Thursday, March 31, 2011

Aih, sup iga maknyus jg.. (g penting) (ngiming2i)

Bookaholic: Maret

Baiklah, memang harus saya akui kalo grafik membaca saya semakin menurun. Iya, memang bulan maret ini masih sama dalam hal jumalh dengan bulan sebelumnya. Tapi bulan maret ini, nominal lima buku itu saya capai dengan sedikit ngos-ngosan di akhir-akhir bulan. Jadilah angka seratus buku dalam setahun itu menjadi semakin berat (, tapi mungkin,) untuk terlaksana. (Sepertinya ini tanda-tanda untuk segera ngambil cuti )

Berikut lima buku untuk maret ini:
  • Rabithah Cinta: Bagi anda yang pernah membaca 'Obituari Kasih', ya, ini memang dua buku yang sama karangan Afifah Afra.Entahlah, saya tak tahu persis mengapa sampai perlu menerbitkan lagi buku ini dengan judul berbeda. Sebab bagi saya, untuk orang-orang yang tak tahu, bisa saja ini menjebak. Menganggap ini dua buku yang berbeda. Namun begitu, lepas dari hal tersebut, buku ini lumayanlah. Sudah cukup lama tak membaca novel dengan sematan-sematan islam yang kental. Setting Papuanya, meski tak detail, juga cukup memberikan daya tarik sendiri.
  • Eliana : Serial Anak-anak Mamak :Cerita tentang anak-anak memang selalu menyenangkan. Membuat kita kembali bernostalgia dengan masa kanak-kanak itu. Mengenang. Mengingat. Dan benar, Tere Liye berhasil membangkitkan itu semua. Meski berbeda setting, sebab tak ada hutan di kampungku dulu --tapi sawah-sawah dan kebun, tapi tetap saja tak mengurangi unsur nostalgia yang terbangkitkan.
  • Positive Parenting: Bersama dengan '7 Keajaiban Rezeki', ini adalah buku terakhir yang saya beli pas ke balikpapan sebulanan yang lalu. Membuat cemburu buku yang lain mungkin, sebab justru buku ini yang malah saya selesaikan lebih dulu. Meninggalkan buku lain yang bahkan ada yang sudah setahun masuk daftar tunggu. Tapi karya Ust Fauzil Adhim yang satu ini memang terasa menggoda. Melihat judul bab-babnya, melihat uraian singkatnya.Membaca buku ini, membawa kita ke sebuah kesadaran, bahwa ternyata banyak sekali hal yang tak kita ketahui tentang ilmu keayah-bundaan ini. Bahkan hal-hal yang kita anggap biasa, boleh jadi menjadi suatu yang besar untuk tumbuh-kembang anak-anak kita.
  • Semangkuk Cocktail Cinta: Ini termasuk seri pengokohan tarbiyah. Buku ketiga yang saya baca. Sebuah karya Rahayu Ayuningtyas yang membahas tentang seni berkomunikasi dengan bahasa cinta. Tak banyak hal baru yang saya dapat di buku ini sebenarnya, tapi karena alasan 'saya harus menyelesaikannya'lah yang membuat saya memaksakan diri untuk menuntaskannya.
  • Perempuan Suamiku: sebuah kumpulan cerpen Izzatul Jannah. Awalnya membaca buku ini sih sebagai selingan saja. Namun karena jumlah halamannya yang tak banyak, jadi sekalian saja diselelsaikan. Isinya, seperti yang tergambar dari judulnya, lebih banyak ke serba-serbi pernikahan. Dengan mengambil potret keluarga dakwah. Termasuk lumayan, untuk sebuah buku seharga 10.000 yang saya beli ramadhan kemarin. Oh ya, buku ini cukup provokatif.
Oke-oke. Untungnya masih tetap lima. Tak ada perbaikan memang, tapi tak ada penurunan.

Berikut buku yang masih dalam tahap dibaca:
  • Warisan Sang Murabbi, Pilar-pilar Asasi (sudah 3/4 buku, tapi belum juga selesai)
  • Selimut Debu ( saya masih ingat, buku ini pertama kali mulai saya baca waktu dinas ke Tarakan hampir setahunan yang lalu. tapi berhenti begitu saja)
  • Bete after Merit (Sebenarnya enak dibacanya. Tapi belum selesai-selesai juga. Tinggal beberapa haaman saja sebenare)
Selamat Membaca!

Monday, March 28, 2011

-dendam sejarah-

Ia tumbuh di sebuah perkampungan terpencil. Terkucilkan dari media. Tak terjangkau dari informasi. Hidup dengan cara seperti yang lain hidup. Tidak dalam kondisi kekurangan seperti media masa kini bilang memang, tapi sederhana agaknya kosakata yang pas untuk menggambarkannya. Tentu saja juga miskin fasilitas. Tapi dengan pemahaman yang baik, kala iklan televisi belum begitu buas menghajar keberpijakan anak-anak dalam alam realita, itu akan menjadi sebuahpondasi kuat untuk kelak ia bersikap. Banyak hal yang ingin aku ceritakan tentangnya sebenarnya, tapi untuk bab ini, aku ingin membicarakan sebuah hal : tentang membaca. Ya, sebuah kegemaran langka untuk anak-anak kampungnya jaman itu yang justru tersematkan padanya. Sayangnya, di antara deretan fasilitas yang memang minim, masalah buku juga masuk di dalamnya. Tentu saja ia bukanlah seorang anak dengan orang tua yang melimpahinya dengan hadiah buku-buku, tentu saja juga ia tidak sedang di sebuah lingkungan yang menganggap buku adalah sebuah teman terindah buat anak-anak. Maka ia pun kekurangan. Maka ia pun hanya bisa membaca dari potongan kisah-kisah di buku pelajaran bahasa indonesia. Maka, sebuah jaman telah menghianati kesenangan masa kecilnya.

Tapi, ya Tuhan. Berbilang tahun kemudian, ketika hidup telah mengajarkan banyak hal, ketika waktu telah sempurna meninggi-besarkan fisik-fisiknya, ketika Sang Pencipta Hidup berbaik hati memberinya sebuah kesempatan lebih dibandingkan masa kanak-kanaknya, lihatlah! Lihatlah apa yang kini ia lakukan. Ia dulu memang telah tercerabut dari kegemaran membaca di masa kecilnya, ia dulu memang tak punya banyak buku yang menanti untuk terselesaikan di sela waktu bermainnya, tapi ia sadar. Ia mengerti bahwa itu mesti terhindarkan. Siklus itu tak boleh berkelanjutan. Maka pembalasan itu sempurna sudah tertunaikan. Di sebuah kampung kecil yang terpinggirkan dari hingar-bingar, tidak mirip benar dengan kampung masa keilnya dulu memang, ia putuskan untuk menyediakan buku-buku untuk dibaca. “jangan sampai seperti aku, jangan sampai seperti aku. Anak-anak ini mesti memiliki buku untuk dibaca”, demikian kesahnya.

###

Di sudut lain, di sebuah rumah keluarga kelas menengah di pinggiran kota, seorang lelaki tengah sedikit berang. Tak ada hal luar biasa yang cukup layak untuk membuat ia marah sebenarnya. Tak ada. Segalanya berjalan dengan baik. Siang itu istrinya juga dengan penuh khidmat menyediakan menu makan siang setelah setengah harian ia berjuang di luaran untuk mencari nafkah. Amat normal. Persoalannya kemudian memang teralamatkan pada menu siang itu: nasi jagung.

Baiklah. Ini agaknya memang terdengar lucu. Tapi tahukah kawan-kawan semua, bagi kawan kita ini, nasi jagung adalah sebuah simbol dari masa lalu. Sebuah simbol kemiskinan yang telah begitu erat mencengkeram masa kanak-kanaknya. Nasi jagung adalah menu andalan masa kecilnya dulu. Bahkan telah menjadi menu harian yang senantiasa mengiringi omelan almarhumah ibunya tentang ini-itu. Nasi jagung adalah sebuah simbol ketakberdayaan masa lalu kala jagung bagi orang tuanya jauh lebih murah dibandingkan beras.

Maka kemudian, ketika perjalanan waktu mulai menawarkan kesempatan-kesempatan, ketika perlahan ia mampu melawan kerasnya hidup, ketika ia mampu meninggalkan kegetiran masa kecil, nasi jagung sempurna terlemparkan dari kosakata hidupnya. Tak ada lagi menu itu di hari-harinya kemudian. Tak ada lagi. Lidahnya sudah terlanjur jenuh –lepas itu hanya perkara pikiran. Bahkan untuk sekedar nostalgia masa kecil, nasi jagung itu tak ada dalam hari-harinya. Maka tak heranlah, ketika kebersamaan yang baru berusia setahun dengan istrinya itu, yang bahkan tak tahu dengan kebiasaan uniknya, ketika istrinya bermaksud baik dengan membuat menu selingan untuk menu yang biasa-biasanya, agak sedikit tersinggunglah dia. Ah, tidak! Bukan marah yang sebenar-benar marah sebenarnya. Hanya bermuka masam. Itupun karena ditunggangi oleh capek yang mendera-dera. Nasi jagung itu, seolah mengembalikannya ke dalam kegetiran masa lalu.

###

Terakhir, di sebuah daerah yang terlupakan, di sebuah tempat yang butuh stamina prima untuk menjangkaunya, di satu tempat yang kanan-kirinya dilingkupi belantara, seorang perempuan muda tampak begitu cekatan mempermainkan pirantinya. Sudah satu jam berlalu, dan stetoskop di tangannya sudah berkali-kali ia tempelkan pada kulit pucat orang-orang yang sejak pagi telah berkerumun itu. Obat-obat pun telah mulai menipis, sebentar lagi bahkan akan berstatus habis. Tapi tak ada gurat lelah dalam wajah tegasnya. Keringat memang telah merembes menuruni pipinya yang bersemu merah oleh sebab panas, tapi semangatnya masih saja terjaga. Masih cekatan melakukan ini-itu, masih sabar melayani keluhan-keluhan penduduk yang mengaku menderita penyakit aneh-aneh. “masih banyak pasien, Bapak”, begitu jawabnya ramah ketika sang kepala desa memintanya untuk beristirahat barang sejenak..

Ia mengabdikan diri untuk warga pelosok, itu memang rahasia umum. Tapi ia seorang dokter dengan predikat lulusan terbaik di sebuah PTN ternama tanah air, itu kiranya yang tak banyak orang lain tahu. Bahkan, bahwa ia adalah seorang dokter ‘bodoh’ yang menolak kesempatan untuk berkarir di sebuah Rumah Sakit ternama ibukota, mungkin hanya ia seorang saja yang tahu. Benar-benar naif memang, tapi menjadi hebat pilihan-pilihan itu kala ada keteguhan, ketegasan, cita, dan keikhlasan di dalamnya.

Lalu, ketika sebuah wartawan surat kabar kecil daerah berhasil mewawancarainya, terbukalah semuanya. “Saya orang kampung. Sangat-sangat kampung. Tak ada dokter yang menyuramkan masa depannya dengan mengabdi di sana”, dokter itu dengan terbata mulai berbicara. Matanya menerawang, seolah ada masa lalu yang coba kembali ia eja. “saat itu malam hari. Usia saya masih 12 tahun. Itu lah malam yang tak akan mungkin saya lupakan seumur hidup saya. Tiba-tiba, setelah setahun penuh tak pernah mengeluhkan sakitnya, malam itu penyakit bapak kambuh. Suasana benar-benar kalut dan tak ada yang bisa dilakukan selain membawany dengan becak ke puskesmas terdekat. Puluhan kilometer jaraknya, melewati jalan berbatu yang penuh lobang. Tapi apa yang didapat? Ya, setelah perjalanan melelahkan itu, setelah doa kami rapalkan sebisanya memohon bapak bisa bertahan hingga tiba di puskesmas, setelah kami akhirnya mampu menjangkau puskesmas itu, tak ada yang kami temukan selain seorang perawat tak tahu apa-apa yang sedang ketugasan jaga. Tak ada yang bisa disalahkan, hingga satu jam kemudian bapak tiada tanpa mendapatkan pertolongan yang berarti.” Kalimat itu terhenti sebentar sampai kemudian ia melanjutkan,” saat itu, saat itu saya berjanji. Bahwa apapun keadaannya, bahwa seberat apapun jalan menuju itu, saya harus menjadi dokter. Saya harus menjadi dokter yang handal untuk orang-orang seperti bapak . Untuk orang-orang yang tak pernah punya kesempatan untuk memperoleh perawatan kesehatan”


-o0o-

Kawan, di buku pelajaran kita waktu sekolah dulu sering kali tertulis, bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Tapi Arie Ginanjar, lewat gerakan ESQ-nya dengan jelas mengatakan, bahwa pengalaman adalah belenggu hati. Tentu, tak perlu ada yang mempersengketakan di antara keduanya. Sebab kata orang bijak yang lain, “selain Ibroh, apalagi yang bisa diambil dari sejarah”

Kepada ketiganya kita bisa berkaca.


#kantor, istirahat siang.

Friday, March 25, 2011

s-e-i-m-b-a-n-g

Lazimnya, memang yang disebut seimbang adalah statis. Keadaan tak bergerak atau diam. Seperti sebuah lampu yang tergantung tenang. Ia dalam keadaan setimbang. Sebab memang gaya beratnya sama persis dengan tegangan kabel penggantungnya. Atau sebuah benda yang melayang di air dalam diam, itu juga setimbang. Sebabnya juga sama, karena gaya-gaya yang bekerja pada benda itu saling meniadakan karena arahnya yang saling berlawanan. Kita sudah pasti tahu bahwa gaya adalah besaran vektor yang mempunyai nilai dan arah.

Tapi, ada sebuah penjelasan yang sering kita lupakan, bahkan pada saat kita masih berseragam abu-abu dulu. Bahwa, seperti yang diungkapkan guru fisika jama SMA dulu, bila resultan gaya yang bekerja pada sebuah benda bernilai nol, maka ada dua kemungkinan yang terjadi pada benda itu. Yang pertama benda itu dalam keadaan diam, yang kedua benda itu dalam keadaan ber-GLB. GLB! Ya, GLB. Di masa-masa SMA dulu kita tahu bahwa GLB itu kependekan dari Gerak Lurus Beraturan. Sebuah gerak dengan laju konstan tanpa ada percepatan ataupun perlambatan.

Hanya itu? Tak! Pada pelajaran kimia dulu kita juga telah diajarkan tentang reaksi bolak-balik yang berkesetimbangan. Guru KIMIA saya dulu mendemonstrasikan fenomena ini dengan sebuah peragaan yang cerdas. Ada dua erlenmeyer di depan seorang siswa peraga. Satu erlenmeyer berisi air seperempat bagiannya, sedangkan erlenmeyer satunya tak terisi air sama sekali. Sedangkan si peraga, memegang pipet di kedua tangannya. Kemudian yang perlu siswa peraga tadi lakukan hanya satu; saling memindahkan kedua isi erlenmeyer itu dengan kedua pipet yang ada di tangannya. Memang yang terjadi, mulanya pipet yang memindahkan isi erlenmeyer yang kosong itu hanya memindahkan angin saja, tak ada yang terpindahkan. Namun seiring waktu, seiring ia mulai terisi akibat perpindahan dari erlenmeyer yang terisi seperempat air tadi, sedikit demi sedikit ada yang biasa dipindahkan balik. Sedikit demi sedikit, hingga tercapai sebuah keadaan kala kedua isi erlenmeyer itu sama isinya. Bila hal itu terjadi, maka keadaan tak akan pernah berubah. Meski siswa peraga itu sehari semalam saling memindahkan isinya dengan dua pipet identik itu, isi kedua erlenmeyer itu akan tetap segitu saja. Sebabnya memang itu, laju perpindahan kedua erlenmeyer itu sama. Seberapa yang ia pindahkan, seberapa itu pula yang dipindahkan ke dirinya juga. Demikian terus menerus, tak henti.

Sebenarnya itu tak menggambarkan betul. Tapi itulah pendekatan yang bisa dilakukan. Pada kenyataannya, sebuah reaksi bolak-balik yang berkesetimbangan, tak melulu sama jumlah antara reaktan dan produknya (seperti samanya isi air dua erlenmeyer tadi). Tapi tentang laju ke kanan sama dengan ke kiri, itu yang sama. Hingga konsentrasi reaktan dan produk akan tetap segitu saja meski reaksi dibiarkan berlangsung terus-menerus. Orang-orang awam akan menganggap bahwa reaksi telah berhenti dengan hanya melihat bahwa tak ada yang berubah pada konsentrasinya. Padahal nyatanya tidak. Padahal nyatanya karena reaksi ke kanan sama dengan reaksi ke kiri tadi.

Ini artinya apa? Tak banyak –meski yang lain mungkin berkata sebaliknya. Hanya sebuah pengertian bahwa seimbang, tak melulu identik dengan stagnansi yang statis secara gerak. Tidak. Maka harusnya tak ada keraguan untuk bersetimbang diri hanya karena sebab ketakutan itu. Takragu. Sebab ia tak akan mematikan. Kekhwatiran ia akan mematikan langkah, hanya terdiam, itu sama sekali tak beralasan. Setimbang masih memberi kita peluang untuk bergerak, laksana ber-GLB tadi. Setimbang juga tetap memberi kita peluang untuk memberi, sekacau apapun keadaan kita kala itu. Laksana reaksi berkesetimbangan tadi, akan tetap bereaksi untuk memberikan produk, sekecil apapun konsentrasinya.

Ya ya ya. Kemudian kau mungkin akan mengemukakan kosakata ini; kebosanan. Keadaan yang tetap, seperti kecepatan yang tetap pada GLB, seperti konsentrasi yang segitu-segitu saja pada reaksi kesetimbangan, tak bisa dipungkiri akan memunculkan kebosanan yang berujung pada kejenuhan. Bila itu terjadi, stagnansi boleh jadi tak salah untuk disematkan meski sejatinya tetap bergerak. Dan ini yang justru letak berbahayanya. Ketika kau bersedih di sebuah keadaan yang harusnya bahagia, itu jauh-jauh lebih memilukan dibandingkan kau yang bersedih di sebuah keadaan yang memang sudah sewajarnya bersedih.

Tapi percayalah! Akan selalu ada jalan keluar. Ketika gerak lurus dengan laju konstan itu mulai menjemukan, itulah kemudian gunanya tanjakan, itulah kemudian manfaat tikungan, itulah kemudian faedah polisi yang tiduran. Ya, kita memang perlu menyepakati ini, bahwa berkendara dalam sebuah jalan yang lurus nan lengang dengan kecepatan segitu-segitu saja, memang ada bahayanya juga. Ngantuk bisa dengan halus menyerang. Amat lembut, perlahan-lahan. Lalu yang terjadi amat tak tertanggungkan; selip, menabrak pembatas jalan, sukur-sukur kalau tak terjerumus ke jurang. Maka, tanjakan, tikungan, lubang-lubang, atau polisi tidur tadi, adalah sebuah variasi untuk mewarnai aktivitas gerak lurus beraturan kita tadi. Sebuah polisi tidur akan memakasa kita mengurangi kecepatan jika tak ingin penumpang didalanya terlunjak-lunjak. Dan untuk mengurangi kecepatan, kita perlu mengerem untuk memberikan perlambatan. Ya, memang, ada gesekan di sana. Ada energi yang sia-sia terkonversi menjadi kalor. Tapi tak apa. Sebab itu sesaat saja, sebab yang kita dapatkan dari itu boleh jadi lebih banyak. Itu akan memberi kita kesadaran, tak terbuai dengan laju yang mulus nan datar-datar saja. Begitu juga tikungan. Begitu juga tanjakan dan lubang-lubang kecil di jalanan. Itu menjadi penting. untuk sebuah kesadaran, untuk sebuah evaluasi diri. Setelah itu kita boleh saja ber-GLB lagi, untuk kemudian menemui tikungan lagi, lubang lagi. Begitu seterusnya. Begitu seterusnya.

Tapi percayalah! Akan selalu ada jalan keluar. Ketika reaksi berkesetimbangan itu mulai menjemukan, itulah kemudian guna lingkungan. Ya, kita memang perlu menyepakati ini, bahwa sebuah reaksi yang telah mengalami kesetimbangan memang laiknya sebuah zat yang sudah berhenti bereaksi. Tak ada perubahan yang teramati. Bertahun-tahun tetap seperti itu memang agaknya tak baik juga. Maka lingkungan itu tadi yang berperan. Ah, kita perlu mengahangatkannya. Kita perlu memberi tambahan kalor untuk menaikkan suhu guna menggeser-geser kesetimbangan. Panas, akan menggeser reaksi ke arah reaksi yang endothermis, hingga laju reaksi yang ke arah endothermis lebih besar dari pada yang ke arah eksothermis. Hingga keadaan menjadi berubah, hingga konsentrasi tak lagi sama, hingga suasana baru kembali tercipta, hingga kesetimbangan baru lah yang ada. Suatu saat, kejemuan dengan kesetimbangan yang sudah baru itu boleh jadi kambuh, tapi kita sudah tahu obatnya. Kalau tak menghangatkannya, mungkin kita perlu mengubah tekanannya.

Begitulah, ini mungkin sebuah pendekatan yang terlalu teoritis. Dari seseorang yang juga belum setimbang. Boleh jadi terbantahkan. Tapi yakinlah, jika benda mati saja bisa bersetimbang, dan tetap setimbang meski berkali-kali dapat gangguan, maka harusnya kitapun, yang telah dibekali dengan banyak hal, mampu melakukannya dengan lebih baik. Bahkan jauh-jauh lebih baik.

Kecubung 17


*Maaf, Anda mungkin bingung membacanya. Jadi, sebuah apresiasi yang tinggi jika berhasil menyelesaikannya.

Recharge energi : nelpon rumah