Showing posts with label perjalanan. Show all posts
Showing posts with label perjalanan. Show all posts

Saturday, May 26, 2012

yang tersisa dari Bangka




Berhubung saya telah kehilangan motivasi untuk bercerita panjang lebar lewat catatan perjalanan, baiklah, gambar-gambar ini saja yang akhirnya saya tampilkan. Semoga cukup bisa merangkum perjalanan kemarin :Pelabuhan Muntok, Pantai Tanjung Pesona, Pantai Matras, Pantai Parai Tenggiri.

Salam...

Friday, January 7, 2011

denial-anger-bargaining-depression-acceptance

Kakakku yang pertama mengatakannya. Dulu.

“sudah! Diikhlaskan saja. Kalo terpaksa jadi tak enak”

Ini tentang masa kecil. Sebagai anak bungsu, saya lah yang sering kali jadi objek. Objek yang disuruh-suruh. Untuk hal yang remeh temeh memang. Yang tak perlu skill khusus, yang tak perlu tenaga ekstra, namun butuh sebuah hal yang jauh lebih berat; kelegowoan hati. Keikhlasan.

Orderan yang sering kali menyapa adalah masalah beli-membeli. “Bal, belikan garam gih!”, atau “minyak tanahnya habis, tolong belikan ke....”, atau “belikan garam ke..” adalah kalimat permintaan yang sering tertujukan padaku. Kau pasti tahu siapa yang menyeruh hal tersebut dengan membaca redaksionalnya. Ya, ibu –atau saya biasa memanggilnya emak. Maka, kau pasti paham, tak boleh ada penolakan untuk permintaan seorang ibu, kan? Dalam keadaan berat atau lapang, dalam keadaan sempit atau sesak, dalam keadaan luang atau bermain.

Begitu pun saya kala itu. Kalau tak dalam keadaan ngambek sengambek-ngambeknya, meski berat, tetap saja permintaan itu harus dilaksanakan. Meski harus bersungut-sungut melangkahkan kaki. Kadang memang tetap saja terasa berat, meskipun ada kalimat ikutan dalam permintaan ibu itu; “kembaliannya diambil saja”. Padahal, warung tempat membeli keperluan harian itu dekat saja, tak lebih dari dua kali panjang lapangan bola. Kadang berjalan kaki, kadang bahkan bisa sambil bersepeda.

Intinya memang ada pada penerimaan, pada keikhlasan, pada kelegowoan. Tak ada rasa itu lah yang menyebabkan pekerjaan membeli keperluan harian tersebut menjadi berat. Menjadi seolah sebegitu menggangunya. Padahal nyatanya tidak. Perlu waktu yang sebentar saja sebenarnya untuk menyelesaikan tugas mulia itu—maka tak akan banyak memangkas waktu main. Tak perlu tenaga banyak juga untuk menyukseskan misi agung itu –maka tak ada keletihan yang harus ditanggung di akhirnya. Jika dibuat ringan, seolah permainan, pastinya bakal menyenangkan. Bukankah, untuk keperluan pribadi, saya sering berjalan kaki berkali lipat untuk membeli sesuatu. Dan itu ringan-ringan saja.

Maka poin itulah yang diungkapkan kakakku tadi di petikan teratas. Ya, suka tak suka, ingin ataupun tak ingin, saya toh mesti melakukan permintaan ibu itu. Maka logikanya, jika memang begitu, harusnya ya dibuat ringan saja. Bersungut-sungut karena tak ikhlas toh tetap harus melangkahkan kaki, maka pilihan cerdasnya pastinya satu; tersenyum-senyum saja memulai aksi sambil menenteng botol minyak tanah oleh sebab ikhlas. Karena, tak ada opsi untuk menolak.

Namun ternyata, itulah sulitnya. Kita sering kali terbawa perasaan ketimbang logika. Padahal, dalam kalkulasi apapun, berangkat sambil tersenyum riang pastinya lebih menguntungkan daripada melangkah sambil bersungut-sungut. Toh hasilnya akan sama saja. Kita akan menempuh jarak yang sama, akan menghabiskan waktu yang kurang lebih sama, juga akan memperoleh kembalian yang sama pula. Tersenyum, lebih baik dari pada ngedumel.

Ego. Mungkin itulah. Menunjukkan ketaksukaan kita melakukan itu agar di lain waktu tak disuruh-suruh lagi? Ha ha..boleh jadi juga itu. Tapi semoga saja tidak. Toh, beberapa menit setelah misi membeli kebutuhan domestik itu terjalankan, sama sekali tak ada gurat terlipat yang tersisa dari ngedumel sewaktu melangkahkan tadi. Sempurna hilang dan terlupa. Ah, kanak-kanak.

Itu adalah cerita berhikmah di masa lalu. Tapi, ternyata, pelajaran serupa harus saya terima lagi sore itu. Mungkin yang dulu-dulu belum lulus benar. Atau mungkin ini adalah edisi pengayaan, seperti dalam pelajaran matematika jaman sekolah dulu.

Kejadiannya ada di bandung. Tiga perempat jam sebelum keberangkatan ke Jakarta. Ceritanya kurang lebih begini. Hari kamis kala itu, sehari sebelum keberangkatan, kudatangi pool travel itu untuk memesan satu tempat. Setelah bertanya-tanya tentang berbagai jurusannya, maka dipilihlah yang akan turun di daerah cikini dengan keberangkatan jam empat. Malam itu, si petugas memperlihatkan denah tempat duduk di mobil Elf itu untuk saya pilih. Saya memilih nomor 5 ketimbang nomor delapan yang berada di belakang. “mbayarnya besok saja saat mau berangkat”, demikian kata mbak petuga travel itu. Beberapa jenak kemudian sms pemberitahuan tentang pembookingan pun saya terima. Bila kalian masih ingat, travel ini adalah travel yang mengecewakan saya di saat keberangkatan Jakarta-bandung. Saya tulis di sini.

Ternyata, dua teman saya yang lain pun , memesan juga untuk pemberangkatan dan tujuan yang sama. Jadilah kita berangkat bersama.

Dan kejadiannya ada di jumat sorenya. Saat kita sudah berat-berat menyeret kopor yang berat, saat kita sudah tiga perempat jam menuju ke keberangkatan, saat kita sudah di depan loket, fakta itu tersaji. Mulanya saya tak tahu apa-apa. Mbak petugas melayani pembayaran saya seperti biasa. Tujuh puluh ribu per orang. Tarif normal. Yang beda, di bukti pembayaran, tempat duduksaya berganti menjadi nomor tujuh. Tapi tak masalah, tak ada yang perlu diributkan. Sama saja.

Keanehan justru terjadi pada teman saya yang ngantri di loket sebelah. Tarifnya Cuma enam puluh ribu per orang. Lebih murah sepuluh ribu ketimbang saya. Dan, betapa kagetnya teman saya itu, kala menyadari, kendaraan yang bakal digunakan adalah bus, bukan ELF yang hanya berisi maksimal delapan orang. Bergegas kemudian ia mengonfirmasikan ke petugas loket.

“iya, mas. Yang ke Cikini jam empat pakai bus” demikian kata mbak petugas.
“lo, teman saya ini kok bisa?” sahut teman saya sambil mengambil bukti pembayaran dari tangan saya. Di situ, memang tak ada keterangan sama sekali kalau bakal naik bus. Harganya pun normal.

Mbak petugas mengambil bukti pembayaran dari uluran tangan teman itu. Mengamati sejenak. “iya,mas. Ini juga pakai bus”, lalu lanjutnya. “nggak kamu kasih tahu kah?” kali ini ia menoleh ke petugas yang melayani saya.

Kontan saya kembali menuju ke petugas yang melayani saya tadi.Dan benar, ia mengulurkan sepuluh ribu lagi sebagai kembalian buat saya yang tadi cuma tiga puluh ribu.

“iya, mas. Naik bus” demikian katanya mengulangi temannya.Saya mencari-cari kata maaf meluncur darinya, tapi tak ketemu juga.

“La, kemarin saya wong pakai disuruh milih tempat duduk yang Elf segala”
“nomor lima ya? Iya, tapi ganti naik bus”

Hanya sampai di situ. Saya sudah kehilangan selera untuk menanggapi lebih. Tentang mengapa tadi ia diam saja dan sama sekali tak menjelaskan tentang berubahnya kendaraan menjadi bus. Tentang mengapa ia melayani saya dengan pembayaran normal seperti biasa. Tentang mengapa tak ada pemberitahuan sebelumnya. Tentang mengapa perusahaan travel sebesar ini masih saja melakukan kesalahan-kesalahan sepele tapi fatal seperti ini. Tentang, ah, apakah ia mengerti sebuah kalimat marketing yang begitu terkenal; “menurut survey, ketika seorang konsumen merasa puas dengan sebuah bentuk pelayanan atau barang maka dia akan mengatakan kepada 10 orang. Sedangkan jika orang tidak menyukai sebuah bentuk pelayanan atau barang maka dia akan mengatakannya kepada 20 orang.”

Tapi tak ada yang bisa dilakukan. Pemberangkatan dengan menggunakan Elf ke daerah Cikini, baru jam lima sore. Itu artinya satu setengah jam lagi. Mau mencari travel lain pun sudah terlambat. Maka saat itu, ketika teman saya berbicara tentang ketaknyamanan naik bus dibandingkan naik travel , saya lebih banyak terdiam saja. Bukan karena menerimanya seketika. Bukan. Hanya sedang berdialog dengan diri sendiri. Ah, ini adalah pelajaran masa kecil itu, ini adalah pelajaran hidup sederhana yang bahkan sudah saya peroleh ketika memakai seragam merah putih. Ini adalah edisi pengayaan, bukan mengulang layaknya dulu mendapat nilai D. Maka harus berbeda penyikapannya.

Yang bisa dilakukan hanyalah menata hati. Mencoba menerimanya. Karena, menerima atau menolaknya dalam hati sambil menggerutu, tetaplah saya pada akhirnya harus naik bus itu. Itu adalah pilihan yang paling realistis. Suka atau tak suka. Menggerutu atau tersenyum. Sama saja. Maka pilhan terbaiknya adalah menerimanya untuk menciptakan kenyamanan hati.

Ini, juga masalah ekpektasi ternyata. Saat kau menyiapkan hati untuk naik Elf yang lebih nyaman tempat duduknya, maka kau kecewa saat yang kau dapati adalah bus yang biasa saja. Beda halnya jika kau menyiapkan diri untuk naik kopaja-nya jakarta, kau tentu saja akan tersenyum-senyum kala yang didapati justru bus ber-AC dengan tempat duduk yang sedikit bisa diturunkan ke belakang untuk bersandar.

Akhirnya edisi itupun berlalu. Biasa-biasa saja. Tak ada yang perlu dirisaukan. Nyampai juga di Cikini meski agak sediit terlambat oleh sebab macet. Di tol pun ternyata memang macet.


Tuesday, November 30, 2010

(catatan Perjalanan3) Kepulangan

Ada yang berubah dari kota ini. Lekak-lekuknya yang dulu –semasa SMA—begitu aku akrabi kini perlahan mulai asing dan manglingi. Ada jajaran ATM kini di sudut areal kantor pos (mungkin ini sudah menjadi sebuah tuntutan). Alun-alunnya pun sudah dipermak cantik meski ukurannya mengecil. Toko-toko di kanan kiri jalan juga mulai banyak yang tak dikenali lagi.

Pasuruan dalam kacamata seorang perantau yang pulang kampung. Jelang pukul tiga dini hari. Beberapa sudut masih remang sebab tak terlalu terang tersentuh cahaya. Sebentar lagi fajar. Mungkin. Entahlah, tiba-tiba berada di daerah dengan perbedaan waktumemang  kerap kali membingungkan.

Turun dari bus antar kota dengan sedikit kebablasan itu, tak ada yang bisa kulakukan selain melangkahkan kaki menuju pusat kota. Menyeret tas yang roda-rodanya menimbulkan irama kala bergesekan dengan aspal. Suasana sepi, tapi beberapa orang nampak mulai berangkat menuju pasar. Berada di kota sendiri nampaknya memang benar-benar menimbulkan rasa nyaman, meski dalam waktu yang tak tepat seperti ini.

“kalau mau nyampai sms!’, demikian bunyi sms itu. Berjam-jam lalu, agar bisa segera dijemput. Tapi, bahkan sampai turun dari bus ini, aku masih enggan merogoh ponsel. Lebih memilih terus melangkah menuju alun-alun.

Semakin menuju alun-alun, yang persis di depannya berdiri dengan megah masjid jami’ Pasuruan, orang-orang mulai terlihat lebih banyak. Tentu saja dengan pakaian khas Pasuruan, bersarung dan berkopyah. Beberapa terlihat berangkat sambil naik motor, sedangkan satu dua yang lain lebih memilih naik becak. Juga yang berjalan saja. Yang terakhir, sepertinya rumahnya dekat saja, di gang-gang tersebut—ah, ya, kampung kauman orang-orang biasa menyebut.

Dua ratus meteran melangkah, kemudian kurogoh sakuku. Meraih ponsel lalu memencet sebuah nama. Beberapa jenak menunggu, lalu tersambung.

Berbicara….

“tak enteni nang alun-alun”

“ok”

Memutuskan sambungan dan meneruskan langkah. Beberap meter lagi hingga bayangan yang tertangkap retina adalah sebuah pemandangan yang mengingatkan kepada keduluan. Aih, dari sekian banyak perubahan itu, ini yang tak berubah ; pedagang kaki lima dengan meja panjang menjual minuman dan ketan hangat serta beberapa pengunjung bersarung  santai mengobrol. Di sanalah kemudian aku menepi.

“STMJne wonten, bu?”, pintaku pada ibu penjual. Memang pilihan itu lah yang paling masuk akal. Kopi, selain tak suka-suka amat, aku sudah merencanakan untuk segera tidur setiba di rumah demi menebus waktu tidur yang terenggut di jalanan. Sedang teh, agaknya kurang spesial untuk hari yang spesial ini.

“wonten”

“setunggal, nggih?”

Kembali duduk di bangku panjang. Menikmati Pasuruan jelang fajar. Orang-orang mulai berdatangan ketika STMJ segera tersaji. Cukup cepat. Cukup cepat pula menghangatkan badan yang terguncang-guncang sepanjang Ponorogo-Pasuruan. Hingga cepat saja menyisakan setengahnya.

“Ketane setunggal, Pak”, kali ini pertmintaan ditujukan ke yang laki-laki. Ada dua orang yang melayani penjualan itu.

Ketan! Inilah sebenarnya yang khas. Ketan dengan taburan koya dalam wadah-wadah kecil. Koya adalah serbuk yang terbuat dari kedelai sangrai dengan bumbu-bumbu tertentu yang tak terlalu kuketahui. Penjual ketan ini, yang boleh jadi bapak ibu yang sekarang melayani ini, sudah ada di sekitaran masjid jami’ ini bahkan sejak waktu yang mampu saya ingat.

Enak! Definisi inilah yang kemudian aku temukan kala telah menyantap ketan itu. Subyektif sangat mungkin. Adalah suasana, adalah tempat, adalah kenangan memang sering kali mengintervensi masalah rasa ini. Dan jelang fajar itu, aku memang memutuskan momen makan ketan itu,

Tak butuh lama untuk menandaskan ketan dan STMJ itu. Tinggal menyisakan wadah-wadah kosong yang teronggok di meja. Orang-orang pun kian berdatangan, meski berat untuk dikatakan banyak.

“Pinten, Bu?”, pada akhirnya aku menghampiri penjual itu untuk membayar.

“wolung ewu”, si Bapak, justru yang menjawabnya.

Kuserahkan selembar sepuluh ribu. Beberapa saat kutunggu hingga si bapak menyerahkan kembaliannya. Terima kasih.

Kembali duduk. Kembali menikmati kota dalam balutan remang.

Pasuruan, mungkin aku sudah tak terlalu mengenalmu. Tak lagi akrab dengan detail-detailmu lagi. Jika suatu saat ada yang bertanya tentang dimanakah letak penjual makanan yang enak, aku bakalan berpikir panjang untuk kemudian menggeleng. Tak tahu.

Lihatlah, alun-alun yang dulu penuh PKL itu kini telah cantik. Meski belum benar-benar cantik. Aku bahkan tak tahu proses pembangunannya, kapan memulainya, dan berapakah anggaran yang dibutuhkan untuknya. Benar-benar tak tahu bagaimana kota ini bertumbuh. Dengan cara apa. Tak tahu pula bagaimanakah penduduknya kini. Seperti apa.

Jalan-jalan kini penuh dengan kendaraan. Itu yang kutahu dari kepulangan dulu. Motor-motor telah meraung-raung meningkahi hari. Khas kota-kota indonesia. Kredit-kredit kepemilikan motor sepertinya semakin mudahnya. Dealer-dealer sepeda motor semakin menggila menetapkan target penjualan. Entah! Entah bakal seperti apa kota ini bertumbuh. Aku sepertinya sudah tak menjadi bagian dari itu, sayangnya. Aih, bahkan namaku telah tercoret dari catatan sipil sebagai penduduk kota ini.

Sebuah motor kemudian tepat berhenti di depanku. Bertukar senyum. Menuntaskan rindu. Aku angkat tasku. Untuk kemudian melaju. Tentu saja, aku telah menjadi salah satu dari dua orang yang melaju itu.

 

 

 baca juga : catatan perjalan 1dan catatan perjalanan 2

      

(catatan Perjalanan3) Kepulangan

Ada yang berubah dari kota ini. Lekak-lekuknya yang dulu –semasa SMA—begitu aku akrabi kini perlahan mulai asing dan manglingi. Ada jajaran ATM kini di sudut areal kantor pos (mungkin ini sudah menjadi sebuah tuntutan). Alun-alunnya pun sudah dipermak cantik meski ukurannya mengecil. Toko-toko di kanan kiri jalan juga mulai banyak yang tak dikenali lagi.

Pasuruan dalam kacamata seorang perantau yang pulang kampung. Jelang pukul tiga dini hari. Beberapa sudut masih remang sebab tak terlalu terang tersentuh cahaya. Sebentar lagi fajar. Mungkin. Entahlah, tiba-tiba berada di daerah dengan perbedaan waktumemang  kerap kali membingungkan.

Turun dari bus antar kota dengan sedikit kebablasan itu, tak ada yang bisa kulakukan selain melangkahkan kaki menuju pusat kota. Menyeret tas yang roda-rodanya menimbulkan irama kala bergesekan dengan aspal. Suasana sepi, tapi beberapa orang nampak mulai berangkat menuju pasar. Berada di kota sendiri nampaknya memang benar-benar menimbulkan rasa nyaman, meski dalam waktu yang tak tepat seperti ini.

“kalau mau nyampai sms!’, demikian bunyi sms itu. Berjam-jam lalu, agar bisa segera dijemput. Tapi, bahkan sampai turun dari bus ini, aku masih enggan merogoh ponsel. Lebih memilih terus melangkah menuju alun-alun.

Semakin menuju alun-alun, yang persis di depannya berdiri dengan megah masjid jami’ Pasuruan, orang-orang mulai terlihat lebih banyak. Tentu saja dengan pakaian khas Pasuruan, bersarung dan berkopyah. Beberapa terlihat berangkat sambil naik motor, sedangkan satu dua yang lain lebih memilih naik becak. Juga yang berjalan saja. Yang terakhir, sepertinya rumahnya dekat saja, di gang-gang tersebut—ah, ya, kampung kauman orang-orang biasa menyebut.

Dua ratus meteran melangkah, kemudian kurogoh sakuku. Meraih ponsel lalu memencet sebuah nama. Beberapa jenak menunggu, lalu tersambung.

Berbicara….

“tak enteni nang alun-alun”

“ok”

Memutuskan sambungan dan meneruskan langkah. Beberap meter lagi hingga bayangan yang tertangkap retina adalah sebuah pemandangan yang mengingatkan kepada keduluan. Aih, dari sekian banyak perubahan itu, ini yang tak berubah ; pedagang kaki lima dengan meja panjang menjual minuman dan ketan hangat serta beberapa pengunjung bersarung  santai mengobrol. Di sanalah kemudian aku menepi.

“STMJne wonten, bu?”, pintaku pada ibu penjual. Memang pilihan itu lah yang paling masuk akal. Kopi, selain tak suka-suka amat, aku sudah merencanakan untuk segera tidur setiba di rumah demi menebus waktu tidur yang terenggut di jalanan. Sedang teh, agaknya kurang spesial untuk hari yang spesial ini.

“wonten”

“setunggal, nggih?”

Kembali duduk di bangku panjang. Menikmati Pasuruan jelang fajar. Orang-orang mulai berdatangan ketika STMJ segera tersaji. Cukup cepat. Cukup cepat pula menghangatkan badan yang terguncang-guncang sepanjang Ponorogo-Pasuruan. Hingga cepat saja menyisakan setengahnya.

“Ketane setunggal, Pak”, kali ini pertmintaan ditujukan ke yang laki-laki. Ada dua orang yang melayani penjualan itu.

Ketan! Inilah sebenarnya yang khas. Ketan dengan taburan koya dalam wadah-wadah kecil. Koya adalah serbuk yang terbuat dari kedelai sangrai dengan bumbu-bumbu tertentu yang tak terlalu kuketahui. Penjual ketan ini, yang boleh jadi bapak ibu yang sekarang melayani ini, sudah ada di sekitaran masjid jami’ ini bahkan sejak waktu yang mampu saya ingat.

Enak! Definisi inilah yang kemudian aku temukan kala telah menyantap ketan itu. Subyektif sangat mungkin. Adalah suasana, adalah tempat, adalah kenangan memang sering kali mengintervensi masalah rasa ini. Dan jelang fajar itu, aku memang memutuskan momen makan ketan itu,

Tak butuh lama untuk menandaskan ketan dan STMJ itu. Tinggal menyisakan wadah-wadah kosong yang teronggok di meja. Orang-orang pun kian berdatangan, meski berat untuk dikatakan banyak.

“Pinten, Bu?”, pada akhirnya aku menghampiri penjual itu untuk membayar.

“wolung ewu”, si Bapak, justru yang menjawabnya.

Kuserahkan selembar sepuluh ribu. Beberapa saat kutunggu hingga si bapak menyerahkan kembaliannya. Terima kasih.

Kembali duduk. Kembali menikmati kota dalam balutan remang.

Pasuruan, mungkin aku sudah tak terlalu mengenalmu. Tak lagi akrab dengan detail-detailmu lagi. Jika suatu saat ada yang bertanya tentang dimanakah letak penjual makanan yang enak, aku bakalan berpikir panjang untuk kemudian menggeleng. Tak tahu.

Lihatlah, alun-alun yang dulu penuh PKL itu kini telah cantik. Meski belum benar-benar cantik. Aku bahkan tak tahu proses pembangunannya, kapan memulainya, dan berapakah anggaran yang dibutuhkan untuknya. Benar-benar tak tahu bagaimana kota ini bertumbuh. Dengan cara apa. Tak tahu pula bagaimanakah penduduknya kini. Seperti apa.

Jalan-jalan kini penuh dengan kendaraan. Itu yang kutahu dari kepulangan dulu. Motor-motor telah meraung-raung meningkahi hari. Khas kota-kota indonesia. Kredit-kredit kepemilikan motor sepertinya semakin mudahnya. Dealer-dealer sepeda motor semakin menggila menetapkan target penjualan. Entah! Entah bakal seperti apa kota ini bertumbuh. Aku sepertinya sudah tak menjadi bagian dari itu, sayangnya. Aih, bahkan namaku telah tercoret dari catatan sipil sebagai penduduk kota ini.

Sebuah motor kemudian tepat berhenti di depanku. Bertukar senyum. Menuntaskan rindu. Aku angkat tasku. Untuk kemudian melaju. Tentu saja, aku telah menjadi salah satu dari dua orang yang melaju itu.

 

 

 baca juga : catatan perjalan 1dan catatan perjalanan 2

      

Tuesday, September 28, 2010

KRL perdana

“Ransel disandang di depan!”, demikian teman saya memulai menjelaskan SOP-nya. Saya terdiam tapi menuruti penjelasannya. Mengikutinya yang menuju loket penjualan tiket. Saat itu kita baru tiba di stasiun cawang.

“seribu lima ratus?”, tanya saya ketika petugas tiket memberi kembalian 2000 untuk uang lima ribu yang teman saya bayarkan untuk kami berdua. Tujuan kami, kala itu, depok. Saya tak tahu apakah itu jauh atau dekat dari cawang sini, tapi edntahlah, 1500 sepertinya sebuah nominal yang mengejutkan. Kemudian, teman saya itu, demi menjawab pertanyaan saya tadi, hanya mengangguk sambil tersenyum misterius. Mungkin ingin berkata, ‘begitulah!’

“murahnya”, spontan kata itu terucap dari mulut saya.  Tentu saja murah berdasarkan subyektivitas saya. Hidup jauh dari ibu kota dan terlepas dari hingar bingar jawa memang mengharuskan saya untuk sering kali melakukan kalibrasi tiap kali harus ke jawa. Termasuk masalah harga ini.

Temen saya, lagi-lagi, hanya tersenyum, lalu menyebutkan sebuah nominal yang tergolong murah yang harus dibayar bahkan jika harus ke bogor. Saya menatapnya antusias.

Kami beruntung kala itu. KRL pertama yang akan kami tumpangi tak lama lagi akan datang. Sebuah kebetulan yang kebetulan. Atau perjodohan. Pengalaman pertama memang seringkali mengesankan.

“Usahakan nggak pakai HP saat di kereta! Lebih baik kalau ditaruh di tas saja”, kemudian, dari teman saya juga, SOP kedua saya terima. Saya menurut. Lagipula tak ada rencana melewatkan momen pertama di KRL dengan hanya sekedar main HP. Tak perlu up date status pula, kan, hanya masalah naik KRL ini?

“Dompet?”, kali ini saya yang bertanya. Yang langsung teman saya tanggapi dengan, “kalau bisa, ditaruh di tas juga. Ditaruh di tempat rahasianya”.

Lagi-lagi saya menurut. Awalnya, saya kira dengan mengancingkan saku belakang itu saja sudah cukup. Aman. Tapi, ternyata. Baiklah!

Stasiun, saat itu, lumayan ramai. Tempat duduk untuk menunggu penuh. Dan itu, pertanda kalau kami juga akan berdiri di KRL nanti. Tapi, tak masalah!

Tak lama, KRL pun datang. Orang-orang berebut naik. Dan benar, kondisi sudah penuh, meski tak terlalu penuh. Tempat duduk sudah penuh terisi dan orang-orang sudah banyak yang bergelantungan di pinggir-pinggirnya. Ternyata memang tak ada gelang-gelang untuk bergelantungan laiknya busway. Sepertinya saya terlalu menggambarkannya seperti di film-film jepang. Tapi, lagi-lagi, tak masalah!

Mirip dengan kereta kelas ekonomi. Sepertinya, seingat saya, dulu di surabaya juga ada kereta sejenis ini. Tapi tak pernah saya naiki. Hanya kereta ekonomilah yang pernah saya coba. Ya, seperti yang saya kata, mirip KRL ini. Pedagang yang lalu lalang, penumpang dengan ransel di dada, peminta-minta. Mirip! Ah, ini pemandangan yang benar-benar membangunkan rasa kemanusiaan kita.

“ini halte UI”, sepertinya baru beberapa menit saja lepas dari stasiun cawang, saat teman saya mengatakan ini, “tapi kita tak turun di sini”. Tujuan kita kala itu adalah TM Bookstore. Saya juga masih belum tahu ada di mana. “Tapi di stasiun selanjutnya”, lanjut teman saya.

Di stasiun selanjutnya kemudian kami turun. Hari telah siang, meski tak terlalu panas oleh sebab mendung. Saya biasa saja samapai menyadari  ada bonus tambahan selain naik KRL perdana ini yang saya dapatkan; “kita sholat dhuhur di masjid UI dulu saja, ya?”

“dimana? Jalan kaki?”

“yup. Di situ. Dekat saja”

Tak terkata. Bahagia begitu saja rasanya. Ternyata Allah mengganti ketidakjadian menjejakkan kaki di masjid Salman ITB itu dengan kunjungan ke masjid lain yang juga ingin saya kunjungi: masjid UI.

Tak butuh waktu lama , kami pun melangkah. Di antara para mahasiswa.

 

 (-dari dramatisasi pengalaman naik KRL perdana-)

Sunday, March 7, 2010

Curhat Perjalanan : Btg-Bpp-Trk

(Lanjutan dari sini)

***

Pukul tujuh pagi, hari Sabtu tepatnya, kami sepesawat lepas landas juga dari bandara PT Badak dengan menggunakan pesawat kecil Pelita Air. Ini adalah pengalaman pertama saya  menaiki pesawat jenis ini, tapi entahlah tak ada rasa ndredeg atau khawatir tatkala menaikinya seperti yang kadang diceritakan oleh teman-teman lepas menaikinya. Hanya saja, saya sempat merasa ‘berbeda’ kala memasuki ruang tunggu bandara. Memakai celana panjang (yang selalu) kepanjangan hingga selalu saya tekuk bawahnya, sebuah kaos ‘sponsor’ yang saya peroleh kala ikut lomba pemadam kebakaran sebulanan yang lalu, serta sebuah sandal slop karet kesayangan yang baru-baru saja dibeli seharga 20ribu, tiba-tiba saya merasa salah kostum demi melihat kanan kiri depan belakang saya. Saya sih memang berusaha cuek-cuek saja, tapi keadaan berbeda dengan kebanyakan itu memang sering menimbulkan ketidakenakan tersendiri. Sebuah kejelekan yang harus kita minimalisir.

Kami akan menuju Balikpapan. Jika ditempuh via darat, Bontang-balikpapan ini bisa ditempuh 5 jam. Itupun batas minimal dengan syarat jalanan lancar dan lengang. Keadaan itu, bisa didapatkan kala melakukan perjalanan darat di larut malam. Tapi dengan via udara ini, seperti yang diberitakan oleh mbak pramugari sewaktu pesawan akan lepas landas, waktu 5 jam itu bisa direduksi menjadi 35 menit saja. Cukup singkat, yang karena cukup singkatnya, buku ‘Selimut Debu’ yang saya bawa untuk membunuh jemu di udara, hanya terbaca beberapa halaman saja.

Mendarat di balikpapan dengan mulus, kami langsung menghubungi perwakilan perusahaan di bandara. Memberitahukan rencana perjalanan dinas ke tanjung selor, meminta dicarikan pesawat ke Tarakan, lalu terakhir menadatangani sebuah form isian. Tak menunggu waktu lama, kami kemudian harus segera check in, sebab ternyata pesawat menuju Tarakan akan lepas landas jam 09.40.

Bagi Anda yang tak tahu letak Bontang, Balikapapan, seta Tarakan di Peta, saya bisa memberi gambaran sederhana. Balikpapan adalah sebuah kota di Kaltim sebelah selatan, sedangkan Tarakan adalah sebuah pulau terpisah yang terletak di Kaltim sebelah utara. Sedangkan Bontang, kota tempat saya pertama kali berangkat, itu terletak di antara balikpapan dan Tarakan. Jadi jika saya awalnya terbang dari Bontang ke Balikpapan, lalu terbang lagi dari balikpapan ke tarakan, itu sama saja saya berbalik arah untuk kembali melewati kota awal saya tadi. Tapi memang begitulah, hanya dari balikpapan penerbangan ke Tarakan itu berada.

###

Saya baru tiga kali naik pesawat. Yang pertama saat saya pertama kali berangkat ke Bontang naik Lion Air, yang kedua pas pulang kampung natal kemarin naik City Link. Baik pulang atau baliknya kala itu memang naik City Link. Dan sekarang, angka itu bertambah jadi empat dengan mandala Air sebagai pengukirnya. Ya, tepat sesuai jadwal yang tertera, kami sudah memasuki pesawat. Ada mbak-mbak pramugari bermake up tebal yang (selalu) tersenyum ramah. Saya berani sumpah, jika mbak-mbak itu memakai riasan yang wajar-wajar saja, senyumnya akan jauh terlihat lebih ‘ramah’.

Terbang!! Saya cukup kaget juga melihat pesawat yang relatif penuh. Tarakan bukanlah sebuah kota besar, bukan ibu kota propinsi juga, jadi cukup mengagetkan kala penerbangannya lumayan padat penumpang—(atau karena pengetahuan penerbangan saya yang seadanya??). Awal-awal, waktu di udara saya gunakan membaca koran sindo yang kebetulan tersedia di nomor duduk sasya. Tak lama, setelah dibolak-balik, ternyata tak ada lagi yang menarik perhatian saya. Saya pun berganti dengan melanjutkan membaca ‘Selimut debu’ yang baru beberapa halaman terbaca. Tapi, lagi-lagi, tak begitu lama ngantuk mulai mendera.

Entah berapa lama saya tertidur. Saat bangun, teman saya sepertinya juga baru tertidur. Iseng-iseng kemudian teman saya membuka majalah mandala yang ada di setiap kantong depan tempat duduk kita. Teman saja itu tiba-tiba teringat ia pernah membaca artikel tentang traveling di Tarakan dalam sebuah penerbangan yang entah. Inilah kemudian kebetulan itu, ternyata memang ada panduan traveling di daerah tarakan dan Tanjung selor di majalah itu. Lengkap dengan tempat-tempat yang direkomendasikan untuk dikunjungi, serta penginapan-penginapan yang tersedia. Tak banyak memang yang ditawarkan, tapi kemudian saya tertarik pada satu tempat : Hutan Mangrove dan konservasi bekantan di Tarakan.

Tak lama ternyata penerbangan itu. Kami akhirnya mendarat juga. Sepertinya waktu perjalanan tak sampai satu jam. Entahlah, saya lupa mencatat persis pukul berapakah saya mendarat. Mungkin sewaktu balik nanti akan saya kabarkan berapa menit tepatnya. Lepas dari membaca-baca majalah itu, terdengar pengumuman kalau pesawat akan segera mendarat.

Bandara itu kecil saja. Landasannya bahkan terkesan horor dengan kanan kirinya masih tanah agak becek setelah sepertinya diguyur hujan. Waktu landing, agak ngeri-ngeri juga karena tak begitu mulus prosesinya. Namun, yang membuat terlihat hebat adalah sebuah tulisan ‘bandara Internasional’ pada nama bandara itu. Satu hal yang membuat saya bertanya-tanya, apakah parameter penyematan kata internasional pada nama sebuah bandara .
Selain Mandala Air, ternyata ada juga Batavia Air yang sedang ‘parkir’. Atau bahkan mungkin baru mendarat juga. Kamipun turun dari pesawat. Dengan setengah-setengah menutup telinga, kami cepat menuju ruangan. Berisiknya bukan main sebab ternyata si batavia Air itu mesinnya masih menyala. Serasa di ruang compresor dengan kebisingan 110 dB.

Sekecil landasannya, ruang kedatangan itu kecil juga, hanya lebih besar sedikit dari ruangan kelas SMA saya dulu. Untungnya, masih tersedia fasilitas conveyor untuk mempermudah pengambilan barang. Entahlah, mungkin conveyor ini termasuk salah satu syarat penyebutan Bandara Internasional tadi. Hanya, uniknya, saya sempat mendengar mbak petugas informasi melalui pengeras suara mengumumkan sesuatu yang menggelitik, yang intinyaa meminta pemilik mobil yang sedang terparkir dan menghalangi kendaraan pengangkut barang bagasi untuk segera menyingkirkan kendaraannya. Saya jadi berpikir, kok bisa-bisanya kendaraan itu masuk Bandara.  Ataukah kendaraan Bandara? Entahlah!!

Tapi, yang pasti, akhirnya nyampai juga… Alhamdulillah!!


Sunday, September 7, 2008

Buka Unik di UGM

Ada yang unik di UGM…

Ceritanya tentang masih hari pertama saya di UGM. Sebetulnya, ini memang hari pertama saya di UGM, tapi ini bukanlah kunjungan pertama saya di UGM. Jadi, segala sesuatu mulai teradaptasikan. Mulai sedikit biasa, meskipun saya tak mampu untuk memungkiri kalau UGM itu elegan. Mungkin kalau seorang perempuan, UGM itu ayu. Memesona. Auranya tersembul dari dalam. Bukannya cantik tapi kering. (sayang dan sayang kami kelupaan membawa (atau lebih tepatnya meminjam ) kamera....tak bisa terabadikan deh keeleganan itu)

Menjelang ashar, saya sempatkan melihat-lihat bazar buku di sekitaran masjid kampus UGM (ini bukan keunikan yang ingin saya ceritakan, karena pada kunjungan pertama saya dulu, saya sudah tahu kalau tiap ramadhan ada bazar buku di sepanjang koridor sekitar masjid itu). Ada sih beberapa buku yang menarik ingin dibeli, tapi saya pendam keinginan itu mengingat masih banyak buku yang saya beli belum terselesaikan membacanya. Tapi, kemudian mata saya tertumbuk bukunya Tere Liye yang judulnya ”Rembulan Tenggelam Di Wajahmu”. Saya sudah membaca buku itu, tapi ingin saja membeli buku itu sebagai koleksi sebab dari lima buku Tere Liye pasca ”Hafalan Sholat Delisa” hanya buku itu yang belum saya punya. Sempat ingin membawa buku itu ke mas yang njaga, tapi segera saya urungkan. Mungkin nanti atau besok saya beli kalau keputusan saya berubah.

Adzan ashar berkumandang. Orang-orang yang tiduran di masjid (nah ini yang nggak ada bedanya dengan di ITS : masjid jadi tempat favorit untuk tiduran saat Ramadhan) bergegas mengambil wudhu. Saya sih punya wudhu jadi langsung saja ke barisan shof sholat.

Selesai sholat, tilawah sebentar. Sempat terjadi diskusi kecil antara saya dan teman saya apakah akan berbuka di masjid ini atau pulang saja ke penginapan. Dan, setelah memastikan ke seorang teman yang kuliah di UGM apakah di masjid UGM menyediakan makanan untuk berbuka, keputusan pun jatuh ke alternatif pertama : berbuka di masjid. (keputusan yang nanti tak kami sesali demi sebuah pengalaman, atau pemandangan baru yang kami temui)

Sudah bisa ditebak, apakah gerangan yang kami lakukan untuk mengisi waktu antara ashar dan maghrib? Yup benar. Tiduran. Saat itulah kami baru sadar bahwa kami belum istirahat sama sekali sejak perjalanan tadi. Terasa sekali lelah mengikis fisik kami. Maka, tanpa tertahankan lagi, kami mengambil posisi paling privaci untuk merebahkan tubuh penat kami. Di bagian belakang, di bawah tangga. Bersisian, tanpa bantal. (bahkan jaket). Sambil mendekap rapat laptop yang kami letakkan di tengah-tengah.

Tapi, belum genap setengah jam mata kami terpejam, kami terbangun. Suara seseorang memakai pengeras suaralah yang membangunkan itu. Ternyata ada kajian. Sang MC meminta semua orang yang masih berada di pinggir untuk segera merapat ke depan untuk mengikuti kajian (walaupun saya tahu jelas kalau permintaan itu sebenarnya lengkapnya berbunyi : mohon untuk yang tidur untuk segera bangun dan mulai mengikuti kajian). Kamipun bangun. Tak ada pilihan lain. Lelah memang masih bergelanjut. Tapi mau apa lagi. Mana mungkin kami tetap tiduran sementara di depan ada seorang ustadz memaparkan materi penuh ilmu. Tapi kami tak mendekat. Masih terduduk di tempat semula sambil perlahan mengembalikan kesadaran. Toh dari tempat ini suara sang ustadz bisa tertangkap jelas.

Materi kajiannya adalah tentang puasa dan kesehatan. Baru setelah sekitar setengah jam terbengong-bengong di kejauhan, kami mengambil air wudhu dan merapat ke tengah. Bergabung dengan orang-orang lain yang sudah memenuhi ruangan tengah (lumayan juga lo yang ikut kajian). Pengisinya adalah seorang dosen dari farmasi UGM, jadi kelihatannya lumayan berkompeten untuk mengisi materi ini.

Jam lima lebih sedikit, makanan diedarkan. Sebungkus nasi. Satu orang dapat satu. Tidak seperti di ITS yang empat bungkus untuk berlima, atau kalau lagi membludak jamaahnya malah tiga bungkus untuk berempat. Sempat bingung juga, bertanya-tanya dalam hati di manakah gerangan kami akan makan sedangkan di sepanjang bangunan masjid terpampang pengumuman ’dilarang makan dan minum di masjid’. Sedangkan yang datang begitu banyaknya. Tapi akhirnya pertanyaan itu terjawab dengan segera. Pas setelah kajian berakhir, seluruh jamaah kemudian beringsut ke sisi sebelah selatan. Melewati taman masjid. Tujuannya hanya satu : mengambil minum dan buah. Di sanalah akhirnya kami mendapatkan jawabannya. Seorang panitia berkali-kali mengingatkan kalau makannya di areal taman. Tak boleh di masjid.

Ohhhh... berkali-kali saya terbengong-bengong. Ternyata buka puasa di sini bergaya pesta kebun. Tiba-tiba saja orang-orang mulai membentuk kelompok kecil dan enjoy saja duduk di rerumputan. Meletakkan nasi bungkus dan segelas tehnya di depan. Bercengkerama. Sementara yang lain ada yang terlihat menyudut. Menikmati kesendirian saat waktu paling ditunggu itu datang. Saat satu dari dua kebahagiaan yang dijanjikan bagi orang yang berpuasa itu hadir.Bebas dengan pikirannya. Beberapa yang lain memilih duduk-duduk di bibir kolam yang mengering airnya. Lagi-lagi mengobrol sambil memadang lalu lintas di bawah. Dan di sisi timur, akhowat juga melakukan hal yang serupa. Lebih banyak yang mengelompok kayak halaqoh. Melingkar. Di bawah pohon palm. Atau di sisi sebuah pager tanaman. Lalu, dari bawah, nampak beberapa orang menaiki tangga (mungkin kurang bisa memahami bagi yang belum pernah lihat masjid UGM). Bergabung dengan yang lain. Tampaknya mereka hanya ingin mencari momen berbuka saja. Di tangan mereka sudah tertenteng menu berbuka. Uighhh....suasana ini, pemandangan ini, keadaan ini, tak pelak lagi menerbitkan ketakjuban. Tiba-tiba saya tersergap pesona. Damai saja melihatnya. Tentram. Tapi tak membuai. Padahal sebelumnya, siang harinya, hati ini sempat dongkol. Marah, tapi entah ke siapa. Berprasangka macem-macem.Di sepanjang jalan, di warung-warung, orang-orang dengan enjoynya melahap hidangan. Tanpa risih, tanpa rasa bersalah, tanpa upaya untuk menutup-nutupi.

Adzan maghrib berkumandang. (Ternyata) teh tanpa gula sebagai pembuka. Tak apalah!