Tuesday, March 9, 2010

Tarakan...tarakan...

Lanjutan dari SINI

####

Salah satu hal yang membuat saya menyukai kota tempat saya tinggal saat ini adalah karena keteraturannya. Meskipun ada dua perusahaan besar yang berdiri megah di kota ini, tetap saja Bontang adalah sebuah kota kecil yang boleh dibilang sepi. Sepi, kalau dibandingkan dengan sebagian besar kota di Jawa. Karena itulah, jalan-jalannya tak seruwet kota-kota besar meski kadang perlu pengecualian untuk jam-jam tertentu. Khususnya mendekati jam-jam tujuh pagi untuk jalan menuju pabrik. Itupun hanya padat, tapi bukan semerawut. Lainnya, saya bersyukur bahwa tiap pertigaan, ataupun perempatan, bukanlah sebuah tempat dimana ironi sering menggejala. Semuanya lebih sering baik-baik saja. Tak ada (-atau lebih tepatnya minim-) kendaraan yang saling serobot, tak ada pengamen jalanan yang lebih sering berisik, tak juga ada pengemis jalanan menengadahkan tangan. Bagi saya, itu sudah cukup untuk mengkategorikannya ke dalam ‘teratur’.

Berada di Tarakan, dan merasai benar apa-apa yang terlihat di pusat kotanya, saya sempat tercenung sebentar untuk sebuah gumam syukur bahwa saya hidup di Bontang. Mulanya, saya sempat iri demi melihat sebuah papan nama bertuliskan ‘Gramedia’ di salah satu sudut kotanya. Toko buku yang bagus memang menjadi ketiadaan yang sering kali saya sesalkan tentang kota saya, Bontang. Namun, menyusuri lebih lanjut lekuk-lekuk kota, rasa-rasanya tak pantas rasa iri itu saya semayamkan berlama-lama. Tarakan memang ramai, jauh lebih ramai mungkin dari Bontang, tapi tak eloklah rasanya ukuran keramaian sebagai parameter sebuah kemajuan, apalagi kenyamanan. Sebab, yang saya lihat selanjutnya adalah semacam keruwetan. Pertiga-pertigaan yang penuh klakson motor yang berebut ruang jalan, trotoar-trotoar yang tak nyaman--yang bahkan ada beberapa ruas jalan yang tak berpunya, serta panas jalanan berpadu dengan kekumuhan di beberapa ruas jalan, cukup sudah menjadi tiga hal yang menodai kata ‘ramai’ untuk disandingkan dengan ‘maju’, apalagi ‘ramai’ dengan ‘nyaman’.

Tarakan memang juga memiliki dua pusat perbelanjaan (-kalian boleh menyebutnya dengan mall-), tapi ini sama sekali tak membuat saya iri meski Bontang cuma punya satu. Apalagi setelah saya menelusri apa-apa yang ada di dua pusat perbelanjaan tersebut. Tak ada yang istimewa. Satu yang kemudian membuat saya cukup apresiatif dengan Tarakan ini adalah sebuah kawasan yang disebut dengan ‘Taman konservasi hutan bakau dan bekantan’. Ini hal langka, dan tak salahlah kiranya jika baru beberapa jam tiba di kota ini, saya langsung mengunjunginya. Tempatnya memang bagus, hanya berkarcis empat ribu per orangnya. Namun begitu masuk, Anda akan disambut keasrian sebuah gugusan bakau yang rimbun dengan akar-akarnya yang kokoh. Ada jalanan kayu tempat anda melangkah, maka susurilah! Kali-kali saja anda sedang beruntung menemukan Bekantan sedang asyik bergelanjut di dahan-dahan sambil menggendong anaknya –sebab itu salah satu keberuntungan yang saya peroleh. Tubuh gemuk dan hidung panjang kemerahannya sungguh mengemaskan untuk kita amati lama-lama.

Tak banyak kemudian yang saya kunjungi, karena memang panasnya bukan main—yang menciutkan nyali kala akan keluar ruangan. Ada pelabuhan Tengkayu I dan Tengkayu II. Tengkayu I letaknya bersandingan dengan ‘Taman Konservasi Hutan Bakau dan Bekantan’. Tak banyak yang bisa diceritakan selain geliat pelabuhan ini yang sepertinya sedang membangun diri. Ada sebuah jalan beton menjorok ke laut yang belum selesai digarap. Sedangkan Tengkayu II, bisa dikatakan sebagai pelabuhan penyeberangan. Di pelabuhan inilah speed boat yang menyediakan layanan penyeberangan ke pulau lain berada. Ada layanan ke Tanjung selor, ke Pulau Bunyu, ke Nunukan, atau mungkin ke Pulau Derawan yang terkenal itu. Yang saya sebutkan terakhir sepertinya tak ada penyeberangan reguler, kita harus menyewa speed boat dengan harga yang cukup fantastis (- belakangan saya tahu dari sopir angkot kalau untuk mencapai Derawan kita bisa melaluinya dengan jalur Tarakan-tanjung selor- Berau-Pulau derawan-).

Yang juga cukup terkenal di Tarakan adalah Pasar Batu—terbukti ketika saya tanya resepsionis dimanakah tempat untuk mencari oleh-oleh, ia merekomendasikan tempat ini. Di pasar inilah banyak kios-kios menjual produk-produk dari Malaysia. Ketika saya mengunjungi tempat ini, sebenarnya produk-produk malaysia yang dijual itu ada semua di Indonesia, hanya kemasannya yang beda dengan kosakata yang tertera seringkali menerbitkan tawa. Taruhlah seperti produk-produk Nestle, coklat cadbury, serta produk makanan lain. Hanya, kata Malaysia sering kali ‘menyihir’ pelancong jadi-jadian seperti saya. Jadilah saya termasuk pembeli barang-barang itu.

Untuk menjangkau tempat-tempat itu, tak perlu lah repot-repot. Ada banyak sekali angkot yang berseliweran. Cukup tiga ribu perak sekali jalan. Relatif murah, bahkan dengan penumpang dua orang saja si sopir dengan ikhlas menancap gas angkotnya. Tak perlu ngetem lama-lama seperti angkot di Jawa. Hanya memang, sepertinya tak ada angkot yang kondisinya baik. Hampir semuanya sudah masuk kategori ‘layak dimuseumkan’ dengan pintu diikat tali agar tak terlalu lebar saat dibuka. Beberapa kali naik angkot di sini, seperti halnya di Bontang, agaknya tak ada rute yang pasti dari tiap angkot. Tak ada Tulisan ‘A’, atau ‘WK’, atau ‘106’, atau yang lain sebagai pertanda jalur manakah angkot itu beroperasi. Warna angkotpun tak bisa dijadikan patokan. Jadi, asal Anda mau banyar, si sopir akan mengantar kemanapun kita hendak menuju.

Tarakan..Tarakan! begitulah. Kota yang memroklamirkan diri sebagai The Little Singapore. Kota yang sepertinya menjadi pusat perekonomian Kaltim bagian utara. Di kota inilah komoditas dari jawa singgah untuk kemudian diditribusikan ke tanjung Selor, Nunukan, atau Malinau. Kota yang mungkin bakal menbjadi bagian dari Kaltara, kalimantan Utara, bukan (lagi) Kaltim. Sebab dari beberapa spanduk yang bertebaran di sudut kota, sepertinya ada bola salju yang sedang digulirkan untuk membentuk propinsi sendiri menjadi Kaltara. Entahlah…

Pantai Amal, Meriam peninggalan Belanda, mungkin itulah salah dua yang bakal saya kunjungi di Tarakan suatu saat nanti, kala kesempatan kedua itu menyapa. Mungkin dengan rekan perjalanan yang berbeda.


 
 

9 comments:

akuAi Semangka said...

Hwaaa.. Nice capture! Jadi pengen ke kalimantan... Mana foto2 lainnya??

Yawdalah om,, bikin buku aja atuh n_n

iqbal latif said...

bentar..kemarin susah nransfernya...card reader bermasalh....

buku apa??? :D

Lani Imtihani said...

ini tah foto bekantan itu??kupikir close up Bal... -_-"

iqbal latif said...

jauh atuh...
kan bs di-zoom sendiri...

Manik Priandani said...

Sama. Apakah beberapa dari kita perlu patungan untuk membuka toko buku (seperti) ini? (berkeinginan boleh kok...siapa tahu kesampaian).

iqbal latif said...

Ngompori siapa gitu, bu, untuk ndirikan gramed.... he he

Lani Imtihani said...

Bu manik...saya setuju banget!!...ayo bu..nanti biar saya ga perlu nitip2 buku lagi atau ga dititipin buku ma iqbal waktu dines :D (becanda bal..ga papa kok nitip..^^)

iqbal latif said...

Pak kadept tuh diajak, mb lan! :)

Manik Priandani said...

Pak Kadept-nya sudah jadi teman se-mp belum? Biar kita bisa bicara bisnis buku (bareng) di sini....hehe