Showing posts with label gumam. Show all posts
Showing posts with label gumam. Show all posts

Tuesday, January 25, 2011

(garagara) QN ala tobie

yang aku tahu, di sinetronsinetron yang dulu pernah aku tonton, jika cerita sudah mulai membosankan dan tak ada lagi yang bisa diceritakan, sutradara akan memunculkan pemeran baru untuk menggairahkan cerita.


gambar dari sini

Monday, October 18, 2010

tolemu pulang, mak

Tolemu pulang, Mak. Diambang senja yang digerayangi malam. Matahari yang karam dan mega yang dulu kerap kita pandangi dari pinggiran teras, menjelma semuanya menjadi larik-larik rindu yg mulai kusam. Semuanya meluncur saja dan aku tak kuasa membahasakannya dengan kata. Tapi, lihatlah, leleki yang sama dengan yang kau gendong dalam selendang cokelat dulu, berdiri kokoh menyandang ransel berat itu. Menyusur jalan mendebu. Jalan yang dulu, tentu. Rumah kita, Mak, di ujungnya, menawarkan jawaban segala rahasia atas misteri mega, senja, sore yang syahdu, dan segala perangkatnya. Aku tahu, kau masih suka duduk menjelang maghrib menghadap mega yang kian redup. Dan kelepak kelelawar yang terbang lebih dini dari yang seharusnya, menyantapi buah jambu milik kita. Sebentar lagi, aku ingin membuktikan, masihkah kau menyisakan satu tempat untukku duduk membersamaimu.

 Tolemu pulang, Mak. Lima ratus meter lagi menuju pandangmu. Di jalan ini, yang sudah berapa ratus, atau berapa ribu kali kita lalui. Yang telah begitu setia menempa. Tak kutemukan memang pemandangan yang dulu. Sepasang bapak ibu berbonceng sepeda kumbang, itu ternyata menjadi dulu. Sedulu kebersamaanku dan kau.

 Tolemu pulang, Mak. Menjinjing senja yang sarat gumpalan rindu. Dari tabungan hari demi hari, sore demi sore. Yang tak akan pernah habis kuurai. Yang tak mungkin luruh kuseduh. Memandang wajahmu.

 Mak, mungkinkah kau mengijinkan? Teduh wajahmu kau pinjamkan pada orang yang akan kau angguki kelak. Selamanya. Agar tak perlu lagi karena, agar tak perlu lagi meski; merinduinya.

 

Friday, October 8, 2010

percakapan imajiner II

“lama sekali kau tak datang?”

“ya..kau banyak berubah”

“mengapa-? Kau lama sekali”

“sebab kau tak pernah memanggilku”

“sejak kapan kau perlu dipanggil untuk datang”

“ok! Maaf, kuralat; sebab kau tak menginginkanku”

“hah? Kau benar-benar lucu, bukankah yang sebelum-belumnya aku juga tak pernah baik menyambut tiap kedatanganmu”

“tapi tetap saja, kau menginginkan kedatanganku kala itu”

“bagaimana bisa?”

“aku kira kau sudah mengerti akan hal ini. Orang-orang memang seringkali pura-pura mengingkari apa yang sebenarnya ia ingini”

“maksudmu?”

“tanyakan pada hatimu! Kau bahkan telah kehilangan waktu berdialog dengan hatimu”

“..”

“baiklah, aku tak punya cukup banyak waktu. Aku hanya ingin sampaikan satu hal : segeralah buat keputusan!”

“eh? Maksudmu--?”

“kau tak perlu pura-pura tak mengerti”

“aku serius!”

“apa kau kira aku main-main?”

“ya!”

“kalau begitu aku perrgi saja. Sepertinya tak ada gunanya berlama-lama di sini. Assalamu’alaykum”

“hei, tunggu! Kau masih bisa datang, setidaknya beri aku sedikit waktu”

“….”

“Wa’alaykumsalam”

Monday, October 4, 2010

fragmen

Siang hari yang terik. Di pinggiran cafĂ© kapal, mengahadap laut lepas,lelaki itu berdiri. Mencoba menghindar dari keriuhan yang terjadi di dalam. Menyingkir. Tapi, suara orang-orang menyanyi itu tetap saja terdengar, meski dengan intensitas yang lebih terreduksi.  Laut setidaknya lebih menarik untuk dinikmati.

Lalu, seorang lelaki lain menjajari. Mengarahkan matanya ke titik yang sama dimana ia mengarahkan penglihatannya. Tapi diam saja, tak menyapa. Tak juga menatap.

Dwtik berlalu dalam diam. Di kejauhan, nampak dua orang nelayan dengan perahu kecilnya mencoba menjala ikan. Di siang yang terik itu. Tak merasa payah, tak merasa panas.

“Nggak ngambil cuti? Seminggu lagi sudah bisa, kan?” Lelaki itu, setelah beberapa menit yang beku, akhirnya berbicara. Menatap sebentar ke lelaki yang baru saja menjajarinya.

Menoleh, “sepertinya tengah tahun.”

“tengah tahun-?”

“ya. Tahun depan. Sepertinya sampai akhir tahun ini belum ngambil.”

“kenapa?”, menoleh lagi. Kali ini menatap tajam lelaki teman ngobrolnya itu.

“nggak perlu saja. Belum ada keperluan tepatnya”

“…”, menarik napas.

“kamu?”

“Entahlah!”. Berhenti, terdengar sebuah lagu baru ternyanyikan menggantikan lagu sebelumnya. “mungkin akan aku ambil tiga kali”

“apakah yang pertama adalah idul adha besok?”

“Yap! Sepertinya ini sudah lebih dari sekedar perlu, seperti bahasamu”, lelaki itu mencoba tersenyum, meski lebih terlihat getir, “ Bapak sudah tua”

“ya?”, entahlah! Ia juga tak tahu sendiri mengapa kata itu yang muncul. Antara ketakmengertian dan kekagetan.

“bapak sudah tua. Sudah mulai sakit-sakitan.”, menghembuskan nafas panjang, membuang muka ke laut. Mencoba menghindarkan ekspresi mukanya tertangkap lawan bicara.

“….”, mengangguk-angguk pelan, mencoba mengerti, “lalu yang kedua?”

“yang ketiga mungkin lebaran tahun depan. Masih lama memang, tapi bukankah harus memakai jatah cuti periode ini juga, bukan?”

“ya….,ya…,ya…., kalau untuk idul fitri, sepertinya kita sama”, tersenyum sebentar. Mencoba memecah kekakuan yang melanda, “kau memang harus pulang tahun depan kalau tak ingin jadi bang Thoyyib.

Tertawa. Tertawa bersama. Membiarkan suara-suara terbawa semilir angin laut yang menerpa.

“lalu yang kedua?”, pertanyaan yang sama oleh penanya yang sama.

Lelaki itu menghentikan tawanya. Menatap lelaki teman bicaranya lekat, sedikit misterius. Ada senyum mengambang di bibirnya. Tipis. Teramat tipis, “sepertinya acara di dalam sudah selesai. Sebaiknya kita segera pulang.”

“eh…, baiklah!”

 

 

Thursday, September 30, 2010

pilihan-suka-tidaksuka

Sepertinya memang begitu; awalnya kita akan sulit mengaku, atau menyebutkan; sesuatu yang seperti apakah yang kita sukai? Sulit saja rasanya. Rasa-rasanya apa yang kita pilih untuk kita sukai tersebut, tak mengerucut terhadap satu spesifikasi tertentu hingga kita memutuskan untuk menyukainya. Misal untuk tinggi atau tipe wajah untuk seseorang, misal biru untuk sebuah warna, misal polos untuk sebuah corak baju, misal ini untuk sebuah itu. Kita merasa biasa-biasa saja dan tak (mampu) mengakui kalau sebenarnya ada ciri khusus dari yang kita sukai itu.

Saya sepertinya dulu begitu. Tentang warna, saya dulu akan sulit kalau ditanyai warna apakah yang lebih saya sukai dari yang lain. Saya menganggap tak ada yang spesial dari warna tertentu maka  tak perlu perlakuan spesial lah terhadap salah satu warna tersebut. Sama saja. Hingga saya menyadari, dalam perjalanan waktu, kok sepertinya ada sebuah pola khusus yang bisa disarikan atas sebuah pilihan-pilihan yang saya jatuhkan. Ini tentang warna. Bila memilih baju, saya lebih sering memilih warna ini dari pada warna itu. Bila memilih peralatan lain (yang memberi peluang untuk memilih dengan berbagai macam warna), saya ternyata lebih memilih warna ini juga daripada yang lain. Dalam memandangpun, saya lebih nyaman memandang suatu objek dengan warna ini daripada warna itu. Hingga secara diam-diam pun, saya mulai berkesimpulan kalau saya menyukai warna ini, lebih dari warna itu.

Pada awalnya memang ketaksadaran. Dan suatu yang tak disadari tak mungkin untuk diceritakan. Lebih sering menganggap segalanya serba normal dan tak ada yang spesial. Tak terkhususkan. Sebab segalanya serba otomatis, ujug-ujug, dan diluar kendali kita. Seperti gerakan pompa jantung dibandingkan helaan napas. Pompaan jantung di luar kendali kita, sedangkan helaan napas di dalam. Kita bisa mengatur berapa helaan napas kita per menit, tapi tidak untuk berapa kecepatan jantung kita memompa darah.

Apakah memang begitu? Rasa-rasanya juga tidak. Sebab memilih adalah sebuah keputusan. Maka segala yang kita putuskan (bukan terputuskan), akan perlu diri kita untuk campur tangan. Bukankah kita memilih baju warna ini karena kita yang mengambilnya dari gantungan yang terpajang, mematut-matutnya, mecobanya di bilik sempit, lalu membawanya ke kassa. Dan sebuah keputusan, apalagi ada sebuah jedah waktu untuk mempertimbangkan, akan selalu berlandasan. Sekecil apapun itu. Landasan itulah yang harusnya tersadari untuk kita kumpulkan dengan landasan-landasan lain dalam kasus memilih hal yang sejenis guna membentuk sebuah pola. Pola  yang kemudian kita generalisir untuk menjawab pertanyaan tentang yang bagaimanakah yang kita sukai.

Lalu mengapa kita bisa tak menyadarinya? Mungkin jawabannya ini; sebab landasan yang menjadikan kita memutuskan untuk memilih ini dibandingkan itu tadi, terbangun tidak melalui sesuatu yang seketika. Ada proses. Evolusi, bukan revolusi.  Perlahan-lahan. Sedikit-demi sedikit. Hingga tak terasa, hingga tak tersadari tadi. Jadilah itu kemudian sebagai keputusan tak sadar. Kita menyadari telah memutuskan itu, tapi tak sadar mengapa memutuskan itu.

Seperti kasus warna itu tadi. Bila kita mampu mengingat lebih jauh, rasanya pilihan warna kita dulu tak seperti yang sekarang ini, bahkan berkebalikan. Waktu kecil dulu suka yang ngejreng-ngejreng, sekarang tak lagi. Dulu suka merah, sekarang biru. Dulu suka yang cerah, sekarang yang kelam-kelam. Berubah. Berubah yang tak instant. Berubah yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, pemahaman, lingkungan, pengetahuan, serta yang lain. Dan itu berlangsung perlahan-lahan. Bergerak halus mempengaruhi kita. Hingga tak tersadari tadi.

Ujug-ujug kita lebih memilih warna ini saat membeli baju. Ujug-ujug kita suka buku bersampul warna ini saat melihat-lihat di toko buku. Ujug-ujug kita damai melihat warna ini. Ujug-ujug.

Maka kemudian, apa yang terjadi saat kita sudah sadar benar apa yang kita sukai. Jawabannya bisa jadi berbeda. Ketika kau sudah punya definisi tentang apa yang kau sukai, kau akan sedikit mengurangi sebuah fase bernama memilih. Ketiadaannya ini, boleh jadi menyenangkan, boleh jadi membosankan. Dalam kasus memilih baju, kita akan langsung cenderung menuju baju-baju dengan warna yang kita sukai, baru kemudian model. Atau, kalau kita sudah tahu benar model baju yang bagimanakah yang kita sukai, kita akan langsung menuju baju dengan model tersebut baru kemudian memilih warna. Maka kemudian akan muncul satu akibat dengan dua penafsiran yang berbeda; waktu yang dihemat atau ‘keasyikan’ memilih yang terpangkas. Dua tafsiran inilah yang kemudian mebedakan si pelaku.

Contoh lainnya seperti ini. Taruhlah Anda ke sebuah toko buku. Kasus pertama Anda ingin mencari buku x. Anda tahu betul judulnya, tahu betul penulisnya. Maka yang Anda lakukan tinggal ke komputer yang tersedia dan mengetikkan judulnya. Tinggal klik, maka tampil. Lalu Anda tinggal menuju rak yang disebutkan. Selesai! Beda lagi untuk kasus kedua, Anda ke toko buku untuk mencari buku. Tak tahu judulnya, yang penting mencari. Mungkin novel, tapi tak terspesifik judulnya apa. Maka Anda mulai menjengkali setiap sudut toko buku itu, mengamati tiap judul yang menarik Anda, membaca resensinya, menimbang-nimbang harganya, sampai….aha! Sepertinya sudah Anda temukan bukunya. Lama? Mungkin iya. Menyenangkan? Mungkin juga iya.  Mengasyikkan?? Mungkin juga iya. Yang pasti, beda rasanya dengan ketika menemukan buku pertama.

Lalu sekarang, manakah yang Anda pilih? Bagi saya, agaknya kita perlu sekali-kali menjadi orang yang masa bodoh dengan kesukaan kita. Memulai dari awal. Sebab proses menemukan itu ternyata menyenangkan. Ada kepuasan. Semakin lama semakin asyik. Tentu saja, ini berlaku kala tak ada keterburu-buruan, kala banyak waktu yang kita punya. Tak ada pula kejhar tayang…

Mari memilih! Dengan mengenyampingkan sejenak kesukaan kita. Memulai dari nol. Barangkali, cara ini yang justru lebih jernih. J

 

 

NB: Saya menulis ini, kecuali tiga paragraf terakhir, di Bandung. Awalnya ingin menceritakan kalau saya menyukai Bandung ini oleh sebab pohon-pohon tingginya sepanjang jalan. Membuat adem mata yang melihat. Tapi, entahlah! Kok jadinya malah tulisan ini. Ternyata saya tak mampu mengontrol gerak jemari saya yang meliar. Dan, sepertinya, hasilnya liar juga.. Ha ha.. Yuk didiskusikan!

 

 

 

Tuesday, September 14, 2010

kalah--

Ini mungkin tentang seberapa sih yang kita butuhkan. Bukan tentang seberapa yang bisa kita ‘manfaatkan’

Atau entahlah!

Seperti ketika menelepon sebuah penginapan di sebuah kampus saat training ke luar pulau beberapa bulan yang lalu; ‘per malam berapa, bu?’. Dan ketika si ibu menjawab, ‘yang kamar mandi dalam 299 ribu, yang luar…… (-sekian ribu yang saya lupa – yg pasti lebih murah)’, saya menoleh ke teman yang membersamai saya untuk meminta pertimbangan. Lalu, “kamar mandi dalam, lah! Kan nanti sama-sama diganti”, begitulah jawabnya.

Dan lagi-lagi saya kalah. Karena kampusnya adalah kampus saya kuliah dulu, awalnya sempat terpikir untuk numpang di kontrakan saya yang dulu (-meski penghuninya sudah banyak muka-muka baru-), terus jatah penginapan yang diberikan perusahaan di-lump sum-kan. Cukup lumayan untuk dipakai mentraktir teman kontrakan dulu. Traktiran yang saya yakin amat membahagiakan mereka –sebab saya pernah merasakannya.

Kemudian alternatif itu tereliminir dan saya ikut-ikutan menginap di wisma kampus yang berbayar. Kami datang berdua dan tak enaklah kalo salah satunya di kontrakan satunya di penginapan, begitulah pemaklumannya. Dan ketika alternatif kamar mandi dalam dan luar itu mengemuka, di sinilah letak ujiannya. Keduanya sama-sama mungkin untuk dipilih sebab tarif maksimal yang ditetapkan perusahaan buat karyawan sekelas saya masih ada di atasnya. Hanya tentang fasilitas yang bakal saya dapatkan saja lah pembedanya.

Dan tentang seberapa besar fasilitas-fasilitas itu saya butuhkan lah sebenarnya sebagai wasitnya.

Tapi saya, lagi-lagi kalah.

Kalau saya memilih yang lebih murah, perusahaan akan menghemat sekian ratus ribu, yang boleh jadi sepele bila dibandingkan dengan kumulatif pengeluarannya. Tapi tetap saja penghematan. Sempat terlintas ini. Lalu hilang lagi. Tertutupi lagi.

Sebab ternyata variable penentu keputusan itu tak hanya tunggal dari lintasan pikiran kita. Ada orang lain yang juga sebagai variabel. Kita tak selamanya sendiri. Tinggal kemudian seberapa besar kita mengkreasikan variabel lintasan pikiran baik kita agar bernilai besarlah (-mungkin dikalikan tetapan besar, mungkin dipangkat seribu kan-)kuncinya.

Ini tentang perkawinan ide. Pergulatan orientasi.

Ada banyak pertarungan lain sebenarnya, tapi hari ini saya ingin membaginya yang itu saja.

 

** untuk seorang teman yang dulu dalam sebuah sambungan telepon pernah berucap : ‘ingin nangis rasanya, bal, bila mengingat masa-masa awal kita di kontrakan dulu’. Semoga kau masih mengingat masa itu sebagai tarbiyah, bukan sebagai puasa untuk kemudian kini saatnya berbuka

*** ditulis ketika kesempatan dinas luar pulau itu datang lagi dan kenikmatan-kenikmatan dunia macam gedung-gedung tinggi, kasur-kasur empuk, mobil-mobil berkelas bakal dari dekat terinderai.