Keira dan Keisha namanya. Aku bahkan telah menyukai keduanya saat wajah mungilnya menyeruak dari arah pintu. Lalu sontak menjadi primadona ruang kecil itu. Di antara wajah-wajah calon-calon karyawan yang sedang resah-resah senang menjalani rangkaian medical check up, juga di antara satu dua karyawan yang sedang menunggu jadwal medical check up tahunannya. Juga aku. Jika ada wajah yang mengalihkan duniaku saat itu, maka itu adalah wajah Keira dan Keisha.
Itu pertemuan pertama. Tapi tak membuatku untuk tak menyenyuminya. Sebuah senyum pertemanan kepada keduanya, juga kepada ibunya. Kuncinya memang selalu begitu, baikilah puteri-puteri kecil mereka, maka otomatis kau telah membaiki ibunya.
Bergelombang rambut keduanya. Senada pula bajunya. Sama-sama manis pula senyumnya. Hei, aku sudah memberitahumu, kan, kalau memang kembar identik keduanya?
Lalu mereka duduk tak jauh dari dudukku. Dan, oh, aku tiba-tiba dirundung senang. Jarak yang mendekat dengan keduanya membuat hatiku girang. Si ibu tersenyum, sedang du puteri kecil itu tampak asyik dengan tempat barunya. Seolah itu rumahnya. Seolah itu kamarnya. Naik turun kursi tunggu rumah sakit itu. Acuh dengan mata-mata yang sibuk menatapnya.
Dan, kemudian, tanpa kuminta, si ibu memulai pembicaraan. Maka maafkanlah teman ngobrolku, aku harus mendekat dengan si ibu. Mendekat pula ke kedua puteri mungil itu. menyisakan jarak yang seukuran lengan kecil itu.
Cerita-cerita itu pun mengalir dengan lancar. Sekali lagi bukti, ya, sekali lagi bukti, bahwa seorang ibu akan selalu antusias menceritakan putera-puterinya. Sangat antusias. Bersedia menceritakan detail. Tak keberatan menceritakan kronologis, tak segan pula menjawab panjang pertanyaan pendek.
Maka kemudian aku tahu, baru dua tahun sembilan bulan usia keduanya, Keira lah yang bertindak sebagai kakak, bukan Keisha (atau terbalik? Entahlah..aku lupa), serta yang lain. Termasuk masalah nama yang kusebut-sebut sejak awal tadi. Hingga….., oh Tuhan, si Keisha mendekat, duduk persis di kursi di depanku. Pembicaraan antara aku dan si ibu mungkin sudah cukup sebagai sebuah bukti bagi Keisha bahwa aku bukanlah orang asing. Ia mulai menjulurkan tangan mungilnya, mulai menjangkau sakuku, lalu pelan-pelan mempermainkan kartu identitas karyawan yang kujepitkan di saku. Menggoyang-goyangnya pelan. Sementara aku bebas menatap lekat wajah lucunya, rambut bergelombangnya, juga tingkah aktifnya. Dan si Keira, duh, betapa aku menikmati momen ini. Ia nampak cemburu dengan acara menggoyang-goyang kartu identitas itu. Duduk gelisah di dekat ibu, naik turun kursi, dan tampak malu-malu kala mata kami beradu. Satu dua menit berlalu. Tiga menit dan seterusnya. Hingga kesempatan itu datang. Si Keisha turun dari kursinya, seolah akan memungut sesuatu yang jatuh. Ksempatan yang kemudian tak dilepaskan Keira. Tiba-tiba saja ia beranjak, segera menaiki kursi yang ditinggalkan kembarannya itu. Padahal Keisha belum sempurna turun, masih dalam proses, hingga kemudian tak ayal seolah mereka nampak berebut. Hingga aku yang repot mengatasi kejadian itu. Kerepotan yang untungnya masuk jenis kerepotan yang menyenangkan.
Dan tibalah masanya. Kala Keira sempurna duduk di kursi itu, ia menjulurkan tangannya juga, menjangkau saku kemejaku juga, menggoyangkan kartu identitasku juga. Meski dengan lebih malu-malu. Meski dengan tatap yang lebih ragu-ragu.
Ah, senangnya.