Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Friday, May 20, 2011

berita-berita kematian

Marilah sejenak kita merenung, ada berapa banyak kiranya, berita-berita kematian lalu lalang di hadapan kita. Memberi variasi dalam gegap gempita informasi yang begitu deras menyergap hari-hari kita. Baik itu kematian orang-orang yang kita kenal—keluarga, teman, rekan kerja, atau bahkan orang-orang yang sama sekali tak kita kenal. Entah melalui sms, pengumuman-pengumuman, berita tv, atau pembicaraan orang-orang. Agaknya, jawaban untuk itu adalah ini; amat banyak.

Seperti juga jawaban itu, berita kematian itu juga teramat sering menyapa saya. Sistem paging via pengeras suara di tempat saya kerja memungkinkan untuk tiap ada karyawan yang meninggal, atau orang tua nya, untuk di informasukan ke semua unit kerja, pabrik dan non pabrik. Menyela setiap aktivitas untuk sekejap terhenti. Bahkan meeting sekalipun.

Namun kemudian, pertanyaannya lagi, dari sekian banyak berita-berita kematian itu, berapa banyak sih yang benar-benar membangunkan kesadaran kita. Membuat kita tertunduk dalam, benar-benar ternasehati, untuk kemudian memikirkan banyak hal. Bukan hanya ucapan spontan ‘inna lillahi wainna ilayhi roji’un’ yang boleh jadi tak meresap sama sekali esensinya. Kalau saya boleh sok tahu, barangkali jawaban untuk itu adalah tak banyak, atau bahkan amat sedikit.

Saya pun, seperti halnya jawaban itu, mungkin juga begitu. Berita-berita kematian itu lebih banyak lalu lalang saja. Tak ada bedanya. Tak ada spesial-spesialnya. Hilang begitu saja, tak membekas.

Entahlah, mungkin hati ini yang telah membatu, yang begitu bebalnya hingga mengabaikan begitu saja paket-paket nasehat yang secara periodik disiapkan Allah. Tak merasa perlu menjengkali diri. Tak merasa penting menafakuri keadaan. Berita-berita itu datang, untuk kemudian berlalu tanpa makna.

Padahal kematian adalah sebenar-benar nasehat. Jika itu tak mampu lagi menasehati kita, apa lagi yang kita harapkan mampu mengetuk nurani kita. Jika sebuah kepastian yang harusnya menyadarkan kita atas tujuan hidup kita, tak lagi memberi dampak atas kehidupan kita, apalagi yang lain. Bukankah tak benar-benar hidup, orang yang tak mengingat mati.

Astaghfirullah.

o0o

Ah, tulisan ini mungkin harus membelok. Tentang kematian Nurul F Huda lah awalnya saya menuliskan ini. Tentang sedikit orang yang kematiannya membuat saya tertunduk, merangkai kejadian-kejadian, untuk kemudian ternasehati. Tentang sedikit orang-orang yang kematiannya, tak hanya hidupnya, mampu memberi kebaikan pada sesamanya.

Tapi mungkin ini lah jalannya. Lepas kata ‘astaghfirullah’ sempurna terketik, ketika saya masih merangkai-kata lanjutan untuk membuka paragraph lanjutannya, sebuah sms masuk. Mungkin balasan atas sms yang beberapa menit sebelumnya yang saya kirimkan, pikir saya. Dan benar, dari orang yang baru saja saya kirimi sms. Tapi ternyata tidak, isinya bukan tanggapan atas sms yang saya kirimkan. Sama sekali tak ada sangkut pautnya. Isinya tentang , sekali lagi, berita kematian. Kali ini berita tentang kematian seorang mujahidah dakwah kita, seorang yang kiprahnya begitu menginspirasi banyak orang, seorang ibu yang luar biasa bagi ketiga belas anaknya, ustadzah Yoyoh Yusroh. Maka heninglah seketika.

Allah sekali lagi memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan . Bahwa, jika kau ingin kematianmu menghunjam begitu dalam, membuat orang-orang di sekitarmu tertunduk dalam memuhasabai diri, bukan hanya air mata yang meleleh menuruni pipi, yang perlu kau lakukan adalah memperbaiki hidupmu. Itu saja. Jika kau telah meninggalkan jejak kebaikan pada orang-orang, maka kabar kematianmu akan menghasilkan jenak-jenak untuk orang itu terhenti. Untuk kemudian mengingat kebaikan-kebaikan itu. Merangkainya. Dan hanya tinggal menunggu waktu saja lah mereka melihat dirinya sendiri. Tentang apa yang sudah mereka perbuat.

Dan kaidah itu juga berlaku kebalikannya. Jika ada sebuah kematian begitu dalam membekas di hati orang-orang, maka sudah jelaslah bagaimana si jenazah di masa hidupnya. Pasti, kebaikanlah mengisi hari-harinya. Maka tentang ustadzah Yoyoh Yusroh ini, sms-sms yang begitu ringan disebar, status-status dalam yang seketika dibuat, atau tulisan-tulisan menghunjam yang diketik, tergambarlah sudah bagaimana sosoknya. Ia orang baik, ia orang baik, ia orang baik.

Dari Umar (bin Khaththab) ra, katanya Rasulullah Saw bersabda : ”Seorang muslim yang disaksikan oleh empat orang bahwa ia baik, maka orang itu dimasukkan Allah ke surga.”
Kami bertanya,”Bagaimana kalau tiga orang?”
Jawab Nabi, ” Ya, tiga orang juga.”
Tanya kami lagi, ”Kalau dua?”
Jawab Nabi, ”Ya, dua juga.”
Sesudah itu kami tidak menanyakan lagi tentang seorang.”



Friday, January 7, 2011

denial-anger-bargaining-depression-acceptance

Kakakku yang pertama mengatakannya. Dulu.

“sudah! Diikhlaskan saja. Kalo terpaksa jadi tak enak”

Ini tentang masa kecil. Sebagai anak bungsu, saya lah yang sering kali jadi objek. Objek yang disuruh-suruh. Untuk hal yang remeh temeh memang. Yang tak perlu skill khusus, yang tak perlu tenaga ekstra, namun butuh sebuah hal yang jauh lebih berat; kelegowoan hati. Keikhlasan.

Orderan yang sering kali menyapa adalah masalah beli-membeli. “Bal, belikan garam gih!”, atau “minyak tanahnya habis, tolong belikan ke....”, atau “belikan garam ke..” adalah kalimat permintaan yang sering tertujukan padaku. Kau pasti tahu siapa yang menyeruh hal tersebut dengan membaca redaksionalnya. Ya, ibu –atau saya biasa memanggilnya emak. Maka, kau pasti paham, tak boleh ada penolakan untuk permintaan seorang ibu, kan? Dalam keadaan berat atau lapang, dalam keadaan sempit atau sesak, dalam keadaan luang atau bermain.

Begitu pun saya kala itu. Kalau tak dalam keadaan ngambek sengambek-ngambeknya, meski berat, tetap saja permintaan itu harus dilaksanakan. Meski harus bersungut-sungut melangkahkan kaki. Kadang memang tetap saja terasa berat, meskipun ada kalimat ikutan dalam permintaan ibu itu; “kembaliannya diambil saja”. Padahal, warung tempat membeli keperluan harian itu dekat saja, tak lebih dari dua kali panjang lapangan bola. Kadang berjalan kaki, kadang bahkan bisa sambil bersepeda.

Intinya memang ada pada penerimaan, pada keikhlasan, pada kelegowoan. Tak ada rasa itu lah yang menyebabkan pekerjaan membeli keperluan harian tersebut menjadi berat. Menjadi seolah sebegitu menggangunya. Padahal nyatanya tidak. Perlu waktu yang sebentar saja sebenarnya untuk menyelesaikan tugas mulia itu—maka tak akan banyak memangkas waktu main. Tak perlu tenaga banyak juga untuk menyukseskan misi agung itu –maka tak ada keletihan yang harus ditanggung di akhirnya. Jika dibuat ringan, seolah permainan, pastinya bakal menyenangkan. Bukankah, untuk keperluan pribadi, saya sering berjalan kaki berkali lipat untuk membeli sesuatu. Dan itu ringan-ringan saja.

Maka poin itulah yang diungkapkan kakakku tadi di petikan teratas. Ya, suka tak suka, ingin ataupun tak ingin, saya toh mesti melakukan permintaan ibu itu. Maka logikanya, jika memang begitu, harusnya ya dibuat ringan saja. Bersungut-sungut karena tak ikhlas toh tetap harus melangkahkan kaki, maka pilihan cerdasnya pastinya satu; tersenyum-senyum saja memulai aksi sambil menenteng botol minyak tanah oleh sebab ikhlas. Karena, tak ada opsi untuk menolak.

Namun ternyata, itulah sulitnya. Kita sering kali terbawa perasaan ketimbang logika. Padahal, dalam kalkulasi apapun, berangkat sambil tersenyum riang pastinya lebih menguntungkan daripada melangkah sambil bersungut-sungut. Toh hasilnya akan sama saja. Kita akan menempuh jarak yang sama, akan menghabiskan waktu yang kurang lebih sama, juga akan memperoleh kembalian yang sama pula. Tersenyum, lebih baik dari pada ngedumel.

Ego. Mungkin itulah. Menunjukkan ketaksukaan kita melakukan itu agar di lain waktu tak disuruh-suruh lagi? Ha ha..boleh jadi juga itu. Tapi semoga saja tidak. Toh, beberapa menit setelah misi membeli kebutuhan domestik itu terjalankan, sama sekali tak ada gurat terlipat yang tersisa dari ngedumel sewaktu melangkahkan tadi. Sempurna hilang dan terlupa. Ah, kanak-kanak.

Itu adalah cerita berhikmah di masa lalu. Tapi, ternyata, pelajaran serupa harus saya terima lagi sore itu. Mungkin yang dulu-dulu belum lulus benar. Atau mungkin ini adalah edisi pengayaan, seperti dalam pelajaran matematika jaman sekolah dulu.

Kejadiannya ada di bandung. Tiga perempat jam sebelum keberangkatan ke Jakarta. Ceritanya kurang lebih begini. Hari kamis kala itu, sehari sebelum keberangkatan, kudatangi pool travel itu untuk memesan satu tempat. Setelah bertanya-tanya tentang berbagai jurusannya, maka dipilihlah yang akan turun di daerah cikini dengan keberangkatan jam empat. Malam itu, si petugas memperlihatkan denah tempat duduk di mobil Elf itu untuk saya pilih. Saya memilih nomor 5 ketimbang nomor delapan yang berada di belakang. “mbayarnya besok saja saat mau berangkat”, demikian kata mbak petuga travel itu. Beberapa jenak kemudian sms pemberitahuan tentang pembookingan pun saya terima. Bila kalian masih ingat, travel ini adalah travel yang mengecewakan saya di saat keberangkatan Jakarta-bandung. Saya tulis di sini.

Ternyata, dua teman saya yang lain pun , memesan juga untuk pemberangkatan dan tujuan yang sama. Jadilah kita berangkat bersama.

Dan kejadiannya ada di jumat sorenya. Saat kita sudah berat-berat menyeret kopor yang berat, saat kita sudah tiga perempat jam menuju ke keberangkatan, saat kita sudah di depan loket, fakta itu tersaji. Mulanya saya tak tahu apa-apa. Mbak petugas melayani pembayaran saya seperti biasa. Tujuh puluh ribu per orang. Tarif normal. Yang beda, di bukti pembayaran, tempat duduksaya berganti menjadi nomor tujuh. Tapi tak masalah, tak ada yang perlu diributkan. Sama saja.

Keanehan justru terjadi pada teman saya yang ngantri di loket sebelah. Tarifnya Cuma enam puluh ribu per orang. Lebih murah sepuluh ribu ketimbang saya. Dan, betapa kagetnya teman saya itu, kala menyadari, kendaraan yang bakal digunakan adalah bus, bukan ELF yang hanya berisi maksimal delapan orang. Bergegas kemudian ia mengonfirmasikan ke petugas loket.

“iya, mas. Yang ke Cikini jam empat pakai bus” demikian kata mbak petugas.
“lo, teman saya ini kok bisa?” sahut teman saya sambil mengambil bukti pembayaran dari tangan saya. Di situ, memang tak ada keterangan sama sekali kalau bakal naik bus. Harganya pun normal.

Mbak petugas mengambil bukti pembayaran dari uluran tangan teman itu. Mengamati sejenak. “iya,mas. Ini juga pakai bus”, lalu lanjutnya. “nggak kamu kasih tahu kah?” kali ini ia menoleh ke petugas yang melayani saya.

Kontan saya kembali menuju ke petugas yang melayani saya tadi.Dan benar, ia mengulurkan sepuluh ribu lagi sebagai kembalian buat saya yang tadi cuma tiga puluh ribu.

“iya, mas. Naik bus” demikian katanya mengulangi temannya.Saya mencari-cari kata maaf meluncur darinya, tapi tak ketemu juga.

“La, kemarin saya wong pakai disuruh milih tempat duduk yang Elf segala”
“nomor lima ya? Iya, tapi ganti naik bus”

Hanya sampai di situ. Saya sudah kehilangan selera untuk menanggapi lebih. Tentang mengapa tadi ia diam saja dan sama sekali tak menjelaskan tentang berubahnya kendaraan menjadi bus. Tentang mengapa ia melayani saya dengan pembayaran normal seperti biasa. Tentang mengapa tak ada pemberitahuan sebelumnya. Tentang mengapa perusahaan travel sebesar ini masih saja melakukan kesalahan-kesalahan sepele tapi fatal seperti ini. Tentang, ah, apakah ia mengerti sebuah kalimat marketing yang begitu terkenal; “menurut survey, ketika seorang konsumen merasa puas dengan sebuah bentuk pelayanan atau barang maka dia akan mengatakan kepada 10 orang. Sedangkan jika orang tidak menyukai sebuah bentuk pelayanan atau barang maka dia akan mengatakannya kepada 20 orang.”

Tapi tak ada yang bisa dilakukan. Pemberangkatan dengan menggunakan Elf ke daerah Cikini, baru jam lima sore. Itu artinya satu setengah jam lagi. Mau mencari travel lain pun sudah terlambat. Maka saat itu, ketika teman saya berbicara tentang ketaknyamanan naik bus dibandingkan naik travel , saya lebih banyak terdiam saja. Bukan karena menerimanya seketika. Bukan. Hanya sedang berdialog dengan diri sendiri. Ah, ini adalah pelajaran masa kecil itu, ini adalah pelajaran hidup sederhana yang bahkan sudah saya peroleh ketika memakai seragam merah putih. Ini adalah edisi pengayaan, bukan mengulang layaknya dulu mendapat nilai D. Maka harus berbeda penyikapannya.

Yang bisa dilakukan hanyalah menata hati. Mencoba menerimanya. Karena, menerima atau menolaknya dalam hati sambil menggerutu, tetaplah saya pada akhirnya harus naik bus itu. Itu adalah pilihan yang paling realistis. Suka atau tak suka. Menggerutu atau tersenyum. Sama saja. Maka pilhan terbaiknya adalah menerimanya untuk menciptakan kenyamanan hati.

Ini, juga masalah ekpektasi ternyata. Saat kau menyiapkan hati untuk naik Elf yang lebih nyaman tempat duduknya, maka kau kecewa saat yang kau dapati adalah bus yang biasa saja. Beda halnya jika kau menyiapkan diri untuk naik kopaja-nya jakarta, kau tentu saja akan tersenyum-senyum kala yang didapati justru bus ber-AC dengan tempat duduk yang sedikit bisa diturunkan ke belakang untuk bersandar.

Akhirnya edisi itupun berlalu. Biasa-biasa saja. Tak ada yang perlu dirisaukan. Nyampai juga di Cikini meski agak sediit terlambat oleh sebab macet. Di tol pun ternyata memang macet.


Wednesday, December 8, 2010

----pahlawan di tiap masanya----

“Dulu kuliah nggak bisa beli makan enak karena nggak punya uang. Sekarang sudah kerja nggak bisa makan enak karena kolesterol”

Meski dengan sedikit candaan, beberapa kali saya menemukan kalimat ini terlontarkan. Sebagai joke atau bumbu penyegar pertemuan. Kemudian tertawa, kemudian seloroh. Tapi saya tahu, ada keseriusan dalam kata-katanya. Kala suatu hal yang dulu menjadi kesulitan telah teratasi, lalu ternyata muncul kesulitan yang dulu sebenarnya tak berarti, itu sungguh menggemaskan.

Tiap masa ada tantangannya

Lalu saya menemukan kalimat itu. Ini seperti halnya mahasiswa baru yang merasakan beratnya pengaderan, lalu berandai-andai tentang indahnya perkuliahan kala lepas dari kegiatan pepeloncoan. Maka, ketika masa itu telah datang, ia tersadarkan bahwa masa itu tak semudah dugaan awal. Ada praktikum-praktikum yang begitu menguras perhatian. Sama-sama merepotkan. Maka lihatlah perandaiannya yang berubah, “semoga cepat mencapai tingkat akhir, hingga lepas dari kegiatan praktikum yang begitu merepotkan”. Lalu….aih, masa tingkat akhir ternyata dipenuhi oleh  tanggung jawab lain   yang tak kalah ‘menggairahkan’. “semoga cepat lulus!”, demikian harapnya berubah, “agar bisa lepas dari kewajiban mengerjakan tugas akhir”. Dan kesudahannya pun dapat ditebak dengan mudahnya. Lulus kuliah ada tanggung jawab lain, bekerja pun juga. “menikahnya kapan?”, begitu yang sering terntanyakan. “kapan punya momongan?”, pertanyaan lain di fase lanjutan.

Tapi tiap masa ada pahlawan-pahlawannya

Ya, inilah kalimat optimisnya. Karena tiap masa punya tantangannya sendiri, maka ia pun memiliki penyelesaiannya sendiri. Maka ia pun punya pahlawannya sendiri. Yang boleh jadi tetap kita. Yang boleh jadi tetap kau, aku, atau mereka. Sebab satu penyelesaian kerap kali terspesifik untuk satu tantangan. Tantangan, adalah kata optimis untuk masalah.

Maka tak elok lah untuk saling mempertentangkannya

Aha! Ini lah itu. Karena tabiatnya memang begitu, karena setiap masa punya tantangannya sendiri, beserta penyelesaiannya sendiri, maka tak seharusnya dipertentangkan di antaranya. Masing-masing punya tantangan yang spesifik maka masing-masing memiliki penyelesaian spesifik. Tak melulu sama. Karena, saat kita mendapatkan penyelesaian atas tantangan kita, sesungguhnya kita sudah melangkah memasuki masa baru. Dan itu artinya ada tantangan baru , dan itu artinya harus ada penyelesaian baru. Kepahlawanan kita di masa sebelumnya, tak lagi cukup menyelesaikan tantangan di masa berikut. Perlu ada kepahlawanan baru.

Maka mari kita tengok kembali petikan kalimat di awal tulisan ini. Dan tersenyum lah kita. Jika aturannya harus menyesuaikan logika si pelontar kalimat, maka begitu sederhananya semuanya. Dan hidup, tentu saja menjadi tak adil. Sebab seseorang yang menemukan satu penyelesaian akan dengan mudah mengatasi tantangan lain hanya dengan bersenjata satu penyelesaian itu. Seperti seseorang yang sudah bekerja mapan menganggap semuanya menjadi mudah sebab masa kuliah faktor finansial lah yang kerap menantangnya. Tak bisa! Tak mungkin!

Kenyataan ini, sekaligus meniadakan pernyataan ‘masa SMA lebih menyenangkan dibanding masa kuliah’ atau ‘masa lajang lebih enak dibandingkan masa tak lajang’. Sebab itu tadi, tiap masa punya tantangannya sendiri. Yang tak pas lah untuk satu masa dilebihmudahkan dibanding yang lainnya. Semuanya punya proporsi tersendiri sesuai masanya.

Sebab telinga kita lah yang paling dekat dengan mulut kita, maka saat kita memberi nasehat, kita lah yang sebenarnya yang paling mula ternasehati

Dan pada akhirnya itu. Pada akhirnya semua ini tentang diri sendiri. Tentang membaca. Duhai, masa kuliah dulu, kala waktu membaca lebih banyak dan justru buku-buku yang terpunyai hanya beberapa, kepahlawanannya adalah mengurangi jatah makan untuk disisihkan membeli buku. Dan sekarang, kala ada penghasilan untuk membeli  buku, tapi ketersediaan waktu tak seperti semula, maka kepahlawanannya pasti beda. Pasti beda. Dan itu, boleh jadi dengan mengurangi jatah leyeh-leyeh, atau jatah tidur, atau jatah berdiam diri tanpa melakukan apa.

Selalu ada waktu untuk berbenah.

 

----pahlawan di tiap masanya----

“Dulu kuliah nggak bisa beli makan enak karena nggak punya uang. Sekarang sudah kerja nggak bisa makan enak karena kolesterol”

Meski dengan sedikit candaan, beberapa kali saya menemukan kalimat ini terlontarkan. Sebagai joke atau bumbu penyegar pertemuan. Kemudian tertawa, kemudian seloroh. Tapi saya tahu, ada keseriusan dalam kata-katanya. Kala suatu hal yang dulu menjadi kesulitan telah teratasi, lalu ternyata muncul kesulitan yang dulu sebenarnya tak berarti, itu sungguh menggemaskan.

Tiap masa ada tantangannya

Lalu saya menemukan kalimat itu. Ini seperti halnya mahasiswa baru yang merasakan beratnya pengaderan, lalu berandai-andai tentang indahnya perkuliahan kala lepas dari kegiatan pepeloncoan. Maka, ketika masa itu telah datang, ia tersadarkan bahwa masa itu tak semudah dugaan awal. Ada praktikum-praktikum yang begitu menguras perhatian. Sama-sama merepotkan. Maka lihatlah perandaiannya yang berubah, “semoga cepat mencapai tingkat akhir, hingga lepas dari kegiatan praktikum yang begitu merepotkan”. Lalu….aih, masa tingkat akhir ternyata dipenuhi oleh  tanggung jawab lain   yang tak kalah ‘menggairahkan’. “semoga cepat lulus!”, demikian harapnya berubah, “agar bisa lepas dari kewajiban mengerjakan tugas akhir”. Dan kesudahannya pun dapat ditebak dengan mudahnya. Lulus kuliah ada tanggung jawab lain, bekerja pun juga. “menikahnya kapan?”, begitu yang sering terntanyakan. “kapan punya momongan?”, pertanyaan lain di fase lanjutan.

Tapi tiap masa ada pahlawan-pahlawannya

Ya, inilah kalimat optimisnya. Karena tiap masa punya tantangannya sendiri, maka ia pun memiliki penyelesaiannya sendiri. Maka ia pun punya pahlawannya sendiri. Yang boleh jadi tetap kita. Yang boleh jadi tetap kau, aku, atau mereka. Sebab satu penyelesaian kerap kali terspesifik untuk satu tantangan. Tantangan, adalah kata optimis untuk masalah.

Maka tak elok lah untuk saling mempertentangkannya

Aha! Ini lah itu. Karena tabiatnya memang begitu, karena setiap masa punya tantangannya sendiri, beserta penyelesaiannya sendiri, maka tak seharusnya dipertentangkan di antaranya. Masing-masing punya tantangan yang spesifik maka masing-masing memiliki penyelesaian spesifik. Tak melulu sama. Karena, saat kita mendapatkan penyelesaian atas tantangan kita, sesungguhnya kita sudah melangkah memasuki masa baru. Dan itu artinya ada tantangan baru , dan itu artinya harus ada penyelesaian baru. Kepahlawanan kita di masa sebelumnya, tak lagi cukup menyelesaikan tantangan di masa berikut. Perlu ada kepahlawanan baru.

Maka mari kita tengok kembali petikan kalimat di awal tulisan ini. Dan tersenyum lah kita. Jika aturannya harus menyesuaikan logika si pelontar kalimat, maka begitu sederhananya semuanya. Dan hidup, tentu saja menjadi tak adil. Sebab seseorang yang menemukan satu penyelesaian akan dengan mudah mengatasi tantangan lain hanya dengan bersenjata satu penyelesaian itu. Seperti seseorang yang sudah bekerja mapan menganggap semuanya menjadi mudah sebab masa kuliah faktor finansial lah yang kerap menantangnya. Tak bisa! Tak mungkin!

Kenyataan ini, sekaligus meniadakan pernyataan ‘masa SMA lebih menyenangkan dibanding masa kuliah’ atau ‘masa lajang lebih enak dibandingkan masa tak lajang’. Sebab itu tadi, tiap masa punya tantangannya sendiri. Yang tak pas lah untuk satu masa dilebihmudahkan dibanding yang lainnya. Semuanya punya proporsi tersendiri sesuai masanya.

Sebab telinga kita lah yang paling dekat dengan mulut kita, maka saat kita memberi nasehat, kita lah yang sebenarnya yang paling mula ternasehati

Dan pada akhirnya itu. Pada akhirnya semua ini tentang diri sendiri. Tentang membaca. Duhai, masa kuliah dulu, kala waktu membaca lebih banyak dan justru buku-buku yang terpunyai hanya beberapa, kepahlawanannya adalah mengurangi jatah makan untuk disisihkan membeli buku. Dan sekarang, kala ada penghasilan untuk membeli  buku, tapi ketersediaan waktu tak seperti semula, maka kepahlawanannya pasti beda. Pasti beda. Dan itu, boleh jadi dengan mengurangi jatah leyeh-leyeh, atau jatah tidur, atau jatah berdiam diri tanpa melakukan apa.

Selalu ada waktu untuk berbenah.

 

Saturday, December 4, 2010

tentang segelas air yang tak melarutkan sejumput garam

Jawababnnya ada pada teori kelarutan. Alasan kenapa sejumput garam tak mampu lagi melarut dalam segelas air itu teralamatkan pada teori kelarutan. Lebih tepatnya, mungkin pada dua hal ini: jenuh yang sudah tercipta, atau pengadukan yang belum terlalu benar dan merata. Yang pertama berbicara tentang titik maksimal yang sudah tercapai, yang kedua menyinggung usaha yang belum nyata.

Garam tentu mempunyai nilai kelarutan tertentu, tergantung apa pelarutnya. Seringnya, dinyatakan dengan satuan berat per satuan volume pelarut. Nilai inilah yang kemudian tak bisa terlampaui. Jadi jika dalam segelas larutan garam konsentrasinya sudah mencapai kelarutan garam dalam pelarut tersebut, maka sejumput –atau bahkan sebutir-- garam yang kita tambahkan tak akan mampu lagi terlarutkan. Larutan itu telah jenuh dengan garam, maka garam yang tertambahkan hanya akan mengendap di dasarnya. Tak melarut. Atau kalau kita memaksa mengaduknya dengan sangat maka butir-butir garam itu hanya melayang-layang untuk kembali mengendap juga kala kita menghentikan pengadukannya.

Nilai kelarutan tersebut, tentu saja diperoleh dari serangkaian penelitian dan percobaan. Sedikit demi sedikit garam ditambahkan ke sebuah pelarut sampai sebuah titik saat pelarut itu tak mampu lagi melarutkan garam. Inilah kemudian nilai kelarutan tersebut. Nilai yang tak mungkin terlewati. Tentu, pada koridor parameter tertentu.

Tapi akan selalu ada celah untuk berkelit dari keadaan. Rekayasa. Larutan yang telah jenuh dengan garam masih mungkin disusupi lagi garam. Merekayasa keadaan menjadi solusinya. Karena memang nilai kelarutan itu tergantung parameter tertentu. Temperatur salah satunya. Sudah jamak diketahui bahwa berbeda temperatur berbeda pula nilai kelarutannya. Dan karena lebih sering nilai kelarutan suatu zat naik seiring kenaikan temperatur, maka yang perlu kita lakukan kala nilai kelarutan sudah tercapai—larutan telah jenuh-- dan kita masih menginginkan sejumput garam itu melarut di dalamnya, adalah dengan menaikkan temperaturnya. Demikian, terus-menerus. Sampai menaikkan temperatur tak lagi mempunyai nilai yang signifikan untuk menaingkatkan kelarutannya. Maka saat itu, saat tak ada signifikansi dari usaha menaikkan temperatur itu, besarkan saja wadahnya. Ganti gelas itu dengan sebuah teko, lalu tambah pelarutnya.

Tapi berhati-hatilah! Berhati-hatilah tentang sebab kedua yang tersebut di awal. Jangan-jangan usaha kita mengaduk garam yang kuranglah yang menjadi penyebab gagalnya garam itu melarut dengan sempurna. Saat itu, jangan terburu-buru merekayasa keadaan, apalagi merutukinya. Cukuplah dengan mengevaluasi cara kita melarutkan garam. Jangan-jangan yang kita larutkan masih berupa bongkahan garam kasar yang luas kontaknya dengan pelarut mengecil. Jangan-jangan cara mengaduk kita yang masih lemah tanpa daya. Jangan-jangan kita yang kurang sabar. Untuk itulah, kemudian, menjadi sangat penting untuk menyadari kelarutan garam. Tentang berapa garam yang mampu terlarut. Kesadaran ini, akan memberi kita mata untuk bertindak. Tidak membabi buta menambahakan garam pada larutan yang telah jenuh, tak juga terlalu tergesa memanaskan larutan bahkan ketika hanya separuh saja nilai kelarutan yang telah tercapai.

Jenuh! Mungkin bukan hanya tentang keadaan yang telah menyesak. Mungkin bukan tentang lingkungan yang menyempit dan menggelisahkan. Mungkin juga bukan tentang kebutuhan sebuah wadah yang lebih besar dan melegakan--merekayasa. Mungkin, ini tentang usaha mengaduk yang kurang. Mungkin tentang kita. Kita!

Mengetahui kapasitas diri menjadi penting. Mengenali diri sendiri menjadi utama. Sampai manakah batas kita. Tapi, tak sesaklek nilai kelarutan tadi—dimana nilainya sudah tertentu dan tak bisa dilanggar, tentang nilai diri kita ini lebih lentur. Jika dalam pelarutan garam tak mampu melampau nilai kelarutannya, maka pada kita, kaidahnya menjadi begini: ‘jika kita sudah mampu mencapai suatu titik, maka kita harus mampu lebih dari titik itu’. Sebab kita memiliki sesuatu yang namanya pembelajaran. Jika kita sudah mampu melewati suatu keadaan yang begitu berat, sudah seharusnyalah kita mampu melewati suatu keadaan yang lebih berat dari itu.

Maka saya menyukai pernyataan rekan kerja ini. Rekan kerja yang ‘terlunta-lunta’ di korsel setelah beasiswa S2-nya diputus secara sepihak. Bekerja sebagai pencuci piring di restoran lalu lanjut menyapu lantai di stasiun, sepulang dari laboratorium di malam hari. Katanya, “jika saya diberi kesempatan untuk mengulanginya, maka saya meminta yang lebih berat dari itu. Agar saya tahu sampai sebatas mana kemampuan saya”. Ia ingin tahu titik jenuh dirinya.Sebab kesadaran untuk itu menjadi penting.

Jenuh. Memang tentang kita dan keadaan. Tentang usaha kita dan daya tampung lingkungan. Dan kita punya cara sendiri pastinya untuk mengatasinya. Dengan alasannya tentu. Antara menaikkan suhu, memperbesar wadah dan menambah pelarut baru, atau mengubah kerja kita dengan cara baru. Atau kolaborasi kedua atau ketiganya.

Jenuh. Mungkin tak terselesaikan dengan sekedar jeda.


tentang segelas air yang tak melarutkan sejumput garam

Jawababnnya ada pada teori kelarutan. Alasan kenapa sejumput garam tak mampu lagi melarut dalam segelas air itu teralamatkan pada teori kelarutan. Lebih tepatnya, mungkin pada dua hal ini: jenuh yang sudah tercipta, atau pengadukan yang belum terlalu benar dan merata. Yang pertama berbicara tentang titik maksimal yang sudah tercapai, yang kedua menyinggung usaha yang belum nyata.

Garam tentu mempunyai nilai kelarutan tertentu, tergantung apa pelarutnya. Seringnya, dinyatakan dengan satuan berat per satuan volume pelarut. Nilai inilah yang kemudian tak bisa terlampaui. Jadi jika dalam segelas larutan garam konsentrasinya sudah mencapai kelarutan garam dalam pelarut tersebut, maka sejumput –atau bahkan sebutir-- garam yang kita tambahkan tak akan mampu lagi terlarutkan. Larutan itu telah jenuh dengan garam, maka garam yang tertambahkan hanya akan mengendap di dasarnya. Tak melarut. Atau kalau kita memaksa mengaduknya dengan sangat maka butir-butir garam itu hanya melayang-layang untuk kembali mengendap juga kala kita menghentikan pengadukannya.

Nilai kelarutan tersebut, tentu saja diperoleh dari serangkaian penelitian dan percobaan. Sedikit demi sedikit garam ditambahkan ke sebuah pelarut sampai sebuah titik saat pelarut itu tak mampu lagi melarutkan garam. Inilah kemudian nilai kelarutan tersebut. Nilai yang tak mungkin terlewati. Tentu, pada koridor parameter tertentu.

Tapi akan selalu ada celah untuk berkelit dari keadaan. Rekayasa. Larutan yang telah jenuh dengan garam masih mungkin disusupi lagi garam. Merekayasa keadaan menjadi solusinya. Karena memang nilai kelarutan itu tergantung parameter tertentu. Temperatur salah satunya. Sudah jamak diketahui bahwa berbeda temperatur berbeda pula nilai kelarutannya. Dan karena lebih sering nilai kelarutan suatu zat naik seiring kenaikan temperatur, maka yang perlu kita lakukan kala nilai kelarutan sudah tercapai—larutan telah jenuh-- dan kita masih menginginkan sejumput garam itu melarut di dalamnya, adalah dengan menaikkan temperaturnya. Demikian, terus-menerus. Sampai menaikkan temperatur tak lagi mempunyai nilai yang signifikan untuk menaingkatkan kelarutannya. Maka saat itu, saat tak ada signifikansi dari usaha menaikkan temperatur itu, besarkan saja wadahnya. Ganti gelas itu dengan sebuah teko, lalu tambah pelarutnya.

Tapi berhati-hatilah! Berhati-hatilah tentang sebab kedua yang tersebut di awal. Jangan-jangan usaha kita mengaduk garam yang kuranglah yang menjadi penyebab gagalnya garam itu melarut dengan sempurna. Saat itu, jangan terburu-buru merekayasa keadaan, apalagi merutukinya. Cukuplah dengan mengevaluasi cara kita melarutkan garam. Jangan-jangan yang kita larutkan masih berupa bongkahan garam kasar yang luas kontaknya dengan pelarut mengecil. Jangan-jangan cara mengaduk kita yang masih lemah tanpa daya. Jangan-jangan kita yang kurang sabar. Untuk itulah, kemudian, menjadi sangat penting untuk menyadari kelarutan garam. Tentang berapa garam yang mampu terlarut. Kesadaran ini, akan memberi kita mata untuk bertindak. Tidak membabi buta menambahakan garam pada larutan yang telah jenuh, tak juga terlalu tergesa memanaskan larutan bahkan ketika hanya separuh saja nilai kelarutan yang telah tercapai.

Jenuh! Mungkin bukan hanya tentang keadaan yang telah menyesak. Mungkin bukan tentang lingkungan yang menyempit dan menggelisahkan. Mungkin juga bukan tentang kebutuhan sebuah wadah yang lebih besar dan melegakan--merekayasa. Mungkin, ini tentang usaha mengaduk yang kurang. Mungkin tentang kita. Kita!

Mengetahui kapasitas diri menjadi penting. Mengenali diri sendiri menjadi utama. Sampai manakah batas kita. Tapi, tak sesaklek nilai kelarutan tadi—dimana nilainya sudah tertentu dan tak bisa dilanggar, tentang nilai diri kita ini lebih lentur. Jika dalam pelarutan garam tak mampu melampau nilai kelarutannya, maka pada kita, kaidahnya menjadi begini: ‘jika kita sudah mampu mencapai suatu titik, maka kita harus mampu lebih dari titik itu’. Sebab kita memiliki sesuatu yang namanya pembelajaran. Jika kita sudah mampu melewati suatu keadaan yang begitu berat, sudah seharusnyalah kita mampu melewati suatu keadaan yang lebih berat dari itu.

Maka saya menyukai pernyataan rekan kerja ini. Rekan kerja yang ‘terlunta-lunta’ di korsel setelah beasiswa S2-nya diputus secara sepihak. Bekerja sebagai pencuci piring di restoran lalu lanjut menyapu lantai di stasiun, sepulang dari laboratorium di malam hari. Katanya, “jika saya diberi kesempatan untuk mengulanginya, maka saya meminta yang lebih berat dari itu. Agar saya tahu sampai sebatas mana kemampuan saya”. Ia ingin tahu titik jenuh dirinya.Sebab kesadaran untuk itu menjadi penting.

Jenuh. Memang tentang kita dan keadaan. Tentang usaha kita dan daya tampung lingkungan. Dan kita punya cara sendiri pastinya untuk mengatasinya. Dengan alasannya tentu. Antara menaikkan suhu, memperbesar wadah dan menambah pelarut baru, atau mengubah kerja kita dengan cara baru. Atau kolaborasi kedua atau ketiganya.

Jenuh. Mungkin tak terselesaikan dengan sekedar jeda.


Friday, November 26, 2010

MU, saya, dan wawancara kerja ; tentang kesukaan

Dulu, sekitaran dua tahun yang lalu, dalam suatu sesi wawancara kerja, sesaat setelah saya mengatakan sepakboal sebagai salah satu hobi saya, Pak Pewawancara menyusulnya dengan sebuah pertanyaan standar; “klub favoritnya apa?”. “Manchester United”, begitu jawab saya. Dan cepat. Untuk sesuatu yang kita favoriti, harusnya memang cepat. Tak perlu berpikir.

Sebenarnya, pertanyaan itu salah juga. Sebab, tak ada hubungan yang langsung  antara kesukaan bermain bola dengan kecintaan terhadap sebuah klub sepakbola. Hanya saja memang keumumannya begitu. Seorang yang suka main bola, cenderung suka nonton bola, yang pada akhirnya akan mempunyai klub favorit juga.

“Pemain favoritnya siapa di MU?”, demikian lanjut Pak Pewawancara.

“mmm…tidak punya pemain favorit”

“Lo, kan biasanya kalau menyukai suatu klub pasti punya pemain favorit?”

Sampai di sini saya agak ‘malas’. Sebab ini memasuki fase berargumentasi yang takutnya menjurus pada ngecap. Memang, tak ada pemain spesial yang saya sukai di MU. Tak ada. Pemain keluar masuk ke sana dan saya tetap menyukai MU bahkan sejak pertama kali saya mulai menggemari sepak bola macanegara. Tak menyepesialkan pemain tertentu inilah yang membuat kesukaan saya pada MU lebih langgeng. Berbeda dengan yang mengidolakan figur tertentu. Idolanya berpindah klub, maka berganti pula lah klub kesukaannya. Begitu seterusnya.

“lalu apa yang membuat menyukai MU?”, demikianlah pada akhirnya pertanyaan Pak Pewawancara itu.

Nah, ini dia. Mengapa harus selalu ada alasan untuk menyukai sesuatu? Setiap orang akan sulit menjawab dengan pas ketika ditanya tentang alasan mengapa ia menyukai sesuatu. Kalaupun ia berhasil menjawab, itu tak 100 % benar. Bahkan bila dipertanyakan ulang, ia bakalan ragu atas jawabannya itu. Seperti itulah apa yang saya jawabkan kemudian.

“Permainannya pak! (bla bla bla)”

Tak 100 % begitu, juga tak 100 % tak begitu. Permainannya, tentu saja, ini masuk salah satu faktor. Bukankah lebih sering klub-klub besar, yang notabene permainannya lebih bagus, lah yang diidolakan orang-orang. Macam Barcelona, macam Madrid, macam Milan, macam Chelsea. Tapi kemudian saya tahu tak begitu juga, sebab kita sering kali masih setia dengan sebuah klub bahkan ketika permainan klub itu kian memburuk. Ini mungkin tentang cinta mati.

Entah bagaimana saya terhadap MU tadi. Sepertinya sejak saya menyukai MU, tak pernah klub ini memperlihatkan level permainan yang begitu merosot. Tak pernah sepertinya ia lepas dari posisi lima (atau bahkan tiga) besar klasmen akhir kompetisi. Prestasinya tak terlalu fluktuatif, hingga memang harusnya kadar kesukaan penggemarnya , yang menyukainya karena faktor permainan, tak berfluktuatif juga. Prestasi memang tak selalu ekivalen dengan permainan, tapi, dalam kasus ini, untuk mudahnya, bolehlah kita anggap sama.

Tapi baru-baru ini, saya menyadari satu hal; boleh jadi yang saya ungkapkan ke Pak Pewawancara itu banyak benarnya. Level permainanlah yang menyebabkan saya menyukai MU tadi. Setelah rasionalitas mulai lebih kentara, daftar prioritas mulai menderet, saya mulai tak terlalu antusias menonton MU di layar kaca kala melihat permainannya mulai mengecewakan. Perlahan, saya mulai tak mbelan-mbelani begadang hanya untuk menontonnya bertanding sebab sebelumnya sudah sering dikecewakan oleh permainannya yang mulai monoton dan sulit memperoleh peluang untuk mencetak gol. Kini, saya mulai sering mencukupkan diri dengan menonton highlightnya, atau kalau pun tak sempat, melihat beritanya di detiksport sudah mewakili. Tapi tentu, saya masih menyukai klub ini, dengan kadar suka yang boleh jadi amat berbeda dengan ketika klub ini menunjukkan level bermain yang bagus dulu. Di era Ronaldo mungkin, di era Roy keane mungkin. Bahkan, ketika suatu saat jika MU mencapai level permainan terburuk, hingga harus terdegradasi  mungkin, sepertinya saya akan masih memiliki bibit suka meski setitik. Yang suatu saat akan kembali meruah kala menyaksikannya kembali ke level permainan terbaik.

Aih, saya jadi berpikir, agaknya ini juga berlaku terhadap hal-hal yang lain.  

jeda--,

Hanya gol dari sebuah tendangan penalti memang. Bukan juga ia yang berandil atas ditiupnya peluit tanda tendangan pinalti itu. Tapi lihatlah ekspresi lelaki itu, lihatlah bagaimana ia melakukan selebrasi atas keberhasilannya mekakukan eksekusi pinalti itu! ia berlari ke penjuru, ia berteriak kesenangan seakan melepaskan diri untuk mencapai sebuah kemerdekaan. Lalu terlentang. Kegembiraan seakan begitu menggejolak di dalamnya. Juga kelegaan. Selebrasi itu, kemudian diakhiri dengan manis oleh peluk selamat rekan sepermainan.

Lelaki itu, Wayne Rooney. Lelaki yang berlari kencang ke penjuru dengan raut gembira dan kepala dikibas-kibaskan itu Wayne Rooney. Tentu, ekspresi itu,  tercipta bukan hanya karena golnya lah yang kemudian menjadi penentu kemenangan timnya malam itu. Menjadi satu-satunya gol yang tercipta pada pertandingan MU kontra Rangers di match daya kelima liga Champion itu. Tapi, adalah fakta bahwa baru satu gol yang ia ciptakan di musim ini, itu pun dari titik pinalti, agaknya menjadi jawababn atas ‘berlebihannya’ ekspresi Rooney itu. Penantian panjangnya pun, pada akhirnya, tertuntaskan.

Semua bakalan setuju kalau Rooney bukanlah pemain bola kacangan. Ia pemain top jagad ini. Sudah banyak gol yang ia ciptakan di hampir semua level kompetisi. Maka, dengan catatannya yang mentereng itu, tidak menjadi istimewa lagi lah harusnya gol ke gawang Rangers itu. Toh itu hanyalah fase penyisihan grup yang boleh dibilang tak terlalu spesial. Apalagi, disarangkan ke gawang tim yang tak terlalu mentereng macam Rangers. Harusnya memang biasa-biasa saja.

Tapi gol itu spesial. Sesuatu yang kembali bisa kau lakukan setelah begitu lama tak mampu kau lakukan, selalu spesial. Ada energi tersendiri. Siapapun pelakunya. Tak terkecuali Rooney ini. Sebab musim lalu ia begitu gemilang, sebab musim lalu gol-gol begitu mudahnya lahir dari kaki dan kepalanya, maka ketika kran gol itu tiba-tiba mandeg di musim ini, ada kerinduan yang sangat akan spesialisasinya itu. Keadaan yang mungkin sedikit terlupakan saat itu sudah menjadi biasa, saat gol-gol begitu mudahnya ia cipta.

Sesuatu yang mulai menjadi biasa akan kembali spesial saat kau sejenak menjauh dari kebiasaan itu.

Mungkin begitu. Meski tak selalu dapat diterapkan di segalanya. Jika kau mulai bosan dengan suatu keadaan yang sebenarnya kau sukai mulanya, pergi saja! Pergi saja dari keadaan itu sejenak. Tentu saja bukan untuk menyingkir, hanya menghindar saja. Menghindar yang tak lama. Dan rasakanlah saat kerinduan itu kembali hadir mengetuk-ngetuk. Kerinduan untuk segera kembali dan tak berlama-lama. Kerinduan seperti rindunya Rooney untuk menciptakan gol lagi. Kerinduan itu, seperti tabiatnya, tak perlu kau nanti-nantikan datangnya. Ia akan segera hadir dengan sendirinya. Amat lancang.

Jeda. Itu lah mungkin sebutannya. Semacam koma untuk menarik napas dan melihat sekitaran, bukan titik yang mengakhiri kalimat. Koma yang mengharuskan untuk meneruskannya, bukan titik yang memberi alternatif untuk memberhentikannya. Jeda-jeda yang produktif pastinya. Jeda-jeda yang tak mubazir harusnya.

 

Wednesday, November 24, 2010

ketika saya 'terlupa' membayar ongkos main mancing

Saya bersyukur malam itu ‘terlupa’ membayar ongkos main mancing-mancingan.

Awalnya begini. Sudah lewat dari  jam delapan malam ketika keponakan saya mengajak mampir ke sebuah pasar malam yang sedang digelar di satu lapangan bola pinggir jalan. Lokasinya, memang berada di antara rumah saya dan rumah nenek keponakan saya itu. tentu saja yang dimaksud dengan nenek keponakan saya dalam kasus ini bukanlah orang tua saya.

Malam hari itu memang kami mengunjungi nenek keponakan saya itu. Awalnya, keponakan saya dan ayahnya saja yang ikut. Bermotoran berdua. Lalu, karena melihat saya yang mungkin sudah mulai asing dengan kondisi Pasuruan, maka diajak serta lah saya. Motoran bertiga.

Dan hari itu memang ada pasar malam. Orang-orang di tempat saya  menyebutnya dengan dermulen. Isinya, aneka mainan anak-anak; semacam mainan keranjang yang berputar (entah apa namanya), mobil-mobilan dalam rel (entah apa pula namanya), serta yang lain. Dan, keponakan saya itu, bersikeras ingin mampir bahkan sejak kami mulai berangkat.

Kesepakatan yang terjadi kemudian adalah bahwa kami akan mampir ke dermulen itu pas baliknya. Itu dilakukan agar tak mengganggu jadwal utama kepergian kita. Awalnya, saya tak terlalu antusias. Bahkan, pas baliknya,  ketika kami sedikit lagi nyampai di lokasi, saya masih kurang bersemangat. Mungkin demikian juga ayahnya, kakak saya itu. Ayahnya mulai menawarkan sebuah alternatif yang saya yakin bakalan ditolak mentah-mentah : ‘Nggak usah ke dermulen saja, ya?’. Benar, tentu saja, keponakan saya menolak. Penawaran pun diubah dengan melakukan kesepakatan bahwa keponakan saya itu hanya boleh main satu jenis permainan  saja. Ia mengangguk. ‘Janji?’, demikian saya ikut menimpali. ‘Janji!’, keponakan saya cepat menyahut. (Kawan, masalah kesepakatan dan janji ini, mengingatkan saya pada buku-buku parenting yang saya baca. Berbeda dengan di buku yang masih sebatas teori, hari itu saya merasakannya langsung. Ternyata itu penting. Sebagai pembelajaran tanggung jawab atas keputusannya sendiri)

Motor kemudian masuk ke lapangan. Menuju ke sebuah tempat yang ditunjuk keponakan saya. Awalnya saya tak tahu itu permainan apa sampai keponakan saya menjelaskan: ‘mancing-mancingan’.  Agaknya itu jenis permainan baru di arena dermulen ini sebab ketika saya kecil tak pernah menjumpai permainan macam begini.

Keponakan saya segera turun begitu motor berhenti. Segera berlari sesaat setelah meminta uang pada ayahnya. Kemudian, menuju ke penjaga permainan itu. Saya sih tak terlalu memperhatikan, hanya sekilas melihat keponakan saya bertransaksi dengan si penjaga yang diakhiri dengan diserahkannya sebuah joran pancing pada keponakan saya.

“Ambil gih kembaliannya!”, demikian minta kakak saya itu pada saya. Bukan dengan kata-kata kemudian saya menjawabnya, tapi dengan langkah. Segera saya dekati keponakan saya yang sedang asyik dengan pancingannya. Meminta uang kembalian. Di genggamannya, ada uang lima ribu yang terlipat-lipat. Mulanya, ia ragu, tapi uang itu lah yang kemudian ia serahkan pada saya.

Permainan memancing yang saya maksud itu adalah sebuah bak berair dimana ikan-ikanan dan buah-buahan plastik mengambang di atasnya. Di moncong ikan tersebut (atau di tangkainya kalau itu buah) disisipkan sebuah paku. Dan paku itulah yang menjadi jawaban atas keheranan saya tentang bagaimanakah joran pancing itu bisa mengaitnya. Sebab, ternyata, di ujung benang yang pangkalnya terikat di joran, ada sebuah magnet kecil. Jadi ketika keponakan saya itu jeli menempelkan biji magnet ke paku yang tersisip di ikan atau buah, maka ikan atau buah itu akan terangkat. Sederhana saja.

Tak perlu waktu lama, keponakan saya segera menyelesaikan misinya. Keranjangnya telah penuh dengan ikan dan buah yang berhasil ia angkat. Ia pun mengembalikan ikan dan buah itu ke bak untuk kemudian bangkit dari duduknya. Mengembalikan joran pancing, lalu nampak memilih aneka mainan yang tergantung di dekat tempat meletakkan joran itu. Saya ikut saja, sebab tak terlalu tahu mekanismenya. Keponakan saya kemudian mengambil sebuah mainan ketika tukang pancing datang. “Yatrane!”, begitu katanya lirih. Saya, yang mengira bahwa harus membayar untuk mainan yang baru saja diambil keponakan saya, sudah  merogoh saku untuk mengambil uang lima ribu tadi ketika kakak saya yang berada di kejauhan melarang. “Nggak usah, Bal. Hadiahe iku”. Saya pun mengurungkan niat, melihat si tukang pancing sebantar, lalu berlalu.

Keponakan saya naik, dan saya juga naik. Motor kemudian melaju.

Entah mengapa, seratusan meter meninggalkan arena dermulen, sambil motor tetap melaju, saya nyeletuk: “Cuma begitu saja lima ribu!”

“Nggak, bal, tiga ribu saja, kok.” Kakak saya menjawab.

“La ini kembaliannya lima ribu!”. Saya tak mau kalah. Memang, uang yang diserahkan keponakan saya tadi lima ribu. Sangkaan saya, yang paling masuk akal, sepuluh ribu lah uang mulanya.

“Lo, tadi tak kasih lima ribu, kok!”

“Berarti!”, kami terkaget. Tersadarkan atas sesuatu. “tadi sudah banyar, kah, Put?”

“Belum,” Puteri, keponakan saya itu, pelan menyahut, “ La tadi uangnya diminta lek iqbal”

“Tadi, kan, kayak langsung bayar gitu?”

“Sama orangnya disuruh bayar nanti saja”

Maka berputarlah motor dengan penumpang tiga orang itu. Sudah lima ratus meter dari lokasi acara. Dengan sedikit senyum. Dengan sedikit mengolok-olok keponakan kecil saya. Ah, saya bersyukur atas kesalahpahaman ini. Bersyukur. Sungguh jarang momen seperti itu bisa tercipta. Saya yakin, sangat yakin, momen itu akan terekam dengan baik di kepala kanak-kanaknya. Keteladanan selalu lebih baik dari sekedar kata-kata petuah. Praktek akan selalu lebih membekas daripada teori. Maka kemudian, semoga itu sebagai tonggak awal, sebagai titik mula, bagi keponakan saya itu, untuk sebuah kesadaran pemenuhan kewajiban diri dan pemenuhan hak orang lain. Serta kejujuran. Untuk selanjutnya ia genggam selalu.

“belum mbayar, ya, tadi, mb?”, demikian kahirnya kata saya ketika kembali ke arena dermulen tadi.

“belum.”

“Kok tadi nggak diminta?”, tanya saya lagi. Saya tahu tadi dia sempat meminta uang pembayaran. Tapi ia seolah membiarkan saya berlalu tanpa membayar ongkos main mancing-mancingan tadi.

“La, kayake terburu-buru mau pulang gitu”

“..”

Ah, tukan pancing yang baik.

Kami pun kembali pulang.

 

 

Sunday, November 21, 2010

pulang-kembali

Saya mengernyit-ngernyitkan dahi sendiri menyadari bagaiamanakah saya mendefinisikan kata ‘pulang’ dalam keseharian saya. Fenomena ini, baru saya sadari baru-baru saja.

Di kantor, setelah suara sirene menggema dari plant, sebagai pertanda akhir jam kerja, telah berlalu, saya akan menyebutnya dengan kata ‘pulang’ untuk aktivitas menuju rumah bujang yang disediakan perusahaan, tempat dimana saya tinggal. “Pulang dulu, yah!”, begitu kata saya seringnya pada teman yang memilih untuk menunda beberapa saat kepulangannya. Sebagai bentuk pamitan.

Di rumah bujang saya itu, tempat dimana saya tinggal dan menghabiskan waktu disana dengan tidur, mandi, makan, serta aktivitas harian lainnya, ternyata kata ‘pulang’ ini juga saya pakai. “Kapan pulang, Bal?”, demikian tanya teman serumah suatu ketika. “Minggu depan, sekalian cuti”, jawab saya. Tentu saja saya mengerti dengan maksud kata ‘pulang’ yang teman saya sebutkan itu. Sebelumnya, saya memang sudah menyatakan rencana kepulangan saya itu jauh-jauh hari. Pulang, dalam kasus ini adalah sebuah kata yang berdefinisi untuk sebuah aktivitas menuju rumah (orang tua) saya di kampung. Jadi boleh dikatakan, ketika sudah pulang, saya masih bisa pulang lagi.

Lalu bagaimanakah ketika saya sudah berada di rumah orang tua saya di kampung? Ternyata berbeda. “Kapan balek?”, demikian pertanyaan yang sering diajukan. ‘Kapan balek’, bukan ‘kapan muleh’. ‘Balek’, dalam bahasa jawa yang dipakai di lingkungan asal saya, diartikan sebagai ‘kembali’ dalam bahasa Indonesia. Sedangkan ‘muleh’ untuk ‘pulang’. Praktis, ketika saya berada di kampung halaman, kata ‘pulang’ tak lagi dipakai untuk menyebut aktivitas saya menuju ke rumah bujang saya di Bontang. Padahal, untuk aktivitas yang sama, ketika saya berada di kantor, saya menyebutnya dengan kata ‘pulang’.

Agaknya, kata ‘pulang’ versi saya ini mempunyai sebuah tingkatan. Yang penyebutannya tak hanya merujuk ke tempat manakah saya bakal menuju, tapi juga dari manakah saya bertolak. Bila saya sedang berada di tempat kerja akan menuju rumah dinas, saya menyebutnya dengan ‘pulang’. Tapi bila saya sedang di kampung halaman akan menuju rumah dinas saya di Bontang, maka saya menyebutynya bukan dengan ‘pulang’, tapi ‘kembali’. Hingga, kemudian saya menyimpulkannya begini: ada setidaknya tiga tempat yang terkait pendefinisian kata ‘pulang’ ini. Yang pertama adalah kampung halaman, yang kedua adalah rumah dinas Bontang, yang ketiga adalah tempat selain keduanya. Jika saya berada di tempat ketiga, maka baik saya mau ke tempat pertama maupun tempat kedua, saya mengatakannya sebagai ‘pulang’. Jika saya berada di tempat kedua, maka kata ‘pulang’ hanya saya pakai ketika saya akan menuju ke tempat pertama.

Begitulah. Hingga ketika saya berada di tempat pertama, saya tak pernah memakai kata ‘pulang’ ini untuk menyebut aktivitas saya. Kata ‘kembali’ lah yang terpakai. “Nyuwun pamit, arep balek nang Bontang”, demikianlah kira-kira kalimat pamitan saya pada seorang tetangga. ‘Balek’, bukan ‘muleh’.

Tapi, bila mau berdalam-dalam merenunginya, agaknya kesimpulan di atas belum benar-benar sahih. Ada satu tempat lagi, yang bahkan ketika saya berada di tempat pertama, sah-sah saja untuk menyebutnya dengan ‘pulang’. Sebuah tempat yang ketika saya ternyatakan ‘pulang’, maka tak akan lagi merasakan ‘kembali’. Saya pun tak akan mampu memutuskan kapankah ‘pulang’ saya menuju tempat itu bakal terjadi. Hanya orang-orang sajalah yang kemudian menyebutnya dengan ‘berpulang’. Bisa esok, bisa tahun depan, bisa minggu depan, atau bisa sepersekian detik sejak saya tuliskan catatan kecil ini. Maka, karena kegaibannya itu, kita kemudian sering-sering mendoa: ‘seperti indahnya rasa kepulangan yang lain, ya Allah, pulangkanlah kami dalam keadaan indah!’ Aih, bukankah itu berarti khusnul khotimah.

 

 

Sunday, November 7, 2010

Perkenalkan, Namanya Dona Windy Astuti


 “Iqbal, kalau ada perlu, dipanggil saja, tak usah dicolek”

Bagaimana aku akan lupa kalimat itu. Pertama kali terucap, sekitar enam tahun yang lalu. Seorang perempuan mengatakannya. Namanya, Dona Windy Astuti.

Kami dipertemukan oleh sebuah pilihan pada bulatan-bulatan yang kami isi di kolom pilihan jurusan pada kertas pendaftaran SPMB. Diuji oleh soal-soal pilihan ganda pada waktu yang sama dan tempat yang berbeda. Kemudian bertemu di sebuah kampus pinggiran Surabaya dengan status sebagai mahasiswa. Tapi tidak! Bukan karena kami sejurusan sematalah yang membuat kemudian aku lebih jauh mengenalnya.

Kalimat di atas tadi, adalah kalimat yang ia ucapkan saat berada di sebuah kelas yang bukan ruang kelas jurusan kami. Memang, saat itu bukan kuliah jurusan, hingga orang-orang yang berada di dalamnya juga bukan semuanya adalah teman sejurusan. Sebagai mahasiswa baru, kami memang wajib mengikuti kuliah bersama dengan jurusan-jurusan lain. Namanya adalah Tahap Persiapan Bersama. Akan ada berbagai macam jurusan di dalam satu kelasnya, meski tetap saja ada teman sejurusan juga di dalamnya. Dalam jumlah sedikit. Ada dua orang saja teman sejurusan dalam kelasku kala itu. Salah satunya, ya Dona tadi. Di dalam kelas itulah kalimat itu terucap.

Adalah menjadi hal biasa jika teman sejurusan lebih cenderung untuk mengelompok sendiri. Duduk berdekatan sebab memungkinkan lebih mudah untuk bertanya satu dan lain hal. Karena lebih dulu akrab. Apalagi, untuk kuliah-kuliah perdana dimana tak banyak anak lain yang lebih diakrabi. Dan itulah kita, yang bertiga kala itu. Sama-sama duduk di baris terdepan. Atau di baris terdepan dan kedua, tapi untuk satu kolom yang sama atau berhimpit. Untuk beberapa pertemuan awal.

Aku ada perlu kala itu. Padanya. Entah ingin menanyakan hal apa. Aku juga telah lupa. Mungkin tentang masalah angkatan yang memang menjadi begitu runyam bagi seorang mahasiswa baru. Dan dia, Dona, lebih aktif di sana. Hingga akan banyak informasi yang didapat dengan menanyainya. Ia selalu bersenang hati menceritakan semuanya dengan semangat.

Aku kemudian mencoleknya dengan sebatang pena. Ya, tentu, aku tahu, aku tak melakukannya dengan tangan telanjangku. Aku tahu ia seorang wanita, dan aku pria. Tak boleh. Apalagi melakukannya pada seorang perempuan yang begitu santun, rapat pula menutup auratnya.

 

Tapi ternyata, ia tetap terganggu; “Iqbal, lain kali kalau ada perlu, dipanggil saja. Jangan dicolek”. Lihatlah, pemilihan katanya adalah bukti kesantunannya. Tak ada intonasi menyalahkan. Hingga membuatku malu bahkan untuk memberi sebuah argumen pembenar tindakanku. Hari itu pelajaran pertamaku dimulai.

Di lain hari ia menegur begini :”Iqbal, duduknya bisa agak ke sanaan!”. Itu adalah kalimatnya ketika ia mulai risih dengan jarak duduk kami yang terlalu dekat. Bukan benar-benar maksudku sebenarnya untuk berimpit meski dalam kursi yang berbeda.  Beberapa kali aku bertanya dan ia menjawab, sering pula ia menanyakan sesuatu dan aku berkewajiban menjelaskannya. Dan tentang kuliah yang hitung-hitungan, maka tak enaklah rasanya jika menjelaskannya tidak dalam satu kertas dimana konsentrasi kita sama-sama di situ. Maka aku pun mungkin sedikit lalai mengindahkan aturan itu. Hingga kalimat itu muncul yang membuat aku kembali mengatur posisi dudukku sampai batas aman.

Itu adalah dua pelajaran awal yang membekas. Ah, membekas memang bukan melulu tentang sebuah hal besar. Membekas kadang juga tentang persoalan yang terlihat kecil tapi begitu jernih tertuang. Membekas kadang juga tentang sebuah mula. Dan untuk dua hal tersebut, dia, Dona, adalah seorang guru yang baik untuk membekaskan pelajaran pada muridnya. Kelak aku menyukuri bahwa interaksi awalku di dunia kampus ini diisi oleh orang-orang baik macam Dona ini.

Dua semester usia pertemanan dalam ikatan sekelas Tahap Persiapan Bersama itu. Dua kali dalam seminggu, Selasa dan Kamis. Dua mata kuliah tiap kalinya. Memang, kita masih satu jurusan, tapi memiliki kesamaan dalam sebuah perbedaan macam sejurusan dalam komunitas multi jurusan itu, memberi nilai lebih dalam hubungan pertemanan itu.

Apalagi yang perlu kuceritakan. Ia seorang yang tekun. Jujur sejujur-jujurnya, minimal sepengetahuanku. Tak pernah kulihat ia tolah-toleh saat ujian berlangsung. Kau mungkin mengira ia lancar mengerjakan soal-soal ujian itu hingga tak perlu repot celingukan mencari kesempatan. Tidak! Tidak selalu. Aku tahu jelas hal itu. Setahun sekelas, dengan intensitas bertukar pikiran tentang mata kuliah yang kerap, sedikit banyak memahamkanku, juga mungkin memahamkannya.

Suatu saat, saat aku tengah menonton nilai akhir mata kuliah Tahap Persiapan Bersama-ku di sebuah tempelan papan pengumuman, ia muncul dengan teman perempuannya, teman sejurusanku juga. Saat itu aku baru balik dari pulang kampung untuk mengisi liburan semester. Seperti biasa, lepas itu, aku akan tergopoh-gopoh menuju kampus untuk menengok nilai-nilai yang keluar.

Ia menyapaku, membuatku memalingkan muka dan sejenak mengalihkan pandang dari tabel berisi nama-nama dan huruf-huruf di sampingnya. Dengan senyum-senyum kemudian ia berucap, “Nilaimu bagus ya, Bal? Cuma ada tiga orang yang dapat A.”

Aku tersenyum juga. Tapi pahit. Aku tentu tahu benar, baru saja aku melihatnya. Dengan mata kepalaku sendiri. Bersanding di namanya dalam tabel nilai itu, sebuah huruf ‘D’. Dan itu artinya ia tak lulus mata kuliah ini. Tapi lihatlah, tak ada kesedihan yang terlalu, ia justru tersenyum. Kemudian menyampaikan selamat dengan kekhasannya. Hati siapa yang tak teriris-iris. Ah, yang menggetarkan sebenarnya bukanlah kesedihan itu, tapi kekuatan menghadapi kesedihan itulah yang justru mengoyak-ngoyak nurani. Hari itu ia memberiku pelajaran yang ketiga.

Selanjutnya, kami justru serting berinteraksi dalam wadah organisasi. Dari pertemuan sebatas ruang kuliah menjadi ruang rapat. Dari tentang kulaih menjadi tentang strategi organisasi. Ia masih seperti yang dulu. Masih santun, dengan kalimat yang terpelihara. Jauh dari menyakiti. Hingga tak heran ia menjadi orang yang bisa diterima di banyak golongan. Tak terlalu mengherankan pula jika kemudian ia terlihat dimana-mana. Langkah kakinya memang cepat, dengan gaya berjalan yang selalu terlihat terburu-buru. Kakinya seakan tak cukup cepat untuk mengakomodasi kehendaknya yang melesat.

Dan waktu, memang benar-benar melesat. Di semester-semester akhir perkuliahan, di sebuah siang, aku terkejut ketika ia tiba-tiba berkata ini kala kami bertemu, “Iqbal, ibunya sakit rematik ya?"

Aku, sambil tersenyum mengiyakan. Sejenak heran darimana ia mengetahuinya, namun secepat kilat tersadarkan kalau info itu pasti ia dapatkan dari membaca blogku. Beberapa waktu lalu aku memang menulis tentang ibu meski tak spesifik tentang penyakit rematik itu.

"Itu, soalnya ibu saya juga pernah. Dan alhamdulillah sekarang sudah sembuh. Minum parutan sayur manisa. Yang biasa dibuat sayur itu"

Aku tersenyum lagi. Duh, aku tak tahu energi kebaikan apa yang begitu baik ia simpan. Untuk ia tebarkan kemanfaatannya kepada siapa saja di sekelilingnya. Saat menulisnya, aku sama sekali tak mengharapkan tanggapan tentang solusi mengatasi rematik itu. Tidak! Tapi, lihatlah! Ia menjelmakan tulisan itu sebagai peluang untuk berbagi kemafaatan ke sekitarnya. Berbagi kebaikan. Membuat orang akan senantiasa nyaman membersamainya.

Dan, melesat. Benar-benar melesat.

 

Hingga 2 Juni 2009 itu. Di suatu pagi. Saat itu aku telah terpisah jauh dari tempat kami dulu bertemu. Memang, setelah merantau untuk tunututan kerja, aku tak banyak lagi mengikuti perkembangan teman-teman, termasuk Dona ini. Yang kutahu, satu semester setelah aku lulus, iya lulus juga. Itu saja. Tak lebih. Tak tahu, atau bahkan tak tahu menahu tentang aktivitasnya setelahnya.

Tapi sms itu, kemudian mengabarkan segalanya:

“Innaalillahi wa innaa ilayhi rojiun”, bukankah itu pembuka untuk sebuah sms pemberitahuan tentang kematian, “telah meninggal teman kita, Dona Windy Astuti, hari ini di jakarta”

Entah apa yang ada di persaanku kala itu. Sempat terbengong tak percaya. Berharap SMS ini keliru. Berharap SMS ini hanya main-main belaka. Tapi, ternyata tidak! SMS lain kemudian datang menyerbu untuk memberitahukan hal yang sama. Maka secepat kilat kemudian aku sign in yahoo messenger, log in Face book. Menyapa teman-teman, mempertanyakan kebenaran.

“Benarkah?”

“Bagaimana bisa?”

“Ceritanya bagaimana?”

Tak ada yang benar-benar tahu dengan pasti. Semuanya serba simpang-siur. Tapi yang pasti, aroma duka menyeruak. Kalimat-kalimat bela sungkawa sontak memenuhi status FB, milist angkatan ramai membicarakan kronologis. Tak jelas, tapi dari keterangan yang patah-patah, kemudian aku mendapatkan kronologis seperti ini:

Dona diterima kerja di jakarta. Kemudian mengikuti orientasi kerja semi militer. Menginap. Saat itu lepas sholat subuh, teman  sekerjanya menjemput ke kamarnya untuk bersiap-siap mengikuti acara, tapi ia mempersilhakan temannya itu untuk duluan. Saat itulah, saat temannya sudah di luar untuk duluan, terdengar sebuah benda berat jatuh berdebam dari dalam kamar. Saat dilihat, Dona sudah ditemukan ambruk di dalam kamarnya.

 

++++++

 

Dan, di sujud itu, beberapa jam setelah kabar itu, aku tergugu. Pertahanan selama beberapa jam itu akhirnya jebol juga. Tak tertahankan lagi. Sungguh, ia terlalu baik, terlalu banyak hal-hal baik yang ia catatkan, mengingatnya adalah mengingat kebaikan. Maka, jika air mata ini adalah kesaksian akan kebaikannya di muka bumi ini, maka ijinkanlah Ya Allah, bulir-bulir air mata ini menjelma menjadi butir-butir yang memperberat amal kebajikannya. Ijinkanlah!

Friday, October 15, 2010

Dongeng negeri Kami



Jika kau datang ke kota kami, dan mempunyai cukup waktu untuk mendengarkan sebuah kisah, maka duduklah sejenak bersama kami. Dengarkanlah cerita yang disampaikan turun temurun oleh ibu-ibu kami setelah lelah bekerja seharian. Tidak panjang. Dan semoga kau tak bosan mendengarnya. Cerita inilah yang diceritakan dengan suara lembut menjelang tidur kami. Tentu saja bukan agar kami lekas tertidur. Mana mungkin kami tertidur oleh cerita semacam ini. Cerita itu diceritakan karena memang kami butuh cerita. Sama halnya anak-anak yang lain juga membutuhkan cerita. Juga, sama seperti halnya ibu-ibu membutuhkan cerita untuk diceritakan pada anak-anak mereka.

Marilah, mari dengarkan cerita yang turun temurun diceritakan di kota kami. Cerita yang diciptakan oleh tetua kota kami. Dulu, dulu sekali. Saat orang-orang tua tak lagi punya cerita untuk diceritakan. Semoga saja cerita ini berguna. Tentu kau sudah tak mempunyai cerita untuk kau ceritakan pada anak-anakmu menjelang tidur mereka. Tentu, karena ceritamu telah dirampas cerita-cerita di sinetron itu. Tentu, karena ceritamu telah diburamkan oleh cerita-cerita lain. Tentang cerita pembantaian itu, penganiayaan itu, serta hal-hal sejenis yang sayangnya berhulu pada satu bentuk : kebiadaban .

Mari, mari dengarkan.....




Dahulu kala, berpuluh tahun yang lalu, ketika tahun baru saja memasuki millenium ketiga, tersebutlah seorang lelaki muda duduk kedinginan di kursi halte bus kota. Meski ia sedang duduk di sana, tentu saja ia tidak sedang menunggu bus kota, apalagi memanggil taksi. Tidak. Sama sekali tidak. Kau bisa melihatnya dari sepeda kayuh yang tersandar tak jauh dari duduknya. Tentu, seperti hari-hari biasanya, lelaki muda itu membawa sepeda.

Hari itu hujan deras. Entah ini pertanda apa, tapi seketika saja langit menjadi gelap. Awan pekat mengungkung kota. Dan tiba-tiba saja, tak lama setelah itu, air seolah begitu saja tumpah dari langit. Amat lebat. Sungguh menggetarkan melihat hujan selebat itu. Dan seperti biasanya, bila hujan datang, maka pemandangan di jalan-jalan yang terlihat adalah kendaraan yang saling berpacu. Beradu cepat sampai tujuan. Tak lagi peduli tentang keselamatan. Semuanya tiba-tiba menjadi pembalap kelas nasional.

Tapi tidak dengan lelaki muda itu. Ia memilih menepi. Menyandarkan begitu saja sepeda kayuhnya di pagar besi pembatas jalan. Memilih berteduh di halte bus yang sepi. Entah kenapa gerangan kali ini ia memilih menepi. Dulu-dulu, ketika hujan datang tatkala ia sedang dalam perjalanan seperti ini, maka ia tak pernah menghiraukan itu. Tetap saja ia kayuh sepeda bututnya melawan terpaan hujan. Tak peduli. Toh memang tak ada yang perlu ia takutkan bakal lecek terkena hujan. Tak perlu ada yang ia lindungi. Tidak juga tubuhnya. Sejak kecil ia sudah terbiasa terguyur hujan seperti ini. Jadi tak perlu terlalu mengkhawatirkan tentang datangnya pilek-pilek, demam-demam, atau yang lain. Apalagi jauh-jauh memikirkan hujan asam.

Tak ada lagi selain lelaki muda itu yang duduk di halte tersebut. Tak ada, karena memang untuk apa? Tak mungkin memang orang mau duduk di halte itu dalam keadaan seperti ini. Untuk berteduh pun percuma. Ya, percuma. Karena dengan leluasa air akan menerobos mengingat angin yang berhembus kencang. Menerpa semuanya. Lalu apa yang sebenarnya dilakukan lelaki muda itu? Tak jelas. Tak ada gunanya memang ia berteduh di halte ini karena tetap saja dia basah kuyup terdera hujan. Ia hanya duduk terdiam. Mengangkat kaki menaiki bangku, melipat lutut, membenamkan wajah di sela kedua lutut yang tertekuk, lalu terakhir melingkarkan kedua tangan mendekap kedua kaki itu. Dan lagi-lagi membisu. Orang-orang yang melihatnya akan segera menyimpulkan kalau dia sedang menggigil kedinginan. Padahal sebenarnya tidak. 

Tak lagi ia hiraukan mobil-mobil yang melaju kencang. Tak ia pedulikan hujan yang kian menderas. Tak juga ia ambil pusing halilintar yang begitu keras menggelegar. Sama sekali tak ada yang ia pedulikan. Ia sempurna mematung. Amat memedihkan melihatnya.

“Apa yang kau pikirkan, anak muda?”

Sebuah suara. Sontak pemuda itu mengangkat wajah. Terkejut. Sejak kapan ada orang yang membersamainya.

“Apa yang kau pikirkan, Dani”.

Seorang tua. Memakai kain putih tipis yang dengan ajaibnya tak merasa kedinginan sedikitpun. Dan, hei...!

“Dari mana kau tahu namaku?”

“Tentu saja aku tahu, Dani. Untuk apa aku datang ke sini kalau aku tak tahu namamu”

“Apa….apa yang Engkau inginkan?”

“Menemuimu. Ya, hanya menemuimu. Berbicara sebentar denganmu. Tak akan lama. Apakah kau keberatan?”

Menggeleng. Lelaki muda itu hanya bisa menggeleng. Keterkejutan pada akhirnya membuat ia mengikuti saja ‘permainan’ ini.

“Ah, kenapa kau masih memikirkan hal itu, Dani? Kenapa kau tetap saja memikirkan tentang mengapa kau tetap saja begini? Mengapa kau tetap memikirkan mengapa-mengapa itu. Tentang mengapa kau tetap saja harus bekerja keras seperti ini bahkan ketika usiamu sudah menapak 20 tahun. Tentang mengapa kau mesti berhujan-hujan begini sementara yang lain mungkin sedang hangat bergelung guling di ranjang. Juga , tentang mengapa hidup seolah tak adil bahkan setelah semua penderitaan dan kerja keras itu. Mengapa kau tetap harus berdarah-darah memperjuangkan hidup sementara yang lain tertawa-tawa menikmatinya.”

“Mengapa kau tahu?”

“Kau bertanya lagi. Tentu saja aku tahu, Dani”

“Siapa kau-?”

“Tak penting siapa aku, Dani. Jauh lebih penting menanyakan siapa Kau?”

“Siapa aku? Permainan macam apa ini. Tentu saja aku tahu siapa aku. Tolong, tolong katakan apa sebenarnya maumu?”

“Untuk mengajakmu kembali, Dani”

“Kembali--?”

“Ya, kembali. Kembali yang akan menjawab semua pertanyaan itu. Kembali yang semoga membuatmu menjadi lega.” Lelaki tua itu mengalihkan pandangannya. Ke depan. Ke jalanan yang perlahan mulai sepi dari deru kendaraan. “Lihatlah ke depan, Dani. Lihat! Apa yang sekarang kau lihat?”

Ajaib. Tiba-tiba saja diantara hujan yang masih lebat itu, tergelar begitu saja sebuah pertunjukan. Tidak! Bukan satu, tapi dua pertunjukan. Tiba-tiba saja tergelar dua buah layar yang menampilkan dua potong kejadian. Begitu nyata.

“Apa yang kau lihat di layar sebelah kanan, Dani?”

“Bagaimana...Bagaimana bisa terjadi?”, anak muda bernama Dani itu tergeragap. Tak siap untuk melihat keajaiban ini.

“Jawab pertanyaanku, Dani. Apa yang kau lihat?”

“Ibu! Itu ibu”

“Benar sekali, Dani. Itu ibumu. Ibu yang kau cintai yang mungkin sekarang sedang merindukanmu, mendoakanmu di rumah. Dan anak kecil itu, Dani, yang menangis karena baru saja terjatuh itu, tentu saja itu kau. Itu kau, Dani. Kau pasti tak tahu, karena tak ada selembar foto pun yang bisa memberi tahumu tentang wajah kecilmu. Ibumu tak mungkin sempat untuk hal itu.

“Saat itu usiamu empat tahun, Dani. Lucu-lucunya. Ah bahkan kau lihat itu, kau tetap lucu meski sedang menangis. Tahukah kau mengapa kau menangis di areal persawahan itu? Saat itu kau berlarian, Dani. Kau berlarian di pematang sawah itu. Tentu saja ibumu membiarkanmu berlarian karena ia juga sibuk menyiangi rumput yang mengganggu tanaman sayurnya itu. Tak terlalu memperhatikanmu. Dan bisa ditebak, kau terjatuh dipematang sawah itu. Lalu menangis . Menangis keras.”

“Menangis--?”

“Ya, Dani. Menangis!” Lelaki tua itu menghela napas. Seolah menikmati betul raut keterkejutan yang tergambar jelas di wajah dani. “Lalu coba lihat di layar satunya. Seorang ibu dan anak kecil juga. Empat tahun juga sepertimu pada kala itu. Ini waktu yang sama saat kau menangis di sawah itu, Dani. Tapi tentu saja itu di kota yang jauh denganmu berada . Dengan latar tempat yang juga jauh berbeda. Itu mall, Dani. Mall! Pusat perbelanjaan yang saat kecil begitu ingin kau kunjungi.

“Lihatlah! Anak kecil itu menangis juga, Dani. Sama seperti kau, ia juga menangis. Menangis karena terjatuh. Dan tahukah kau kenapa ia terjatuh? Sama seperti kasusmu, Dani, karena ibunya mengabaikannya. Anak itu tiba-tiba memisahkan diri dari ibunya. Anak itu kebosanan, Dani. Anak itu kebosanan mengikuti ibunya yang sejak sejam lalu sibuk memilih pakaian mana yang harus ia beli”

“Lalu apa bedanya?”

“Tentu saja banyak bedanya, Dani. Bukankah ini yang beberapa kali kau sebut dengan ketidakberuntungan itu. Tentang nasib yang memaksamu sekecil itu harus bergulingan di pematang sawah yang mungkin saja penuh ular. Marilah kita lihat, Dani, marilah kita lihat apakah kau memang tak seberuntung itu.

“Tahukah kau, Dani, sebenarnya bapakmu telah melarang ibumu untuk membantunya di sawah. Bapakmu menginginkan ibumu biar mengasuhmu saja di runah. Menemanimu bermain. Tapi ibumi bersikeras ingin membantu, Dani. Ia bersikeras mengajakmu untuk ikut serta ke sawah. Meyakinkan bapakmu bahwa itu tak apa-apa, bahwa itu bagus untuk perkembangan psikologismu. Meyakinkan bapakmu bahwa mereka berdua harus lebih bekerja keras menjelang pendaftaran sekolah untukmu. Hingga terjadilah apa yang kau lihat itu, Dani. Kau lihat ibumu yang begitu sibuk mengurusi tamanam itu hingga terlupa olehnya dirimu. Ia sibuk, ia sibuk memikirkan baju seragam sekolah buatmu yang harus segera ia beli.

“Lalu coba lihat kembali layar satunya yang kau sebut dengan keberuntungan itu, Dani. Perempuan itu juga lalai, lalai menjaga anaknya. Tapi penyebabnya lah yang membedakannya, Dani. Perempuan itu lalai karena ia sibuk memilih baju yang bakal ia beli. Ia sibuk memilih baju manakah yang paling cocok digunakan menghadiri pernikahan puteri pejabat itu. Ia ingin terlihat wah, Dani. Ia dilanda euforia membayangkan begitu anggunya ia memakai stelan baju pesta yang dilihatnya. Dan ia melupakan anaknya. Lupa, Dani. Anaknya menjadi sama sekali tak penting. Ia baru sadar tatkala mendengar tangis anaknya itu. Berlagak tergopoh-gopoh mencari, menghampiri anaknya. Mendekapnya. Tapi kepalsuan tak mempunyai arti apa-apa di mata anak-anak, Dani. Itu sama sekali tak mampu meredakan tangisnya. Anak itu semakin menangis kencang. Membuat ibu muda itu salah tingkah dilihati orang-orang. Tentu saja ia tak terbiasa menangani anaknya yang rewel seperti itu, Dani. Tentu saja, sebab biasanya bukan dia yang mendiamkan anaknya yang rewel. Baby sitter, Dani. Baby sitter yang biasa melakukannya.

“Tapi lihat ibumu, Dani. Ibumu tak panik. Ibumu hanya tersenyum kecil melihat kau menangis. Ia menghampirimu, mendekapmu. Bercup-cup ria sambil bergumam pelan: ‘anak ibu nggak boleh nangisan. Harus kuat. Ayo, mana yang sakit biar ibu lihat. Sudah..sudah nggak papa gitu’. Dan berbeda dengan anak kecil tadi, Dani, kau seketika terdiam. Rapat memeluk ibumu. Merajuk sebentar. Bermanja-manjaan sekejap. Dan sepuluh menit berselang, kau sudah sibuk bermain kembali di pematang sawah itu. Sendiri. Ibumu bisa kembali melakukan pekerjaannya”

“Hentikan!”

“Kenapa, Dani? Oh ya, maaf kalau itu mengingatkanmu pada alamarhum bapakmu. Maaf. Itulah mengapa bapakmu tak ditampilkan dalam tayangan itu, Dani. Bapakmu sebenarnya ada juga di sawah itu. Tapi jauh dari kalian berdua. Dia sedang mengecek aliran air yang mengairi sawah.

“Tapi maaf, Dani, meski kau tak bersedia, aku mesti melanjutkannya. Meski kau masih mengingat almarhum bapakmu, aku mesti meneruskan cerita ini. Kau sudah melihatnya, Dani, dan kau berkesempatan menerima penjelasannya. Sekarang mari kita jawab pertanyaan itu, Dani, pertanyaan yang sering kali begitu mengusikmu. Inikah yang kerap kau sebut dengan ketidakberuntungan itu, Dani? Inikah? Benarkah kau lebih tidak beruntung dibandingkan anak itu? Aku tahu kau sudah memiliki jawaban, Dani, tapi tak perlu kau jawab sekarang. Simpan saja. Karena masih banyak yang ingin aku tunjukkan padamu. Masih banyak penjelasan yang harus aku sampaikan padamu.”

“Masih banyak--?”

“ya, masih banyak. Tapi kita harus berhenti sejenak. Kita perlu menikmati hujan ini bukan?. Hujan ini rahmat. Meski orang-orang mengatakannya sebagai penyebab banjir, biang longsor, atau hal-hal jelek yang lain. Tapi tetap saja hujan ini adalah anugerah, Dani. Ada janji kehidupan dari titik-titiknya. Hanya manusia saja yang serakah, Dani. Memenuhi sungai-sungai itu dengan sampah-sampah, menggunduli hutan-hutan itu dari pepohonan. Mengacaukan segalanya”

Anak muda itu hanya mematung.

“Dan aku ke sini juga karena hujan, Dani. Tadi, ketika hujan pertama kali menetes dengan derasnya, orang-orang pada mengutuknya, sumpah serapah menguar dimana-mana. Mereka tak siap mendapati hujan setiba-tiba itu. Lupa kalau dulu mereka mengharapkan hujan cepet turun kala kekeringan melanda. Tapi kau tidak, Dani. Saat hujan tiba-tiba saja turun, kau justru tersenyum. Menggumam syukur karena itu memberimu waktu mendinginkan diri. Sejenak bermain-main. Lepas dari problematika hidup. Itulah jawaban mengapa kau mendapatkan kesempatan ini, Dani.

“Kau selalu mencintai hujan. Sejak dulu. Kau teramat bandel untuk masalah ini. Kau gemar sekali hujan-hujanan. Meski ibumu sudah teriak keras-keras. Meski halilintar menggelegar keras mencekam bumi. Kau tetap saja asyik bermain di pancuran air yang mengucur dari talang tetangga itu. Saling berebut dengan teman-teman kecilmu, yang sama seperti kau, juga bandel untuk masalah hujan ini”.

Anak muda itu menelam ludah. Tersenyum kecut mendengarnya. Kata-kata pak tua itu cukup mengingatkannya akan kesenangan-kesenangan kecil itu. Hal yang teramat langka baginya.

Beberapa menit berlalu dengan hening. Meski tentu saja itu bukan berarti tak ada suara. Rinai hujan masih keras menerpa apa saja. Gaduh. Benar-benar gaduh. Tapi bukankah hening, tak selalu keadaan hampa suara?

“Kita harus memulainya lagi, Dani. Mari, lihatlah kembali kedua layar itu! Apa yang kau lihat? Apa yang kau lihat sekarang, Dani?”

(Bersambung. Insyaallah)


Saturday, October 2, 2010

menyukai itu memutuskan

Waktu ke Bandung kemarin, dari dua kali acara makan nasi kotak masakan sunda, seorang teman selalu menyodorkan terung bulat mentahnya untuk diikhlaskan pada saya. Ia, yang meskipun bisa dikata orang sunda, tak menyukai sayuran aneh itu. Dan saya, yang jawa timur asli, ia anggap menyukainya. Untungnya, anggapannya tepat, maka saya dengan ikhlas melahapnya. Padahal, itu kali pertama saya memakannya. Sepertinya, kalau tak direbus, atau digoreng, sepengetahuan saya, paling-paling terung dilodeh. Tapi, tetap saja, meski mulanya agak ragu-ragu, saya memakannya juga.

Dulu, sepanjang ingatan saya, rasa-rasanya saya tak terlalu pecinta sayur. Memakannya pun hanya sebagai pendamping nasi dan lauk. Tak lebih. Orang-orang kampung memang begitu, yang utama itu adalah nasi. Yang penting ada nasi. Yang kedua baru lauk. Terserah itu lauk apa. Tak jadi soal kala lauk itu sumber karbohodrat juga, bukan protein seperti kebanyakan lauk yan g kitas kenal. Anda akan menemukan orang-orang kampung itu lahap makan dengan lauk dadar jagung atau dadar singkong. Tanpa sayur. Dengan sambel kerek pastinya.

Saya tak tahu kapan itu bermula. Entahlah, waktu tepatnya saya tak ingat. Hanya, saya tahu sebabnya kenapa sekarang saya tiba-tiba menjadi pecinta sayur. Sayur apa saja. Mau mentah atau matang, mau yang rasanya enak maupun yang tak berasa, mau hijau atau jingga, mau yang umum-umum atau yang aneh. Sebuah sebab yang saya cetuskan sendiri, bahwa sayur itu baik bagi kesehatan. Bahwa mengonsumsinya dengan kadar yang cukup, akan membawa kebaikan bagi saya. Bahwa sayur itu identik dengan sehat.

Begitulah! Begitulah itu bermula. Maka kemudian saya menjelma menjadi pecinta sayur. Awalnya, tiap kali menemukan sayur dalam acara makan, sepertinya saya tak terlalu nafsu-nafsu amat. Hanya sugesti dalam pikiran bahwa sayur itu baik bagi kesehatanlah yang kemudian mendorong saya untuk mengambilnya dengan jumlah yang lebih banyak dari yang orang lain lakukan. Habis pula. Hingga kemudian, sugesti-sugesti yang bertumpuk-tumpuk itu, yang menghasilkan tindakan-tindakan berulang, kemudian menghasilkan sebuah kebiasaan, sebuah watak yang melekat pada diri saya. Aha, saya telah jadi pecinta sayur. Tak jadi soal apakah sayur itu enak atau tidak enak buat anggapan orang kebanyakan. Tak jadi soal. Yang penting sayur. Sayur yang mengandung vitamin dan mineral yang dibutuhkan untuk kesehatan. Cukup.

Sederhana memang. Saya menyukai sayur karena saya memutuskan untuk menyukainya. Saya memutuskan untuk menyukainya, karena saya menganggap ada kebaikan di dalamnya. Cukup. Itu saja. Soal ia dimasak dengan racikan istimewa, dengan penyajian yang yahud, itu persoalan lain, hanya bonus saja, tapi bukan menjadi sebuah syarat untuk sebuah keputusan menyukai tadi. Meski, tetap saja perlu.

Dan memang, harusnya, demikianlah! Sesederhana masalah sayur tadi, menyukai apapun, itu hanya masalah memutuskan. Sebuah keputusan yang bersumber dari keyakinan bahwa ada kebaikan pada apa yang kita sukai tersebut. Titik. Keyakinan itulah yang kemudian akan menuntun. Ketika kita merasakan betapa itu berat, betapa itu sepertinya tak nyaman, tak enak, kita akan tetap saja menyukainya –atau pada mulanya mencoba terus menyukai. Kita akan tetap menganggapnya indah. Sebab kita yakin, ada kebaikan pada itu semua. Sebab, sebuah keyakinan akan adanya kebaikan pada akhirnya, akan menegaskan pada kita, bahwa segala hal menuju itu, seberat apapun itu, adalah kebaikan juga. Hingga kemudian tak ada alasan untuk tak menyukainya. Seperti keyakinan akan adanya kebaikan pada sayur pare yang pahit, memakannya dengan ekspresi muka yang aneh sebab pahitnya pun menjadi nikmat juga. Pare yang pahit itu, tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kebaikan yang kita (yakini akan kita) dapatkan dari memakannya.

Ya…., ya….., ya….., menyukai adalah memutuskan. Maka memutuskan akan selalu butuh sebab. Sebab yang akan menentukan kualitas dan tingkat kesukaan kita. Seperti masalah sayur tadi. Ketika kita sudah memutuskan kalau kita menyukai sayur yang dimasak bening sebab itu menyegarkan, maka kesukaan itu tiba-tiba saja hilang kala kita melihat ia disajikan dalam bentuk lalapan. Beda halnya kala kita menyukai sayur sebab kita meyakini akan adanya kebaikan dari vitamin, mineral, dan serat yang dikandungnya. Masalah penyajian kemudian menjadi nomor dua. Bukan hal yang utama. Meski tetap saja perlu untuk meningkatkan tingkat kesukaaan. Tapi tidak untuk mengurangi.  Lalapan? Ok. Sayur bening? Lebih oke lagi? Sup? Mmmhhh…sepertinya maknyus.

Baiklah, jika sampai di sini, agaknya kita mulai perlu mendaftar apa saja yang harusnya kita sukai yang sampai saat ini belum kita sukai. Setelah itu, dari daftar itu, kita perlu membuat daftar sebab kenapa kita harus menyukainya. Sebab yang harusnya tak sembarang sebab. Sebab yang memungkinkan kita akan terus menyukainya, seberat apapun itu, setakmengenakkan apapun itu.  Lalu, seketika itu, kita putuskan untuk menyukainya. Pada walnya, kita mungkin merasa kalau kita menyukainya karena kita harus menyukainya. Semacam keterpaksaan. Tapi, percayalah! Seiring perjalanan waktu, ah, ternyata kita menyukainya karena memang menyukainya. Titik.

 

NB: lebih dipersembahkan untuk diri sendiri yang lebih sering membutuhkan syaratsyarat tak hakiki untuk menyukai sesuatu yang harusnya disukai.

 

Kecubung 17

(sepertinya masih pagi-selepas mbubur ayam)

 

 

Friday, October 1, 2010

kebaikan (tak ikhlas) di masa lalu

Namanya, sebut saja Dani. Adik tingkat saya di jurusan. Berselisih tiga tahun. Dulu, sewaktu orientasi mahasiswa baru (kalian boleh menyebutnya dengan OSPEK), saya jadi SC-nya. Maka, boleh jadi, di awal-awal, sayalah kakak tingkat yang paling dekat dengannya. Mungkin.

Saya bisa diskripsikan orang ini sebagai tipe mahasiswa yang SO banget. Mungkin, persangkaan saya, ia masih menjalani euforia berstatus sebagai mahasiswa. Seorang mahasiswa  yang ia bayangkan dulu pas SMA sebagai intelektual yang kerjaannya belajar terus. Maka tak heran,  seringkali pas ketemu saya, yang ia tanyakan lebih sering masalah-masalah kuliah yang sedang ia hadapi. Bahkan terkesan berlebihan. Sepertinya yang ada di kepalanya hanya masalah pelajaran. Titik. Teman-teman di angkatannya, kalau tidak salah, kerap mengecapnya sebagai mahasiswa apatis yang tak mau memikirkan masalah angkatan. Setahu saya juga, ia malas berorganisasi.

Ketemu di masjid, ia pernah menyodori saya dengan soal fisdas. Di jurusan, tak jarang ia menanyakan ini itu terkait pelajaran. Bahkan, ia nekat juga mengunjungi kontrakan saya dengan membawa serta persoalan kalkulus. Saat itu saya sudah memasuki kuliah tingkat akhir sedangkan yang ia tanyakan itu adalah kuliah-kuliah tingkat awal yang tentu saja sudah lama tak saya pelajari lagi. Hmmm, saya harus mengaku di sini, disodori seperti itu, secara seketika tanpa pemberitahuan yang memungkinkan saya bisa mempersiapkan diri dan meluangkan waktu, awalnya sempat juga agak menggerutu di hati. Yang pertama karena saya harus membuka-buka dulu bukunya sementara ia menunggu. Mempelajarinya lagi sebentar sebab materi itu sudah lama saya terima. Yang kedua karena faktor mendadak tadi; terkadang ikhlas itu butuh persiapan. Karena, boleh jadi, ada rencana-rencana pribadi yang mesti saya batalkan karena sodoran pertanyaannya itu. Tapi, untunglah, saya tak pernah menolak sergapannya dulu. Meski berat di awalnya, toh akhirnya senang juga. Ada kepuasan tiap kali mampu menjelaskan sesuatu, memecahkan soal bersama, dan saat ia puas juga atas pertemuan kita waktu itu.

Selanjutnya, saya tak terlalu up date atas perkembangannya. Sekali saja say hello, dan berlanjut bertukar sapa via internet kala saya sudah di Bontang dan ia masih di Surabaya. Sampai kemudian kemarin, ia menyapa saya ketika saya baru saja sign ini di FB. “Saya sudah ngelab sekarang, mas. Di lab Dalpro. Terimakasih untuk les privatenya dulu”, kira-kira, seperti itulah sapaannya kala itu. Tentu saja setelah saya translate ke bahasa indonesia. Gaya Suroboyoannya masih kental, hingga tak heran ia masih saja kerap menyapa saya dengan bahasa suroboyoan yang ceplas-ceplos. Saya menjawab seadanya, dan…entahlah, tiba-tiba disergap bahagia. Tak terkata. Oi, perasaan ini sungguh ajaib. Rasa-rasanya saya tak ikhlas-ikhlas amat kala itu, agak menggerutu dalam hati meski tak terlalu. Tapi, lihatlah! Demi mendengar kabar bahagia itu, demi sebuah sapaan tentang keberhasilan yang ia nyatakan ada andil saya untuk itu, ada rasa bahagia yang diam-diam merayap.Menentramkan.

Ini baru andil yang kecil saja. Tak terlalu ikhlas bahkan. Tapi sudah begitu membahagiakan. Saya jadi bertanya-tanya. Lalu, bagaimanakah perasaan orang-orang macam ini ; seorang ibu yang menyaksikan anaknya diwisuda dengan hasil memuaskan, atau seorang bapak yang melihat putera kebanggaannya menggapai impian, atau seorang guru yang menemukan muridnya menjadi seorang profesor, jauh melampaui capaiannya. Pasti, pasti membahagiakan. Amat membahagiakan.

“IP-nya berapa?”, pada akhirnya, kalimat ini yang saya lontarkan di obrolan chat FB itu. Saya tahu, permasalahan IP, atau nilai, adalah hal yang menariknya.

Ia kemudian menyebutkan angka. Terbilang bagus. Bila ia mempertahankannya untuk empat tahun kelulusannya, maka ia akan menjadi wisudawan berpredikat cumlaude. “Mas”, kemudian ia melanjutkan, “sekarang aku sudat tobat. Sudah ikut organisasi. Ikut KINI, ikut organisasi alumni ESQ. Ini juga mau daftar jadi asisten Lab”

Saya tersenyum membaca istilahnya itu; tobat. Unik sekaligus ganjil. Gaya suroboyoannya tetap saja kental. Ah, dia juga telah berubah.

“mas, saya off dulu, ya?”, saya masih bahagia ketika pada akhirnya ia undur diri dari obrolan singkat itu. Hingga kemudian namanya menghilang dari daftar kontak yang sedang on line. Saya pun memutuskan logout. Dengan satu kesadaran; saya mesti sering-sering berbuat baik. Lebih ikhlas. Untuk kebahagiaan yang lebih baik, lebih kerap, serta insyaAllah yang lebih hakiki.

 

 

NB: sepertinya ada beberapa dialog dan kronologis  yang saya modifikasi demi keperluan cerita. Tapi substansinya tetap, kok! J