Tuesday, October 27, 2009

Dari Surabaya, jalan lain menuju Bontang

Setahu saya, waktu itu, baru ada dua pulau lain yang pernah saya kunjungi. Yang pertama adalah Madura, pulau yang relatif terdekat dan  masih menjadi bagian dari propinsi tempat saya berdiam. Sepertinya waktu itu saya masih kecil ketika melakukannya hingga tak terlalu banyak ingatan yang bisa gali saat ini. Yang kedua adalah Bali, beberapa tahun yang lalu, oleh sebuah ‘kebetulan’ karena teman seangkatan mengagendakan Bali sebagai tujuan samping setelah melakukan kunjungan industri yang kami lakukan sampai Jember kala itu. Tujuan samping yang nyatanya menjadi utama.

Beberapa pulau lain sebenarnya yang menjadi angan-angan saya untuk menjadi pulau lain ketiga yang bakal saya injak. Salah satunya adalah Masalembo, pulau kecil antara Jawa dan Kalimantan, tempat patner skripsi saya lahir, besar, dan bertumbuh. Pulau yang (katanya) eksotik dengan butiran pasirnya yang memutih dan lautnya yang masih jernih. Salah duanya kemudian adalah Sempu, pulau kecil di selatan Malang yang setahu saya tak berpenghuni. Angan-angan saya kala itu sepertinya Sempu bakalan menarik untuk dijadikan tujuan berpetualang mengenang masa-masa berkemah pas Pramuka SMP dulu. Tapi, ternyata keduanya hanya tinggal dalam angan-angan belaka. Justru yang menjadi ketiga kemudian bukanlah pulau kecil tak berpenghuni layaknya Sempu, tapi sebuah pulau raksasa yang bahkan jauh lebih besar dari Jawa; Borneo.

Kejadiannya delapan bulanan yang. Pukul sebelasan di ponsel saya ketika saya (atau kami) mendarat di Sepinggan, tapi saya tahu telah pukul dua belas waktu setempat sebab Balikpapan, tempat bandara Sepinggan berada, termasuk wilayah Indonesia tengah. Seingat saya, pas SD dulu, saya sudah dikenalkan bahwa Kalimantan adalah sebuah pulau alami dengan hutan tropisnya yang melebat, orang utannya yang besar, serta orang dayaknya yang masih begitu harmonis dengan alam. Tapi setelah kuliah, setelah informasi juga sudah deras menyerbu, saya disuguhkan sebuah gambaran bahwa Kalimantan telah menjadi sebuah pulau cantik yang mulai bopeng di sana sini. Pembalakan liar sepertinya tak pernah absen tersuguh dalam berita, dan eksploitasi barang tambang nampaknya juga tak lagi mengindahkan lingkungan. Pembuktiannya baru dimulai beberapa jam kemudian.

Tujuan saya bukanlah Balikpapan, tapi Bontang. Sebuah kota yang belum begitu saya kenal yang katanya masih berjarak 5-6 jam perjalanan via darat dari balikpapan. Tapi kami tak langsung meluncur ke Bontang dulu. Terlebih dulu kami beristirahat sebentar di kantor perwakilan untuk makan siang serta sholat. Sejenak kami melintasi Balikpapan yang katanya kota indah itu. Kota yang saya ketahui dinobatkan sebagai kota termahal di Indonesia lewat sebuah potongan berita yang saya baca pas di surabaya dulu. Memang, kemudian saya bisa menyimpulkan bahwa tak ada sama sekali gambaran kalau kota ini tak lebih maju dari kota-kota besar di jawa. Megah, modern, tertata, nampaknya sudah menjadi kata sifat yang melekatinya. Kota ini memang cantik. Atau mungkin seperti itulah yang bisa saya tangkap dari sekelabat perjalanan. Kesan sepintas.

Beruntungnya, seorang teman ternyata membawa peta kaltim. Sebelumnya saya tak terlalu mengerti dimanakah lokasi tujuan kami persisnya di peta. Hanya kata-katanya, dan saya tak memastikannya. Baru kali inilah saya tahu. Ternyata, untuk menuju ke Bontang dari Balikpapan ini, kami harus menaiki pulau ini (maksud menaiki tentu saja ada dalam Peta). Melewati Samarinda yang notabene ibukota kaltim. Kira-kira samarinda menjadi titik tengah antara balikpapan-Bontang. Tak ada Bandara memadai di Samarinda, begitu juga di Bontang, yang bisa melayani penerbangan dari surabaya.

Kira-kira menjelang ashar kami berangkat ke Bontang naik Bus. Berduapuluh delapan. Agak sedikit kecewa sebenarnya pas pertama kali mengetahui kalau kami ternyata tak jadi naik pesawat yang hanya butuh waktu sejaman, tapi segera terhibur oleh pikiran sendiri bahwa mungkin akan lebih berkesan kalau perjalanan perdana menyisiri timur kalimantan ini dengan berkendara bus. Waktu yang jauh lebih panjang akan berarti waktu yang panjang juga menikmati jengkal-jengkal kalimantan. Bukankah, pengalaman perdana akan selalu lebih menghadirkan makna.

Sejujurnya, mungkin separuhan perjalanan saya isi dengan tertidur (tak konsisten dengan keinginan di awal-awal tadi untuk menikmati perjalanan), tapi kala terjaga saya disuguhi berbagai gambaran. Benar, memang di kanan kiri jalan masih di penuhi pepohonan khas hutan. Tapi jauh di dalam hati ini sebenarnya menginginkan lebih. Sebenarnya saya menginginkan pohon-pohon yang tinggi menjulang khas hutan berusia ratusan tahun. Kokoh, rimbun, tinggi, yang matahari bahkan tak mampu menembus tanah. Tapi keinginan itu nyatanya tak jua tergapai. Sepertinya berita pembalakan tak beretika itu benar adanya. Hanya ada pohon-pohon kecil yang masih berusia muda, beberapa bahkan lapang hanya ditumbuhi kelapa sawit yang masih setinggi orang dewasa. Seketika saya kecewa, tak tahu pada siapa.

Mencapai Samarinda kala maghrib tiba. Dan inilah untungnya. Saat senja selalu menjadi saat indah. Remang-remang yang tercipta membuat suasana kota menjadi berbeda. Sebagai ibu kota propinsi, Samarinda memang lebih besar dan ramai. Jalanan terlihat padat dipenuhi kendaraan, pertokoan yang berjajar, dan beberapa orang nampak menghabiskan sore di tepian sungai Mahakam. Setiba di Samarinda inilah saya baru tahu kalau samarinda dilintasi  sungai Mahakam, itupun setelah beberapa rekan seperjalanan ramai menyebut kalau sungai besar yang kami lihat itu bernama Mahakam. Kamipun juga sempat merlintasi jembatan yang mengangkanginya. Kemudian, ada satu bangunan yang cukup menyita perhatian saya kala di Samarinda ini; Islamic Center. Megah dan modern. Sepintas, kelihatannya bangunan itu masih baru. Dugaan yang kemudian saya ketahui memang benar.

Selanjutnya, tak terlalu banyak yang bisa diceritakan sepanjang perjalanan Samarinda-Bontang. Malam benar-benar membatasi pandangan, dan lagi-lagi ngantuk menyerang. Untunglah waktu itu tanggal pertengahan Hijriyah, sehingga bulan yang membulat sempurna cukup menghibur di sepanjang perjalanan yang penuh kelokan dan naik-turun. Hanya bebarapa kali saja kerlip cahaya terlihat di kanan-kiri jalan menandakan adanya perkampungan, tapi selebihnya yang ada hanya kegelapan yang setengah-setengah oleh sebab purnama. Penerangan listrik juga terlihat minim. Berbulan kemudian saya baru mengerti kalau kaltim ini masih kekurangan pasokan listrik, sebuah ironi yang cukup mengganggu mengingat Kaltim menjadi penghasil batu bara dan gas bumi. Dua sumber energi yang kerap dipakai membangkitkan listrik.

Saya terbangun ketika kanan-kiri jalan mulai banyak lampu menyala. Kami sampai di Bontang ternyata, begitulah kira-kira yang saya dengar dari percakapan beberapa. Memang tak ada gedung-gedung menjulang bermandikan cahaya yang dulu membuat saya terpukau kala pertama kali berkeliling Surabaya di malam hari. Suasana juga terlihat sepi untuk ukuran waktu yang baru akan menginjak pukul sepuluh malam waktu setempat. Tapi beberapa waktu kemudian saya tertambat ke suatu pandangan. Sebuah kawasan yang sepertinya terpisah, hanya terlihat dari kejauhan, begitu mencolok dengan lampu kekuningan yang memenuhi bangunana beraneka bentuk. Tinggi rendah, besar kecil, panjang-pendek. Berpendaran. Indah.

“singapore!”, seseorang berseru……



(bersambung. Insyaallah)
 
gambar diambil dari sini

 

48 comments:

akuAi Semangka said...

Di bontang ngapain om?

Hwaaa,,jadi inget jodoh dari kaltim.. Bukan jodoh dink ternyata!

Lani Imtihani said...

mengabaikan jarak tempuh dan rasa capek,,,menurutku perjalanan darat bpn-btg lebih menyenangkan dari pada naek pesawat PKT,,,apalagi waktu melintas sungai mahakam,,yang penuh dengan kapal pengangkut batubara,,menyenangkaaan ^^

iqbal latif said...

ngapain yah?? banyak! makan, tidur, jalan2, membaca, menulis, berangkat , pulang..he he

iqbal latif said...

iyah bener mb! tp kalo liburnya empat hari, pingin pulang, jadi gimana gt kala menyadari kalo separuh hari tersita untuk perjalanan bontang-bpp

Lani Imtihani said...

hehehe,,sepakat juga,,,^^

shofie syamwiel said...

aku juga penasaran ama ne pulau bal...
secara podo meduro-ne hehehhe....
piye?? wes kerasan nang bontang ta??

iqbal latif said...

ini orang madura sok berjawa2..he he
kerasan?? pertanyaan tg selalu sulit dijawab.. biasa ae. Sesekali pingin pulang. Ssekali seneng menatap lamat2 apa yg ada.. begitulah

shofie syamwiel said...

heheheh...kalo aku berbahasa madura jaya..emang kamu ngerti??
ntr malah roaming....:D

akuAi Semangka said...

Jadi ingin ke kalimantan..
Satu pulau yg ga bakal kena gempa..
Apalagi kehati-nya, wuiih.. subhanallah..

AKP Yudi Randa said...

itu fotonya? awesome!!

iqbal latif said...

katanya sih pernah gempa..tapi kuecil....
"kehati-nya" itu apaan ai?

iqbal latif said...

itu fotonya?? anak siapa yah??

akuAi Semangka said...

Kehati=keanekaragaman hayati n_n

iqbal latif said...

ini bahasanya anak biologi yah???
banyak tuh monyet! kadang kepergok menjarah mangga tetangga. Lucu, nggendong anak di perutnya

akuAi Semangka said...

Yuph.. Fak kehutanan juga familiar dgn istilah ini..
Btw, monyet atau kera? Heheu.. Beda loh!
Monyet: primata berekor
kera: primata ga berekor

emm,,di Kalimantan itu banyak monyet dari Genus Macaca. Ada juga bekantan.. Huhu.. Kapan yaa bisa pengamatan lapangan ke Borneo..

iqbal latif said...

entah lupa...
ada dua jenis primata yg sering terlihat. Yg satu yg umum, yg sering dipake topeng monyet...
yg satunya yg lucu, gemuk, bulunya agak terang kemerahan, menggendong anaknya di perut. Sayang sekali g bw kamera...
btw..di sini perkutut liar lo!

akuAi Semangka said...

Oh, yg sering dipake topeng monyet itu Macaca fascicularis atau monyet ekor panjang..
Kalo yg warna merah, hidungnya gede ga? Kaya maskot dufan? Nah, itu bekantan..
Mungkin karena kelimpahannya tinggi jadi perkututnya ga dipelihara :D

sefano fafa said...

org bontang juga y

iqbal latif said...

sekarang iya..hehe

sefano fafa said...

bontangnya dmn?

iqbal latif said...

deket mulawarman

sefano fafa said...

deket mulawarman ada gor ama koperasi

oh yach koperasi masih pameran kha ?

iqbal latif said...

namanya sefa ya? orang bontang? hoho...


kayake nggak lagi


masak sy tinggal di GOR atau koperasi?

akuAi Semangka said...

lah, aku jadi ketawa sendiri baca komenku duludulu :))

iqbal latif said...

ha ha.....

tak berniat menghapusnya, kan?

akuAi Semangka said...

haha.. udah setahun yang lalu. ga lah. biar jadi kenangan. kalo dulu akuai obsesi banget pengen ke kalimantan :D

iqbal latif said...

sekarang nggak onsesi lagi? :)

akuAi Semangka said...

masih ingin. tapi udah berkurang kadarnya. hehe..
dulu waktu ngerasa ga berjodoh dengan kalimantan rasanya sedih gimana gitu.. :p

tapi, sekarang belum ada tawaran jadi volunteer atau proyek penelitian di sana juga..
kalo cuma sekadar backpacking rasanya pulau jawa masih banyak tempat bagus yang belum dikunjungi.. (plus biaya dan kawan perjalanan yang sulit dicari, hoho..)

akuAi Semangka said...

bahkan mungkin sekarang keinginannya lebih pragmatis lagi: yang penting menjejak tanah kalimantan

udah ga terlalu biolog jadi gini neh. haha..

iqbal latif said...

oke... Nanti tak undang wes??


basyangkan, kasltyim saja lebih luaS dari jawa

sefano fafa said...

yupz ku anak bontang juga... hehhex

iye tau

di PC khan ?

akuAi Semangka said...

hahay.. sepertinya sudah dapet nama neh..

undangannya nanti tolong diselipkan tiket PP yaa! :p

iqbal latif said...

@gadisamnesia...la situ rumahnya dimana..? kayake sekitaran sy juga
@akuai..blm tentu juga. Dimanapun, insyaAllah tak undang lah :p

sefano fafa said...

rumah ku jauh dari humz mu..
perlu 6 kilo mencapainya..
hahax..
klo g salah sich itungan ku

iqbal latif said...

kayake aku tw..haha. sotoy

sefano fafa said...

enak tuch Sotoy Lamongan..Sotoy Banjar.. Sotoy Jember..
hahax..
g ke Pembukaan Pesta Laut kha ?


www.lok21.com

iqbal latif said...

dimana?ada apa itu?

sefano fafa said...

Di Bontang Kuala

ada laut, ada orang yang nonton.. ada penjual
hahax

akuAi Semangka said...

jyah, masih belum juga?
Eh, nanti tolong undang2 aku dari jauh2 hari yaa! :)

iqbal latif said...

jauhjauh hari itu berapa hari? :)

akuAi Semangka said...

30? Hehe.. Tapi kalo kejauhan belum tentu datang sih..

iqbal latif said...

jadi kayak judul film: 30 hari mencari i***i


:D

akuAi Semangka said...

H-30 harusnya udah ga sibuk nyari lagi kali... -_-'

iqbal latif said...

ada bukunya itu...27 hari mencari istri apa gimana gt.....


eh eh...akhir desember anak mp ada yg nikah g?di jakarta..

akuAi Semangka said...

adanya di bekasi. Tgl 26. Ichad (ketapelgaza) dengan ai kumala (akupenuliskacangan).

Blum dapet undangan yg lain..

iqbal latif said...

bekasi itu jauh ya?? ha ha..*udik banget, nih*


samasama bukan kontak

akuAi Semangka said...

kalo dari jaktim sih deket. Setengah jam. Tapi kalo dari jaksel-depok, bisa sampai 1,5 jam. Oya, ini jalur angkot yaa! Kalo naik taksi bisa lebih cepat, lewat tol.

Mau ke jakarta lagi?

iqbal latif said...

gosipgosipnya mau natal n lebaran di sana... Gosip tapi... Belum valid



**itu bukan berarti merayakan lo!