Thursday, September 30, 2010

pilihan-suka-tidaksuka

Sepertinya memang begitu; awalnya kita akan sulit mengaku, atau menyebutkan; sesuatu yang seperti apakah yang kita sukai? Sulit saja rasanya. Rasa-rasanya apa yang kita pilih untuk kita sukai tersebut, tak mengerucut terhadap satu spesifikasi tertentu hingga kita memutuskan untuk menyukainya. Misal untuk tinggi atau tipe wajah untuk seseorang, misal biru untuk sebuah warna, misal polos untuk sebuah corak baju, misal ini untuk sebuah itu. Kita merasa biasa-biasa saja dan tak (mampu) mengakui kalau sebenarnya ada ciri khusus dari yang kita sukai itu.

Saya sepertinya dulu begitu. Tentang warna, saya dulu akan sulit kalau ditanyai warna apakah yang lebih saya sukai dari yang lain. Saya menganggap tak ada yang spesial dari warna tertentu maka  tak perlu perlakuan spesial lah terhadap salah satu warna tersebut. Sama saja. Hingga saya menyadari, dalam perjalanan waktu, kok sepertinya ada sebuah pola khusus yang bisa disarikan atas sebuah pilihan-pilihan yang saya jatuhkan. Ini tentang warna. Bila memilih baju, saya lebih sering memilih warna ini dari pada warna itu. Bila memilih peralatan lain (yang memberi peluang untuk memilih dengan berbagai macam warna), saya ternyata lebih memilih warna ini juga daripada yang lain. Dalam memandangpun, saya lebih nyaman memandang suatu objek dengan warna ini daripada warna itu. Hingga secara diam-diam pun, saya mulai berkesimpulan kalau saya menyukai warna ini, lebih dari warna itu.

Pada awalnya memang ketaksadaran. Dan suatu yang tak disadari tak mungkin untuk diceritakan. Lebih sering menganggap segalanya serba normal dan tak ada yang spesial. Tak terkhususkan. Sebab segalanya serba otomatis, ujug-ujug, dan diluar kendali kita. Seperti gerakan pompa jantung dibandingkan helaan napas. Pompaan jantung di luar kendali kita, sedangkan helaan napas di dalam. Kita bisa mengatur berapa helaan napas kita per menit, tapi tidak untuk berapa kecepatan jantung kita memompa darah.

Apakah memang begitu? Rasa-rasanya juga tidak. Sebab memilih adalah sebuah keputusan. Maka segala yang kita putuskan (bukan terputuskan), akan perlu diri kita untuk campur tangan. Bukankah kita memilih baju warna ini karena kita yang mengambilnya dari gantungan yang terpajang, mematut-matutnya, mecobanya di bilik sempit, lalu membawanya ke kassa. Dan sebuah keputusan, apalagi ada sebuah jedah waktu untuk mempertimbangkan, akan selalu berlandasan. Sekecil apapun itu. Landasan itulah yang harusnya tersadari untuk kita kumpulkan dengan landasan-landasan lain dalam kasus memilih hal yang sejenis guna membentuk sebuah pola. Pola  yang kemudian kita generalisir untuk menjawab pertanyaan tentang yang bagaimanakah yang kita sukai.

Lalu mengapa kita bisa tak menyadarinya? Mungkin jawabannya ini; sebab landasan yang menjadikan kita memutuskan untuk memilih ini dibandingkan itu tadi, terbangun tidak melalui sesuatu yang seketika. Ada proses. Evolusi, bukan revolusi.  Perlahan-lahan. Sedikit-demi sedikit. Hingga tak terasa, hingga tak tersadari tadi. Jadilah itu kemudian sebagai keputusan tak sadar. Kita menyadari telah memutuskan itu, tapi tak sadar mengapa memutuskan itu.

Seperti kasus warna itu tadi. Bila kita mampu mengingat lebih jauh, rasanya pilihan warna kita dulu tak seperti yang sekarang ini, bahkan berkebalikan. Waktu kecil dulu suka yang ngejreng-ngejreng, sekarang tak lagi. Dulu suka merah, sekarang biru. Dulu suka yang cerah, sekarang yang kelam-kelam. Berubah. Berubah yang tak instant. Berubah yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, pemahaman, lingkungan, pengetahuan, serta yang lain. Dan itu berlangsung perlahan-lahan. Bergerak halus mempengaruhi kita. Hingga tak tersadari tadi.

Ujug-ujug kita lebih memilih warna ini saat membeli baju. Ujug-ujug kita suka buku bersampul warna ini saat melihat-lihat di toko buku. Ujug-ujug kita damai melihat warna ini. Ujug-ujug.

Maka kemudian, apa yang terjadi saat kita sudah sadar benar apa yang kita sukai. Jawabannya bisa jadi berbeda. Ketika kau sudah punya definisi tentang apa yang kau sukai, kau akan sedikit mengurangi sebuah fase bernama memilih. Ketiadaannya ini, boleh jadi menyenangkan, boleh jadi membosankan. Dalam kasus memilih baju, kita akan langsung cenderung menuju baju-baju dengan warna yang kita sukai, baru kemudian model. Atau, kalau kita sudah tahu benar model baju yang bagimanakah yang kita sukai, kita akan langsung menuju baju dengan model tersebut baru kemudian memilih warna. Maka kemudian akan muncul satu akibat dengan dua penafsiran yang berbeda; waktu yang dihemat atau ‘keasyikan’ memilih yang terpangkas. Dua tafsiran inilah yang kemudian mebedakan si pelaku.

Contoh lainnya seperti ini. Taruhlah Anda ke sebuah toko buku. Kasus pertama Anda ingin mencari buku x. Anda tahu betul judulnya, tahu betul penulisnya. Maka yang Anda lakukan tinggal ke komputer yang tersedia dan mengetikkan judulnya. Tinggal klik, maka tampil. Lalu Anda tinggal menuju rak yang disebutkan. Selesai! Beda lagi untuk kasus kedua, Anda ke toko buku untuk mencari buku. Tak tahu judulnya, yang penting mencari. Mungkin novel, tapi tak terspesifik judulnya apa. Maka Anda mulai menjengkali setiap sudut toko buku itu, mengamati tiap judul yang menarik Anda, membaca resensinya, menimbang-nimbang harganya, sampai….aha! Sepertinya sudah Anda temukan bukunya. Lama? Mungkin iya. Menyenangkan? Mungkin juga iya.  Mengasyikkan?? Mungkin juga iya. Yang pasti, beda rasanya dengan ketika menemukan buku pertama.

Lalu sekarang, manakah yang Anda pilih? Bagi saya, agaknya kita perlu sekali-kali menjadi orang yang masa bodoh dengan kesukaan kita. Memulai dari awal. Sebab proses menemukan itu ternyata menyenangkan. Ada kepuasan. Semakin lama semakin asyik. Tentu saja, ini berlaku kala tak ada keterburu-buruan, kala banyak waktu yang kita punya. Tak ada pula kejhar tayang…

Mari memilih! Dengan mengenyampingkan sejenak kesukaan kita. Memulai dari nol. Barangkali, cara ini yang justru lebih jernih. J

 

 

NB: Saya menulis ini, kecuali tiga paragraf terakhir, di Bandung. Awalnya ingin menceritakan kalau saya menyukai Bandung ini oleh sebab pohon-pohon tingginya sepanjang jalan. Membuat adem mata yang melihat. Tapi, entahlah! Kok jadinya malah tulisan ini. Ternyata saya tak mampu mengontrol gerak jemari saya yang meliar. Dan, sepertinya, hasilnya liar juga.. Ha ha.. Yuk didiskusikan!

 

 

 

Wednesday, September 29, 2010

Masjid UI, TM Bookstore, dan bakso Lapangan Tembak

kalau anda terjebak di postingan ini, pastikan anda telah membaca postingan saya sebelumnya. Sebab ini kelanjutan dari sebelumnya. Hanya tentang pengalaman saya ke jakarta. Dan, dengan sangat berat hati, saya nyatakan kalau tulisan ini nggak ada pentingnya sebenarnya. Hanya karena permintaan dari beberapa pembacalah yang kemudian saya tergerak untuk menuliskannya. Itung-itung buat latihan nulis


*******

Selesai sholat dhuhur di masjid UI, kami kembali berjalan melalui rute yang sama dengan berangkat tadi. Saya tak bisa berbohong kalau saya suka rutenya. Trotoar yang nyaman dan dahan-dahan yang merindangi cukup membuat saya nyaman untuk menyusurinya meski di siang hari sekalipun. Apalagi, kala itu, dibantu cuaca yang sedang mendung. Klop sudah.

Beberapa menit saja kami jalan, ketika pada akhirnya sudah sampai di ‘pintu gerbang’ untuk kami kelauar dari kawasan kampus. Melewatinya. Kemudian, berganti menyusuri jalanan yang terbilang sempit dengan kanan-kiri (atau kanan ya? Lupa) pemukiman penduduk.  Entah sudah berapa lama saya tak berjalan menyusuri rute seperti ini. Menghindari becekan, melangkahi jeglongan . Ah, berjalan memang selalu memberi banyak pelajaran.

“Toko bukunya ada di mall itu!”, teman saya mengarahkan mukanya ke sebuah bangunan tinggi di depan kami. Saya, hanya mengikuti arah pandangnya tanpa perlu menyahuti ucapannya. Masih terus melangkah.

“Lantai berapa?”. Baru saja, adalah pertanyaan saya ketika kami sudah sampai di lantai pertama. Lantai pertama dari yang kita jejaki. Teman saya hanya tersenyum. Mengedikkan bahu. Saya paham, ia juga belum pernah ke sini. Mengetahui lokasi TM Book Store pun dari internet. Hampir tiga tahun di jakarta, ternyata memang tak membuatnya tahu banyak tentang jakarta. Tapi lumayan, setidaknya sampai saat itu, dia adalah guide yang baik.

“Tanya satpam saja nanti”, lagi-lagi ucap saya ketika kami sudah ada di eskalator.

Tapi ternyata tak perlu tanya. Akhirnya, papan petunjuk yang tiba-tiba terlihat sudah cukup memberitahukan. Sebuah arah.

Toko buku itu tak terlalu besar. Belum memasukinya saya sudah bisa mengetahui besarnya. Hanya kaca-kaca transparan yang membatasinya dari luaran. Besarnya, kalau boleh saya bandingkan, sepertinya seukuran dengan Togamas DTC Surabaya. Jauh lebih kecil apabila dibandingkan dengan Gramedia Matraman, toko buku pertama yang saya jujuki ketika sampai di jakarta, semingguan sebelumnya. Tapi mendingannya, di sini ada diskon. Hal yang tak ditemui di gramedia matraman.

Kami pun masuk. Tentu, setelah menitipkan ransel di penitipan. Menukarnya dengan sebuah kartu. Lalu, segera menuju deretan buku-buku yang masih saja memesona.

“kamu mutar-mutar saja nyari buku. Aku ambil buku terbuka dan nyari posisi duduk yang enak”. Saya tersenyum mendengar penuturan teman saya ini. Tetap saja, dengan ukuran tubuh yang di atas rata-rata itu, ia masih seperti ketika kita jaman kuliah dulu: susah diajak jalan.

Tak ada yang spesial dari toko buku ini selain masalah diskon tadi. Pelayanannya biasa-biasa saja, jauh apabila dibandingkan dengan yang saya terima di Gramedia Matraman. Tak ada yang sibuk menawari tas belanjaan meski saya kerepotan memegang buku belian. Sepertinya, petugasnya pada sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.

Di sini, saya menemukan novel pakistan yang pernah saya cari-cari, nemu juga ‘Janji Lelaki’nya Pro-u, serta nyicil beli tafsir Ibnu Katsir. Serta yang lain. Dan, lagi-lagi, jebol lah pertahanan saya untuk tak beli buku banyak.

Menuju kasir, menggesek atm, melangkah keluar. Sempet ternginang-ngiang akan nominal yang telah saya kelujarkan untuk pembelian buku ini. Dan, hei! Ada penyampulan gratis.

“Yang harga 25.000 ke atas, ya, mb?”, ini hanyalah pertanyaan retoris saya tentang persyaratan sampul gratis tadi. Sebenarnya sudah jelas tertulis, sampul gratis untuk buku seharga 25.000 ke atas setelah diskon.

“iya, mas”

“boleh saya tinggal makan? Saya makan di sebelah ini”, ini sebenarnya permintaan yang retoris juga. Tak mungkin ia menolak. Apalagi hanya sekedar ditinggal untuk makan di sebelah toko buku itu.

“iya! Iya, boleh”, sahut petugas penyampul sambil tersenyum. Tangannya cekatan menyambut buku yang sartu persatu saya keluarkan dari tas kresek. Saya harus memilah mana yang dapat fasilitas sampul gratis mana tidak.

Bakso lapangan tembak, demikian nama tempat makan di sebelah toko buku itu. Sebenarnya saya malas makan di tempat-tempat franchise macam begini. Lebih baik cari yang khas daerah setempat. Tapi oleh sebab, ‘kayaknya di sini saja deh biar hemat tenaga’, saya ngikut juga. Sepertinya teman saya sudah kelelahan jalan bolak-balik ke masjid ditambah ngubek-ubek toko buku.

Di dalam, ada beberapa orang menempati tempat duduk. Tak sepi, juga tak terlalu ramai. Ada pula dua orang akhwat-akhwat yang tengah makan di sudut dekat kaca. Awalnya, heran juga. Tak biasa (bagi saya). Apalagi dari penampakannya yang sepertinya masih mahasiwa. Dulu, langganan makan saya pas masih berstatus mahasiswa sepertinya warung-warung sederhana dekat kost, atau kalau pas lagi pingin ya tahu thek yang kebetulan lewat, atau paling banter nasgor  tenda sepanjang jalan. Tapi, ah, mungkin inilah jakarta.

Mencari tempat duduk. Dan memang, sudut dekat kaca itulah yang sempurna. Ada lalulalang kendaraan yang bisa diindera. Dulu, teman sekamar saya selalu memilih tempat duduk dekat kaca seperti ini tiap kali ujian. Alasannya sederhana: “kalau lagi buntu bisa nyari inspirasi melihat luar”. Saya, kala itu, diam-diam meniru caranya.

Sepertinya ini kali kedua saya makan di Bakso lap tembak ini. Kalau tak salah, yang pertamanya di bandara sepinggan. Pulang dari tarakan kala itu, menunggu penerbangan lanjutan ke Bontang. Saat itu pesan mie ayam bakso. Standar saja. Sebab hanya itu saja yang saya suka, sepertinya. Dan, di jakarta ini, pada kesempatan kedua ini, oalah, lagi-lagi mie ayam bakso itulah pilihannya.

Beberapa menit terlewati sampai makanan itu datang. Selanjutnya, tak terlalu banyak yang bisa diceritakan. Makan, ngobrol pekerjaan, ngobrol politik sedikit (demi melihat poster pak Nurmahmudi), ngobrolin teman. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi.

Saya bangkit dari tempat duduk, mencoba mencari kasir. Dua orang akhwat yang lebih dulu datang nampak belum beranjak. Mungkin betah, mungkin makannya lama, atau mungkin untuk alasan norak ini : ‘mumpung beli di sini, dilama-lamain saja..lumayan kursinya empuk J’. Tapi, hei! Mana kasirnya? Saya melongok-longok ke tempat mbak-mbak petugas tadi mengeluarkan pesanan kita. Beberapa petugas  di situ melihat saya tapi tak satupun berinisiatif untuk melayani. Sepertinya bukan di sini, pikir saya. Untunglah kemudian teman saya menunjukkan sebuah arah lewat isyarat mukanya. Ho ho, ternyata di pintu masuk posisinya.

Membayar makan. Kembali ke kasir toko buku mengambil buku yang disampul. Melangkah kelauar kembali ke masjid UI. Tak ada yang istimewa. Standar-standar saja. Baru sejaman kemudianlah membuat saya mengingatnya ingin tertawa. Ha ha. Dari SMS-SMS.


 

Bontang FC vs Persema! nanti malam -tumben tentaratentara pada ngikut njagain-

Tuesday, September 28, 2010

KRL perdana

“Ransel disandang di depan!”, demikian teman saya memulai menjelaskan SOP-nya. Saya terdiam tapi menuruti penjelasannya. Mengikutinya yang menuju loket penjualan tiket. Saat itu kita baru tiba di stasiun cawang.

“seribu lima ratus?”, tanya saya ketika petugas tiket memberi kembalian 2000 untuk uang lima ribu yang teman saya bayarkan untuk kami berdua. Tujuan kami, kala itu, depok. Saya tak tahu apakah itu jauh atau dekat dari cawang sini, tapi edntahlah, 1500 sepertinya sebuah nominal yang mengejutkan. Kemudian, teman saya itu, demi menjawab pertanyaan saya tadi, hanya mengangguk sambil tersenyum misterius. Mungkin ingin berkata, ‘begitulah!’

“murahnya”, spontan kata itu terucap dari mulut saya.  Tentu saja murah berdasarkan subyektivitas saya. Hidup jauh dari ibu kota dan terlepas dari hingar bingar jawa memang mengharuskan saya untuk sering kali melakukan kalibrasi tiap kali harus ke jawa. Termasuk masalah harga ini.

Temen saya, lagi-lagi, hanya tersenyum, lalu menyebutkan sebuah nominal yang tergolong murah yang harus dibayar bahkan jika harus ke bogor. Saya menatapnya antusias.

Kami beruntung kala itu. KRL pertama yang akan kami tumpangi tak lama lagi akan datang. Sebuah kebetulan yang kebetulan. Atau perjodohan. Pengalaman pertama memang seringkali mengesankan.

“Usahakan nggak pakai HP saat di kereta! Lebih baik kalau ditaruh di tas saja”, kemudian, dari teman saya juga, SOP kedua saya terima. Saya menurut. Lagipula tak ada rencana melewatkan momen pertama di KRL dengan hanya sekedar main HP. Tak perlu up date status pula, kan, hanya masalah naik KRL ini?

“Dompet?”, kali ini saya yang bertanya. Yang langsung teman saya tanggapi dengan, “kalau bisa, ditaruh di tas juga. Ditaruh di tempat rahasianya”.

Lagi-lagi saya menurut. Awalnya, saya kira dengan mengancingkan saku belakang itu saja sudah cukup. Aman. Tapi, ternyata. Baiklah!

Stasiun, saat itu, lumayan ramai. Tempat duduk untuk menunggu penuh. Dan itu, pertanda kalau kami juga akan berdiri di KRL nanti. Tapi, tak masalah!

Tak lama, KRL pun datang. Orang-orang berebut naik. Dan benar, kondisi sudah penuh, meski tak terlalu penuh. Tempat duduk sudah penuh terisi dan orang-orang sudah banyak yang bergelantungan di pinggir-pinggirnya. Ternyata memang tak ada gelang-gelang untuk bergelantungan laiknya busway. Sepertinya saya terlalu menggambarkannya seperti di film-film jepang. Tapi, lagi-lagi, tak masalah!

Mirip dengan kereta kelas ekonomi. Sepertinya, seingat saya, dulu di surabaya juga ada kereta sejenis ini. Tapi tak pernah saya naiki. Hanya kereta ekonomilah yang pernah saya coba. Ya, seperti yang saya kata, mirip KRL ini. Pedagang yang lalu lalang, penumpang dengan ransel di dada, peminta-minta. Mirip! Ah, ini pemandangan yang benar-benar membangunkan rasa kemanusiaan kita.

“ini halte UI”, sepertinya baru beberapa menit saja lepas dari stasiun cawang, saat teman saya mengatakan ini, “tapi kita tak turun di sini”. Tujuan kita kala itu adalah TM Bookstore. Saya juga masih belum tahu ada di mana. “Tapi di stasiun selanjutnya”, lanjut teman saya.

Di stasiun selanjutnya kemudian kami turun. Hari telah siang, meski tak terlalu panas oleh sebab mendung. Saya biasa saja samapai menyadari  ada bonus tambahan selain naik KRL perdana ini yang saya dapatkan; “kita sholat dhuhur di masjid UI dulu saja, ya?”

“dimana? Jalan kaki?”

“yup. Di situ. Dekat saja”

Tak terkata. Bahagia begitu saja rasanya. Ternyata Allah mengganti ketidakjadian menjejakkan kaki di masjid Salman ITB itu dengan kunjungan ke masjid lain yang juga ingin saya kunjungi: masjid UI.

Tak butuh waktu lama , kami pun melangkah. Di antara para mahasiswa.

 

 (-dari dramatisasi pengalaman naik KRL perdana-)

Sunday, September 26, 2010

cepatlah menyapa! (-surat untukmu, nak. dari calon ayahmu-)

Cepatlah menyapa! Cepatlah menyapa, Nak!

Di luar mulai menyepi, meski jalanan masih tetap saja ramai. Kerlap-kerlip lampu kendaraan masih memenuhi jalanan, meski malam mulai melarut. Orang-orang sudah semakin sukar membedakan mana siang mana malam. Tak peduli. Mungkin kelak, di masamu, orang-orang sudah tak lagi mampu membedakan. Sama saja. Jalanan akan semakin ramai, kapan saja.

Nak, tahukah kau? Baru saja ayah,- ah, akan seperti itukah kau kelak memanggilku-, melakukan sebuah perjalanan. Bukanlah perjalanan jauh sebenarnya, sebab sebelumnya itu hanya tertempuh tiga setengah jam saja dengan kereta api. Tapi baru saja, nak, ayah menempuhnya dalam lima setengah jam. Terlihat menjadi jauh, sebab kita memang sering kali mereduksi pengertian jauh. Mengukurnya dengan parameter waktu, bukan lagi jarak. Melelahkan. Ya, melelahkan memang, tapi tetap saja, selalu, perjalanan akan banyak mengajarkan. Mengajarkan kehidupan, memahamkan diri tentang rekan perjalanan. Juga, mengatakan pada kita dengan lantang, bahwa hidup dan kehidupan, tak melulu dunia kita yang mungkin hanya selingkaran. Ada banyak hal, ada banyak orang-orang, ada banyak potret, adsa banyak fragmen kehidupan. Itulah yang kemudian akan memperkaya jiwa. Maka untuk itu, Nak, nanti, cepatlah berjalan! Nikmati perjalanan pertamamu menjelajahi kehidupan. Antara kamar tidur menuju dapur. Hai, mungkin akan kau temukan ibu sedang merajang bawang.

Kau harus tahu ini. Di sepanjang jalan, akan banyak sekali yang bisa dilihat. Tapi tentu saja, dilihat yang bukan asal dilihat. Tadi kutemukan anak SD yang jajan di pinggir jalan, kutemukan juga sekelompok anak laki-laki kecil nampak basah kuyup kehujanan (atau berhujan-hujan? entahalah), juga, dua orang anak kecil berjalan di sebuah pematang sawah terasering di pinggir tol.  Ketiganya, dari yang terlihat, nampak menikmati benar aktivitasnya. Tak ada gundah di wajah polos mereka, tak ada sedih menyelip di senyum rekah mereka. Sebab mungkin seperti itulah dunia mereka. Dunia anak-anak. Dunia ceria.

Aku lalu mengingatmu. Mengingat yang tentu saja tak memiliki arti mencari yang terlupa. Sebab mana mungkin, kau belum juga hadir, belum juga pernah tertemui. Mengingat berarti memikirkan. Lalu pertanyaan ini mengemuka. Ah, akan dimanakah kau berada saat seusia mereka? Akan dimanakah kau bakal bermain? Akan dimanakah kau bakal belajar berjalan? Ayah juga tak sanggup menjawabnya. Sebab itu juga masih sebuah misteri, sebab ayah juga masih sebatas mengusahakannya. Tapi ngomong-ngomong, jika ayah diijinkan bertanya, kau ingin di mana? Ayah sekarang tinggal di pedalaman, Nak. Kalau itu tak berubah, dan kelak ibumu bersedia hidup terpencil dalam rumah mungil kita, dalam kota kecil kita, kau tak akan menemukan gedung pencakar langit, tak juga jalanan yang begitu lebar dan ramai dengan mobil-mobil hebat yang ayah ceritakan di awal tadi. Tapi, sebagai gantinya, kau akan melihat pohon-pohon tinggi, monyet-monyet menggendong anaknya yang lucu, juga tupai yang riang berloncatan di dahan-dahan tertinggi. Tentu saja penggambartan ayah itu adaah penggambaran sekarang. Tak tahu ketika masamu datang akan bagaimana, akan seperti apa. Maka itulah kemudian menjadi kewajiban ayah untuk membekalimu, sebab kau akan hidup di jamanmu, di jaman yang bukan seperti jaman ayah. Tapi baiklah, apapun itu, jika kau diberi pilihan untuk dua keadaan itu, kau suka yang mana? Ah, bolehkah ayah memastikannya? Kau pasti akan menjawab, kalau kau menyukai sebuah tempat, dimana ayah dan ibu di situ juga berada, dalam raga juga jiwa.

Kau mengerti, kan? Apapun itu, apakah kau akan terlahir di sebuah perkampungan padat penduduk , atau di keasrian desa seperti dulu ayah dilahirkan, atau di tengah hutan, atau di kaki gunung, atau di pesisir, yakinlah, akan selalu ada ayah ibu di sampingmu. Yang akan bersenang hati mengajarimu kata, mengenalkan dunia, dan menuntunmu, tentu saja,  ke jalan cinta. Kita, aku dan ibumu, akan berebut memelukmu. Atau bahkan memeluk bersama, lalu bersama juga membisikkan, ‘bertumbuhlah, nak! Bertumbuhlah!’. Dan kau kemudian menceracau, yang kemudian kita artikan sebagai caramu untuk berkata, ‘aku sayang ibu..aku sayang ayah’.

Cepatlah menyapa, Nak! Tak sabar rasanya mengajarimu alif, yang akan kau jelmakan menjadi sebaris doa. Menikmati keterbataanmu yang menggemaskan. Menikmati pertanyaanmu yang mengejutkan. Ayah akan banyak belajar darimu, Nak, tanpa perlu malu-malu.

Cepatlah menyapa! Tak sabar rasanya mengajakmu duduk bersama di atas lonteng itu. Menatap bulan bintang bersama, menyapa angin malan berdua, dan memperbincangkan Tuhan. Maka ayah akan mengutip surat cintaNya ini, seraya mendekapmu, seraya mengajakmu menatap keluasan angkasa, untuk mengajakmu mengartikan siang-malam-Nya:

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari,

Dan bulan apabila mengiringinya,

Dan siang apabila menampakkannya,

Dan malam apabila menutupinya,

Dan langit serta pembinaannya,

Dan bumi serta penghamparannya,

Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,

Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu,

Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

 

Lalu ayah akan lama menatap kedua bola matamu. Mencari pertanyaan yang menjejak di sana. Meski kemudian mungkin tak sanggup lagi berkata, demi melihat mata mungilmu, demi melihat binar-binar kebingungan itu; ‘Kau, Nak, adalah fitnah bagiku, tapi di sisi lain, juga pelapang jalan menuju tempat kembali terbaik itu. Maka mari, Nak, bersama ayah ibu, menjalin ikatan teguh itu, yangbukan ikatan semu’.

Cepatlah! Kau sudah sampai mana? Ada berapa surat yang kau baca? Aha, dua, kan? Satunya, itu berarti surat dari ibu. Pastinya lebih panjang, kan? Mungkin seperti itu nantinya, ibu akan lebih banyak bicara. Tapi kau harus yakin, setiap katanya adalah mutiara. Maka janganlah sekali-kali kau berkata ‘ah’ padanya. Apalagi mengeraskan suaramu. Jangan, Nak, kumohon! Ia mungkin tak marah, tapi itu akan membuat Dia marah.

Baiklah, maukah kau sedikit memobocorkan surat ibumu? He he, kau jangan tertawa! Sebab ayah memang tak tahu isinya. Ibumu, tidak sedang berada di samping ayah saat menuliskannya, atau di ruang tengah hingga ayah bisa mencuri-curi lihat sambil lewat, atau di keheningan malam dalam sebuah kamar saat ayah tertidur. Tidak! Ayah bahkan belum tahu siapa ibumu. Orang mana, tinggal di mana, seperti apa, atau spesifikasi yang lain. Tapi yakinlah, Nak, ia akan mencintaimu, seperti ayah juga telah mencintaimu. Bukankah ia telah mengirimu sepucuk surat? Itu artinya, ia telah memikirkanmu jauh sebelum Allah menghadirkanmu dalam dirinya. Dan kau harus yakin, saat ia telah mulai mengaharapkan kebaikan dalam dirimu, maka sesungguhnya ia telah memperbaiki dirinya. Jauh-jauh hari. Sebab ayah yakin dengan pernyataan seorang alim ini, Nak, ‘wahai, anakku, sesungguhnya aku mendidikmu jauh sebelum kau dilahirkan. Melalui akhlakku, melalui ibadahku’. Ayah tertegun.

Maka, Nak, suatu saat, saat kami telah dipertemukan Allah, akan segera kami tulis surat lebih detail untukmu. Sebuah surat hasil kongres kecil kita. Ayah mengetikkannya, sedang ibu mendiktekannya. Atau dibalik, ibu menuliskannya, ayah mengomongkannya. Atau, kita saling mengoreksi. Berdiskusi panjang. Sambil membuka kitab 30 juz kita, sambil mencermati sabda dan perilaku nabi kita. Itulah kemudian yang kita sebut grand desainmu, nak. Panjang mungkin. Melelahkan juga mungkin. Untuk itulah, kita kemungkinan akan bergantian mengetikkannya, sambil saling menyiapkan secangkir teh yang akan menguapkan penat. Ayah akan sangat bergairah menuliskannya, meski lelah. Kelelahan untuk kebaikanmu akan selalu menyenangkan, Nak. Selalu.

  Akhirnya, cepatlah menyapa, Nak! Cepatlah bertumbuh. Ayah sudah tak sabar lagi, bergantian dengan ibumu, mendongengimu sebelum tidur. Menceritakan tentang kesederhanaan Abu Dzar Al-ghifari, atau kepahlawanan Khalid bin Walid, atau kecerdasan Zaid bin Tsabit. Juga menceritakan bagaimana keimanan itu bisa mengubah seorang budak hitam  menjadi salah seorang penghulu surga; Bilal bin rabah.  Dan, yang pasti, akan sering-sering kami ceritakan lelaki mulia itu ; Muhammad SAW. Kelak, ayah ingin kau telah jelas menemukan teladanmu.

Cepatlah menyapa, Nak! Sebab itu berarti, jalan menuju hadirmu, juga lebih cepat menyapa.

 

Salam

Calon ayahmu

 

Kutuliskan ini, di ketinggian 11 lantai, sambil melirik jalanan yang masih sarat cahaya. Ba’da perjalanan bandung-jakarta.

 

 

 dibuat untuk sekaligus mengikuti lomba di SINI