“Yang berbuat salah kemungkinan bakal bisa berbuat benar, demikian pula yang benar, ada kemungkinan bakal berbuat salah”
Seorang bapak melemparkan kalimat itu di pagi tadi. Membuat saya sejenak mencerna dan merenungkannya.Kalimata sederhana memang, tapi bisa berarti dalam. Betapa sekarang, boleh jadi tak banyak yang benar-benar memahami kalimat ini dengan benar. Apalagi sampai mengaplikasikan makna yang tersirat darinya.
Pagi itu dalam sebuah sambungan telpon kami berbicara tentang kambing hitam. Kambing hitam dalam artian konotatif.Tentang seseorang yang sukanya mencari kambing hitam atas sebuah kesalahan. Lalu mencacimakinya dengan sebuah umpatan menusuk, melukai, dan teramat kasar hingga seolah si bersalah adalah orang yang tak mungkin berbuat benar. Menggoblokkannya dengan penggoblokan yang terlalu. Seolah si terdakwa adalah orang yang bakal abadi dengan kesalahannya. Seolah si pencaci adalah orang benar yang tak akan mungkin berbuat kesalahan (yang sama). Juga seolah si benar adalah si orang yang kekal dalam kebenarannya.
Mungkin rumusan ini sudah benar-benar tersingkirkan; Bahwa kita yang benar kali ini, boleh jadi akan salah di lain waktu. Dan kita yang salah kali ini, amat sangat mungkin bakal benar di lain kesempatan. Maka semuanya haruslah sewajarnya. Sebab ternyata kita semua, amat sangat mungkin berada di posisi manapun. Tak terkecuali menjadi si bersalah itu. Jadi jika pada suatu kesempatan kita dalam posisi benar, lalu ada seorang yang berbuat kesalahan (tak disengaja), dan kita memutuskan untuk membodoh-bodohkannya, mencacinya habis-habisan, maka itu tak ubahnya kita yang sedang mencaci dan membodohkan diri sendiri untuk sebuah waktu di masa depan. Sebab ternyata memang tak ada yang bisa menjamin kalau kita bakal terbebas dari kesalahan yang sama.
Maka mungkin yang kita butuhkan sering-sering adalah tarikan nafas panjang. Lalu istighfar. Mengandaikan kita sendiri lah yang berada dalam posisi tersalahkan. Sehingga kita tak akan larut dalam keasyikan mencari kambing hitam, tak juga terbuai dengan enaknya menyalah-nyalahkan. Kita akan bergerak mencari penyelesaian. Sebab ternyata memang tak banyak masalah yang terselesaikan dengan hanya mengetahui siapa yang salah. Lebih banyak bahkan tak penting untuk tahu siapa yang salah. Tersebut atau tidak si bersalah, sama saja.
Yang terpenting memang evaluasi. Agar kesalahan yang sama tak terulang. Tentang mengapa itu bisa terjadi, tentang apa yang mesti dilakukan. Bukan tentang siapa yang paling salah, dan bukan tentang ‘kok bisa-bisanya sih dia melakukan kebodohan itu?’. Sebab orang yang terlalu ribut mencari siapa yang mengunci pintu yang sebelumnya terbuka, sering kali terlupa kalau ada pintu lain yang tak terkunci. Sebuah pintun yang kemudian memungkinkannya meloloskan diri dari gedung pengap itu.
Punishment memang perlu. Sebagai reminder. Sebagai jalan perbaikan. Maka, karena tujuannya baik itulah sudah menjadi sebuah keharusan kalau itu dilakukan dengan baik-baik pula. Sebab memang tak ada kebaikan yang ditempuh dengan cara tak baik, sama seperti halnya tak mungkin ketakbaikan berubah menjadi kebaikan hanya karena ditempuh dengan cara-cara baik. Hingga, jika kita ingin si bersalah tak melakukan lagi kesalahannya, maka cara-cara seperti mencaci dan menggoblokkan sudah pasti tereliminir demi melihat tujuan tadi. Karena, selain ia belum tentu mampu memperbaiki kesalahannya, cara itu sudah barang tentu menggoreskan satu luka di hatinya. Luka yang mungkin butuh waktu lama untuk menyembuhkannya.Bahkan akan mungkin terpendam. Terpendam untuk bisa mencuat kapan saja.
Maka benarlah apa yang diucapkan ust Umar Mitha dalam tausiyahnya Ramadhan lalu; Kau jangan sedih saat orang tak menyukaimu karena kebenaranmu. Tapi sedihlah saat orang tak menyukaimu karena akhlakmu.
Ah, semoga akhlak bagus kita, turut serta mengiringi kebenaran kita,
Wallahu a’lam
19 sept 2010
Pinggiran Raden Saleh