Friday, August 22, 2008

musim maba... mengader...dikader

Menjelang perkuliahan baru. Kampus ramai. Dimana-mana terlihat mahasiswa. Didominasi orang-orang berkaos warna putih, rambut cepak bagi yang cowok serta berkepang bagi yang cewek.  Nampak lelah, layu, bahkan beberapa nampak tertunduk lesu. Pasrah, beberapa juga terlihat tak berpengharapan....jalani saja semuanya...mengalir.

Musin pengaderan. Pengaderan mahasiswa baru. Siklus satu tahunan. Sedikit-sedikit terdengar teriakan. Dari berbagai arah. Kata-kata memprovokasi menguar. Yel-yel jurusan membahana.

Semuanya sibuk dengan pengaderan. Wajah-wajah panitia yang terlihat wah dengan keplek menggantung di leher. Para SC serius merapatkan konsep-konsep. Instruktur-instruktur merapatkan teknis esok hari hingga larut. OC pun begitu, tak kala sibuk. Ada yang menjeprat-jepretkan kamera. Mondar-mandir. Berlarian. Semuanya sibuk. Begitu pula di jurusan ini, di pelataran parkir ini..

Asik juga menonton pengaderan. Entah asiknya ini bermakna apa. Tapi yang pasti, saat nonton dua hari belakangan, saya menyadari bahwa baru kali inilah saya menjadi orang luar. Baru kali inilah saya tak menjadi komponen yang terlibat dari kegiatan pengaderan. Ada rasa yang beda saat saya melihatnya dari kaca mata luar. Entahlah. Berbeda saja. Terasa lebih jernih dan objektif. Ah empat tahun yang telah berlalu.

Agustus 2004, menjadi maba yg takut-takut. Diteriaki. Dijemur. Dipushup. Simulasi-simulasi. Senyum teduh SC. Jaket oranye. Mencekam. Mbak OC yang baik.

Agustus 2005. Bangga mulai tak menjadi maba. Sudah punya adik, adik yang sedang dijemur, yang sedang diteriaki. Sibuk membandingkan dengan pengaderan sebelumnya. Kenapa sih kok mereka diem saja, wah dulu kan kalau kita gitu sudah berontak . Atau kok banyak sekali ya yang sakit, kayak dibuat buat, kita aja dulu..........bala bla bla.  Asik menjadi penonton meski harus disuruh-suruh. Menjadi OC.

Agustus 2006. Berjaket oranye. Berteriak lantang di tengah lapangan parkir sambil membawa megaphone. Pelaksana. Eksekutor. Belum sarapan sudah harus teriak. Nampak berkuasa. Wah. Menjadi IC.

Agustus 2007. Beralmamater biru. Anggun melipat tangan di dada. Tersenyum. Ramah. Wajah-wajah maba yang lugu. Menjadi seorang malaikat yang bijak : SC.

Agustus 2008. Sekarang. Hanya duduk menonton. Tak banyak berkomentar atau menilai. Lebih banyak diam. Hanya sekali saja bernostalgia, tapi tak mencoba membanding-bandingkan. Bahkan hanya diam ketika seorang teman berkomentar. ”lihat tuh si x, sok gaya jadi instruktur, dua tahun lalu saja tak marahin bisanya cuma diem menunduk”.  Ditambahi teman yang lain : ”di posku lo, habis keluar langsung nangis, tanyakan aja Y yang Scnya”. Y, SCnya dua tahun lalu hanya snyum-senyum membenarkan.

Tapi saya, sekali lagi, terdiam. Diam. Hanya saja bersamaan dengan itu berbagai macam pikiran menyergap. Benar, benar sekali, teramat berat untuk menjadi seorang pengader. Pengader yang benar-benar pengader. Bukan masalah marah-marahnya bagi instruktur, atau kalimat-kalimat bijaknya bagi SC. Sungguh itu teramat mudah. Mudah sekali. Semuanya bisa dilatih dan dipelajari. Tapi yang justru paling sulit adalah menjawab suatu pertanyaan besar : sudahkah kita menjadi seseorang yang sudah kita omongkan itu, yang kita gembor-gemborkan, yang kita doktrinkan ke maba itu. Atau kalau toh belum, sudahkah kita mencoba untuk menuju itu. Mengingat itu, maka saya kembali melihat diri sendiri. Dulu, setahun dan dua tahun kemarin, tidakkah yang keluar dari mulut saya hanya omong doang. Tidakkah yang saya gembor-gemborkan di depan maba dua tahun yang lalu hanyalah sebuah kalimat hasil latihan yang tidak diikuti oleh sebuah keteladanan. Dan tidakkah kalimat bijak nan memotivasi yang saya serukan kepada maba-maba saya setahun yang lalu itu hanyalah gaya-gayaan saja. Yang baru saja dicuplik dari buku pengembangan diri. Yang bahkan belum saya implementasikan sama sekali.

Dan komentar teman saya itu? Ah itu mungkin sah-sah saja. Sangat sah. Hak dia untuk menilai demikian. Tapi tidak bagi saya. Saya tak berani menimpalinya, atau menambahi. Jika teman saya itu berkata itu mengenai adik angkatan saya itu, bukankah suatu hal yang tidak mustahil juga jika dua tahun yang lalu kata itu juga terlontar dari senior saya. Bahkan mungkin lebih buruk. Lebih mengejek. Atau bahkan lebih obyektif. ”wah iqbal tuh sok aja sekarang teriak-teriak di megaphone, dulu aja diem menunduk di belakang pas beginian”.

Begitukah? Keteladanan. Sinkronisasi antara kata dan perbuatan. Benar memang bahwa kebaikan itu itu harus kita terima meski dari seseorang yang kurang baik atau yang sebenarnya belum menjalankan kebaikan itu. Tapi ah, alangkah indahnya jika petuah indah yang terucap, terlebih dahulu terlakukan. Betapa mulianya tatkala kalimat-kalimat hebat itu, doktrin-doktrin besar yang dicekokkan ke maba itu, sebelumnya memang sudah menjadi jiwa dari si pengomong. Betapa kita semakin merindu sosok Muhammad.

 

Tuesday, August 19, 2008

Pulang Kampung dan Episode Penuh Ngilu

Sabtu, ahad, senin kemarin, setelah berkali-kali ditanyai kapan pulang, akhirnya saya menghabiskan liburan di rumah. Menikmati detik-detik proklamasi di kampung halaman sambil mencoba menghabiskan buku-buku yang telah saya beli sebelumnya. Waktu awal-awal kuliah, saya selalu rutin pulang seminggu sekali. Naik bus. Tiga jam sudah sampai. Jadi tidak sampai tercipta kondisi dimana saya begitu rindunya akan suasana rumah beserta penghuni-penghuninya. Namun seiring berjalannya waktu dan semakin banyaknya tuntutan lain yang mendesak untuk segera ditunaikan, jadual mingguan itupun pada akhirnya menggeser. Mulanya dua mingguan, berganti bulanan, dua bulanan, hingga sampai pada tahap sekarang : saya tak pernah menghitung atau membuat periodisasi kepulangan. Terserah keinginan. Plus kapan waktu luang. Bisa dua minggu, atau bisa juga berbulan-bulan.

Selalu, tiap kali pulang kampung, saya akan selalu mencari hal-hal yang tak bisa saya dapatkan selama ngekos di Surabaya. Apa saja. Mulai dari makanan sampai kegiatan.  Untuk makanan, sebisa mungkin saya akan menghindari telur dan variannya. Ini sudah menjadi makanan kebangsaan dan mungkin tiap hari saya mengonsumsinya. Amat tidak spesiallah kalau pulang-pulang saya masih saja makan makanan ini. Paling yang sering saya buru saat pulang adalah ikan. Mungkin saat ngekos saya masih sering beli makan dengan menu ikan, tapi tetap saja belum asyik kalau bukan menu khas rumah. Kepala tongkol jumbo yang dicincang kecil-kecil dimasak krengsengan warna hitam, itulah favorit saya.

Masalah kegiatan, ada banyak sekali kegiatan yang dapat saya lakukan di kampung saya yang tak mungkin saya lakukan saat ngekos. Dulu-dulu saya suka pergi ke sawah. Menyaksikan hamparan menghijau, ibu-ibu berbaris menanam padi sambil ngegosip, atau favorit saya: memandangi cabai yang beranjak menua dan menghitung berapa gerangan jumlah cabai setanaman. Atau favorit saya yang lain : menanm singkong di tepi-tepi pematang. Uigh menyenangkan sekali, apalagi dulu. Dulu memang saya bisa tiap hari ke sawah dan bisa menyaksikan perkembanagn tanama yang kita tanam. Menyaksikan tahap-tahapnya. Mulai dari tanaman itu memasuku fase vegetative hingga generative. Fase tumbuh hingga berbuah. Hingga panen. Layaknya seorang ibu membesarkan bayinya.  Ada degup-degup kekhawatiran, tak jarang pula kebahagiaan. Tapi yang pasti mengasyikkan.

Pulangnya dari sawah, saya masih kerap mencari sayur sendiri (terutama sayur-sayur yang tak ada di kota) untuk dimasak.

Ada masih banyak hal lain selain itu yang bisa dilakukan di kampung, sama halnya juga ada banyak hal lain juga yang tidak bisa saya lakukan saat saya di kampung. Kegiatan di kampung yang bisa dilakukan itu lebih banyak kegiatan yang membutuhkan interaksi alam, sedangkan yang tidak adalah yang membutuhkan teknologi. Yang paling saya rindukan saat saya sudah lama di rumah adalah ngenet. Saya yang sudah trerbiasa ngenet hampir tiap hari, jadi seperti ada yang kurang saat beberapa hari tak menyambangi dunia maya itu. Fenomena ini seringkali menimbulkan pemikiran dalam diri ini, atau sekedar angan-angan, atau impian, bahwa mungkin akan indah sekali saat saya bisa menggabungkan keduanya. Saat saya bisa menikmati suasana pedesaan yang segar tapi saya juga tak ketinggalan akses terhadap teknologi. Bisa seharian di sawah tapi pulangnya bisa langsung konek dengan mp. Kapan itu? Suatu saat nanti.

Dan, satu hal yang saya nantikan tapi kadang juga membuat harap-harap cemas adalah saat saya bertanya keadaan terkini. Biasa-biasanya akan selalu ada kejutan. Entah mengenakkan atau tidak. Berita tentang kematian warga kampung seringkali adalah berita yang mengejutlkan bagi saya, meski kematian itu sendiri bukanlah hal yang mengejutkan. Dan kemarin, ada banyak sekali berita yang kurang mengenakkan. Pertama tentang seorang tetangga, masih kecil, entah saya kurang tahu sedang duduk di SD kelas berapa. Dulu-dulu yang saya tahu memang ia tergolong nakal, tak takut orang, tapi saya tak menyangka saja bahwa tindakannya bakal sejauh ini. Kemarin, saya mendengar bahwa ia bersama dua teman kecilnya mencuri potongan rel yang dipasang sebagai jalan lori yang mengangkut tebangan tebu di sawah. Itu mungkin kriminal anak-anak biasa bagi sebagian orang, tapi lihat dulu apa tindakan yang ia perlihatkan selanjutnya. Dengan rasa bangga tanpa rasa bersalah ia menceritakan bagaimana ia mencuri potongan rel tersebut di hadapan polisi. Ya polisi, sosok yang oleh orang dewasa sendiri kerap ditakuti. Mungkin masih mending saat kita melakukan kejahatan, kita sadar bahwa apa yang kita lakukan itu salah, bukan suatu tindakan yang baik. Tapi ini, ah saat kesadaran itu hilang, saat rasa bersalah itu telah tercerabut dari diri, apalagi yang bisa diharapkan.

Lalu saya pun makin merinding kala mendengar untuk apa uang yang ia peroleh dari hasil penjualan batangan rel ke tukang rongsokan itu. Rokok. Y a Allah bahkan  ia belum menyelesaikan SD-nya, bahkan seperti baru kemarin saja saya melihatnya berlarian di halaman sambil telanjang, tapi kini. Ah dengan bangganya ia menghisap batangan laknat itu, sambil membagikan batangan lain ke teman-teman kecilnya. Memprovokasi. Mau jadi apa desa ini kelak. Desa yang dulu saya anggap desa ideal.  Desa yang agamis, tentram, dengan tenggang rasa yang tinggi.

Dan hati ini makin ngilu kala menyadari sebuah kata : ketakberdayaan. Sungguh tak bergunalah saya, dengan bersekolah tinggi-tinggi, tak mampu mencerahkan lingkup terkecil ini. Desa ini.

 

(sebenarnya masih ada hal mengilukan kedua, ketiga yang kemarin saya dengar, tapi akan sangat panjang kalau saya ceritakan semuanya)

Thursday, July 24, 2008

Bagaimanakah rasanya menjadi kakak???

Dua-tiga minggu lalu perasaan itu berkelebat, satu dua kali memenuhi dada, terngiang-ngiang dalam pikiran. Membayang. Bagaimanakah rasanya mempunyai adik itu. Atau dengan bahasa lain, bagaimanakah menjadi kakak itu. Sebagai anak kelima dari lima bersaudara, sebagai lelaki keenam yang muncul setelah bapak dan keempat kakak saya, saya hanya mengenal satu sebutan untuk saudara saya : kakak. Dan itu kemudian berarti banyak. Mungkin kakak-kakak saya pernah menjadi seseorang yang special dalam keluarga karena sebagai anggota termuda keluarga, tapi toh tak lama kemudian mereka sudah harus perlahan menanggalkan keistimewaan itu menyusul kelahiran anggota baru : adik. Begitulah seterusnya hingga kemudian saya lahir. Lahir sebagai anggota termuda keluarga , yang tak seperti kakak-kakak saya sebelumnya,  kali ini berlangsung terus. Selamanya. Karena setelah itu tak ada kelahiran lagi. Saya pun kemudian menjadi adik abadi.

Maka sayalah yang dalam jangka waktu yang lama menjadi yang terspesial. Menjadi seorang yang nyaman, aman, karena di depan saya akan selalu berdiri kokoh yudistira hingga nakula saya. Maka jangan sampai ada yang mengganggu saya. Jikapun saya sedang tak ada di rumah, sayapun pasti masih mendapat bagian makanan terlezat saat orangtua saya mendapat makanan karena itulah memang aturannya. Sisakan buat adik kalian! Begitulah kalimat yang sering berulang. Dan ”sisakan” itu bukan bermakna saya bakal mendapatkan sisa-sisa. Sama sekali tidak. Itu berarti jika bapak pulang dari syukuran di tetangga maka bagian saya adalah telurnya sedang yang lain kebagian tahu tempe sama perkedel kentang. Begitupun ketika saya berada di rumah, sayalah yang pertama kali ditawari. Mau memilih roti atau donat. Itu berlaku ketika orang tua saya pulang dari kondangan.

Dan begitulah. Saya berada dalam posisi nyaman. Terlindungi. Hingga ketika waktu kian beranjak matang, kadang perasaan itu hadir. Ternyata saya butuh melindungi, tak hanya dilindungi. Saya juga ingin sekali waktu ada yang mengadu ke saya dengan suara terbata: ”kak, saya dipukul si anu”. Lalu saya membelai kepalanya. Menenangkan. Mengucapkan kata-kata bijak. Mengajarkan nilai-nilai. Ah, sesorang akan selalu butuh untuk dibutuhkan.

Maka tak pelak lagi, 2-3 minggu yang lalu perasaan itu hadir lagi. Lebih deras dari biasanya. Perasaan yang muncul saat saya melihat, mendengar, dan ikut merasakan bagaimana teman saya begitu luar biasanya memperlakukan adiknya. Teramat spesial (lepas dari baik tidaknya cara dia memperlakukan adiknya itu). Telaten, perhatian, seolah semuanya demi adiknya. Kebahagiaan adiknya adalah kebahagiannya, urusan adiknya pun mau tak mau bakal menajadi urusannya juga. Dan tak heran, ia nampak begitu perkasa bagi adiknya itu.

...........

Kawan! Begitukah menjadi kakak itu? Ketika senyum sang adik adalah seringai kemenangan baginya. Ketika masalah sang adik adalah palu godam yang menghantam kepalanya, yang memaksanya untuk ikut berpikir mencari penyelesaian gemilang. Dan, ketika tawa sang adik adalah bulir-bulir air mata haru yang seketika menyejukkan hatinya.

Saya tak punya adik. Dan mungkin tak akan punya adik. Tapi saya, akan terus mencoba mencari adik-adik lain. Dimana saja. Untuk menjadi partner sejalan. Dan bukan untuk merasakan bagaimana berkuasanya saat memerintah, menyuruh-nyuruh itu.


******

ubtuk kakak-kakakku, terima kasih untuk menjadi kakakku

********** 

 

Friday, July 18, 2008

Susahnya Menerima Penjelasan

Dulu, saya kira itu tak pernah nyata. Saya kira itu hanya ada dalam cerita-cerita saja, dalam adegan sinetron-sinetron picisan, hanya akal-akalan sutradara, hanya sebagai upaya mendramatisir cerita. Biar serulah, biar ada gregetlah, atau bahkan biar membuat orang yang nonton marah-marah.

Si cewek berjalan cepat. Si cowok mengejar. Meraih pundak si cewek. Membalik badannya .  Memaksanya untuk saling bertatapan (tapi sia-sia karena si cewek sudah keburu melempar muka ke sisi lain). Menarik nafas sebentar. Lalu dengan wajah sedikit memelas berucap, “Tolong dengarkan dulu penjelasanku. Itu semua yang kau lihat--?”.

Memotong. Belum selesai si cowok berucap, si cewek sudah memotong, Kali ini menatap tajam wajah si cowok “Tak ada lagi yang perlu dijelaskan. Semuanya sudah jelas. Dengan mata kepalaku sendiri. Aku sudah melihatnya sendiri. Teramat jelas. Seharusnya sejak dulu aku percaya dengan berita itu. Desas-desus itu. Ah sudahlah!!”.

Si cowok hanya hanya bisa memandang, tak percaya bahwa itu bisa serumit ini, “Tapi, tidak semua yang kau lihat benar. Biarkanlah aku memberi penjelasan. Sedikit saja. Setelah itu, terserah kau ingin menilaiku bagaimana”.

“Apa bedanya? Itu tak akan merubah apa-apa”

“Tapi…..”

“Sudahlah!!! Aku masih banyak urusan. Jangan pernah mencoba menghubungiku”

“Tapi…….”. Hanya suara menggantung. Hanya menandai sebuah kekalahan. Padahal, ah bahkan  penjelasan itu belum terucap.

 

Sangat sering sekali bukan adegan seperti itu kita lihat di sinetron-sinetron kita. Adegan yang seringkali membuat yang nonton jadi gregetan (apalagi kalau memang prasangka si cewek keliru). Ikut-ikutan mengumpat dalam hati “apa susahnya sih menyediakan beberapa menit untuk menerima sebuah penjelasan”.

Baiklah saya tak ingin membicarakan panjang lebar hal itu. Itu semua hanya rekaan. Sedang yang terjadi ini benar-benar nyata. Ternyata hal seperti itu juga banyak sekali di dunia nyata. Benar mungkin kalau dikatakan kalau fiksi itu terkadang lebih fakta dari kenyataan itu sendiri.

Ternyata, memang ada orang yang begitu bebal untuk sekedar memperoleh sebuah penjelasan. Terlalu percaya dengan apa yang dilihat, apa yang dirasakan. Lebih suka hidup dalam anggapan-anggapannya sendiri, nyaman dengan penjara prasangka yang ia bangun sendiri. Tak boleh ada yang memberi penjelasan apa-apa. Semuanya salah. Sepatah katapun tak boleh.

Maka tak ada yang bisa diperbuat ketika kau menghadapi orang semacam ini. Mengalah, atau kalah. Bahkan saat kau diberi sedikit waktu untuk berucap, mencoba memberi sedikit penjelasan, ia sudah terlebih dahulu menembok rapat dirinya dengan sebuah anggapan, “apa sih yang kalian omongkan?”. Dan, penjelasan itupun tak akan pernah sampai. Sampai kapanpun tak akan pernah.

Mungkin mudah, saat orang ini adalah orang kebanyakan. Orang-orang kebanyakan yang nyaman dengan sangkaannya sendiri. Cukup ditinggal saja, itu mungkin alternatif terakhir yang bisa dilakukan. Tapi, bagaimana jika orang itu adalah seorang yang terhormat, yang begitu wah dengan sebutan-sebutan yang disandangnya. Sedangkan kau hanyalah seorang anak bau kencur yang mencoba mengutarakan sedikit pengetahuan yang dimiliki. Sedikit penjelasan saja. Mencoba mengajak untuk merekonstruksi sebuah kebenaran. Kebenaran bersama.

“Lihatlah apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang mengatakan!”. Terasa sekali, petuah sederhana ini kian asing dimakan zaman. Keangkuhan.

Lalu kapankah penjelasan-penjelasan akan sampai pada orang semacam ini. Kebenaran-kebenaran lain, yang mungkin jauh lebih benar. Semuanya serba menurutnya, bahkan kebenaran itu sendiripun adalah kebenaran menurutnya.

Tuesday, July 1, 2008

Di UGM

Mari sejenak tidak membicarakan postingan sebelumnya. Bercerita tentang perjalanan. Perjalanan yang di awal keberangkatan sempat membuat tak enak. Gusar. Hal aneh untuk sebuah keberangkatan mungkin. Bukankah sebelum-belumnya perjalanan ke daerah baru akan selalu menyenangkan? Selalu tak sabar menunggu keberangkatan. Entahlah.....Tapi yang pasti, jam sebelas malam kala itu, saya sudah terduduk di bus patas Eka jurusan Magelang  Memandang jauh. Pada akhirnya saya pun harus berangkat. Sendiri.

****

Hari kedua di Joja. Wuihhh ada banyak sekali yang sebenarnya ingin saya tulis sejak saya pertama kali sampai di sini. Saat itu masih subuh, turun di perempatan Janti. Dingin, kontras sekali dengan Surabaya yang kayaknya selalu panas. Menghubungi teman untuk  minta dijemput. Agak lama juga menunggu, namun akhirnya sang temanpun muncul. Sudah lama sekali kami tak berjumpa, dan satu perbedaan yang amat mencolok yang langsung bisa saya tangkap dari teman SMA saya ini adalah : ia nampak gemuk kali ini. Semoga saja itu pertanda baik.

Sepintas melihat UGM sambil berkendara motor. Emmh ...lumayan. Lumayan bagus dan lumayan dingin ini badan.

Dan pembuktiannya adalah keesokan harinya. Kos teman saya ini lumayan jauh dari tempat yang ingin saya tuju di Jogja ini. Entah berapa ratus meter saya tak bisa menerkanya, tapi cukup melelahkan juga bagi yang ingin menempuhnya dengan jalan kaki. Perkecualian bagi saya. Sudah pernah saya ceritakan sebelumnya kalau saya adalah pecinta jalan kaki. Pejalan kaki yang tak menemukan kesunyiannya selama kuliah di ITS. Homogen, begitu kemarin saya bilang. Dan di Jogja ini, saya menemukan kembali indahnya berjalan kaki itu. Ah pertama kali saya melihatnya saya langsung suka dengan kota ini (minimal sekitar UGM ini). Saya menemukan apa yang tak bisa saya temukan di Surabaya. Saya bisa menatap apa yang hampir mustahil saya tatap di Surabaya. Dan sayapun kembali merasakan apa yang sudah sangat lama sekali tak saya rasakan.

Indah. Eksotis. Bagimana bisa ada hutan di tengah kota. Ya, benar-benar hutan. Karena terlihat kotor penuh dedaunan kering dasarnya. Pohon-pohon yang menjulang tinggi. Rapat. Ada beberapa bangau malah terlihat nangkring di salah satu puncak pohon tertinggi. Bersuara aneh. Pemandanga yang agak ganjil mengingat tak jauh di bawahnya adalah sebuah jalan yang cukup ramai dan penuh deru kendaraan bermotor. Itu semua adalah pemandangan yang terlihat di Fakultas Kehutanan UGM.

Trotoar yang lebar. Saya suka yang satu ini. Amat nyaman bagi pejalan kaki, terlepas saat sore hari saya sadari ternyata trotoar itu jadi tempat jualan PKL. Khusus hal ini memang kayaknya terjadi di semua kota. Ya, trotoar tadi, memang enak buat pejalan kaki. Pagar-pagar pinggir trotoar pun enak dipandang. Nampak kusam, tonjolan-tonjolan batu hitam; tapi terasa antik dan berkelas Belum pernah saya temui di Surabaya (atau memang karena saya belum keliling kota) trotoar yang senyaman ini. Trotoar di Surabaya sudah sempit, pavingnya banyak yang lepas pula. Terjungakat keatas dan rawan tersaruk. Membahayakan yang berjalan.

Dan bangunan-bangunanya. Inilah yang paling saya suka dari rangkaian perjalanan ini. Tinggi, megah, besar , kokoh. Tapi sekaligus artistik. Jauh dari kesan angkuh model bangunan-bangunan baru sekarang, tidak kakuh seperi kebanyakan bangunan di ITS. Semua bangunannya hampir begitu. Kantor pusatanya: wuih kereeen, pilar-pilar besar tinggi nan angun. Grahanya: ckckckck......, arsitekturnya, tangga-tangga tingginya, halaman luasnya. Masjid kampusnya: subhanallah sekali. Masjidnya mungkin kalah besar dengan masjid Manarul ’ilmi ITS, tapi untuk hal lain kayaknya MMI kalah telak. Masjid ini artistik, banyak warna dengan komposisi pas yang bisa kita lihat di dalam. Halamannya, pot-pot besar yang juga ternyata ada kran air, penataan bangunan pendukung, cara memasang tekel, bazar buku yang ternyata  setiap hari ada disana; itu semua keindahan yang bisa dinikmati di sana. Betah pokoknya berlama-lama. Bisa juga tiduran sambil menikmati semilir angin, berbantalkan jaket (*kebiasaan di ITS*)

 Banyak, banyak hal lain lagi yang mendukung saya untuk menyukai tempat ini. Tidak hanya tiga hal tadi. Banyak sekali pohon, di mana-mana pohon. Beraneka macam pohon. Tidak melulu pohon sono seperti di ITS. Bervariasi. Tapi yang sempat membuat saya berhenti sejenak untuk memandangnya lamat-lamat adalah dua pohon beringin yang saya temui saat saya berjalan menuju masjid. Pohonnya besar, rindang dengan akar gantungnya yang menjuntai. Bagian yang paling saya sukai adalah tempat duduk-duduk yang ada dibawah beringin itu. Ah nyaman sekali kelihatannya bisa duduk-duduk di sana. Teduh, lebar, pandangan luas, semilir angin membelai. Lain waktu akan saya coba., sambil makan dagangan kaki lima. Segera.

Yang terakhir dari keindahan yang bisa saya sebutkan adalah warung-warungnya. Menarik sekali. Unik-unik. Tidak namanya, tidak pula interiornya. Menunya juga. Sego macan-lah, sambel mercon-lah, oseng-oseng tulang ayam-lah, sego kucing-lah, serta lah-lah  yang lain. Tidak seperti di keputih, kayaknya saya tak akan kebingungan mencari menu yang sesuai. Tapi tidak tahu juga harganya, mahal atau tidak. Yang jelas kalau warung model angkringan kebanyakan murah. Saya sudah membuktikannya, satu porsi kecil nasi (karena porsinya kecil maka sering disebut nasi kucing) seribu rupiah. Tinggal pilih lauknya kemudian: telur seribu, sedangkan gorengan tiga ratus. Murah meriah. Bayangkan dengan mengambil lima macam lauk gorengan kita cukup bayar dua setengah. Tapi tentu saja gorengannya paling banter cuma tempe tahu tadi. Rasanyapun enak, tak semengerikan cerita-cerita yang dulu saya dengar.

 Upps, hampir kelupaan, ngomongin makanan, kemarin dan tadi saya melihat ada penjual kacang godok mangkal di sebuah pertigaan. Bukan kacang godoknya ini yang penting, kalo itu ma di depan Sakinah ada, tapi ternyata bapak penjual kacang godok ini juga menjual ketela rambat rebus. Lima ratus perumbi. Wah saya jadi berandai-andai jika saja bapak ini berjualan di keputih maka bakal jadi alternatif yang cukup jitu saat persediaan uang sedang sekarat. Saya telah mencobanya, satu umbi saja sudah kenyang. Dan, cukup lima ratus perak tadi. Sehat pula, kan tak digoreng?

Sebenarnya ini bukan kunjungan pertama saya ke Jogja. Kira-kira ini yang ketiga, terakhir kali pas rekreasi kelulusan SMP. Tapi ya itu tadi, baru kali ini saya tangkap keindahan Jogja, yang jauh dari kebisingan deru industri. Ah jadi ingat lagunya Katon. Pulang ke kotamu......ada...

Sunday, June 29, 2008

Masih sama

Tak Ada berita. Masih itu-itu saja. Mungkin kemarin ada titik-titik pencerahan, tapi semuanya masih berserakan tak jelas. Belum berhimpun menjadi sebuah berita melegakan.

Masih saja seperti kemarin-kemarin. Hanya saja semuanya sudah terkondisikan. Maksudnya hati ini, pikiran ini. Bukan, bukannya saya sudah siap atas konsekuensi terburuk dari keadaan ini. Sesak mungkin saat sekali dua itu kembali membayang. Hanya saja saya mencoba untuk tetap tersenyun atas setiap apa yang Allah berikan. Berat mungkin, tapi insyaAllah akan menjadi ringan saat kita percaya akan ada rahasia lain dari kejadian ini. Rahasia yang mungkin hanya bisa diterawang oleh sebuah kebesaran hati.(*bisa nggak ya?*)

”Allah tahu yang terbaik bagi kita. Pasti ada rahasia dibalik skenarionya. Kadang kita harus mengalah dengan kondisi yang memberatkan kita karena Allah hendak memberikan sesuatu yang lebih.”.

Demikianlah salah satu SMS taujih dari seorang teman. Menyejukkan. Betapa saat menerimanya saya ingin memeluknya dan berucap : terima kasih akhi. Terima kasih untuk selalu ada saat saya membutuhkan antum, kata-kata berenergi antum .

Dan sekarang. Hanya menunggu. Ya hanya itu yang bisa dilakukan setelah semua usaha itu. Lalu berdo’a. Berdo’a untuk sesuatu yang terbaik, walau itu meski kadang begitu menyesakkan. Membiarkan waktu perlahan membuka lembar-lembar keputusan itu, dengan degup yang berpacu.

”Usaha sudah. Belajar sudah. Ya sekarang kita serahkan semuanya pada yang di atas. Kalau Allah menghendaki semuanya baik-baik saja, meski dijungkir balik bagaimanapun, ditelikung model bagaimanapun, insyaAllah semuanya akan baik-baik saja.”.

Itu adalah nasehat terakhir yang diberikan pembimbing saya di akhir progress pabrik kita. Terima kasih bu, untuk kata-kata indahnya itu.

****

Ke Jogja!!!!

InsyaAllah, dalam ketidakpastian ini, saya akan pergi ke jogja. Burukkah? Ah rasanya tidak, kadang kita butuh hal baru untuk bisa sedikit melupakan hal yang lama.

Do’akan ya kawan! Do’akan yang terbaik yang bakal jadi ketetapan.

Wednesday, June 25, 2008

Ternyata........................!!!

Ternyata, ternyata ingatan yang tiba-tiba menyeruak di maghrib itu, ingatan yang seketika mengaduk-aduk emosi, melumerkan hati, perasaan yang seketika saja menancap masuk, seolah langsung begitu saja turun dari langit, ternyata........ itu ada kelanjutannya. Kelanjutan yang begitu menggetarkan, amat menggetarkan. Mereposisi semuanya. Semuanya. Sontak mengepingkan segalanya.

Ya Allah. Hamba lemah, Kaulah yang kemudian menguatkan, hamba bodoh Kaulah yang kemudian memasukkan setitik pengetahuan. Hambapun tak punya apa-apa, tapi Kaulah yang kemudian menyematkan apa-apa itu. Ya Allah. Setitik. Setitik dari tak terhingga punyaMu. Maka Ya Allah, demi kekuasaanMu yang menjangkau segalanya, berikanlah! Berikanlah kekuatan itu. Kekuatan untuk memanggul yang membebani. Sedikit saja, dari bertakhingga kekuatanMu.