Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

Wednesday, June 1, 2011

Bookaholic : Mei 2011

Bila kawan-kawan sering mampir ke postingan bookaholic saya tiap bulannya, maka akan tahu kalau jumlah buku yang berhasil saya baca dua bulan belakangan hanya berjumlah lima buah. Tidak cukup banyak, tapi tak juga sedikit. Sedang-sedang saja. Dan bulan ini, dengan segala optimisme saya di awal sampai pertengahan bulan bahwa saya akan mampu melebihi capaian bulan-bulan lalu itu, pada akhirnya saya menthok juga di angka lima itu. Boleh jadi, tingkat membaca saya berada pada tataran istiqomah .

Mulanya ingin menyampaikan kenapa-kenapanya mengapa optimisme itu nyatanya tak tercapai. Tapi setelah saya telisik kembali, persoalannya bukan pada itu, melainkan  pada metode membaca saya yang masih tetap saja. Pada waktu-waktu membaca yang tetap saja. Dan mungkin juga pada kehendak untuk membaca yang ternyata sama juga dengan bulan-bulan sebelumnya. Maka, karena sebulan juga memiliki jumlah hari yang boleh dikata sama, dengan jumlah hari kerja selama sepekan yang juga sama, dengan metode yang sama itu, tak mengherankanlah jika hasil yang diperoleh ya tetap segitu-segitu saja.

Baiklah, tanpa banyak kata  lagi, ini lah kelima buku yang berhasil saya selesaikan dalam sebulan ini:
  • Sketsa-Ari Nur. Pembahasan mengenai buku ini sudah saya tulis di sini. Banyak yang mengatakan kalau buku ini tidak semenyenangkan buku-buku ari nur sebelumnya: Diorama dan Dilatasi. Meski masih kental dengan unsur arsitekturnya, boleh dikata buku ini berbeda jauh dengan dua buku ari nur yang sebelumnya itu. Kebanyakan pembaca buku pasti sudah tahu kalau dua buku itu-Dilatasi dan Diorama- amat kental nuansa islaminya.
  • Catatan Muslimah Belanda-Khairina dkk. Waktu membeli buku ini, sepertinya yang kepikiran di otak saya hanya ini: sepertinya asyik juga membaca catatan-catatan orang indonesia yang berada di luar negeri. Beberap kali sepertinya saya membaca catatan di negeri seberang itu dalam sebuah buku, tapi baru kali ini lah seingat saya, saya membaca buku dengan semua isinya berisi catatan-catatan kehidupan sehari-hari di luar negeri itu. Ceritanya lumayan beragam, dengan sudut pandang seorang muslimah yang kebanyakan harus berada jauh dari tanah air karena mengikuti suami—beberapa bahkan karena bersuamikan seorang belanda. Dengan tulisan yang tak terlalu panjang, catatan-catatan dalam buku ini lumayan menghibur, telebih karena waktu membaca saya yang lebih banyak sepotong-sepotong. 
  • Arumdalu-Junaedi Setiono. Meski tetap enak untuk dibaca terpisah, boleh dikata buku ini adalah kelanjutan buku Junaedi Setiono sebelumnya; Glonggong. Masih meceritakan sejarah lewat sudut pandang orang-orang yang tak terekam sejarah sebenarnya, buku ini menceritakan seorang Danti arumdalu. Pada masanya, hampir semua orang Salatiga, terutama kaum lelakinya, mengenal Danti Arumdalu. Orang-orang selalu menghubungkannya dengan kehidupan malam. Bagi anda yang sudah membaca Glonggong, Danti Arumdalu ini adalah kakak perempuan Glonggong yang di buku pertama itu disebutkan secara sepintas sebagai gundik. Satu hal yang unik, tokoh ‘aku’ dalam novel ini adalah seorang yang pengecut dan sedikit licik. Satu hal yang membuat saya agak geram juga membaca buku ini. Mengingat kita seringkali memasukkan diri kita dalam tokoh aku tersebut.
  • Cinta di Rumah Hasan Albana-M. Lili Nur Aulia. Bahwa yang pertama kali merasakan sentuhan cinta seorang dai, yang mendapat dekapan hangat penebar kebaikan adalah orang terdekatnya, terbuktikan di sini. Buku ini banyak merekam kesan-kesan orang terdekat Hasan Al bana mengenai bagimana kesibukan dakwah tak kemudian membuat peran sebagai seorang ayah menjadi terbengkalai. Kesaksian putera-puteri Hasan Albana dalam buku ini menjelaskan pada kita, bahwa selain kiprah dakwahnya yang gemilang, beliau adalah ayah yang hebat bagi putera-puterinya.
  • Catatan hati Bunda-Asma Nadia. Pada akhirnya memilih buku ini untuk saya baca. Memang, akhir-akhir ini lebih memilih buku dengan cerita-cerita pendek yang tiap ceritanya dapat dihabiskan dalam waktu yang tak terlalu lama. Suka? Lumayan suka. Meski tak sesuka buku ‘Matahari odi Bersinar karena Maghfi”nya Bunda neno. Tapi tetap ada banyak hal yang bisa saya dapat dari buku ini terkait tumbuh-kembang anak.
Yup, lima itu saja. Selanjutnya ini adalah dua buku yang sedang saya baca. Masih berstatus setengah baca. Mudah-mudahan bulan depan sudah bisa terlaporkan sebagai dua dari sekian banyak buku yang saya baca (amin):
  • Pengikat Surga; tentang bagimana sirah disajikan dalam bentuk novel lewat sudut pandang asma binti abu bakar
  • Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya; sebuah buku yang ditulis seorang biksu.


Thursday, March 31, 2011

Bookaholic: Maret

Baiklah, memang harus saya akui kalo grafik membaca saya semakin menurun. Iya, memang bulan maret ini masih sama dalam hal jumalh dengan bulan sebelumnya. Tapi bulan maret ini, nominal lima buku itu saya capai dengan sedikit ngos-ngosan di akhir-akhir bulan. Jadilah angka seratus buku dalam setahun itu menjadi semakin berat (, tapi mungkin,) untuk terlaksana. (Sepertinya ini tanda-tanda untuk segera ngambil cuti )

Berikut lima buku untuk maret ini:
  • Rabithah Cinta: Bagi anda yang pernah membaca 'Obituari Kasih', ya, ini memang dua buku yang sama karangan Afifah Afra.Entahlah, saya tak tahu persis mengapa sampai perlu menerbitkan lagi buku ini dengan judul berbeda. Sebab bagi saya, untuk orang-orang yang tak tahu, bisa saja ini menjebak. Menganggap ini dua buku yang berbeda. Namun begitu, lepas dari hal tersebut, buku ini lumayanlah. Sudah cukup lama tak membaca novel dengan sematan-sematan islam yang kental. Setting Papuanya, meski tak detail, juga cukup memberikan daya tarik sendiri.
  • Eliana : Serial Anak-anak Mamak :Cerita tentang anak-anak memang selalu menyenangkan. Membuat kita kembali bernostalgia dengan masa kanak-kanak itu. Mengenang. Mengingat. Dan benar, Tere Liye berhasil membangkitkan itu semua. Meski berbeda setting, sebab tak ada hutan di kampungku dulu --tapi sawah-sawah dan kebun, tapi tetap saja tak mengurangi unsur nostalgia yang terbangkitkan.
  • Positive Parenting: Bersama dengan '7 Keajaiban Rezeki', ini adalah buku terakhir yang saya beli pas ke balikpapan sebulanan yang lalu. Membuat cemburu buku yang lain mungkin, sebab justru buku ini yang malah saya selesaikan lebih dulu. Meninggalkan buku lain yang bahkan ada yang sudah setahun masuk daftar tunggu. Tapi karya Ust Fauzil Adhim yang satu ini memang terasa menggoda. Melihat judul bab-babnya, melihat uraian singkatnya.Membaca buku ini, membawa kita ke sebuah kesadaran, bahwa ternyata banyak sekali hal yang tak kita ketahui tentang ilmu keayah-bundaan ini. Bahkan hal-hal yang kita anggap biasa, boleh jadi menjadi suatu yang besar untuk tumbuh-kembang anak-anak kita.
  • Semangkuk Cocktail Cinta: Ini termasuk seri pengokohan tarbiyah. Buku ketiga yang saya baca. Sebuah karya Rahayu Ayuningtyas yang membahas tentang seni berkomunikasi dengan bahasa cinta. Tak banyak hal baru yang saya dapat di buku ini sebenarnya, tapi karena alasan 'saya harus menyelesaikannya'lah yang membuat saya memaksakan diri untuk menuntaskannya.
  • Perempuan Suamiku: sebuah kumpulan cerpen Izzatul Jannah. Awalnya membaca buku ini sih sebagai selingan saja. Namun karena jumlah halamannya yang tak banyak, jadi sekalian saja diselelsaikan. Isinya, seperti yang tergambar dari judulnya, lebih banyak ke serba-serbi pernikahan. Dengan mengambil potret keluarga dakwah. Termasuk lumayan, untuk sebuah buku seharga 10.000 yang saya beli ramadhan kemarin. Oh ya, buku ini cukup provokatif.
Oke-oke. Untungnya masih tetap lima. Tak ada perbaikan memang, tapi tak ada penurunan.

Berikut buku yang masih dalam tahap dibaca:
  • Warisan Sang Murabbi, Pilar-pilar Asasi (sudah 3/4 buku, tapi belum juga selesai)
  • Selimut Debu ( saya masih ingat, buku ini pertama kali mulai saya baca waktu dinas ke Tarakan hampir setahunan yang lalu. tapi berhenti begitu saja)
  • Bete after Merit (Sebenarnya enak dibacanya. Tapi belum selesai-selesai juga. Tinggal beberapa haaman saja sebenare)
Selamat Membaca!

Saturday, January 8, 2011

Ini Wajah Cintaku, Honey!

Rating:
Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:Tasaro
Ini hanyalah cerita-cerita sederhana. Berisi 22 kisah khas pengantin baru yang dituturkan bergaya diari. Hanya, uniknya, ini ditulis seorang lelaki yang berusaha menjadi suami terbaik bagi istrinya. Itu, terungkap lewat sub judul buku ini yang bertulis: risalah kesejatian seorang suami yang menempatkan istri benar-benar sebagai seorang bidadari. Sudut pandang seorang suami, sepertinya memang jarang-jarang dalam sebuah buku yang berisi catatan-catatan pernikahan ataupun pengasuhan bergaya diari.

Buku ini tipis, hanya 130 halaman saja. Ditambah gaya penulisannya yang renyah, gurih, dan mengalir, maka tak akan butuh waktu yang lama untuk segera menghabiskannya. Bahkan dengan sekali duduk. Tapi tentu saja, hikmah yang terangkum di dalamnya tak setipis halamannya. Hal-hal sederhana yang terlihat kecil ternyata mengandung banyak hikmah kala dituliskan secara jujur. Sebuah penegasan tentang betapa penting dan seriusnya kegiatan menulis ini. Bahkan untuk hal-hal yang terlihat sederhana dan teramat sehari-hari.

Dua puluh kisah dalam buku ini dimulai dengan judul ‘Pondok Mertua Indah Sekali’. Sebuah judul yang sudah jelas mencerminkan isinya. Sebuah kenyataan saat sang pengantin baru masih harus numpang di rumah mertua. Kata mertua, sudah menunjukkan kalau untuk sementara pengantin baru harus tinggal di rumah orang tua si istri. Bukan hanya karena saat itu si suami kerja di Bandung, sedangkan si istri masih harus bekerja lah yang membuat mereka memutuskan itu. Tapi, juga karena faktor ketiadaan dana untuk bisa memiliki petak sendiri dengan hanya mereka saja yang berada dalam naungannya. Dan ini lah perjuangannya. Perjuangan harus tinggal terpisah dan hanya menghabiskan akhir pekan saja bersama. Perjuangan, yang akan lebih banyak mengisi ruangan dalam buku ini.

Tasaro terlihat begitu jujur dalam menuliskan ini. Terlihat apa adanya, dan tak ditutupi. Itulah yang kemudian membuat kisah-kisah dalam buku ini terasa membumi. Terasa begitu dekat dengan kehidupan orang kebanyakan. Ada cerita tentang bagaimana ia mulai berburu rumah untuk ditinggali mereka berdua—mahalnya harga rumah, ada cerita tentang gorden yang aneh –inilah laki-laki yang tak memperhatikan hal-hal detail, ada cerita tentang oseng-oseng daun pepaya –saat suami punya makanan kesukaan yang tak juga disediakan istri, ada cerita tentang pakaian—saat si suami ingin istri berhijab sempurna tapi suami masih suka pakaian gaul, ada juga cerita tentang bagaimanakah seorang suami itu saat ditinggal sendiri di rumah.

Buku ini tentu saja lumyan penting. Penting untuk dibaca sebagai penyegar romantisme pernikahan, penting bagi seorang yang segera menuju pernikahan—tentang bagaimanakah pernak-pernik pernikahan itu. Ada senyum simpul membaca keluguan khas pengantin baru, ada semangat yang ditimbulkan, ada pencerahan, juga tentu saja ada haru yang tiba-tiba datang menyeruak secara amat lancang. Semuanya itu, bisa muncul dari sebuah rangkuman perjuangan yang tersaji apik dalam buku ini. Melalui buku inilah kita dapat melihat bagaimana perjuangan seorang Tasaro sebelum menjadi penulis mapan dengan karya-karya besarnya, yang seperti bisa kita saksikan kini.
Terakhir, ada petikan dialog tentang oseng-oseng daun pepaya yang cukup menarik perhatian dalam buku ini:


“Daun pepaya kan pahit, Kang?”
“Iya...tapi, Akang suka”
“Yang lain saja atuh”
“Lho, katanya akang suruh milih”
“Iya, tapi jangan daun pepaya”
“Ya sudah, kalau begitu apa saja boleh”
“Akang mah gitu. Jangan apa saja atuh. Saya kan jadi bingung”
“kalau begitu...”
“Oseng-oseng daun pepaya?! Nggak ah, apa saja, tapi jangan itu”
“Apa saja lah, terserah neng.”
“Akang mah”
“Ya, kalau disuruh milih, akang pingin daun pepaya..titik.”
“Nggak mau”
“Ya sudah..”
“Kang...”
“Daun pepaya!”
“Lainnya!”
“nggak ada yang lain”



Sampai sekarang, penasaran juga kenapa si istri tak mau memasakkan masakan istimewa bagi suami ini..
Buku ini tentu saja layak diapresiasi.





Friday, October 22, 2010

SOP Peminjam Buku

Seperti benda kesayangan, seperti sesuatu yang didapat dengan penuh perjuangan, maka seperti itulah perlakukan buku ini. Bukan semata karena saya teramat mencintai buku-buku saya, atau sejumput materi yg harus saya keluarkan untuk mendapatkannya. Bukan! Bukan hanya itu. Tapi demi tersampaikannya pesan itu, demi semakin tersebarnya kebaikan yang ada dalam buku ini, dan juga demi semakin meluasnya penyebaran pengetahuan dalam kalimat-kalimat hidup ini . Dan itu, hanya bisa terjadi, saat buku ini terawat dengan baik, saat buku ini tersimpan dengan layak. Jadi, mohon sekiranya untuk tidak melipat halaman dalam buku ini. Itu amat buruk efeknya. InsyaAllah saya telah menyediakan sebuah pembatas buku dalam tiap buku saya (dan sekali lagi tolong jangan dihilangkan). Juga, mohon untuk tidak membaca sambil makan (apalagi makanan berair atau berminyak), atau sambil tiduran (yang memungkinkan anda tertidur dan menggencet buku ini). Anda mungkin lebih mengerti apa akibatnya. Dan, juga yang tak kalah pentingnya, mohon untuk tidak menggulung (terlalu keras) ke belakang satu sisi buku saat Anda membaca . Gunakan saja dua tangan untuk memegang dua sisi buku itu (cara inilah yang paling baik). Atau, kalau itu kurang membuat nyaman anda saat membacanya, maka peganglah bagian tengahnya saja saat membacanya. Dan satu tangan andapun bebas untuk melakukan hal lain.

Maka, pada akhirnya kembalikanlah buku ini tepat pada waktunya (biasanya waktu yang saya berikan maksimal satu minggu). Bukan (hanya) karena saya tak percaya pada Anda, tapi adalah sudah menjadi kebiasaan  manusia untuk terlupa, lalai, dan kadang ceroboh. Maka, sebelum hal-hal yang tidak diinginkan menimpa buku ini, kembalikanlah! Karena jika tidak, bersiap-siaplah untuk menerima terror SMS dari saya. Dengan isi yang hampir seragam : ini sudah seminggu lebih, mohon untuk segera mengembalikan buku saya.

Selamat membaca!

Salam

iqb@l

 

 Tulisan tercetak miring di atas adalah tulisan yang saya print dalam sebuah kertas untuk kemudian saya fotokopi banyak-banyak. Digunting untuk merapikan bagian-bagian tak penting, unutuk selanjutnya ditempel pada halaman terakhir buku-buku yang saya miliki. Tapi, itu dulu.

Dulu yang saya maksud adalah masa kuliah. Tak banyak buku yang saya miliki kala  itu, tapi yang sedikit itulah yang begitu saya jaga betul. Saya termasuk orang yang cerewet dalam meminjamkan buku. Berpesan banyak hal. Jangan begini, jangan begitu. Mulanya saya sampaikan saja. Satu persatu. Hingga saya sadari itu tak terlalu efektif sebab banyak juga yang  iya iya saat dikasih tahu tapi nyatanya nggak nggak saat mengembalikan. Buku saya lecek juga. Maka muncullah ide itu; menempelkan SOP di halaman terakhir buku. Pemikiran saya sedehana saja, saat ia membaca buku itu, sedikit banyak ia akan membaca tulisan kecil itu. Jika saya tak terlalu bisa berdramatisasi dalam ucapan langsung, maka setidaknya saya bisa menyampaikan pentingnya menjaga buku itu dalam sebuah kalimat-kalimat yang lebih menghunjam dalam kertas kecil itu.

Dan sedikit banyak itu cukup berhasil. Beberapa teman jadi terlihat hati-hati dalam memperlakukan buku itu. Tidak ngasal. Lebih bertanggungjawab.

Hanya saja, kebiasaan menempel kertas kecil dalam buku itu cuma bertahan sampai masa kuliah saja. Setelah bekerja yang justru lebih banyak buku yang saya beli, hilang sempurna kegiatan itu. Dengan menyampulinya saja sudah merasa cukup. Entah kenapa penyebabnya, apa karena sudah jarang yang meminjam buku saya di tempat baru ini, atau karena tak banyak lagi waktu untuk 'main-main' seperti itu, atau karena saya sudah menaruh percaya apada peminjam-peminjam buku di sini. Atau, karena tiap buku yang saya beli setelah bekerja tak melalui pertarungan yang dasyat seperti halnya ketika masih mahasiwa. Yang sedikit banyak masih berpikir tujuh kali untuk memutuskan membawa buku ke kasir. Memikirkan tentang jatah uang makan yang disunat habis-habisan bila memutuskan untuk membeli buku. Hingga setiap buku yang dibeli kala itu punya kesan mendalam hingga begitu mencintainya.

Ah, semoga bukan hanya alasan yang terakhir saja yang berlaku. 

Wednesday, September 29, 2010

Masjid UI, TM Bookstore, dan bakso Lapangan Tembak

kalau anda terjebak di postingan ini, pastikan anda telah membaca postingan saya sebelumnya. Sebab ini kelanjutan dari sebelumnya. Hanya tentang pengalaman saya ke jakarta. Dan, dengan sangat berat hati, saya nyatakan kalau tulisan ini nggak ada pentingnya sebenarnya. Hanya karena permintaan dari beberapa pembacalah yang kemudian saya tergerak untuk menuliskannya. Itung-itung buat latihan nulis


*******

Selesai sholat dhuhur di masjid UI, kami kembali berjalan melalui rute yang sama dengan berangkat tadi. Saya tak bisa berbohong kalau saya suka rutenya. Trotoar yang nyaman dan dahan-dahan yang merindangi cukup membuat saya nyaman untuk menyusurinya meski di siang hari sekalipun. Apalagi, kala itu, dibantu cuaca yang sedang mendung. Klop sudah.

Beberapa menit saja kami jalan, ketika pada akhirnya sudah sampai di ‘pintu gerbang’ untuk kami kelauar dari kawasan kampus. Melewatinya. Kemudian, berganti menyusuri jalanan yang terbilang sempit dengan kanan-kiri (atau kanan ya? Lupa) pemukiman penduduk.  Entah sudah berapa lama saya tak berjalan menyusuri rute seperti ini. Menghindari becekan, melangkahi jeglongan . Ah, berjalan memang selalu memberi banyak pelajaran.

“Toko bukunya ada di mall itu!”, teman saya mengarahkan mukanya ke sebuah bangunan tinggi di depan kami. Saya, hanya mengikuti arah pandangnya tanpa perlu menyahuti ucapannya. Masih terus melangkah.

“Lantai berapa?”. Baru saja, adalah pertanyaan saya ketika kami sudah sampai di lantai pertama. Lantai pertama dari yang kita jejaki. Teman saya hanya tersenyum. Mengedikkan bahu. Saya paham, ia juga belum pernah ke sini. Mengetahui lokasi TM Book Store pun dari internet. Hampir tiga tahun di jakarta, ternyata memang tak membuatnya tahu banyak tentang jakarta. Tapi lumayan, setidaknya sampai saat itu, dia adalah guide yang baik.

“Tanya satpam saja nanti”, lagi-lagi ucap saya ketika kami sudah ada di eskalator.

Tapi ternyata tak perlu tanya. Akhirnya, papan petunjuk yang tiba-tiba terlihat sudah cukup memberitahukan. Sebuah arah.

Toko buku itu tak terlalu besar. Belum memasukinya saya sudah bisa mengetahui besarnya. Hanya kaca-kaca transparan yang membatasinya dari luaran. Besarnya, kalau boleh saya bandingkan, sepertinya seukuran dengan Togamas DTC Surabaya. Jauh lebih kecil apabila dibandingkan dengan Gramedia Matraman, toko buku pertama yang saya jujuki ketika sampai di jakarta, semingguan sebelumnya. Tapi mendingannya, di sini ada diskon. Hal yang tak ditemui di gramedia matraman.

Kami pun masuk. Tentu, setelah menitipkan ransel di penitipan. Menukarnya dengan sebuah kartu. Lalu, segera menuju deretan buku-buku yang masih saja memesona.

“kamu mutar-mutar saja nyari buku. Aku ambil buku terbuka dan nyari posisi duduk yang enak”. Saya tersenyum mendengar penuturan teman saya ini. Tetap saja, dengan ukuran tubuh yang di atas rata-rata itu, ia masih seperti ketika kita jaman kuliah dulu: susah diajak jalan.

Tak ada yang spesial dari toko buku ini selain masalah diskon tadi. Pelayanannya biasa-biasa saja, jauh apabila dibandingkan dengan yang saya terima di Gramedia Matraman. Tak ada yang sibuk menawari tas belanjaan meski saya kerepotan memegang buku belian. Sepertinya, petugasnya pada sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.

Di sini, saya menemukan novel pakistan yang pernah saya cari-cari, nemu juga ‘Janji Lelaki’nya Pro-u, serta nyicil beli tafsir Ibnu Katsir. Serta yang lain. Dan, lagi-lagi, jebol lah pertahanan saya untuk tak beli buku banyak.

Menuju kasir, menggesek atm, melangkah keluar. Sempet ternginang-ngiang akan nominal yang telah saya kelujarkan untuk pembelian buku ini. Dan, hei! Ada penyampulan gratis.

“Yang harga 25.000 ke atas, ya, mb?”, ini hanyalah pertanyaan retoris saya tentang persyaratan sampul gratis tadi. Sebenarnya sudah jelas tertulis, sampul gratis untuk buku seharga 25.000 ke atas setelah diskon.

“iya, mas”

“boleh saya tinggal makan? Saya makan di sebelah ini”, ini sebenarnya permintaan yang retoris juga. Tak mungkin ia menolak. Apalagi hanya sekedar ditinggal untuk makan di sebelah toko buku itu.

“iya! Iya, boleh”, sahut petugas penyampul sambil tersenyum. Tangannya cekatan menyambut buku yang sartu persatu saya keluarkan dari tas kresek. Saya harus memilah mana yang dapat fasilitas sampul gratis mana tidak.

Bakso lapangan tembak, demikian nama tempat makan di sebelah toko buku itu. Sebenarnya saya malas makan di tempat-tempat franchise macam begini. Lebih baik cari yang khas daerah setempat. Tapi oleh sebab, ‘kayaknya di sini saja deh biar hemat tenaga’, saya ngikut juga. Sepertinya teman saya sudah kelelahan jalan bolak-balik ke masjid ditambah ngubek-ubek toko buku.

Di dalam, ada beberapa orang menempati tempat duduk. Tak sepi, juga tak terlalu ramai. Ada pula dua orang akhwat-akhwat yang tengah makan di sudut dekat kaca. Awalnya, heran juga. Tak biasa (bagi saya). Apalagi dari penampakannya yang sepertinya masih mahasiwa. Dulu, langganan makan saya pas masih berstatus mahasiswa sepertinya warung-warung sederhana dekat kost, atau kalau pas lagi pingin ya tahu thek yang kebetulan lewat, atau paling banter nasgor  tenda sepanjang jalan. Tapi, ah, mungkin inilah jakarta.

Mencari tempat duduk. Dan memang, sudut dekat kaca itulah yang sempurna. Ada lalulalang kendaraan yang bisa diindera. Dulu, teman sekamar saya selalu memilih tempat duduk dekat kaca seperti ini tiap kali ujian. Alasannya sederhana: “kalau lagi buntu bisa nyari inspirasi melihat luar”. Saya, kala itu, diam-diam meniru caranya.

Sepertinya ini kali kedua saya makan di Bakso lap tembak ini. Kalau tak salah, yang pertamanya di bandara sepinggan. Pulang dari tarakan kala itu, menunggu penerbangan lanjutan ke Bontang. Saat itu pesan mie ayam bakso. Standar saja. Sebab hanya itu saja yang saya suka, sepertinya. Dan, di jakarta ini, pada kesempatan kedua ini, oalah, lagi-lagi mie ayam bakso itulah pilihannya.

Beberapa menit terlewati sampai makanan itu datang. Selanjutnya, tak terlalu banyak yang bisa diceritakan. Makan, ngobrol pekerjaan, ngobrol politik sedikit (demi melihat poster pak Nurmahmudi), ngobrolin teman. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi.

Saya bangkit dari tempat duduk, mencoba mencari kasir. Dua orang akhwat yang lebih dulu datang nampak belum beranjak. Mungkin betah, mungkin makannya lama, atau mungkin untuk alasan norak ini : ‘mumpung beli di sini, dilama-lamain saja..lumayan kursinya empuk J’. Tapi, hei! Mana kasirnya? Saya melongok-longok ke tempat mbak-mbak petugas tadi mengeluarkan pesanan kita. Beberapa petugas  di situ melihat saya tapi tak satupun berinisiatif untuk melayani. Sepertinya bukan di sini, pikir saya. Untunglah kemudian teman saya menunjukkan sebuah arah lewat isyarat mukanya. Ho ho, ternyata di pintu masuk posisinya.

Membayar makan. Kembali ke kasir toko buku mengambil buku yang disampul. Melangkah kelauar kembali ke masjid UI. Tak ada yang istimewa. Standar-standar saja. Baru sejaman kemudianlah membuat saya mengingatnya ingin tertawa. Ha ha. Dari SMS-SMS.


 

Saturday, December 6, 2008

Koin-koin dalam Botol

Di kamar kos sempit saya, biasanya terletak di pojok, ada sebuah botol air mineral ukuran 1,5 liter berdiri tegak. Memang tak jarang terguling, menggelinding kesana kemari, ke kolong ranjang dan tak kelihatan, tapi berdiri di pojoklah favoritnya. Akan selalu saya berdirikan kembali jika terguling, akan saya tempatkan kembali jika menjauh. Namun akhir-akhir ini, ia jarang terguling, tidak juga mudah goyah, karena titik beratnya sudah terpusat di dasar. Sejak isinya mulai banyak.

Botol ini seperti botol air mineral pada umumnya, dan amat mungkin ada di setiap kamar anak kos. Pembedanya hanya pada perlakuan yang saya berikan padanya. Pada bagian tutupnya, tempat segala yang mengisi botol tersebut keluar masuk, saya bakar. Bukan dibakar sampai hangus. Hanya disulut saja. Biar antar bagian plastik yang berdempetan tapi tak menyatu itu bisa saling melebur. Melekat. Dan pada akhirnya tutupnya tak bisa dibuka karena sudah lengket. Buntu. Tapi kemudian saya tidak membuatnya benar-benar buntu. Di leher botol tersebut saya buat irisan melintang dengan menggunakan cutter. Tidak lebar, hanya beberapa centi saja. Beberapa centi yang saya perkirakan terlebih dahulu agar sebanding dengan diameter terbesar uang koin yang beredar saat ini.

Orang-orang menyebut benda ini dengan celengan.

Sebelum akhirnya benar-benar menjadi celengan, mulanya saya membuat botol ini sebagai penampung uang koin yang saya dapat dari kembalian warung makan atau swalayan. Biasanya saya meletakkan uang kembalian itu di meja atau di tas. Tak terurus. Kadang berceceran di kolong ranjang karena tak sengaja terjatuh dari kantong celana saya ketika tidur. Tak ada yang menghiraukan. Hanya saat butuh uang kecil saja, atau saat uang saya benar-benar habis dimana uang pecahan sekecil apapun jadi berharga, saya baru mencari-carinya. Lumayan, pikir saya kala itu. Bukankah koin-koin itupun bisa banyak. Bukankah sejak kecil kita sudah amat familiar dengan peribahasa “sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit”. Kapan lagi bisa menerapkannya. Kapan lagi membuat kalimat itu tak hanya berhenti menjadi kalimat sok bijak yang indah sekali diucapkan tapi hanya sedikit yang benar-benar menginginkan untuk diterapkan di hidupnya.

Kelak, pikir saya kala itu, ketika koin-koin itu sudah berbilang puluhan ribu, ketika nilainya sudah sebanding dengan uang kertas licin itu, ia harus bisa berbentuk. Sesuatu yang bermanfaat. Yang benar-benar terlihat. Benar-benar bukit. Dan saat itu, benda yang terpilih adalah buku. Akan saya gunakan koin-koin itu untuk membeli buku ketika nilainya sudah memadai. Hingga saya tak perlu mengeluarkan uang kertas untuk memnuhi hobi saya itu. Memang tidak signifikan untuk mengimbangi rate saya membeli buku. Hanya bisa sekali dalam beberapa bulan. Tapi tak apalah. Yang sekali ini yang akan lebih bermakna. Lebih membekas.

Kini, tiap kali membuka pintu kamar kos, botol itu akan selalu memaksa saya melihatnya. Memaksa pula tangan saya untuk merogoh kantung celana. Mencari koin yang terselip. Gembira sekali saat menemukannya (maka dengan adanya ini saya jadi jengkel kepada warung-warung yang seenaknya sendiri ngasih kembalian permen. Aneh, bagaimana bisa mereka menyediakan permen-permen itu padahal tak jualan permen, tapi tak mampu menyediakan koin-koin yang sudah jelas kebutuhannya). Bahagia pula saat mencemplungkannya ke botol transparan tersebut. Ya, memang transpran. Tidak saya beri penutup hingga tak kelihatan dalamnya seperti celengan pada umunya. Saya rasa saya bukanlah anak kecil lagi yang butuh kejutan tentang ketiba-tibaan, tentang tiba-tiba banyaknya uang celengannya. Biarlah saya menatapnya tiap hari. Menyaksikan koin-koin dalam botol itu meninggi. Merasakan botol itu semakin tak mudah terguling kala tersenggol. Hingga kebahagiaan itu datang, ketika masanya memecah celengan itu, ketika pada akhirnya kumpulan keremehtemehan itu mampu membeli kemewahan. Ah bahagia sekali rasanya. Amat bahagia. Sebahagia anak kecil memecah celengan yang lain. Tapi beda!