Wednesday, July 6, 2011

-sudut pandang-

Apakah kau pernah melihat sepasangan yang sedang berboncengan motor. Nampak tenang melintasi jalanan yang boleh jadi ramai. Lalu mata kalian menangkap pemandangna yang mungkin mengakibatkan dirimu memikirkan banyak hal. Hei, bukankah si perempuan, yang nampak merekatkan badannya pada lelaki yang memboncengnya itu, terlihat hamil. Tidak hanya itu, ia bahkan terlihat hamil tua. Nampak mencolok betul perutnya yang membuncit oleh sebab bayi yang dikandungnya.

Apakah yang kau pikirkan saat itu? Apakah seperti yang ada di pikiran seorang teman yang tiba-tiba saja menyayangkan sikap si lelaki, suaminya, yang dengan beraninya membonceng istrinya itu di jalanan umum yang riskan sekali akan terjadi sesuatu. Bagaimanakah kalau begini, bagaimanakah kalau tiba-tiba terjatuh, bagaimanakah bila tba-tiba, ah, bukankah benturan sedikit saja dapat berakibat fatal.

Ataukah kalian justru menjadi orang-orang yang refleks berseru tasbih di saat pandang matamu menubruk potret kebersamaan dalam tunggangan dua roda itu? Mengungkapkan tentang betapa tentramnya si istri dalam boncengan suaminya, benar-benar tsiqoh. Amat percaya bahwa suaminya akan mengendara dengan kesadaran penuh, bahwa di boncengannya ada dua orang spesial yang mesrti ia jaga, hingga tak ada lagi keraguan, tak ada pikiran buruk tentang ini itu. Suaminya sedang menjalankan tugasnya dengan baik, tinggal Allah yang menentukan segalanya. Maka ia begitu tenang, meski dalam keadaan hamil besar, meski jalanan ramai, meski mereka hanya berkendara motor.

Di sudut lain, pernah jugakah kau melihat pemandangan ini. Seorang ibu yang tengah membantu balita kecilnya membuang ingus yang memenuhi hidungnya. Kau pasti tahu, balita belum bisa membuang ingusnya sendiri seperti kita orang dewasa yang dengan mudahnya memencet satu lubang hidung lalu mengeluarkan sedikit tenaga untuk memaksa ingus itu meloncat dari lubang satunya. Maka, yang dilakukan ibu itu adalah dengan menyedot ingus balitanya itu dengan mulutnya. Membiarkan ingus itu sepersekian detik berada di mulutnya, menyatu dengan air ludah, untuk kemudian ia tumpahkan ke tanah.

Seorang teman, melalui ceritanya, demi melihat pemandangan itu, mampu menjadikannya orang yang begitu jijikan ketika makan. Mudah sekali kehilangan nafsu makan –bahkan hendak muntah—hanya dengan celetukan tak sengaja tentang sesuatu yang baahkan bagi orang kebanyakan biasa-biasa saja –tak menjijikkan. Pemandangan itu, pemandangan seorang ibu menyedot ingus balitanya, bagi seorang teman itu, adalah sesuatu yang jorok dan menjijikkan. Bahkan saking joroknya, itu terangkum benar dalam memorinya, hingga mampu mempengaruhi sikapnya.

Padahal untuk pemandangan yang sama itu, seorang lain hanya mampu mengucap asma Allah. Tak ada hal lain yang ia pikirkan selain kasih sayang seorang ibu, yang dengan luar biasanya, yang dengan ikhlas dan begitu biasanya menyedot ingus (orang lain) yang umumnya menjijikkan itu untuk beberapa saat berada di mulutnya. Sama sekali tak ada hal mejijikkan yang tergambar. Hanya lah potret kasih sayang, hanyalah fragmen cinta yang tak berujung. Serba indah dan menentramkan.

Sudut pandang! Aha, itu lah ternyata yang membuat beda. Itulah yang membuat satu hal yang sama menimbulkan penilaian yang bahkan amat berbeda. Maka tentu saja, karena disebut sudut pandang, tak ada yang perlu dipersalahkan. Seorang yang melihat sesuatu terlihat jelek padahal yang lain menganggapnya kebalikannya, boleh jadi karena memang baru hanya dari sudut pandang itu lah ia mampu melihat. Maka seharusnya tak perlu ada amarah. Sebab seringkali sudut pandang itu, hanyalah masalah lengkap dan tak lengkap.

Maka menjadi manggut-manggutlah saya dengan pernyataan Wimar Witoelar ini; "Saya nggak mau mengubah pendapat orang yang sudah punya pendirian, tapi mau berbagi perspektif pada siapa saja dalam suasana sejuk." Ah, menyejukkan benar kalimat ini.



#kamar 208, Bandung
#060711

78 comments:

HendraWibawa WangsaWidjaja said...

ya betul ... itu sudut pandang ternyata, ya ...
tulisan yang sangat menarik ...

*mungkin komen saya pun berdasarkan sudut pandang ... he he he ...

iqbal latif said...

sudut pandangnya sudah lengkap belum? jangan dari atas saja ya? :)

HendraWibawa WangsaWidjaja said...

untuk melihat dari sudut lain, saya harus beranjak dulu dari tempat saya ... he he he ...

iqbal latif said...

sayangnya tak semua mau beranjan dari tempatnya agar mampu melihat dari sudut oandang lain itu :)

Heru Nugroho said...

maka gapailah ilmu yang tinggi agar punya sudut pandang yang luas dengan perspektif lebar nan lapang. . .. :)

HayaNajma SPS said...

ibuku dulu juga gitu, nyedot ingusku :D

iqbal latif said...

hoho...betul sekali, sauidara.....

iqbal latif said...

past asin ya? :)

haitami bin masrani said...

:) sudut pandang ?

saya selalu tertarik dengan gabungan dua kata ini, meskipun kadang untuk mengartikannya secara verbal terhadap suatu pemahaman membutuhkan sebuah laku lain, data....dan beratus - ratus kata lainnya :D

hehehehehe....salam ngantuk Mas

Di Bandung ya ? sayang saya masih belu bisa menikmati cuti saat ini :D

rahmah ... said...

Hmm...lagi2 diajak mikir,hehe..
Nice writing

HayaNajma SPS said...

iya :D bapakku juga nyedot.. mungkin enak ;p

desi puspitasari said...

@Abang: podo ternyata.

@Iqbal: sama seperti lensa fix atau tele, kemampuan lebar sudut pandang mata manusia 45 derajat. Kalau lensa wide barulah 180 derajat.

Rifki Asmat Hasan said...

yup sudut yg berbeda memunculkan pandangan yg berbeda pula.

Sukma Danti said...

setauku klo masih dalam kandungan disebut janin :d

Sukma Danti said...

Aku tidak terlalu ingat bagaimana ibu mengasuhku waktu ku bayi dulu, tetapi dilihat dari sikap beliau, ak menjadi yakin beliau telah melakukan yang terbaik dalam hidupnya sebagai ibu :')

rinda erinda said...

mana yang lebih ngaruh pada cara pandang, nature atau nurture?

Teguh Rasyid said...

ah, perspefktif.. :)

dina riandani said...

jadi ingat film "Patch Adams" disalahsatu scenenya seorang ilmuwan yg dirawat di RSJ memperlihatkan 4 jari di depan mata adams dan bertanya "berapa jari yg kau lihat?" ketika Adams menjawab "empat", maka si ilmuwan mengatakan "bertambah lagi satu orang gila".. lalu dilain kesempatan si ilmuwan mengatakan "coba jangan terfokus pada jari tetapi pandanglah lebih jauh, sekarang berapa jari yg kaulihat?" Adams menjawab "delapan"... jangan terfokus pada masalah, cobalah berpikir dan memandang lebih luas/jauh.. ketika banyak orang bahkan dokter ahli jiwanya pun mengatakan si ilmuwan td memiliki gangguan jiwa karena terobsesi dgn ilmu ternyata ia mungkin memiliki tingkat kewarasan yg lebih tinggi hanya bila dinilai dengan sudut pandang yg berbeda. setiap orang memiliki alasan dan tujuan dari apa yg dilakukannya..

Lalu Abdul Fatah said...

Perspektif, saya jadi inget spektrum :)

desi puspitasari said...

salah satunya jadi mikir: pingin, kapan, yaa...?

tun hidayah said...

yupyupyup, sepakatsepakatsepakat :)

iqbal latif said...

sekarang sdh seger, kan?

iya, bang hai... sedang di bandung. Ini pun sedang training.. Orang2 pabrik seringnya sulit cuti :)

iqbal latif said...

aduh, saya nggak ngajak2 kok...


berbahagialah kita yg masih mw berpikir

iqbal latif said...

asin2 piye ngunu yo? he he

iqbal latif said...

pengen tuku :D

iqbal latif said...

kalo aku nyebut bayi nggak boleh, ya? :p

iqbal latif said...

hwee... komen iki nanggapi seng ndi yo? apakah ini perpaduan antara cerita satu dan dua?

iqbal latif said...

komen ini memaksa saya googling :)

tks....
sepertinya yg mengajukan pertanyaan sdh ada jaabannya .....

iqbal latif said...

komen ini memaksa saya googling :)

tks....
sepertinya yg mengajukan pertanyaan sdh ada jaabannya .....

iqbal latif said...

ah, iya!

iqbal latif said...

belum nonton filmnya.... dan, sepertinya saya tak terlalu ngeh dengan yg dokter dina tulis :)

(piss)

iqbal latif said...

apakah yg mengaitkan keduanya, tah?..he he

iqbal latif said...

ha ha...


naik sepeda kebo saja

iqbal latif said...

ada upin-ipin model baru :)

rinda erinda said...

saya asli belum punya jawaban *dan belum googling*

Sukma Danti said...

bukan gak boleh, gak tepat

Sukma Danti said...

-_-? aku yg g dong ama komenmu skrg...

ak nanggapi jurnalmu, dri sudut pandang seorang anak, nguno...

iqbal latif said...

jadi antara apa yg ada di orang tersebut...sama apa yg didesak oleh lingkungan? gitu....

iqbal latif said...

iya, deh...kalo begitu diganti dengan 'bakal bayi' :)

iqbal latif said...

oke, deh...mungkin sudut pandangku yg belum terlalu lebar untuk melihat sudut pandangmu atas postinganku :p

Sukma Danti said...

hahah... njlimet amat :D

iqbal latif said...

perlu diurai...

rinda erinda said...

ya, antara sifat dasar/bawaan dari lahir dan apa yang dibentuk lingkungan. saya pernah ketemu orang yang gak berubah juga pandangannya meskipun pengalamannya banyak, tetap dangkal dan sempit. tapi ada juga orang yang kebijaksanaannya bisa berubah dan makin bijaksana. jadi kira2 mana ya yang lebih ngaruh?

iqbal latif said...

ah, yg gitu banyak mbak...tak selamanya yang sudah kenyang pengalaman, yg sudah khatam banyak buku, bisa menjadi pribadi yg bijak... Tak selamanya. Bahkan, ketika gagal mengambil sebuah kesimpulan yang pas, pengalaman kian membuat picik seseorang..hoho...

saya sering mbahas hal ini

dina riandani said...

hiks2.. T_T okey deh... coba deh taro di depan wajah (kira2 10 cm dr mata) 4 jari, kalau kita fokuskan pandangan ke jari maka tampak 4 jari itu saja. tapi kalao kita melihat jauh/tidak difokuskan ke jari2 maka akan tampak samar2 bayangan jari sehingga seakan tampak lebih banyak jari.. coba deh... kalau masih ga ngerti maaf ya, karena sy memang agak sulit untuk mengungkapkan sesuatu :p

iqbal latif said...

he he

iya..iya..ngerti
*menyenangkan orang dapat pahala :)

dina riandani said...

hiks2.... T_T
baiklah, diterima deh, niat baiknya... matur nuwun....
*padahal sudah menjelaskan panjang kali lebar.. he2..

desi puspitasari said...

Patch Adams itu film bagus. Dokter yang berusaha menerapkan cara menyembuhkan penyakit dengan tawa dan rasa bahagia. Nonton lah, Bal.

Kalau mau bicara sudut pandang, Patch Adams berhasil memahami perasaan pasien ketimbang dokter-dokter lainnya.

Beneran nonton lah. Terutama waktu dia ngelakuin pendekatan personal di kamar ruang rawat anak, sama pasien" dewasa lain.

al fajr "fajar" said...

mbuh moco iki dadi kelingan kisah anak-ayah karo keledai

hehehe

makane kita pun tidak harus selalu "mendengarkan" apa kata orang.
karena sudut pandang itu pun pilihan
pilihan dari setiap tindakan yang akan kita pilih
kita yang mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan
bukan orang yang memberi saran..

ah.....

tentang bagaimana menikmati proses.. hihihi

desi puspitasari said...

Anak-ayah dan seekor kedelai??

al fajr "fajar" said...

iyo mba.. sing kae lho..

lunga bapak ro anak.. nggawa keledai..

liwat desa pertama..
ga ana sing numpak,.

diunekke .. koq bego banget.. bawa kendaraan ga dinakin

liwat desa kedua
sing numpaki bapake
diunekke bapak koq tega banget anaknya dibiarin jalan enak2 naek keledai

trus gentian lah..anake sing numpak bapake mlaku..
ning desa ketiga
diunekke anak durhaka tak tau diri.. bapaknya dibiarin jalan enak2 nunggang keledai

nah.. wis ning desa keempat loro2ne numpak..
diunekke meneh..
kejam banget.. ga kesian ama keledai kecil dinaikin dua orang..

nek nuruti omongan wong cen ga bakal iso bar2.. hehehhe

iqbal latif said...

hoho...ojo nangis... nang Bontang angel nggolek wong dodol plembungan :)

iqbal latif said...

eh...eh...aku ngerti budhe...
Robin williams, kan? aku pernah nonton.. Biyen tapi. nang TV..kalau nggak salah pas jaman SMA...

hoho...aku seringan lali judule memang. jaman SMA biyen sering nonton film nang TV nganti wengi :)

iqbal latif said...

kok akhir2 menikmati proses, jar? lagi proses kan? upps!


---seneng aku lek fajar komen nggenah ngene (*lo, emang biasae ora nggenah opo)--

al fajr "fajar" said...

iyo.. proses tobat.. wekekekke

*obatq entek dadi rada bener.. =)))

nek normal komenq ga ngene.. =))

iqbal latif said...

kalo gitu mending enthek terus ae obate...

aman!

desi puspitasari said...

"Jaman SMA biyen sering nonton film nang TV nganti wengi."

>> aku SMA jarang banget nonton tipi. Gaeane ngentekne novel sastra (sing sering disebut ning pelajaran B. Indonesia) ning perpus sekolah karo sinau. Kuwalikanmu jaman kuliah.

iqbal latif said...

aku jaman SMA biyen yo senenge moco buku nang perpust juga, tuh... buku2 sastra terbitane balai pustaka..hoho... Tapi sek tetep gelek nonton film nang TV juga... mbuh, saiki ora iso... Mending gawe moco tinimbang gawe nonton

desi puspitasari said...

Tos! Tos karo tembok..

Aku nek nonton tipi didukani..

iqbal latif said...

opo iku didukani?

perasaan karir membacaku justru dimulai dengan bacaan karya2 klasik..ha ha

Sukma Danti said...

waduh iqbal ra reti didukani... :))

diseneni Bal...

Ak yo ho'o nTeh, sama sekali gak diijinkan ndelok tipi, dadi nek ndelok tipi neng nggone tonggo :))

iqbal latif said...

orangtuaku nggak pernah tuh ngelarang...hoho

tur yo ora tw ngongkon sinau...hehe

desi puspitasari said...

Aku nek nonton tipi neng balai desa RT. Nonton bareng" warga sakdesa. Nongkrong, ngowoh, karo nggisik sikil tatu bekas jiglok ngglundhung ning galengan sawah.


Karir membacaku dimulai kit TK. Maca terjemahan. Terjebur sastra (klasik) bener" pas SMA. Taneg dan membahagiakan, ya.. maca buku. :)

Sukma Danti said...

wah keren deh...
aku sempet seneng duania sastra jaman2 SMA, seneng nulis2... tapi njuk ilang pas kuliah, dadi seneng buku2 non fiksi :D

desi puspitasari said...

Ibukku uis rajin nyetok buku kit aku cilik. Perpus SD-ku kayak surga. Gedhe tur uakeh bukune.

Eh, nTeh, ta' critani. SD aku ndekek majalah ning lantai. Pas pelajaran aku ndingkluk terus maca majalah. Terus pas smp kelas 1 mlebu awan. Isuk aku jarang sinau, tapi malah maca novel. Sma mulih sekolah aku blusukan ning toko buku bgn. rak buku lawas, murah, ta' tuku gae duit sangu. :))

aku yo maca non fiksi. Tapi udu' buku how to. Luih ke arah esai apa jurnal. Nek gak catatan perjalanan kayak Che. 'Nyetok' awakq dhewe, nTeh. Jarene calon ibu kudu berilmu. Tapi udu' ilmu agama, kui men bapak e. You know me lah.. ahaha *mindhik, ngilang*

*halah*

desi puspitasari said...

Eh, oot. Sepurane, Bal.. *jengkeng, sungkem, mlaku mundhur*

Sukma Danti said...

wuah keren... *ping piro aku muni keren wisan? :P


Aku jane seneng buku dudu karang seneng maca nTeh (haha aib), tapi karang pingin maca isine (Loh, podo bae). honestly, aku luwih seneng buku parenting (oh wes reti yo?), maksudku, nek buku koyo kuwe aku bener2 isa ra mikir2, duit ning dompet pira rega buku pira langsung digowo nang kasir, njuk ra jajan seminggu bwahaha (melas biyanget). Nek novel, opo maning sing sastra murni (sik bahasane puitis2, detail, dkk) aku rodo mumet, kapan2 ajari aku puitis ya nTeh...

*aku nanggepi oot, mahap tuan rumah, mlipir2 muleh

desi puspitasari said...

Gak usah memaksa diri maca sastra. Buku tepat datang di saat tepat.

nTeh maca esai wae. Latihan maca esai Catatan Pinggir - Goenawan Mohamad. Atau Kata Waktu. Googling ae enek alamat web e. Esai GM bahasane umum. Akeh juga sing bahas pendidikan dan parenting. Mulai Toto Chan sampai Rabindanath Tagore. Nek pingin belajar sastra, esai" tentang sastra ne isa digae dasar pemahaman/untuk memahami.

iqbal latif said...

tentang karir membacaku kayake pernah tak tulis....

arasarasen nggeleki link-e...

dina riandani said...

hubungane nanggis sm plembungan opo?? ha? diriqu disamano mbe arek cilik, hiks2... (nangis meneh iki.. T.T) pokoke musti tanggung jawab nukokno plembungan!! *manyuun

iqbal latif said...

say sudah pernah nonton, tuh, patch adam-nya....

aman haruse....

dina riandani said...

moooh... pokoke tetep njaluk ditukokno plembungan :p

iqbal latif said...

Hoho. Nunggu orang hajatan dulu. Biasanya d situ ada yg njual :)

dina riandani said...

oh, ternyata sudah nonton ya? hmm, dimaafkan kalau begitu.. memaafkan orang lain kan juga pahala ^^
mari lupakan masalah plembungan yang sering dijual saat orang hajatan (halah, apaan siy?)

iqbal latif said...

hoho..
pemaafan selesai...

lanjutkan!

samsiah iah said...

jadi ingat kisah nabi isa a.s... suatu hari nabi isa berjalan bersama sahabat-sahabat, melintasi suatu daerah, bertemu dg seonggok bangkai anjing (kalau tidak salah) yang sudah berbau. Para sahabat segera merasa jijik melihat bangkai tesebut, tapi nabi isa a.s justru tersenyum dan berkata kalau gigi anjing tersebut putih bersih...

iqbal latif said...

karena kita hanya bisa menyampaikan/mengungapkan apa yg kita punya..


mmmm

galuh wirama said...

Iya itu namanya cinta, saat belum punya anak jijik juga. tapi setelah punya anak semua itu dilakukan, dari nyuci pup, bersihin pup, dll dan anehnya tanpa rasa jijik sedikitpun. Aku juga heran kenapa bisa begitu ya??hehe
Keep writing!!