Friday, May 20, 2011

berita-berita kematian

Marilah sejenak kita merenung, ada berapa banyak kiranya, berita-berita kematian lalu lalang di hadapan kita. Memberi variasi dalam gegap gempita informasi yang begitu deras menyergap hari-hari kita. Baik itu kematian orang-orang yang kita kenal—keluarga, teman, rekan kerja, atau bahkan orang-orang yang sama sekali tak kita kenal. Entah melalui sms, pengumuman-pengumuman, berita tv, atau pembicaraan orang-orang. Agaknya, jawaban untuk itu adalah ini; amat banyak.

Seperti juga jawaban itu, berita kematian itu juga teramat sering menyapa saya. Sistem paging via pengeras suara di tempat saya kerja memungkinkan untuk tiap ada karyawan yang meninggal, atau orang tua nya, untuk di informasukan ke semua unit kerja, pabrik dan non pabrik. Menyela setiap aktivitas untuk sekejap terhenti. Bahkan meeting sekalipun.

Namun kemudian, pertanyaannya lagi, dari sekian banyak berita-berita kematian itu, berapa banyak sih yang benar-benar membangunkan kesadaran kita. Membuat kita tertunduk dalam, benar-benar ternasehati, untuk kemudian memikirkan banyak hal. Bukan hanya ucapan spontan ‘inna lillahi wainna ilayhi roji’un’ yang boleh jadi tak meresap sama sekali esensinya. Kalau saya boleh sok tahu, barangkali jawaban untuk itu adalah tak banyak, atau bahkan amat sedikit.

Saya pun, seperti halnya jawaban itu, mungkin juga begitu. Berita-berita kematian itu lebih banyak lalu lalang saja. Tak ada bedanya. Tak ada spesial-spesialnya. Hilang begitu saja, tak membekas.

Entahlah, mungkin hati ini yang telah membatu, yang begitu bebalnya hingga mengabaikan begitu saja paket-paket nasehat yang secara periodik disiapkan Allah. Tak merasa perlu menjengkali diri. Tak merasa penting menafakuri keadaan. Berita-berita itu datang, untuk kemudian berlalu tanpa makna.

Padahal kematian adalah sebenar-benar nasehat. Jika itu tak mampu lagi menasehati kita, apa lagi yang kita harapkan mampu mengetuk nurani kita. Jika sebuah kepastian yang harusnya menyadarkan kita atas tujuan hidup kita, tak lagi memberi dampak atas kehidupan kita, apalagi yang lain. Bukankah tak benar-benar hidup, orang yang tak mengingat mati.

Astaghfirullah.
o0o
ah, tulisan ini mungkin harus membelok. Tentang kematian Nurul F Huda lah awalnya saya menuliskan ini. Tentang sedikit orang yang kematiannya membuat saya tertunduk, merangkai kejadian-kejadian, untuk kemudian ternasehati. Tentang sedikit orang-orang yang kematiannya, tak hanya hidupnya, mampu memberi kebaikan pada sesamanya.

Tapi mungkin ini lah jalannya. Lepas kata ‘astaghfirullah’ sempurna terketik, ketika saya masih merangkai-kata lanjutan untuk membuka paragraph lanjutannya, sebuah sms masuk. Mungkin balasan atas sms yang beberapa menit sebelumnya yang saya kirimkan, pikir saya. Dan benar, dari orang yang baru saja saya kirimi sms. Tapi ternyata tidak, isinya bukan tanggapan atas sms yang saya kirimkan. Sama sekali tak ada sangkut pautnya. Isinya tentang , sekali lagi, berita kematian. Kali ini berita tentang kematian seorang mujahidah dakwah kita, seorang yang kiprahnya begitu menginspirasi banyak orang, seorang ibu yang luar biasa bagi ketiga belas anaknya, ustadzah Yoyoh Yusroh. Maka heninglah seketika.

Allah sekali lagi memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan . Bahwa, jika kau ingin kematianmu menghunjam begitu dalam, membuat orang-orang di sekitarmu tertunduk dalam memuhasabai diri, bukan hanya air mata yang meleleh menuruni pipi, yang perlu kau lakukan adalah memperbaiki hidupmu. Itu saja. Jika kau telah meninggalkan jejak kebaikan pada orang-orang, maka kabar kematianmu akan menghasilkan jenak-jenak untuk orang itu terhenti. Untuk kemudian mengingat kebaikan-kebaikan itu. Merangkainya. Dan hanya tinggal menunggu waktu saja lah mereka melihat dirinya sendiri. Tentang apa yang sudah mereka perbuat.

Dan kaidah itu juga berlaku kebalikannya. Jika ada sebuah kematian begitu dalam membekas di hati orang-orang, maka sudah jelaslah bagaimana si jenazah di masa hidupnya. Pasti, kebaikanlah mengisi hari-harinya. Maka tentang ustadzah Yoyoh Yusroh ini, sms-sms yang begitu ringan disebar, status-status dalam yang seketika dibuat, atau tulisan-tulisan menghunjam yang diketik, tergambarlah sudah bagaimana sosoknya. Ia orang baik, ia orang baik, ia orang baik.

Dari Umar (bin Khaththab) ra, katanya Rasulullah Saw bersabda : ”Seorang muslim yang disaksikan oleh empat orang bahwa ia baik, maka orang itu dimasukkan Allah ke surga.”
Kami bertanya,”Bagaimana kalau tiga orang?”
Jawab Nabi, ” Ya, tiga orang juga.”
Tanya kami lagi, ”Kalau dua?”
Jawab Nabi, ”Ya, dua juga.”
Sesudah itu kami tidak menanyakan lagi tentang seorang.”



berita-berita kematian

Marilah sejenak kita merenung, ada berapa banyak kiranya, berita-berita kematian lalu lalang di hadapan kita. Memberi variasi dalam gegap gempita informasi yang begitu deras menyergap hari-hari kita. Baik itu kematian orang-orang yang kita kenal—keluarga, teman, rekan kerja, atau bahkan orang-orang yang sama sekali tak kita kenal. Entah melalui sms, pengumuman-pengumuman, berita tv, atau pembicaraan orang-orang. Agaknya, jawaban untuk itu adalah ini; amat banyak.

Seperti juga jawaban itu, berita kematian itu juga teramat sering menyapa saya. Sistem paging via pengeras suara di tempat saya kerja memungkinkan untuk tiap ada karyawan yang meninggal, atau orang tua nya, untuk di informasukan ke semua unit kerja, pabrik dan non pabrik. Menyela setiap aktivitas untuk sekejap terhenti. Bahkan meeting sekalipun.

Namun kemudian, pertanyaannya lagi, dari sekian banyak berita-berita kematian itu, berapa banyak sih yang benar-benar membangunkan kesadaran kita. Membuat kita tertunduk dalam, benar-benar ternasehati, untuk kemudian memikirkan banyak hal. Bukan hanya ucapan spontan ‘inna lillahi wainna ilayhi roji’un’ yang boleh jadi tak meresap sama sekali esensinya. Kalau saya boleh sok tahu, barangkali jawaban untuk itu adalah tak banyak, atau bahkan amat sedikit.

Saya pun, seperti halnya jawaban itu, mungkin juga begitu. Berita-berita kematian itu lebih banyak lalu lalang saja. Tak ada bedanya. Tak ada spesial-spesialnya. Hilang begitu saja, tak membekas.

Entahlah, mungkin hati ini yang telah membatu, yang begitu bebalnya hingga mengabaikan begitu saja paket-paket nasehat yang secara periodik disiapkan Allah. Tak merasa perlu menjengkali diri. Tak merasa penting menafakuri keadaan. Berita-berita itu datang, untuk kemudian berlalu tanpa makna.

Padahal kematian adalah sebenar-benar nasehat. Jika itu tak mampu lagi menasehati kita, apa lagi yang kita harapkan mampu mengetuk nurani kita. Jika sebuah kepastian yang harusnya menyadarkan kita atas tujuan hidup kita, tak lagi memberi dampak atas kehidupan kita, apalagi yang lain. Bukankah tak benar-benar hidup, orang yang tak mengingat mati.

Astaghfirullah.

o0o

Ah, tulisan ini mungkin harus membelok. Tentang kematian Nurul F Huda lah awalnya saya menuliskan ini. Tentang sedikit orang yang kematiannya membuat saya tertunduk, merangkai kejadian-kejadian, untuk kemudian ternasehati. Tentang sedikit orang-orang yang kematiannya, tak hanya hidupnya, mampu memberi kebaikan pada sesamanya.

Tapi mungkin ini lah jalannya. Lepas kata ‘astaghfirullah’ sempurna terketik, ketika saya masih merangkai-kata lanjutan untuk membuka paragraph lanjutannya, sebuah sms masuk. Mungkin balasan atas sms yang beberapa menit sebelumnya yang saya kirimkan, pikir saya. Dan benar, dari orang yang baru saja saya kirimi sms. Tapi ternyata tidak, isinya bukan tanggapan atas sms yang saya kirimkan. Sama sekali tak ada sangkut pautnya. Isinya tentang , sekali lagi, berita kematian. Kali ini berita tentang kematian seorang mujahidah dakwah kita, seorang yang kiprahnya begitu menginspirasi banyak orang, seorang ibu yang luar biasa bagi ketiga belas anaknya, ustadzah Yoyoh Yusroh. Maka heninglah seketika.

Allah sekali lagi memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan . Bahwa, jika kau ingin kematianmu menghunjam begitu dalam, membuat orang-orang di sekitarmu tertunduk dalam memuhasabai diri, bukan hanya air mata yang meleleh menuruni pipi, yang perlu kau lakukan adalah memperbaiki hidupmu. Itu saja. Jika kau telah meninggalkan jejak kebaikan pada orang-orang, maka kabar kematianmu akan menghasilkan jenak-jenak untuk orang itu terhenti. Untuk kemudian mengingat kebaikan-kebaikan itu. Merangkainya. Dan hanya tinggal menunggu waktu saja lah mereka melihat dirinya sendiri. Tentang apa yang sudah mereka perbuat.

Dan kaidah itu juga berlaku kebalikannya. Jika ada sebuah kematian begitu dalam membekas di hati orang-orang, maka sudah jelaslah bagaimana si jenazah di masa hidupnya. Pasti, kebaikanlah mengisi hari-harinya. Maka tentang ustadzah Yoyoh Yusroh ini, sms-sms yang begitu ringan disebar, status-status dalam yang seketika dibuat, atau tulisan-tulisan menghunjam yang diketik, tergambarlah sudah bagaimana sosoknya. Ia orang baik, ia orang baik, ia orang baik.

Dari Umar (bin Khaththab) ra, katanya Rasulullah Saw bersabda : ”Seorang muslim yang disaksikan oleh empat orang bahwa ia baik, maka orang itu dimasukkan Allah ke surga.”
Kami bertanya,”Bagaimana kalau tiga orang?”
Jawab Nabi, ” Ya, tiga orang juga.”
Tanya kami lagi, ”Kalau dua?”
Jawab Nabi, ”Ya, dua juga.”
Sesudah itu kami tidak menanyakan lagi tentang seorang.”



apakah sebuah kebetulan, saat aku menulis tentang kematian, sebuah sms datang, tentang berpulangnya pejuang dakwah kita, ustadzah Yoyoh yusroh....

Friday, May 13, 2011

titik-titik rawan

Harusnya memang bukan titik. Sebab yang namanya titik itu sa'tul saja. Sesaat. Hingga sulit untuk tercapai dengan tepat. Tapi periode! Sebab dalam periode ada sebuah rentang waktu, sehingga lebih masuk akal untuk bisa tercapai, atau terasakan.

Periode-periode rawan. Saya mengenal bahasan ini bertahun yang lalu ketika belum satupun yang dibahas di situ menimpa saya. Di sebuah milis organisasi kajian jurusan. Waktu itu, mengangguk-angguk membenarkan meski belum meyakini betul. Tidak diri sendiri yang merasai, sering kali memang membuat orang tidak benar-benar mengerti.

Rawan, adalah sebuah kondisi yang tidak aman. Atau paling tidak, mudah sekali mendapat gangguan. Jika di sebuah tikungan ada tulisan ‘hati hati, rawan kecelakaan’, pastinya memang tikungan itu adalah tikungan yang dianggap berbahaya oleh sebab banyaknya kecelakaan. Maka, jika ada pengendara yang melintasinya, dengan tak berhati-hati sesuai himbauan dalam tulisan itu, boleh jadi ia akan celaka. Selip, jatuh, atau amblas masuk jurang.

Begitulah! Tak terlalu analog. Tapi rawan yang dimaksud dalam tulisan ini boleh jadi seperti itu. Sebuah periode yang berbahaya, yang apabila kita tak berhati-hati, akan menyebabkan ‘celaka’. Stabilitas yang boleh jadi telah lama dibangun, amat mungkin menjadi roboh tak berbekas.

Baiklah, inilah periode-periode rawan itu:

1.    Lepas dari amanah-amanah formal.

Entah di kampus lain bagaimana, meski tak semuanya,  di kampus saya dulu, apabila mendekati tingkat empat perkuliahan, amanah-amanah di organisasi waktunya diletakkan untuk dilanjutkan penerus-penerus yang lebih muda. Ada yang kemudian mencari amanah-amanah lain di luar, tapi tak sedikit pula yang memilih tak mencarinya dengan dalih mengonsentrasikan diri menjemput tugas akhir. Yang pertama mungkin tak apa, sebab atomosfer yang sama masih setia menasehatinya. Tapi yang kedua, boleh jadi berbahaya. Ketika tak ada lagi sebuah amanah resmi yang mewajibkannya untuk syuro-- yang mengharuskannya bertemu dengan orang-orang yang dengan memandangnya saja membuatnya malu dengan tumpukan dosa, ketika pikiran tak lagi dipenuhi oleh strategi-strategi gemilang demi sebuah kebangkitan, ah, jalan menuju arah kebalikannya amat mungkin justru yang membuka lebar. Maka jangan kaget, ketika dulu kau lihat seorang yang begitu sibuk dengan agenda-agenda perbaikan, tiba-tiba terlihat cangkruan tak karuan. Boleh jadi ia adalah sebuah gelas yang belum sepenuhnya kokoh, yang terlalu lama terisi dengan air panas, tiba-tiba dengan tergesa diisi air dingin membekukan. Retaklah kemudian yang ada.

2.    Menyelesaikan Tugas Akhir

Semakin sibuk kita dengan aktivitas non-ruhiyah, maka harusnya semakin digenjotlah amal harian kita. Itu adalah nasehat yang dulu sering kali mampir di telinga. Satu hal yang berat, sebab logika dangkalnya memang tak begitu; bukankah semakin sibuknya seseorang, maka sedikit waktu untuk hal lain yang masih tersisa? Ya, memang, ketika menuruti kesibukan, bukankah waktu yang tersisa harusnya untuk istirahat, untuk melepaskan diri sejenak dari kesibukan. Jadi wajarlah jika amal harian menjadi berkurang, atau minimal stagnan. Tapi, ternyata, tidak begitu lahyang seharusnya! Ketika pekerjaan-pekerjaan datang silih berganti, ketika tuntutan-tuntutan seolah berkejaran tiada henti, maka di situlah sebenarnya kita akan mudah sekali kehilangan esensi. Ruhiyah menjadi kering, dan hanya menunggu waktu sampai ini terjadi; kematian hati. Maka jelas, yang diperlukan adalah menggenjot amalan harian. Sebab perlu usaha lebih untuk mengisi kembali ruhiyah yang kerontang akibat badai kesibukan.

Dan itu yang boleh jadi terjadi di waktu menyelesaikan tugas akhir ini. Ketika kesibukan meningkat, ketika tuntutan-tuntutan untuk cepat lulus itu datang bertubi-tubi, ketika waktu menjadi begitu berharga, maka berhati-hatilah! Sebab ada yang memaklumkan untuk tak lagi sholat berjamaah, mengurangi tilawah, dan menenggelamkan diri dalam aktivitas laboratorium yang tak kenal waktu. Sebuah kombinasi yang  ada itu justru mengarahkan diri pada satu hal; kebangkrutan hati.

3.    Lulus dan Sedang Mencari Kerja

Ini tak kalah penting. Inilah alasan mengapa kita mesti sudah tahu betul apa yang mesti kita lakukan saat lulus. Tentang perusahaan apa yang ingin dimasuki, tentang wirausaha apa yang ingin digeluti. Sebab tekanannya memang sungguh berat. Saat bulan-bulan telah berlalu, dan belum ada pekerjaan yang pas yang kau temu, segala hal yang seyogyanya biasa-biasa saja, tiba-tiba menjadi begitu sensitif dan menekan. Saat kepulangan yang harusnya menyenangkan, tiba-tiba menjadi berat oleh kekhawatiran bisik-bisik tetangga; “itu, tuh, S1 masih nganggur”. Bertemu adik tingkat pun begitu. Apalagi bertemu adik kelas yang rada-rada nggak sensitif; “sekarang ada dimana, mas?”. Belum lagi harapan-harapan keluarga.Belum lagi lulusan baru yang kembali menyerbu dunia pencari kerja.

Maka yang terjadi, jika tak benar-benar punya prinsip kokoh, menjadi serampangan lah kita. Idealisme luntur, perusahaan apapun dimasuki. Apapun dilakui. Bagi perempuan, ada tantangan tersendiri. Telah banyak kasus seorang akhwat yang dulu jilbabnya begitu lebar, setelah bekerja mengalami kenaikan yang drastis –dari selebar taplak menjadi sesempit sapu tangan. Tak jarang pula, seorang akhwat yang dulu kemana-mana bergamis, setelah bekerja harus menyamankan diri memakai wearpack dan memanjat-manjat tangga monyet di kebisingan pabrik.

4.    Mencari Pasangan Hidup

Aih, berat untuk membahas ini.


Begitulah, periode-periode rawan itu. Dan akan jauh lebih berbahaya ketika periode-periode itu berimpit atau saling menindih. Jadi, waspadalah!


#btw, kamu ada di periode mana?