Showing posts with label pulang. Show all posts
Showing posts with label pulang. Show all posts

Tuesday, November 30, 2010

(catatan Perjalanan3) Kepulangan

Ada yang berubah dari kota ini. Lekak-lekuknya yang dulu –semasa SMA—begitu aku akrabi kini perlahan mulai asing dan manglingi. Ada jajaran ATM kini di sudut areal kantor pos (mungkin ini sudah menjadi sebuah tuntutan). Alun-alunnya pun sudah dipermak cantik meski ukurannya mengecil. Toko-toko di kanan kiri jalan juga mulai banyak yang tak dikenali lagi.

Pasuruan dalam kacamata seorang perantau yang pulang kampung. Jelang pukul tiga dini hari. Beberapa sudut masih remang sebab tak terlalu terang tersentuh cahaya. Sebentar lagi fajar. Mungkin. Entahlah, tiba-tiba berada di daerah dengan perbedaan waktumemang  kerap kali membingungkan.

Turun dari bus antar kota dengan sedikit kebablasan itu, tak ada yang bisa kulakukan selain melangkahkan kaki menuju pusat kota. Menyeret tas yang roda-rodanya menimbulkan irama kala bergesekan dengan aspal. Suasana sepi, tapi beberapa orang nampak mulai berangkat menuju pasar. Berada di kota sendiri nampaknya memang benar-benar menimbulkan rasa nyaman, meski dalam waktu yang tak tepat seperti ini.

“kalau mau nyampai sms!’, demikian bunyi sms itu. Berjam-jam lalu, agar bisa segera dijemput. Tapi, bahkan sampai turun dari bus ini, aku masih enggan merogoh ponsel. Lebih memilih terus melangkah menuju alun-alun.

Semakin menuju alun-alun, yang persis di depannya berdiri dengan megah masjid jami’ Pasuruan, orang-orang mulai terlihat lebih banyak. Tentu saja dengan pakaian khas Pasuruan, bersarung dan berkopyah. Beberapa terlihat berangkat sambil naik motor, sedangkan satu dua yang lain lebih memilih naik becak. Juga yang berjalan saja. Yang terakhir, sepertinya rumahnya dekat saja, di gang-gang tersebut—ah, ya, kampung kauman orang-orang biasa menyebut.

Dua ratus meteran melangkah, kemudian kurogoh sakuku. Meraih ponsel lalu memencet sebuah nama. Beberapa jenak menunggu, lalu tersambung.

Berbicara….

“tak enteni nang alun-alun”

“ok”

Memutuskan sambungan dan meneruskan langkah. Beberap meter lagi hingga bayangan yang tertangkap retina adalah sebuah pemandangan yang mengingatkan kepada keduluan. Aih, dari sekian banyak perubahan itu, ini yang tak berubah ; pedagang kaki lima dengan meja panjang menjual minuman dan ketan hangat serta beberapa pengunjung bersarung  santai mengobrol. Di sanalah kemudian aku menepi.

“STMJne wonten, bu?”, pintaku pada ibu penjual. Memang pilihan itu lah yang paling masuk akal. Kopi, selain tak suka-suka amat, aku sudah merencanakan untuk segera tidur setiba di rumah demi menebus waktu tidur yang terenggut di jalanan. Sedang teh, agaknya kurang spesial untuk hari yang spesial ini.

“wonten”

“setunggal, nggih?”

Kembali duduk di bangku panjang. Menikmati Pasuruan jelang fajar. Orang-orang mulai berdatangan ketika STMJ segera tersaji. Cukup cepat. Cukup cepat pula menghangatkan badan yang terguncang-guncang sepanjang Ponorogo-Pasuruan. Hingga cepat saja menyisakan setengahnya.

“Ketane setunggal, Pak”, kali ini pertmintaan ditujukan ke yang laki-laki. Ada dua orang yang melayani penjualan itu.

Ketan! Inilah sebenarnya yang khas. Ketan dengan taburan koya dalam wadah-wadah kecil. Koya adalah serbuk yang terbuat dari kedelai sangrai dengan bumbu-bumbu tertentu yang tak terlalu kuketahui. Penjual ketan ini, yang boleh jadi bapak ibu yang sekarang melayani ini, sudah ada di sekitaran masjid jami’ ini bahkan sejak waktu yang mampu saya ingat.

Enak! Definisi inilah yang kemudian aku temukan kala telah menyantap ketan itu. Subyektif sangat mungkin. Adalah suasana, adalah tempat, adalah kenangan memang sering kali mengintervensi masalah rasa ini. Dan jelang fajar itu, aku memang memutuskan momen makan ketan itu,

Tak butuh lama untuk menandaskan ketan dan STMJ itu. Tinggal menyisakan wadah-wadah kosong yang teronggok di meja. Orang-orang pun kian berdatangan, meski berat untuk dikatakan banyak.

“Pinten, Bu?”, pada akhirnya aku menghampiri penjual itu untuk membayar.

“wolung ewu”, si Bapak, justru yang menjawabnya.

Kuserahkan selembar sepuluh ribu. Beberapa saat kutunggu hingga si bapak menyerahkan kembaliannya. Terima kasih.

Kembali duduk. Kembali menikmati kota dalam balutan remang.

Pasuruan, mungkin aku sudah tak terlalu mengenalmu. Tak lagi akrab dengan detail-detailmu lagi. Jika suatu saat ada yang bertanya tentang dimanakah letak penjual makanan yang enak, aku bakalan berpikir panjang untuk kemudian menggeleng. Tak tahu.

Lihatlah, alun-alun yang dulu penuh PKL itu kini telah cantik. Meski belum benar-benar cantik. Aku bahkan tak tahu proses pembangunannya, kapan memulainya, dan berapakah anggaran yang dibutuhkan untuknya. Benar-benar tak tahu bagaimana kota ini bertumbuh. Dengan cara apa. Tak tahu pula bagaimanakah penduduknya kini. Seperti apa.

Jalan-jalan kini penuh dengan kendaraan. Itu yang kutahu dari kepulangan dulu. Motor-motor telah meraung-raung meningkahi hari. Khas kota-kota indonesia. Kredit-kredit kepemilikan motor sepertinya semakin mudahnya. Dealer-dealer sepeda motor semakin menggila menetapkan target penjualan. Entah! Entah bakal seperti apa kota ini bertumbuh. Aku sepertinya sudah tak menjadi bagian dari itu, sayangnya. Aih, bahkan namaku telah tercoret dari catatan sipil sebagai penduduk kota ini.

Sebuah motor kemudian tepat berhenti di depanku. Bertukar senyum. Menuntaskan rindu. Aku angkat tasku. Untuk kemudian melaju. Tentu saja, aku telah menjadi salah satu dari dua orang yang melaju itu.

 

 

 baca juga : catatan perjalan 1dan catatan perjalanan 2

      

(catatan Perjalanan3) Kepulangan

Ada yang berubah dari kota ini. Lekak-lekuknya yang dulu –semasa SMA—begitu aku akrabi kini perlahan mulai asing dan manglingi. Ada jajaran ATM kini di sudut areal kantor pos (mungkin ini sudah menjadi sebuah tuntutan). Alun-alunnya pun sudah dipermak cantik meski ukurannya mengecil. Toko-toko di kanan kiri jalan juga mulai banyak yang tak dikenali lagi.

Pasuruan dalam kacamata seorang perantau yang pulang kampung. Jelang pukul tiga dini hari. Beberapa sudut masih remang sebab tak terlalu terang tersentuh cahaya. Sebentar lagi fajar. Mungkin. Entahlah, tiba-tiba berada di daerah dengan perbedaan waktumemang  kerap kali membingungkan.

Turun dari bus antar kota dengan sedikit kebablasan itu, tak ada yang bisa kulakukan selain melangkahkan kaki menuju pusat kota. Menyeret tas yang roda-rodanya menimbulkan irama kala bergesekan dengan aspal. Suasana sepi, tapi beberapa orang nampak mulai berangkat menuju pasar. Berada di kota sendiri nampaknya memang benar-benar menimbulkan rasa nyaman, meski dalam waktu yang tak tepat seperti ini.

“kalau mau nyampai sms!’, demikian bunyi sms itu. Berjam-jam lalu, agar bisa segera dijemput. Tapi, bahkan sampai turun dari bus ini, aku masih enggan merogoh ponsel. Lebih memilih terus melangkah menuju alun-alun.

Semakin menuju alun-alun, yang persis di depannya berdiri dengan megah masjid jami’ Pasuruan, orang-orang mulai terlihat lebih banyak. Tentu saja dengan pakaian khas Pasuruan, bersarung dan berkopyah. Beberapa terlihat berangkat sambil naik motor, sedangkan satu dua yang lain lebih memilih naik becak. Juga yang berjalan saja. Yang terakhir, sepertinya rumahnya dekat saja, di gang-gang tersebut—ah, ya, kampung kauman orang-orang biasa menyebut.

Dua ratus meteran melangkah, kemudian kurogoh sakuku. Meraih ponsel lalu memencet sebuah nama. Beberapa jenak menunggu, lalu tersambung.

Berbicara….

“tak enteni nang alun-alun”

“ok”

Memutuskan sambungan dan meneruskan langkah. Beberap meter lagi hingga bayangan yang tertangkap retina adalah sebuah pemandangan yang mengingatkan kepada keduluan. Aih, dari sekian banyak perubahan itu, ini yang tak berubah ; pedagang kaki lima dengan meja panjang menjual minuman dan ketan hangat serta beberapa pengunjung bersarung  santai mengobrol. Di sanalah kemudian aku menepi.

“STMJne wonten, bu?”, pintaku pada ibu penjual. Memang pilihan itu lah yang paling masuk akal. Kopi, selain tak suka-suka amat, aku sudah merencanakan untuk segera tidur setiba di rumah demi menebus waktu tidur yang terenggut di jalanan. Sedang teh, agaknya kurang spesial untuk hari yang spesial ini.

“wonten”

“setunggal, nggih?”

Kembali duduk di bangku panjang. Menikmati Pasuruan jelang fajar. Orang-orang mulai berdatangan ketika STMJ segera tersaji. Cukup cepat. Cukup cepat pula menghangatkan badan yang terguncang-guncang sepanjang Ponorogo-Pasuruan. Hingga cepat saja menyisakan setengahnya.

“Ketane setunggal, Pak”, kali ini pertmintaan ditujukan ke yang laki-laki. Ada dua orang yang melayani penjualan itu.

Ketan! Inilah sebenarnya yang khas. Ketan dengan taburan koya dalam wadah-wadah kecil. Koya adalah serbuk yang terbuat dari kedelai sangrai dengan bumbu-bumbu tertentu yang tak terlalu kuketahui. Penjual ketan ini, yang boleh jadi bapak ibu yang sekarang melayani ini, sudah ada di sekitaran masjid jami’ ini bahkan sejak waktu yang mampu saya ingat.

Enak! Definisi inilah yang kemudian aku temukan kala telah menyantap ketan itu. Subyektif sangat mungkin. Adalah suasana, adalah tempat, adalah kenangan memang sering kali mengintervensi masalah rasa ini. Dan jelang fajar itu, aku memang memutuskan momen makan ketan itu,

Tak butuh lama untuk menandaskan ketan dan STMJ itu. Tinggal menyisakan wadah-wadah kosong yang teronggok di meja. Orang-orang pun kian berdatangan, meski berat untuk dikatakan banyak.

“Pinten, Bu?”, pada akhirnya aku menghampiri penjual itu untuk membayar.

“wolung ewu”, si Bapak, justru yang menjawabnya.

Kuserahkan selembar sepuluh ribu. Beberapa saat kutunggu hingga si bapak menyerahkan kembaliannya. Terima kasih.

Kembali duduk. Kembali menikmati kota dalam balutan remang.

Pasuruan, mungkin aku sudah tak terlalu mengenalmu. Tak lagi akrab dengan detail-detailmu lagi. Jika suatu saat ada yang bertanya tentang dimanakah letak penjual makanan yang enak, aku bakalan berpikir panjang untuk kemudian menggeleng. Tak tahu.

Lihatlah, alun-alun yang dulu penuh PKL itu kini telah cantik. Meski belum benar-benar cantik. Aku bahkan tak tahu proses pembangunannya, kapan memulainya, dan berapakah anggaran yang dibutuhkan untuknya. Benar-benar tak tahu bagaimana kota ini bertumbuh. Dengan cara apa. Tak tahu pula bagaimanakah penduduknya kini. Seperti apa.

Jalan-jalan kini penuh dengan kendaraan. Itu yang kutahu dari kepulangan dulu. Motor-motor telah meraung-raung meningkahi hari. Khas kota-kota indonesia. Kredit-kredit kepemilikan motor sepertinya semakin mudahnya. Dealer-dealer sepeda motor semakin menggila menetapkan target penjualan. Entah! Entah bakal seperti apa kota ini bertumbuh. Aku sepertinya sudah tak menjadi bagian dari itu, sayangnya. Aih, bahkan namaku telah tercoret dari catatan sipil sebagai penduduk kota ini.

Sebuah motor kemudian tepat berhenti di depanku. Bertukar senyum. Menuntaskan rindu. Aku angkat tasku. Untuk kemudian melaju. Tentu saja, aku telah menjadi salah satu dari dua orang yang melaju itu.

 

 

 baca juga : catatan perjalan 1dan catatan perjalanan 2

      

Sunday, November 21, 2010

pulang-kembali

Saya mengernyit-ngernyitkan dahi sendiri menyadari bagaiamanakah saya mendefinisikan kata ‘pulang’ dalam keseharian saya. Fenomena ini, baru saya sadari baru-baru saja.

Di kantor, setelah suara sirene menggema dari plant, sebagai pertanda akhir jam kerja, telah berlalu, saya akan menyebutnya dengan kata ‘pulang’ untuk aktivitas menuju rumah bujang yang disediakan perusahaan, tempat dimana saya tinggal. “Pulang dulu, yah!”, begitu kata saya seringnya pada teman yang memilih untuk menunda beberapa saat kepulangannya. Sebagai bentuk pamitan.

Di rumah bujang saya itu, tempat dimana saya tinggal dan menghabiskan waktu disana dengan tidur, mandi, makan, serta aktivitas harian lainnya, ternyata kata ‘pulang’ ini juga saya pakai. “Kapan pulang, Bal?”, demikian tanya teman serumah suatu ketika. “Minggu depan, sekalian cuti”, jawab saya. Tentu saja saya mengerti dengan maksud kata ‘pulang’ yang teman saya sebutkan itu. Sebelumnya, saya memang sudah menyatakan rencana kepulangan saya itu jauh-jauh hari. Pulang, dalam kasus ini adalah sebuah kata yang berdefinisi untuk sebuah aktivitas menuju rumah (orang tua) saya di kampung. Jadi boleh dikatakan, ketika sudah pulang, saya masih bisa pulang lagi.

Lalu bagaimanakah ketika saya sudah berada di rumah orang tua saya di kampung? Ternyata berbeda. “Kapan balek?”, demikian pertanyaan yang sering diajukan. ‘Kapan balek’, bukan ‘kapan muleh’. ‘Balek’, dalam bahasa jawa yang dipakai di lingkungan asal saya, diartikan sebagai ‘kembali’ dalam bahasa Indonesia. Sedangkan ‘muleh’ untuk ‘pulang’. Praktis, ketika saya berada di kampung halaman, kata ‘pulang’ tak lagi dipakai untuk menyebut aktivitas saya menuju ke rumah bujang saya di Bontang. Padahal, untuk aktivitas yang sama, ketika saya berada di kantor, saya menyebutnya dengan kata ‘pulang’.

Agaknya, kata ‘pulang’ versi saya ini mempunyai sebuah tingkatan. Yang penyebutannya tak hanya merujuk ke tempat manakah saya bakal menuju, tapi juga dari manakah saya bertolak. Bila saya sedang berada di tempat kerja akan menuju rumah dinas, saya menyebutnya dengan ‘pulang’. Tapi bila saya sedang di kampung halaman akan menuju rumah dinas saya di Bontang, maka saya menyebutynya bukan dengan ‘pulang’, tapi ‘kembali’. Hingga, kemudian saya menyimpulkannya begini: ada setidaknya tiga tempat yang terkait pendefinisian kata ‘pulang’ ini. Yang pertama adalah kampung halaman, yang kedua adalah rumah dinas Bontang, yang ketiga adalah tempat selain keduanya. Jika saya berada di tempat ketiga, maka baik saya mau ke tempat pertama maupun tempat kedua, saya mengatakannya sebagai ‘pulang’. Jika saya berada di tempat kedua, maka kata ‘pulang’ hanya saya pakai ketika saya akan menuju ke tempat pertama.

Begitulah. Hingga ketika saya berada di tempat pertama, saya tak pernah memakai kata ‘pulang’ ini untuk menyebut aktivitas saya. Kata ‘kembali’ lah yang terpakai. “Nyuwun pamit, arep balek nang Bontang”, demikianlah kira-kira kalimat pamitan saya pada seorang tetangga. ‘Balek’, bukan ‘muleh’.

Tapi, bila mau berdalam-dalam merenunginya, agaknya kesimpulan di atas belum benar-benar sahih. Ada satu tempat lagi, yang bahkan ketika saya berada di tempat pertama, sah-sah saja untuk menyebutnya dengan ‘pulang’. Sebuah tempat yang ketika saya ternyatakan ‘pulang’, maka tak akan lagi merasakan ‘kembali’. Saya pun tak akan mampu memutuskan kapankah ‘pulang’ saya menuju tempat itu bakal terjadi. Hanya orang-orang sajalah yang kemudian menyebutnya dengan ‘berpulang’. Bisa esok, bisa tahun depan, bisa minggu depan, atau bisa sepersekian detik sejak saya tuliskan catatan kecil ini. Maka, karena kegaibannya itu, kita kemudian sering-sering mendoa: ‘seperti indahnya rasa kepulangan yang lain, ya Allah, pulangkanlah kami dalam keadaan indah!’ Aih, bukankah itu berarti khusnul khotimah.

 

 

Tuesday, August 19, 2008

Pulang Kampung dan Episode Penuh Ngilu

Sabtu, ahad, senin kemarin, setelah berkali-kali ditanyai kapan pulang, akhirnya saya menghabiskan liburan di rumah. Menikmati detik-detik proklamasi di kampung halaman sambil mencoba menghabiskan buku-buku yang telah saya beli sebelumnya. Waktu awal-awal kuliah, saya selalu rutin pulang seminggu sekali. Naik bus. Tiga jam sudah sampai. Jadi tidak sampai tercipta kondisi dimana saya begitu rindunya akan suasana rumah beserta penghuni-penghuninya. Namun seiring berjalannya waktu dan semakin banyaknya tuntutan lain yang mendesak untuk segera ditunaikan, jadual mingguan itupun pada akhirnya menggeser. Mulanya dua mingguan, berganti bulanan, dua bulanan, hingga sampai pada tahap sekarang : saya tak pernah menghitung atau membuat periodisasi kepulangan. Terserah keinginan. Plus kapan waktu luang. Bisa dua minggu, atau bisa juga berbulan-bulan.

Selalu, tiap kali pulang kampung, saya akan selalu mencari hal-hal yang tak bisa saya dapatkan selama ngekos di Surabaya. Apa saja. Mulai dari makanan sampai kegiatan.  Untuk makanan, sebisa mungkin saya akan menghindari telur dan variannya. Ini sudah menjadi makanan kebangsaan dan mungkin tiap hari saya mengonsumsinya. Amat tidak spesiallah kalau pulang-pulang saya masih saja makan makanan ini. Paling yang sering saya buru saat pulang adalah ikan. Mungkin saat ngekos saya masih sering beli makan dengan menu ikan, tapi tetap saja belum asyik kalau bukan menu khas rumah. Kepala tongkol jumbo yang dicincang kecil-kecil dimasak krengsengan warna hitam, itulah favorit saya.

Masalah kegiatan, ada banyak sekali kegiatan yang dapat saya lakukan di kampung saya yang tak mungkin saya lakukan saat ngekos. Dulu-dulu saya suka pergi ke sawah. Menyaksikan hamparan menghijau, ibu-ibu berbaris menanam padi sambil ngegosip, atau favorit saya: memandangi cabai yang beranjak menua dan menghitung berapa gerangan jumlah cabai setanaman. Atau favorit saya yang lain : menanm singkong di tepi-tepi pematang. Uigh menyenangkan sekali, apalagi dulu. Dulu memang saya bisa tiap hari ke sawah dan bisa menyaksikan perkembanagn tanama yang kita tanam. Menyaksikan tahap-tahapnya. Mulai dari tanaman itu memasuku fase vegetative hingga generative. Fase tumbuh hingga berbuah. Hingga panen. Layaknya seorang ibu membesarkan bayinya.  Ada degup-degup kekhawatiran, tak jarang pula kebahagiaan. Tapi yang pasti mengasyikkan.

Pulangnya dari sawah, saya masih kerap mencari sayur sendiri (terutama sayur-sayur yang tak ada di kota) untuk dimasak.

Ada masih banyak hal lain selain itu yang bisa dilakukan di kampung, sama halnya juga ada banyak hal lain juga yang tidak bisa saya lakukan saat saya di kampung. Kegiatan di kampung yang bisa dilakukan itu lebih banyak kegiatan yang membutuhkan interaksi alam, sedangkan yang tidak adalah yang membutuhkan teknologi. Yang paling saya rindukan saat saya sudah lama di rumah adalah ngenet. Saya yang sudah trerbiasa ngenet hampir tiap hari, jadi seperti ada yang kurang saat beberapa hari tak menyambangi dunia maya itu. Fenomena ini seringkali menimbulkan pemikiran dalam diri ini, atau sekedar angan-angan, atau impian, bahwa mungkin akan indah sekali saat saya bisa menggabungkan keduanya. Saat saya bisa menikmati suasana pedesaan yang segar tapi saya juga tak ketinggalan akses terhadap teknologi. Bisa seharian di sawah tapi pulangnya bisa langsung konek dengan mp. Kapan itu? Suatu saat nanti.

Dan, satu hal yang saya nantikan tapi kadang juga membuat harap-harap cemas adalah saat saya bertanya keadaan terkini. Biasa-biasanya akan selalu ada kejutan. Entah mengenakkan atau tidak. Berita tentang kematian warga kampung seringkali adalah berita yang mengejutlkan bagi saya, meski kematian itu sendiri bukanlah hal yang mengejutkan. Dan kemarin, ada banyak sekali berita yang kurang mengenakkan. Pertama tentang seorang tetangga, masih kecil, entah saya kurang tahu sedang duduk di SD kelas berapa. Dulu-dulu yang saya tahu memang ia tergolong nakal, tak takut orang, tapi saya tak menyangka saja bahwa tindakannya bakal sejauh ini. Kemarin, saya mendengar bahwa ia bersama dua teman kecilnya mencuri potongan rel yang dipasang sebagai jalan lori yang mengangkut tebangan tebu di sawah. Itu mungkin kriminal anak-anak biasa bagi sebagian orang, tapi lihat dulu apa tindakan yang ia perlihatkan selanjutnya. Dengan rasa bangga tanpa rasa bersalah ia menceritakan bagaimana ia mencuri potongan rel tersebut di hadapan polisi. Ya polisi, sosok yang oleh orang dewasa sendiri kerap ditakuti. Mungkin masih mending saat kita melakukan kejahatan, kita sadar bahwa apa yang kita lakukan itu salah, bukan suatu tindakan yang baik. Tapi ini, ah saat kesadaran itu hilang, saat rasa bersalah itu telah tercerabut dari diri, apalagi yang bisa diharapkan.

Lalu saya pun makin merinding kala mendengar untuk apa uang yang ia peroleh dari hasil penjualan batangan rel ke tukang rongsokan itu. Rokok. Y a Allah bahkan  ia belum menyelesaikan SD-nya, bahkan seperti baru kemarin saja saya melihatnya berlarian di halaman sambil telanjang, tapi kini. Ah dengan bangganya ia menghisap batangan laknat itu, sambil membagikan batangan lain ke teman-teman kecilnya. Memprovokasi. Mau jadi apa desa ini kelak. Desa yang dulu saya anggap desa ideal.  Desa yang agamis, tentram, dengan tenggang rasa yang tinggi.

Dan hati ini makin ngilu kala menyadari sebuah kata : ketakberdayaan. Sungguh tak bergunalah saya, dengan bersekolah tinggi-tinggi, tak mampu mencerahkan lingkup terkecil ini. Desa ini.

 

(sebenarnya masih ada hal mengilukan kedua, ketiga yang kemarin saya dengar, tapi akan sangat panjang kalau saya ceritakan semuanya)

Saturday, March 22, 2008

Cerita Seorang Kenek


Cerita ini terjadi tiga mingguan yang lalu. Saat itu saya pulang kampung, sebuah rutinitas yang jarang sekali saya lakukan di semester akhir perkuliahan. Sibuk dengan tugas akhir. Tapi saat itu saya harus pulang, karena pada akhir pekan itu kebetulan keluarga besar saya janjian untuk berkumpul. Dan ini momen yang mulai jarang ditemukan.

Kampungku lumayan pedalaman, walaupun tidak pedalaman-pedalaman amat. Untuk menjangkaunya harus naik sebuah angkutan umum kelas bawah yang oleh orang-orang biasa disebut colt. Disebut demikian karena pada mulanya mobil yang digunakan untuk angkutan umum ini adalah merk colt.

Saat itu minggu sore, sehabis sholat ashar saya diantarkan kakak naik motor ke jalan raya untuk menunggu colt tadi. Saya sudah harus balik ke Surabaya lagi hari itu. Masih banyak tugas yang menumpuk untuk saya selesaikan di sana. Langit mendung dan saya sudah sampai di pinggir jalan menunggu colt tadi. Jalanan tidak terlalu ramai karena memang hanya sebuah jalan kecamatan. Kebanyakan hanya orang-orang bermotor, yang terlihat baru pulang dari menghabiskan akhir pekan di Banyu Biru, sebuah objek wisata satu-satunya yang ada di sekitar daerah saya.

Lama ditunggu akhirnya yang ditunggu dating juga. Angkutan itu berhenti tepat di depan saya, dan saya masuk. Saya sedikit terkaget karena untuk range waktu yang cukup lama menunggu ternyata colt tadi hanya berisi dua orang, tiga sama saya. Di masa yang serba sulit begini tak banyak orang desa yang bepergian. Mobilitas penduduk sangat rendah, kalaupun harus bepergian lebih banyak memakai motor yang memang sangat luat biasa banyaknya memenuhi jalanan, terutama di pagi hari.

Kenek angkutan tersebut adalah seorang yang sudah sangat familiar bagi saya karena sejak saya masih sekolah dimana tiap hari harus naik colt untuk menjangkau sekolah, ia sudah menjadi kenek colt. Pelajaran yang bisa saya ambil adalah di saat semua sepertinya telah berubah ternyata masih banyak hal yang masih sama seperti dulu. Ada banyak kenek yang saya kenal waktu sekolah dulu yang kini sudah naik pangkat jadi sopir, namun tak sedikit yang masih setia dengan posisi lamanya. Dan pak kenek ini, adalah salah satu kenek favorit saya sewaktu sekolah dulu karena ia adalah satu dari sedikit kenek yang cukup baik kepada anak-anak sekolah. Ia selalu memberi tarif  buat saya di bawah tarif rata-rata.

Sepanjang perjalanan tak banyak penumpang yang bisa diangkut oleh colt tadi. .Ada sinar mata yang sulit saya artikan dari tatapan pak kenek tadi tiap kali ada seseorang yang mirip calon penumpang sedang berdiri di pinggir jalan. Sepanjang perjalanan tak banyak percakapan antara sopir dan kenek seperti kebiasaan orang-orang seperti mereka sebelumnya. Sampai kemudian di separuh perjalanan, ketika colt benar-benar melompong dan tinggal menyisakan saya terjungkal-jungkal oleh jalan yang berlubang, si sopir angkat bicara. Tentu saja ia bicara dengan keneknya. Isinya jelas sekali tertangkap oleh telinga saya, sebuah keluhan khas orang-orang kecil. Ia mengeluhkan penumpang yang sepi, yang sampai sesore itu uang setoran belum ia dapat. “masih mending kemarin, masih bisa dapat uang setoran. Sedang sekarang?”, begitulah kurang lebih gumaman si sopir. Saya hanya bisa terdiam di antara percakapan dua orang itu. Ada hati saya sakit tapi tak tahu apa yang bisa saya lakukan untuk ini. Tidak dapat uang setoran adalah kata lain dari rugi, dan siapakah orang yang mau bekerja untuk rugi. Ekonomi sedang sepi. Sempat tercetus di pikiran saya untuk membayar lebih untuk ongkos saya yang tiga ribu rupiah

Tapi kemudian ada satu orang penumpang masuk. Saya ikut bahagia. Sungguh jarang sekali saya ikut bahagia untuk sunggingan senyum si kenek. Lima ratusan meter kemudian tiga orang penumpang masuk. Si kenek mulai terlihat sumringah wajahnya. Tiga orang penumpang adalah jumlah yang cukup berarti untuk menutupi kejaran uang setoran. Penumpang yang baru masuk itu kelihatannya bukanlah orang sini terbukti ia harus bertanya pada sopir dimana ia seharusnya berhenti untuk ganti naik bus ke Surabaya. Salah seorang dari tiga penumpang itu kemudian terlihat akrab dengan sopir. Mengobrol. Saya sesekali ikut menikmati obrolan mereka. Sampai seorang yang akrab dengan sopir tadi menanyakan tariff. “ berapa pak tiga orang?”, ia tidak menyebutkan tujuannya karena si kenek pastilah sudah tahu tujuan dia dari pertanyaan yang pertama tadi. Sejenak kenek terdiam mendapat pertanyaan itu. Adalah suatu yang sangat tidak biasa bagi si kenek untuk berpikir dulu berapa tarif yang harus dibayar penumpang mengingat ia sudah menjalani profesinya hampir satu dasa warsa. Saya menduga pasti ada perang batin pada diri sang kenek. Penumpang yang bertanya berapa tarif yang harus dibayar adalah orang yang tidak tahu berapa patokan harga naik colt. Colt adalah salah satu jenis angkutan yang tarifnya bergantung pada jarak tempuh.

Dan jawaban si kenek betul-betul mengagetkan saya, “enam ribu pak”. Saya kaget. Duh hilang sudah simpati buat si kenek itu. Saya tahu, tahu dengan pasti bahwa ongkos untuk jarak segitu hanya seribu rupiah perorang.

Sungguh ia telah kalah dengan terpaan hidup yang mungkin begitu keras menggerogotinya.  

Dan hati saya tambah ngilu membayangkan betapa dulu ia adalah kenek yang suka menerapkan tarif yang rendah buat pelajar.