Thursday, March 4, 2010

k-i-t-a : semacam kado pernikahan buat sahabat

Kawan, aku menuliskkan ini, saat di tempat yang jauh dari tempatku duduk sekarang, di sebuah majlis yang berjarak bentangan lautan dariku, di sebuah tempat yang akan bakal kau ingat dimana itu berrada, kau sedang melakukan perjanjian agung, sebuah perjanjian yang Al-Qur’an sebut sebagai Mitsaqon-gholizan. Sebuah sebutan yang hanya tiga kali disebut, satu  untuk perjanjian Allah dengan ulul azmi, serta satu lainnya untuk perjanjian Allah dengan bani israil yang untuk itu Allah mengangkat bukit Thursina.

Seagung itu lah memang perjanjian yang sedang kau ikrarkan, sobat! Seberat itulah memang ikrar yang sedang kau ucapkan, kawan! (kelak, aku akan bertanya, bagaimanakah kau menjalaninya)

Sepertinya masih hangat, saat kita pertama kali bersapa. Di sebuah ruangan yang masih asing, di sebuah hari yang mengawali status mahasiswa kita, aku menyapamu, dengan kosakata yang mana mungkin kau pahami. Aku memang belum tahu kala itu. “Asale teko endi?”, begitu kataku kira-kira kala itu. “Nggak bisa bahasa jawa”, begitu jawabmu. Ringkas, tapi cukup untuk menjelaskan. Kau kemudian melanjutkan, bahwa kau bukanlah berasal dari Jawa, tapi Madura. Sebuah jawaban yang di kemudian hari aku ketahui tidak begitu benar kau ucapkan. Sebab kau bukanlah dari pulau tersebut, bukan pula pulau-pulau kecil  yang menghimpitnya, tapi dari sebuah pulau yang tercecer di sebuah lautan antara kalimantan dan Jawa. Aku ternganga, adakah tempat seperti itu. Juga,yang jauh lebih penting, adakah penduduknya yang mampu menjamah belantara surabaya, menjadi bagian kecil penduduk indonesia; menjadi mahasiswa.

Kau menyebut pulaumu sebagai Masalembu.

Demikianlah itu bermula. Kemudian Allah menyatukan kita dalam kelompok-kelonmpok kecil  yang memaksa kita berinteraksi. Di semester pertama perkuliahan, kita selalu sekelas. Tentunya kita masih ingat masa itu, saat semangat belajar itu begitu tingginya, saat nilai ‘A’ itu begitu diburunya. Maka kita pun sering berdiskusi, tentang pemecahan sebuah soal kuliah. Masih ingatkan Kau,  saat kita mati-matian memecahkan soal Kimia Analisa I itu?? ingin berjingkrak rasanya, saat di akhir semester, pada baris nama kita, tertulis huruf kapital A. itulah nilai untuk kerja keras kita untuk kimia analisa I. Begitu bergembiranya kala itu, sebab di awal semester, bahkan ketika kita masih menjalani pengaderan, kita sudah kenyang dihantui momok tentang kuliah ini. (ah, sebenarnya bukan tentang kuliahnya)

Ah, aku hampir saja melupakan. Bukankah kita terlebih dulu sekelompok camp? Bagaimana mungkin kita akan melupakan malam itu, malam hari sebelum esoknya adalah hari pengumpulan peralatan untuk camp, kita berjalan menyusuri gang-gang keputih. Tak tahu malu menanyai tiap pedagang keliling yang kita temu; apakah mereka punya lampu petromaks yang bisa dipinjam. Tangan hampa yang kita dapati kala itu, itupun setelah kaki kita rasanya begitu lelahnya setelah berjalan tiada henti. Kau menyebutku kala itu sebagai seorang yang  bersikeras untuk sebuah tujuannya. Tapi kemudian aku baru tahu, kau adalah seorang yang lebih bersikeras untuk tujuanmu.

Akan sangat panjang kiranya bila kutuliskan semuanya. Tapi yang terpenting, kita kemudian dekat, lekat, dan bersahabat. Biarpun syarat untuk itu, adalah tiga hal yang dipersyaratkan Umar ra, rasa-rasanya kitapun dapat dengan mudah melaluinya. Berapa kali kita menginap bersama?? Rasa-rasanya sering. Berapa kali pula kita melakukan perjalanan jauh berdua saja? Rasa-rasanya juga sering. Berapa kali pula kita bertransaki ekonomi? Lagi-lagi, rasa-rasanya juga sering. Bukankah aku sering berhutang padamu? J

Maka tak ada yang bisa mencegah kedekatan itu terlegitimasi dalam sebuah bentuk yang bernama ‘partneran tugas akhir’. Kedekatan itu pun menjelma menjadi hubungan-hubungan ‘kerja’. Kita berangkat ke kampus bersama, ngelab bersama, ke masjid bersama, pulang bersama. Melakukan praktikum bersama, menjadi asisten bersama, nginep di lab bersama. Seseorang bahkan iri tentang kebersamaan kita. Kita tersenyum saja menanggapi celetukan itu. Namun itulah, aku rasa, jawaban tersederhana yang kita mampu.

Suatu saat, aku malu, saat mengunjungi kosmu kutemukan selembar kertas tertempel di dinding kamarmu. Apa yang tertulis di kertas itulah yang membuatku malu. Kau menuliskan peta hidupmu, rancangan-rancangan yang ingin kau gapai dalam hidupmu. Tentang kapan menikah, kapan menghajikan orang tuamu, kapan memensiunkan diri dari formalitas kerja.  Aku malu, sebab hal itu lebih sering hidup di angan-anganku tapi tak pernah kukonkritkan sepertimu. Maka tahun-tahun yang menjelang setelah itu, akan menjawab satu per satu tiap resolusimu itu.

Apakah kita sebuah partnership yang baik? Ah, aku tak pernah mampu menjawab pertanyaan itu. Bila ukurannya hanyalah sekedar tak bertengkar, tak pernah saling ngiri tentang pembagian kerja, tak saling menggunjingi di belakang, sepertinya kita lulus. Rasa-rasanya (-semoga ini benar-) kita memang begitu. Saling memahami adalah sebuah kunci (*malu sekali menuliskan kata ini*), yang kita bangun lewat kebersamaan, juga saling bicara.

Tapi tentu saja, kita bukanlah sepasangan yang sama-sama kuat, yang sama-sama lebih. Sebab pasangan yang ‘baik’ tak melulu yang seperti itu, tapi yang melengkapi. Kau mungkin masih ingat saat aku sibuk dengan blogku, kau tak pernah menegurku, sebab kau percaya bahwa masing-masing dari kita sudah sama-sama dewasa, yang telah amat paham arti sebuah prioritas, makna sebuah tanggungjawab.  Kepercayaan yang semoga kala itu tak aku campakkan.

Kau kadang begitu detail (-suatu hal yang aneh, yang harusnya akulah yg lebih detail ketimbang kau-), memperhitungkan sampai yang remeh-temeh, maka sekuat yang aku bisa, aku harus menjadi seseorang yang lebih memperhatikan esensi. Namun, di lain waktu, akulah yang tiba-tiba jadi tukang ngeluh, dan seketika kau yang harus menjadi peneguh. Bila aku sedang minus, maka kau harus jadi plus, bukan untuk saling disilangkan, sebab sudah pasti minuslah yang bakal tercipta. Tapi yang perlu kita lakukan hanyalah melengkapkannya. Dan masing-masing dari kita sudah tahu hasilnya.

Setahun saja waktu formal partnership itu. Tidak terlalu panjang untuk sebuah waktu yang tercatat oleh putaran jarum jam. Tapi, aku (-atau kita-) yakin, apa yang membekas sepanjang itu, akan selalu mencoba hidup dalam rentang usia kita. Mudah-mudahan aku tak berlebihan tentang ini.

Kita pernah menjalani hari yang padat suatu waktu. Berangkat pagi hari ke pasuruan, mengambil revisian laporan KP, merevisinya kemudian, mengeprintnya (-kita bahkan membawa sendiri printer dari surabaya-), dan mengumpulkannya lagi. Tak selesai  di situ, kita memang sempat istirahat sebentar di rumah, tapi sore hari sejam-an menjelang maghrib, kita kembali  ke surabaya. Menunaikan sholat maghrib di masjid Bangil, isya’ dan tarawih di masjid agung sidoarjo, lalu tiba kembali di kosan sekitar jam 9 (ingatkan aku, apakah ini terjadi dalam satu hari, kenapa aku tiba-tiba jadi lebih teringat akan peristiwa-peristiwa dan kacau dalam orientasi waktu)

Kita juga pernah mengalami pagi yang membingungkan. Datang subuh hari ke jogja, dan kita masih belum tahu akan melepas lelah di mana. Aku coba menghubungi temanku, sekedar menjadi penunjuk, tapi bukan untuk numpang di sana. Sebab memang tak memungkinkan untuk itu. Ia lalu menunjukkan sebuah kos harian. Terlihat kumuh awalnya (apalagi saat melihat kamar mandinya), tapi kita kuatkan.  Tak apalah. Hingga, beberapa jenak berlalu, pada akhirnya kita putuskan tak jadi menempatinya. Alasan nggak jadinya itulah yang sampai kini membuatku bangga. Saat kita melihat cowok-cewek berbagi kamar mandi. Oala, begitu mungkin batin kita kala itu, ternyata kos ini bercampur. Lalu kitapun mencari penginapan. Yang murah tentunya. Dan dapat. Lima puluh ribu perhari. Sempit, pengap, dan berbagi kasur kecil yang cuma sebiji. J

Kita juga pernah mengalami kebingungan kala tak ada tempat yang mampu menganalisa sampel penelitian kita, kita juga pernah berada dalam fase ‘nganggur’ secara bersama (masih ingatkah kau, tiap kali kukabarkan  kalau aku gagal di test ini test itu, kalimat yang kau ucapkan selalu, ‘berarti bukan yang terbaik’. Sebuah kalimat bertenaga yang selalu ingin aku percayai kala itu).

Dan, kita juga sering bercerita bersama. Berbicara banyak hal. Mulai politik hingga Chelsea-MU, mulai kecerian masa kecil hingga impian masa depan, mulai pekerjaan hingga pernikahan. ..

(*izinkanlah aku berjedah kala sampai pada kata itu*)

Pernikahan! Duh, memang Tuhan punya selera humor yang baik. Geli rasanya saat mendapatkan kabar bahwa kau akan menikahi perempuan yang menjadi istrimu sekarang. Masih terngiang rasanya, saat jaman kuliah dulu kita saling sepakat, bahwa “Yang jadi suaminya Diniyyah nanti harus orang yang dominan dan tegas!”. Sebuah simpulan yang dihasilkan oleh observasi kita (*bukan observasi mungkin tepatnya, tapi interaksi*) bahwa istrimu kini itu adalah seorang yang ngeyel dan pemaksa kehendak. (*Piss din J). Ternyata, kaulah yang jadi si dominan dan si tegas itu.

Sudah tiga halaman A4 dan aku harus segera menyudahi ini. Menuliskannya, sungguh menguras energi. Sebab itu menyelami kembali keduluan. Menggali emosi-emosi yang pernah singgah.

Maka, saat kini kau mempunyai partner baru, yang kau –juga aku-- harapkan bakal seperti itu selamanya, di dunia dan juga kampung akhirat, doa inilah yang bisa aku sampaikan (-ketika bahkan aku tak menghadiri acaramu-):

“Barakallahu laka Wabaraka ‘alayka wajama’a bainakuma fii khair”

NB1: Tulisan di awal itu tak bohong. Aku mulai menuliskan ini di sabtu sore, 20 feb 2010. Hanya masalah2 ‘kesibukan’lah yang melambatkan aku menuntaskannya. Semoga tak mengurangi esensinya

NB2:mungkin tulisan ini lebay. Aku tak menyangkalnya, meski tak juga mengiyakannya.

  

10 comments:

Ivonie Zahra said...

Perjalanan persahabatan yang menggetarkan hati...

Barakallahu, semoga pernikahan sahabatnya menjd keluarga sakinah, mawaddah, warohmah. Amin :)

iqbal latif said...

amin...semoga... InsyaAllah ntar saya sampaikan do'anya

akuAi Semangka said...

yang paling ku suka dari tulisan2 om iqbal adalah: mau berlama-lama menggambarkan sesuatu utk menambah kekuatan cerita..

nb: tulisannya ga lebay.. tapi melow-nya dapet ^^

antung apriana said...

Persahabatan yg indah.barakallah buat temannya ya mas

iqbal latif said...

berlama-lama??? mmmhh..seperti itu ya.. Moga saja orangnya g telatan

iqbal latif said...

amin..termakasiih..

akuAi Semangka said...

beda konteks.. maksudnya bisa bikin tulisan yang panjang gitu loh. tulisanku seringnya cuma 3 paragraf..

iqbal latif said...

iyaa..iya..Ngerti... :p

didin ayu said...

wah..
berasa hidup tulisannya..seger..apik..

iqbal latif said...

mudah2an g sampai jalan2...:)