Mulanya ingin menyampaikan kenapa-kenapanya mengapa optimisme itu nyatanya tak tercapai. Tapi setelah saya telisik kembali, persoalannya bukan pada itu, melainkan pada metode membaca saya yang masih tetap saja. Pada waktu-waktu membaca yang tetap saja. Dan mungkin juga pada kehendak untuk membaca yang ternyata sama juga dengan bulan-bulan sebelumnya. Maka, karena sebulan juga memiliki jumlah hari yang boleh dikata sama, dengan jumlah hari kerja selama sepekan yang juga sama, dengan metode yang sama itu, tak mengherankanlah jika hasil yang diperoleh ya tetap segitu-segitu saja.
Baiklah, tanpa banyak kata lagi, ini lah kelima buku yang berhasil saya selesaikan dalam sebulan ini:
- Sketsa-Ari Nur. Pembahasan mengenai buku ini sudah saya tulis di sini. Banyak yang mengatakan kalau buku ini tidak semenyenangkan buku-buku ari nur sebelumnya: Diorama dan Dilatasi. Meski masih kental dengan unsur arsitekturnya, boleh dikata buku ini berbeda jauh dengan dua buku ari nur yang sebelumnya itu. Kebanyakan pembaca buku pasti sudah tahu kalau dua buku itu-Dilatasi dan Diorama- amat kental nuansa islaminya.
- Catatan Muslimah Belanda-Khairina dkk. Waktu membeli buku ini, sepertinya yang kepikiran di otak saya hanya ini: sepertinya asyik juga membaca catatan-catatan orang indonesia yang berada di luar negeri. Beberap kali sepertinya saya membaca catatan di negeri seberang itu dalam sebuah buku, tapi baru kali ini lah seingat saya, saya membaca buku dengan semua isinya berisi catatan-catatan kehidupan sehari-hari di luar negeri itu. Ceritanya lumayan beragam, dengan sudut pandang seorang muslimah yang kebanyakan harus berada jauh dari tanah air karena mengikuti suami—beberapa bahkan karena bersuamikan seorang belanda. Dengan tulisan yang tak terlalu panjang, catatan-catatan dalam buku ini lumayan menghibur, telebih karena waktu membaca saya yang lebih banyak sepotong-sepotong.
- Arumdalu-Junaedi Setiono. Meski tetap enak untuk dibaca terpisah, boleh dikata buku ini adalah kelanjutan buku Junaedi Setiono sebelumnya; Glonggong. Masih meceritakan sejarah lewat sudut pandang orang-orang yang tak terekam sejarah sebenarnya, buku ini menceritakan seorang Danti arumdalu. Pada masanya, hampir semua orang Salatiga, terutama kaum lelakinya, mengenal Danti Arumdalu. Orang-orang selalu menghubungkannya dengan kehidupan malam. Bagi anda yang sudah membaca Glonggong, Danti Arumdalu ini adalah kakak perempuan Glonggong yang di buku pertama itu disebutkan secara sepintas sebagai gundik. Satu hal yang unik, tokoh ‘aku’ dalam novel ini adalah seorang yang pengecut dan sedikit licik. Satu hal yang membuat saya agak geram juga membaca buku ini. Mengingat kita seringkali memasukkan diri kita dalam tokoh aku tersebut.
- Cinta di Rumah Hasan Albana-M. Lili Nur Aulia. Bahwa yang pertama kali merasakan sentuhan cinta seorang dai, yang mendapat dekapan hangat penebar kebaikan adalah orang terdekatnya, terbuktikan di sini. Buku ini banyak merekam kesan-kesan orang terdekat Hasan Al bana mengenai bagimana kesibukan dakwah tak kemudian membuat peran sebagai seorang ayah menjadi terbengkalai. Kesaksian putera-puteri Hasan Albana dalam buku ini menjelaskan pada kita, bahwa selain kiprah dakwahnya yang gemilang, beliau adalah ayah yang hebat bagi putera-puterinya.
- Catatan hati Bunda-Asma Nadia. Pada akhirnya memilih buku ini untuk saya baca. Memang, akhir-akhir ini lebih memilih buku dengan cerita-cerita pendek yang tiap ceritanya dapat dihabiskan dalam waktu yang tak terlalu lama. Suka? Lumayan suka. Meski tak sesuka buku ‘Matahari odi Bersinar karena Maghfi”nya Bunda neno. Tapi tetap ada banyak hal yang bisa saya dapat dari buku ini terkait tumbuh-kembang anak.
- Pengikat Surga; tentang bagimana sirah disajikan dalam bentuk novel lewat sudut pandang asma binti abu bakar
- Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya; sebuah buku yang ditulis seorang biksu.