Friday, December 31, 2010

-dari latif untuk iqbal di 2021-

Untuk dirikuku, 10 tahun dari aku menuliskan ini.

Ini awal tahun 2011, jadi pastikan, jika sekarang—itu artinya saat kau membacanya—belum bertanggal 1 januari 2021, maka kau telah melanggar aturannya. Kau telah terburu-buru. Meski tentu saja tak ada sanksi untuk itu. Kau bahkan tak dipersalahkan saat telah membacanya setahun dari dituliskannya surat ini. Atau sebulan, atau bahkan seminggu. Tapi aku berharap, harapan saat aku menuliskan ini, kau membacanya sepuluh tahun kemudian. Agar ada rasa kejut, mungkin.

Aku menuliskan ini, untukmu, yang tak lain adalah diriku sendiri sepuluh tahun lagi dari 2011, adalah karena satu sebab; karena sering kali yang paling efektif menasehati kita adalah diri kita sendiri. Sebab tak ada gengsi di sana. Sebab tak ada perasaan tergurui disana. Kau memang sering kali malu pada dirimu sendiri, tapi untuk kasus dinasehati sendiri, rasa-rasanya tak ada alasan untuk kau sampai malu untuk sekedar menuruti tiap penggal nasehatnya. Dan itu kabar baik.
Iqbal,--masihkah kau berkenan dipanggil dengan panggilan itu? Itu adalah panggilan umum orang-orag sekarang. Sedikit yang memanggil Latif, beberapa saja yang memanggil Iq—,apakah kau masih ingat saat ini? Ya, aku akan bercerita. Aku awali surat ini dengan sebuah cerita. Tentang masa belasan tahun yang lalu—itu artinya masa kanak-kanak kita. Aku takut sepuluh tahun lagi, saat kau membaca surat ini, kau telah mengalami kesulitan memanggil kembali kenanganmu tentang masa kanak-kanakmu yang ceria di sudut Pasuruan yang pelosok. Maka untuk itulah, menjadi kewajibanku untuk mengabarkan masa kanak-kanak itu ke masa depan.

Iq, --kupanggil ini saja ya? Meski awalnya kau sedikit tak nyaman dengan panggilan ini oleh sebab kesannya yang terlalu feminim, akhirnya kau cocok juga dengan panggilan ini yang terdengar unik--, ada banyak sebenarnya yang bisa diceritakan dari masa kanak-kanak itu. Tapi aku akan menceritakan tetang satu hal. Sadarkan kau, mungkin itu termasuk sepotong waktu dalam hidupmu yang begitu membahagiakan. Ingatkah kau, bagi kanak-kanak kita dulu, kebahagiaan itu bisa berarti menacari ikan di sungai, atau mencari capung di sawah, atau bermain bentengan di halaman tetangga yang luas. Tentu saja televisi, video game, atau perkara orang dewasa belum mengusik masa kanak-kanak kita kala itu. Itu kabar baiknya.

Mengherankan ya? Sungguh mengherankan kala sekarang aku melihat kebahagian itu berarti plesir ke luar negeri, menginap di hotel mewah, atau memiliki rumah mobil mewah. Tak semua memang begitu, tapi sebagiannya iya. Standar kebahagiaan begitu tingginya hingga seolah kebahagiaan begitu rumitnya. Aku heran, tapi mungkin itulah letak keadilannya. Adil? Apakah kau bingung? Oh..oh...kumohn jangan bingung. Sebab jika kau bingung, artinya kau sudah tak memiliki jejak pemikiran dirimu sendiri 10 tahun sebelumnya.

Ok..ok..mari kita bicarakan letak keadilnnya itu. Pernahkah kau lihat sepasang petani nampak bahagia saat menyantap makan siang berbungkus daun pisang di gubuknya, di tengah sawah? Juga pernahkah kau melihat sepasang orang kaya yang nampak menikmati hidupnya saat pelesiran di kapal pesiar wah? Aku memakai kata ‘nampak’ untuk keduanya sebab tentu saja kita tak pernah tahu apakah sejatinya mereka bahagia atau tidak. Kita hanya melihat yang nampak. Tapi untuk contoh ini, anggaplah yang nampak adalah yang sebenarnya.

Keadilannya seperti ini; petani itu sudah merasa bahagia dengan ‘hanya’ makan sebungkus nasi di tengah sawah, sementara pasangan orang kaya itu baru bisa merasa bahagia saat sudah bisa kelililing dunia dengan kapal pesiarnya. Adil bukan? Petani yang tak memiliki banyak sarana, sudah merasa bahagia dengan makan siang di tengah sawah, sementara pasangan kaya yang banyak uangnya itu, baru bisa bahagia saat sudah keliling dunia dengan kapal pesiarnya. Si miskin –meski petani tak melulu miskin sebab semakin banyak saja petani kaya—bisa bahagia dengan bermodal nasi bungkus, sedangkan si kaya baru bisa bahagia setelah merogoh kocek untuk menikmati kapal pesiar mewah.

Tapi itu contoh yang biasa. Di bumi yang semakin tua ini, segala hal ada contohnya. Yang baik, ada sepasang orang berpunya yang sudah bahagia dengan jalan kaki berdua. Tapi di sisi lain, sesuatu yang miris, ada orang yang tak berpunya yang baru bisa bahagia kala memiliki mobil mewah. Yang pertama sudah bahagi adengan hal sederhana justru ketika memiliki banyak hal yang membuat orang kebanyakan bahagia, sedangkan yang kedua baru merasa bahagia setelah mendapatkan sesuatu yang masih di angan-angannya. Yang pertama berpeluang bahagia setiap saat, yang kedua berpotensi bersungut-sungut tiap waktu. Maka, dari kedua model di atas, pertanyaannya adalah, kau berada di model yang mana? Di salah satunya atau di pertengahan di antaranya.seharusnya kau mampu merenungkannya.

Iq, kebahagiaan itu memang seringkali juga masalah pengharapan. Masalah ekspektasi. Masa kecilmu, di segala keterbatasannya, di segala kemurniannya kala racun televisi tak begitu menggurita, tak banyak ekspektasi untuk sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan itu bukan tentang berwisata—itu kemudian menjadi alasan kenapa kau jarang sekali berkunjung ke tempat-tempat wisata di masa kecilmu-, kebahagiaan itu juga bukan tentang mempunyai video game—kau dulu menginginkannya, tapi kau tak menempatkan itu sebagai standar kebahagiaan-. Kebahagian masih tentang hal-hal sekitaran yang amat mudah terjangkau. Kebahagian masih tentang hal-hal sederhana. Hingga, ketika ekspektasi itu justru membuahkan sebuah realisasi yang lebih, maka menjadi bertingkatlah bahagianya. Berbeda jika kau meletakkan sebuah hal yang melangit untuk standar kebahagian, maka ketika kau tak mencapainya, menjadi bersungut-sungutlah kita.

Contoh lain, yang boleh saja tak begitu analog, adalah seperti ini. Dalam sebuah kontes menulis, seseorang mengabarkan kalau kau tak menyabet juara apapun. Kau pun kemudian mempersiapkan diri untuk tetap bahagia hanya dengan predikat peserta. Maka, ketika di pengumuman resmi kau justru menyabet juara tiga, kau akan bahagia sebahagia-bahagianya. Berbeda halnya jika seseorang itu mengabarkan sebelumnya kalau kau memperoleh juara pertama. Kau akan mempersiapkan kebahagian sebagai juara pertama. Maka, ketika di pengumuman resmi kau justru dinobatkan sebagai juara ketiga, menjadi sirnalah kebahagiaan itu. Sakit sesakit-sakitnyalah justru yang mendera. Padahal keduanya sama; juara ketiga.

Iq, bagaimanakah keadaan kau? Kebahagiaan ini, konon katanya yang menjadi impian orang. Orang kemudian memiliki banyak jalan untuk menggapainya. Tapi, aku berharap dengan sangat, bersederhanalah dalam menujunya. Kau bisa menjadi apa saja saat membaca ini, tapi jangan pernah berubah menempatkan standar kebahagiaan. Sederhana tadi. Jangan menjadi orang yang sudah-sudah, yang awalnya sudah cukup bahagia makan berlauk tempe, tapi menjadi berubah saat segala kemudahan menghampirinya, yang bahkan sate kambing, apalagi tempe, tak mampu lagi memenuhi rasa bahagianya. Standarnya mulai berubah.

Tapi Iq, tentu saja, standar kebahagiaan ini berbeda dengan cita-cita, dengan segala hal yang ingin kau gapai. Kau boleh meletakkan standar kebahagiaan itu begitu sederhananya, tapi kau mesti melangitkan cita-cita. Sebab keduanya memang berbeda, yang satu tentang penerimaan, yang satunya lagi tentang pencapaian. Maka bila kedua hal itu berpadu, standar kebahagiaan yang begitu sederhana dan cita-cita yang begitu melangit mempesona, hasilnya akan dua; kau bahagia dengan gapaian cita-cita, atau kau (tetap) bahagia dengan gapaian cita-cita yang tak berhasil sempurna. Keduanya sama-sama indah. Meski dengan kadar yang berbeda.
Begitulah, Iq! Begitulah! Satu bahasan dan aku sudah melembarkan dua halaman kata.

Sepuluh tahun dari aku menuliskan ini, tentu saja aku tak tahu kau telah ada di mana. Jikalau Allah masih berkenan memberimu amanah waktu, kau tentunya sudah berusia matang. Kau mungkin telah mapan dengan pilihan-pilihan hidupmu, telah merasa teguh dengan pikiran-pikiranmu. Tapi aku masih berharap, kau masih mau mencerna surat pendek ini. Ini juga pikiranmu, Iq. Pikiran anak muda, mungkin. Yang mestinya masih penuh idealita. Kau pastinya telah melahap lebih banyak asam garam kehidupan, telah menyaksikan dan mengalami segala realita. Maka untuk itu, aku ingin kau sejenak merenungkannya, mendekatkan idealita dan segala realita itu. Apakah berimpit atau justru sudah bertolak belakng? Kau tentu masih ingat dengan tempelan di kamar kos jaman kuliahmu dulu: ‘Yang mempertemukan antara idealita dan realita adalah kesungguhan’. Kesungguhan! Ya, kesungguhan. Coba kau pikir-pikir, adakah kata itu sudah dalam menghuni waktumu.

Sepuluh tahun dari awal tahun 2011, dan aku tak tahu di lingkungan seperti apa kah kini kau berada. Semoga kau tetap dalam lindungan Allah, lewat perantara orang-orang yang begitu istiqomah menjagamu mungkin.

Oke.. Sampai di sini dulu. Entah ini surat ke berapa yang kau baca dari dirimu yang dahulu. Tapi yang aku tulis, ini adalah yang pertama. Hanya saja aku tujukan untuk diriku sepuluh tahun nanti. Mungkin besok-besok, aku akan menuliskan untuk diriku setahun, dua tahun, atau lima tahun yang akan datang.

Sampaikan salamku untuk keluargamu. Aku akan senang jika mereka ikut membaca surat kecil dari calon kepala keluarganya ini.

Bandung
1111


24 comments:

Sukma Danti said...

unik nih... :D

Salman Rafan Ghazi said...

oke, mas Iq.

kalau di semarang, iq/ik itu akhiran untuk sebuah kalimat: he'eh, iq/ik. :d

Lani Imtihani said...

ooo,,ini ta yang tadi diiklanin :)

HayaNajma SPS said...

oiya, aku lupa pernah pengen bikin tulisan begini...
surat dariku untukku... :) trims mengingatkan

iqbal latif said...

ho ho....
sebenare kayak tulisan saya seperti biasanya isinya... Hanya modelnya saja berbeda

iqbal latif said...

ha ha...
sudah, jangan panggil begituan....

lathief saja.... kayak satu teman saya...

iqbal latif said...

iklan apaan?

--itu bisa saja sebagai penyemangat utk segera menyelesaikan tulisannya

iqbal latif said...

sudah buat sana...
cepetan!
:p

akuAi Semangka said...

dan harapan?

iqbal latif said...

mmm.. boleh. Coba jelaskan, gih! Lewat jurnal :)

akuAi Semangka said...

males ah.

iqbal latif said...

rajin pangkal kaya, males pangkal ....
:)

rifi zahra said...

Subhanalloh...

iqbal latif said...

subhanallah (juga) :)

Chifrul S said...

antum koq masih berkeliaran di MP? xixixi

iqbal latif said...

adakah yg aneh?

Leila Niwanda said...

CIta-cita vs. mempersiapkan diri untuk menerima kalaupun tidka sesuai harapan, hmmm... saya sering merenungi ini.

iqbal latif said...

hmm..penerimaan. mesti dibiasakan.. tp tentu sj penerimaan yg konstruktif. Seperti halnya perasaan cukup tak menghalangi kita menggapai lebih :)

umi kulsum said...

keren...gaya bertuturnya unik. Bravo!

iqbal latif said...

hehe
nabila buat mp juga ya,mb?

Pemikir Ulung said...

chif juga masih berkeliaran rupanya :p

iqbal latif said...

apalagi dirimu :)

umi kulsum said...

iya...supaya bakat nulisnya terasah. Tapi dia moody banget..kayak saya..hehehe

iqbal latif said...

berarti kalo pas lagi mood suruh nulis banyakbanyak..he he