Showing posts with label anakanak. Show all posts
Showing posts with label anakanak. Show all posts

Thursday, June 9, 2011

Rayhan Yang Mencoba Menata Keramik (kehidupan)

(aduh, mengapa saya jadi banyak menulis tentang anak-anak)

Di sebuah siang yang sudah melelahkan. Kami, orang-orang (yang ngakunya telah)dewasa, sudah tak terlalu banyak melakukan aktivitas yang berarti. Lebih banyak yang duduk ndeprok, bahkan beberapa sudah tiduran. Mencoba menguapkan penat yang mulai menggejala. Hanya bincang-bincang santai yang terdengar.Tapi, tidak buat anak-anak, bukan? Di masa aktif-aktifnya itu, ada saja cadangan energi yang ia miliki untuk mendukung tiap aktivitasnya yang bagi kita orang-orang dewasa terlihat melelahkan. Tetap semangat jalan hilir mudik, tetap riang melakukan ini itu.

Juga seorang anak usia dua tahunan itu. Rayhan namanya. Putera seorang saudara jauh. Di siang itu, dalam keadaan lelah, ketika para orang tua amat mudah tersulut emosinya, ia sibuk mengutak-atik pecahan keramik itu. Memang, entah karena apa, ada sebuah keramik peyusun lantai ruangan itu pecah menjadi beberapa bagian. Menjadi pecahan besar dan kecil. Sepertinya, si pemilik belum berminat untuk memperbaikinya, terlihat dengan hanya menata pecahan keramik itu di tempat aslinya, tidak menggantinya dengan yang baru. Mungkin karena ruangan itu yang bukanlah ruangan penting hingga tak terlalu memusingkannya.

Di sanalah Rayhan bermain sendiri. Asyik memindahkan pecahan-pecahan keramik itu dari tempat semula ia tertata. Asyik bagi dia, tapi terlihat tidak asyik bagi orang tua dan tantenya. Mereka mulai berkomentar tentang sikap Rayhan ini yang bagi mereka tak seharusnya, apalagi di rumah orang seperti ini. Saat itu lah, entah datang dari mana, kesaadaran itu muncul. Inilah saatnya, ini lah saat memraktekkan apa-apa yang terbaca di buku-buku parenting itu. Maka kemudian saya melangkah mendekatinya. Rayhan ini adalah tipe anak yang cepat akrab dengan orang asing. Sam seperti keponakan saya itu, terakhir kali melihatnya ketika ia masih dalam gendongan ibunya. Entah saat masih usia berapa bulan.Tapi beberap jam sebelum kejadian ini, dengan om asingnya ini, ia sudah berani memencet laptop saya ketika saya asyik menulis.

Saya kemudian jongkok di depannya. Mengambil jarak yang dekat. Pecahan keramik-keramik itu, sudah sempurna berpindah tempat dari awal mulanya. Maka tak perlu menunggu lama, ini lah saat yang tepat. Saya harus mengambil alih persoalan ini..

“nah, sekarang waktunya Rayhan menata kembali. Om kasih waktu lima menit. Bagaimana?”

Suara saya buat menyenangkan. Bukan sebuah perintah. Mencoba membuat ini sebagai sebuah bagian permainan tadi. Tapi tak ada tanggapan dari rayhan.

“jadi, ya? Satu..”, saya mulai menghitung. Menjadikan ini seperti permainan adu kecepatan. “dua”, ia mulai memunguti keramik pertama, mencoba menatanya, “tiga”, sebuah keramik tepat ia susun. Ah, bukankah ini mirip permainan puzzle, “empat”, ia terlihat kebingungan menaruh sebuah pecahan keramik ke sudut yang mana. Saya menikmati permainan ini. Tak mencoba memberitahunya. “lima”, ia mengambil potongan keramik lain. “enam”.....

Sampai seorang tantenya datang, dan membuyarkan semuanya... “Rayhan ini biasa! Ayo, cepat dibereskan!” Begitulah kalimat yang keluar. Tentu saja dengan intonasi yang tak menyenangkan. Saya terbengong sebentar, mencoba mengatasi keadaan. Tapi tak mungkin juga berdebat di waktu itu, bukan?

Selesai! Akhirnya acara menata keramik itu selesai dengan ending yang tak mengenakkan. Si tante mengambil alih urusan, dengan sedikit kasar menuntun tangan Rayhan meletakkan potongan keramik di tempatnya yang benar. Saya terdiam. Saya hanyalah seorang om jauh, yang sedang belajar. Bukan orang tuanya. Bukan tantenya.

***

Kawan, kejadian itu, menyadarkan saya bahwa keberhasilan mendidik anak-anak, bukan hanya tentang mendidik anak-anaknya itu sendiri. Tapi juga tentang ‘mendidik’ lingkungan terdekat. Bagiamana mendidik keluarga, bagaimana mendidik tetangga, bagaimana mendidik teman-teman. Sebab anak-anak kita itu, tak akan 24 jam ada dalam pengawasan kita. Ada kalanya ia mesti digendong neneknya, ada kalanya ia diajak main pamannya, ada kalanya pula ia sedang jalan-jalan ke rumah tetangga. Maka apa yang ia serap, boleh jadi tak melulu dari kita (yang pastinya ingin sebuah kebaikan). Tapi juga dari orang-orang lingkup terdekat kita itu. Ada yang tak sesuai mungkin dengan konsep kita, bahkan beberapa boleh jadi bertolak belakang. Menjadi tugas kita lah kemudian untuk menetralisirnya.


@ruang tunggu bandara juanda
10 juni 2011

Thursday, September 16, 2010

pembiaran-

Saya baru saja keluar dari masjid kala menemukan bocah kecil itu berdiri di halaman masjid dalam keadaan seperti kebingungan. Wajahnya menatap ke dalam masjid tapi ragu apakah akan memutuskan menuju ke sana. Usianya masih masuk kategori batita dan tentu saja saya mengenalnya sebab setahu saya ia seringkali saya temukan di masjid bersama ayahnya.

Tebakan saya kala itu ia sedang kehilangan ayahnya dan sedang mencari-cari lewat pandangnya dari halaman masjid. Saya yang seringkali menepuk-nepuk pelan pipi bocah tersebut kemudian berinisiatif mengajaknya menemui ayahnya. Tapi sial bagi saya sebab ternyata saya agak ragu jamaah yang manakah bapak si bocah ini. Sepertinya saya lebih sering memperhatikan si bocah daripada si ayah bocah. Maka, kemudian saya tawarkan saja pada si bocah untuk mencari sendiri ayahnya sambil saya temani. Mungkin ia dilanda rasa takut berada dalam keadaan sendirian dan kehilangan sehingga masjid yang harusnya sudah familiar baginya menjadi tempat yang asing untuk ia jelajahi. Sayapun mulai hendak menuntunnya masuk kembali ke dalam masjid. Tapi, ternyata ajakan saya kemudian tak berbalas. Si bocah kemudian tetap bergeming. Tak menunjukkan niatan untuk mengiyakan ajakan saya. Dan, saat itulah ia terlihat mulai merengek dengan suara pelan yang memelas. Ada yang tertahan dari suaranya. Saya baru sadar, dari intensitas pertemuan kami yang sering itu, baru kali ini saya melihatnya (akan) menangis.

Untungnya, di saat saya bingung, seorang jamaah lain menghampiri dan mampu mengidentifikasi siapakah gerangan ayah si bocah kecil ini. Dan…aha, ternyata tebakan ragu-ragu saya di awal tadi benar. Ayah si bocah sebenarnya berada tak jauh dari lokasi. Ia sedang berdzikir di serambi masjid dan tentu saja mudah sekali menatap kami yang di luar tersebut. Tapi ternyata, di saat kami ingin memberitahu si ayah tentang keadaan si bocah, ia memeberikan sebuah kode yang membuat kami serta merta mengerti apa yang sedang terjadi. Kami pun memutuskan pergi dan meninggalkan si bocah.

Pembiaran! Ya, si bapak sedang melakukan pembiaran pada si bocah. Saya tak tahu mengapa bapak itu sampai melakukannya dan dengan harapan apa tepatnya bapak itu melakukannya. Hanya, yang saya tahu, bapak itu melakukannya.

Pembiaran! Ya, boleh jadi, itulah cara terbaiknya. Karena, seperti yang dikemukakan Anis Matta dalam Serial Cinta, tidak semua masalah memang harus diselesaikan. Karena memang ada banyak masalah yang justru selesai karena tidak dipikirkan dan tidak diselesaikan.

Dan pada kasus si bocah, bagi si ayah, membiarkannya sendiri itulah mungkin yang dianggap jalan terbaik menyelesaikan masalah pada si bocah. Membiarkan ia melakukan ‘pelepasan’. Perlu ketegaan memang. Tapi menjadi tak apa asal ada keyakinan bahwa si bocah akan baik-baik saja pada akhirnya. Sebab, lagi-lagi menurut Anis matta dalam bahasan yang sama, mekanisme pembiaran menuntut adanya keyakinan dan sedikit ketegaan.

Keyakinan dan ketegaan. Dua itu harus ada. Atau mungkin lebih tepatnya, dalam sebuah pembiaran, harus ada keyakinan dalam ketegaan . Yakin bahwa si bocah akan ‘terselesaikan’ dengan sendirinya dan pada akhirnya dengan sedikit malu-malu akan kembali menghampiri kita dengan lebih tenang tanpa masalah. Masalahnya sudah ‘terlepaskan’ dan ia sudah ‘tak bermasalah’. Dan mungkin pada saat itulah saat tepat untuk sebuah penjelasan.  Sebab memberi penjelasan saat ia tengah dalam puncak masalah, seringkali malah memperkeruh masalah.

Maka keyakinan, menjadi unsur penting dalam hal ini. Sebab pembiaran tanpa adanya keyakinan , hanyalah bentuk lain dari pelepasan tanggung jawab, atau pelarian dari masalah. Jika yang sebelumnya adalah penyelesaian dengan sendirinya, maka yang ini adalah kamuflase masalah. Atau penundaan.

Ada banyak masalah yang tak perlu kita selesaikan sebenarnya. Maka pengalaman, dan pemahaman, adalah instrument penting untuk membedakannya dari yang lainnya. Pengalaman menuntun kita untuk sebuah kecepatan, sedangkan pemahaman akan membuahkan ketepatan. Sehingga kemudian kita melihat, pengalaman tanpa pemahaman, lebih sering menghasilkan orang yang cepat gagal atau cepat berhasil dalam menyelesaikan masalah. Sedangkan pemahaman tanpa pengalaman, seringkali menghasilkan keputusan tepat yang lebih lamban dari yang seharusnya bisa dilakukan. Yang berbahaya kemudian adalah, orang yang tak memilki keduanya. Anda pasti tahu sendiri kelanjutannya.

Wallahu a’lam.

  

Tuesday, October 7, 2008

anak-anak........

Jangan melarang, itu tidak efektif. Tapi alihkan perhatiannya.

Demikianlah kata ari nur, secara tak langsung, lewat tokoh rani dalam novelnya yang berjudul dilatasi memori. Saat itu rani mendapati anaknya, rifki, tak mau untuk mematikan televise. Padahal acara yang tayang hanyalah gossip-gosip sama telenovela. Seperti yang disebutkan di atas, rani tidak melarang anaknya itu serta merta, karena menurutnya, kalau dilarang rifki malah penasaran dan akan menonton secara sembunyi-sembunyi ketika orang tua tidak ada. Saat itu ia hanya mencoba mengalihkan perhatian anaknya itu. Menghindar pergi dan tak menemani anaknya itu nonton.

“kok mama pegi sih?”. Anaknya bertanya. (pancingan pertama berhasil).

“mama mau main.”

“aaa..mama sini, dooong!”

“nggak ah. Mama mau main.”

“main apa, ma?”. (pancingan kedua berhasil)

“makanya siniiii...ikut mama main”.

Demikianlah, akhirnya rifki terlupa dari televisinya. Rani dengan lihai mengalihkan perhatian anaknya itu, dengan hal yang lebih menarik mungkin dari sekedar nonton televise.

Dan begitulah, sampai saat ini sebenarnya saya tak pernah membaca buku yang spesifik memmbahas tentang psikologi anak serta tetak bengeknya. Tidak juga mengikuti kajian tentang itu. Hanya sekali dua kali saja kebetulan ketemu artikel tentang itu di media massa dan kemudian membacanya. Manggut-manggut sebentar. Dan, ya sudah! Cukup sebagai pengetahuan.

Saya percaya, bukan hal yang terpat lagi mendidik anak hanya dengan pelarangan-pelarangan tak berdasar, pembohongan-pembohongan gaya lama. Tidak, itu tak baik bagi perkembangan anak. Kejam sekali menurut saya orang tua yang melakukan itu pada anaknya.

Namun begitu, saya jarang atau bahkan belum pernah menerapkannya. Tentu saja, karena saya belum punya anak. Sebenarnya, hal yang disebutkan ari nur dalam novelnya itu banyak juga yang diterapkan masyarakat. Minimal masyarakat sekitar saya. Hanya saja cara pengalihan perhatiannya yang tidak benar. Karena caranya lagi-lagi menggunakan pembohongan. Tak ada cara jelek untuk menyampaikan hal baik, demikian salah satu pernyataan Mario Teguh dalam suatu acara di metro tv beberapa hari yang lalu. Karena, itu akan menyebabkan kebaikan itu jadi terlihat jelek.

“cup..cup..cup...engkok lek gak meneng diparani wewe lo.”. Aduh, mana coba hubungan antara menangisnya anak dengan wewe tadi. Lagipula, ini secara tak langsung juga mengajarkan si anak untuk mempercayai hal-hal tahayul macam itu.

“gak bisa...mallnya kebakaran”. Ini adalah salah satu cara orangtua menenangkan anaknya yang merengek minta ke mall yang pernah saya dengar. Pembohongan. Pantas di negeri ini penuh dengan pembohong-pembohong wong sejak kecil sudah sering  dibohongi, demikian ucap salah satu pembicara dalam sebuah kajian yang saya ikuti. Sebenarya, anak juga mengerti apakah alasan itu cukup rasional apa nggak. Tapi kitalah yang begitu malasnya untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak kita. Sulit memang, sulit karena itu itu tak jarang harus dilakukan di tengah kesibukan yang melelahkan. Tapi hasil yang akan diperoleh insyaallah  bakalan setimpal dengan usahanya.

Banyak sebenarnya contoh yang lain. Salah satu yang cukup populer di daerah saya adalah “orang gila”. Memanfaatkan orang gila untuk menakut-nakuti anak dengan harapan berhenti dari tangisnya. Tentu saja ini amat tak baik bagi psilokogi anak.

Tapi, meskipun tak setuju dengan hal-hal tersebut di atas, saya lebih sering tak bisa berbuat apa-apa (kadang karena memang bukan wilayah saya, kadang juga begitu jahatnya membatin kalau itu toh bukan anak saya, lagi malas). Hanya menggerutu dalam hati. Sampai lebaran kemarin kesempatan itu datang. Pagi hari ketika saya baca-baca di ruang tamu sambil ngemil kue lebaran, keponakan saya nangis. Umurnya masih lima tahun. Cewek. Dari rengekannya terdengar jelas kalau ia minta ke kolam renang. Di desa saya memang ada pemandian umum yang tiket masuknya sekitar 4000. Tentu saja ibunya menolak, pagi-pagi begini, lagipula ayahnya sudah berangkat kerja. Perasaan memang baru dua atau tiga hari yang lalu saja keponakan saya itu merengek minta kesana dan dituruti oleh orang tuanya. Tapi keponakan saya terus merengek, malah minta ayahnya suruh pulang. Gawat. Tentu saja ibunya yang sedang menyapu itu hanya ngomel-ngomel tak mengizinkan. Mengeluarkan kosakata yang tak sepantasnya diucapkan ke anak kecil. Beruntunglah, pagi itu saya lagi baik. Biasa-biasanya sih ikutan berpikir pendek marah-marah, atau minimal tak peduli. Cuek bebek. Saya pun mendekati keponakan saya itu. Alangkah jahatnya saya kalau tahu ilmunya tapi tak mengaplikasikannya.

Keponakan saya itu tiduran di ranjang sambil merengek. Menutup wajahnya dengan bantal. Bila itu sudah dilakukannya pertanda kalau ia lagi ngambek. Bakalan lama reda tangisnya. Saya pun menjajarinya tidur. Saya teringata bahwa awal-awal lebaran kemarin saya memdongengi keponakan saya ini tentang delisa, seorang tokoh rekaan dalam novel hafalan sholat delisa. Dan kemarin itu, cerita itu bersambung. Saya males waktu itu melanjutkannya. Maka saya pun menawarinya untuk melanjutkannya. Ia tak menolak juga tak mengiyakan. Sayapun mulai membisikkan kelanjutan cerita itu. Awalnya ia tak peduli, tetap menangis. Tapi saya teruskan. Hingga ketika saya sampai pada ketika tsunami menerjang, tangisnya mulai perlahan mereda dan ia merespon.

“keseret--??”. Ia bertanya.

“inggih... keseret. Kesilep. Ngerti kesilep?”. Saya balik bertanya, mengajaknya  berpartisipasi dan berharap ia melupakan masalah kolam renang itu.

“ngerti...ono ningsore banyu”. He..he. Saya tersesyum dalam hati, ternyata anak kecil punya definisi-definisi unik yang bahkan tak saya perkirakan sebelumnya. Usaha saya mulai menampakkan hasil.

Demikianlah, sampai akhirnya ia lupa sudah dengan kolam renang. Kembali bangkit dari ranjang dan mulai ceria. Saya tak menyangka bahwa urusan ini ternyata mudah saja. Cerita tadi, ternyata lebih menarik baginya, dibandingkan harus bersusah payah menangis tanpa kejelasan hasil .

Tapi siangnya saya terkaget. Saat itu saya tidur di kamar. Keponakan saya merengek lagi. Dan apa yang direngekkan membuat saya tersenyum geli.

“yahh....nang kolam”.

Ternyata, siang itu ayahnya hanya kerja setengah hari, mungkin karena hari pertama masuk.  Saya pun geleng-geleng kepala. Saya sungguh keliru, urusan kolam renang ini tidak benar-benar terlupa dari kehendaknya. Tadi pagi, usaha saya saya itu ternyata hanyalah penundaan saja.

Tapi siang itu saya tak bangkit. Tak lagi meneruskan sekuel lanjutan delisa tadi. Biarlah, lagian ke kolam renang itung-itung buat latihan renang baginya.

Beberapa saat kemudian terdengat suara sepeda terstarter. Sebelumnya, tangis keponakan saya itu reda. Dan tentu saja, redanya karena kehendaknya dituruti ayahnya.