Monday, August 8, 2011

yang tak tersambung

“berdosakah saya”, demikian ustad Didik mulai bercerita tentang pengalamannya ditanyai seorang ibu dalam sebuah kajian, “jika respek saya terhadap seorang ustad menjadi turun jauh, kala saya berkesempatan mengunjungi rumahnya, yang saya temukan bukanlah sebuah keidealan yang mulanya saya bayangkan tiap kali mendengar ceramahnya. Tapi, apa yang saya temui kemudian justru kebalikannya; rumah yang berantakan, istri yang, maaf, bahkan berpakaian saja tak beres, serta anak-anak yang tak terurus.”

Baru sore harinya saya mendengar itu, menjelang berbuka, tapi bada isyanya, sepertinya saya lah yang mengajukan pertanyaan itu, dengan redaksional yang berbeda; “berdosakah saya, jika respek saya terhadap seorang kyai menjadi jatuh-sejatuhnya, kala saya berkesampatan duduk membersamainya, di antara asap rokok itu, alasan yang menyakitkan itu yang akhirnya terutara; ‘la, sudah kebiasaan’.”

Ini mungkin masalah sulit. Pertarungan antara ‘kesusaian perkataan dan tindakan’, dengan ‘sampaikanlah walau satu ayat’........

o0o

“sekarang coba antum jawab, kira-kira pernah tidak antum mendapat tantangan yang cukup berat? Dari keluarga mungkin, atau dari istri, atau dari yang lain”

Tak ada yang mencoba menjawab. Lelaki itu memandangi lelaki-lelaki lain di depannya.

“jika tidak pernah, antum perlu curiga, jangan-jangan antum belum benar-benar terjun dalam dakwah ini”
###

Ini tentang perasaan kita dengan apa yang sebenarnya. Ini tentang ...

o0o

Maaf, jika anda merasa ada yang tak beres, semacam ketaklengkapan dalam dua petikan di atas, jangan buru-buru menafsirkan bahwa anda lah yang tak memahaminya. Keduanya, murni, adalah kesengajaan saya. Atau, lebih tepatnya, ketakberdayaan saya.

Teko hanya bisa mengeluarkan apa yang ada di dalamnya, begitulah ungkapan yang sering kali terdengar. Yang boleh jadi benar. Sebab, ternyata memang, minimal bagi saya, kita hanya mampu menulis apa yang ada dalam pikiran kita. Sulit, atau bahkan menyiksa sekali, menjadi seseorang yang bukan kita. Seperti halnya menulis yang tak benar-benar ada dalam pikiran kita. Seperti halnya menulis yang tak benar-benar kita kuasai.

Dan dua petika di atas adalah contoh. Sebuah awalan yang tak berhasil saya tuntaskan. Sulit rasanya. Ada mata rantai yang belum benar-benar tersambungkan kala menuliskan lanjutannya. Ada ketidaksanggupan. Atau kekurangan diri. Atau bahkan ketidakmengertian.

Bukan masalah kosakata yang tiba-tiba bersembunyi, atau tanda baca yang semburat, tapi ini ternyata tentang kapasitas diri. Bahwa saya, ternyata, dan memang, belum punya cukup amunisi untuk melanjutkannya. Bahwa saya masih harus banyak belajar, bahwa saya masih butuh banyak membaca. Belajar apa yang seharusnya saya pelajari, membaca apa yang harusnya saya baca.

Itu saja.

Selamat belajar. Selamat membaca.




NB: kawan, jangan kaget jika di kemudian hari aku melanjutkan dua petikan di atas. Jika itu telah terjadi, itu mungkin pertanda bahwa aku telah belajar.



22 comments:

Catur Wahono said...

pertamax dl ah :)

rinda erinda said...

semakin tinggi cobaannya semakin berat? tapi meski satu persoalan belum berhasil diatasi, apakah dakwah harus berhenti? atau dakwah itu justru sebagai pengingat diri sendiri?

sefano fafa said...

*menyimak

Catur Wahono said...

aku tertampar,....:(

antung apriana said...

Jd jwbn ustadnya apa?

anas isnaeni said...

makin banyak tanya jadi sumber untuk belajar dan mengkritisi :)

Diah Pitaloka said...

Permaslahan umum da'i da'iyah..

Merealisasikan kata lebih sulit daripada mengucapkannyah..

Ujian pasti ada,sesuai kapasitas diri masing2. Tapi,ada kalanyah kita tidak sadar saat sedang diuji. Lalu terjerumus tanpa sadar.

NoviKhansa Utami said...

Tfs
Fuuuh....

HayaNajma SPS said...

bagus nih :D

agie botianovi said...

tergelitik saat membacanya,,jadi inget juga surat As-Saff ayat 2-3...kita tidak boleh mengatakan apa yang tidak kita lakukan, Allah sangat membencinya...lalu bagaimanakah dengan dakwah kita? menurut saya dengan berdakwahlah kita jadi bisa berhati-hati dalam bertingkah laku,,,masa' mau mendakwahi orang kalo diri sendiri belum bener?walau saya juga masih jauh dari kriteria seorang da'i...wallahu alam bi showab...

HendraWibawa WangsaWidjaja said...

belajar di sini ...

akuAi Semangka said...

"Teko hanya bisa mengeluarkan apa yang ada di dalamnya, begitulah ungkapan yang sering kali terdengar. Yang boleh jadi benar. Sebab, ternyata memang, minimal bagi saya, kita hanya mampu menulis apa yang ada dalam pikiran kita. Sulit, atau bahkan menyiksa sekali, menjadi seseorang yang bukan kita. Seperti halnya menulis yang tak benar-benar ada dalam pikiran kita. Seperti halnya menulis yang tak benar-benar kita kuasai."

sepakat. bisa saja tertuliskan. tapi outputnya pasti beda. terutama akan terasa oleh yang membacanya. menjadi bacaan yang kosong tanpa makna.

eeh, tapi rasanya tidak tepat juga yaa kalau hanya karena tak mengerti lantas tak mau (berusaha untuk) menulis. justru ketika menulis itulah ada proses pembelajaran. membuat kita semakin ingin tahu. dan ini berlaku untuk aktivitas lainnya. kurasa.

(kok kayaknya ga nyambung yaa mesti udah komen sepanjang ini? anggap saja aku sedang belajar (menulis)! ^^v)

iqbal latif said...

ai menjadi satu-satunya yg mengomentari tentang inti tulisan ini... he he

akuAi Semangka said...

eh, nyambung ternyata. haha... *nagihreward* :D

tun hidayah said...

:nunggu lanjutan petikan...

Ar Rifa'ah said...

saya suka bagian yang ini! *melirik-kak-ai

iqbal latif said...

eehh? dan saya suka jawaban2 berbobot yang membuat saya merasa tak punya kapasitas untuk sekedar merepynya.. :D

Diah Pitaloka said...

uhukk*batuk*

Lina Komarudin said...

:)

al fajr "fajar" said...

angel Bal.....

aseli angel..
urusan keluarga iku.

ming iku si... aku kelingan banget kata2ne ustadz sholihun...
keikhlashan niat dalam kita berbuat sesuatu tidak akan terpengaruh pada kondisi orang lain..

nek tentang respek..

nek aku lho ya..
lebih ga respek ketika ada yang benar2 butuh bertanya (butuh diberi jawaban) tapi justru diberi jawaban "sisa2 energi" karena dianggap hanya masalah sepele
padahal bisa jadi hal itu hal besar bagi yang bertanya..

tapi sing iso diambil dari ustadz didik.. blio emang ga lulus kuliah tapi nduwe keluarga yang cinta quran luar biasa.. keluarga yang mengajarkan quran..
putrine pengajar tahsin juga.. pas hamil tetep luar biasa..

keluarga iku emang sangat penting nggo hal iku

al fajr "fajar" said...

beuh.. dowo......

maap

heru pramono said...

kadang ilusi itu hanya hantu atau setan yang menjatuhkan kita setelah mengetahui realitas...
maka seperti pepatah
"cintailah sekedarnya sebab bisa jadi ia kau musuhi kemudian
bencilah sekedarnya sebab bisa jadi ia kau cintai kemudian "