malam ini juga, mereka harus berkumpul lagi. Mengutarakan janji : pertemuan empat tahun lagi)