Showing posts with label kematian. Show all posts
Showing posts with label kematian. Show all posts

Friday, May 20, 2011

berita-berita kematian

Marilah sejenak kita merenung, ada berapa banyak kiranya, berita-berita kematian lalu lalang di hadapan kita. Memberi variasi dalam gegap gempita informasi yang begitu deras menyergap hari-hari kita. Baik itu kematian orang-orang yang kita kenal—keluarga, teman, rekan kerja, atau bahkan orang-orang yang sama sekali tak kita kenal. Entah melalui sms, pengumuman-pengumuman, berita tv, atau pembicaraan orang-orang. Agaknya, jawaban untuk itu adalah ini; amat banyak.

Seperti juga jawaban itu, berita kematian itu juga teramat sering menyapa saya. Sistem paging via pengeras suara di tempat saya kerja memungkinkan untuk tiap ada karyawan yang meninggal, atau orang tua nya, untuk di informasukan ke semua unit kerja, pabrik dan non pabrik. Menyela setiap aktivitas untuk sekejap terhenti. Bahkan meeting sekalipun.

Namun kemudian, pertanyaannya lagi, dari sekian banyak berita-berita kematian itu, berapa banyak sih yang benar-benar membangunkan kesadaran kita. Membuat kita tertunduk dalam, benar-benar ternasehati, untuk kemudian memikirkan banyak hal. Bukan hanya ucapan spontan ‘inna lillahi wainna ilayhi roji’un’ yang boleh jadi tak meresap sama sekali esensinya. Kalau saya boleh sok tahu, barangkali jawaban untuk itu adalah tak banyak, atau bahkan amat sedikit.

Saya pun, seperti halnya jawaban itu, mungkin juga begitu. Berita-berita kematian itu lebih banyak lalu lalang saja. Tak ada bedanya. Tak ada spesial-spesialnya. Hilang begitu saja, tak membekas.

Entahlah, mungkin hati ini yang telah membatu, yang begitu bebalnya hingga mengabaikan begitu saja paket-paket nasehat yang secara periodik disiapkan Allah. Tak merasa perlu menjengkali diri. Tak merasa penting menafakuri keadaan. Berita-berita itu datang, untuk kemudian berlalu tanpa makna.

Padahal kematian adalah sebenar-benar nasehat. Jika itu tak mampu lagi menasehati kita, apa lagi yang kita harapkan mampu mengetuk nurani kita. Jika sebuah kepastian yang harusnya menyadarkan kita atas tujuan hidup kita, tak lagi memberi dampak atas kehidupan kita, apalagi yang lain. Bukankah tak benar-benar hidup, orang yang tak mengingat mati.

Astaghfirullah.

o0o

Ah, tulisan ini mungkin harus membelok. Tentang kematian Nurul F Huda lah awalnya saya menuliskan ini. Tentang sedikit orang yang kematiannya membuat saya tertunduk, merangkai kejadian-kejadian, untuk kemudian ternasehati. Tentang sedikit orang-orang yang kematiannya, tak hanya hidupnya, mampu memberi kebaikan pada sesamanya.

Tapi mungkin ini lah jalannya. Lepas kata ‘astaghfirullah’ sempurna terketik, ketika saya masih merangkai-kata lanjutan untuk membuka paragraph lanjutannya, sebuah sms masuk. Mungkin balasan atas sms yang beberapa menit sebelumnya yang saya kirimkan, pikir saya. Dan benar, dari orang yang baru saja saya kirimi sms. Tapi ternyata tidak, isinya bukan tanggapan atas sms yang saya kirimkan. Sama sekali tak ada sangkut pautnya. Isinya tentang , sekali lagi, berita kematian. Kali ini berita tentang kematian seorang mujahidah dakwah kita, seorang yang kiprahnya begitu menginspirasi banyak orang, seorang ibu yang luar biasa bagi ketiga belas anaknya, ustadzah Yoyoh Yusroh. Maka heninglah seketika.

Allah sekali lagi memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan . Bahwa, jika kau ingin kematianmu menghunjam begitu dalam, membuat orang-orang di sekitarmu tertunduk dalam memuhasabai diri, bukan hanya air mata yang meleleh menuruni pipi, yang perlu kau lakukan adalah memperbaiki hidupmu. Itu saja. Jika kau telah meninggalkan jejak kebaikan pada orang-orang, maka kabar kematianmu akan menghasilkan jenak-jenak untuk orang itu terhenti. Untuk kemudian mengingat kebaikan-kebaikan itu. Merangkainya. Dan hanya tinggal menunggu waktu saja lah mereka melihat dirinya sendiri. Tentang apa yang sudah mereka perbuat.

Dan kaidah itu juga berlaku kebalikannya. Jika ada sebuah kematian begitu dalam membekas di hati orang-orang, maka sudah jelaslah bagaimana si jenazah di masa hidupnya. Pasti, kebaikanlah mengisi hari-harinya. Maka tentang ustadzah Yoyoh Yusroh ini, sms-sms yang begitu ringan disebar, status-status dalam yang seketika dibuat, atau tulisan-tulisan menghunjam yang diketik, tergambarlah sudah bagaimana sosoknya. Ia orang baik, ia orang baik, ia orang baik.

Dari Umar (bin Khaththab) ra, katanya Rasulullah Saw bersabda : ”Seorang muslim yang disaksikan oleh empat orang bahwa ia baik, maka orang itu dimasukkan Allah ke surga.”
Kami bertanya,”Bagaimana kalau tiga orang?”
Jawab Nabi, ” Ya, tiga orang juga.”
Tanya kami lagi, ”Kalau dua?”
Jawab Nabi, ”Ya, dua juga.”
Sesudah itu kami tidak menanyakan lagi tentang seorang.”



Sunday, November 21, 2010

pulang-kembali

Saya mengernyit-ngernyitkan dahi sendiri menyadari bagaiamanakah saya mendefinisikan kata ‘pulang’ dalam keseharian saya. Fenomena ini, baru saya sadari baru-baru saja.

Di kantor, setelah suara sirene menggema dari plant, sebagai pertanda akhir jam kerja, telah berlalu, saya akan menyebutnya dengan kata ‘pulang’ untuk aktivitas menuju rumah bujang yang disediakan perusahaan, tempat dimana saya tinggal. “Pulang dulu, yah!”, begitu kata saya seringnya pada teman yang memilih untuk menunda beberapa saat kepulangannya. Sebagai bentuk pamitan.

Di rumah bujang saya itu, tempat dimana saya tinggal dan menghabiskan waktu disana dengan tidur, mandi, makan, serta aktivitas harian lainnya, ternyata kata ‘pulang’ ini juga saya pakai. “Kapan pulang, Bal?”, demikian tanya teman serumah suatu ketika. “Minggu depan, sekalian cuti”, jawab saya. Tentu saja saya mengerti dengan maksud kata ‘pulang’ yang teman saya sebutkan itu. Sebelumnya, saya memang sudah menyatakan rencana kepulangan saya itu jauh-jauh hari. Pulang, dalam kasus ini adalah sebuah kata yang berdefinisi untuk sebuah aktivitas menuju rumah (orang tua) saya di kampung. Jadi boleh dikatakan, ketika sudah pulang, saya masih bisa pulang lagi.

Lalu bagaimanakah ketika saya sudah berada di rumah orang tua saya di kampung? Ternyata berbeda. “Kapan balek?”, demikian pertanyaan yang sering diajukan. ‘Kapan balek’, bukan ‘kapan muleh’. ‘Balek’, dalam bahasa jawa yang dipakai di lingkungan asal saya, diartikan sebagai ‘kembali’ dalam bahasa Indonesia. Sedangkan ‘muleh’ untuk ‘pulang’. Praktis, ketika saya berada di kampung halaman, kata ‘pulang’ tak lagi dipakai untuk menyebut aktivitas saya menuju ke rumah bujang saya di Bontang. Padahal, untuk aktivitas yang sama, ketika saya berada di kantor, saya menyebutnya dengan kata ‘pulang’.

Agaknya, kata ‘pulang’ versi saya ini mempunyai sebuah tingkatan. Yang penyebutannya tak hanya merujuk ke tempat manakah saya bakal menuju, tapi juga dari manakah saya bertolak. Bila saya sedang berada di tempat kerja akan menuju rumah dinas, saya menyebutnya dengan ‘pulang’. Tapi bila saya sedang di kampung halaman akan menuju rumah dinas saya di Bontang, maka saya menyebutynya bukan dengan ‘pulang’, tapi ‘kembali’. Hingga, kemudian saya menyimpulkannya begini: ada setidaknya tiga tempat yang terkait pendefinisian kata ‘pulang’ ini. Yang pertama adalah kampung halaman, yang kedua adalah rumah dinas Bontang, yang ketiga adalah tempat selain keduanya. Jika saya berada di tempat ketiga, maka baik saya mau ke tempat pertama maupun tempat kedua, saya mengatakannya sebagai ‘pulang’. Jika saya berada di tempat kedua, maka kata ‘pulang’ hanya saya pakai ketika saya akan menuju ke tempat pertama.

Begitulah. Hingga ketika saya berada di tempat pertama, saya tak pernah memakai kata ‘pulang’ ini untuk menyebut aktivitas saya. Kata ‘kembali’ lah yang terpakai. “Nyuwun pamit, arep balek nang Bontang”, demikianlah kira-kira kalimat pamitan saya pada seorang tetangga. ‘Balek’, bukan ‘muleh’.

Tapi, bila mau berdalam-dalam merenunginya, agaknya kesimpulan di atas belum benar-benar sahih. Ada satu tempat lagi, yang bahkan ketika saya berada di tempat pertama, sah-sah saja untuk menyebutnya dengan ‘pulang’. Sebuah tempat yang ketika saya ternyatakan ‘pulang’, maka tak akan lagi merasakan ‘kembali’. Saya pun tak akan mampu memutuskan kapankah ‘pulang’ saya menuju tempat itu bakal terjadi. Hanya orang-orang sajalah yang kemudian menyebutnya dengan ‘berpulang’. Bisa esok, bisa tahun depan, bisa minggu depan, atau bisa sepersekian detik sejak saya tuliskan catatan kecil ini. Maka, karena kegaibannya itu, kita kemudian sering-sering mendoa: ‘seperti indahnya rasa kepulangan yang lain, ya Allah, pulangkanlah kami dalam keadaan indah!’ Aih, bukankah itu berarti khusnul khotimah.

 

 

Sunday, November 7, 2010

Perkenalkan, Namanya Dona Windy Astuti


 “Iqbal, kalau ada perlu, dipanggil saja, tak usah dicolek”

Bagaimana aku akan lupa kalimat itu. Pertama kali terucap, sekitar enam tahun yang lalu. Seorang perempuan mengatakannya. Namanya, Dona Windy Astuti.

Kami dipertemukan oleh sebuah pilihan pada bulatan-bulatan yang kami isi di kolom pilihan jurusan pada kertas pendaftaran SPMB. Diuji oleh soal-soal pilihan ganda pada waktu yang sama dan tempat yang berbeda. Kemudian bertemu di sebuah kampus pinggiran Surabaya dengan status sebagai mahasiswa. Tapi tidak! Bukan karena kami sejurusan sematalah yang membuat kemudian aku lebih jauh mengenalnya.

Kalimat di atas tadi, adalah kalimat yang ia ucapkan saat berada di sebuah kelas yang bukan ruang kelas jurusan kami. Memang, saat itu bukan kuliah jurusan, hingga orang-orang yang berada di dalamnya juga bukan semuanya adalah teman sejurusan. Sebagai mahasiswa baru, kami memang wajib mengikuti kuliah bersama dengan jurusan-jurusan lain. Namanya adalah Tahap Persiapan Bersama. Akan ada berbagai macam jurusan di dalam satu kelasnya, meski tetap saja ada teman sejurusan juga di dalamnya. Dalam jumlah sedikit. Ada dua orang saja teman sejurusan dalam kelasku kala itu. Salah satunya, ya Dona tadi. Di dalam kelas itulah kalimat itu terucap.

Adalah menjadi hal biasa jika teman sejurusan lebih cenderung untuk mengelompok sendiri. Duduk berdekatan sebab memungkinkan lebih mudah untuk bertanya satu dan lain hal. Karena lebih dulu akrab. Apalagi, untuk kuliah-kuliah perdana dimana tak banyak anak lain yang lebih diakrabi. Dan itulah kita, yang bertiga kala itu. Sama-sama duduk di baris terdepan. Atau di baris terdepan dan kedua, tapi untuk satu kolom yang sama atau berhimpit. Untuk beberapa pertemuan awal.

Aku ada perlu kala itu. Padanya. Entah ingin menanyakan hal apa. Aku juga telah lupa. Mungkin tentang masalah angkatan yang memang menjadi begitu runyam bagi seorang mahasiswa baru. Dan dia, Dona, lebih aktif di sana. Hingga akan banyak informasi yang didapat dengan menanyainya. Ia selalu bersenang hati menceritakan semuanya dengan semangat.

Aku kemudian mencoleknya dengan sebatang pena. Ya, tentu, aku tahu, aku tak melakukannya dengan tangan telanjangku. Aku tahu ia seorang wanita, dan aku pria. Tak boleh. Apalagi melakukannya pada seorang perempuan yang begitu santun, rapat pula menutup auratnya.

 

Tapi ternyata, ia tetap terganggu; “Iqbal, lain kali kalau ada perlu, dipanggil saja. Jangan dicolek”. Lihatlah, pemilihan katanya adalah bukti kesantunannya. Tak ada intonasi menyalahkan. Hingga membuatku malu bahkan untuk memberi sebuah argumen pembenar tindakanku. Hari itu pelajaran pertamaku dimulai.

Di lain hari ia menegur begini :”Iqbal, duduknya bisa agak ke sanaan!”. Itu adalah kalimatnya ketika ia mulai risih dengan jarak duduk kami yang terlalu dekat. Bukan benar-benar maksudku sebenarnya untuk berimpit meski dalam kursi yang berbeda.  Beberapa kali aku bertanya dan ia menjawab, sering pula ia menanyakan sesuatu dan aku berkewajiban menjelaskannya. Dan tentang kuliah yang hitung-hitungan, maka tak enaklah rasanya jika menjelaskannya tidak dalam satu kertas dimana konsentrasi kita sama-sama di situ. Maka aku pun mungkin sedikit lalai mengindahkan aturan itu. Hingga kalimat itu muncul yang membuat aku kembali mengatur posisi dudukku sampai batas aman.

Itu adalah dua pelajaran awal yang membekas. Ah, membekas memang bukan melulu tentang sebuah hal besar. Membekas kadang juga tentang persoalan yang terlihat kecil tapi begitu jernih tertuang. Membekas kadang juga tentang sebuah mula. Dan untuk dua hal tersebut, dia, Dona, adalah seorang guru yang baik untuk membekaskan pelajaran pada muridnya. Kelak aku menyukuri bahwa interaksi awalku di dunia kampus ini diisi oleh orang-orang baik macam Dona ini.

Dua semester usia pertemanan dalam ikatan sekelas Tahap Persiapan Bersama itu. Dua kali dalam seminggu, Selasa dan Kamis. Dua mata kuliah tiap kalinya. Memang, kita masih satu jurusan, tapi memiliki kesamaan dalam sebuah perbedaan macam sejurusan dalam komunitas multi jurusan itu, memberi nilai lebih dalam hubungan pertemanan itu.

Apalagi yang perlu kuceritakan. Ia seorang yang tekun. Jujur sejujur-jujurnya, minimal sepengetahuanku. Tak pernah kulihat ia tolah-toleh saat ujian berlangsung. Kau mungkin mengira ia lancar mengerjakan soal-soal ujian itu hingga tak perlu repot celingukan mencari kesempatan. Tidak! Tidak selalu. Aku tahu jelas hal itu. Setahun sekelas, dengan intensitas bertukar pikiran tentang mata kuliah yang kerap, sedikit banyak memahamkanku, juga mungkin memahamkannya.

Suatu saat, saat aku tengah menonton nilai akhir mata kuliah Tahap Persiapan Bersama-ku di sebuah tempelan papan pengumuman, ia muncul dengan teman perempuannya, teman sejurusanku juga. Saat itu aku baru balik dari pulang kampung untuk mengisi liburan semester. Seperti biasa, lepas itu, aku akan tergopoh-gopoh menuju kampus untuk menengok nilai-nilai yang keluar.

Ia menyapaku, membuatku memalingkan muka dan sejenak mengalihkan pandang dari tabel berisi nama-nama dan huruf-huruf di sampingnya. Dengan senyum-senyum kemudian ia berucap, “Nilaimu bagus ya, Bal? Cuma ada tiga orang yang dapat A.”

Aku tersenyum juga. Tapi pahit. Aku tentu tahu benar, baru saja aku melihatnya. Dengan mata kepalaku sendiri. Bersanding di namanya dalam tabel nilai itu, sebuah huruf ‘D’. Dan itu artinya ia tak lulus mata kuliah ini. Tapi lihatlah, tak ada kesedihan yang terlalu, ia justru tersenyum. Kemudian menyampaikan selamat dengan kekhasannya. Hati siapa yang tak teriris-iris. Ah, yang menggetarkan sebenarnya bukanlah kesedihan itu, tapi kekuatan menghadapi kesedihan itulah yang justru mengoyak-ngoyak nurani. Hari itu ia memberiku pelajaran yang ketiga.

Selanjutnya, kami justru serting berinteraksi dalam wadah organisasi. Dari pertemuan sebatas ruang kuliah menjadi ruang rapat. Dari tentang kulaih menjadi tentang strategi organisasi. Ia masih seperti yang dulu. Masih santun, dengan kalimat yang terpelihara. Jauh dari menyakiti. Hingga tak heran ia menjadi orang yang bisa diterima di banyak golongan. Tak terlalu mengherankan pula jika kemudian ia terlihat dimana-mana. Langkah kakinya memang cepat, dengan gaya berjalan yang selalu terlihat terburu-buru. Kakinya seakan tak cukup cepat untuk mengakomodasi kehendaknya yang melesat.

Dan waktu, memang benar-benar melesat. Di semester-semester akhir perkuliahan, di sebuah siang, aku terkejut ketika ia tiba-tiba berkata ini kala kami bertemu, “Iqbal, ibunya sakit rematik ya?"

Aku, sambil tersenyum mengiyakan. Sejenak heran darimana ia mengetahuinya, namun secepat kilat tersadarkan kalau info itu pasti ia dapatkan dari membaca blogku. Beberapa waktu lalu aku memang menulis tentang ibu meski tak spesifik tentang penyakit rematik itu.

"Itu, soalnya ibu saya juga pernah. Dan alhamdulillah sekarang sudah sembuh. Minum parutan sayur manisa. Yang biasa dibuat sayur itu"

Aku tersenyum lagi. Duh, aku tak tahu energi kebaikan apa yang begitu baik ia simpan. Untuk ia tebarkan kemanfaatannya kepada siapa saja di sekelilingnya. Saat menulisnya, aku sama sekali tak mengharapkan tanggapan tentang solusi mengatasi rematik itu. Tidak! Tapi, lihatlah! Ia menjelmakan tulisan itu sebagai peluang untuk berbagi kemafaatan ke sekitarnya. Berbagi kebaikan. Membuat orang akan senantiasa nyaman membersamainya.

Dan, melesat. Benar-benar melesat.

 

Hingga 2 Juni 2009 itu. Di suatu pagi. Saat itu aku telah terpisah jauh dari tempat kami dulu bertemu. Memang, setelah merantau untuk tunututan kerja, aku tak banyak lagi mengikuti perkembangan teman-teman, termasuk Dona ini. Yang kutahu, satu semester setelah aku lulus, iya lulus juga. Itu saja. Tak lebih. Tak tahu, atau bahkan tak tahu menahu tentang aktivitasnya setelahnya.

Tapi sms itu, kemudian mengabarkan segalanya:

“Innaalillahi wa innaa ilayhi rojiun”, bukankah itu pembuka untuk sebuah sms pemberitahuan tentang kematian, “telah meninggal teman kita, Dona Windy Astuti, hari ini di jakarta”

Entah apa yang ada di persaanku kala itu. Sempat terbengong tak percaya. Berharap SMS ini keliru. Berharap SMS ini hanya main-main belaka. Tapi, ternyata tidak! SMS lain kemudian datang menyerbu untuk memberitahukan hal yang sama. Maka secepat kilat kemudian aku sign in yahoo messenger, log in Face book. Menyapa teman-teman, mempertanyakan kebenaran.

“Benarkah?”

“Bagaimana bisa?”

“Ceritanya bagaimana?”

Tak ada yang benar-benar tahu dengan pasti. Semuanya serba simpang-siur. Tapi yang pasti, aroma duka menyeruak. Kalimat-kalimat bela sungkawa sontak memenuhi status FB, milist angkatan ramai membicarakan kronologis. Tak jelas, tapi dari keterangan yang patah-patah, kemudian aku mendapatkan kronologis seperti ini:

Dona diterima kerja di jakarta. Kemudian mengikuti orientasi kerja semi militer. Menginap. Saat itu lepas sholat subuh, teman  sekerjanya menjemput ke kamarnya untuk bersiap-siap mengikuti acara, tapi ia mempersilhakan temannya itu untuk duluan. Saat itulah, saat temannya sudah di luar untuk duluan, terdengar sebuah benda berat jatuh berdebam dari dalam kamar. Saat dilihat, Dona sudah ditemukan ambruk di dalam kamarnya.

 

++++++

 

Dan, di sujud itu, beberapa jam setelah kabar itu, aku tergugu. Pertahanan selama beberapa jam itu akhirnya jebol juga. Tak tertahankan lagi. Sungguh, ia terlalu baik, terlalu banyak hal-hal baik yang ia catatkan, mengingatnya adalah mengingat kebaikan. Maka, jika air mata ini adalah kesaksian akan kebaikannya di muka bumi ini, maka ijinkanlah Ya Allah, bulir-bulir air mata ini menjelma menjadi butir-butir yang memperberat amal kebajikannya. Ijinkanlah!

Wednesday, November 12, 2008

Cerita Kepulangan I : Kehilangan Kedua

Lagi-lagi cerita kepulangan. Entahlah..akan selalu banyak hal yang saya temukan saat pulang. Cerita-cerita menarik. Kadang lucu, kadang menjengkelkan, tak jarang pula mengharukan.

Seperti kepulangan baru-baru saja.

Saat itu habis maghrib. Tak ada aktivitas berarti yang saya lakukan. Hanya duduk-duduk saja di ruang tamu menikmati suasana malam kampung halaman. Bengong, baca-baca buku yang sengaja dibawa, beralih ke koran, bengong lagi, hingga kemudian ponsel saya berbunyi. Sebuah sms masuk.

“Bal, ntar jam tujuh Ahmad ke rumah ngambil sarung tangan sama kaca mata”. Dari kakak saya. Kakak saya saat itu sedang berada di malang, dan ahmad (*sebutlah namanya demikian*) tadi adalah salah satu teman sma-nya dulu yang kebetulan saat berkunjung ke rumah piranti bermotornya tertinggal. Semingguan lewat kira-kira tertinggalnya.

Tidak saya balas tapi saya ok-kan dalam hati. Jam tujuh...berarti tinggal beberapa saat lagi.

Entah jam berapa tepatnya tapi ternyata memang Ahmad datang juga. Bukan saya yang mempersilahkan karena waktu itu saya sedang di ruang tengah. Kakak saya yang lain yang kebetulan sedang di ruang tamulah yang mempersilahkannya. Meskipun begitu, percakapan di antara keduanya terdengar cukup jelas di telinga saya.

“Eh ahmad!!! Mari..mari masuk! Mau ambil kaca mata ya??”

“iyah nih”

“Kok pakaiannya lengkap berkendara begini. Langsung dari surabaya atau...?”. Ahmad ini kebetulan kerjanya di surabaya.

“iyah..langsung dari kerjaan.”

Kakak saya kemudian mengambil barang yang dimaksud. Kebetulan memang sudah dipersiapkan, karena rencananya memang sudah dua tiga hari yang lalu mau diambil. Bergegas kembali ke ruang tamu. Menyerahkannya.

Saya nggak tahu bagaimana kronologis lengkapnya karena kemudian memang tidak terlalu memperhatikan, yang saya tahu tiba-tiba saja terdengar Ahmad tadi permisi mau balik.

“kok buru-buru. Mbok duduk-duduk saja dulu, pasti capek habis perjalanan jauh”

“maaf. Terima kasih. Tadi bapak sms katanya adik kecelakaan di Wono rejo saat mau pulang dari Malang”.

Kakak saya tak terlihat berkata-kata. Mungkin kaget. Saya pun ikut-ikutan kaget. Tapi tak berpikiran macam-macam. Saya tahu adiknya Ahmad tadi. Dulu adik kelas saya ketika smp. Memang, seperti cerita yang pernah saya dapatkan ia sedang menempuh pendidikan di malang.

“tapi saya sms balik nggak dibales-bales sama bapak. Makanya ini buru-buru pulang”.

“owh”.

Begitulah. Dan kami sekeluarga tak berpikiran jauh. Hanya mendiskusikannya sebentar. Bertanya ke saya apakal kenal atau tidak. Ini itu. ini itu lagi.Selesai. Sudah. kemudian tak ada lagi perbincangan. Saya pun beranjak ke kamar (*kayaknya ini penyakit yang selalu menjangkiti saya ketika pulang : ngantukan*).

Dapat diduga; saya tertidur. Baru terjaga saat ponsel saya yang sedang saya charge berbunyi. Kakak saya yang sedang ada di malang yang nampak tertulis di layar. Kali ini ia telepon.

“yah?”

“bal, tadi ahmad waktu ke rumah nggak bilang apa-apa ta?”

“emang ada apa?”

“barusan sms aku katanya adiknya meninggal kecelakaan di wonorejo”

Saya tergetar; ya Allah. “iyah sih tadi cuma bilang katanya adiknya kecelakaan. Tapi belum tahu keadaannya karena cuma di-sms”.

“ya itu, tadi sms aku. Tapi pas aku telpon balik gak diangkat-angkat. Tadi SMS ‘ya semoga khusnul khotimah’ gitu. Padahal senin besok bapaknya mau berangkat naik haji”.

Bla bla bla

Bla bla bla

tekepon ditutup.

 

Dan tiba-tiba saja... Ya Allah! Saya pernah dalam posisi itu. Pernah dalam posis begitu sulitnya bersuara untuk mengabarkan berita menyakitkan itu. Tergetar. Lebih mudah mengabarkannya lewat huruf-huruf SMS. Meski tak jelas lagi apa yang mau diketik.

Namun kesadaran itu, secepat kilat berganti hal lain : Kehilangan untuk kali kedua berurutan. Ramadhan kemarin, ya baru saja kemarin, si ibu teman kakak saya tadi, yang sudah berencana berhaji bersama si bapak, menghadap sang khalik. Menyisakan tiga lelaki dalam keluarga itu : Bapak dan dua orang anak. Tapi kini....dua dari tiga laki-laki itu, harus mengikhlaskan kepergian lelaki satunya. Yang termuda.Saya tak bisa membayangkan apa yang sedang dirasakan oleh Ahmad tadi. Lebih-lebih bapaknya. Ya Allah.... bahkan ia akan segera berangkat haji hanya dalam hitungan hari. Harapan apa gerangan  yang tiba-tiba saja terampas dari imajinya.

Lau tinggallah saya yang hanya bisa mengiang-ngiangkan pertanyaan bodoh: Mengapa harus mereka? Mengapa itu harus sekali lagi menimpa mereka? Mengapa, mengapa itu terjadi saat mereka bahkan belum mampu mengatasi rasa kesepian pada diri masing-masing yang memang berpencaran antara Pasuruan, Malang, dan Surabaya? Bukankah..bukankah mereka hanya bertiga. Bukankah mereka sedang akan merencanakan pertemuan kecil di rumah mereka yang mulai terasa sepi. Mau berkumpul menikmati momen-momen kebersamaan untuk terakhir kalinya. Ya....terakhir kali sebelum sang Bapak harus pergi jauh untuk berhaji.

Ya Allah, kami bahkan tak tahu apa yang terbaik bagi kami. Kami hanya sibuk protes. Merasa pintar. Merasa lebih tahu. Merasa sok dengan karapan-harapan kami sendiri. Padahal pengaturanmu lah yang terbaik, padahal pembagianmu lah yang teradil. Kamilah yang bebal. Kamilah yang tak pernah mensyukuri apa yang terjadi. Kamilah yang tak mampu menangkap apa yg terkandung dari semuanya. Kami hanya sibuk berkeluh kesah atas semuanya.

Ajari kami Ya Allah... Untuk mengerti. Untuk bisa memahami. Hingga rasa syukur itu senantiasa memenuhi dada kami.

 

 

Thursday, September 25, 2008

K-E-P-E-R-G-I-A-N (catatan detik-detik terakhir seorang kawan)

            Bukan kematian benar menusuk kalbu

Keridlaanmu menerima segala tiba

Tak kutahu setinggi itu atas debu

Dan duka maha tuan bertakhta

(Nisan, Chairil Anwar)

 

 

Suatu ketika, dalam sebuah ceramah terawih di masjid kampus UGM, menkominfo, Pak Nuh, pernah menyatakan bahwa semakin puncak kebutuhan seorang manusia maka semakin sedikit orang-orang yang bisa berpartisipasi untuk bisa memenuhi kebutuhan itu. Dalam bahasa matematika, pernyataan ini dinyatakan  dengan saat dy/dx mendekati 0. Ada banyak sekali kebutuhan manusia, tak terhitung malah. Berbeda antara satu manusia dengan manusia lain. Kitapun kemudian sepertinya berlomba-lomba untuk mencoba memenuhi kebutuhan  itu. Dengan usaha kita sendiri, tapi yang lebih sering melalui bantuan orang lain. Dengan tanpa mengeluarkan sepeser uangpun, tapi tak jarang pula dengan mengorbankan tak terkira harta kita. Namun, pernahkah kita mencoba merenungi, apakah sebenarnya kebutuhan puncak kita itu. Makan? Kalau kita mengikuti pernyataan Pak Nuh diatas, rasa-rasanya tidak, teramat tidak malah. Banyak sekali orang-orang yang berperan untuk memenuhi kebutuhan kita itu; ada pak tani, ada si pembuat piring, kadang ibu yang telah memasakkan kita, terkadang pula pelayan restoran yang dengan ramah mengantarkan pesanan kita. Tidur? Lagi-lagi tidak. Bukankah banyak sekali yang berperan sampai kita bisa tidur dengan lelap. Saat itu, pak Nuh mengungkapkan, bahwa salah satu kebutuhan puncak kita itu adalah sakaratul maut. Bagaimana menjemput kematian dengan khusnul khotimah. Cobalah kita hitung, atau bayangkan, berapa kiranya orang yang mampu membimbing seorang yang mau meninggal dengan kalimat tauhid. Setelah itu, kita akan tahu sendiri jawabannya.

Kematian. Lagi-lagi kematian yang harus saya tulis. Apa mau dikata, memang inilah yang benar-benar terjadi. Memang inilah yang sedang mengaduk-aduk emosi saya kali ini. Benar-benar mengaduk. Hingga saat ini.

Kemarin, hari rabu, sekitar jam sepuluh pagi, sebuah SMS masuk ke ponsel saya. Isinya singkat, tepat, mengena. ”Bal bisa ke RS? Sekarang Ari buruk banget. Please”. Deg. Seketika saya merinding, terbengong sesaat. Berbagai macam pikiran berkelebat. Sudah sebulan lebih teman saya itu diopname di RS. Dengan hasil diagnosa penyakit yang gonta-ganti mulai dari amnesia plastis, leukimia, hingga MDS. Sudah berbagai macam SMS dan perbincangan mengenai dia selama ini. Sebelum-sebelumnya saya tak seperti ini.Tapi sms kali ini..sangat berbeda. Saya galau.  Kontrakan sepi, semua sudah berangkat ke kampus. Saya kemudian menghubungi seorang teman. Mengabarkan ini. Mengajaknya untuk ke RS. Tak bisa. Ia ada keperluan ke Dosen. Saya hubungi teman satunya. Tak bisa juga. Ada kuliah sebentar lagi. Teman saya yang ketiga kemudian saya hubungi. Alhamdulillah bisa.

Tapi kemudian ia tak kunjung datang menjemput saya. Hati ini sudah galau, tak sabar lagi. Entah apakah ini efek relativitas waktu atau tidak. Yang pasti menunggu kali itu terasa lama sekali. Saya coba menenangkan diri dengan membaca Al-qur’an. Tapi suara saya bergetar. Ya Allah...ada apa ini.

Alhamdulillah kemudian suara motor terdengar. Teman saya datang. Saya pun bergegas mengambil helm. Segera meluncur ke RS Dr Soetomo.

Baru saja keluar dari area ITS, teman saya SMS. ”Bal, bawa teman-teman yang banyak ke RS”. Ya Allah, ini pasti serius. SMS pendek seringkali dikirimkan oleh seseorang yang sudah tak tahu lagi harus menuliskan apa. Entah apa yang terpikirkan saya kala itu. Tak tahu sudah. Semuanya berebut memenuhi pikiran. Mata saya  mulai memanas.

Hanya tiga orang teman lelaki yang ada di luar ruangan ketika kami tiba di RS itu. Tak ada muka optimis sama sekali di wajah mereka. Saya bergegas masuk. Suasana sebenarnya sepi, sudah sedikit pasien yang diopname di ruangan lebar itu. Tapi seketika itu menjadi tidak. Ada badai yang mengguruh. Hanya ada bapak dan ibunya disana. Mengapit di kedua sisi. Ah saya tak mampu menatap, tak mampu lagi menatap ibu yang sudah sebulan lebih menjaga anaknya di RS ini. Ya Allah, matanya merah. Merah dan berair. Apa gerangan yang sedang berkecamuk di dadanya? Apa kiranya harapan yang mulai perlahan terhapus dari hatinya. Ah, siapakah orang yang tahan melihat seorang ibu yang menangis untuk anaknya.

Dan teman saya, Bustari, nampak tersengal kesulitan bernafas. Berbagai peralatan medis memenuhi hidungnya. Sang bapak, ya sang bapak yang terlihat pendiam di tiap kali kunjungan saya ke situ, nampak telaten membisikkan kalimat tauhid di telinga teman saya itu. Duhai, apakah yang kau bayangkan saat seseorang sudah membisikkan kalimat itu. Persis di dekat telinga. Dengan sura perlahan. Dengan suara yang dipenuhi sesenggukan. Dan di depanmu, penuh oleh pemandangan yang teramat menggetarkan. Seorang bapak yang dulu mungkin telah mengumandangkan adzan di hari pertama teman saya itu (dalam nuansa yang diliputi keharuan mungkin), hari ini....... membisikkan kalimat tauhid di telinga anaknya itu dengan nuansa berbeda.

Tapi kemudian saya mencoba mendekat. Menyentuh tangan kanannya. Pias. Dingin. Sudah teramat dekat mungkin. Kedua orang tuanya menoleh. Menggumamkan sesuatu. Tapi suaranya gentar. ”Perutnya kembung dan keras”. Saya raba perutnya. Benar. Kenapa jadi begini? Saya pegang kembali tangannya. Mencoba menggenggam. Mencoba berpartisipasi memenuhi kebutuhannya. (*saat itu, saat itulah Ya Allah. Hamba merasa begitu tak berdaya. Merasa kecil. Merasa hina. Apalah artinya kami. Betapa sombongnya kami,....yang baru saja ini, atau kemarin, atau seminggu yang lalu, atau setahun yang lalu, atau bahkan di setiap hari kami, kami melupakanMU*).

Saya lalu beringsut mundur. Mencoba mencari keterangan dari teman yang lebih dulu datang.

”Hati dan limpanya dipenuhi darah kotor. Itu darah kotornya sedang disedot lewat selang yang merah muda. Semakin banyak yang dikeluarkan semakin baik. Tekanan darahnya 90/60. Nadinya 40, padahal normalnya itu sekitar 16-25.”

Apa artinya itu? Tak banyak yang terpikirkan. Tapi kemudian yang terlihat para medis terlihat bergegas menghampiri. Menyuntikkan sesuatu. Mengambil sampel darah. Tiga sampai empat orang yang menangani. Bersamaan dengan itu ketua jurusan dan rombongan datang. Keadaan tak banyak berubah. Menit-menit berjalan mencekam. Aura murung menyelimuti.

Satu persatu kemudian teman-teman datang. SMS-SMS itu telah menyebar dengan cepat. Sementara keadaan kian memburuk. Mata-mata mulai memerah. Air mata mulai banyak merembes. Ya Allah!!! Dia teman kami. Bagaimanakah ini?

Dan tiba-tiba suara mengeras. Suara ibu teman saya itu. Tak jelas lagi yang dia ucapkan. Tangis telah mengaburkan semua. Teman saya itu mulai tak tersengal lagi. Tapi ini pertanda yang sangat buruk sekali. Dan tangis itu....amat memilukan mendengarnya, amat menyesakkan melihatnya. Bagaimanalah? Ia seorang ibu, seorang ibu yang telah melahirkannya, yang telah merawatnya dengan cinta, yang pastinya telah betapa merindunya tahun-tahun belakangan ini menanti bungsunya pulang membawa gelar ST. Dan hari ini.........

Lalu tangis itu pecah sempurna sudah. Innaa lillahi wa innaa ilayhi roji’un. Teman kami , saudara kami yang bersahaja, sie perijinan tangguh kami, pemain futsall kami yang selalu bersemangat, komting thermodinamika I kami, teman begadang mengerjakan laporan, koordinator latihan bulu tangkis kami, tempat kami ngutang beli pulsa, menghembuskan nafas terakhirnya. Di sepuluh hari ramadhan ini.

SMS duka bergerak cepat. Suara-suara bergetar mengabarkan berita. Berita cepat terkirim. Forward! Forward! SMS yang sama memenuhi inbox. Dihapus, datang lagi. Ah siapa lagi yang peduli pulsa. Semua dikabari. Entah sudah tahu atau belum, entah sudah mendengar atau tidak. Berita duka itu menyerbu.

Mata kamipun basah. Sakit. Tertunduk.

Ya Allah, sungguh! Di bulan ramadhan ini, seperti halnya berita itu yang deras menyerbu, maka begitupula deraskanlah ampunanMu. Atas mungkin kelalaian yang ia lakukan. Atas kesalahan yang ia perbuat. Bukankah ini adalah bulan penuh maghfiroh ya Allah? Bukankah ampunanmu deras menyerbu bumi? Jika toh, jika toh memang ia punya salah pada kami, kami ikhlas Ya Allah. Kami ikhlas. Mudahkanlah jalannya! Sama halnya ia dulu telah banyak memudahkan urusan kami.

Selamat jalan kawan! Sungguh, tekkim 2004 kehilangan salah satu komponen terbaiknya.

 

 

 

Monday, September 22, 2008

Catatan hidup, catatan mati

Bukan hal mengagetkan sebenarnya, bukan hal yang luar biasa memang, tapi entah mengapa, tiap kali itu tersampaikan, akan selalu sukses menimbulkan perasaan yang berbeda dalam diri. Kadang menggelora, kerap pula menyayat, atau mungkin sekedar menimbulkan perenungan dalam. Tergantung kronologisnya, tergantung pula individunya, bahkan juga tergantung timingnya.

 Cerita kematian. Ya, sadar ataupun tidak, informasi inilah yang lumayan kerap mengetuk-ngetuk gendang telinga saya tiap kali pulang. Lebih kerap hidup di kota orang dan lumayan jauh dari kampung halaman, mau tak mau akan membatasi akses saya terhadap informasi yang terjadi di kampung halaman. Info-info penting saja mungkin yang lumayan ter-update. Lewat SMS, lewat YM. Semacam dinamika keluarga, ataupun segala yang terjadi di tetangga-tetangga dekat. Dan cerita kematian ini, adalah catatan penting yang kerap terlewatkan untuk  tersampaikan.

Lalu pada akhirnya kemarin, saat saya pertama kali menikmati momen ramadhan bersama keluarga, informasi itu datang lagi. Sebenarnya beberapa hari sebelumnya info itu sudah datang dari kakak saya lewat perbincangan di YM. Tapi hanya pemberitahuan, tak begitu lengkap. Tak datang dari sumber yang paling dekat, karena memang kakak sayapun juga tengah berada di kota orang.

Orang itu adalah tetangga saya. Lumayan jauh sebenarnya bagi kaca mata orang kota. Tapi, berhubung saya tinggal di pedesaan dimana kita saling mengenal satu sama lain, bahkan sampai satu desa, maka jarak segitu adalah jarak yang teramat dekat. Orangnya sudah tua, mungkin lelaki tertua disana. Sudah teramat sering sakit-sakitan, dan mulai jarang terlihat beraktivitas di luar rumah. Karena itulah, cerita kematian orang ini kemudian menjadi sesuatu yang biasa, tak ada yang terkejut. Lumrah, wong memang sudah tua.

Tapi kematian akan selalu menjadi nasehat terbaik. Selalu, bagi siapa saja yang mau mengambil pelajaran. Entahlah, saat itu, ketika saya tengah kumpul dengan keluarga sehabis berbuka, perbincangan itu dimulai. Awal mulanya hanya ingin menyampaikan berita kematian tetangga saya itu. Saya jawab sudah tahu. Kemudian melebar. Ganti membicarakan sang almarhum. Tentang aktivitasnya, tentang semasa hidupnya.

Dan, catatan kehidupan sang almarhum yang justru baru saya ketahui ketika ia telah menemui kematiannya adalah : ternyata ia seorang penyayang binatang. Tentang bagaimana ia begitu sukanya memelihara binatang, sejak dulu mungkin sudah saya ketahui. Tapi kenyataan bahwa ia lebih dari sekedar suka memelihara, ini yang baru saya pahami. Berbagai binatang yang lazim dipelihara ternyata pernah ia pelihara. Mulai dari sapi, kambing, ayam, angsa, entok, sampai jenis burung. Dan uniknya, ia melakukan itu bukan lantaran ingin memperoleh keuntungan ekonomi; dari penjualan binatang itu kelak, atau dari berkembang biaknya peliharaannya itu. Ia memelihara binatang-binatang tersebut karena ia suka memelihara, karena ia begitu menyayangi binatang itu. Hanya itu. Maka jadinya, bahkan binatang peliharaan yang memungkinkan untuk ia konsumsi, tak pernah ia konsumsi. Menjualnyapun tidak. Ia memelihara seumur peliharaannya itu. Hingga, (kalau memungkinkan) sampai peliharaannya itu mati secara alamiah.

Itu cerita tentang bagaimana ia mencintai binatang peliharaannya. Ternyata ia memilki catatan lain; ia ternyata juga penyayang binatang liar yang hidup di sekitarnya. Dulu, bahkan teramat dulu hingga memori saya tak mampu mengingatnya, ketika burung gelatik masih banyak beterbangan di lingkungan desa, ia dengan senang hati membuatkan burung gelatik itu rumah-rumahan di pepohonan sekitar rumahnya. Tujuannya hanya satu : agar burung-burung itu kerasan tinggal di sana, berharap tak berpindah tempat. Dan benar saja, burung-burung gelatik itupun berkembang biak dengan pesat. Rumah-rumahan yang ia buat itupun, tak butuh waktu lama, telah menjadi rumah beneran bagi gelatik-gelatik liar itu. Inilah mungkin sentuhan seorang yang mencintai binatang dengan hatinya. Maka burung-burung itu, seakan mengerti, menjawab sentuhan itu dengan kicauan merdunya tiap pagi.

Kawan, cerita itu, tentang sepenggal kisah tetangga saya itu menjalani kehidupannya, tiba-tiba menyadarkan saya. Kelak, ketika kita tak mampu lagi mengadakan konferensi pers untuk menglarifikasi opini yang terlontar mengenai kita, ketika kita tak akan bisa lagi membantah celaan yang menerpa kita, atau saat kita tak akan sanggup lagi berbangga hati kala seseorang memuji kita..... saat maut itu telah sempurna menjemput..... saat itulah.... apa yang sudah kita lakukan semasa hiduplah yang bakal tersuarakan. Mungkin jelek, mungkin bagus. Tergantung dengan catatan kehidupan yang telah kita torehkan sepanjang periode hidup. Catatan yang mungkin teramat dalam membekas pada diri tetangga-tetangga kita, keluarga kita, teman-teman kita, atau pada lingkungan kita....pada alam. Tak mampu lagi kita untuk membantahnya, pun juga tak kuasa lagi kita untuk menambah-nambahi. Sebab, apa yang telah kita tulis semasa hiduplah yang bakal terbaca. Bila itu adalah sebuah keburukan, maka terlambat sudah untuk menghapusnya, lalu menulisinya dengan tulisan-tulisan kebaikan. Pun juga, bila itu adalah kebaikan-kebaikan, maka tak ada waktu lagi untuk menstabilonya, menggarisbawahi, atau sekedar mempertegas tampilannya.

Maka, jika saat itu tiba-tiba kami membicarakan tentang begitu sayangnya tetangga saya itu pada binatang, itu bukanlah sebuah kebetulan belaka. Tak ada tendensi apapun saat kami melakukannya. Jelas sekali, karena catatan kehidupannya tentang hal ini teramat tebal ia tulis, teramat indah ia lukis. Maka jadinya, teramat tebal pula catatan itu terekam dalam memori orang-orang sekitarnya, teramat indah catatan itu tersimpan dalam hati tetangga-tetangganya. Hingga tersuarakan. Atau mungkin juga tidak. Hanya hidup dalam kenangan individu di sekitarnya. Tapi meski begitu, itu sudah lebih dari cukup sebagai kesaksian : bahwa ia adalah seorang manusia baik.

Kini, tinggal kitalah yang menentukan. Catatan kehidupan itu belum tertutup. Lembar-lembar kehidupan itu juga masih tersisa. Dan tentu saja, karet penghapus untuk memperbaiki catatan yang telah lalu itupun juga masih di tangan.  Masih ada waktu. Masih ada kesempatan untuk menentukan catatan yang mana yang bakal kita perbanyak, kita ulang-ulang, atau kita pertegas adanya. Bukan hanya agar catatan-catatan itu hidup dalam sanubari orang-orang sekitar kita—seperti yang saya ungkapkan di atas, bukan pula semata agar orang lain menyaksikan kita sebagai orang baik. Sungguh, itu akan menjadi tak penting dan hanya akan menjadi ekses belaka. Tapi oleh sebab kita telah meyakini akan adanya pembacaan catatan kehidupan yang jauh lebih fair, lebih adil. Untuk menentukan masuk golongan manakah kita : golongan orang berimankah, atau golongan yang ingkarkah. Dan konsekuensi di antara keduanya, sungguh amat berbeda..

 

Pasuruan,19 sep -08