Sunday, August 22, 2010

keira-keisha

Keira dan Keisha namanya. Aku bahkan telah menyukai keduanya saat wajah mungilnya menyeruak dari arah pintu. Lalu sontak menjadi primadona ruang kecil itu. Di antara wajah-wajah calon-calon karyawan yang sedang resah-resah senang menjalani rangkaian medical check up, juga di antara satu dua karyawan yang sedang menunggu jadwal medical check up tahunannya. Juga aku. Jika ada wajah yang mengalihkan duniaku saat itu, maka itu adalah wajah Keira dan Keisha.

Itu pertemuan pertama. Tapi tak membuatku untuk tak  menyenyuminya. Sebuah senyum pertemanan kepada keduanya, juga kepada ibunya. Kuncinya memang selalu begitu, baikilah puteri-puteri kecil mereka, maka otomatis kau telah membaiki ibunya.

Bergelombang rambut keduanya. Senada pula bajunya. Sama-sama manis pula senyumnya. Hei, aku sudah memberitahumu, kan, kalau memang kembar identik keduanya?

Lalu mereka duduk tak jauh dari dudukku. Dan, oh, aku tiba-tiba dirundung senang. Jarak yang mendekat dengan keduanya membuat hatiku girang. Si ibu tersenyum, sedang du puteri kecil itu tampak asyik dengan tempat barunya. Seolah itu rumahnya. Seolah itu kamarnya. Naik turun kursi tunggu rumah sakit itu. Acuh dengan mata-mata yang sibuk menatapnya.

Dan, kemudian, tanpa kuminta, si ibu memulai pembicaraan. Maka maafkanlah teman ngobrolku, aku harus mendekat dengan si ibu. Mendekat pula ke kedua puteri mungil itu. menyisakan jarak yang seukuran lengan kecil itu.

Cerita-cerita itu pun mengalir dengan lancar. Sekali lagi bukti, ya, sekali lagi bukti, bahwa seorang ibu akan selalu antusias menceritakan putera-puterinya. Sangat antusias. Bersedia menceritakan detail. Tak keberatan menceritakan kronologis, tak segan pula menjawab panjang pertanyaan pendek.

Maka kemudian aku tahu, baru dua tahun sembilan bulan usia keduanya, Keira lah yang bertindak sebagai kakak, bukan Keisha (atau terbalik? Entahlah..aku lupa), serta yang lain. Termasuk masalah nama yang kusebut-sebut sejak awal tadi. Hingga….., oh Tuhan, si Keisha mendekat, duduk persis di kursi di depanku. Pembicaraan antara aku dan si ibu mungkin sudah cukup sebagai sebuah bukti bagi Keisha bahwa aku bukanlah orang asing. Ia mulai menjulurkan tangan mungilnya, mulai menjangkau sakuku, lalu pelan-pelan mempermainkan kartu identitas karyawan yang kujepitkan di saku. Menggoyang-goyangnya pelan. Sementara aku bebas menatap lekat wajah lucunya, rambut bergelombangnya, juga tingkah aktifnya. Dan si Keira, duh, betapa aku menikmati momen ini. Ia nampak cemburu dengan acara menggoyang-goyang kartu identitas itu. Duduk gelisah di dekat ibu, naik turun kursi, dan tampak malu-malu kala mata kami beradu. Satu dua menit berlalu. Tiga menit dan seterusnya. Hingga kesempatan itu datang. Si Keisha turun dari kursinya, seolah akan memungut sesuatu yang jatuh. Ksempatan yang kemudian tak dilepaskan Keira. Tiba-tiba saja ia beranjak, segera menaiki kursi yang ditinggalkan kembarannya itu. Padahal Keisha belum sempurna turun, masih dalam proses, hingga kemudian tak ayal seolah mereka nampak berebut. Hingga aku yang repot mengatasi kejadian itu. Kerepotan yang untungnya masuk jenis kerepotan yang menyenangkan.

Dan tibalah masanya. Kala Keira sempurna duduk di kursi itu, ia menjulurkan tangannya juga, menjangkau saku kemejaku juga, menggoyangkan kartu identitasku juga. Meski dengan lebih malu-malu. Meski dengan tatap yang lebih ragu-ragu.

Ah, senangnya.

Tuesday, July 27, 2010

kebetulan yang tak pernah kebetulan

Tentu saja tak ada yang kebetulan. Itu sungguh-sungguh terencana.

Semuanya benar-benar terdesain:

Maka, saat kau tiba-tiba saja punya rasa membuncah tentang sosok rosul pasca memperoleh buku "Muhammad Lelaki penggenggam Hujan" -sebuah perasaan yang kau syukuri sekaligus rutuki. Rutuki karena kenapa tak dulu-dulu menyambangi- , membeli buku-buku shiroh lain dengan semangat, itu bukanlah sebuah yang begitu saja kala tiba-tiba di masjid dimana kau menunaikan lima waktumu, ba'da maghrib itu, imam masjid dengan merdu mengumumkan akan adanya kajian baru oleh ustadz lama tapi baru : sejenak bersama rosul. Hei, bukankah beberapa hari sebelum itu kau sempat memperbincangkan ustad yang dulu mengisi kajian tafsir itu. Memperbincangkan tentangnya yang pergi ke Mesir dan belum juga kembali. Dulu kau hanya beberapa kali bertemu. Kau suka caranya membagi ilmu.

Semuanya benar-benar terprogram:

Maka suatu saat itu, di suatu waktu saat kau merasa punya banyak pertanyaan tentang banyak hal, tentang problematika hidup yang membelit pikiranmu, lalu ketika kau melaksanakan tilawah rutinanmu, memulai dari ayat lanjutan dari ayat terakhir bacaanmu, kau kemudian menemukan sebuah pembahasan yang sama persis dengan 'pengganggu' pikiranmu itu, hei, itu memang skenarionya. Kau bahkan harusnya menyempatkan banyak waktu untuk menemukan tiap hal dari potongan hidup ini, di kitab 30 juz itu.

Semuanya benar-benar tergariskan:

Maka saat kau harus membuat sebuah keputusan, dari sebuah pilihan atau pencarian, petang itu, bukanlah sebuah keisenganlah yang menyebabkan kau tetap memilih bertahan pasca sholat maghrib itu -bertolak belakang dengan petang pekan-pekan lalu- dan memilih memojok untuk sejenak mentausiyahi ruhanimu dengan kalam ilahi -bukankah jarang-jarang kau membawa mushaf kecilmu?-. Sebab, saat itulah, ternyata kajian pekanan itu membahas sebuah hal yang sebenarnya menjadi jawaban atas apa yang ada di dirimu : sholat istikhoroh.

Lalu, masihkah kau menyangkal?

.::Maafkan kami yang bodoh, ya Allah! Maafkan kami! Bimbing kami selalu ke petunjuk itu!::.

Monday, July 19, 2010

Repost- Matahari Odi Bersinar Karena Maghfi

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Parenting & Families
Author:Neno Warisman
Prioritas itu benar. Ilmu itu harus selalu lebih dulu daripada amal. Sebab ilmulah yang bakal memberi tahu tentang benar tidaknya sebuah amal. Sebab ilmulah yang kemudian menjadi dasar. Bukan malah sebaliknya, amal baru ilmu. Sebab jika itu yang terjadi, pelajaran yang kita dalami lebih sering kepada upaya untuk membenarkan atas amal yang kita lakukan. Jelas, itu sama sekali tak benar.

Learning by doing itu juga tak benar. Sungguh buruk efeknya. Cukuplah kiranya belajar sambil mengerjakan ujian sebagai contohnya. Sangat tidak efektif. Menghabiskan waktu, grogi, keringetan, tergesa-gesa, dan rawan toleh kanan-kiri. Berbeda halnya jika pemahaman itu telah tertanam dalam di diri kita, telah kita pelajari dengan tekun sebelum-sebelumnya, maka kita akan memasuki ruang ujian dengan ketenangan yang luar biasa, dengan kepercayaan diri yang menyala, dan senyum. Sebab yang bakal tersoalkan selanjutnya, hanyalah pengembangan dari pemahaman yang sudah terinternalisasi. Ah, mudah saja! Begitu kiranya.

Begitu juga saat saya membaca ‘Matahari Odi Bersinar karena Maghfi’ ini. Berharap bakal ada pemahaman yang lebih dulu terbangun jauh hari sebelum medan itu benar-benar tergelar.Berharap bakal ada ilmu yang lebih dulu tertanam sebelum amal itu mau tak mau mesti terlakukan. Dan benar saja! Bertajuk sebagai sebuah buku pengasuhan anak yang menggetarkan, buku ini akan menggiring anda ke sebuah pemahaman, bahwa menjadi ibu, atau orang tua, sungguh adalah sebuah profesi mulia yang sama sekali tak bisa disepelekan. Ada tanggung jawab di sana. Sebuah tanggung jawab untuk mengantarkan buah-buah hati kita menuju jalan cinta. Sebuah seni.
Mbak Neno Warisman, penulis buku ini, sungguh dengan indah menyajikan 23 opera keluarga –begitu beliau menyebut tulisan-tulisannya kali ini- dalam buku ini dengan hati. Dengan bahasa yang lincah dan penuturan yang ekspresif, mbak neno berhasil menyajikan penggal-penggal kehidupan rumah tangganya bersama tiga buah hatinya dengan sukses. Sebuah celoteh anak-anak biasa sebenarnya. Tapi, di tangan seorang ibu yang paham betul tentang kesempatan sekecil apapun mesti direbut, maka celoteh atau tingkah pola ketiga buah hatinya itu bisa menjadi jalan untuk sebuah pemahaman tentang ketauhidan atau kearifan.

Lihatlah di opera pertama! Mbak neno bercerita tentang puteri keduanyanya yang bertanya tentang nabi Musa. “Bu, emangnya nabi Musa ketemu Tuhan?”, begitu tanya puterinya. Akuilah kawan, bukankah itu pertanyaan hebat untuk anak sekecil itu? pertanyaan yang seringkali tinggal perrtanyaan karena teralamatkan kepada orang tua yang tak paham benar bahwa keingintahuan anak harus tertuntaskan dengan sebuah jawaban benar dan memuasakan untuk anak seusianya. Tapi alhamdulillah, pertanyaan tadi mampir ke telinga seorang bunda yang ‘benar’. Maka itu mejadi golden opportunity baginya yang harus segera direbut. Mbak neno kemudian berhasil menggiring pertanyaan tadi ke sebuah pemahaman tentang tauhid dengan dialog-dialognya yang memikat. Duh, saya kemudian berpikir, bukannya masalah tauhid inilah yang bertahun-tahun digarap nabi terhadap sahabat-sahabatnya, maka harusnya ini pulalah yang pertama kali kita tanamkan kepada anak-anak kita.
Di opera lainnya, kita dapat membaca tentang penanaman pemahaman itu bahkan dapat lewat hal yang remeh temeh macam permainan ular tangga. Bermula tentang keengganan Maghfi, si tengah, yang enggan untuk ikut main ular tangga lagi sebab seringkali ia lah yang jadi si kalah itu. Tak pernah sama sekali ia menang. Saya tercenung membaca ini sebab sering juga keponakan saya mengajak saya main ular tangga ini dan tak pernah terpikirkan sama sekali bahwa media itu amat sangat bisa untuk dijadikan media pemahaman. Tapi mbaka Neno, dengan subhanallah sekali berhasil menangkap gelagat itu dan mengonversikannya dengan sebuah pemahaman tentang –lagi-lagi- katauhidan.

“Fi…bunda ngerti apa yang Maghfi rasakan…,tapi Fi, selama main ular tangga kan Maghfi belum pernah berdoa sungguh-sungguh kepada Allah.. Iya kan?”, demikian kata mbak Neno.

“Aku berdoa..”

“iya, tapi belum sungguh-sungguh, kan”

Subhanallah, demikianlah, walaupun beresiko, dialog itu berujung dengan sebuah kemenangan perdana Maghfi di arena ular tangga. Sebuah kemenangan yang anehnya juga dirayakan teman sepermainannya. Rupanya, teman sepermainannya juga bosan melihat maghfi yang selalu menderita kekalahan.

Dan masih banyak lagi.

Di buku ini pula, mbak Neno bercerita tentang sebuah konflik yang terjadi di anak-anak dengan bagaimanakah harus diselesaikan. Tentang bagaimana ia menghadapi anak pertamanya yang seolah cuek bebek melihat ibunya tergolek lemah tiga hari di ranjang, tentang si sulung yang minjam uang dari adiknya dan seolah-olah sok lupa dengan hutangnya itu, juga tentang si bungsu yang merasa terkucilkan karena mbaknya lebih banyak teman dari pada dia, dan tentang yang lain. Sebuah penyelesaian-penyelesaian yang hanya bisa sanggup diselesaikan oleh ibu-ibu yang mau repot demi perkembangan anaknya.

Membaca buku ini, saya harus menyediakan jeda yang lumayan sering tiap kali menyusuri kalimat-kalimatnya. Untuk sebuah senyum kecil, atau untuk sebuah rasa haru yang diam-diam menelisik, atau untuk sebuah keheningan yang sengaja saya ciptakan untuk mengunyahnya. Tak bisa tidak, buku ini mengajarkan kembali tentang keajaiban dunia anak-anak yang sayang sekali seringkali termarjinalkan oleh ulah orang-orang macam kita, orang dewasa. Padahal, jika itu bisa tereksplorasi lebih dalam, dari rumah-rumah mungil kita, bukan tak mungkin akan tumbuh pemimpin-pemimpin masa depan yang tak hanya berbadan kuat, berakhlak mulia, tapi juga betauhid jempolan. Bukankah itu bisa jadi anak-anak kita? Belajarlah!!

Sunday, July 4, 2010

t-u-j-u-a-n

Tiba-tiba ingin berbicara tentang harapan. Tentang sebuah atau sesuatu yang bakal tertemui, atau terlaksanakan, atau teraktualisasi. Tentang sebuah titik nun jauh di depan : tujuan.

Malam itu kelam. Larut pula. Rintik hujan mulai menitik-nitik, mendingin, meski tak juga segera melebat. Dan sepi. Tak menyenangkan sekali rasanya sendirian menembus jalanan berbatu itu. Ditambah isu-isu yang kian merebak tentang kawanan perampok jalanan yang sering berkeliaran di tengah malam, maka lengkaplah sudah kolaborasinya untuk menciutkan nyali siapa saja yang hendak atau sedang sendiri melintasi jalan itu. Lebih mudah untuk mengurungkannya daripada memaksakannya. Lebih aman. Tapi, hei!  Ternyata itu tak berlaku buat bapak itu. Lihatlah, ia sendiri saja. Tak ada sama sekali yang membersamainya. Dengan berjalan kaki pula. Tapi dengan sekali melihatnya, sungguh kau akan segera tahu kalau itu bukan langkah tergesa sebab takut. Langkah yang mencepat itu, yang seolah beradu dengan rintik hujan yang kian menghunjami tanah, sama sekali bukanlah sebuah reaksi atas kekhawatiran atas dinginnya malam, atau atas desas-desus kekejamana perampok, atau atas sunyi yang membangkitkan bulu roma. Lihatlah matanya! Lihatlah binar di wajahnya! Maka yang akan kau temukan bukanlah wajah pucat pasi khas seorang penakut, tapi lebih kepada sebuah optimisme, wajah merindu, serta selaksa harap yang ingin segera tertuntaskan. Hingga, beberapa saat setelah itu, saat kaki beralas sandal jepit karet itu memasuki sebuah halaman rumah mungil di pojok desa, akan segera terkuaklah jawaban dari semuanya. Dua orang di mulut pintu itulah jawabnya. Seorang perempuan berwajah rembulan, dan seorang gadis mungil bermata menawan.

Di sudut lain, seorang pemuda menekuri layar komputer di depannya. Usianya baru berbilang awal 20an. Sedang muda-mudanya. Sedang suka hura-huranya. Kau mungkin akan mengira ia sedang main game hingga selarut ini –kau tahu, kan, kalau jarum jam di ruangan pemuda itu telah menunjukkan pukul dua malam?-. Tidak!  Ia telah benar-benar meninggalkan kebiasaan buruk itu. Mata yang kini berkantung tebal itu sempurna menuju ke satu topik. Ke satu bahasan yang sebulan ini menyita seluruh energinya. Ke sebuah rangkaian penelitian yang bakal menentukan lulus tidaknya ia dalam studi ini ; skripsi. Ia tak tertekan, tentu saja. Ini berat, juga tentu saja. Kau pasti sudah mengerti kalau beda jauh antara tertekan dan berat. Seorang yang tertekan akan terlihat seperti pesakitan yang murung di ruang pengadilan, tapi sebuah tahapan-tahapan seberat apapun tak jarang masih menyisakan senyum simpul di wajah pelakunya. Maka pemuda kita ini, lihatlah, tetap saja ada binar bahagia di mata ngantuknya. Ya, ia memang lelah, tapi lelah yang memperkaya jiwa –kau tahu maksudku, kan?-. Tentu saja, apa yang terbayang di imaji lah jawabnya. Di situ, di sebuang ruang tak kasat mata yang ia ciptakan sendiri, di sebuah tempat dimana ia kerap kali sejenak menyerap energi, ada senyum orangtua nya yang nampak sumringah mengiringi prosesi wisudanya, ada juga kelebatan figur-figur masa depan yang akan direngkuh setelah tahapan-tahapan terencana, ada juga potret-potret kemanfaatan lebih yang bakal segera diraih pasca wisuda . Maka, itu sudah lebih dari cukup. Cukup untuk menggerakkan segalanya, cukup untuk menerabas semua kendala. Cukupuntuk menahan kantuknya!

Lalu, seorang lagi… Belum berpredikat bapak, tak juga  berstatus mahasiswa. Di sebuah hari yang awalnya nampak biasa-biasa saja, tiba-tiba saja menjadi berbeda. Tokoh kita, ya, tokoh kita. Bahkan dengan melihat penampakannya saja kau akan mampu menerka kalau ia sedang bahagia. Benar, tak ada tawa, tak ada gerakan berlebihan khas seseorang yang sedang dilanda suka. Tapi aura yang tersembul keluar itulah indikasinya. Ia akan pulang. Pulang untuk sebuah proyek kembali, pulang untuk sebuah kenangan, pulang untuk sebuah pemenuhan rindu. Dalam beberapa hari ke depan.  Ya, beberapa hari lagi. Beberapa hari yang bakal ia hitung mundur untuk ia senyumi ujungnya. Maka, duhai, sungguh hari-hari menjadi lebih berwarna, suara-suara menjadi begitu merdu menyanyikan lagu ‘yogyakarta’nya Katon Bagaskara. Tak ada yang menghitam, tak ada lagi yang menjengkelkan. Semuanya hanyalah remeh temeh ujian. Semuanya hanyalah laksana kerikil-kerikil kecil yang mesti disusuri untuk sebuah pencapaian tujuan : kepulangan. Semuanya jadi indah.

+++++

Kawan, saya tak pernah menganggap cerita di atas sebagai rekaan belaka. Sebab jika memang tak benar persis, orang-orang macam tiga orang di atas sesungguhnya banyak bertebaran dimana-mana. Di sini, di sana, atau bahkan di diri kita. Coba kita tengok sebentar. Lihatlah, kawan! Lihatlah bagaimana sebuah tujuan mampu menjadi pembeda. Lihatlah bagaimana sebuah kendala menjadi tak berarti apa-apa.  Lihatlah!

Tujuan-tujuan itu hanyalah renik-renik dunia. Hanya tentang senyum perempuan-perempuan pendamping kita, tentang kilatan cerlang mata anak-anak kita, tentang capaian-capaian dunia, tentang rindu, tentang keinginan. Tapi lihatlah efeknya! Lihatlah bagaimana itu bisa mengubah. Lihatlah bagaimana itu begitu dasyat bekerja. Lalu, cobalah membayangkan! Cobalah bayangkan bagaimanakah jadinya jika tujuan itu lebih dari itu. Lebih besar dari itu. Sebuah tujuan yang agung, yang memang tak terindra lahiriyah kita, tapi bisa jadi begitu dalam terinternalisasi.  Tentang sebuah pertemuan agung. Tentang kehidupan yang selama. Tentang janji Sang pencipta.

Sudahkah tujuan itu ada dalam hati-hati kita? Sebab boleh jadi keluh kesah ini, gerutuan ini, ketakbersemangatan ini, kemalasan ini, keragu-raguan ini, itu karena tak begitu dalamnya tujuan itu merasuki diri kita. Atau bahkan tak ada.  Naudzubillah.

 

Bontang!

(apa tujuanmu, Bal??)

Thursday, May 20, 2010

Pak Tua Yang Berdiri Tegak

Jika anda mulai merasakan kehidupan yang membosankan, itu-itu saja, dan sudah jauh dari menarik, marilah sejenak kita berkenalan dengan bapak satu ini. Kali-kali saja, seperti saya, anda akan mendapat pompaan semangat yang tiba-tiba.

Usianya tak lagi muda. Atau bahkan boleh dikatakan tua. Tua untuk jenis pekerjaannya. Tua bila dibandingkan rekan-rekan kerjanya.

Penampilan fisiknya pun biasa-biasa saja. Badannya kecil dengan tinggi badan yang biasa saja. Lebih mudah untuk mengatakannya pendek daripada tinggi. Ia kurus, yang saya yakin kalau ia sesekali menyingsingkan lengan bajunya akan nampaklah tonjolan-tonjolan urat di sepanjang tangannya. Gelagatnya pun biasa saja, tidak mencitrakan diri sebagai seorang pendekar  yang ‘kecil-kecil cabe rawit’. Dengan tampilan fisiknya itu, tak adalah tanda-tanda ia seorang yang menjadi seperti pekerjaannya sekarang.

Ia seorang security. Atau satpam. Atau penjaga. Atau apalah namanya. Yang pasti, tugasnya adalah menjaga pos-pos tertentu dengan tugas memastikan keadaan terkendali sambil mengatur kelancaran lalu lintas. Ada beberapa pos yang dijaga dengan sistem shift dan rotasi. Maka, saya pun kerap kali bertemu bapak ini dalam waktu dan tempat yang berbeda. Suatu siang saya bisa bertemu dengannya sedang menjaga pos kantor pusat, suatu sore melihatnya menjaga pos perumahan sisi Sintuk, dan suatu subuh sedang menjaga pos dekat perempatan Mulawarman.

Dan, inilah letak istimewanya.

Dalam terik yang membakar khas khatulistiwa, gambaran umum security yang sedang bertugas adalah mencari-cari tempat yang sekiranya bisa digunakan berteduh sambil sedikit ‘asal-asalan’ menjalankan tugasnya. Kalaupun tidak, cukuplah dengan masuk pos-nya yang terlindung, sambil mengamati kondisi dari dalam, toh lalu lintas lancar-lancar, maka sudahlah, sekujur badan lepas dari sengatan sang surya. Tapi subhanallah, bapak yang satu ini, yang saya bilang lebih tua dari rekan-rekannya yang lain tadi, malah dengan gagahnya mendobrak keumuman tadi dengan berdiri gagah menantang matahari sambil tangannya melambai-lambai mengatur mobil-motor yang lalu lalang. Tak ada kesan menderita, kepanasan, atau wajah bosan darinya meski saya tahu itu pekerjaan harian yang saya tahu bakal membosankan bagi orang kebanyakan. Senyumnyapun selalu tetap terpelihara, menawarkan keramahan pada tiap pengendara.

Suatu kali, pas waktu ashar dalam keadaan hujan rintik-rintik, saya sempat tertegun sejenak melihat bapak ini mengenakan jas hujan kuningnya berdiri tegar menyapa tiap pengendara dengan wajah tuanya. Tidak! Ia tidak memilih duduk-duduk di bangku kayu  yang jelas-jelas beratap. Ia lebih memilih berdiri seperti biasanya untuk menjalankan aktivitasnya seperti yang sudah-sudah. Sama sekali abai dengan rintik hujan yang perlahan membasahi jas hujannya. Sama sekali tak terlihat iri, meski rekan kerjanya yang relatif berusia lebih muda, lebih memilih duduk-duduk meneduhkan diri dan menjaga keamanan hanya dengan pandangan matanya.

Dan, puncaknya, kekaguman itu justru datang di waktu subuh. Bagi saya yang sudah merasakan beratnya shift malam, apa yang saya lihat adalah ketakbiasaan yang luar biasa. Profil security di waktu subuh itu, yang saya lihat tiap harinya pas melintas di depan mereka, kalau tidak duduk sambil terkantuk-kantuk menahan beban kepalanya, ya sedang menyandarkan badan di tiang penyangga atap dengan tatapan mata layu karena ngantuk. Sesekali, saat saya mencoba menyapa mereka dengan sebuah senyuman atau anggukan kepala, balasan yang saya terima adalah senyum kecut khas seorang yang sedang tak berselera. Saya maklum, sebab sudah sunatullah seseorang bekerja di siang hari dan beristirahat di malam hari. Bukan sebaliknya. Tapi sekali lagi, subhanallah, bapak kita yang satu ini mengacak-acak keumuman tadi. Tak hanya melek waspada, ia justru tetap seperti hari-hari biasa tatkala di siang hari saya menemukannya. Ia masih berdiri, tegak, serta melambai-lambaikan tangan untuk mengatur kendaraan --yang walaupun sesubuh itu cuma satu dua—dengan antusias.  Sekali-kali saja saya lihat ia terduduk, mungkin sudah terlalu payah. Tapi tetap saja, matanya jeli menatap pengendara yang berlalu, dan tangannya tetap melambai mengiringi tiap kendaraan yang menderu.

Sekali-kali, mungkin saya perlu berhenti sebentar. Sekedar menyapa bapak kita ini, bertanya kabar, bertukar senyum, sambil mencuri-curi melontarkan pertanyaan sederhana: kekuatan macam apakah kiranya yang menggerakkan hari-harinya.  

Saturday, May 15, 2010

Sedikit tentang bontang dan kota impian

Ketika masa-masa SMP dan SMA dulu, saat saya masih sempat dan suka nonton serial amerika yang bersetting sebuah kota kecil yang tak terlalu hiruk, saya memimpikan bahwa tempat tinggal saya nantinya adalah kota semacam itu. Sebuah kota kecil dengan jalanan bagus tapi tak terlalu ramai, dengan toko-toko serba ada yang Tak terlalu besar tapi sudah cukup lengkap menyediakan kebutuhan sehari-hari. Sedang tempat tinggalnya adalah sebuah rumah dengan halamannya yang luas tanpa pagar jeruji tinggi yang melancip di ujungnya hingga tak terlalu ada sekat yang membatasi dengan lingkungan. Penduduk kota itu tak terlalu banyak, maka kemudian tak begitu mengherankan jika satu sama lain akan mudah untuk saling bertegur sapa. Satu sama lain sudah saling mengenal dengan baik. Saya membayangkan bahwa kota itu bukanlah sebuah kota tradisional dengan orang-orangnya yang masih terbelakang, tapi lebih dari itu adalah sebuah kota madani dengan orang-orangnya yang terdidik dan berbudaya. Rasa-rasanya hebat sekali.

Lalu satu-dua tahun yang lalu, saya sempat mendiskripsikan sebuah lingkungan harapan tempat saya kemudian meneruskan bertumbuh. Tulisan itu ada di sini , dan seperti mimpi menjadi nyatalah kala saya membacanya kembali dengan tempat saya berpijak sudah jauh berbeda. Lingkungan itu saya diskripsikan sebagai sebuah daerah yang dilingkupi hutan menghijau dengan hujan sering kali melanda. Tapi tidak seperti hujan pada pemberitaan di televisi yang seringkali menimbulkan genangan dimana-mana, atau banjir yang datang tiba-tiba, maka hujan di lingkungan hayalan itu adalah sebuah karunia yang disenangi. Orang-orang dengan syahdu menatap bulir-bulir air yang meluncur dari ketinggian di balik jendela kaca yang berkabut. Sementara yang lain, dari teras-teras rumah, dengan riangnya menubrukkan tangan tengadahnya dengan aliran air hujan yang meluncur dari atap. Lalu saling tersenyum satu sama lain saat percikannya menerpa muka. Sebab hujan di sana memang menyenangkan. Air hujan yang turun dengan derasnya akan cepat terserap ke dalam tanah, atau kalaupun tidak maka akan berlarian ke dalam saluran-saluran untuk berakhir di sebuah tempat khusus yang sudah tersediakan. Tak ada genangan, tak ada pula luapan. Selesai hujan, orang-orang bisa bersegera kembali melanjutkan kehidupan.

Kini, selang beberapa tahun dari mimpi-mimpi itu, ketika saya menemukan sebuah tempat baru untuk melanjutkan kehidupan, saya baru menyadari rasa-rasanya sebagian besar dari kriterian kota impian yang saya diskripsikan dahulu itu sudah terwujudkan oleh kota saya sekarang. Kotanya tak terlalu besar dengan jalanan yang lebih mudah dikatakan lengang. Hanya ada satu mall –dan saya harap tak akan bertambah lagi- yang sudah cukup untuk menyediakan kebutuhan, bukan keinginan. Penduduknya? Saya rasa tak terlalu banyak dan itupun dengan tingkat pendidikan yang lumayan.

Bontang nama kota itu. Baru kisaran 30 tahun usianya. Seiring dengan berdirinya LNG Badak di akhir 70an dan pupuk kaltim satu dua tahun berikutnya. Seb elumnya, hanya ada perkampungan kecil dengan penduduknya yang beberapa. Anda tak terlalu mendengar nama kota ini mungkin, kecuali beberapa dari anda yang menggemari sepak bola indonesia. Sebab saya pun begitu, mulanya mengenali kota ini pas jaman SD dulu, sebagai home bass salah satu peserta ligina.

Sudah tak terlalu banyak hutan di sini, tapi untuk sebuah diskripsi lingkungan impian yang saya sebutkan di awal, sepertinya bolehlah. Khusunya untuk lingkungan tempat saya tinggal. Lingkungan saya –sepertinya saya sudah terlalu sering mendiskripsikannya dalam tulisan-tulisan saya- adalah sebuah kawasan yang dipenuhi pohon-pohon tinggi dengan sebaran yang boleh dikatakan merata. Kita boleh saja menyebutnya dengan hutan. Ada jurang-jurang dengan pohon-pohon yang dirambati tanaman menjalar bahkan sampai puncaknya. Di pusatnya –kalau boleh dikatakan itu sebagai pusat-, ada sebuah danau pembuangan yang cukup cantik dengan geladak-geladak kayu di tepiannya yang sepertinya cocok digunakan untuk bercengkerama berdua sambil menikmati senja. Di danau itulah, saluran-saluran dari seluruh kawasan ini pada akhirnya bermuara.

Tak ada musim hujan di sini! Sebab memang hujan melanda sepanjang tahun. Meski dengan intensitas yang berbeda di tiap bulannya. Tapi tak usahlah merisaukan datangnya banjir, sebab untuk ukuran yang tak terlalu luar biasa, daerah-daerah terbuka sudah lebih dari cukup untuk menyerap air hujan yang turun. Kalaupun tidak, saluran-saluran pengumpul air masih berfungsi dengan baik untuk mengalirkannya ke danau buangan tadi. Baru kalau danau sudah tak mampu menampung lagi, maka akan meluap ke jurang sebelah dengan terlebih dahulu menyeberangi jalan. Tahun lalu, rasa-rasanya itu cuma terjadi sekali saja.

Maka, hendakkah kiranya saya menukarkan kenikmatan ini dengan hingar-bingar metropolitan? Rasa-rasanya tidak kalau hanya untuk mencari sebuah keramaian dan kemacetan. Hingga saya tersenyum saja kala jalan-jalan ke Samarinda beberapa minggu yang lalu, seorang teman nyeletuk berkata, “kayaklnya enak kalau pabriknya di sini” demi melihat keramaiannya. Maaf kawan, bagiku bontang lebih dari cukup, terlepas tak ada Gramedia di sini, terlepas tak ada bandara di sini…


(Dalam hujan lebat yang perlahan mereda)