Wednesday, October 26, 2011

-perpisahan-

Perasaannya memang selalu begini. Seperti memanggul ransel pergi dari rumah untuk kembali merantau, entah kuliah entah kerja. Berat, terasa berat, sebab ada kenyamanan yang telah sekian waktu membuai yg perlahan kita punggungi adanya. Tapi tentu saja, ada semburat harapan membayang di depan. Meski kadang begitu tipis, meski kadang dengan seteguh hati kita yakini sendiri adanya. Tapi itu lah kemudian yang membedakan. Itulah kemudian yang membedakan langkah ini dengan langkah bergegas lain yang hanya sekedar menjauh, yang hanya didorong oleh keengganan untuk tetap tinggal tanpa sebuah keyakinan atau bahkan sekedar harapan akan keadaan yang lebih baik atau membaikkan di depan.

Perpisahan memang begini. Ia seakan telah menjadi sebuah jalan terpahit untuk menegaskan keberartian sesuatu. Seperti bayi yg memisah dari rahim, itu lah kelahiran. Mungkin akan ada suara tangis, mungkin ada teriakan, sebab plasenta penyuplai kenikmatan itu seketika terputus. Tapi dari situ lah kita mengerti, bahwa kaki, tangan, dan segenap organ tubuh yg selama ini seolah tak berarti, menemukan salurannya. Kita akan berjalan dengan kaki, kita akan merangkai dengan tangan, dan kita juga akan belajar dengan kesemua indera yang ada : kita akan bekerja.

Maka ketika hari ini kaki-kaki ini mesti melangkah, dan KMP Muria bakal mengangkat sauhnya untuk membawa semua yang ada di dalamnya menjauhi gugusan 39 nusa ini, sebetapapun diri ini telah dibuat jatuh hati, kita mesti melakukannya. Tak bisa tak. Sebab ada yang mesti dilakukan kembali. Lagi. Begitu menagih-nagih. Dan memang beginilah perpisahan itu. Atau, lebih tepatnya, beginilah perpisahan itu seharusnya. Perpaduan antara enggan dan ingin. Enggan untuk meninggalkan, tapi ingin untuk menuju. Hingga jawaban terbaik untuk keadaan ini adalah, bagaimana apa-apa yang ditinggalkan itu, senantiasa memberi spirit di keadaan yang baru. Terus-menerus, tak terhentikan.

Maka begitulah. Apalah artinya sebuah perjalanan jika hanya menjadi perjalanan kering makna. Apalah arti menyinggahi tempat baru tanpa kehadiran akal, pikiran, dan hati kita untuk selalu mencoba dapat pemahaman. Karimunjawa akan segera tertinggal. Hamparan pasir itu, gugusan karang indah itu, ikan-ikan cantik warna-warni itu, serta pemandangan megah itu, sebentar lagi akan menjadi kenangan yang hanya akan bisa dipanggil kembali lewat album foto. Tapi pemahamannya, kesadarannya, serta berbagai cerlang pemikiran yang telah hadir, harus terus hadir. Untuk menginspirasi. Untuk memberi energi.

Selamat tinggal karimunjawa. Bahwa kau adalah gugusan makhluk yang begitu indah dibentuk, adalah sebuah keadaan yang seharusnya disyukuri. Maka semoga kita, orang-orang yang katanya diberi kuasa untuk mengelolanya, benar-benar mengerti implikasi syukur ini. Hinga kau masih akan tetap indah dijenguk kembali. Hingga kau masih tetap cantik di masa anak-cucu kita nanti. Semoga saja.


@pojokan KMP Muria

35 comments:

iqbal latif said...

Postingan pertama dari hape

fajar embun said...

bisa tho?pake apa?opera?

fajar embun said...

..di tunggu kedatangannya di Malang lagi mas..di bumi arema..heheee

tun hidayah said...

Karimunjawa itu dimana ya?

fauziyyah arimi said...

ada beberapa frasa yg g sy ngerti.

Iwan Yuliyanto said...

Keliling - keliling terus, mas Iqbal

iqbal latif said...

@fajarembun..,pake opera. Entah ini mampir malang apa enggak
@utewae...masuk kab jepara. Coba digoogling

iqbal latif said...

@faraziyya...apa saja it? :)
@fightforfreedom... Trz gmana, nih?

Lalu Abdul Fatah said...

Tulisan ini buat KarJaw? Bisakah ia membaca? Hehehe

iqbal latif said...

Kalo bgtu, bersdiakah kau menyampaikannya?

Rifki Asmat Hasan said...

belum pernah ke karimunjawa

yasir burhani said...

itulah dan itu lah :)

Sukma Danti said...

Setauku, bayi lahir lalu menangis bkn krn terputus plasentanya :D

HendraWibawa WangsaWidjaja said...

merantau ... he he he ...

rahmah ... said...

Wah jalan2 rupanya :)

anas isnaeni said...

jadi inget saat mengakhiri sesi pelatihan bareng temen2 di puncak huhuhu
pengen ketemuan lagi... sebulan sekali diundang ke pusat hehehe

Lailatul Qadr said...

Like this much, Mas...

*selalu suka baca tulisan Mas Iqbal...

desi puspitasari said...

Jalan kaki keluar dari lambung kapal dgn menggendong ransel itu... uh-yeah!

*nggusah sapi*

HayaNajma SPS said...

mau potonya :D

desi puspitasari said...

Poto nggusah sapi, Bang? :))

HayaNajma SPS said...

boleh neng, apapun :D

iqbal latif said...

berarti perlu dipernahkan....

iqbal latif said...

he he... yg benar gimana ya? :)

iqbal latif said...

hho..iya kah? bersedia membuat postingan jawaban benernya?


#kata malambulanbiru, komen ini nggak nyambung

iqbal latif said...

hwoo... selama ini, setiap saat, saya sudah merantau, Baang!

iqbal latif said...

kayake kakrahmah perlu jalanjalan juga.. biar g mules :)

iqbal latif said...

apa? ingin ketemu aku? sabar lah, Nak! suatu saat momen itu akn tercipta :p

iqbal latif said...

wah, mbak ino muncul lagi...

iqbal latif said...

kayake nggusah sapi dengan kulit mengeksotis gini tambah serem--

iqbal latif said...

poto apa dokter fili?

Lailatul Qadr said...

-__-"

gak boleh tah, Mas??? Ya udah, saya tak menghilang lagi ajha...

*ting

iqbal latif said...

semalem, semarang tak lewati, lo!

Sukma Danti said...

yes i do... *hahahahah... :))

cari info sndiri aja sono ah, kan tgl googling...

#gak nyambung yoben, La kesalahanmu lebih menonjol di mataku dibanding esensi cerita yg ingin kau sampaikan :P :P :P

anas isnaeni said...

hiiiiiiiiiiii ge-er yo karo kanca2ku to yo...

eh mase yo kancaku deng hehehe

rizqi dwi kusuma said...

kerennnnn