Showing posts with label sahabat. Show all posts
Showing posts with label sahabat. Show all posts

Thursday, December 23, 2010

perkenalkan, namaku latif, namanya khair (-lanjutan selesai-)

ia memanggilku 'latif', mencoba menyelisihi lainnya yang memanggil dengan 'iqbal'. Katanya, "sebagai doa. Latif artinya lembut". Tapi kemudian ia juga meminta kata ‘khair’ sebagai panggilannya. Sebuah panggilan dari penggal pertama kata namanya yang sebuah. Sebagai doa juga, demikian mungkin inginnya.

Kami sudah mulai berkawan sejak menapaki awal kuliah. Adalah sebuah kontrakan kecil di sudut keputih sebagai wadahnya. BNI 45 nama kontrakan itu. Kefamilieran mungkin menjadi alasan pemilihan nama itu, selain tentu arti yang terkandung. BNI adalah kepanjangan dari Baitun Nurul Ilmi, sedangkan 45 adalah nomor rumah kontrakan kami yang 45 A.  Setahun usia kebersamaan di kontrakan itu. Sebab selanjutnya ia memutuskan untuk pindah. Sesuatu yang awalnya aku sesali, tapi kemudian kumaklumi.

Tapi tentu saja, akhir yang dimaksud itu hanyalah akhir untuk  kebersamaan dalam wadah satu kontrakan. Kita masih satu jurusan, kita masih satu organisasi, dan kita masih mempunyai kesamaan aktivitas yang membuat kerap jalan bareng. Saat-saat kita kumpul bareng masih panjang.

Ketika acara futsal bareng sabtu pagi, pas masih sekontrakan, kita lebih sering menjadi dua orang yang harus saling berhadapan. “Khair dan iqbal jangan satu tim!”, demikian seseorang sering protes pas pembagian tim. Sebuah isyarat agar distribusi kekuatan tim bisa merata. Aku sudah hafal betul bagaimana caranya membawa bola, sama dengan dia yang sudah paham benar bagaimana gayaku menggiring bola. Sebagai kawan se-tim itu penting, sebagai lawan juga penting. Kau akan tahu dimanakah harus berposisi saat seorang kawan membawa bola saat hafal benar gayanya, sama halnya kau juga akan dengan mudah merebut bola dari seorang lawan saat kau tahu betul kebiasaan-kebiasaannya saat membawa bola.

Dua kalimatnya kemudian yang begitu menancap padaku hingga kini. Yang pertama di sebuah malam lewat sebuah SMS saat aku baru saja diputuskan oleh forum untuk menjadi koordinator IC Ormaba. “Jika menjadi koordinator instruktur adalah sebuah beban berat, maka jangan minta beban yang ringan, tapi mintalah punggung yang kuat agar bisa memanggul beban itu”, demikian bunyi sms itu tepat saat aku masih saja menata hati atas keterpilihan itu. “kami tunggu di ruang himpunan malam ini”, demikian lanjut sms-nya malam itu. Ia adalah koordiantor SC untuk Ormaba kala itu. SMS-nya malam itu, adalah kalimat tepat di saat yang tepat. Maka tak heran lah jika itu kemudian begitu dalam menghunjam.

Kalimat keduanya datang di kala hujan. Kami hendak pulang ke kosan kala itu. Berjalan kaki bersama. Tapi naas, baru saja melangkah, ketika baru sampai di Teknik Mesin, sebuah jurusan yang terletak di sepanjang jalan menuju kos dari jurusan kami, hujan turun. Maka tak ada yang bisa dilakukan selain berteduh di sebuah emperan. Menunggu. Menunggu yang sayangnya menjadi lama sebab hujan tak kunjung mereda. Maka aku mulai mengeluh tentang perut yang lapar. Hari memang telah sore dan baru paginya saja perut terisi nasi. Tapi kemudian, lagi-lagi kalimatnya menenangkan; “semakin lapar akan semakin nikmat nanti makannya”. Agak sedikit bercanda ia mengucapnya, tapi jelas ada kebenaran. Ia mengajak untuk sebuah kenikmatan lebih yang bakal tergapai, untuk ketakenakan yang sekejap ini. Dan memang, kalimatnya ini ternyata tak melulu tentang makan. Ada hal besar di sana.

Khaerudin namanya. Satu kata itu lah memang penggalan lengkap dari kata ‘khair’ yang ingin ia panggilkan padanya. Orang Tegal yang besar di Jakarta. Ia adalah gambaran orang jakarta yang amat berkebalikan dengan model orang jakarta yang diperkenalkan di sinetron-sinetron murahan. Di buku album kenangan SMA-nya, ia mendapat pedikat ter-calm.

Kemudian, akhir 2008, atau awal 2009, ia berpamitan. Sambil menyerahkan beberapa buku yang ia amanahkan untuk dikembalikan ke seorang teman lain, ia menghampiri kontrakan. Ia berpamitan untuk kembali ke jakarta dan memilih mencari kerja di sana. Perpisahan itu berlangsung sederhana saja. Tak terbayangkan kalau pada akhirnya itulah kali terakhir kita bertatatap muka untuk jangka waktu yang lama.

Dan itulah memang, akhir pertemuan kita. Bahkan ketika pada akhirnya saya hijrah ke Bontang, kemungkinan untuk bertemu itu kian mengecil. Saya sering heran untuk masalah ini, ternyata momen-momen bersama dengan teman-teman dulu itu, sering kali tak saya sadari bahwa bisa saja itu menjadi momen terakhir kita bertatap muka, apalagi yang berjamaah. Kesadaran itu baru terbentuk kala masing-masing dari kita sudah saling berpencaran jauh. Si ini sudah di sini, si itu di pulau situ. Perlu banyak hal yang harus diatur bahkan untuk sekedar bertemu, apalagi yang disebutkan tadi; berjamaah. Saling mencocokkan jadwal cuti, mengorbankan waktu pulang yang langka, serta yang lain. Jadilah  kemudian momen kumpul bersama dengan teman-teman—teman dekat khususnya—menjadi sebuah kemustahilan kala tak ada niat yang benar-benar. Bukan keinginan sambil lalu, atau kerinduan sesaat atas romantisme masa lalu.

Dan tentang Khaerudin ini, hanya bisa mendengar kabar ia kerja di PT anu, kemudian berpindah ke PT anu lainnya. Mengawasi  perkembangannya dari facebook, sesekali pula melihat penampakannya yang terbaru. Menurutku, ia jauh lebih gemukan. Penilaian yang boleh jadi sama darinya tentang aku. Tapi tak masalah senyampang fakta itu berarti kabar baik.

Suatu ketika ia sms. Mengabarkna dirinya yang berada di Balikpapan, serta menanyakan tentang bagaimanakah menuju Bontang dari Balikpapan itu. aku kemudian memberikan alternatif-alternatif transportasinya, harapan untuk bisa bertemu  setelah sekian lama itu pun ada. Pekerjaannya yang terbaru memang memungkinkannya untuk berkunjung dari satu lokasi ke lokasi lainnya, dari pulau satu ke pulau lainnya. Tapi, sayangnya, kesempatan itu belum menjadi milik kita. Karena alasan alokasi waktu yang minim, ia membatalkan kunjungannya ke Bontang itu dan memilih kembali ke Jakarta.

Kemudian ada juga kesempatan saat aku ada training di Bandung. Karena penerbangan memang adanya ke jakarta, maka mampirlah aku ke sana. Tapi lagi-lagi sayang, karena waktunya yang masih suasana lebaran, saat itu ia masih mudik di Tegal. Jadilah acara ketemuan itu kembali gagal.

Hingga beberapa hari yang lalu. Kesempatan baik itupun kembali datang. Aku kembali ada training di Bandung dan segera saja kuinfokan rencana itu kepadanya. Karena acaranya hari senin sedangkan jumatnya cuti bersama, maka jadi panjanglah kesempatan itu.“ke Dufan yuk?”, demikian balasnya di salah satu sms. Membuat saya nyengir, tapi kemudian menjadi tak apa menyadari fakta aku belum pernah ke sana.

Kini, pertemuan itu pun sebentar lagi menjadi nyata. Tak sabar rasanya melihat ia yang sekarang, mengetahui beratbadannya, melihat sendiri nomor celananya. Mungkin kita akan sedikit mengenang masa lalu, lalu berbicara banyak masa depan. Sambil melepas rindu.

Kini pertemuan itu sejarak sekali penerbangan Balikpapan-Jakarta. Segera saja.

 

Pojokan Bandara Sepinggan

Subuh

Wednesday, May 28, 2008

"Bersama Istri Tercinta"

kemarin sore, saya dapat berita yang benar-benar mengejutkan saya. Cerita bermula ketika saya lagi online di yahoo messenger (*kalau ini sih memang kebiasaan*). Kebetulan sore itu banyak yang on line, dan salah satunya adalah teman SMA saya yang kabar terakhir yang saya dengar sedang bekerja di Batam. Sudah lama kita tidak ketemuan (*kalau dihitung sudah dua tahunan lebih*) dan mungkin saja kita sudah saling pangling apabila bertemu. Tak pelak pertemuan di dunia  maya kemarin itu benar-benar barang langka yang cukup lumayan mengobati kerinduan kami. Kami pun mulai ngobrol. Hal pertama yang diobrolkan seperti biasa adalah masalah kabar masing-masing. Ia tanya kapan saya lulus, dan saya balik tanya hal lain tentang dia. Pembicaraan pun merembes ke teman-teman kami yang lain. Mulanya saya minta kontak teman-teman SMA kami yang lain, kali saja ia punya, karena sudah sangat lama saya tidak berkomunikasi dengan mereka. Saya kemudian menyebutkan beberapa nama yang ingin saya tahu kontaknya, baik no hp maupun alamat email. Saat itulah, berita besar itu keluar lewat huruf-huruf yang terpampang dalam computer saya.

“Bal, udah denger belum? Firdaus sudah nikah”.

(*kaget*)”udah nikah? yang bener pras” (pras adalah nama teman chat saya itu)

“kalau g percaya coba saj lihat fs-nya”

“lihatnya?”

“masuk aja ke f s-ku, Liat di friendsku”

Secepat kilat, tanpa ba bi bu, saya langsung meluncur ke alamat fs yang dimaksud. Hati dag dig dug. Entahlah, ada sesuatu hal yang membuat saya begitu penasaran. Saya masuk alamat fs Pras. Sukses. Saya klik view all untuk friends. Sukses. Halaman pertama untuk friends terbuka, tapi saya belum mendapati nama teman saya yang katanya menikah itu. Saya klik next, halaman terakhir. tapi lagi-lagi tak ada nama yang saya curigai sebagai teman saya itu.

“Pras jenenge firdaus nang fs opo?”

“firdaus”

“g ada tuh di fs-mu”

“iyo ta?sek, aku tak mbuka fs-ku”

Tapi diri ini terlanjur tak bisa menunggu. Saya kemudian klik salah satu teman di fs Pras yang juga teman saya pas SMA dulu. Mungkin saja firdaus jadi friendsnya di fs.

Singkat cerita, Firdaus memang jadi friendsnya teman saya itu. Cepat saya klik kanan lalu klik open link in new tab. Terhubung, tapi lambat terbukanya. Tak tahu kenapa koneksi internet di jurusan saat itu begitu lambat. Saya jadi tak sabar. Lalu beberapa tulisan terlihat,  foto-foto belum. Namun, namun itu sudah cukup mengurangi rasa penasaran saya. Kalimat pembuka dalam fs itulah jawabannya: bersama istri tercinta. Olala!!! Yang ia maksud bersama istri tercinta tentunya adalah penjelasan dari foto yang belum sempurna terbuka itu. Satu jawaban saya dapatkan : Firdaus, teman sebangku saya sekaligus teman curhat merangkap teman ngobrol itu, memang benar-benar sudah menikah. Ini benar-benar kejutan yang teramat mengejutkan buat saya. Saya tak meragukan kapabilitasnya, ilmunya, maupun pandangannya ke depan. Berteman dengannya selama tiga tahun di SMA sudah lebih dari cukup untuk mengetahui kekokohan kepribadiannya (*meski saya tak pernah tahu perkembangan dia setelah kuliah*). Tapi yang tiba-tiba inilah yang membuat saya terkejut. Rasaanya baru beberapa bulan yang lalu saja ia mampir ke rumah saya, lalu mengajak saya menginap di rumahnya, ngobrol sampai pagi, lalu paginya memancing di kolam samping rumahnya. Bercanda, meski sekali-kali diselingi pembicaraan yang lumayan berat: tentang umat. Ia terlihat berhati-hati berbicara tentang masalah itu dengan saya karena iapun tidak tahu banyak saya pasca SMA. Tak ada sama sekali gelagat ataupun rencana ia akan menikah. Sama sekali tidak.Tapi nyatanya, kini, ia sudah menikah, bahkan sudah dalam hitungan bulan.

Belum selesai keterkejutan ini, pikiran saya mulai menyodorkan pertanyaan kedua : dengan siapa? “dengan siapa” ini sedikit banyak akan mampu menjawab banyak sekali pertanyaan-pertanyaan lain. Mulai dari apa kegiatannya selama kuliah, sampai seperti apa istri ideal di mata dia (*kira-kira dulu pas pelajaran kosong  kita pernah mbahas ini g ya?*) Dan jawabannya mungkin ada pada foto yang belum terbuka  itu. Saya kian bersemangat. Tapi koneksi internet tidak. Tetap ngos-ngosan untuk membuka foto. Sedangkan jam menunjukkan pukul setengah enam, artinya sudah maghrib. Terpaksa saya redam rasa penasaaran saya tersebut beberapa saat. Melangkahkan kaki ke masjid.

Bermenit-menit berlalu. dan tibalah saya di depan komputer yang menghubungkan saya dengan fs Firdaus tersebut. Foto telah sempurna terbuka. Dan tahukah Anda kesan yang pertama kali muncul kala saya melihatnya: so sweet. Bagi Anda yang sudah membaca buku NPSP karya Salim A Fillah, maka saya bisa menggambarkan foto itu mirip sketsa pada cover buku tersebut. Firdaus sedang naik sepeda kebo, melirik mesra ke belakang, sedang istrinya yang ada di boncengan  terlihat menyandarkan kepalanya ke punggung firdaus. Perbedannya hanya Firdaus tidak memakai songkok dalam foto itu. Sedangkan istrinya persis: “terlihat” sangat akhwat. Jilbab lumayan gede, memakai rok, dan tampak malu-malu.

Hal yang pertama kali ingin saya lakukan kala itu hanyalah mengucap atau menuliskan sesuatu untuk dia. Pertanyaan, ucapan selamat, sebaris do’a, atau apalah. Yang penting saya ingin mengomunikasikan itu semua. Saya coba menulis testimony, tapi gagal karena saya tak punya FS . Saat itulah saya menyesali kenapa tak mau membuat FS. Buat apa? Lebih baik ngeblog aja, pikir saya kala itu. Itulah yang membuat saya terlambat mengetahui perkembangan teman-teman SMA saya yang kebanyakan punyanya cuma FS.

Untunglah kemudian saya mempunyai teman-teman lab yang baik hati yang dengan ikhlas meminjamkan FS-nya (*padahal kita sering bertengkar karena saya lebih sering mnuka mp sedang mereka mbuka fs*) untuk saya pakai menulis testimony di fs Firdaus tersebut. Mudah-mudahan saja ia cepat membacanya. Dan mudah-mudahan ia segera mengirimi saya email, atau no hp terbarunya, atau mengundang saya sebagai kontaknya dalam ym. Akan ada banyak hal yang ingin saya tanyakan, ingin saya diskusikan, dan tentunya bakal banyak gurauan yang ingin saya lontarkan.

Ya…… akhirnya, teman saya yang baik itu, yang selalu nyambung saat saya ajak ngobrol apa saja (*berkebalikan dengan saya yang sering gak nyambung saat ia ajak ngomong hal-hal rumit*), yang selalu menyediakan senyum untuk saat terberat sekalipun (sambil tentu saja memamerkan lesung pipitnya yang dalam), yang sering menjemput saya meski rute rumah kami tidak sejalur (*pernah sekali ia kecelakaan pas akan menjemput saya untuk latihan senam bersama*), yang tak pernah sok tahu itu, telah menemukan labuhan hatinya. Dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Mudah-mudahan, akan muncul firdaus-firdaus muda yang akan mencerahkan umat (*di fs-nya ia menuliskan mempunyai sebuah usaha yang ia dedikasikan untuk kejayaan umat*).

Ok daus, kawanku, saya janji, akan saya tulis profilmu di blog ini. Mungkin tak menarik bagi orang lain yang membacanya. Tapi bagi saya, kau adalah keping ajaib, yang diturunkan Allah dalam lingkar persahabatan ini. (*uppps!! saya baru ingat, bahkan kau baru akan merayakan ulang tahunmu yang ke-22, Desember ini*)