Saturday, November 28, 2009

Saya dan Membaca

Sampai saat ini, saat saya sudah pede mencantumkan kata “membaca” dalam isian untuk hobi di setiap formulir yang saya isi, saya merasa perjalanan membaca saya bisa dikatakan biasa-biasa saja. Tidak se-wah tokoh-tokoh yang seringkali saya baca riwayat kemembacaannya di buku-buku atau di internet. Terlahir di keluarga pedesaan, dimana membaca adalah hal langka, sepertinya saya tak pernah diperkenalkan untuk mencintai aktivitas ini. Tak pernah sepertinya orang tua saya, dan juga orang-orang tua lain di sekitaran saya sepertinya,  membacakan cerita ketika saya akan berangkat tidur, atau membawakan buku cerita anak-anak yang bisa saya baca di kala senggang. Perkenalan saya dengan membaca (diluar membaca buku-buku pelajaran tentunya) adalah justru dari buku-buku paket bahasa indonesia milik kakak-kakak saya. Saat itu sepertinya saya menikmati betul penggalan-penggalan bacaan yang selalu mengisi tiap awal sebuah bab di buku bahasa indonesia itu. Seingat saya juga, ada cerita tentang asal-usul nama banyuwangi, ada yang drama, ada semacam cerpen, ada juga puisi. Saya masih SD kala itu, tapi saya sudah terbiasa membaca buku bahasa indonesia SMA milik kakak tertua saya.  Kemudian, karena memang buku pelajaran, tentunya jumlahnya tak banyak. Maka jadilah saya sering kali mengulang-ulang apa yang sudah saya baca sebelumnya.

Sebenarnya, saya bisa saja membaca di perpustakaan SD saya jika bisa.  ‘Jika bisa’, karena memang perpustakaan SD saya kala itu bukanlah perpustakaan biasa pada umumnya yang dengan mudah dikunjungi. Entah apa yang ada di pikiran guru-guru kala itu, sebab rak-rak berisi buku itu ditaruh di ruang guru yang sayangnya tak pernah saya lihat ada siswa yang terlihat berdiri di depannya mencari buku yang diingini. Buku-buku itu sepertinya eksklusif sekali dan tak sembarang orang yang bisa membacanya.  Sepertinya saya masih kelas dua-an SD kala menyadari itu, dan sayangnya pikiran SD saya tak sampai berpikiran untuk mengetok pintu ruang guru untuk sekedar berkata, “mau pinjam buku bacaan, bu guru”. Mungkin karena takut, atau mungkin juga karena membaca bukanlah sebuah kebutuhan bagi saya kala itu. Masih menganut semboyan ‘jika ada yang bisa dibaca ya dibaca, jika nggak ada ya nggak usah’.

Buku-buku yang ada di rak buku SD saya kala itu kebanyakan terbitan balai pustaka. Dan bisa dipastikan semuanya adalah bantuan pemerintah.  Pemerintah yang mungkin kala membuat programnya berharap anak-anak indonesia menjadi anak yang cinta membaca. Sebuah cita-cita luhur yang sayangnya tak terteruskan di level-level sekolah. Sebab buku-buku yang ada malah menjadi semacam benda purbakala yang pantang untuk dijamah. Cukuplah menjadi pajangan dan aksesoris untuk mempercantik ruangan.

Memang, saya tidak bisa mengatakan kalau saya benar-benar tidak pernah membaca buku-buku itu. Sebab, ternyata ada juga guru yang perhatian. Meski masih setengah-setengah. Saat itu saya kelas empat, ketika guru kelas saya beberapa kali dalam setahun pelajaran  membebaskan jam-jam terakhir kegiatan belajar dengan aktivitas membaca. Dua tiga orang diajak bu guru saya itu untuk ke ruangan guru guna mengambil buku sebanyak siswa. Acak. Terserah judulnya apa. Satu jam-an tersisa kemudian digunakan untuk membaca, entah sampai apa. Sebab setelah itu mesti dikembalikan. Tak boleh dibawa pulang. Hal yang bila sekarang terkenang teramat menyedihkan. Boleh jadi rendahnya minat baca anak-anak itu, itulah penyebabnya.

Ketika menjelang lulus SD, buku-buku yang selama ini mendiami ruangan guru itu pun akhirnya pindah ruangan. Tapi sayangnya bukan ke perpustakaan ideal. Buku-buku itu justru digudangkan. Dimasukkan ke dalam ruangan sempit yang pengap. Juga lembab. Ruangan itupun kemudian dikunci, hanya beberapa kali saja terlihat terbuka saat tukang kebun sekolah ada keperluan di dalamnya. Itupun seringkali sebentar. Maka anda semua pasti sudah menduga apa yang terjadi pada buku itu. Hanya ada dua pilihannya: jamuran atau tikusan. Sedih, sedih sekali kala sekarang mengingatnya.

Justru kemudian, persinggungan saya yang lebih intens dengan dunia membaca ada di sekolah madrasah. Beberapa mungkin mengerutkan dahi mendengar istilah itu, sebab madrasah sendiri artinya adalah sekolah. Tapi begitulah kami di sana menyebut untuk sekolah agama yang masuknya sore. Sekitar jam 1 sampai jam 4. Hampir tiap dusun ada sekolah semacam ini. Meski lebih banyak dikelola tak profesional, ternyata sekolah-sekolah ini juga mendapat bantuan pemerintah. Salah satunya buku. Buku bacaan juga. Memang, seperti halnya buku-buku di SD, buku-buku itu juga ditaruh di lemari yang ada di ruang ustad. Tapi, berhubung amat mudah keluar masuk ruangan itu, karena memang juga dijadikan salah satu kelas, maka sayapun dengan mudah juga mengakses buku-buku tersebut. Saat itulah mungkin saya baru menyadari kalau saya berbeda dengan teman-teman yang lain dalam hal membaca. Sebab seringkali teman-teman  berkomentar tentang ketidakumuman saya tenggelam dalam buku-buku cerita ketika jam istirahat. Sat itulah saya baru sadar, saya suka membaca.

Kemuidian masa SMP. Tak terlalu banyak yang bisa diceritakan tentang kemembacaan di masa SMP ini. Di SMP saya memang ada perpustakaan, lumayan besar malah, tapi tak terlalu banyak sesuatu yang bisa dibaca. Hanya buku-buku pelajaran bantuan pemerintah yang sebagian sudah kurikulum lama.  Tak terlalu banyak hal menarik yang bisa dilakukan di sana. Maka tak heran, perpustakaan bukanlah tempat favorit saya kala SMP.

Dan masa SMA. Masa inilah yang mampu melejitkan minat saya ke membaca. Bersekolah di sebuah SMA paling bergengsi di kota saya, Pasuruan, saya mulai menemukan sebuah perpustakaan yang mulai mendekati perpustakaan bayangan saya. Perpustakaan itu tak cukup besar, sempit malah, buku-bukunya juga tak sebegitu banyak, tapi di situlah saya mulai mengenal banyak hal. Seperti di SD saya dulu, buku-buku di situ juga kebanyakan bantuan pemerintah. Tapi bagi saya kala itu, itu saja sudah cukup. Di perpustakaan itulah kemudian saya mengenal Budi Dharma dengan Olenka-nya, YB Mangunwijaya dengan Burung-Burung Manyar-nya, Umar Kayam dengan Para Priyayi-nya, Taufiq Ismail dengan malu (aku) jadi orang Indonesia-nya, Ernest Heningway dengan Lelaki Tua dan Laut-nya, serta sastra-sastra klasik lainnya yang akan sangat panjang bila saya daftar satu persatu. Di perpustakaan itu pulalah saya mengenal majalah sastra Horison. Saya menikmati betul kala  membaca sastra pelajar pada lembar kaki langit di mjalah Horison itu. Lembar Kaki Langit inilah kemudian yang cukup hebat menstimulus saya menjadi seorang penulis, selain tentunya lembar budaya dan sastra hari minggunya Kompas (*apa yah namanya? Lupa. Disini tak lagi baca Kompas*). Di SMA inilah saya menjelma menjadi manusia perpustakaan. Menjadi kutu buku yang tak berkacamata. Waktu Istirahat adalah waktu membaca. Kebiasaan yang ternyata ada untungnya, sebab uang saku saya kala itu tak cukup banyak untuk dijajankan di kafetaria. (*untuk masa SMA ini, saya tak bisa tidak untuk tidak berterimakasih pada Dewi. Satu-satunya orang sepertinya yang lebih baik dari saya dalam intensitas meminjam novel-novel klasik itu*)

Kuliah! Kuliah! Ada banyak hal sepertinya yang bisa diceritakan pada masa-masa ini untuk segala hal yang berhubungan  dengan membaca. Di sini, saya menemukan perpustakaan kampus yang besar berlantai-lantai yang kala pertama melihatnya membuat saya takjub. Hanya sayangnya, ini adalah kampus teknik. Hanya ada jurusan teknik dan science. Maka yang lebih banyak tertemukan di perpustakaan adalah textbook tebal berbahasa inggris tentang pabrik atau mesin, atau rancang bangun, atau jaringan listrik, atau struktur beton, atau perkomputeran. Jangan harap akan banyak buku sastra tertata di salah satu raknya. Sebuah kekurangan yang ternyata membukakan jalan untuk hal lain. Sebab, walaupun tak terlalu banyak buku-buku sastra, di perpustakaan itu masih cukup banyak buku agama dan motivasi. Jadilah kemudian saya  merambah dunia lain dan mengenal penulis-penulis lain beserta karyanya selain yang sudah saya tuliskan sebelumnya. Di perpustakaan inilah sehabis kuliah (khusunya di semester-semester awal*) saya menghabiskan waktu. Ke lantai bawah membaca berbagai koran hari ini, atau lantai tiga membaca berbagai koleksi majalah dan tabloid, atau lantai lima mencari-cari buku yang sekiranya bisa dipinjam.

Tapi, yang lebih memperkenalkan saya lebih jauh dengan membaca ternyata bukan di perpustakaan. Ternyata justru di luaran. Apa yang saya singgungi sehari-hari. Tinggal di sebuah kontrakan dengan tingkat kekeluargaan yang pekat, maka saya bisa dengan mudah meminjam koleksi buku teman-teman sekontrakan. Di situlah kemudian awal mula saya mengenal Anis Matta, Yusuf Qordawi, Hasan Al Bana, Salim A Fillah, Sayyid Quthb, serta yang lain. Juga mengenal sabili, tarbawi, atau Hidayatullah. Juga mengenal Ayat-ayat Cinta. Seorang teman meminjamkannya (*suwun ya, khoir*) yang membuat saya kian terbuka tentang novel-novel lain selain novel-novel klasik yang saya baca pas SMA.

Di masa kuliah ini pula saya mulai berani membeli buku. Ha ha..berapa mungkin tertawa. Tapi begitulah. Mulanya membeli buku bagi saya adalah sesuatu yang wah. Amat berat rasanya pas pertama kali memutuskan untuk membeli. Butuh banyak pertimbangan. Berhitung masak-masak. Sebuah awal yang terlihat janggal mengingat kemudian aktivitas itu sudah menjadi semacam candu. Bagaimana tidak menjadi candu sebab seringkali mengingkari rasionalitas bahwa bisa saja keputusan membeli buku itu bakal memangkas jatah uang makan untuk berhari-hari ke depan. Tapi di situlah seninya.

Dan sekarang, dunia saya yang sekarang, saya mendapati bahwa laju membaca saya tak lagi berimbang dengan laju pembelian buku saya. Ketika saya tak lagi di masa SD dimana tersedia banyak buku tapi tak tergapai tangan kecil saya, ketika saya tak lagi di SMP kala tak ada buku yang bisa saya baca, tak juga di SMA kala yang bisa saya baca adalah apa yang tersedia di perpustakaan sekolah, tak juga di kuliahan kala membeli buku adalah aktivitas mewah, saya sedih kala kini menyadari aktivitas membaca saya tak lebih baik dari apa-apa yang terjadi dahulu. Tak terlalu banyak waktu lagi yang saya sediakan untuk membaca. Meski saya tetap mencintai aktivitas yang satu ini, tapi tetap saja..

Ah, doakanlah kawan, saya akan kembali membaca. Membaca segala. (*kalimat terakhir ini adalah pemaksaan agar saya bisa menyudahi menulis ini. Bakalan bewrlembar-lembar jika tak dipaksakan disudahi)

 

 

 

27 comments:

Anik Miftah ^__^ said...

Subhanallah...

Cerita pengalaman bacanya seru ya^^

Dan mari tumbuhkan minat baca kita

Semangat

Anik Miftah ^__^ said...

Subhanallah...

Cerita pengalaman bacanya seru ya^^

Dan mari tumbuhkan minat baca kita

Semangat

Ivonie Zahra said...

Hehe pengalamannya sama tp tak serupa dngn saya...ya, kutu buku bnget :)

iqbal latif said...

seru kah?? niasa sj kok...
mbak mif kalo koment dobel trs yah..

iqbal latif said...

ternyata ada juga yg menyamai..he he...
ditulis yah!

HayaNajma SPS said...

jadi kangen perpus SMAAAAAAA, hwhwhw

iqbal latif said...

ceritakan dong tentang perpustakaannya!

Ivonie Zahra said...

Insya Alloh, tapi bikin malu dech kayaknya.
Secara, saya dulu udah kelas 1 SD belum bisa bacaaaaaaaaaa hihiihi :)

iqbal latif said...

ha ha...(G tahan untuk tidak ketawa)...
yg penting sekarang kan sdh bisa mbaca dan nulis...he he

Ivonie Zahra said...

Alhamdulillah, mungkin karena itu kali ya jadi dendam masa kecil. Sekarang jadinya kutu buku setelah udah bisa baca hehehe

Akhi Dirman Al-Amin said...

hmmmmm...
membaca mmg nikmat!

iqbal latif said...

termasuk membaca komen ini...he he

shofie syamwiel said...

kmu g ke lantai 4 ta bal?? d situ banyak buku arsitek yg bisa d scan buat tugas kuliah....:)

fajar embun said...

Membaca..membaca..membaca..membaca...*hihi..nasyid tuh*
ya..semoga dengan banyak membaca..banyak juga barakah ilmu yang di dapat..:)

Pemikir Ulung said...

eh..ada ini :D

Pemikir Ulung said...

saya paham..paham sekali :p

iqbal latif said...

sdh baca?

iqbal latif said...

he he...
sdh lama benget nulis ini

Pemikir Ulung said...

ah dasar laki-laki kau ini..ga nyimak

ini kan yang kubahas direview beberapa waktu lalu, mas iqbal mampir juga ko

Pemikir Ulung said...

udah setahun ya..

biarin, ludi lagi pengen nelusurin site ini..kata tarbawi, inspirasi itu ga pernah basi

(saya aja masih seneng baca-baca tulisan lama saya sendiri)

iqbal latif said...

ha ha...
sy komen juga ya? :D

iqbal latif said...

kalau tulisan sendiri sih memang kayake selalu suka :)

Pemikir Ulung said...

iya duuuul

haduh haduh

Pemikir Ulung said...

iya sih..narsis :D

iqbal latif said...

yg asyik itu membaca tulisan sendiri dr waktu ke waktu...


(sempat berpikir...kalo punya buku harian kayake asyik ya?)

Pemikir Ulung said...

melihat bagaimana perubahannya..semakin lama semakin dekat dengan gaya menulis kita sendiri

enak lah..karena ada hal-hal yang bisa dikenang

iqbal latif said...

iya.....



merasa beruntung sekali pernah menuliskannya.....