Showing posts with label catcil. Show all posts
Showing posts with label catcil. Show all posts

Wednesday, December 8, 2010

----pahlawan di tiap masanya----

“Dulu kuliah nggak bisa beli makan enak karena nggak punya uang. Sekarang sudah kerja nggak bisa makan enak karena kolesterol”

Meski dengan sedikit candaan, beberapa kali saya menemukan kalimat ini terlontarkan. Sebagai joke atau bumbu penyegar pertemuan. Kemudian tertawa, kemudian seloroh. Tapi saya tahu, ada keseriusan dalam kata-katanya. Kala suatu hal yang dulu menjadi kesulitan telah teratasi, lalu ternyata muncul kesulitan yang dulu sebenarnya tak berarti, itu sungguh menggemaskan.

Tiap masa ada tantangannya

Lalu saya menemukan kalimat itu. Ini seperti halnya mahasiswa baru yang merasakan beratnya pengaderan, lalu berandai-andai tentang indahnya perkuliahan kala lepas dari kegiatan pepeloncoan. Maka, ketika masa itu telah datang, ia tersadarkan bahwa masa itu tak semudah dugaan awal. Ada praktikum-praktikum yang begitu menguras perhatian. Sama-sama merepotkan. Maka lihatlah perandaiannya yang berubah, “semoga cepat mencapai tingkat akhir, hingga lepas dari kegiatan praktikum yang begitu merepotkan”. Lalu….aih, masa tingkat akhir ternyata dipenuhi oleh  tanggung jawab lain   yang tak kalah ‘menggairahkan’. “semoga cepat lulus!”, demikian harapnya berubah, “agar bisa lepas dari kewajiban mengerjakan tugas akhir”. Dan kesudahannya pun dapat ditebak dengan mudahnya. Lulus kuliah ada tanggung jawab lain, bekerja pun juga. “menikahnya kapan?”, begitu yang sering terntanyakan. “kapan punya momongan?”, pertanyaan lain di fase lanjutan.

Tapi tiap masa ada pahlawan-pahlawannya

Ya, inilah kalimat optimisnya. Karena tiap masa punya tantangannya sendiri, maka ia pun memiliki penyelesaiannya sendiri. Maka ia pun punya pahlawannya sendiri. Yang boleh jadi tetap kita. Yang boleh jadi tetap kau, aku, atau mereka. Sebab satu penyelesaian kerap kali terspesifik untuk satu tantangan. Tantangan, adalah kata optimis untuk masalah.

Maka tak elok lah untuk saling mempertentangkannya

Aha! Ini lah itu. Karena tabiatnya memang begitu, karena setiap masa punya tantangannya sendiri, beserta penyelesaiannya sendiri, maka tak seharusnya dipertentangkan di antaranya. Masing-masing punya tantangan yang spesifik maka masing-masing memiliki penyelesaian spesifik. Tak melulu sama. Karena, saat kita mendapatkan penyelesaian atas tantangan kita, sesungguhnya kita sudah melangkah memasuki masa baru. Dan itu artinya ada tantangan baru , dan itu artinya harus ada penyelesaian baru. Kepahlawanan kita di masa sebelumnya, tak lagi cukup menyelesaikan tantangan di masa berikut. Perlu ada kepahlawanan baru.

Maka mari kita tengok kembali petikan kalimat di awal tulisan ini. Dan tersenyum lah kita. Jika aturannya harus menyesuaikan logika si pelontar kalimat, maka begitu sederhananya semuanya. Dan hidup, tentu saja menjadi tak adil. Sebab seseorang yang menemukan satu penyelesaian akan dengan mudah mengatasi tantangan lain hanya dengan bersenjata satu penyelesaian itu. Seperti seseorang yang sudah bekerja mapan menganggap semuanya menjadi mudah sebab masa kuliah faktor finansial lah yang kerap menantangnya. Tak bisa! Tak mungkin!

Kenyataan ini, sekaligus meniadakan pernyataan ‘masa SMA lebih menyenangkan dibanding masa kuliah’ atau ‘masa lajang lebih enak dibandingkan masa tak lajang’. Sebab itu tadi, tiap masa punya tantangannya sendiri. Yang tak pas lah untuk satu masa dilebihmudahkan dibanding yang lainnya. Semuanya punya proporsi tersendiri sesuai masanya.

Sebab telinga kita lah yang paling dekat dengan mulut kita, maka saat kita memberi nasehat, kita lah yang sebenarnya yang paling mula ternasehati

Dan pada akhirnya itu. Pada akhirnya semua ini tentang diri sendiri. Tentang membaca. Duhai, masa kuliah dulu, kala waktu membaca lebih banyak dan justru buku-buku yang terpunyai hanya beberapa, kepahlawanannya adalah mengurangi jatah makan untuk disisihkan membeli buku. Dan sekarang, kala ada penghasilan untuk membeli  buku, tapi ketersediaan waktu tak seperti semula, maka kepahlawanannya pasti beda. Pasti beda. Dan itu, boleh jadi dengan mengurangi jatah leyeh-leyeh, atau jatah tidur, atau jatah berdiam diri tanpa melakukan apa.

Selalu ada waktu untuk berbenah.

 

----pahlawan di tiap masanya----

“Dulu kuliah nggak bisa beli makan enak karena nggak punya uang. Sekarang sudah kerja nggak bisa makan enak karena kolesterol”

Meski dengan sedikit candaan, beberapa kali saya menemukan kalimat ini terlontarkan. Sebagai joke atau bumbu penyegar pertemuan. Kemudian tertawa, kemudian seloroh. Tapi saya tahu, ada keseriusan dalam kata-katanya. Kala suatu hal yang dulu menjadi kesulitan telah teratasi, lalu ternyata muncul kesulitan yang dulu sebenarnya tak berarti, itu sungguh menggemaskan.

Tiap masa ada tantangannya

Lalu saya menemukan kalimat itu. Ini seperti halnya mahasiswa baru yang merasakan beratnya pengaderan, lalu berandai-andai tentang indahnya perkuliahan kala lepas dari kegiatan pepeloncoan. Maka, ketika masa itu telah datang, ia tersadarkan bahwa masa itu tak semudah dugaan awal. Ada praktikum-praktikum yang begitu menguras perhatian. Sama-sama merepotkan. Maka lihatlah perandaiannya yang berubah, “semoga cepat mencapai tingkat akhir, hingga lepas dari kegiatan praktikum yang begitu merepotkan”. Lalu….aih, masa tingkat akhir ternyata dipenuhi oleh  tanggung jawab lain   yang tak kalah ‘menggairahkan’. “semoga cepat lulus!”, demikian harapnya berubah, “agar bisa lepas dari kewajiban mengerjakan tugas akhir”. Dan kesudahannya pun dapat ditebak dengan mudahnya. Lulus kuliah ada tanggung jawab lain, bekerja pun juga. “menikahnya kapan?”, begitu yang sering terntanyakan. “kapan punya momongan?”, pertanyaan lain di fase lanjutan.

Tapi tiap masa ada pahlawan-pahlawannya

Ya, inilah kalimat optimisnya. Karena tiap masa punya tantangannya sendiri, maka ia pun memiliki penyelesaiannya sendiri. Maka ia pun punya pahlawannya sendiri. Yang boleh jadi tetap kita. Yang boleh jadi tetap kau, aku, atau mereka. Sebab satu penyelesaian kerap kali terspesifik untuk satu tantangan. Tantangan, adalah kata optimis untuk masalah.

Maka tak elok lah untuk saling mempertentangkannya

Aha! Ini lah itu. Karena tabiatnya memang begitu, karena setiap masa punya tantangannya sendiri, beserta penyelesaiannya sendiri, maka tak seharusnya dipertentangkan di antaranya. Masing-masing punya tantangan yang spesifik maka masing-masing memiliki penyelesaian spesifik. Tak melulu sama. Karena, saat kita mendapatkan penyelesaian atas tantangan kita, sesungguhnya kita sudah melangkah memasuki masa baru. Dan itu artinya ada tantangan baru , dan itu artinya harus ada penyelesaian baru. Kepahlawanan kita di masa sebelumnya, tak lagi cukup menyelesaikan tantangan di masa berikut. Perlu ada kepahlawanan baru.

Maka mari kita tengok kembali petikan kalimat di awal tulisan ini. Dan tersenyum lah kita. Jika aturannya harus menyesuaikan logika si pelontar kalimat, maka begitu sederhananya semuanya. Dan hidup, tentu saja menjadi tak adil. Sebab seseorang yang menemukan satu penyelesaian akan dengan mudah mengatasi tantangan lain hanya dengan bersenjata satu penyelesaian itu. Seperti seseorang yang sudah bekerja mapan menganggap semuanya menjadi mudah sebab masa kuliah faktor finansial lah yang kerap menantangnya. Tak bisa! Tak mungkin!

Kenyataan ini, sekaligus meniadakan pernyataan ‘masa SMA lebih menyenangkan dibanding masa kuliah’ atau ‘masa lajang lebih enak dibandingkan masa tak lajang’. Sebab itu tadi, tiap masa punya tantangannya sendiri. Yang tak pas lah untuk satu masa dilebihmudahkan dibanding yang lainnya. Semuanya punya proporsi tersendiri sesuai masanya.

Sebab telinga kita lah yang paling dekat dengan mulut kita, maka saat kita memberi nasehat, kita lah yang sebenarnya yang paling mula ternasehati

Dan pada akhirnya itu. Pada akhirnya semua ini tentang diri sendiri. Tentang membaca. Duhai, masa kuliah dulu, kala waktu membaca lebih banyak dan justru buku-buku yang terpunyai hanya beberapa, kepahlawanannya adalah mengurangi jatah makan untuk disisihkan membeli buku. Dan sekarang, kala ada penghasilan untuk membeli  buku, tapi ketersediaan waktu tak seperti semula, maka kepahlawanannya pasti beda. Pasti beda. Dan itu, boleh jadi dengan mengurangi jatah leyeh-leyeh, atau jatah tidur, atau jatah berdiam diri tanpa melakukan apa.

Selalu ada waktu untuk berbenah.

 

Friday, November 26, 2010

MU, saya, dan wawancara kerja ; tentang kesukaan

Dulu, sekitaran dua tahun yang lalu, dalam suatu sesi wawancara kerja, sesaat setelah saya mengatakan sepakboal sebagai salah satu hobi saya, Pak Pewawancara menyusulnya dengan sebuah pertanyaan standar; “klub favoritnya apa?”. “Manchester United”, begitu jawab saya. Dan cepat. Untuk sesuatu yang kita favoriti, harusnya memang cepat. Tak perlu berpikir.

Sebenarnya, pertanyaan itu salah juga. Sebab, tak ada hubungan yang langsung  antara kesukaan bermain bola dengan kecintaan terhadap sebuah klub sepakbola. Hanya saja memang keumumannya begitu. Seorang yang suka main bola, cenderung suka nonton bola, yang pada akhirnya akan mempunyai klub favorit juga.

“Pemain favoritnya siapa di MU?”, demikian lanjut Pak Pewawancara.

“mmm…tidak punya pemain favorit”

“Lo, kan biasanya kalau menyukai suatu klub pasti punya pemain favorit?”

Sampai di sini saya agak ‘malas’. Sebab ini memasuki fase berargumentasi yang takutnya menjurus pada ngecap. Memang, tak ada pemain spesial yang saya sukai di MU. Tak ada. Pemain keluar masuk ke sana dan saya tetap menyukai MU bahkan sejak pertama kali saya mulai menggemari sepak bola macanegara. Tak menyepesialkan pemain tertentu inilah yang membuat kesukaan saya pada MU lebih langgeng. Berbeda dengan yang mengidolakan figur tertentu. Idolanya berpindah klub, maka berganti pula lah klub kesukaannya. Begitu seterusnya.

“lalu apa yang membuat menyukai MU?”, demikianlah pada akhirnya pertanyaan Pak Pewawancara itu.

Nah, ini dia. Mengapa harus selalu ada alasan untuk menyukai sesuatu? Setiap orang akan sulit menjawab dengan pas ketika ditanya tentang alasan mengapa ia menyukai sesuatu. Kalaupun ia berhasil menjawab, itu tak 100 % benar. Bahkan bila dipertanyakan ulang, ia bakalan ragu atas jawabannya itu. Seperti itulah apa yang saya jawabkan kemudian.

“Permainannya pak! (bla bla bla)”

Tak 100 % begitu, juga tak 100 % tak begitu. Permainannya, tentu saja, ini masuk salah satu faktor. Bukankah lebih sering klub-klub besar, yang notabene permainannya lebih bagus, lah yang diidolakan orang-orang. Macam Barcelona, macam Madrid, macam Milan, macam Chelsea. Tapi kemudian saya tahu tak begitu juga, sebab kita sering kali masih setia dengan sebuah klub bahkan ketika permainan klub itu kian memburuk. Ini mungkin tentang cinta mati.

Entah bagaimana saya terhadap MU tadi. Sepertinya sejak saya menyukai MU, tak pernah klub ini memperlihatkan level permainan yang begitu merosot. Tak pernah sepertinya ia lepas dari posisi lima (atau bahkan tiga) besar klasmen akhir kompetisi. Prestasinya tak terlalu fluktuatif, hingga memang harusnya kadar kesukaan penggemarnya , yang menyukainya karena faktor permainan, tak berfluktuatif juga. Prestasi memang tak selalu ekivalen dengan permainan, tapi, dalam kasus ini, untuk mudahnya, bolehlah kita anggap sama.

Tapi baru-baru ini, saya menyadari satu hal; boleh jadi yang saya ungkapkan ke Pak Pewawancara itu banyak benarnya. Level permainanlah yang menyebabkan saya menyukai MU tadi. Setelah rasionalitas mulai lebih kentara, daftar prioritas mulai menderet, saya mulai tak terlalu antusias menonton MU di layar kaca kala melihat permainannya mulai mengecewakan. Perlahan, saya mulai tak mbelan-mbelani begadang hanya untuk menontonnya bertanding sebab sebelumnya sudah sering dikecewakan oleh permainannya yang mulai monoton dan sulit memperoleh peluang untuk mencetak gol. Kini, saya mulai sering mencukupkan diri dengan menonton highlightnya, atau kalau pun tak sempat, melihat beritanya di detiksport sudah mewakili. Tapi tentu, saya masih menyukai klub ini, dengan kadar suka yang boleh jadi amat berbeda dengan ketika klub ini menunjukkan level bermain yang bagus dulu. Di era Ronaldo mungkin, di era Roy keane mungkin. Bahkan, ketika suatu saat jika MU mencapai level permainan terburuk, hingga harus terdegradasi  mungkin, sepertinya saya akan masih memiliki bibit suka meski setitik. Yang suatu saat akan kembali meruah kala menyaksikannya kembali ke level permainan terbaik.

Aih, saya jadi berpikir, agaknya ini juga berlaku terhadap hal-hal yang lain.  

jeda--,

Hanya gol dari sebuah tendangan penalti memang. Bukan juga ia yang berandil atas ditiupnya peluit tanda tendangan pinalti itu. Tapi lihatlah ekspresi lelaki itu, lihatlah bagaimana ia melakukan selebrasi atas keberhasilannya mekakukan eksekusi pinalti itu! ia berlari ke penjuru, ia berteriak kesenangan seakan melepaskan diri untuk mencapai sebuah kemerdekaan. Lalu terlentang. Kegembiraan seakan begitu menggejolak di dalamnya. Juga kelegaan. Selebrasi itu, kemudian diakhiri dengan manis oleh peluk selamat rekan sepermainan.

Lelaki itu, Wayne Rooney. Lelaki yang berlari kencang ke penjuru dengan raut gembira dan kepala dikibas-kibaskan itu Wayne Rooney. Tentu, ekspresi itu,  tercipta bukan hanya karena golnya lah yang kemudian menjadi penentu kemenangan timnya malam itu. Menjadi satu-satunya gol yang tercipta pada pertandingan MU kontra Rangers di match daya kelima liga Champion itu. Tapi, adalah fakta bahwa baru satu gol yang ia ciptakan di musim ini, itu pun dari titik pinalti, agaknya menjadi jawababn atas ‘berlebihannya’ ekspresi Rooney itu. Penantian panjangnya pun, pada akhirnya, tertuntaskan.

Semua bakalan setuju kalau Rooney bukanlah pemain bola kacangan. Ia pemain top jagad ini. Sudah banyak gol yang ia ciptakan di hampir semua level kompetisi. Maka, dengan catatannya yang mentereng itu, tidak menjadi istimewa lagi lah harusnya gol ke gawang Rangers itu. Toh itu hanyalah fase penyisihan grup yang boleh dibilang tak terlalu spesial. Apalagi, disarangkan ke gawang tim yang tak terlalu mentereng macam Rangers. Harusnya memang biasa-biasa saja.

Tapi gol itu spesial. Sesuatu yang kembali bisa kau lakukan setelah begitu lama tak mampu kau lakukan, selalu spesial. Ada energi tersendiri. Siapapun pelakunya. Tak terkecuali Rooney ini. Sebab musim lalu ia begitu gemilang, sebab musim lalu gol-gol begitu mudahnya lahir dari kaki dan kepalanya, maka ketika kran gol itu tiba-tiba mandeg di musim ini, ada kerinduan yang sangat akan spesialisasinya itu. Keadaan yang mungkin sedikit terlupakan saat itu sudah menjadi biasa, saat gol-gol begitu mudahnya ia cipta.

Sesuatu yang mulai menjadi biasa akan kembali spesial saat kau sejenak menjauh dari kebiasaan itu.

Mungkin begitu. Meski tak selalu dapat diterapkan di segalanya. Jika kau mulai bosan dengan suatu keadaan yang sebenarnya kau sukai mulanya, pergi saja! Pergi saja dari keadaan itu sejenak. Tentu saja bukan untuk menyingkir, hanya menghindar saja. Menghindar yang tak lama. Dan rasakanlah saat kerinduan itu kembali hadir mengetuk-ngetuk. Kerinduan untuk segera kembali dan tak berlama-lama. Kerinduan seperti rindunya Rooney untuk menciptakan gol lagi. Kerinduan itu, seperti tabiatnya, tak perlu kau nanti-nantikan datangnya. Ia akan segera hadir dengan sendirinya. Amat lancang.

Jeda. Itu lah mungkin sebutannya. Semacam koma untuk menarik napas dan melihat sekitaran, bukan titik yang mengakhiri kalimat. Koma yang mengharuskan untuk meneruskannya, bukan titik yang memberi alternatif untuk memberhentikannya. Jeda-jeda yang produktif pastinya. Jeda-jeda yang tak mubazir harusnya.

 

Sunday, November 21, 2010

pulang-kembali

Saya mengernyit-ngernyitkan dahi sendiri menyadari bagaiamanakah saya mendefinisikan kata ‘pulang’ dalam keseharian saya. Fenomena ini, baru saya sadari baru-baru saja.

Di kantor, setelah suara sirene menggema dari plant, sebagai pertanda akhir jam kerja, telah berlalu, saya akan menyebutnya dengan kata ‘pulang’ untuk aktivitas menuju rumah bujang yang disediakan perusahaan, tempat dimana saya tinggal. “Pulang dulu, yah!”, begitu kata saya seringnya pada teman yang memilih untuk menunda beberapa saat kepulangannya. Sebagai bentuk pamitan.

Di rumah bujang saya itu, tempat dimana saya tinggal dan menghabiskan waktu disana dengan tidur, mandi, makan, serta aktivitas harian lainnya, ternyata kata ‘pulang’ ini juga saya pakai. “Kapan pulang, Bal?”, demikian tanya teman serumah suatu ketika. “Minggu depan, sekalian cuti”, jawab saya. Tentu saja saya mengerti dengan maksud kata ‘pulang’ yang teman saya sebutkan itu. Sebelumnya, saya memang sudah menyatakan rencana kepulangan saya itu jauh-jauh hari. Pulang, dalam kasus ini adalah sebuah kata yang berdefinisi untuk sebuah aktivitas menuju rumah (orang tua) saya di kampung. Jadi boleh dikatakan, ketika sudah pulang, saya masih bisa pulang lagi.

Lalu bagaimanakah ketika saya sudah berada di rumah orang tua saya di kampung? Ternyata berbeda. “Kapan balek?”, demikian pertanyaan yang sering diajukan. ‘Kapan balek’, bukan ‘kapan muleh’. ‘Balek’, dalam bahasa jawa yang dipakai di lingkungan asal saya, diartikan sebagai ‘kembali’ dalam bahasa Indonesia. Sedangkan ‘muleh’ untuk ‘pulang’. Praktis, ketika saya berada di kampung halaman, kata ‘pulang’ tak lagi dipakai untuk menyebut aktivitas saya menuju ke rumah bujang saya di Bontang. Padahal, untuk aktivitas yang sama, ketika saya berada di kantor, saya menyebutnya dengan kata ‘pulang’.

Agaknya, kata ‘pulang’ versi saya ini mempunyai sebuah tingkatan. Yang penyebutannya tak hanya merujuk ke tempat manakah saya bakal menuju, tapi juga dari manakah saya bertolak. Bila saya sedang berada di tempat kerja akan menuju rumah dinas, saya menyebutnya dengan ‘pulang’. Tapi bila saya sedang di kampung halaman akan menuju rumah dinas saya di Bontang, maka saya menyebutynya bukan dengan ‘pulang’, tapi ‘kembali’. Hingga, kemudian saya menyimpulkannya begini: ada setidaknya tiga tempat yang terkait pendefinisian kata ‘pulang’ ini. Yang pertama adalah kampung halaman, yang kedua adalah rumah dinas Bontang, yang ketiga adalah tempat selain keduanya. Jika saya berada di tempat ketiga, maka baik saya mau ke tempat pertama maupun tempat kedua, saya mengatakannya sebagai ‘pulang’. Jika saya berada di tempat kedua, maka kata ‘pulang’ hanya saya pakai ketika saya akan menuju ke tempat pertama.

Begitulah. Hingga ketika saya berada di tempat pertama, saya tak pernah memakai kata ‘pulang’ ini untuk menyebut aktivitas saya. Kata ‘kembali’ lah yang terpakai. “Nyuwun pamit, arep balek nang Bontang”, demikianlah kira-kira kalimat pamitan saya pada seorang tetangga. ‘Balek’, bukan ‘muleh’.

Tapi, bila mau berdalam-dalam merenunginya, agaknya kesimpulan di atas belum benar-benar sahih. Ada satu tempat lagi, yang bahkan ketika saya berada di tempat pertama, sah-sah saja untuk menyebutnya dengan ‘pulang’. Sebuah tempat yang ketika saya ternyatakan ‘pulang’, maka tak akan lagi merasakan ‘kembali’. Saya pun tak akan mampu memutuskan kapankah ‘pulang’ saya menuju tempat itu bakal terjadi. Hanya orang-orang sajalah yang kemudian menyebutnya dengan ‘berpulang’. Bisa esok, bisa tahun depan, bisa minggu depan, atau bisa sepersekian detik sejak saya tuliskan catatan kecil ini. Maka, karena kegaibannya itu, kita kemudian sering-sering mendoa: ‘seperti indahnya rasa kepulangan yang lain, ya Allah, pulangkanlah kami dalam keadaan indah!’ Aih, bukankah itu berarti khusnul khotimah.

 

 

Wednesday, August 25, 2010

gadis-kecil- penjual-kolak

Mungkin memang benar kalau kita punya sepotong wajah yang benar-benar kita sukai. Sepotong yang tak merujuk ke satu orang, tapi sepotong yang merujuk ke satu bentuk ekspresi. Atau mungkin guratannya, atau mungkin lekuk-lekuknya. Atau mungkin warnanya. Atau mungkin entah.

Aku menemukan sepotong wajah itu di suatu sore yang masih terik. Matahari masih garang membakar kulit, tapi gerombolan orang-orang yang hendak pulang telah mulai berkurang. Semilir angin tak juga membelai. Dan saat itulah, tiba-tiba di sebuah sudut itu, aku mendapatinya. Jilbabnya biru teduh dengan cara memakai yang tak bisa dibilang rapi. Tatapnya menerawang jauh, sendu, dan terkesan romantis. Harusnya memang latar kejadian ini di sebuah taman dengan guguran sakura, tapi tak apalah, justru jauh lebih bermakna kala aku menemukannya terduduk di pinggir sebuah terusan penghubung antara halte dan sebuah tanah lapang tempat kendaraan terparkir berada.

Pertama kali melewatinya, aku tak melihatnya. Atau mungkin lebih tepatnya tak terlalu memperhatikannya. Aku melihatnya, tapi aku alpa mengidentifikasi dia sebagai dia. Hanya berlalu di depannya yang terduduk. Melihatnya hanya karena semua objek di depanku sudah sewajarnyalah terlihat olehku. Tak lebih dari itu.

Kemudian, aku bisa bilang detail tentangnya justru ketika aku telah mengendarai motorku. Dari tempat motorku terparkir, untuk pulang, sekali lagi aku memang harus melewatinya. Meski dengan sisi yang berbeda. Saat itulah, oh Ibu, aku menemukan wajah itu menerawang sendu. Membuatku tertegun barang sebentar. Ia terduduk di depan dagangannya yang bahkan sesaat sebelumnya tak terlirik mataku. Tak terlalu banyak bicara untuk menawarkan dagangannya yang juga tak terlalu pasti kutahu jenisnya. Esok harinyalah kemudian aku baru tahu kalau ada kolak pisang dan gorengan di sebuah wadah kecil di depannya.

Aku tak berhenti dari motorku kala itu, tapi itu lebih dari cukup untuk membuat lajuku seketika memelan dengan perlambatan yang drastis. Uow, dia masih kecil, ya aku jelas-jelas mengetahui kalau ia hanyalah gadis kecil. Tapi aku yakin, dari tatapan itu, oh Tuhan, itu bukanlah tatapan orang-orang tertekan yang terpaksa. Aku bisa membedakannya, tentu. Aku bahkan yakin (dengan setengah berharap), kesendiriannya menghadapi dagangannya itu, atas sebuah alasan baik. Atas sebuah kesadaran oleh sebab pemahaman. Atas sebuah mimpi.

Sebab di esok-esoknya, aku melihatnya tak sendiri lagi. Ada ibunya di situ. Dan ia tetap di situ, masih setia, membersamai sang ibu. Dengan tatapan yang itu-itu. Dengan langkahku yang melewatinya dalam ragu.  Mungkin ia menjadikan hal itu ltak ubahnya permainan yang menyenangkan. Tentang berapa kolak pisang yang laku, tentang berapa gorengan yang masih tetap terpaku.

Maka akupun akan menikmati setiap potongan sore itu. Setiap melewatinya. Setiap memastikan berpakah dagangannya yang masih tersisa. Setiap melewati tatapan menerawang sendunya.

Setiap….