Monday, November 22, 2010

berita-berita baik yang terberitakan terus-menerus

Ada fenomena menarik ketika aku cuti kemarin. Di Bontang, kaltim, daerah yang melimpah dengan sumber energi itu, terjadi kelangkaan BBM jenis premium dan pertamax. Aku, yang sedang berada di jawa, tentu saja tahu akan hal itu bukan dari media tv atau radio. Aku, yang waktu itu kebetulan ngenet, mengetahui hal itu dari qn serta status FB seorang teman.

Aku tak tahu apakah orang-orang di luar bontang yang jauh itu tahu akan hal itu. Lewat siaran tv mungkin. Agaknya, tidak. Ho ho… Bontang itu jauh! Mungkin. Sepertinya tak ada wartawan yang nyanggong di sana. Hingga tak ada media yang mengabarkannya. Entahlah, anggapan ini juga bisa saja salah, sebab aku jarang nonton tv. Apalagi ketika berada di kampung halaman kemarin. Waktu di saat kepulangan kemarin, terlalu berharga untuk dilewatkan hanya dengan menonton televisi.

Ketika dalam perjalanan menuju Bontang via darat bersama beberapa teman yang kebetulan merasakan momen kelangkaan itu, aku nyeletuk begini : “kok nggak direkam saja, ntar dikirim ke metro tv”. Komentar itu aku celetukkan ketika ia bercerita tentang antrian mobil dan motor yang bahkan 100 meter lebih. Motor, kata teman seperjalanan itu, bahkan berbanjar tiga antriannya.

Seorang teman seperjalanan lain menambahkan : “iya, yah! Apalagi kalo ditambahi adanya aroma persaingan politik. Pasti bakal rame”.

Kami, semobil, tertawa. Memang, kelangkaan ini berbarengan dengan musim kampanye Pilkada. Pilkada kota Bontang. Ada enam calon yang bertarung.

Ngomong-ngomong tentang Pilkada, sudah tahu, kan, kalau yang maju salah satunya adalah istri wali kota in cumbent? Sang suami kebetulan sudah dua periode menjabat dan tak memungkinkanlah untuk mencalonkan lagi. Bahkan, tahu kah, kalian, kalau sebelumnya si istri ini jadi ketua DPRD? He he…sama seorang teman, aku bahkan sempat berkelakar, “kayakanya persoalan kota bontang ini diselesaikan di kamar tidur, ya?”. Si teman nyeletuk, “sambil nyisirin rambut si suami mungkin”. Kami tertawa-tawa.

Kalian agaknya tak tahu itu semua. Sepertinya, itu juga jarang disiarin berita. Beda sekali ketika dua istri bupati kediri sama-sama mencalonkan diri, atau ketika walikota Surabaya mencalonkan diri menjadi wakil wali kota. Ho ho..iya, yah, maklum itu di jawa.

Tapi itu tak penting, kawan! Tak penting kalau itu tak diliput televisi. Karena kalau diliput, bisa saja kesannya jadi tambah beribet. Serba lebay dan sejenisnya. Sebab itu yang sering kali aku tangkap ketika nonton berita. Maka aku bersyukur juga tentang kelangkaan BBM kemarin yang tak diliput TV. Kalau diliput, boleh jadi bakal geger nggak karuan sambil dibumbui hujatan ke pemerintah secara membabibuta. Malas juga, kan, mendengarnya?

***

“Karena media kita sudah terlalu penuh dengan berita-berita tak baik. Yang justeru menimbulkan pesimisme masyarakat, ketakgairahan. Maka menjadi tugas kita lah, orang-orang di daerah ini, untuk mengabarkan hal-hal baik tentang daerahnya. Tuliskanlah! Tuliskanlah hal-hal baik tentang kota anda yang tak pernah terliput keriuhan televisi. Berita-berita baik itu sungguh akan bermakna untuk menimbulkan optimisme. Bahwa harapan itu masih ada. Bahwa masih banyak hal-hal baik. Bahwa masih banyak orang-orang baik yang bertindak dengan segenap hatinya. Bahwa Indonesia kita ini mampu bangkit”

Kalimat di atas, adalah kalimat Anis Baswedan ketika menyampaikan kuliahnya di hadapan para karyawan baru beberapa bulan yang lalu. Tentu saja, setelah saya modifikasi. Tapi intinya seperti itu. Kabarkanlah hal-hal baik tentang sekitaran kita. Jadikanlah itu penyeimbang hal-hal tak baik yang beredar di berita televisi. Sebab yang diberitakan televisi, seringnya memang hal-hal tak baik. Kalau mengabarkan daerah, itu seringnya ketakbaikan juga. Tentang seorang ibu yang dituduh mencuri kopi lah, tentang orang gantung diri lah, tentang ini lah.

Maka, kawan, akan aku ceritakan satu hal baik di sini. Bila kalian sudah risih tentang suporter bola yang seringnya rusuh, melempari apa saja, merusak fasilitas umum, atau saling tawur bahkan dengan suporter seatributnya, maka kau perlu datang ke Bontang. Kau perlu menyaksikan laga Bontang FC. Duduklah di bangku semennya. Insyaallah, kau tak akan menemukan keributan atau bakar-bakaran, atau lempar-lemparan. Insyaallah. Insyaallah yang akan kau temukan adalah nyanyian pembakar semangat yang terus menyala bahkan ketika tim kesayangannya masih tertinggal dan hampir kalah. Pulangnya, kau tak perlu khawatir bakal terjadi bentrok meski Bontang FC baru saja dibantai dengan skor mencolok. Tidak! Insyaallah tidak! Mereka akan pulang dengan tertib tanpa perlu menyetop bus secara serampangan. Bahkan, bila kau jeli, akan kau lihat pula motor terparkir dengan rapi tanpa perlu dikarcis. Insyaallah itu juga bakal aman-aman saja.

Kau mungkin heran, harusnya suporter seperti itu, kan, bakalan meraih predikat suporter terfair play. Mengalahkan Aremania, Bobotoh, apalagi The Jack. Memang, harusnya begitu. Atau, kalau tak menjadi yang ter, masuklah kiranya menjadi salah satu nominasinya dan mulai diperbincangkan di kancah persuporteran. Tapi nyatanya tidak. Sekali lagi tidak. Kau bingung mungkin kenapa itu bisa terjadi, tapi aku dapatkan alasannya ini, kawan:

“Sebab tak ada yang mau meliput ke sini. Tak ada yang mau bersusah payah menjangkau daerah terpencil di sini ‘hanya’ untuk mengabarkan kebaikan yang terus menerus. Hingga mungkin taka ada yang tahu. Lihatlah, kau tak pernah menemukan highlight pertandingan Bontang FC ketika main di kandang, kan? Iya, tak ada. Mungkin, dan yang pasti bisa jadi salah, orang-orang TV itu baru mau mengabarkannya kalau ada kericuhan di sini. Kalau ada suporter yang membakar stadion. Kalau ada suporter yang menyerbu ke lapangan. Karena memang begitulah, tabiat siaran berita kita lebih suka memberitakan hal-hal jelek ketimbang hal-hal baik. Seorang bapak yang memperkosa anaknya jauh-jauh lebih menarik untuk diberitakan daripada seorang bapak yang berjuang membanting tulang untuk membesarkan kelima anaknya. Tabiat itu, boleh jadi menunjukkan tabiat kita yang lebih suka menggunjingkan keburukan orang daripada kebaikan-kebaikannya.”

Baiklah! Baiklah! Aku tak perlu marah-marah. Yang perlu aku lakukan sekarang adalah mengabarkan hal-hal baik yang menginspirasi. Semoga kau tertular kebaikan itu. Semoga kau juga mau berbagi hal-hal baik di sekitaranmu! Semoga!

 

 

 

 

31 comments:

sf.lussy dwiutami said...

karena prinsip media:
bad news is good news and good news is bad news

medium is a message

desti . said...

iya katanya antrian sampe BP *h?

kadang saya pikir tayangan kayak sergap, dkk itu justru menginspirasi para penjahat atau calon penjahat melakukan strategi2 yg tidak pernah terpikirkan sebelumnya. =="

*nyebut juga pak : "bontang terpencil"

"terpencil" itu nyaman

iqbal latif said...

he he...


sekarang saya malah suka nonton beritanya tvri.... Padahal, pas jaman kecil dulu, berita tvri itu sy benci karena memotong layar emas rcti.. :)

iqbal latif said...

iya, tayangan kejahatan itu harusnya g ada! Buruk!


semuanya itu nyaman asal nggak berlama-lama... Sekali tempo pergilah ke kota juga.. Tapi jangan berlama2..

Siska Rostika said...

Soal SPBU diantri ratusan emg jgn diberitakan. Kalo tdk bs nular ke daerah lain.

Katerina * said...

Bad news is good news.

Katerina * said...

I love bontang. Terasi bontang (???), amplang, Bonting (abon kepiting)...hehe

sf.lussy dwiutami said...

dunia dalam berita vs layar emas apa kelompen capir vs layar perak? :D

iqbal latif said...

bs nular gt, mb!! vektornya apa ya?? :)

iqbal latif said...

mbak rien, sy bahkan baru tahu kalu di bontang ada abon kepiting..hihi

iqbal latif said...

yg njengkelin lagi kalau ada laporan khusus 9atau luputan khusus ya?) hihi

dina riandani said...

na'am... bahkan dina pernah baca disebuah artikel tentang 'cara mengurangi stress dalam kehidupan' salah satunya adalah: kurangi menonton siaran berita... karena kebanyakan yang diberitakan di TV adalah hal2 yg justru membuat orang menjadi stress atau bahkan ketakutan yg berlebihan...

iqbal latif said...

ho ho...
memang begitu...


kalau akhir-akhir ini sih saya pas melihat berita sambil senyum2 saja meski itu isinya hujatan ke pemerintah.. Sep[ertinya memang ada stasiun TV yg isi berita ketakberesannya berujung ketakbecusan pemerintah.

dina riandani said...

hati2 jangan keterusan senyum2nya ya....

sf.lussy dwiutami said...

hehehe... Klo itu pasti gak ada siarannya mas karena kan semuanya gak luput dari kesalahan khusus :D

yg teringat dr tepeeri itu acara yang ada lagunya:" aku cinta, semua cinta, buatan indonesia" (tp lupa nama acaranya apa) dan cepat tepat karena saya dulu wkt sklah dpt tgs menulis smua pertanyaan n jwbn yg ada d tuh acara... :)

iqbal latif said...

:)
gpp

iqbal latif said...

bebrapa bulan yg lalu sy sering nonton acara bagus di tvri...pembawa acaranya mbak neno..

gtw sekarang tayang jam berapa... pas kerja kayake

sf.lussy dwiutami said...

berarti siang ya? Bisa dikatakan saya gak pernah lihat, secara penerimaannya di sini gak bagus. Jadi nonton ninja hatori di space toon aja deh... Hehe

iqbal latif said...

:).. sy g suka kartun

sf.lussy dwiutami said...

ooowww... Maaf dah kalau begitu, saya juga cuma kartun tertentu aja... Daripada sinetron stripping mending nonton film kartun dah :D

Pemikir Ulung said...

owh..merinding berkali-kali

haruskah saya mengakui kalau saya ngefans pada anda, setelah saya sudah bikin pengakuan pada mp-ers lain semalam? huhuhu

ah, jangan, jangan melakukan lebih dari 1 dalam 24 jam :p

iqbal latif said...

sepertinay dirimu komentator pertama yg merinding..he he

mp-ers yg lain? ah, kau mendua ke aku laan?

Pemikir Ulung said...

hehe..pemikirulung emang gampang dibuat terharu
bagus ko tulisannya, makanya merinding

iya..baru semalem ngakunya, hehe

nanti ta' bikinin tulisan ah

Pemikir Ulung said...

ini apaan si maksudnya?

iqbal latif said...

hi hi..


-menunggu dg herap2 cemas :D -

iqbal latif said...

g tw maksudnya apa gtw arti salah satu kata?

Haya Najma said...

:D

Pemikir Ulung said...

ga ngerti beneran

harusnya "kau menduakan aku kah?"
kalo kau mendua ke aku laan, bahasa apa itu?

lagipula aku ga mendua, meniga, mengempat, bahkan lebih, hoho

Pemikir Ulung said...

siapin aja recehannya :p

iqbal latif said...

lupakan soal mendua...

laan itu khas jatim kayake...

apa ya padanannya...


kayake semacam partikwel saja

Pemikir Ulung said...

nah..makanya tadi aku tanya..aku ga familiar sama partikel jatim

baiklah aku lupakan