Thursday, January 6, 2011
Wednesday, January 5, 2011
bukan tentang dimananya, tapi tentang kau, serta orang-orang yang membersamaimu
Rindu! Aku rindu rumah, rindu kamar kecilku, rindu bantal teposnya, rindu tiap aromanya.
Demikianlah! Itu adalah kata-kata lazim yang diucapkan oleh seseorang yang rindu. Kala jarak memisahkannya dengan kampung halaman. Rindu rumah, rindu kamar tidurnya, rindu kucingnya. Benarkah? Benarkah benda dan suasana itu yang mereka rindui? Bohong! Saat mereka berkata kalau sedang rindu rumahnya, rindu dengan tiap detail kamar tidurnya, rindu dengan masakan rumahnya, mereka sebenarnya sedang rindu dengan orang-orangnya. Mereka sedang rindu dengan ayahnya, atau Ibunya, atau adik nakalnya, atau kakak pendiamnya, atau neneknya.
Mereka tak mau mengakuinya. Segan, canggung, malu, atau apalah. Mereka memilih untuk memakai sarana. Mereka memakai sesuatu yang sesuatu itu membawa keotomatisan pada yang benar-benar mereka rindui. Maka lihatlah! Lihatlah saat pertemuan itu terlaksana, saat kesempatan pulang kampung itu datang. Bukan kamar yang langsung mereka tuju—bukankah mereka sering mengumbar kerinduan akan kamarnya. Bukan aroma rumahnya yang mereka ciumi hingga terpuaskan –bukankah aroma itu yang kerap mereka katakan amat mereka rindui. Bukan! Bukan juga tiap detail rumahnya yang langsung ia seksamai. Tapi lihatlah! Lihatlah mereka yang mencium tangan ibunya, bapaknya. Menatap kedua bola mata mereka lama-lama. Lamat-lamat. Mendekap hangat kakaknya. Memeluk jahil adiknya. Mengobrol lama. Menceritakan kisah-kisah. Melupakan perkara aroma rumah, kamar kesayangan, atau detail fisik lain yang awalnya mereka nyatakan sebagai pemicu datangnya rindu. Orang-orangnyalah yang ia rindui, bukan benda-bendanya.
Orang-orangnya lah yang penting. Ya, orang-orangnya lah yang menentukan. Maka lihatlah juga lelaki ini. Di Bandung, di Jawa, yang seringkali dianggap surga bagi orang-orang pedalaman. Sebuah tempat pemutus rutinitas, yang pada mulanya ia anggap akan menajanjikan banyak hal, ternyata hanya begitu saja. Sebab memang bukan tentang dimananya yang penting, tapi tentang siapa yang membersamaimu lah yang menjadi penting. Bukan tentang Bandung, Bontang, Jakarta, Surabaya, atau Balikpapan. Bukan tentang pantai, hutan, gunung, kota, atau desa. Tapi tentang dengan siapa kau melewatkannya. Orangnya lah yang primer, baru kemudian tempatnya. Maka bila kau bersama dengan orang yang tepat, yang kau nyamani, segala tempat menjadi tepat. Jika tidak, maka segala tempat menjadi tak tepat. Bahkan di sebuah tempat yang kau anggap membahagiakan. Sebab yang paling menyakitkan dari sebuah kesendirian itu bukan saat kita sedih, tapi saat kita bahagia dan tertawa riang namun tak ada seorang teman untuk kita bisa membagi kebahagian itu. Kalimat itu ada di film cinta silver. Tapi bagi saya, kata ‘teman’ seharusnya menjadi ‘teman yang tepat’. Kau pasti sering mengalami hal ini, di sebuah tempat yang indah, di sebuah tempat yang mampu membasahkan lisanmu dengan kalimat tasbih, kau ingin ada seseorang yang membersamai. Seseorang yang spesifik. Sama-sama menatap indahnya, sama-sama merasakan sejuknya, sama-sama mendengarkan merdunya. Dan perasaan seperti itu, perasaan membayangkan seseorang tadi benar-benar membersamai menikmati semuanya, justru malah menyedihkan.
Maka kau perlu bertanya, jika ada orang yang berkata ‘rumahku seperti neraka’, atau merasa tak nyaman dengan rumah kecilnya yang penuh sesak, tentang satu hal. Atau dua hal mungkin. Tapi bukan tentang rumahnya yang perlu kau tanyakan mula-mula. Meski itulah yang ia keluhkan pada awalnya. Kau perlu tanyakan tentang ia sendiri. Orang seperti apakah dia. Orang seperti bagaimanakah dia. Setelah itu, kau mesti bertanya, orang yang bagaimanakah yang membersamainya. Sebab itulah justru poin pentingnya. Tak ada rumah yang terlalu sesak untuk dua jiwa yang lapang. Yang menemukan harmoni dalam kolaborasinya. Yang menemukan ketersalingan indah dalam hubungannya. Tempat menjadi sekunder. Bangunan fisik menjadi yang kedua.
Bukan tentang dimananya, tapi tentang kau, serta orang-orang yang membersamaimu.
Selamat malam
#ketika justru merindukan bontang dan orang-orangnya (Bohong! Ia tak rindu bontang. Ia hanya rindu orang di bontang), atau rumah.
Tuesday, January 4, 2011
Monday, January 3, 2011
The Gogons james & incridible incident
| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Literature & Fiction |
| Author: | tere liye |
Bergenre metropop, atau seperti itulah yang tersebut dalam cover novel setebal 285 halaman ini. Sebuah genre yang wajar oleh sebab buku ini tak diterbitkan oleh Republika, penerbit yang selama ini kerap menerbitkan karya-karyanya dengan tema yang lebih religius (meski sering kali ditolak sendiri oleh penulisnya). Kalau dilihat pertama kali terbitnya, 2006, maka buku ini terbit setelah buku sensasionalnya yang kemudian melejitkan namanya : Hafalan Shalat Delisa.
Bercerita tentang sebuah geng persahabatan. The Gogons nama geng tersebut. Terdiri atas enam cowok metroseksual yang dipertemukan oleh abjad pertama nama mereka. Persahabatan yang bermula dari bangku kuliah yang berlanjut hingga pasca kuliah saat mereka telah mapan dengan hidupnya. Enam tahun persahabatan yang diisi dengan hal-hal konyol dan gila. Untungnya, kekonyolan dan kegilaan tersebut tak menjurus ke hal-hal negatif.
Ari, James, Azhar, Adi, Diar, dan Dito. Itulah nama keenam anggota geng The Gogons itu. Ditambah Citra dan Dahlia yang menjadi anggota tak resmi geng tersebut. Tak resmi, sebab hanya sekali-kali saja mereka berdua bergabung dengan acara geng tersebut. Cerita bermula ketika geng tersebut berkunjung ke Bali untuk menghadiri pernikahan salah satu anggotanya, Adi. Awal yang ceria, begitulah yang tertangkap. Kelucuan, kekonyolan, serta candaan khas sebuah persahabatan memenuhi awal novel ini. Sampai sejauh ini cerita sepertinya bakal datar-datar saja. Sebuah persahabatan yang indah dengan segala bumbu-bumbu kekonyolannya. Di awal-awal inilah, karakter masing-masing tokoh perlahan diperkenalkan.
Masalah itu bermula dari sebuah mimpi aneh James, si cowok play boy anggota geng tersebut, saat berada dalam penerbangan Bali-Jakarta. Sebenarnya, ini bukan mimpi aneh nan menyeramkan yang pertama, di pembukaan novel ini sudah disebutkan tentang James yang mimpi aneh juga. Mimpi aneh yang segera terlupakan saat James terbangun, meski di mimoi itu jelas-jelas ada kalimat ‘terkutuklah!’. Nah, di penerbangan itulah, setelah bangun dari mimpi, saat James menyadari ternyata penerbangan telah berakhir, tak terduga James bertemu dengan Weni. Seseorang dari masa lalulnya. Seseorang dari masa kanak-kanaknya yang seketika mampu menerbangkannya kembali ke masa kanak-kanak, yang seketika mampu mendesak-desak keluar tabiat playboynya dari pikirannya.
Tentu saja ini tak berlanjut datar-datar saja. Pertemuan itu tak berakhir dengan saling tukar nomor Hape atau bertanya alamat, atau bahkan sekedar bertanya tentang bagaimanakah mereka setelah belasan tahun berpisah. Tidak! James lupa untuk menanyakan hal tersebut bahkan ketika mereka akhirnya berpisah. Kelupaan yang kemudian merepotkannya, sebab di kemudian hari dia lah yang blingsatan mencari keberadaan Weni.
Dan tragedi pun dimulai. Satu persatu masalah superserius menggerogoti pertemanan mereka. Bermula dari Diar, si cowok manis yang ternyata divonis menderita diabetes (‘lihatlah, bagaimana mungkin hal ini datang saat ia menapaki karir menjanjikan untuk membuktikan banyak hal pada ayahnya yang selalu menomorsekiankan dirinya’). Bukan diabetes yang biasa sebab itu sudah mengalami komplikasi. Kemudian Azhar yang mengalami kecelakaan parah saat berboncengan dengan Dahlia (‘lihatlah, bagimana kecelakaan itu justru terjadi saat pertama kali mereka kencan –itu jika berboncengan pulang di sebut kencan. Setelah enam tahun yang malu-malu’). Juga Dito yang tertangkap membawa heroin di bandara Soekarno-Hatta. Juga Adi yang terancam mengakhiri pernikahannya dengan sebuah perceraian. Juga Ari! Ari yang mempunyai penyakit mental bawaan, yang selama enam tahun belakangan ini menemukan comfort zonenya lewat persahabatan The Gogons, seketika kembali tertekan oleh rentetan kejadian yang mencabik-cabik persahabatan mereka; menjadi gila.
Dan tentu saja James. James yang terpenjara oleh masa lalunya. Tentang Weni yang selalu muncul secara tiba-tiba, dan seringnya sekelebatan, di hari-hari tak mengenakkan. Juga tentang lelaki dengan wajah menyenangkan. Lelaki dengan wajah menyenangkan? Hei, jika kalian pembaca buku-buku Tere Liye maka kalian akan menemukan kosakata yang sama di buku Rembulan Tenggelam Di Wajahmu.
Tapi tentu saja Tere Liye tak hanya menyajikan tragedi demi tragedi:
“Kau lihat, kehidupan telah menghianati. Semuanya sia-sia. PERCUMA. Dan kenapa harus terjadi sekarang, kenapa tidak dari dulu saja, sebelum semuanya menjanjikan banyak hal.” Diar menggigit bibir.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Azhar menengadahkan mukanya ke atas.
“Tidak, Yar! Tidak ada yang sia-sia. Tidak ada yang percuma! Bukanlah kau-lah yang selama ini bilang hidup ini berarti, sekecil apapun itu. Bukankah waktu kita bertengkar di Bali kau berkata, kehidupan ini adalah rangkaian pengorbanan yang indah......Tak peduli harus terjadi dulu, atau sekarang, tak pedulu kecil atau beaar....”
Percakapan itu terjadi di hal 147-148. Antara Diar dan Azhar di sebuah kamar rumah sakit tempat diar dirawat. Rangkain pengorbanan yang indah, sikulus sebab akibat, itulah dua hal yang memang kerap mengisi halaman-halaman buku tere liye. Juga termasuk buku ini. Maka buku ini menyajuikan lebih dari sebuah novel metro po biasa. Beberapa kali perlu merenung larut dalam cerita. Beberapa kali harus berkaca-kaca (Tere Liye tetap saja jago dalam hal ini. Dengan kata-kata sederhana tetap saja ia mampu membawa kita dalam perasaan si tokoh). Beberapa kali bahkan tersenyum agak tertahan.
Namun, seperti halnya novel-novel Tere Liye yang lain, memang seringkali ada kebetulan-kebetulan yang sering, ketakbiasaan-ketakbiasaan. Kadang itu mengganggu. Tapi entahlah. Seperti halnya di buku-buku yang lain, ketakbiasaan itu, kita (-atau saya-) terima sebagai sebuah kelumrahan. Perkara ini, mungkin dipengaruhi oleh bagaimana seorang penulis membawakan ceritanya.
Hanya saja endingnya yang kemudian sedikit menggantung. Ada pencerahan, tapi belum sebuah penyelesaian. Hal yang kemudian sedikit dimaklumi mengingat novel ini diniatkan untuk bersekuel. Sayangnya, sekuelnya sampai saat ini belum juga diterbitkan. Kita tunggu saja.
Saturday, January 1, 2011
--lelaki kelak
---
hari ini aku termenung
tentang hal-hal di masa kecil yang aku malui
betapa kini aku banggai
tentang hal-hal di masa kecil yang aku malui
betapa kini aku banggai
membuatku bertanyatanya
tentang kekinian yang begitu berat kulakui
agaknya kelak yang bakal teguh kusyukuri
tentang kekinian yang begitu berat kulakui
agaknya kelak yang bakal teguh kusyukuri
lalu aku lemparkan pertanyaan itu: "kapankah kelak?"
kau menjawab, "yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya"
kau menjawab, "yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya"
ruang barat
Subscribe to:
Posts (Atom)