Friday, February 10, 2012

tentang koin dan kerikil

Bayangkanlah sebuah gedung tinggi yang tengah di bangun. Belum sempurna pengerjaannya, maka tak heran nampak pekerja yang masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ada yang memperbiki dasar, ada yang tengah menyempurnakan puncak. Ada yang bergelantungan, ada yang tekun menekuri beton. Dan, di antara semua itu, adalah seorang pekerja di lantai atas terlihat melongok ke bawah, menunduk-nunduk mencoba menarik perhatian rekan kerjanya yang kebetulan berada dua tingkat di bawahnya. Ia ada perlu kala itu, entah apa. Ia bisa saja memanggil namanya, tapi tak ia lekaukan. Tentu saja, sebab suara yang memang sangat berisik kala itu, memaksakan diri untuk meneriaki si teman, tak ada yang bisa didapati selain suara teriakan itu segera berbaur dengan suara-suara lain, tanpa sama sekali menjejak di telinga orang yang dimaksud.

Tapi ia kemudian merogoh sakunya. Kebetulan sekali, ada beberapa koin yang tersisa di sana. Tak berpikir lama, ia genggam koin itu dan kemudian ia lemparkan ke temannya yang sedang ada di bawah. Untungnya, si pelempar koin kita ini mungkin berbakat sekali melempar mangga di pohon sewaktu kecil dulu, hingga dengan jarak dua tingkat itu, koin yang ia lempar tepat mengenai bahu temannya yang dimaksud. Memang tak terlalu keras, tapi cukup memberi kesadaran buat temannya itu bahwa ada sesuatu yang menerpa bahunya.

‘oh, koin ternyata’, demikian lirih temannya itu kala menyadari apa yang menerpa bahunya itu adalah sebuah koin. Memasukkannya ke dalam kantong lalu kembali menruskan pekerjaannya. Tapi sama sekali, sama sekali ia tak berniat untuk sekedar mendongak untuk mengetahui  siapakah gerangan yang telah menjatuhkan koin itu sehingga dapat ia miliki. Apakah ada seseorang yang sengaja melemparkannya, apakah ada seseorang yang tak sengaja menjatuhkannya, atau yang lain. Entahlah, ia tak berpikiran seperti itu.

Beberapa menit berlalu, satu lemparan koin kembali mengenai bahu si pekerja yang di bawah. Tapi sayang,  sama seperti yang sudah-sudah, si pekerja di bawah hanya ber-oh ria, memasukkannya ke kantong, tanpa sama sekali tergerak untuk mendongak. Demikian seterusnya hingga si pekerja yang di atas menyadari tak ada koin lagi di sakunya.

Tapi kawan kita yang satu ini tentu saja tak habis akal. Dipungutnya kemudian sebuah kerikil yang memang banyak berserakan di lantai gedung. Ia genggam, dan ia mulai berancang-ancang untuk melempar. ‘Puk’, demikian akhirnya kerikil itu lagi-lagi menerpa bahu temannya yang di bawah. Dan tidak seperti yang sebelumnya, demi menyadari sebutir kerikil telah menerpa bahunya, untuk pertama kali dalam beberapa menit yang telah berlalu, ia mendongak ke atas. Mencoba mencari dengan matanya siapakah gerangan yang telah melemparkannya.

Saudaraku, jangan terlalu serius memasukakalkan sepotong cerita di atas. Terima saja, lalu jawab pertanyaan ini; Apakah kita si pekerja di bawah itu? Yang koin-koin kecil tak sanggup membuatnya untuk sekejap saja mendongak untuk menginsafi bahwa ada si baik hati yang telah bersedia melemparkan koinnya untuk kita. Apakah si pekerja di bawah itu? Yang butuh kerikil-kerikil untuk bisa menyadarkan bahwa ada seseorang di atas yang telah menegur dengan lemparnnya. Atau, bahkan mungkinkah kita melebihi si pekerja itu, yang butuh potongan besi besar, atau bebatuan pejal, yang baru menyadarkan kita untuk mendongak barang sejenak.

Saudaraku, sesungguhnya Allah tak henti-hentinya melemparkan koin-koin itu kepada kita. Setiap saat, setiap waktu. Ketika kita hendak berangkat kerja, Allah tiba-tiba memberhentikan rinai hujan. Ketika kita sedang lapar dan tak ada makanan siap makan di rumah, Alllah kemudian mengirim tetangga baik hati yang mengirim makanan kepada kita. Ketika dompet kita terjatuh, Allah siapkan si jujur di samping yang kemudian mengingatkan kita tentang itu. Itu mungkin hanyalah koin-koin yang dilempar, hanyalah nikmat-nikmat ‘kecil’ yang Allah hadirkan. Tapi, Saudaraku, pertanyaan yang penting dari ini, adakah itu telah mampu membuat kita untuk mendongak barang sebentar saja, bahwa ada dzat yang telah begitu  berbaik hati mencukupi kehidupan kita?

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya......” (QS. An-Nahl: 18).

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)…” (QS. An-Nahl: 53)

Saudaraku, apakah kita si pekerja di bawah itu, yang membutuhkan kerikil-kerikil untuk menyadarkan diri? Apakah kita membutuhkan ujian-ujian kecil, kesusahan-kesusahan ringan, atau kemalangan-kemalangan untuk menyadarkan kita untuk mendongak dan mengingat, bahwa ada Allah yang Maha Berkehendak. Ataukah bahkan membutuhkan lebih? Apakah kita butuh orang-orang terdekat kita dimatikan, atau rumah-rumah megah kita hangus terbakar, atau kota kita rata disapu tsunami, atau yang lain. Apakah kita membutuhkan itu semua untuk sekedar mendongak dan mengingat Allah?

Saudaraku, kita semestinya tak membutuhkan ada koin-koin yang jatuh, atau kerikil-kerikil yang dilempar untuk bisa setiap saat mengingat Allah. Karena dengan mengingat ini saja, sudah jelas tertegaskan bahwa hati menjadi tenteram. Dan itulah kebahagiaan. Dan itulah apa yang dicari manusia. Dan itulah kebutuhan.

Tapi memang adakalanya kita lalai. Kita terlupa secara akut. Maka untuk itu, Saudaraku, kita mesti sering-sering berdoa, semoga koin-koin kecil saja sanggup membuat kita bersyukur, semoga kerikil-kerikil kecil membuat kita bersabar. Kedua-duanya, insyaAllah, sama-sama bentuk dari ketersadaran.

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).




#terimakasih kepada seorang ustadz yang telah memberikan tausiyah ini sepekan yang lalu. Semoga jika ada kebaikan dari ini semua, amal kebaikan juga mengalir padanya#

25 comments:

ani adami said...

like this :)

iqbal latif said...

semoga bermanfaat. Salam kenal

fauziyyah arimi said...

iya, semisal pekerja di bawah itu..
astaghfirullahal'adziim :(

iqbal latif said...

siapa, ziyy?

fauziyyah arimi said...

saya, mas. diminta jawab to? :(
sebenarnya lebih sering tidak merasai kerikil juga malah :(
tapi terasa sekali ketika telah demikian berjarak dengan atmosfer keimanan yang begitu hidup.
terasa sekali melewatkan untuk mendongak karena koin koin itu..

khaleeda killuminati said...

gak sadar, atau juga karena gak tau. tapi ada juga yang sadar, dan tau, tapi tak acuh. lebih parah lagi kalau sadar, dan tau, tapi mengeluh, bahkan marah2 karena 'dilempar' (?)

iqbal latif said...

hoho...berbelit-belit, Tapi aku tahu maksudnya... semoga kita tdk menjadi pengeluh dan pemarah-marah itu

desti . said...

inget jaman SMA d Jogja, akhir bulan sering kelaperan, sesering itu pula ditraktir jajan, dibawain makanan ke kosan. ya Allah..

ijin copast di note FB pak?

NoviKhansa Utami said...

TFS Iqbal.
Subhanallah
Kalau bikin tulisan kayak gini coba dikirim ke Dakwatuna, Eramuslim, atau sejenisnya, deh. Sepertinya ada kemungkinan dimuat :)
Jadi, tulisan Iqbal bisa menjadi syiar ke mana2.

desti . said...

setuju ^^d

Pemikir Ulung said...

ga sangka maksudnya diarahkan ke sana

JKFS

Rifki Asmat Hasan said...

jangab sampe dilemparin balok besi yg beratnya berkilo2

naudzu billaahi min dzalik...

iqbal latif said...

iya, silakan... Asal dicantumin sumbernya saja


btw, sekarang giliran nraktir, dong! :)

iqbal latif said...

aduh, masak, sih? he he.. Jadi GR. Nggak pernah ngirim

iqbal latif said...

:)

kayake jarang2 saya nulis seperti ini. Se3benare seringkali pengen selalu menyalin ulang tausiyah2 yg didapat... Dengan pendekatan bahasa tulis

iqbal latif said...

waktu denger tausiyahnya juga nggak nyangka arahnya ke sana

iqbal latif said...

apalagi g pake safety helmet

NoviKhansa Utami said...

Nggak ada salahnya dicoba ;)

iqbal latif said...

iya, kalaupun salah nggak dipenjara juga :)


ok, lain kal,i insyaAllah

NoviKhansa Utami said...

Coba yg ini dikirim ke da'watuna, deh
Kebetulan blm lama aku dpt panduan dr temen yg bbrp kali mengirim ke sana.
Ntar deh insya Allah tak forward ya, trus ada juga ustadz di kampus yg ngelola websites situs islam, dia nerima tulisan2 gitu (nama websitesnya spiritislam.net).

iqbal latif said...

oke..ditunggu kirimannya :)

Pemikir Ulung said...

btw bal...aku lihat live traffic-mu, ko aku masih dianggap jakarta ya, haha

NoviKhansa Utami said...

cek email yang yahoo, ya Bal
sudah kukirim

iqbal latif said...

dirimu pakai paket internetnya ndaftar jakarta kali? he he...kira2 nymabung nggak ya

iqbal latif said...

ok..sip