“Dulu kuliah nggak bisa beli makan enak karena nggak punya uang. Sekarang sudah kerja nggak bisa makan enak karena kolesterol”
Meski dengan sedikit candaan, beberapa kali saya menemukan kalimat ini terlontarkan. Sebagai joke atau bumbu penyegar pertemuan. Kemudian tertawa, kemudian seloroh. Tapi saya tahu, ada keseriusan dalam kata-katanya. Kala suatu hal yang dulu menjadi kesulitan telah teratasi, lalu ternyata muncul kesulitan yang dulu sebenarnya tak berarti, itu sungguh menggemaskan.
Tiap masa ada tantangannya
Lalu saya menemukan kalimat itu. Ini seperti halnya mahasiswa baru yang merasakan beratnya pengaderan, lalu berandai-andai tentang indahnya perkuliahan kala lepas dari kegiatan pepeloncoan. Maka, ketika masa itu telah datang, ia tersadarkan bahwa masa itu tak semudah dugaan awal. Ada praktikum-praktikum yang begitu menguras perhatian. Sama-sama merepotkan. Maka lihatlah perandaiannya yang berubah, “semoga cepat mencapai tingkat akhir, hingga lepas dari kegiatan praktikum yang begitu merepotkan”. Lalu….aih, masa tingkat akhir ternyata dipenuhi oleh tanggung jawab lain yang tak kalah ‘menggairahkan’. “semoga cepat lulus!”, demikian harapnya berubah, “agar bisa lepas dari kewajiban mengerjakan tugas akhir”. Dan kesudahannya pun dapat ditebak dengan mudahnya. Lulus kuliah ada tanggung jawab lain, bekerja pun juga. “menikahnya kapan?”, begitu yang sering terntanyakan. “kapan punya momongan?”, pertanyaan lain di fase lanjutan.
Tapi tiap masa ada pahlawan-pahlawannya
Ya, inilah kalimat optimisnya. Karena tiap masa punya tantangannya sendiri, maka ia pun memiliki penyelesaiannya sendiri. Maka ia pun punya pahlawannya sendiri. Yang boleh jadi tetap kita. Yang boleh jadi tetap kau, aku, atau mereka. Sebab satu penyelesaian kerap kali terspesifik untuk satu tantangan. Tantangan, adalah kata optimis untuk masalah.
Maka tak elok lah untuk saling mempertentangkannya
Aha! Ini lah itu. Karena tabiatnya memang begitu, karena setiap masa punya tantangannya sendiri, beserta penyelesaiannya sendiri, maka tak seharusnya dipertentangkan di antaranya. Masing-masing punya tantangan yang spesifik maka masing-masing memiliki penyelesaian spesifik. Tak melulu sama. Karena, saat kita mendapatkan penyelesaian atas tantangan kita, sesungguhnya kita sudah melangkah memasuki masa baru. Dan itu artinya ada tantangan baru , dan itu artinya harus ada penyelesaian baru. Kepahlawanan kita di masa sebelumnya, tak lagi cukup menyelesaikan tantangan di masa berikut. Perlu ada kepahlawanan baru.
Maka mari kita tengok kembali petikan kalimat di awal tulisan ini. Dan tersenyum lah kita. Jika aturannya harus menyesuaikan logika si pelontar kalimat, maka begitu sederhananya semuanya. Dan hidup, tentu saja menjadi tak adil. Sebab seseorang yang menemukan satu penyelesaian akan dengan mudah mengatasi tantangan lain hanya dengan bersenjata satu penyelesaian itu. Seperti seseorang yang sudah bekerja mapan menganggap semuanya menjadi mudah sebab masa kuliah faktor finansial lah yang kerap menantangnya. Tak bisa! Tak mungkin!
Kenyataan ini, sekaligus meniadakan pernyataan ‘masa SMA lebih menyenangkan dibanding masa kuliah’ atau ‘masa lajang lebih enak dibandingkan masa tak lajang’. Sebab itu tadi, tiap masa punya tantangannya sendiri. Yang tak pas lah untuk satu masa dilebihmudahkan dibanding yang lainnya. Semuanya punya proporsi tersendiri sesuai masanya.
Sebab telinga kita lah yang paling dekat dengan mulut kita, maka saat kita memberi nasehat, kita lah yang sebenarnya yang paling mula ternasehati
Dan pada akhirnya itu. Pada akhirnya semua ini tentang diri sendiri. Tentang membaca. Duhai, masa kuliah dulu, kala waktu membaca lebih banyak dan justru buku-buku yang terpunyai hanya beberapa, kepahlawanannya adalah mengurangi jatah makan untuk disisihkan membeli buku. Dan sekarang, kala ada penghasilan untuk membeli buku, tapi ketersediaan waktu tak seperti semula, maka kepahlawanannya pasti beda. Pasti beda. Dan itu, boleh jadi dengan mengurangi jatah leyeh-leyeh, atau jatah tidur, atau jatah berdiam diri tanpa melakukan apa.
Selalu ada waktu untuk berbenah.