Thursday, May 12, 2011

Wednesday, May 4, 2011

lontong balap kenangan

Lontong balap. Barangkali tak ada yang spesial dari makanan ini. Hanya lontong yang diiris-iris, lento dan tahu yang juga diiris, lalu tauge dalam kuah yang agak coklat. Sambalnya sejenis petis berwarna coklat agak kehitaman. Lalu  ada kerang ditusuk batang kecil bambu, membentuk seolah sate, sebagai pelengkap.

Tak ada yang spesial. Ya, mungkin itulah yang bisa saya ungkapkan. Sebagai sesorang yang tak terlalu suka menjelajahi rumah-rumah makan untuk wisata kuliner, menurut saya, tak ada yang spesial dari makanan itu. Enak sih enak, tapi tak ada yang spesial. Hingga saya tak perlu mengorbankan satu dua hal untuk mendapatkannya. Ini lah yang kemudian berlaku umum, tiap harinya saya lebih suka mencari makan di tempat-tempat terdekat dari rumah. Lebih praktis, lebih cepat.  Tak ada rutinitas berburu makanan-makanan aneh di tempat-tempat jauh.

Tapi pagi itu, menjadi agak sedikit beda lah kesimpulan itu. Sudah ribuan kali sepertinya jalan itu saya lewati. Namun baru kali itu, ada sebuah warung kecil terbuat dari tripleks yang membuat saya berjanji untuk menghampirinya sepulang kerja sorenya nanti. Dilihat dari bangunannya, agaknya warung itu baru saja berdiri. Mungkin baru satu dua hari ini. Apa yang tertulis di spanduk depannya itu lah yang menggerakkan saya: “sedia lontong balap.”

Sudah sering saya bilang, bukan tentang kapan, bukan tentang dimana, atau juga bukan tentang apa, tapi tentang siapa itu lah yang penting. Membaca spanduk itu, saya tak teringat lentonya yang boleh jadi enak, atau teringat surabaya sebagai asal makanan ini, tapi saya teringat sebuah nama. Awalnya saya tak terlalu menyadari hal ini, tapi saya juga tak bisa berbohong, bahwa kenangan bersama itu lah yang menggerakkan ini. Apa yang membuat saya tiba-tiba menginginkan lontong balap itu kala melihatnya adalah memori tentang peristiwa tiga tahunan yang lalu. Di sebuah warung tenda kecil pinggir jalan, berbatasan dengan kawat berduri dimana di seberangnya ada hamparan sawi, di sebuah kota dimana sekitar empat tahun hidup ini merunuti jalannya, saya pernah makan lontong balap ini berdua dengan seorang kawan. Mungkin begitu menikmati saat-saat itu, hingga mudah saja terbangkitkan. Bahkan ketika hitungan tahun telah begitu cepat menjalar.

Maka, seperti yang sudah disebutkan, berjanjilah saya untuk mampir di sore harinya. Bukan untuk dibungkus, sebab itu akan mengurangi memorabilianya. Tapi dimakan di situ, meski harus sendiri menghabiskannya. Sayang sekali, saya tak kepikiran untuk meng-SMS-nya kala mulai menikmati tiap sendok kenikmatannya.

Begitulah! Kenangan, akan senantiasa untuk mencoba kembali bangkit di kekinian. Mungkin itulah kenapa, jika tak ditujukan untuk mengambil pelajaran, kita dilarang untuk mengingat-ingat kebiasaan buruk kita di masa lalu.

“akh, jika sedang menurun, setidaknya cobalah mengingat-ingat romantisme ketika pertama kali halaqoh. Semoga itu bisa menjadi pemicu semangat”

Menjadi benarlah nasehat pendek itu empat hari lalu. Dalam sebuah lingkaran kecil. Di malam yang menjelang larut.



#buat bai: kapan kita kembali menikmati lontong balap depan Perumahan Galaksi? Kali ini berempat. Bersama istri dan juniormu. Ataukah berlima?

Tuesday, May 3, 2011

Denger2 RI 1 mw k Bontang..

(bukan resensi): Sketsa - Ari Nur

Pernah suatu kali, seorang kawan  mengatakan tentang ketidaksukaannya terhadap sebuah novel yang memaparkan kehidupan sebuah rumah tangga yang awalnya baik-baik saja, kemudian rusak atau terguncang oleh suatu sebab. Entah, saya agak-agak lupa alasannya mengapa ia mempunyai sikap itu. Mungkin karena ia terlalu merasainya, hingga merasa keberatan jika sebuah kebahagiaan yang sudah terpampang itu, meski tergoncangkan. Atau ia merasa itu adalah sebuah stimulus yang tak terlalu positif, hingga menimbulkan kecemasan. Saat itu ia sedang membicarakan novel ‘Dilatasi Memori’ dan ‘Istana Kedua’. Saya sedang menanyainya tentang novel ‘Istana Kedua’ yang baru saja ia pinjam dari saya. Ini adalah kebiasaan lama, menanyai teman yang baru meminjam buku tentang buku yang ia pinjam itu.

Bagi anda pecinta buku pasti paham isi kedua buku itu. Dilatasi Memori menggambarkan sebuah keluarga kecil bahagia dengan satu orang anak yang menjadi goncang dengan kehadiran orang ketiga. Sedang istana kedua, lebih ekstrem lagi, menceritakan kehidupan sebuah keluarga dengan beberapa anak, bahkan boleh dikatakan sebagai keluarga dakwah, yang tiba-tiba terguncang hebat kala sang istri menyadari akan adanya istana lain bagi si suami.

Mendapatkan penjelasan tentang ketaksukaan ini, tentu saja membuat saya berpikir sejenak. Pasalnya, saya sama sekali tak memasukkan unsur itu dalam variabel yang menentukan suka tidaknya saya terhadap sebuah buku. Menurut saya, dilatasi maupun istana adalah buku bagus. Terlepas dengan ceritanya yang bermula dari sebuah kebahagiaan yang tiba-tiba goyah. Toh, pada akhirnya ada penyelesaiannya, atau minimal ada penjelasan baiknya. Mungkin karena saya lebih sering melihat sebuah buku dari bagaimana ceritanya dipaparkan kepada kita.

Tapi memang tak selamanya itu. Saya tak suka terhadap sebuah buku yang menampilkan tokoh utama secara sadar berlaku buruk tanpa ia sesali sekalipun. Bukan sebuah tampilan buruk yang berguna untuk membangun cerita, agar pada akhirnya diambil hikmah. Tapi sebuah kebiasaan buruk, ataulah tak baik, yang ditampilkan si tokoh utama secara vulgar dan sadar, tanpa ada pembahasaan kalau itu sebenarnya tak baik. Ketaksukaan ini, memang tak serta merta membuat saya tak suka secara overall  pada cerita sebuah buku.

Okelah, anda mungkin dapat berkilah bahwa kita adalah pembaca bijak yang sudah tahu mana yang baik mana yang buruk. Bahwa kita memiliki daya saring yang kuat yang mampu menyaring mana yang mesti ditelan, mana tidak.  Tapi bagi saya yang inginnya memiliki semua buku yang saya senangi, hal ini menjadi cerita lain. Sebab nantinya buku-buku itu tak hanya dibaca oleh saya. Tapi juga oleh teman-teman saya, oleh keluarga saya, oleh anak-anak saya. Jika ada ketakbaikan dalam buku itu yang ditangkap si peminjam dan kemudian ia mengimplementasikannya, sedikit banyak saya punya andil dalam ketakbaikan itu.

Maka ketika membaca novel Sketsa karangan Ari Nur Utami ini, ada kernyitan di dahi. Ada rasa ketaksetujuan tentang bagaimana penulis menjadikan si ini begini, si itu begitu, meski itu juga tak mengurangi ketertarikan saya untuk terus melembarinya. Mungkin karena pikiran saya sudah tertutupi oleh sosok Rani dalam serial Diorama, hingga mengharapkan sosok Katarina –tokoh tama dalam novel sketsa ini- tak jauh beda dengannya.

Bercerita tentang seorang arsitek bernama Katarina yang mendapati karya arsitekturnya dicuri sebuah perusahaan ternama, tak bisa dipungkiri novel ini berhasil mengikat antusiasme saya untuk berusaha segera menyelesaikannya. Dunia arsitektur yang ditawarkan di novel ini adalah sebuah hal yang baru dan segar sehingga cukup memberi stimulus yang baik bagi saya untuk terus membacanya. Istilah-istilah yang baru, latar yang baru, dunia yang baru, adalah kombinasi yang menyegarkan di tengah serbuah novel-novel dengan dunia yang itu-itu saja.

Hanya saja kemudian timbul ketaksetujuan. Satu persatu, sedkit demi sedikit. Tak terlalu tak setuju, sih, memang, tapi cukup memberi gangguan kecil. Berbicara tentang dunia kebanyakan, bukan sebuah lingkungan yang steril, mungkin saya mengharapkan sosok Katarina akan menjadi sosok yang se-imun Rani dalam serial Diorama. Tapi nyatanya tidak. Meski digambarkan kalau Katarina adalah seorang yang alim lewat pembicaraan rekan-rekan kerjanya yang doyan ngerumpi, tetap saja katarina orang kebanyakan  –mungkin ini baik juga, karena jika Katarina menjadi sosok yang begitu imun, cerita ini  bisa saja terkesan melangit. Di novel ini bahkan penulis sepertinya sedikit menyembunyikan tampilan Katarina. Entah karena menyadari kalau novel ini tak seislami novel-novelnya yang sebelumnya, atau entah karena alasan yang lain. Kalau saya tak salah, sepertinya penggambaran kalau Katarina adalah perempuan berjilbab disampaikan secara tak lugas di awal-awal. Di halaman terakhir saja penggambaran itu dinyatakan secara jelas.

Ketaksukaan pertama adalah kala ada bibit suka yang terkesan dipelihara dalam diri Katarina pada  Edwin, sang direktur keuangan muda yang seorang Cina. Pasalnya apa? Sebab ia sudah berkeluarga, sebab ia sudah mempunyai seorang suami. Meski tak terlalu membahagiakan memang pernikahan itu. Meski sosok Andri, suaminya, bukanlah sosok yang seperhatian seperti di awal pernikahan. Tapi, ah, Ya Tuhan, jangan sampai ada cerita si tokoh utama mengakhiri rumah tangganya hanya karena adanya rasa suka pada orang ketiga.

Cinta..cinta..cinta.. Ini kemudian ketaksukaan kedua. Saya sih suka-suka saja asalkan tak berlebihan. Tapi bagi saya di novel ini terasa berlebihan. Sepertinya banyak sekali cerita tentang jatuh cinta. Baik menimpa tokoh utamanya, maupun figuran. Penggambaran tentang bagaimana Katarina merasakan ada sesuatu semacam rasa suka pada Edwin, dan sebaliknya, bagi saya agak berlebihan. Tentang rasa rindu, cemas, dan sejenisnya. Oke, mungkin memang ada rasa cinta semacam itu. Tapi bukankah mereka sudah sama-sama dewasa? Entahlah! Mungkin saya yang kurang pengetahuan tentang hal ini.

Tapi tenang saja, ini novel bagus, kok. Minimal bagi saya. Jarang-jarang saya mau ngelembur  sampai larut malam untuk membaca sebuah novel. Bahkan angka tiga hari untuk menyelesaikan buku setebal 400an halaman ini, bagi saya adalah sebuah rekor baru, minimal untuk dua tahun belakangan ini. Ada rasa penasaran tiap kali menyelesaikan satu bab, menginginkan membaca bab lanjutannya. Konflik bergantian, antara konflik pribadi dengan konflik pekerjaan. Atau bahkan saling menghimpit dan bertindih. Anda akan disuguhi dunia properti dan arsitektur yang mungkin asing bagi kebanyakan.

Jadi novel ini bercerita tentang apa? Jawabannya pastinya bukan tentang dunia arsitektur, sebab itu hanyalah latarnya. Yang benar, versi saya, ini novel tentang Katarina dan Edwin. Tentang seorang arsitek dari sebuah biro kecil  yang mendapati karya arsitekturnya dicuri perusahaan ternama  dan tiba-tiba sudah berdiri megah dan mendapatkan penghargaan. Lalu, memutuskan untuk masuk dalam perusahaan itu, berniat untuk menyelidiki, berniat untuk menghancurkan dari dalam. Lalu bertemulah ia dengan Edwin. Lalu akan banyak kemungkinan dari sana.

Tertarik? Silakan langsung hubungi penulisnya. 69 ribu saja, langsung terkirim ke seluruh indonesia. (aturan ini benar-benar menguntungkan bagi orang pedalaman macam saya)

Sunday, May 1, 2011

Bookahloc: April '11

Baik. Awalnya memang saya sempat berkoar-koar kalau bulan april ini akan menjadi bulan yang penuh buku. Maksudnya, bakal akan ada buku yang lebih banyak terbaca dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Itu adalaha kesimpulan di awaln bulan kala baru beberapa hari saja melepas angka satu pada kalender april, saya sudah menyelesaikan satu buku. Hebat, pikir saya. Apalagi kala menyeksamai kalender lagi, ada tanggal merah berhimpit dengan sabtu. Long weekend. Bakal menjadi akhir pekan yang bertema warna-warni buku pastinya.

Tapi kemudian, menjelang akhir april, ketika menghitung buku yang kelar dibaca, saya sadar koar-koar awal bulan itu ternyata tak menyata. Meski ada sedikit kemajuan dalam hal antusiasme membaca, saya sadar bahwa membaca adalah sebuah pekerjaan yang memerlukan waktu pribadi. Karena prbadi itulah, ironisnya, lebih sering mendapat sisa-sisa. Setelah waktu untuk pekerjaan , setelah waktu untuk sosial, juga mungkin setelah waktu keluarga (tentu saja keluarga yang saya maksud bukan keluarga dalam makna sempit).

Ini mungkin tentang kekurangan tekat. Penyakit lama, meski tak terlalu kronis untuk bulan april ini, masih saja menyerang. Ketiduran di sofa sambil memeluk buku, masih terjadi. Sebenarnya menyesal juga kala terjaga dari tidur itu. Memandang buku yang kadang kala terjatuh ke lantai. Tentang waktu membaca yang tak termanfaatkan. Tapi apa daya? Mungkin karena menjadi waktu sisa tadilah, hanya lelah yang ada. Menjadi cepat sekali mengantuk (untuk kemudian tertidur) kala buku yang diba lebih banyak mengambil porsi pikiran, bukan hati.

Dan libur tiga hari yang kusebut di depan, berantakan. Tak ada libur. Meski tak harus masuk penuh, tetap saja merusak semuanya. Merusak skenario-skenario. Dan tentu saja merusak acara pesta buku tadi.

Lalu, dari semua itu, ini lah yang kemudian selesai terbaca.
1.Surat Kecil Untuk Tuhan: Sebuah novel bersumber dari kisah nyata. Jika saja digarap dengan lebih baik, dengan diksi yang oke, dengan gaya penceritaan yang mengalir lembut, novel ini boleh jadi bakal semengharu-biru ‘Seliter Air Mata’nya dorama Jepang itu.

2.Bete After Merit: Jika ingin membaca persoalan pernikahan seringan membaca novel, baca lah buku ini. Sebab Tasaro lah penulisnya. Kau pasti sudah mengenal sosok penulis ini sebagai penulis yang kaya akan diksi yang ebak dibaca.

3.Selimut Debu: wah, saya suka sekali buku traveling yang tak biasa ini. Tidak, Agustinus Wibowo tak mengajari saya tentang tips praktis berpetualang, atau tentang bagaimana cara menjangkau sebuah tempat, apalagi memberi informasi tentang berapa anggaran yang diperlukan. Tapi ia, dengan gaya penuturannya yang begitu enak dibaca, mengajak pikiran saya berpetualang bersama petualangan raganya. Menelusuri lekuk-lekuk afghanistan, ke sudut-sudut terpencil, ke desa-desa asing, yang membuat saya berseru dalam hati ‘gila, nih, orang’. Agustinus berhasil membidik dengan tepat kesadaran saya. Ia tak memberi panduan praktis, tapi ia membangunkan jiwa petualang saya yang mungkin amat-amat tumpul. Lepas membaca buku ini, entah mengapa saya jadi ingin pergi ke tempat-tempat jauh. Tak penting kemana, yang penting tempat-tempat yang baru, melihat dunia baru.

4.Ayahku (Bukan) Pembohong: buku kesekian Tere Liye yang saya baca. Sangat khas, meski kali ini diterbitkan Gramedia. Buku ini menjadi pas kala bahasan tentang bapak begitu terngiang-ngiang dalam pikiran saya akhir-akhir ini.

5.Waarisan Sang Murabbi: Akhirnya selesai juga buku ini, kawan! Perlu pelan-pelan memang membaca pemikiran Ustad Rahmat ini. Dimamah pelan-pelan, direnungi, dicermati, sampai pada keputusan untuk menelannya. “seonggok kemanusiaan terkapar. Siapa yang mengaku bertanggung jawab? Tak satupun. Bila semua pihak menghindar, biarlah saya menanggungnya, semua atau sebagiannya. Saya harus mengambil alih tanggung jawab dengan kesedihan yang sungguh, seperti saya menangisinya saat pertama kalimenginjakkan kaki di mata air peradaban modern, beberapa waktu silam’

Yup, lima saja memang. Masih tak beranjak dari prestasi bulan lalu.
Untuk bulan depan, semoga tiga buku ini sudah terlaporkan berstatus terbaca. Sebab tiga buku ini lah yang sedang saya baca:
1.Sketsa- Ari Nur Utami (tentang Arsitektur, euy!—membuat saya berpikir, membuat novel tentang pabrik kayake oke)
2.Ramadhan di Musim Gugur (harusnya pas Ramadhan, ya, bacanya?)
3.Catatan Muslimah Belanda