“Ransel disandang di depan!”, demikian teman saya memulai menjelaskan SOP-nya. Saya terdiam tapi menuruti penjelasannya. Mengikutinya yang menuju loket penjualan tiket. Saat itu kita baru tiba di stasiun cawang.
“seribu lima ratus?”, tanya saya ketika petugas tiket memberi kembalian 2000 untuk uang lima ribu yang teman saya bayarkan untuk kami berdua. Tujuan kami, kala itu, depok. Saya tak tahu apakah itu jauh atau dekat dari cawang sini, tapi edntahlah, 1500 sepertinya sebuah nominal yang mengejutkan. Kemudian, teman saya itu, demi menjawab pertanyaan saya tadi, hanya mengangguk sambil tersenyum misterius. Mungkin ingin berkata, ‘begitulah!’
“murahnya”, spontan kata itu terucap dari mulut saya. Tentu saja murah berdasarkan subyektivitas saya. Hidup jauh dari ibu kota dan terlepas dari hingar bingar jawa memang mengharuskan saya untuk sering kali melakukan kalibrasi tiap kali harus ke jawa. Termasuk masalah harga ini.
Temen saya, lagi-lagi, hanya tersenyum, lalu menyebutkan sebuah nominal yang tergolong murah yang harus dibayar bahkan jika harus ke bogor. Saya menatapnya antusias.
Kami beruntung kala itu. KRL pertama yang akan kami tumpangi tak lama lagi akan datang. Sebuah kebetulan yang kebetulan. Atau perjodohan. Pengalaman pertama memang seringkali mengesankan.
“Usahakan nggak pakai HP saat di kereta! Lebih baik kalau ditaruh di tas saja”, kemudian, dari teman saya juga, SOP kedua saya terima. Saya menurut. Lagipula tak ada rencana melewatkan momen pertama di KRL dengan hanya sekedar main HP. Tak perlu up date status pula, kan, hanya masalah naik KRL ini?
“Dompet?”, kali ini saya yang bertanya. Yang langsung teman saya tanggapi dengan, “kalau bisa, ditaruh di tas juga. Ditaruh di tempat rahasianya”.
Lagi-lagi saya menurut. Awalnya, saya kira dengan mengancingkan saku belakang itu saja sudah cukup. Aman. Tapi, ternyata. Baiklah!
Stasiun, saat itu, lumayan ramai. Tempat duduk untuk menunggu penuh. Dan itu, pertanda kalau kami juga akan berdiri di KRL nanti. Tapi, tak masalah!
Tak lama, KRL pun datang. Orang-orang berebut naik. Dan benar, kondisi sudah penuh, meski tak terlalu penuh. Tempat duduk sudah penuh terisi dan orang-orang sudah banyak yang bergelantungan di pinggir-pinggirnya. Ternyata memang tak ada gelang-gelang untuk bergelantungan laiknya busway. Sepertinya saya terlalu menggambarkannya seperti di film-film jepang. Tapi, lagi-lagi, tak masalah!
Mirip dengan kereta kelas ekonomi. Sepertinya, seingat saya, dulu di surabaya juga ada kereta sejenis ini. Tapi tak pernah saya naiki. Hanya kereta ekonomilah yang pernah saya coba. Ya, seperti yang saya kata, mirip KRL ini. Pedagang yang lalu lalang, penumpang dengan ransel di dada, peminta-minta. Mirip! Ah, ini pemandangan yang benar-benar membangunkan rasa kemanusiaan kita.
“ini halte UI”, sepertinya baru beberapa menit saja lepas dari stasiun cawang, saat teman saya mengatakan ini, “tapi kita tak turun di sini”. Tujuan kita kala itu adalah TM Bookstore. Saya juga masih belum tahu ada di mana. “Tapi di stasiun selanjutnya”, lanjut teman saya.
Di stasiun selanjutnya kemudian kami turun. Hari telah siang, meski tak terlalu panas oleh sebab mendung. Saya biasa saja samapai menyadari ada bonus tambahan selain naik KRL perdana ini yang saya dapatkan; “kita sholat dhuhur di masjid UI dulu saja, ya?”
“dimana? Jalan kaki?”
“yup. Di situ. Dekat saja”
Tak terkata. Bahagia begitu saja rasanya. Ternyata Allah mengganti ketidakjadian menjejakkan kaki di masjid Salman ITB itu dengan kunjungan ke masjid lain yang juga ingin saya kunjungi: masjid UI.
Tak butuh waktu lama , kami pun melangkah. Di antara para mahasiswa.