Friday, October 28, 2011

(catatan perjalanan) : Di Bandara Adi Sucipto

Kira-kira pukul setengah sembilan pagi ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat di bandara adi Sucipto Yogya. Ini adalah pengalaman kedua. Beberapa pekan sebelumnya, untuk keperluan yang berbeda, untuk pertama kalinya saya menjejakinya. Taka da yang berubah, tentu saja. Terlalu belebihan kalau mengharapkan perubahan drastis terjadi di sebuah bandara hanya dalam hitungan pekan.

Pengalaman kedua tak semenarik pengalaman pertama, begitu kata orang. Tapi hari itu saya begitu bersemangat oleh kesadaran saya telah tiba di BandaraAdi Sucipto jogja ini, betapapun itu hanya lah pengalaman kedua. Bukan karena sepuluh hari ke depan saya akan menjalani cuti yang lumayan panjang, bukan karena saya akan menghadiri pernikahan teman kerja yang sudah dua bulanan yang lalu saya janjii untuk saya hadiri, bukan karena setelah itu saya akan melewatkan 4 hari 3 malam di gugusan pulau karimunjawa, juga bukan karena beberapa saat setelah pendaratan ini saya akan bertemu dengan orang-orang yang sudah cukup lama saya kenal hanya di dunia per-blog-an. Bukan! Bukan hanya karena satu per satu hal tersebut. Tapi karena kumpulannyalah. Karena sepuluh hari ke depan saya akan menjalani cuti dimana di dalamnya terhimpun hal-hal menyenangkan yang sudah saya sebutkan sebelumnyalah yang membuat tibanya saya di Jogja ini begitu terasa istimewa.

Kau pasti bingung. Tak terlalu mengerti dengan kalimat berbelit saya di atas. Tak mengapa. Toh saya sedang tidak mengharapkan pemahaman sepenuhnya. Ini hanyalah ceracauan, hanya lintasan pemikiran yang sengaja diikat agara tak keburu lepas. Berharap suatu saat dapat membacanya kembali dengan kening seberkerut keningmu saat kini membacanya. Dan itu tak kalah menyenangkannya.

Tapi saya ingin memberi uraian sedikit, meski boleh jadi bukan sebuah penjelasan. Pernahkan kalian mendengar kalimat ini, ‘maka jika di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang’? Mari, coba kita garisbawahi kata seratus dan sabar. Ya, kata seratus mewakili kumpulan individu-individu yang berhimpun sehingga membentuk sekumpulan dengan nominal tersebut. Sedang kata ‘sabar’, adalah kualitas yang melekati tiap individu tersebut. Sampai di sini, semoga kau sudah mulai mengerti. Ya, ini masalah kulaitas jempolan yang berhimpun membentuk sekumpulan dengan kuantitas lebih, hingga hasilnya pun jauh lebih jempolan. Maka, bukan tentang seratusnya lah yang mengalahkan dua ratus lainnya itu, tapi individu-individu sabar yang berhimpun membentuk seratus oranglah yang jadi pemeran utamanya.

Begitu juga dengan ceracauan di awal tadi. Bukan tentang sepuluh harinya lah yang membuat istimewa, tapi hal-hal istimewa yang mengumpul menjadi deretan waktu sepanjang 10 hari lah yang menjadikannya. Itulah kemudian, yang mampu mengalahkan nilai kumpulan-kumpulan hari lain yang mungkin jauh lebih panjang rentangnya. Tentang ini, Om Pram pernah menyebutkan bahwa orang Aceh itu terdiri dari banyak seorang, hingga akan dengan mudah melewati segala bencana yang melandanya. Banyak seorang, perhatikanlah! Bukankah itu sebuah frasa yang unik dan terkesan bertenaga. Bukan ‘banyak orang’, tapi ‘banyak seorang’. Saya belum mengerti jelas maksudnya, tapi menurut tafsir sempit saya, banyak seorang melambangkan sebuah kumpulan orang-orang yang telah menjadi dirinya sendiri saat mereka sendiri, telah memiliki kualitas hebat bahkan saat mereka masih seorang. Maka, bukankah menjadi tak terbayangkan potensi itu saat berkumpul menjadi sebuah kesatuan yang padu.

Begitulah. Itulah letak istimewanya waktu yang mebentng ke depan ini. Saking istimewanya, saking lain dari yang lainnya, saya bahkan hanya membawa ransel. Ya, meski bakalam melewati waktu sepuluh hari, hanya ransel ini yang saya bawa. Bukan kopor atau tas jinjing besar yang mampu memuat pakaian lebih banyak seperti yang sudah-sudah. Lebih ringkas, itulah memang alasan saya melakukannya. Termasuk masalah naik pesawat ini. Tak perlu mengalokasikan waktu untuk menunggu bagasi. Hingga saya langsung nyelonong saja menuju pintu keluar selepas turun dari pesawat tadi.

Di pintu keluar, beberapa orang terlihat sedang menunggu penumpang yang menjadi target jemputannya. Tapi tak ada tanda-tanda dua orang yang sedianya bakal menjemput saya. Sebelum berangkat tadi, melalui sms, memang seorang teman yang saya kenal lewat jejaring blog sudah menegaskan kembali kesanggupannnya untuk menjemput saya di bandara. Mungkin ia masih di jalan, begitu piker saya.

Saya sedang melangkah belok kanan menuju pusat ATM ketika SMS itu masuk. ‘aku tunggu di pintu keluar’, begitu kira-kira isinya. “Oke, ini juga sudah mendarat”, jawab saya singkat. Saya tak tahu apakah sms itu dikirim saat saya masih di pesawat atau sudah mendarat –saya tak sempat mengeceknya, saya juga tak tahu pasti apakah yang ia maksud dengan pintu keluar itu adalah pintu keluar tadi ataukah pintu keluar di luar sana. Tak jadi soal. Tak usah terlalu dikhawatirkan. Saya tetap meneruskan niat untuk mengambil uang di ATM.

Keluar dari ATM, kembali sms masuk; “kamu pakai baju warna apa?”. Saya tersenyum. Iya, saya memang belum pernah bertemu dengan si pengirim SMS, tapi tentu saja saya sudah pernah bertemu dengan seorang lain yang katanya ikut diajak menjemput saya. Ia adalah orang Bontang, kota dimana saya selama ini bekerja dan tinggal. Kita juga pernah mengadakan acara kopdar bertiga di sana sekali. Jadi tentu saja kita sudah saling tahu. Walaupun tak begitu detail, pastinya ingatan itu akan mudah saja dibangkitkan dengan sekilas melihat penampakannya.

SMS itu kemudian tak perlu dibalas. Sebab beberapa meter setelah membukanya, sepertinya saya menemukan si pengirim SMS tadi. Yang membuat saya yakin, tentu saja bukan karena dia membawa kertas dengan huruf-huruf capital membentuk kata ‘mylathief’ tertulis di lembarnya. Tapi, seorang lagi yang berada di sampingnyalah yang membuat saya yakin. Dialah anak Bontang yang sedang kuliah di Jogja yang di paragaraf sebelumnya saya sebutkan.Dan tentu saja, seperti yang juga saya sebutkan di paragraph sebelumnya, saya mengenalnya.

Kami pun bergegas melangkah meninggalkan Bandara.


(bersambung)

60 comments:

akuAi Semangka said...

wah... backpacker rasa koper nih :D



*typo di mana mana euy!

Catur Wahono said...

sayang skali sy dkampung halaman heehe

Catur Wahono said...

org bontang siapa yah

iqbal latif said...

@ai...kalo yg rasa ransel gmana, ay? Hehe. Typo gmana?

@cawah...dmana kampung halamannya? Pdahal aq bharap dirhmu ngajak kopdar..

rifi zahra said...

perjalanan yang menyenangkan ya, mas iqbal? :)

Sukma Danti said...

haish.... bakalan lebih banyak sambungannya nih, ini baru cerita di bandara coba... :D

akuAi Semangka said...

rasakan sendiri. cek sendiri :p

Desi Puspitasari said...

Halo, Mas Yang Suka Banyak Baca! Senang akhirnya bisa ketemu dan bercakap banyak hal menarik denganmu.

-- Fathîa™ -- said...

Beberapa kali menjejakkan kaki di sana pula. Bertemu orang baru pula. Ditanya memakai baju warna apa pula. :)

iqbal latif said...

@rifzahra...hehe. Sepertinya begtu..

@kbhagia...apakah perlu kalian yg mlanjtkan? Ataukah nunggu sampai brkt..?

iqbal latif said...

@akuai...tante ai galak skarang :p

@rubie..mas yang suka snorkeling menjauh jg merasa senang pula. Haha

@fathia...haha. Tp g keliru, kan?

iqbal latif said...

@akuai...tante ai galak skarang :p

@rubie..mas yang suka snorkeling menjauh jg merasa senang pula. Haha

@fathia...haha. Tp g keliru, kan?

Sukma Danti said...

yaudah lanjutken saja sampai kita berpisah kemarin :D

akuAi Semangka said...

hahaha.... galak dari mana cobaaa? btw, naik tingkat nih aku? sekarang udah bukan keponakan jauh lagi. :))

tun hidayah said...

Senangnya liburan :)

*tenang, saya tidak sedang mengeluh :D

anas isnaeni said...

pengen cutiiiiiii
nunggu bulan Desember baru boleh dapat hak hehehe

wuah ada yang bercerita panjang juga ya...
detailnya tapi ada nuansa plus-plus dengan diksi2ne hehehe

akuAi Semangka said...

nanas tetap juaranya kok :))

iqbal latif said...

@kbhagia...haha. It mah aq semua. Ntar kalo sdh brkt ganti kalian pokoke..

@akuai...iya, soale dirimu lbh pantas jd tante dripada jd kponakan :p

iqbal latif said...

@utewae...tp ada nada2 iri :p

@nanazh...nuansa plusplus? Kayak pijat plus2 ae.. Dirimu lah pemosting tpanjang g bkesudahan :)

akuAi Semangka said...

baiklah, Iqbal! ayo itu tulisannya diedit! kalo komen jangan disingkat-singkat! #galak

iqbal latif said...

Haha. Tp saling menjadi om dan tante lbh oke...

*jaringannya kurang oke, tante..

akuAi Semangka said...

eeh, rasanya kurang oke ah. aku ga cocok dipanggil tante. secara aku ini masih muda dan energik #plak :D

al fajr "fajar" said...

kapan ning jogja?

desi puspitasari said...

wingi, mas.

al fajr "fajar" said...

owalah..

iqbal latif said...

@ai...tante2 yang energik ada loh, ai..hihi

@fajar...fajar lama nggak ngempi, sih!

al fajr "fajar" said...

yo ga usah nggo tanda seru ngunu ngopo to Bal..
haha

iqbal latif said...

Fajar, coba, deh, dilihat kembali pelajaran bahasa indonesia pas Sd dulu mengenai penggunaan tanda seru :)

al fajr "fajar" said...

emoh...

pokokmen ga seneng karo tanda seru.. suka2 dunkz

desi puspitasari said...

wah, jane wingi yo ketemu fajar. iso jak gelut rame-rame. mesti seru!

iqbal latif said...

Fajar, kita hidup dikelilingi oleh sekumpulan tata nilai, tak hanya suka-suka. Betapa berbahayanya jika kita menjlani hidup hanya dengan hujjah 'suka-suka dunkz'... :D :D :D

al fajr "fajar" said...

-______________________-

sakkarepmu lah

al fajr "fajar" said...

huahahaha..... ojo mbak.. ndak menang aku repot.. =))

iqbal latif said...

kalo menghadapi fajar cumA BUTUH SENJATA tongkat kasti sama bolanya.. Sudah kayak tanda seru :)

desi puspitasari said...

*thuthuk'e mas Fajar*

Catur Wahono said...

wonogiri lhoooo

sbenere udh tau kl sampeyan kejogja. brhub lg dkmpung jd ya gbs kopdar deh

iqbal latif said...

wonogiri iku solo, yo? oke.. gpp.. Lain kali kudu ada di tempat lek aku nang jogja..he he

Catur Wahono said...

jiah beda kali ama solo msh jauh keselatan..g adoh2 amat sih. #hri gini g ngerti kota gaplek
oke2 insyaallah

HendraWibawa WangsaWidjaja said...

ingin sekali menjadi orang yang sabar itu ...

anas isnaeni said...

hiiiiiiiiiiii menyindir niiiiiiiiiiiiih
tapi jujur aku juga suka cerita panjang kok
makanya berusaha mengkonsistenkan diri pada kepanjangan cerita *halah

Salman Rafan Ghazi said...




wah, cutine dowo. 10 dino mung nggo ngenean tok. mbok sing lebih bermanfaat. 10 dino dinggo nikah. :))

desi puspitasari said...

Hahahahaha. Komene budhe.. Hahaha.

iqbal latif said...

@cawah...ora tw mlebu tv, sih!
@hwwibntanto...insyaALlah, bang!
@nanazh...iku yo ora nyindir. Langsng nyemprot :p
@topenk...ahiyy! Karepku yo ngono, bude. Iki alokasi gawe kuwi. La bhubung nganti cutine arep hangus calone ora njebul2, yo digawe nang karjaw ae

Salman Rafan Ghazi said...

asyeem.. diceluk budhe ning iqbal. ngejak rusuh po, piye? ahaha..

iqbal latif said...

Aku kan cm melu2 :p...

iqbal latif said...

Aku kan cm melu2 :p...

akuAi Semangka said...

tanya: melu2 itu apa sih?

Salman Rafan Ghazi said...

itu lho, i: melu-melu kucing

desi puspitasari said...

Budhe ndengaren dina iki lucu. Bar #uhuk #kode karo k.a.m.u. po? Ahiyy..

Sukma Danti said...

hahahah... :))

budhe emang lucu, kemarin aja dia sumringah banget chattingan sama aku mbahas 'sesuatu'. Dasar bocah! :))

desi puspitasari said...

"Dasar bocah!"

err... ora...salah...pilih...kalimat...koe, nTeh?

Hahaha.

Sukma Danti said...

ssstt... aku sdg membangun pencitraan untuknya... :p

Lina Komarudin said...

:), melu itu artinya ikut i...

akuAi Semangka said...

owh... makasih teh. yayaya ^^

Salman Rafan Ghazi said...

hoaaeemmm...

iqbal latif said...

mari..mari..silakan dibaca lanjutannya ya!

-- Fathîa™ -- said...

Kalau saya gimana ya.. #lirik blog yang bisa bikin tidur itu :))

iqbal latif said...

Kalau aku pas jaman kuliah dulu, pas liat laporan langsng bikin ngantuk. Hehe

Catur Wahono said...

soalnya org wonogiri apik2 halahhhhh

iqbal latif said...

opo hubungane? ;p