Monday, December 6, 2010

--kerajaan senja--

Mungkin kau tak pernah mendengar namanya. Tidak pula kau temukan dalam literatur sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah, atau dalam buku-buku kuno di perpustakaan2 tua negeri ini. Karena, cerita mengenai kerajaan ini, hanya diriwayatkan turun-temurun lewat tuturan orang-orang tua pada anak-anaknya. Didongengkan menjelang tidur. Berharap mereka segera terlelap, Berharap mereka bermimpi indah.

Nama kerajaan ini adalah kerajaan senja. Tentu saja bukan karena waktu di negeri ini melulu senja. Tidak. Tentu saja tidak. Waktu di kerajaan ini seperti waktu pada umumya daerah tropis dalam planet ini. Merasakan waktu siang dan malam yang hampir berimbang. Dengan saat pergantian waktu diantara keduanya selalu menjadi waktu yang istimewa. Hanya saja, kerajaan ini terletak di pinggiran sebuah pantai yang mempesona, serta kitaran hutan lebat melingkupi di sisi lainnya. Maka kemudian tak ayal, saat senja adalah detik-detik yang hebat bagi seluruh warga.

Maka bila kita berbicara tentang kerajaan, kita akan membicarakan seorang raja, seorang putri yang cantik jelita, serta rakyat jelata. Dan karena saya lebih suka bercerita tentang hal-hal baik, maka tentu saja kerajaan ini adalah kerajaan yang baik. Rajanya adalah raja yang baik, memerintah dengan baik pula. Adil dan bijaksana. Tidak sibuk memperkaya diri, tidak pula sibuk dengan perempuan-perempuan di sekitarnya. Sebab ia memang hanya memilki seorang perempuan. Seorang istri. Seorang permaisuri yang bisa menjaga diri. Permaisuri yang mampu menenangkan di saat gulana. Yang mampu mencandai di saat resah.
Rakyat kerajaan ini tak banyak, hanya terdiri atas beberapa desa. Tak terlalu padat pula penduduk yang mendiami tiap desa itu. Tapi mereka hidup dalam berkecukupan. Rukun, dan tak sibuk bergosip di kedai-kedai nasi yang lumayan banyak bertebaran di sudut2 desa. Saat pagi masih menyisakan dingin, mereka telah bergegas menuju sawah. Riang bekerja sambil membawa kerbau2 menuju kubangan. Berjam-jam berikutnya, ketika senja merona di barat jauh, mereka baru akan beranjak pulang. Berduyun sepanjang jalan desa. Membentuk siluet senja yang menggetarkan bagi siapa saja yang memandangnya.

Dan selanjutnya adalah puteri semata wayang raja. Duhai, akan sulit mendiskripsikan bagaimana ia begitu dicintai rakyatnya. Ia cantik? Ya, tentu saja, jika yang dimaksud cantik adalah tampilan fisik yang membuat seorang yang sekilas menatapnya bisa terjungkal dari langkahnya. Tapi, yang membuat setiap pria bujang di negeri itu memimpikan sang puteri menjadi labuhan hatinya justru karena ia tampil seperti perempuan kebanyakan. Ia amat ‘manusia’. Berbaur. Tersenyum saat bertemu orang-orang. Santun pula dalam bertutur kata. Ia mengawali harinya dengan bercengkerama dengan penduduk di pematang sawah, tak sungkan pula menceburkan diri dalam lumpur. Yang kontan membuat pembantu pribadinya berteriak-teriak mencegah. Tapi apa daya, teriakan itu sama sekali tak mampu mengurungkan niat sang puteri. Sama sekali tidak. Sebab ia akan segera balas melototi si pembantu. Maka mengkeretlah sudah .

Sudah menjelang dua puluh satu tahun, tapi belum juga ada tanda2 kalau sang puteri akan melepas masa lajangnya. Sudah tak berhingga pangeran dari negeri seberang yang datang meminang, tapi tak satupun dari kesemuanya berbuah penerimaan. “Ada apa?”, “Lelaki seperti apakah yang diinginkan puteri?”, demikianlah pertanyaan2 yang mengganjal di hati penduduk tiap kali pinangan seorang pangeran ditolak. Pertanyaan2 yang tak pernah terjawab. Pertanyaan yang pada akhirnya tenggelam sendiri oleh rutinitas kerja.

“Tentu saja puteri ingin ayahanda. Tentu saja Puteri ingin segera mengakhiri penantian ini. Berkeluarga seperti yang ayahanda kehendaki. Tapi bagaimana mungkin! Bagaimana mungkin Puteri akan menerima jika yang datang tidak membawa apa2 selain sekotak batangan emas serta kilatan mata penuh selidik.”, demikianlah puteri menyanggah ketika pada akhirnya sanga raja tak tahan untuk tidak bertanya.

Berlalu. Hari-hari pada akhirnya melaju seperti sedia kala. Penjelasan itu sebenarnya belum seutuhnya dapat dimengerti oleh raja, tapi ia menerima. Hanya pemahaman atas apa-apa yang tak terkatakan dari puterinyalah yang membuat ia mampu melakukannya.

Dan hari berjalan seperti sedia kala. Tetaplah menyenangkan. Tak ada lagi pertanyaan mengganjal di hati-hati penduduk. Raja pun tak lagi sibuk mencari tahu dengan bertanya. Tidak pula memikirkannya. Ah, puterinya amat bahagia dengan keadaannya sekarang. Senyumnya masih selepas masa kanak-kanaknya. Sungguh teramat tak bijaksana kalau ia harus melakukan apa2 yang sempat terpikirkan beberapa waktu lalu. Perjodohan paksa. Cukuplah kiranya tradisi itu dihentikan sampai generasinya. Jangan untuk anaknya.

Tujuh hari menjelang hari ulang tahun Puteri yang ke 21. Tapi belum ada kabar yang berarti. Puteri pun belum menentukan dengan apa ulang tahunnya kali ini dirayakan. Memang, lima tahun belakangan, atas permintaan puterinya itu, raja memberi kebebasan Puteri untuk memilih sendiri perayaan ulang tahunnya, bahkan kalau perayaan yang dipilih adalah kesendirian. Tak ada pesta. Menyepi di kamarnya merenungi waktu yang telah ia titi. Seperti ulangtahun setahun yang lalu.

Rajapun pasrah kalau kali ini pun tak ada perayaan. Biarlah. Bukankah itu pertanda bagus. Bukankah itu pertanda bahwa puterinya telah beranjak dewasa. Semakin matang.

Raja tengah duduk2 santai ketika suara puterinya menyeruak dari luar

“Ayahanda!”
“Ada apa, puteriku? Tenanglah! Atur dulu nafasmu”
“Ayahanda, puteri telah menemukannya. Puteri telah menemukannya”
“Menemukan apa??
“Calon penerus tahta ayahanda”

(bersambung)

56 comments:

iqbal latif said...

saya memiliki beberapa tulisan bersambung macam begini...
bersambung yang gagal utk dilannjutkan...
seperti postingan ini

al fajr "fajar" said...

ohoho... gek2 aku mengikuti gagal bersambung..

iqbal latif said...

pasti urung diwoco iku

al fajr "fajar" said...

saiki uwis
wah, banyak kemungkinan lanjutane.hehehe
tuan putri milih Iqbal
=))

iqbal latif said...

ha ha..
pingine ngunu :)
(kayake perlu dimunculkan pendekar iqbal dari kerajaan subuh :D)

al fajr "fajar" said...

opo aku kudu turun tangan dimunculkan ksatria fajar?
qiqiqi

iqbal latif said...

bolehlah...
tokoh antagonis :p

al fajr "fajar" said...

ati2 ngko tokoh protagonise kalah pamor
haghag

APRILLIA EKASARI said...

hmmm...

khaleeda killuminati said...

*ending..

Dan putri hidup bahagia bersama pemuda di kerajaan senja. Selamanya.. Happily, ever after.. *musik backsound :D

al fajr "fajar" said...

pendekar Iqbal
haha

iqbal latif said...

@jaraway....tp akhire yo kudu kalah... Putrine awale khilaf :)
@sukmakutersenyum.....haruse 'hihi' sesuai id-nya
@akhwatzone...haha...klasik banget ya??

akuAi Semangka said...

puteri atau putri?
Sepertinya kalo judulnya hanya kerajaan senja terlalu luas..

iqbal latif said...

ya, sudah... Maunya judule apa?
la, emang puteri apa putri

*ribet kalo nona editor datang

Sukma Danti said...

sepakat, tpi over all bagus ceritanya, sayang gak ada terusannya... :(

desti . said...

haha. suka komen yang ini.....

Haya Najma said...

iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiihhh, mau lanjutannyaaaaaa...

iqbal latif said...

@keluargabahagia...mw judul apa?--eh, eh, kan bs sj cerita ini bukan tentang puteri nya saja?
@destipurnamasari...dirimu nggak mengajukan diri menjadi tokoh cerita, kan, dest? ksatria purnama gitu

iqbal latif said...

@dysisphiel... puterinya bukan ifah lo!

desti . said...

wih keren ya.. ksatria purnama..... ^^b

Haya Najma said...

makanya aku pengen lanjutannyaaa :D

akuAi Semangka said...

putri. Sesuai dengan KBBi.
Judul blum bisa diberikan kalau ceritanya belum selesai..

Aih, nona editor? Haha.. Boleh juga.

Sukma Danti said...

sepakat, hehe hhihi huhu... :p

iqbal latif said...

@destipurnamasari... ksatria purnama yg membuat putri terpikat.... Sayangnya, oh sayangnya, ia ternyata perempuan.. ;)
@dysisphiel....kayake haya seneng tema2 gini..ihiy
@akuai...ok.. tapi jadi beda kalau namanya juga puteri..he he.. Berarti ada dua: putri dan puteri... baik, nona editor. disingkat notor

iqbal latif said...

@keluargabahagia....apanya yg disepakati?

Sukma Danti said...

ttg judulnya, hehehe... :D

iqbal latif said...

berarti bisa ngasih saran...

Sukma Danti said...

eengg... (+.+)a

apa ya? lagi gak isa mikir,ngantuk, hehe...

akuAi Semangka said...

jadi nama putrinya itu puteri? Ah, aneh betul!

Tak perlu disingkat atau jangan memanggilku nona editor lagi..

*mba keluargabahgia sepakat lagi ga neh? Xixi

al fajr "fajar" said...

hahaha.....

Haya Najma said...

*nyengir..

tapi, tu akhirannya emang kerennn... bikin penasaran.. :D
belum bikin ya? huu.. berarti belum ada ide dong? *kecewa

khaleeda killuminati said...

Iq, aku daftar jadi tokoh emaknya si putri ya. Ada ga? :D

Haya Najma said...

udah, namain haya aja, artinya kan saama.. *kabur keburu dicium mba ay

iqbal latif said...

@akuai..namanya puteri? belum tentu juga sih.. dirimu mw daftar kah? ha ha
@keluargabahagia.... kayake perlu dimunculkan tokoh yg ngatukan ini.. (penjaga putri)
@dysisphiel.....kalo tulisan begini itu bisa ngelantur kemana2 (artinya idenya banyak) tp nulisnya itu kadang kok g bisa2
@akhwatzone...he he. Ida, kau sadtu dr sedikit orang yg memanggilku dg penggalan itu. Permintaannya boleh. Namanya siapa? maknya putri?

Anik Miftah ^__^ said...

maap. tulisannya kecil2,sebagai pengguna kacamata bikin mata sakit:(

iqbal latif said...

@miftamifta..iyakah? yg lain kok g ada yg protes ya?? he he... postingnya via mp versi mobile

Anik Miftah ^__^ said...

hoooo pantesan:)

iqbal latif said...

he he..maaf..bs dibesarkan sendiri tampilannya ;)

--soalnya jaringan lambat

Sukma Danti said...

:">

Sukma Danti said...

buat apa?

iqbal latif said...

biasanya...kalau di serialserial kayak mak lampir atau angling dharma, ada tokoh yg buat kalah2an..buat mbanyol2an.. he he

Sukma Danti said...

hahaha... iya seru kuwe...

iqbal latif said...

ok..satu tokoh lagi :p

akuAi Semangka said...

daftar jadi editor, boleh? Haha... *teteup!

Rahman Elfath said...

yahh...ternyata bersambung....padahal membacanya perlahan sambil mengatur nafas supaya tak ketinggalan satupun isi cerita...*samakomendiatashurufnyakecil*
gimana kalau ada konflik dulu sebelum ending

iqbal latif said...

hoho...

editornya nggak digaji ya? :p

iqbal latif said...

@akuai...boleh sja..kan memang g ada bayarannya..
@faturkatupat...he he. sip! ntar ada konflik berdarahdarah

Pemikir Ulung said...

rame

iqbal latif said...

@pemikirulung...tumben satu kata?

Pemikir Ulung said...

biarin :p

iqbal latif said...

janganjangan blm baca :p

Pemikir Ulung said...

mas jon mas jon
ckckckck

:D

iqbal latif said...

mas jon? maksudnya apa ya?

Pemikir Ulung said...

udah pernah kujawab di blog yang telah lalu

iqbal latif said...

iya ta??



*males nyari
*ya sudah deh

Pemikir Ulung said...

iya..

sudah biasa, hoho