Showing posts with label teman. Show all posts
Showing posts with label teman. Show all posts

Thursday, December 23, 2010

perkenalkan, namaku latif, namanya khair (-lanjutan selesai-)

ia memanggilku 'latif', mencoba menyelisihi lainnya yang memanggil dengan 'iqbal'. Katanya, "sebagai doa. Latif artinya lembut". Tapi kemudian ia juga meminta kata ‘khair’ sebagai panggilannya. Sebuah panggilan dari penggal pertama kata namanya yang sebuah. Sebagai doa juga, demikian mungkin inginnya.

Kami sudah mulai berkawan sejak menapaki awal kuliah. Adalah sebuah kontrakan kecil di sudut keputih sebagai wadahnya. BNI 45 nama kontrakan itu. Kefamilieran mungkin menjadi alasan pemilihan nama itu, selain tentu arti yang terkandung. BNI adalah kepanjangan dari Baitun Nurul Ilmi, sedangkan 45 adalah nomor rumah kontrakan kami yang 45 A.  Setahun usia kebersamaan di kontrakan itu. Sebab selanjutnya ia memutuskan untuk pindah. Sesuatu yang awalnya aku sesali, tapi kemudian kumaklumi.

Tapi tentu saja, akhir yang dimaksud itu hanyalah akhir untuk  kebersamaan dalam wadah satu kontrakan. Kita masih satu jurusan, kita masih satu organisasi, dan kita masih mempunyai kesamaan aktivitas yang membuat kerap jalan bareng. Saat-saat kita kumpul bareng masih panjang.

Ketika acara futsal bareng sabtu pagi, pas masih sekontrakan, kita lebih sering menjadi dua orang yang harus saling berhadapan. “Khair dan iqbal jangan satu tim!”, demikian seseorang sering protes pas pembagian tim. Sebuah isyarat agar distribusi kekuatan tim bisa merata. Aku sudah hafal betul bagaimana caranya membawa bola, sama dengan dia yang sudah paham benar bagaimana gayaku menggiring bola. Sebagai kawan se-tim itu penting, sebagai lawan juga penting. Kau akan tahu dimanakah harus berposisi saat seorang kawan membawa bola saat hafal benar gayanya, sama halnya kau juga akan dengan mudah merebut bola dari seorang lawan saat kau tahu betul kebiasaan-kebiasaannya saat membawa bola.

Dua kalimatnya kemudian yang begitu menancap padaku hingga kini. Yang pertama di sebuah malam lewat sebuah SMS saat aku baru saja diputuskan oleh forum untuk menjadi koordinator IC Ormaba. “Jika menjadi koordinator instruktur adalah sebuah beban berat, maka jangan minta beban yang ringan, tapi mintalah punggung yang kuat agar bisa memanggul beban itu”, demikian bunyi sms itu tepat saat aku masih saja menata hati atas keterpilihan itu. “kami tunggu di ruang himpunan malam ini”, demikian lanjut sms-nya malam itu. Ia adalah koordiantor SC untuk Ormaba kala itu. SMS-nya malam itu, adalah kalimat tepat di saat yang tepat. Maka tak heran lah jika itu kemudian begitu dalam menghunjam.

Kalimat keduanya datang di kala hujan. Kami hendak pulang ke kosan kala itu. Berjalan kaki bersama. Tapi naas, baru saja melangkah, ketika baru sampai di Teknik Mesin, sebuah jurusan yang terletak di sepanjang jalan menuju kos dari jurusan kami, hujan turun. Maka tak ada yang bisa dilakukan selain berteduh di sebuah emperan. Menunggu. Menunggu yang sayangnya menjadi lama sebab hujan tak kunjung mereda. Maka aku mulai mengeluh tentang perut yang lapar. Hari memang telah sore dan baru paginya saja perut terisi nasi. Tapi kemudian, lagi-lagi kalimatnya menenangkan; “semakin lapar akan semakin nikmat nanti makannya”. Agak sedikit bercanda ia mengucapnya, tapi jelas ada kebenaran. Ia mengajak untuk sebuah kenikmatan lebih yang bakal tergapai, untuk ketakenakan yang sekejap ini. Dan memang, kalimatnya ini ternyata tak melulu tentang makan. Ada hal besar di sana.

Khaerudin namanya. Satu kata itu lah memang penggalan lengkap dari kata ‘khair’ yang ingin ia panggilkan padanya. Orang Tegal yang besar di Jakarta. Ia adalah gambaran orang jakarta yang amat berkebalikan dengan model orang jakarta yang diperkenalkan di sinetron-sinetron murahan. Di buku album kenangan SMA-nya, ia mendapat pedikat ter-calm.

Kemudian, akhir 2008, atau awal 2009, ia berpamitan. Sambil menyerahkan beberapa buku yang ia amanahkan untuk dikembalikan ke seorang teman lain, ia menghampiri kontrakan. Ia berpamitan untuk kembali ke jakarta dan memilih mencari kerja di sana. Perpisahan itu berlangsung sederhana saja. Tak terbayangkan kalau pada akhirnya itulah kali terakhir kita bertatatap muka untuk jangka waktu yang lama.

Dan itulah memang, akhir pertemuan kita. Bahkan ketika pada akhirnya saya hijrah ke Bontang, kemungkinan untuk bertemu itu kian mengecil. Saya sering heran untuk masalah ini, ternyata momen-momen bersama dengan teman-teman dulu itu, sering kali tak saya sadari bahwa bisa saja itu menjadi momen terakhir kita bertatap muka, apalagi yang berjamaah. Kesadaran itu baru terbentuk kala masing-masing dari kita sudah saling berpencaran jauh. Si ini sudah di sini, si itu di pulau situ. Perlu banyak hal yang harus diatur bahkan untuk sekedar bertemu, apalagi yang disebutkan tadi; berjamaah. Saling mencocokkan jadwal cuti, mengorbankan waktu pulang yang langka, serta yang lain. Jadilah  kemudian momen kumpul bersama dengan teman-teman—teman dekat khususnya—menjadi sebuah kemustahilan kala tak ada niat yang benar-benar. Bukan keinginan sambil lalu, atau kerinduan sesaat atas romantisme masa lalu.

Dan tentang Khaerudin ini, hanya bisa mendengar kabar ia kerja di PT anu, kemudian berpindah ke PT anu lainnya. Mengawasi  perkembangannya dari facebook, sesekali pula melihat penampakannya yang terbaru. Menurutku, ia jauh lebih gemukan. Penilaian yang boleh jadi sama darinya tentang aku. Tapi tak masalah senyampang fakta itu berarti kabar baik.

Suatu ketika ia sms. Mengabarkna dirinya yang berada di Balikpapan, serta menanyakan tentang bagaimanakah menuju Bontang dari Balikpapan itu. aku kemudian memberikan alternatif-alternatif transportasinya, harapan untuk bisa bertemu  setelah sekian lama itu pun ada. Pekerjaannya yang terbaru memang memungkinkannya untuk berkunjung dari satu lokasi ke lokasi lainnya, dari pulau satu ke pulau lainnya. Tapi, sayangnya, kesempatan itu belum menjadi milik kita. Karena alasan alokasi waktu yang minim, ia membatalkan kunjungannya ke Bontang itu dan memilih kembali ke Jakarta.

Kemudian ada juga kesempatan saat aku ada training di Bandung. Karena penerbangan memang adanya ke jakarta, maka mampirlah aku ke sana. Tapi lagi-lagi sayang, karena waktunya yang masih suasana lebaran, saat itu ia masih mudik di Tegal. Jadilah acara ketemuan itu kembali gagal.

Hingga beberapa hari yang lalu. Kesempatan baik itupun kembali datang. Aku kembali ada training di Bandung dan segera saja kuinfokan rencana itu kepadanya. Karena acaranya hari senin sedangkan jumatnya cuti bersama, maka jadi panjanglah kesempatan itu.“ke Dufan yuk?”, demikian balasnya di salah satu sms. Membuat saya nyengir, tapi kemudian menjadi tak apa menyadari fakta aku belum pernah ke sana.

Kini, pertemuan itu pun sebentar lagi menjadi nyata. Tak sabar rasanya melihat ia yang sekarang, mengetahui beratbadannya, melihat sendiri nomor celananya. Mungkin kita akan sedikit mengenang masa lalu, lalu berbicara banyak masa depan. Sambil melepas rindu.

Kini pertemuan itu sejarak sekali penerbangan Balikpapan-Jakarta. Segera saja.

 

Pojokan Bandara Sepinggan

Subuh

Sunday, November 7, 2010

Perkenalkan, Namanya Dona Windy Astuti


 “Iqbal, kalau ada perlu, dipanggil saja, tak usah dicolek”

Bagaimana aku akan lupa kalimat itu. Pertama kali terucap, sekitar enam tahun yang lalu. Seorang perempuan mengatakannya. Namanya, Dona Windy Astuti.

Kami dipertemukan oleh sebuah pilihan pada bulatan-bulatan yang kami isi di kolom pilihan jurusan pada kertas pendaftaran SPMB. Diuji oleh soal-soal pilihan ganda pada waktu yang sama dan tempat yang berbeda. Kemudian bertemu di sebuah kampus pinggiran Surabaya dengan status sebagai mahasiswa. Tapi tidak! Bukan karena kami sejurusan sematalah yang membuat kemudian aku lebih jauh mengenalnya.

Kalimat di atas tadi, adalah kalimat yang ia ucapkan saat berada di sebuah kelas yang bukan ruang kelas jurusan kami. Memang, saat itu bukan kuliah jurusan, hingga orang-orang yang berada di dalamnya juga bukan semuanya adalah teman sejurusan. Sebagai mahasiswa baru, kami memang wajib mengikuti kuliah bersama dengan jurusan-jurusan lain. Namanya adalah Tahap Persiapan Bersama. Akan ada berbagai macam jurusan di dalam satu kelasnya, meski tetap saja ada teman sejurusan juga di dalamnya. Dalam jumlah sedikit. Ada dua orang saja teman sejurusan dalam kelasku kala itu. Salah satunya, ya Dona tadi. Di dalam kelas itulah kalimat itu terucap.

Adalah menjadi hal biasa jika teman sejurusan lebih cenderung untuk mengelompok sendiri. Duduk berdekatan sebab memungkinkan lebih mudah untuk bertanya satu dan lain hal. Karena lebih dulu akrab. Apalagi, untuk kuliah-kuliah perdana dimana tak banyak anak lain yang lebih diakrabi. Dan itulah kita, yang bertiga kala itu. Sama-sama duduk di baris terdepan. Atau di baris terdepan dan kedua, tapi untuk satu kolom yang sama atau berhimpit. Untuk beberapa pertemuan awal.

Aku ada perlu kala itu. Padanya. Entah ingin menanyakan hal apa. Aku juga telah lupa. Mungkin tentang masalah angkatan yang memang menjadi begitu runyam bagi seorang mahasiswa baru. Dan dia, Dona, lebih aktif di sana. Hingga akan banyak informasi yang didapat dengan menanyainya. Ia selalu bersenang hati menceritakan semuanya dengan semangat.

Aku kemudian mencoleknya dengan sebatang pena. Ya, tentu, aku tahu, aku tak melakukannya dengan tangan telanjangku. Aku tahu ia seorang wanita, dan aku pria. Tak boleh. Apalagi melakukannya pada seorang perempuan yang begitu santun, rapat pula menutup auratnya.

 

Tapi ternyata, ia tetap terganggu; “Iqbal, lain kali kalau ada perlu, dipanggil saja. Jangan dicolek”. Lihatlah, pemilihan katanya adalah bukti kesantunannya. Tak ada intonasi menyalahkan. Hingga membuatku malu bahkan untuk memberi sebuah argumen pembenar tindakanku. Hari itu pelajaran pertamaku dimulai.

Di lain hari ia menegur begini :”Iqbal, duduknya bisa agak ke sanaan!”. Itu adalah kalimatnya ketika ia mulai risih dengan jarak duduk kami yang terlalu dekat. Bukan benar-benar maksudku sebenarnya untuk berimpit meski dalam kursi yang berbeda.  Beberapa kali aku bertanya dan ia menjawab, sering pula ia menanyakan sesuatu dan aku berkewajiban menjelaskannya. Dan tentang kuliah yang hitung-hitungan, maka tak enaklah rasanya jika menjelaskannya tidak dalam satu kertas dimana konsentrasi kita sama-sama di situ. Maka aku pun mungkin sedikit lalai mengindahkan aturan itu. Hingga kalimat itu muncul yang membuat aku kembali mengatur posisi dudukku sampai batas aman.

Itu adalah dua pelajaran awal yang membekas. Ah, membekas memang bukan melulu tentang sebuah hal besar. Membekas kadang juga tentang persoalan yang terlihat kecil tapi begitu jernih tertuang. Membekas kadang juga tentang sebuah mula. Dan untuk dua hal tersebut, dia, Dona, adalah seorang guru yang baik untuk membekaskan pelajaran pada muridnya. Kelak aku menyukuri bahwa interaksi awalku di dunia kampus ini diisi oleh orang-orang baik macam Dona ini.

Dua semester usia pertemanan dalam ikatan sekelas Tahap Persiapan Bersama itu. Dua kali dalam seminggu, Selasa dan Kamis. Dua mata kuliah tiap kalinya. Memang, kita masih satu jurusan, tapi memiliki kesamaan dalam sebuah perbedaan macam sejurusan dalam komunitas multi jurusan itu, memberi nilai lebih dalam hubungan pertemanan itu.

Apalagi yang perlu kuceritakan. Ia seorang yang tekun. Jujur sejujur-jujurnya, minimal sepengetahuanku. Tak pernah kulihat ia tolah-toleh saat ujian berlangsung. Kau mungkin mengira ia lancar mengerjakan soal-soal ujian itu hingga tak perlu repot celingukan mencari kesempatan. Tidak! Tidak selalu. Aku tahu jelas hal itu. Setahun sekelas, dengan intensitas bertukar pikiran tentang mata kuliah yang kerap, sedikit banyak memahamkanku, juga mungkin memahamkannya.

Suatu saat, saat aku tengah menonton nilai akhir mata kuliah Tahap Persiapan Bersama-ku di sebuah tempelan papan pengumuman, ia muncul dengan teman perempuannya, teman sejurusanku juga. Saat itu aku baru balik dari pulang kampung untuk mengisi liburan semester. Seperti biasa, lepas itu, aku akan tergopoh-gopoh menuju kampus untuk menengok nilai-nilai yang keluar.

Ia menyapaku, membuatku memalingkan muka dan sejenak mengalihkan pandang dari tabel berisi nama-nama dan huruf-huruf di sampingnya. Dengan senyum-senyum kemudian ia berucap, “Nilaimu bagus ya, Bal? Cuma ada tiga orang yang dapat A.”

Aku tersenyum juga. Tapi pahit. Aku tentu tahu benar, baru saja aku melihatnya. Dengan mata kepalaku sendiri. Bersanding di namanya dalam tabel nilai itu, sebuah huruf ‘D’. Dan itu artinya ia tak lulus mata kuliah ini. Tapi lihatlah, tak ada kesedihan yang terlalu, ia justru tersenyum. Kemudian menyampaikan selamat dengan kekhasannya. Hati siapa yang tak teriris-iris. Ah, yang menggetarkan sebenarnya bukanlah kesedihan itu, tapi kekuatan menghadapi kesedihan itulah yang justru mengoyak-ngoyak nurani. Hari itu ia memberiku pelajaran yang ketiga.

Selanjutnya, kami justru serting berinteraksi dalam wadah organisasi. Dari pertemuan sebatas ruang kuliah menjadi ruang rapat. Dari tentang kulaih menjadi tentang strategi organisasi. Ia masih seperti yang dulu. Masih santun, dengan kalimat yang terpelihara. Jauh dari menyakiti. Hingga tak heran ia menjadi orang yang bisa diterima di banyak golongan. Tak terlalu mengherankan pula jika kemudian ia terlihat dimana-mana. Langkah kakinya memang cepat, dengan gaya berjalan yang selalu terlihat terburu-buru. Kakinya seakan tak cukup cepat untuk mengakomodasi kehendaknya yang melesat.

Dan waktu, memang benar-benar melesat. Di semester-semester akhir perkuliahan, di sebuah siang, aku terkejut ketika ia tiba-tiba berkata ini kala kami bertemu, “Iqbal, ibunya sakit rematik ya?"

Aku, sambil tersenyum mengiyakan. Sejenak heran darimana ia mengetahuinya, namun secepat kilat tersadarkan kalau info itu pasti ia dapatkan dari membaca blogku. Beberapa waktu lalu aku memang menulis tentang ibu meski tak spesifik tentang penyakit rematik itu.

"Itu, soalnya ibu saya juga pernah. Dan alhamdulillah sekarang sudah sembuh. Minum parutan sayur manisa. Yang biasa dibuat sayur itu"

Aku tersenyum lagi. Duh, aku tak tahu energi kebaikan apa yang begitu baik ia simpan. Untuk ia tebarkan kemanfaatannya kepada siapa saja di sekelilingnya. Saat menulisnya, aku sama sekali tak mengharapkan tanggapan tentang solusi mengatasi rematik itu. Tidak! Tapi, lihatlah! Ia menjelmakan tulisan itu sebagai peluang untuk berbagi kemafaatan ke sekitarnya. Berbagi kebaikan. Membuat orang akan senantiasa nyaman membersamainya.

Dan, melesat. Benar-benar melesat.

 

Hingga 2 Juni 2009 itu. Di suatu pagi. Saat itu aku telah terpisah jauh dari tempat kami dulu bertemu. Memang, setelah merantau untuk tunututan kerja, aku tak banyak lagi mengikuti perkembangan teman-teman, termasuk Dona ini. Yang kutahu, satu semester setelah aku lulus, iya lulus juga. Itu saja. Tak lebih. Tak tahu, atau bahkan tak tahu menahu tentang aktivitasnya setelahnya.

Tapi sms itu, kemudian mengabarkan segalanya:

“Innaalillahi wa innaa ilayhi rojiun”, bukankah itu pembuka untuk sebuah sms pemberitahuan tentang kematian, “telah meninggal teman kita, Dona Windy Astuti, hari ini di jakarta”

Entah apa yang ada di persaanku kala itu. Sempat terbengong tak percaya. Berharap SMS ini keliru. Berharap SMS ini hanya main-main belaka. Tapi, ternyata tidak! SMS lain kemudian datang menyerbu untuk memberitahukan hal yang sama. Maka secepat kilat kemudian aku sign in yahoo messenger, log in Face book. Menyapa teman-teman, mempertanyakan kebenaran.

“Benarkah?”

“Bagaimana bisa?”

“Ceritanya bagaimana?”

Tak ada yang benar-benar tahu dengan pasti. Semuanya serba simpang-siur. Tapi yang pasti, aroma duka menyeruak. Kalimat-kalimat bela sungkawa sontak memenuhi status FB, milist angkatan ramai membicarakan kronologis. Tak jelas, tapi dari keterangan yang patah-patah, kemudian aku mendapatkan kronologis seperti ini:

Dona diterima kerja di jakarta. Kemudian mengikuti orientasi kerja semi militer. Menginap. Saat itu lepas sholat subuh, teman  sekerjanya menjemput ke kamarnya untuk bersiap-siap mengikuti acara, tapi ia mempersilhakan temannya itu untuk duluan. Saat itulah, saat temannya sudah di luar untuk duluan, terdengar sebuah benda berat jatuh berdebam dari dalam kamar. Saat dilihat, Dona sudah ditemukan ambruk di dalam kamarnya.

 

++++++

 

Dan, di sujud itu, beberapa jam setelah kabar itu, aku tergugu. Pertahanan selama beberapa jam itu akhirnya jebol juga. Tak tertahankan lagi. Sungguh, ia terlalu baik, terlalu banyak hal-hal baik yang ia catatkan, mengingatnya adalah mengingat kebaikan. Maka, jika air mata ini adalah kesaksian akan kebaikannya di muka bumi ini, maka ijinkanlah Ya Allah, bulir-bulir air mata ini menjelma menjadi butir-butir yang memperberat amal kebajikannya. Ijinkanlah!

Thursday, September 25, 2008

K-E-P-E-R-G-I-A-N (catatan detik-detik terakhir seorang kawan)

            Bukan kematian benar menusuk kalbu

Keridlaanmu menerima segala tiba

Tak kutahu setinggi itu atas debu

Dan duka maha tuan bertakhta

(Nisan, Chairil Anwar)

 

 

Suatu ketika, dalam sebuah ceramah terawih di masjid kampus UGM, menkominfo, Pak Nuh, pernah menyatakan bahwa semakin puncak kebutuhan seorang manusia maka semakin sedikit orang-orang yang bisa berpartisipasi untuk bisa memenuhi kebutuhan itu. Dalam bahasa matematika, pernyataan ini dinyatakan  dengan saat dy/dx mendekati 0. Ada banyak sekali kebutuhan manusia, tak terhitung malah. Berbeda antara satu manusia dengan manusia lain. Kitapun kemudian sepertinya berlomba-lomba untuk mencoba memenuhi kebutuhan  itu. Dengan usaha kita sendiri, tapi yang lebih sering melalui bantuan orang lain. Dengan tanpa mengeluarkan sepeser uangpun, tapi tak jarang pula dengan mengorbankan tak terkira harta kita. Namun, pernahkah kita mencoba merenungi, apakah sebenarnya kebutuhan puncak kita itu. Makan? Kalau kita mengikuti pernyataan Pak Nuh diatas, rasa-rasanya tidak, teramat tidak malah. Banyak sekali orang-orang yang berperan untuk memenuhi kebutuhan kita itu; ada pak tani, ada si pembuat piring, kadang ibu yang telah memasakkan kita, terkadang pula pelayan restoran yang dengan ramah mengantarkan pesanan kita. Tidur? Lagi-lagi tidak. Bukankah banyak sekali yang berperan sampai kita bisa tidur dengan lelap. Saat itu, pak Nuh mengungkapkan, bahwa salah satu kebutuhan puncak kita itu adalah sakaratul maut. Bagaimana menjemput kematian dengan khusnul khotimah. Cobalah kita hitung, atau bayangkan, berapa kiranya orang yang mampu membimbing seorang yang mau meninggal dengan kalimat tauhid. Setelah itu, kita akan tahu sendiri jawabannya.

Kematian. Lagi-lagi kematian yang harus saya tulis. Apa mau dikata, memang inilah yang benar-benar terjadi. Memang inilah yang sedang mengaduk-aduk emosi saya kali ini. Benar-benar mengaduk. Hingga saat ini.

Kemarin, hari rabu, sekitar jam sepuluh pagi, sebuah SMS masuk ke ponsel saya. Isinya singkat, tepat, mengena. ”Bal bisa ke RS? Sekarang Ari buruk banget. Please”. Deg. Seketika saya merinding, terbengong sesaat. Berbagai macam pikiran berkelebat. Sudah sebulan lebih teman saya itu diopname di RS. Dengan hasil diagnosa penyakit yang gonta-ganti mulai dari amnesia plastis, leukimia, hingga MDS. Sudah berbagai macam SMS dan perbincangan mengenai dia selama ini. Sebelum-sebelumnya saya tak seperti ini.Tapi sms kali ini..sangat berbeda. Saya galau.  Kontrakan sepi, semua sudah berangkat ke kampus. Saya kemudian menghubungi seorang teman. Mengabarkan ini. Mengajaknya untuk ke RS. Tak bisa. Ia ada keperluan ke Dosen. Saya hubungi teman satunya. Tak bisa juga. Ada kuliah sebentar lagi. Teman saya yang ketiga kemudian saya hubungi. Alhamdulillah bisa.

Tapi kemudian ia tak kunjung datang menjemput saya. Hati ini sudah galau, tak sabar lagi. Entah apakah ini efek relativitas waktu atau tidak. Yang pasti menunggu kali itu terasa lama sekali. Saya coba menenangkan diri dengan membaca Al-qur’an. Tapi suara saya bergetar. Ya Allah...ada apa ini.

Alhamdulillah kemudian suara motor terdengar. Teman saya datang. Saya pun bergegas mengambil helm. Segera meluncur ke RS Dr Soetomo.

Baru saja keluar dari area ITS, teman saya SMS. ”Bal, bawa teman-teman yang banyak ke RS”. Ya Allah, ini pasti serius. SMS pendek seringkali dikirimkan oleh seseorang yang sudah tak tahu lagi harus menuliskan apa. Entah apa yang terpikirkan saya kala itu. Tak tahu sudah. Semuanya berebut memenuhi pikiran. Mata saya  mulai memanas.

Hanya tiga orang teman lelaki yang ada di luar ruangan ketika kami tiba di RS itu. Tak ada muka optimis sama sekali di wajah mereka. Saya bergegas masuk. Suasana sebenarnya sepi, sudah sedikit pasien yang diopname di ruangan lebar itu. Tapi seketika itu menjadi tidak. Ada badai yang mengguruh. Hanya ada bapak dan ibunya disana. Mengapit di kedua sisi. Ah saya tak mampu menatap, tak mampu lagi menatap ibu yang sudah sebulan lebih menjaga anaknya di RS ini. Ya Allah, matanya merah. Merah dan berair. Apa gerangan yang sedang berkecamuk di dadanya? Apa kiranya harapan yang mulai perlahan terhapus dari hatinya. Ah, siapakah orang yang tahan melihat seorang ibu yang menangis untuk anaknya.

Dan teman saya, Bustari, nampak tersengal kesulitan bernafas. Berbagai peralatan medis memenuhi hidungnya. Sang bapak, ya sang bapak yang terlihat pendiam di tiap kali kunjungan saya ke situ, nampak telaten membisikkan kalimat tauhid di telinga teman saya itu. Duhai, apakah yang kau bayangkan saat seseorang sudah membisikkan kalimat itu. Persis di dekat telinga. Dengan sura perlahan. Dengan suara yang dipenuhi sesenggukan. Dan di depanmu, penuh oleh pemandangan yang teramat menggetarkan. Seorang bapak yang dulu mungkin telah mengumandangkan adzan di hari pertama teman saya itu (dalam nuansa yang diliputi keharuan mungkin), hari ini....... membisikkan kalimat tauhid di telinga anaknya itu dengan nuansa berbeda.

Tapi kemudian saya mencoba mendekat. Menyentuh tangan kanannya. Pias. Dingin. Sudah teramat dekat mungkin. Kedua orang tuanya menoleh. Menggumamkan sesuatu. Tapi suaranya gentar. ”Perutnya kembung dan keras”. Saya raba perutnya. Benar. Kenapa jadi begini? Saya pegang kembali tangannya. Mencoba menggenggam. Mencoba berpartisipasi memenuhi kebutuhannya. (*saat itu, saat itulah Ya Allah. Hamba merasa begitu tak berdaya. Merasa kecil. Merasa hina. Apalah artinya kami. Betapa sombongnya kami,....yang baru saja ini, atau kemarin, atau seminggu yang lalu, atau setahun yang lalu, atau bahkan di setiap hari kami, kami melupakanMU*).

Saya lalu beringsut mundur. Mencoba mencari keterangan dari teman yang lebih dulu datang.

”Hati dan limpanya dipenuhi darah kotor. Itu darah kotornya sedang disedot lewat selang yang merah muda. Semakin banyak yang dikeluarkan semakin baik. Tekanan darahnya 90/60. Nadinya 40, padahal normalnya itu sekitar 16-25.”

Apa artinya itu? Tak banyak yang terpikirkan. Tapi kemudian yang terlihat para medis terlihat bergegas menghampiri. Menyuntikkan sesuatu. Mengambil sampel darah. Tiga sampai empat orang yang menangani. Bersamaan dengan itu ketua jurusan dan rombongan datang. Keadaan tak banyak berubah. Menit-menit berjalan mencekam. Aura murung menyelimuti.

Satu persatu kemudian teman-teman datang. SMS-SMS itu telah menyebar dengan cepat. Sementara keadaan kian memburuk. Mata-mata mulai memerah. Air mata mulai banyak merembes. Ya Allah!!! Dia teman kami. Bagaimanakah ini?

Dan tiba-tiba suara mengeras. Suara ibu teman saya itu. Tak jelas lagi yang dia ucapkan. Tangis telah mengaburkan semua. Teman saya itu mulai tak tersengal lagi. Tapi ini pertanda yang sangat buruk sekali. Dan tangis itu....amat memilukan mendengarnya, amat menyesakkan melihatnya. Bagaimanalah? Ia seorang ibu, seorang ibu yang telah melahirkannya, yang telah merawatnya dengan cinta, yang pastinya telah betapa merindunya tahun-tahun belakangan ini menanti bungsunya pulang membawa gelar ST. Dan hari ini.........

Lalu tangis itu pecah sempurna sudah. Innaa lillahi wa innaa ilayhi roji’un. Teman kami , saudara kami yang bersahaja, sie perijinan tangguh kami, pemain futsall kami yang selalu bersemangat, komting thermodinamika I kami, teman begadang mengerjakan laporan, koordinator latihan bulu tangkis kami, tempat kami ngutang beli pulsa, menghembuskan nafas terakhirnya. Di sepuluh hari ramadhan ini.

SMS duka bergerak cepat. Suara-suara bergetar mengabarkan berita. Berita cepat terkirim. Forward! Forward! SMS yang sama memenuhi inbox. Dihapus, datang lagi. Ah siapa lagi yang peduli pulsa. Semua dikabari. Entah sudah tahu atau belum, entah sudah mendengar atau tidak. Berita duka itu menyerbu.

Mata kamipun basah. Sakit. Tertunduk.

Ya Allah, sungguh! Di bulan ramadhan ini, seperti halnya berita itu yang deras menyerbu, maka begitupula deraskanlah ampunanMu. Atas mungkin kelalaian yang ia lakukan. Atas kesalahan yang ia perbuat. Bukankah ini adalah bulan penuh maghfiroh ya Allah? Bukankah ampunanmu deras menyerbu bumi? Jika toh, jika toh memang ia punya salah pada kami, kami ikhlas Ya Allah. Kami ikhlas. Mudahkanlah jalannya! Sama halnya ia dulu telah banyak memudahkan urusan kami.

Selamat jalan kawan! Sungguh, tekkim 2004 kehilangan salah satu komponen terbaiknya.